TRANSFORMASI PENGAJARAN BAHASA ARAB DI INDONESIA. Oleh: Alam Budi Kusuma. Dosen STAIMS Yogyakarta

Please download to get full document.

View again

of 28
84 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
TRANSFORMASI PENGAJARAN BAHASA ARAB DI INDONESIA Abstract Oleh: Alam Budi Kusuma Dosen STAIMS Yogyakarta From the beginning to the present Arabic teaching in Indonesia got shifting and changing: from lesehan
Document Share
Document Transcript
TRANSFORMASI PENGAJARAN BAHASA ARAB DI INDONESIA Abstract Oleh: Alam Budi Kusuma Dosen STAIMS Yogyakarta From the beginning to the present Arabic teaching in Indonesia got shifting and changing: from lesehan system (sitting on floor) to classical system; from the grammatical-translation method to the direct one; from the separated presentation in presenting the Arabic material to the integrated one; and from the structural approach to the communicative one. Although some approaches, methods, and presentation system had been tried in implication, the success in Arabic teaching was still far from the expectation, moreover if compared with the other languages teaching, like English. Abstrak Sejak kali pertama sampai sekarang pengajaran bahasa Arab di Indonesia mengalami pergeseran dan perubahan: dari hanya sistem lesehan menjadi bertambah dengan sistem klasikal; dari menggunakan metode gramatika-terjemah lalu menggunakan metode langsung; dari penyajian materi bahasa Arab dengan sistem terpisah semata kepada penggunaan sistem terpadu juga; dan dari menggunakan pendekatan struktural menjadi pendekatan komunikatif. Meskipun telah mencoba beragam pendekatan, metode, dan sistem penyajian, keberhasilan pengajaran bahasa Arab tampak masih jauh dari yang diharapkan, apalagi bila dibandingkan dengan pengajaran bahasa asing lain seperti bahasa Inggris A. Pendahuluan Bahwa mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam adalah sebuah fakta yang dapat dilihat semua orang, bahasa Arab merupakan bahasa ritual keagamaan adalah sesuatu yang diyakini oleh umat muslim sebuah keyakinan atas penggunaan Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember bahasa Arab dalam ritual agama bagi beberapa kalangan muslim, terkadang tidak ditempatkan secara proporsional hingga tidak dibedakan antara al ashly dan al far iy antara ajaran dan budaya, dan antara kedudukan bahasa Arab dalam shalat dan kedudukan bahasa Arab dalam doa; dan bahwa dalam bahasa Indonesia, bahasa pengantar resmi masyarakat Indonesia ditemukan banyak kata serapan dari bahasa Arab adalah kenyataan lain yang tidak terbantahkan. 129 Fakta keyakinan dan kenyataan ini secara teoritis menunjukkan paling tidak dua hal: bahasa Arab telah memiliki ruang yang kondusif bagi perkembangannya, dan masyarakat Indonesia telah cukup akrab dengan bahasa Arab. Sayangnya, sebagaimana dalam banyak hal selalu ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek atau antara potensi dan aktualisasi, maka kesenjangan yang sama juga terjadi dalam posisi bahasa Arab di Indonesia. Bahasa Arab, bagi mayoritas masyarakat muslim, ternyata masih terasa sebagai beban impor dari luar. Di sini, beberapa pertanyaan pun patut diajukan: apa yang membuat bahasa Arab terasa sebagai momok meskipun ia menjadi bahasa ritual keagamaan dan telah lama dikenal 129 Bagi Sudarno, bahasa Arab merupakan sumber pengambilan kata-kata bahasa Indonesia paling tua kedua setelah bahasa Sansekerta. Ini didasarkan pada prasasti Talang Tuo, Palembang, yang berbahasa Sansekerta dan bertarikh 684 M, dan syair berbahasa campuran antara bahasa Arab, Sansekerta, dan Indonesia (asli) pada batu nisan bertarikh 1380 Mdi Minye Tujoh, Aceh. Namun, menurut pengakuan Sudarno, tidaklah mudah menentukan berapa dan bagaimana wujud kata-kata bahasa Indonesia serapan dari bahasa Arab. Akbar, tertib, daerah, topan, hakim, dan mahkamah adalah beberapa contoh yang dapat disebut. Lihat, Sudarno, Kata Serapan dari Bahasa Arab, (Jakarta: Arikha Media Cipta, 1992), cet. II, dan Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015 mayoritas masyarakat Indonesia? karena watak bahasa Arabkah yang sulit dicerna akibat memiliki sistem yang kompleks atau karena cara penyampaiannya yang tidak realiable dan applicable? Atau, pada dasarnya pengajarannya telah realiable dan applicable, akan tetapi karena ada idola-idola lain, seperti bahasa Inggris dan Mandarin, akibat faktor sosial dan ekonomis, maka bahasa Arab terkesan meminjam istilah dalam fiksi sebagai antagonis? Kemungkinan pertama, yaitu watak bahasa arab yang sulit, dapat dikesampingkan bila kebermaknaan istilah-istilah seperti langue Saussure, competence Noam Chomsky, dan general linguistic dipertimbangkan 130 sedangkan menyebut kemenangan bahasa non-arab sebagai akibat dukungan faktor-faktor eksternal semata juga tidak cukup beralasan. Satu-satunya yang layak dicurigai sebagai penyebab ketidakpopuleran dan momok bahasa Arab adalah cara pengajaran. 130 Langue dalam konsep Saussure menyaran pada sejenis kode, sistem yang dimiliki bersama oleh pemakai suatu bahasa atau semacam kamus yang dibagikan dan ada pada setiap orang; dan Competence dalam konsep Chomsky menunjuk pada al kifâah /kemampuan potensial yang dimiliki oleh pemakai bahasa untuk memproduksi dan memahami beragam kalimat dengan mudah. Meskipun Langue menyiratkan adanya sistem bahasa yang berbeda sehingga makna competence juga layak ditempatkan dalam kerangka sistem bahasa tertentu, maka adanya istilah general linguistic bermakna bahwa sistem antar bahasa mengandung ciri-ciri yang sama. Dus, setiap orang dalam sebuah sistem bahasa memiliki potensi untuk memahami sistem bahasa yang lain. Lihat, Ferdinad de Saussure, Pengantar Linguistik Umum, terjem. Oleh Rahayu S. Hidayat, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), cet. III, hal ; Mahmûd Sulaimân Yâqût, Manhaj al Bahst al Lughawy, (Iskandariyah: Dâr al Ma rifah al Jâmi iyyah, 2002), hal. 144; dan Jos Daniel Parera, Pengantar Linguitik Umum: Kisah Zaman, (Ende-Flores: Nusa Indah, 1977), hal. 15. Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember Oleh karena itu, melihat pengajaran bahasa Arab yang selama ini berlaku dan dikembangkan di Indonesia tidak saja terdengar menarik, tetapi bahkan cukup mendesak. Pengetahuan tentang sejarah pengajaran bahasa Arab bisa membantu menjelaskan mengapa bahasa Arab dewasa ini kurang mendapat tempat bahkan di kalangan muslim sendiri bila dibandingkan dengan misalnya bahasa Inggris dan selanjutnya dapat membantu mengkonstruk atau mendisain cara yang tepat dan jitu bagi upaya mendekatkan bahasa Arab pada masyarakat Indonesia. Sejak kapan bahasa Arab mulai diajarkan, bagaimana pengajaran itu dilakukan, apa metode pengajaran yang ditempuh, mengapa pengajaran dilakukan dengan cara tertentu, dan apa kira-kira pendekatan yang digunakan dalam pengajaran bahasa Arab serta bagaimana perkembangannya dari masa ke masa adalah beberapa pertanyaan yang ingin dijawab dalam tulisan ini. Hanya saja, tulisan ini dihadirkan dengan satu kesadaran akan adanya problem metodologis dalam pembahasannya: rentang waktu yang cukup panjang, ruang lingkup pembahasan yang luas di satu sisi, dan keterbatasan literatur di sisi lain. Untuk itu, tulisan ini tanpa bermaksud melakukan simplifikasi dan generalisasi hanya akan menyorot beberapa institusi pendidikan Islam (pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam) Lembaga pendidikan Islam di Indonesia, jika dilihat dari struktur internal pendidikan Islam dan praktek-praktek pendidikan yang dilaksanakan, ada empat kategori: 1) Pendidikan pondok pesantren, yaitu pendidikan Islam tradisional untuk mengajarkan pada siswa Islam sebagai cara hidup dengan titik tolak pengajaran al Qur an dan Hadis; 2) Pendidikan madrasah, yaitu pendidikan Islam model Barat, dengan sistem klasikal, untuk menanamkan Islam sebagai landasan hidup dalam diri siswa; 3) Pendidikan umum bernafaskan Islam, yaitu pendidikan Islam melalui pengembangan suasana pendidikan bernafaskan Islam pada institusi-institusi 168 Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015 Bahan tulisan tidak hanya didasarkan pada data tertulis, tetapi juga pengamatan langsung dan tidak langsung dari mendengar cerita orang lain. Dengan demikian, tulisan ini lebih tepat dianggap sebagai pengantar hidangan diskusi tentang perkembangan pengajaran bahasa Arab di Indonesia. B. Antara Praktik Berbahasa dan Belajar Bahasa Arab Sebagaimana telah disebut di atas bahwa bahasa Arab adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ritual Islam. Shalat lima waktu, misalnya, berisi bacaan-bacaan berbahasa Arab yang diyakini oleh mayoritas Umat Islam sebagai rukun shalat sehingga tidak bisa digantikan dengan bahasa lain. Bahkan, ketika seseorang menyatakan masuk Islam, maka ia harus mengikrarkannya dengan apa yang biasa disebut kalimah al syahâdah yang juga berbahasa Arab. Akaq nikah dan pembuka khutbah jum at adalah contoh lain yang bisa disebut. Akibatnya, tidak ada orang muslim yang tidak pernah berbahasa Arab, karena ia pasti pernah mengucapkan dua kalimah syahadah meskipun ia mungkin tidak melakukan ritual Islam seperti shalat. Oleh karena itu, meskipun sulit menentukan kapan persisnya bahasa Arab dipakai dan diajarkan di Indonesia, dapatlah dipastikan bahwa awal mula pemakaian dan pengajaran bahasa Arab di Indonesia adalah sejak Islam masuk atau pendidikan Islam di Indonesia dimulai. Tentu saja, kapan, tahun berapa, dan siapa yang mula-mula memasukkan Islam atau pendidikan umum; dan 4) Pelajaran agama pada lembaga umum sebagai mata kuliah atau pelajaran saja. Lihat, Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradisional, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hal Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember memulai pendidikan Islam di Indonesia juga tidak jelas dan tidak dapat dipastikan. Abad ke-11 atau ke-12 disebut-sebut oleh banyak sumber sebagai awal Islam masuk ke kepulauan nusantara melalui kota-kota pantai. 132 Penyerapan bahasa Arab oleh masyarakat Indonesia dan perkembangannya kemudian berlangsung seiring dan sejalan dengan perkembangan agama Islam di nusantara. 133 Bahasa Arab pertama-tama terajarkan penulis lebih memilih kata terajarkan dari pada diajarkan karena sifat ketidaklangsungan pengajaran bahasa Arab melalui pengajaran doa-doa shalat dan surat-surat pendek al Qur an, yaitu juz terakhir yang biasa disebut juz amma atau turutan. Di dalam turutan ini termuat pula materi pelajaran membaca huruf al Qur an dengan metode abjadiyah (alpabhetic method). Dalam perkembangan selanjutnya pengajaran verbalistik ini dirasa tidak 132 Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994), Seri INIS 20, hal Istilah pesantren berasal dari kata santri yang diberi imbuhan awalan pe dan akhiran an yang menunjukan arti tempat. Sedangkan menurut Sudjoko Prasodjo, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, umumnya dengan cara nonklasikal, dimana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para sanri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. Menurut Nurcholish Madjid, sistem pesantren merupakan sesuatu yang bersifat asli atau indegienus Indonesia, sehingga dengan sendirinya bernilai positif dan harus dikembangkan. Dalam Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997), hal Tidak ada catatan sejarah, kapan waktu munculnya pesantren. Peneliti tarekat dan tradisi Islam asal Belanda, Martin Van Bruinessen, menyatakan tidak mengetahui kapan lembaga tersebut muncul untuk pertama kalinya. Pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang tahan terhadap berbagai gelombang modernisasi. Lihat. Suwendi: Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam (jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015 cukup. Al Qur an tidak hanya untuk dibaca dalam ritual shalat, tetapi harus dipahami dan ajaran-ajarannya diamalkan. Demikian pula doa-doa dan bacaan shalat perlu dipahami agar shalat benar-benar menjadi media komunikasi dengan Allah, bukan sebagai bentuk kemabukan atau ketidaksadaran. Lantas, lahirlah bentuk pengajaran dengan tujuan pendalaman ajaran agama Islam. Ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharaf, dan balaghah menjadi bagian dari materi pelajaran bahasa Arab di samping materi-materi fiqh, akidah, dan tafsir. 134 Pada bentuk kedua inilah, menurut penulis, bahasa Arab mulai diajarkan sedangkan sebelumnya bahasa Arab baru terajarkan. Bila terajarkannya bahasa melahirkan fenomena praktik berbahasa Arab, maka diajarkannya bahasa Arab melahirkan fenomena belajar bahasa Arab. Bila praktek berbahasa berkembang melalui dalam istilah Mahmud Yunus pengajian al Qur an, maka belajar bahasa dikembangkan dalam pengajian kitab. 135 Jika yang pertama menjadikan al Qur an sebagai rujukan, maka yang kedua menggunakan buku teks berbahasa Arab karya ulama klasik sebagai acuan, seperti dlammun, al Ajurûmiyah, Alfiyah Ibni Mâlik, dan jawâhir al Balaghah. Pengajaran bahasa Arab ini tumbuh dan berkembang di pondok pesantren. C. Sistem Pengajaran Bahasa Arab: Lesehan dan klasikal Selain dalam institusi-institusi pendidikan pemerintah, seperti madrasah (tsanawiyah/aliyah), sulit dibayangkan adanya 134 Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2004), hal Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996), hal Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember kesamaan sistem pendidikan Islam di Indonesia, apalagi pada masa pemerintahan kolonial. Hal ini pertama-tama karena di masa kolonial, terutama Belanda, kebijakan pendidikan lebih bersifat substantif, dalam arti kebijakan pendidikan mencerminkan apa yang hendak dilakukan oleh Belanda untuk Indonesia, bukan apa yang bangsa Indonesia ingin lakukan. Karena itu, alih-alih membuat arahan sistem pengajaran bahasa Arab yang seragam, pemerintah kolonial Belanda tampak sengaja membiarkan umat Islam, yang merupakan mayoritas penduduk koloni ini tetap bodoh. Pendidikan muslim bukan saja tidak diberi subsidi, tetapi juga harus menghadapi sikap bermusuhan dari para pejabat penting. 136 Keragaman sistem pengajaran bahasa Arab pada institusi non-pemerintah juga akibat dari ketidaksamaan selera para penggagas dan pengalaman guru/kyai yang mengadakan atau mendirikan institusi pendidikan tersebut. Hal yang sama juga terjadi di masa pra-kolonial atau sebelum abad ke-17. Oleh karena pendidikan keislaman diatur oleh masing-masing kerajaan Islam, maka sistem pengajaran 136 Pada tahun 1890, pada akhir dominasi liberalisme dalam pemerintahan kolonial, rancangan bantuan untuk sekolah swasta diperkenalkan. Namun, sasaran sebenarnya rancangan ini adalah untuk mengintegrasikan sekolah Kristen yang dijalankan oleh berbagai kelompok misionari ke dalam sistem pendidikan pemerintah, bukan untuk membantu sekolah swasta. Sekolah-sekolah Islam (saat itu ada tiga jenis: sekolah Qur an, yang memberikan pendidikan sangat dasar dalam mengaji al Qur an; sekolah tradisional pesantren, sebagai pendidikan agama lanjut; dan tarekat, sebagai pelatihan hukum dan doktrin Islam) tidak termasuk dalam rancangan bantuan ini. Setelah ada tekanan massal, pada tahun 1895 sekolah Islam diikutsertakan dalam rancangan bantuan itu. Hanya saja, banyak pemimpin muslim yang tidak menerima rancangan ini, sehingga mereka tidak mengajukan permintaan untuk mendapatkan subsidi, kecuali sekolah Muhammadiyah pada tahun Lihat, Muhammad Sirozi, Politik Kebijakan pendidikan di Indonesia, (Jakarta: INIS, 2004), Seri INIS 2, hal Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015 bahasa Arab yang menjadi bagian pendidikan keislaman juga beragam meskipun di daerah tertentu menunjukkan keseragaman. Di Aceh misalnya, terdapat delapan kerajaan Islam, tetapi tingkatan institusi pendidikannya sama. Setiap desa memberikan program pendidikan dasar yang disebut Meunasah dan setiap masjid menyediakan pendidikan menengah yang disebut Rangkang. Program pendidikan lanjut, disebut dayang, terdapat di setiap Naggroe atau wilayah uleebalang, dan Dayah Teungku Chik. Program diploma diberikan di pusat kerajaan. Program pendidikan universitas diberikan di Jâmi ah Baiturrahman di Banda Aceh, yang kemudian dialihkan ke dalam Masjid Raya Baiturrahman oleh Sultan Iskandar Muda, dan juga dipakai sebagai pusat kegiatan pengetahuan. 137 Meskipun tidak diperoleh informasi pada tingkat apa pengajaran bahasa Arab diberikan, maka dengan menganalogikan dengan daerah lain, patut diduga bahwa pengajaran bahasa Arab diberikan pada tingkat dayang atau bahkan Rangkang. Di kerajaan Islam Minangkabau (1500 M/1650 M), pada setiap negeri (desa) didirikan sebuah masjid untuk shalat Jum at, dan di setiap kampung didirikan surau sebagai tempat mengaji al Qur an dan shalat lima waktu. Menurut tradisi, anak yang berusia 7 tahun harus dipisah dari ibunya dan bermalam di surau sambil belajar al Qur an. Inilah yang dinamakan Pengajian Qur an. Setamat dari sini, beberapa murid meneruskan ke jenjang Pengajian Kitab pada tuan Syekh di sebagian negeri (desa). Di 137 Menurut Hasjmi sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sirozi, kedelapan Kerajaaan Islam Awal di Aceh adalah Peureulak (1840), Lingga (986), Samudera/Pase (1042), Darussalam (1205), Beunua (1353), Pidier (ke-14), Jaya (1480), dan Aceh Darussalam (1511). Lihat, Ibid., hal Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember tingkat inilah bahasa Arab diajarkan dan menjadi dasar pengajaran ilmu-ilmu keislaman lainnya. Karena murid begitu banyak, maka yang belajar pada tuan Syeikh hanyalah guru-guru tua, sebutan bagi guru-guru bantu yang mengajar murid-murid. Bila pada tingkat pertama, murid diajar satu demi satu, maka pada tingkat kedua murid diajar dengan sistem halaqah, duduk berlingkar menghadap guru besar (Syeikh). Sistem ini berlangsung sampai tahun 1908 atau 1909, saat madrasah-madrasah dengan sistem klasikal muncul, dipelopori oleh Syekh Abdullah Ahmad yang pada tahun 1909 mendirikan Madrasah Adabiyah. 138 Di Jawa pada masa kerajaan Islam Mataram (sejak 1575 M) dikembangkan dua sistem pendidikan: 1) Pengajian Qur an, tempat pengajaran al Qur an dan pokok-pokok ilmu agama Islam, yang di satu desa bisa beberapa tempat. Modinlah yang menjadi gurunya. Laki-laki dan perempuan yang telah berusia 7 tahun atas kehendak orang tuanya harus belajar di sini; dan 2) Pengajian Kitab, tempat pendidikan murid-murid yang telah tamat mengaji al Qur an. Guru-gurunya disebut Kyai Anom, biasanya Modin atau orang lain yang memenuhi kualifikasi. Tempat pengajiannya disebut pesantren. Pesantren ini dibedakan menjadi tiga tingkat: pesantren desa, pesantren besar (daerah kabupaten) yang diasuh oleh Kyai Sepuh/Kanjeng Kyai, dan pesantren keahlian (takhassus). Pengajaran bahasa Arab (Nahw dan Sharf) tampak diberikan pada pesantren besar. Cara pengajarannya adalah dengan sorogan, seorang demi seorang bagi muridmurid/santri-santri permulaan dan dengan bandungan (halaqoh) 138 Mahmud Yunus, Op. Cit., hal Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015 bagi santri-santri lanjut. 139 Biaya pesantren dari masyarakat dan guru diberi gaji tanah sawah oleh kerajaan. Di masa kolonial Belanda, mula-mula sistem Mataram Islam itu dibiarkan berjalan. Setelah perjanjian Gianti (1755), Belanda mulai melumpuhkan pengaruh Islam. Hasil pungutan dari masyarakat (zakat, serakah/iuran waktu nikah, wakaf, dan lain-lain) yang semula untuk pembiayaan pesantren dijadikan kas pemerintah; dan tanah yang menjadi gaji Modin/Kyai Sepuh dijadikan tanah gubernemen. Ketidakberpihakan pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan Islam pada umumnya dan pengembangan bahasa Arab khususnya mencapai titik kulminasi dengan tidak diajarkannya membaca dan menulis latin dalam bahasa Arab (jawai/pegon) di sekolah-sekolah kolonial pada awal abad dua puluh. Tulisan Arab yang menjadi simbol kedekatan umat Islam dengan ajaran Islam dan telah memberikan ruang yang kondusif bagi pembelajaran bahasa Arab --banyak masyarakat yang dapat menulis dan membaca huruf latin-arab meskipun mereka tidak mampu membaca dan menulis dengan bahasa Arab-- pada saat itu pun hilang dari peredaran. Poin penting sejarah itu ada yang menyebut mulai tahun Namun, tampaknya penentuan tahun itu hanya ingin menandai bahwa ada kemunduran p
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks