TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST

Please download to get full document.

View again

of 33
55 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST Penulisan Hukum (Skripsi) Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan
Document Share
Document Transcript
TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST Penulisan Hukum (Skripsi) Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 Dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Oleh : SYAFRIEL HEVITHA ENDYANI NIM. E FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 i Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang ii PERSETUJUAN PEMBIMBING Penulisan Hukum (Skripsi) TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST Oleh Syafriel Hevitha Endyani NIM. E Disetujui untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Surakarta, Dosen Pembimbing Pembimbing I Pembimbing II Rehnalemken Ginting, S.H., M.H. NIP Sabar Slamet, S.H., M.H. NIP iii PENGESAHAN PENGUJI Penulisan Hukum ( Skripsi ) TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST Oleh : Syafriel Hevitha Endyani NIM. E Telah diterima dan dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Pada : Hari : Jumat Tanggal : 29 Oktober 2010 DEWAN PENGUJI 1. Siti Warsini, S.H., M.H. NIP : Ketua 2. Sabar SLamet, S.H., M.H. NIP Sekretaris 3. Rehnalemken Ginting, S.H., M.H. NIP Anggota : : Mengetahui Dekan, Mohammad Jamin, S.H., M.Hum. NIP iv PERNYATAAN Nama : Syafriel Hevitha Endyani NIM : E Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul : TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini. Surakarta, 11 Oktober 2010 Yang membuat pernyataan Syafriel Hevitha Endyani NIM E v MOTTO Maka, sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. ~Al-Insyirah : 5-6~ Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan kesalahan itu semua sendiri ~Martin Vanbee~ Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah. ~Kahlil Gibran~ Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hany a kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum ~Mahatma Gandhi~ Sesuatu yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita, namun yang baik untuk kita belum tentu baik untuk orang lain ~Penulis~ vi ABSTRAK Syafriel Hevitha Endyani, E TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini mengkaji mengenai bagaimanakah pengaturan aborsi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang -Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Serta apakah aborsi yang disebabkan karena perkosaan incest dapat dijadikan indikasi medis penghapus pemidanaan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif, karena penelitian ini adalah suatu penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan dari sisi hukum. Dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan. Jenis bahan hukum yang penulis gunakan adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, serta bahan hukum tersier. Bahan hukum primer yang penulis gunakan adalah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Bahan hukum sekunder yang penulis gunakan adalah bahan kepustakaan, dokumen, arsip, artikel, makalah, literatur yang sesuai dengan obyek penelitian. Sedangkan bahan hukum tersier yang penulis gunakan adalah berupa kamus Bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan cara identifikasi isi bahan hukum primer dan sekunder dari studi kepustakaan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan logika deduktif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan simpulan. Kesatu pengaturan aborsi di dalam KUHP diatur di dalam Pasal 299, Di dalam rumusan KUHP tidak memberikan ruang sama sekali terhadap pelaksanaan aborsi. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan diatur dalam Pasal serta Pasal 194. Sedikit berbeda dengan pengaturan aborsi pada KUHP, pengaturan aborsi di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan memberikan ruang terjadinya aborsi dengan alasan tertentu. Pasal 75 undang-undang tersebut memberikan 2 alasan untuk dapat dilakukannya aborsi, yaitu indikasi medis berupa cacat bawaan/genetis dan bagi korban perkosaan. Kesimpulan kedua adalah berdasar Pasal 75 ayat (2) Undang -Undang Nomor 36 tentang Kesehatan. Kehamilan bagi korban perkosaan, termasuk perkosaan incest, yang dapat mengalami trauma psikologis dapat dijadikan alasan indikasi medis untuk dilakukannya aborsi. Untuk dapat dilakukannya aborsi harus didukung keterangan dari dokter yang berwenang yang menyatakan bahwa perkosaan tersebut memang dapat menyebabkan trauma psikologis Kata Kunci : Aborsi, Perkosaan, Incest. vii ABSTRACT Syafriel Hevitha Endyani, E REVIEW OF THE CRIME IS PERFORMED BY MEDICAL INDICATION PRETEXT PREGNANCY BECAUSE OF SUCH DAMAGE INCEST RAPE. Faculty of Law, Sebelas Maret University. This study examines how the arrangements regarding abortion under the Criminal Code and Law Number 36 of 2009 concerning Health. And whether abortion caused by incest rape can be used as an eraser criminalization of medical indication. This research included the type of research that is prescriptive normative law, because this research is a scientific research to discover the truth based on logic knowledge of the law. By using the approach of the laws and regulations. Type of legal materials that I use is the primary legal materials, secondary legal materials and tertiary legal materials. Primary legal materials that I use is the Law Number 36 of 2009 concerning Health. Secondary legal materials that I use is library materials, documents, archives, articles, papers, literature appropriate to the object research. While the tertiary legal materials that I use is an Indonesian dictionary. Collection techniques of legal materials was done by identifying the content of material primary and secondary law of literature study. The data analysis technique in this study using data analysis techniques with deductive logic. Based on the results of research and discussion of the resulting conclusions, One arrangement abortion in the Criminal Code provided for in Article 299, In the formulation of the Criminal Code does not provide space at all to the implementation of abortion. Meanwhile, according to Law Number 36 of 2009 on Health under Article and Article 194. Slightly different from the arrangement of abortion in the Criminal Code, abortion regulation in the Act Law Number 36 of 2009 on Health provide a space of abortion with for some reason. Article 75 legislation provides for 2 reasons to do abortion, the medical indications of birth defects / genetic and for victims of rape. The second conclusion is based on Article 75 paragraph (2) Law No. 36 on Health. Pregnancy for victims of rape, including rape incest, which can be experienced trauma Psychological reasons may be a medical indication for doing an abortion. To be able to does abortion have to be supported testimony from a doctor stating that the authority that rape is indeed can cause psychological trauma Keywords: Abortion, Rape, Incest. viii PERSEMBAHAN Karya kecil ini penulis persembahkan kepada : Allah SWT, Pemilik Semesta Raya, yang senantiasa memberikan yang terbaik dalam setiap detik kehidupan; Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, yang senantiasa mencerahkan hidup umatnya dengan firmanfirman-nya. Mama yang senantiasa menjadi inspirasi dalam hidupku dengan segala ketegaran dan kesabarannya dan Papa yang senantiasa menafkahi kami agar kami bisa menjadi kebanggaan semua orang, sembah sujud ananda atas segala cinta dan kasih sayang yang tak terkira serta dukungan tiada henti; Kakak dan keponakanku tersayang yang selalu menyemangati dan memberikan dukungan yang tak terhingga;; Sahabat-sahabatku dan teman-teman seperjuanganku; My beloved Ro id Mukhtar Malik Anggara Kota Solo yang selalu memberiku inspirasi ix KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan penulisan hukum (skripsi) yang berjudul TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST dengan baik dan lancar. Sholawat serta salam semoga tercurah selalu kepada Rasulullah SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya terkasih hingga suatu hari yang telah Allah SWT janjikan. Mengenai penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan, kendala dan hambatan. Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya berkat bimbingan, saran, dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan yang berkesan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Moh. Jamin, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Bapak Ismunarno, S.H., M.Hum., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana. 3. Bapak R. Ginting, S.H., M.H., dan Bapak Sabar Slamet, S.H., M.H., selaku Pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran dan tenaga yang dengan sabar memberikan saran dan bimbingan sehingga terselesaikannya skripsi ini. 4. Bapak Sapto Hermawan, S.H., selaku Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama masa studi. 5. Bapak Djatmiko Anom Husodo, S.H., selaku pembimbing penulisan karya ilmiah yang telah senantiasa membantu dan mengarahkan Penulis. 6. Segenap Bapak dan Ibu dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan selama penulis menempuh studi. 7. Segenap Bapak dan Ibu Karyawan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan pelayanan dalam bidang akademik kepada penulis selama masa studi. x 8. Kedua orang tua penulis yang senantiasa memberikan bimbingan, cinta, kasih sayang dan doa yang tulus kepada penulis, yang selalu mengharapkan penulis bisa menjadi seseorang yang membanggakan. I LOVE YOU MOM...DAD Buat kakakku Syafriel Endyan Nugraheny, terima kasih atas doa, semangat dan kritikannya yang membuat penulis menjadi semakin dewasa. 10. Buat Ro id Mukhtar Malik Anggara yang telah menemani selama ini baik dalam suka maupun duka serta selalu memberikan motivasi, dorongan dan inspirasi. 11. Mahkamah Konstitusi melalui Sekertaris beserta seluruh staf dan jajarannya yang telah memberikan bekal dan pengalaman baru selama melaksanakan Kegiatan Magang Mahasiswa (KMM) periode VIII, beserta teman-teman magangku. 12. Buat sahabat-sahabatku Astri, Ina, Mareta, Tika, Lala, Gladiz, Puput, Bowo, Radit beserta jajaran KTI Kelurahan Sumber untuk setiap keceriaan yang begitu indah, atas semangat, pengertian, perhatian dan doa kalian selama ini. 13. Buat sahabat-sahabatku kuliah Wiwin, Padma, Indy, Picta, Memey, Adit, Hafid, Yoyok, segenap teman-teman REBEL dan WILDHOGS yang tidak bisa disebutkan satu-persatu terima kasih untuk persahabatan kita selama ini, setiap keceriaan, semangat dan canda tawa kalian yang selalu mewarnai hari-hariku di kampus merah ini, aku pasti akan sangat merindukan saat-saat bersama kalian. I love you guys 14. Buat sahabatku alm Dharmawan wisnu Pratama yang telah mengajariku tentang arti hidup dan bagaimana menyayangi orang lain, terima kasih atas semua yang telah kau berikan dan semoga kau bahagia di sisi-nya, amin. 15. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu disini yang telah membantu penulis hingga terselesaikannya skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini banyak memberikan manfaat dan dapat berguna untuk melengkapi pengetahuan khususnya pengetahuan hukum. Surakarta, 11 Oktober 2010 xi Penulis, Syafriel Hevitha Endyani DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERNYATAAN... MOTTO... ABSTRAK... ABSTRACT... PERSEMBAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR BAGAN... i iii iv v vi vii viii ix x xii xiv BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 4 C. Tujuan Penelitian... 4 D. Manfaat Penelitian... 5 E. Metode Penelitian... 6 F. Sistematika Penulisan Hukum... 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori Tinjauan Tentang Tindak Pidana a. Istilah Tindak Pidana b. Pengertian Tindak Pidana c. Unsur-Unsur Tindak Pidana d. Cara Merumuskan Tindak Pidana e. Jenis-Jenis Tindak Pidana f. Alasan Penghapus Pidana xii 2. Tinjauan Tentang Aborsi a. Pengertian Aborsi b. Macam dan Istilah Aborsi c. Alasan Untuk Melakukan Tindakan Aborsi Tinjauan Tentang Tindak Pidana Perkosaan a. Pengertian Tindak Pidana Perkosaan b. Pengaturan Tindak Pidana Perkosaan c. Unsur-Unsur Tindak Pidana Perkosaan d. Jenis Perkosaan Tinjauan Tentang Perkosaan Incest a. Pengertian Incest b. Penjelasan Biologis dan Sosial c. Macam-Macam Hubungan Incest dalam Kebudayaan 27 B. Kerangka Pemikiran BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaturan Tindak Pidana Aborsi menurut KUHP dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pengaturan Tindak Pidana Aborsi menurut KUHP Pengaturan Tindak Pidana Aborsi menurut Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan B. Aborsi Kehamilan Akibat Perkosaan Incest Dan Tindak Pidana Kesusilaan BAB IV PENUTUP A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA xiii DAFTAR BAGAN Gambar 1. Kerangka pemikiran 29 xiv 1 TINJAUAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST Penulisan Hukum (Skripsi) Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 Dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Oleh : SYAFRIEL HEVITHA ENDYANI NIM. E FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menjalani kehamilan adalah suatu yang sangat diidam-idamkan oleh kebanyakan perempuan di seluruh dunia, namun ada juga wanita yang menjalani kehamilan bukan dijadikan sebagai anugerah tetapi sebagai cobaan adalah ketika kehamilan yang tidak dikehendaki misalnya karena perkosaan. Terlepas dari alasan apapun yang menyebabkan terjadinya kehamilan tersebut, aborsi dilakukan karena adanya kehamilan yang tidak diiinginkan. Hal ini dikarenakan aborsi yang terjadi dewasa ini sudah menjadi hal yang aktual dan peristiwanya dapat terjadi dimana-mana dan bisa saja dilakukan oleh berbagai kalangan, apakah hal itu dilakukan oleh remaja yang terlibat pergaulan bebas ataupun para orang dewasa yang tidak mau dibebani tanggung jawab dan tidak menginginkan kelahiran bayi ke dunia ini. Kelahiran anak yang seharusnya dianggap sebagai suatu anugerah yang tidak terhingga dari Allah SWT, justru dianggap sebagai suatu beban yang kehadirannya tidak diinginkan. Ironis sekali memang, karena di satu sisi terdapat sekian banyak pasangan suami istri yang mendambakan kehadiran seorang anak selama bertahun-tahun masa perkawinan belum mendapatkannya, namun di sisi lain terdapat pasangan yang membuang anaknya bahkan janin yang masih dalam kandungan tanpa pertimbangan nurani kemanusiaan atau yang lebih dikenal dengan aborsi. Di Indonesia diperkirakan setiap tahun dilakukan sejuta abortus provokatus tidak aman. Data kongkrit yang ditulis oleh Muhammad Faisal dan Sabir Ahmad, menunjukkan perkiraan setiap tahun di Indonesia terjadi 16,7 samapi dengan 22,2 abortus provokatus perseratus kelahiran hidup. Selama dalam satu dekade terakhir Tahun 1990 sampai Tahun 1999 kasus-kasus abortus provokatus di Indonesia tergolong spektakuler dan berhasil diungkap serta diselesaikan lewat jalur hukum hanya kasus abortus provokatus di Jakarta Utara pada tahun 1997 dan kasus abortus provokatus di Surabaya pada akhir tahun Terbongkarnya kasus abortus provokatus di Jakarta diawali dengan diketemukannya sebelas jasad orok di bawah jembatan Warakas pada 3 bulan November 1997 dan sempat menjadi bahan berita skala nasional (Suryono Ekotomo, 2001:19). Tindak pidana perkosaan semakin dikecam jika orang yang melakukan pemerkosaan tersebut masih mempunyai hubungan kekerabatan yang masih sangat dekat dengan korban perkosaan tersebut (incest). Dr. Ramonasari, Kepala divisi Kesehatan Reproduksi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jakarta. Perempuan kelahiran 19 Mei 1956 yang juga pernah bekerja sebagai koordinator klinik Griya Sahari PKBI dan aktif sebagai trainer sex education HIV/AIDS, mengomentari seputar incest dari perspektif medis mengemukakan dalam Daandeka: Incest adalah hubungan badan atau hubungan seksual yang terjadi antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah, dalam hal ini hubungan seksual sendiri ada yang bersifat sukarela, dan ada yang bersifat paksaan, yang paksaan itulah yang dinamakan perkosaan. Jika hal itu terjadi antara dua orang yang bertalian darah itulah yang dinamakan incest, dan kasus incest yang lebih banyak diketahui dan terungkap di masyarakat adalah kasuskasus perkosaan incest (http://www.groups.yahoo.com/group/keluargaislami/message/ k-2003). Hingga kini, kekerasan seksual terhadap anak (perempuan) khususnya perkosaan incest terus terjadi, baik yang dilaporkan oleh korban atau tidak oleh korban, keluarga atau masyarakat. Penelitian Pusat Kajian Anak dan Perlindungan Anak (PKPA) terhadap em pat media cetak terbitan Medan tahun 1999 menemukan 95 kasus perkosaam, 17 kasus pelecehan seksual dan 16 kasus penipuan/ingkar janji terhadap anak perempuan. Tahun 2000 terjadi 81 kasus kekerasan seksual, 45 diantaranya perkosaan, 12 kasus pelecehan seksual, 16 kasus penipuan/ingkar janji dan 8 kasus sodomi. Dari 81 kasus ini, 23 kasus adalah incest yang terjadi pada anak usia 1 sampai di bawah 18 tahun. Tahun 2001 terjadi 84 kasus perkosaan, 8 kasus pelecehan seksual, 4 ingkar janji, 3 kehamilan tak diinginkan dan 4 kasus sodomi. Dari 84 kasus tersebut, 27 adalah incest (Dwi Hapsari, 2009: Vol.9 No.1). Banyak alasan seorang wanita melakukan tindakan aborsi, misalnya untuk menutupi aib keluarga dan perasaan malu pada diri sendiri, keluarga serta pandangan buruk dari masyarakat. Anak yang lahir dari hubungan terlarang (incest) tersebut mempunyai kemungkinan jauh dari keadaan normal yang sempurna, namun tidak semuanya. Hal ini karena beberapa generasi dari hasil 4 hubungan incest mengakibatkan kelahiran cacat genetik yang lebih besar. Pendapat serupa juga pernah disampaikan oleh Dr. Ramonasari. Menurutnya, tidak setiap pernikahan incest akan melahirkan keturunan yang memiliki kelainan atau gangguan kesehatan. Jadi detailnya seperti ini, bisa saja gen-gen yang diturunkan baik dan melahirkan anak yang normal. Walaupun begitu, kelemahan genetik lebih berpeluang muncul dan riwayat genetik yang buruk akan bertambah dominan serta banyak muncul ketika lahir dari orangtua yang memiliki kedekatan keturunan. Pada kasus incest, penyakit resesif yang muncul dominan. Namun gangguan emosional juga bisa timbul bila perlakuan buruk terjadi saat pertumbuhan dan perkembangan janin pra dan pascakelahiran. Apabila terjadi kelahiran, anak perempuan lebih rentan dan berpeluang besar terhadap penyakit genetik yang diturunkan orangtuanya. Incest memiliki alasan lebih besar yang patut dipertimbangkan dari kesehatan medis. Banyak penyakit genetik yang berpeluang muncul lebih besa
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks