Tugas 1 Fix.docx

Please download to get full document.

View again

of 7
11 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
KONSEP BENCANA PADA KEPERAWATAN KOMUNITAS Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas dan Keluarga II Dosen Pembimbing: Ns. Rita Hadi W, S.Kep., M.Kep, Sp. Kep.Kom Disusun oleh: Elyza Wadave Rindu A 22020114120034 Ervia Kusumaningrum 22020114130093 Fajar Sigit Prihantoro 22020114120068 Hanifah
Document Share
Document Transcript
    KONSEP BENCANA PADA KEPERAWATAN KOMUNITAS Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas dan Keluarga II Dosen Pembimbing:  Ns. Rita Hadi W, S.Kep., M.Kep, Sp. Kep.Kom Disusun oleh: Elyza Wadave Rindu A 22020114120034 Ervia Kusumaningrum 22020114130093 Fajar Sigit Prihantoro 22020114120068 Hanifah Dian Anugraheni 22020114120027 Innas Khanifah 22020114120037 Rana Rofifah 22020114130117 Rianti Putri Tsani 22020114130122 Yana Aprilina 22020114130128 Vita Agustin Erlyana 22020114130130 Departemen Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang 2017  BAB I A.   Definisi Indonesia secara geografis terletak diwilayah yang rawan terjadinya suatu bencana. Bencana dapat terjadi setiap saat, dimana saja, kapan saja dan dapat mengakibatkan suatu kerugian materil dan imateril bagi kehidupan manusia. Effendi dan Makhfudli (2009)  berpendapat bahwa bencana merupakan keadaan yang terjadi dalam kehidupan manusia dimana bencana dapat merubah pola kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak, kehilangan harta benda dan jiwa manusia, merusak struktur sosial masyarakat, serta menimbulkan kenaikan kebutuhan dasar.Jadi, bencana adalah sebuah peristiwa yang terjadi di suatu daerah atau wilayah dengan intensitas bervariasi yang mengakibatkan kerusakan ekologi, adanya korban, kerugian material ataupun imaterial, menurunnya kondisi kesehatan, serta mengakibatkan kebutuhan dasar manusia naik sehingga diperlukan respon dan bantuan dari luar daerah yang tidak terkena bencana.  B.   Jenis   Bencana  1.   Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian  peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Contoh: Gempa bumi a)   Agen bencana: bangunan jatuh, longsor, dan tanah tandus.  b)   Faktor host: penerapan teknik terasering pada daerah dataran tinggi, memasang tanda bahaya terjadinya gempa bumi, membuat jalur evakuasi, dan memberikan tanda menuju jalur evakuasi. c)   Faktor lingkungan: menjaga kesuburan tanah, tidak menebang pohon secara liar, dan tidak membakar sampah di sembarang tempat. 2.   Bencana non - alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian  peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, kecelakaan transportasi dan wabah penyakit. Contoh: kecelakaan transportasi a)   Agen bencana: alat transportasi dan human error.  b)   Faktor host: disiplin dalam berlalulintas, kelengkapan syarat-syarat berkendara (memakai helm, memasang spion kanan-kiri), rajin menservise kendaraan, dan memperhatikan beban muatan kendaraan. c)   Faktor lingkungan: fasilitas jalan, tanda-tanda rambu lalu-lintas, pohon tumbang, dan angin kencang. C.   Penanggulangan Bencana Penanggulangan bencana yang terjadi sesuai dengan kebijakan yang tertera dalam Kepmenkes RI No. 876/Menkes/SK/XI/2006 yang menjelaskan mengenai Kebijakan dan  Strategi Nasional Penanganan Krisis dan Masalah Kesehatan Lain dijelaskan bahwa  penanganan terhadap krisi dan masalah kesehatan lain berfokus pada upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan dari sumber daya dalam menghadapi bencana. Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan dari sumber daya maka dilakukan beberapa upaya seperti adanya organisasi atau komunitas yang berkecimpung dalam kegiatan penanggulangan  bencana, melakukan penyuluhan kepada warga masyarakat, serta melakukan demonstrasi dari penanggulangan bencana. Selain upaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam menangggulangi bencana, dilakukan mekanisme penanggulangan masalah kesehatan yang muncul akibat bencana. Upaya tersebut dilakukan sesuai dengan tahapan proses terjadinya bencana yaitu: pra  bencana, saat bencana, pemulihan atau rehabilitasi, dan rekonstruksi. Pada tahap pertama atau pra bencana bertujuan untuk menekan angka kerusakan yang diakibatkan oleh bencana atau bahkan menghalau risiko yang terjadi dengan menekan ancaman. Pada tahap ini dilakukan pencegahan, dengan memberikan edukasi, demonstrasi, menyusun SOP pelayanan, perencanaan, peratuan relokasi, jalur dan proses evakuasi, retro  filling  . Pada tahap kedua atau mitigasi yang bertujuan untuk menekan dampak akibat  bencana dengan mengadakan kegiatan struktural dengan melakukan pembangunan dan  pengadaan fisik seperti memperbaiki tanggul sungai agar tidak terjadi banjir. Selain kegiatan struktural dapat dilakukan pencerdasan dan pelatihan guna mengasah kemampuan dalam menghadapi bencana. (BNPB, 2007) Tahapan ketiga ialah pada saat bencana tersebut terjadi meliputi penanganan segera terhadap dampak yang muncul. Kegiatan tersebut meliputi penyelamatan, evakuasi, dan  pengungsian. Tahapan selanjutnya ialah tindakan yang dilakukan pasca bencana berupa rehabilitasi yang berfokus ada seluruh aspek. Tindakan rekonstruksi atau membangun kembali sarana prasarana yang mendapatkan dampak dari bencana. D.   Fase-Fase Bencana Barbara santamaria (1995) dalam buku Community Health Nursing berpendapat terdapat tiga fase terjadinya suatu bencana yaitu fase pre impact, impact, dan post impact:   1.   Fase pre impact adalah warning phase atau tahap awal dari bencana. Pada fase ini Informasi didapat dari badan satelit dan meteorologi cuaca. Seharusnya pada fase inilah segala persiapan dilakukan dengan baik oleh pemerintah, lembaga dan masyarakat. 2.   Fase impact adalah fase terjadinya klimaks bencana. Pada saat inilah manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup melawan bencana. Fase impact ini terus berlanjut hingga tejadi kerusakan dan bantuan-bantuan yang darurat dilakukan. 3.   Fase post impact adalah keadaan saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan dari fase darurat. Pada tahap ini masyarakat mulai berusaha kembali pada fungsi kualitas normal atau kehidupan normal. Pada umumnya pada fase post impact para korban akan mengalami tahap respons fisiologi mulai dari penolakan (denial), marah (angry), tawar-menawar (bargaing), depresi (depression), hingga penerimaan (acceptance). Selain keadaan fisik dan kejiwaan masyarakat yang terganggu, keadaan fisik fasilitas umum yang membantu menunjang kehidupan juga akan terganggu.   E.   Peran Perawat Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Perawat komunitas dalam asuhan keperawatan komunitas memiliki tanggung jawab peran dalam membantu mengatasi ancaman bencana baik selama tahap preimpact, impact/emergency, dan post impact. 1.   Peran perawat dalam fase Pre-impact -   Perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam kebencanaan. Sehingga dapat melakukan menanganan yang benar,cepat dan tepat. -   Perawat bergabung bersama dengan dinas pemerintahan, palang merah nasional, organisasi lingkungan, maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan untuk menyampaikan penyuluhan persiapan terhadap ancaman bencana kepada masyarakat. Sehingga masyarakat siap untuk menghadapi bencana yang akan terjadi. -   Perawat ikut melibatkan diri untuk melakukan  promosi kesehatan tetang kesadaran masyarakat dalam menanggulangi bencana yang meliputi hal-hal berikut :    Usaha  pertolongan diri sendiri (pada masyarakat tersebut). untuk    Memberikan  pelatihan pertolongan pertama dengan keluarga.    Memberikan informasi penampungan atau posko-posko bencana.    Memberikan  penyuluhan untuk menyimpan dan membawa persediaan makanan dan penggunaan air yang aman.    Memberikan informasi perbekalan yang bisa dibawa seperti pakaian seperlunya, senter beserta batrainya dan lainnya.    Perawat dapat memberi alamat dan nomor telpon darurat seperti dinas kebakaran, ambulans dan rumah sakit 2.   Peran perawat dalam fase impact -   Biasanya pertolongan pertama pada korban bencana dilakukan tepat setelah keadaan stabil. Perawat memilih pasien untuk penanganan segera (emergency) dengan Triase meliputi :    Merah ( paling penting, prioritas utama ) Biasanya merah adalah keadaan yang mengancam kehidupan sebagian besar  pasien mengalami hipoksia, syok, trauma dada, perdarahan internal, trauma kepala dengan kehilangan kesadaran, luka bakar derajat I-II    Kuning ( penting, prioritas kedua ) Prioritas kedua meliputi injury dengan efek sistemik namun belum jatuh ke keadaan syok karena dalam keadaan ini sebenarnya pasien masih dapat  bertahan selama 30-60 menit. Injury tersebut antara lain fraktur tulang multipel, fraktur terbuka, cedera medulla spinalis, laserasi, luka bakar derajat II    Hijau ( prioritas ketiga ) Yang termasuk kategori ini adalah fraktur tertutup, luka bakar minor, minor laserasi, kontusio, abrasio, dan dislokasi    Hitam ( meninggal ) Ini adalah korban bencana yang tidak dapat selamat dari bencana, ditemukan sudah dalam keadaan meninggal
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks