S E M I O T I K A: TENTANG MEMBACA TANDA-TANDA

Please download to get full document.

View again

of 16
67 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
S E M I O T I K A: TENTANG MEMBACA TANDA-TANDA
Document Share
Document Tags
Document Transcript
    1 S E M I O T I K A: TENTANG MEMBACA TANDA-TANDA Oleh: M. Syaom Barliana Dosen Jurusan Pendidikan Arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia Dan Allah telah mengajari Adam menyebutkan nama-nama (kemampuan berbahasa), lalu mencerdaskan manusia lewat perantaraan kalam (wacana). C A T A T A N A W A L D a r i B a h a s a ke K e b u d a y a a n Semiotika adalah ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi,serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat.Semiotika mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, sertarelasi antar komponen-komponen tersebut dengan masyarakatpenggunanya. Semiotika, yang berasal dari bahasa Yunani, semion yangberarti tanda (sign), bermula dari kajian tentang bahasa, dan kemudianberkembang menjadi kajian kebudayaan, adalah akar dariperkembangan gerakan intelektual dan filsafat strukturalisme danpoststrukturalisme tersebut, yang merupakan bagian dari gemuruhwacana kritis tahun 1950-1960-an yang mempertanyakan kembali ―kebenaran -kebenara n‖ universal dan tunggal yang dibangun olehrasionalisme, logosentrisme, positivisme, dan modernisme. Meskipundemikian, Strukturalisme sendiri sesungguhnya masih menggunakan pendekatan ―ilmiah‖ yang positivistik, yang kemudian dikritik dan dikoreksi oleh Poststrukturalisme. S E M I O T I K A & S T R U K T U R A L I S M ED a r i S a u s s u r e k e L e v i  –  S t r a u s s   Pendekatan strukturalisme atas kebudayaan dikenal pada periodetahun 1950-an, dengan dua tokoh utama yaitu Levi-Strauss dan RolandBarthes, serta kemudian Charles Sanders Peirce dan Marshall Sahlins.Namun demikian, akar pendekatan ini sesungguhnya mulaidikembangkan oleh Ferdinand de Saussure pada periode 1900-an. Olehsebab itu, kajian tentang semiotika ini pada dasarnya adalah sebuahupaya untuk menelusuri kembali pemikiran-pemikiran para tokohtersebut.    2 Strukturalisme adalah aliran pemikiran yang secara ilmiah(objektif, ketat, berjarak), mencari struktur terdalam dari realitas yangtampak kacau dan beraneka ragam di permukaan. Berikut ini beberapagagasan pokok Strukturalisme, yang dipelopori oleh Levi-Strauss dalammendekati masalah kebudayaan (Philip Smith, 2001). Pertama, ―yang dalam‖ menjelaskan apa yang ada di permukaan. Kehidupan sosial sekilas tampak kacau, tak beraturan, beragam, dantak dapat diprediksi, namun sesungguhnya hal itu hanya di ―permukaan‖. Di balik atau di dalamnya, terdapat mekanisme genaratif   yang kurang lebih konstan. Kedua, ―yang dalam‖ itu terstruktur. Mekanisme generatif yang ada di dalam itu tidak hanya eksis dan bersifat potensial, melainkan juga terorganisasi dan berpola. Kaum strukturalis percaya, bahwa struktur ―yang dalam‖ tersebut terdiri atas blok -blok unsure yang biladikombinasikan dapat dipakai untuk menjelaskan yang adadipermukaan.Ketiga, kebudayaan itu seperti bahasa. Strukturalismedipengaruhi oleh linguistik struktural, yaitu bahasa dianggap sebagaisistem yang terdiri atas kata-kata, bahkan unsur-unsur mikro sepertisuara. Relasi antar unsur ini memungkinkan bahasa menyampaikaninformasi untuk menandai (to signify  ). Pendekatan strukturalis ataskebudayaan berfokus pada identifikasi unsur-unsur yang bersesuaiandan bagaimana cara unsur-unsur itu diorganisasi untuk menyampaikanpesan.Keempat, pendekatan struktural cenderung mengurangi,mengabaikan, dan bahkan menegasi peran subjek. Tekanannya ialahpada peranan dan pengaruh sistem kultural daripada kesadaran danperilaku individual. Para strukturalis menentang eksistensialisme danfenomenogi yang dianggap terlalu individualistik dan kurang ilmiah,serta dianggap melupakan peranan masyarakat dan kebudayaan yangmembentuk cara berfikir dan bertindak individu. F e r d i n a n d d e S a u s s u r e Ferdinand de Saussure (1857-1913), adalah ahli bahasa dariPerancis yang bukan saja berjasa meletakkan dasar bagi pendekatanstrukturalis pada bahasa tapi juga pada kebudayaan. Roland Barthes(1968/1985), Philip Smith (2001), menjelaskan bahwa Saussure melihatbahasa sebagai terdiri dari imaji akustik (kata dan bunyi) yang terkaitdengan konsep (benda atau ide). Kaitan antara keduanya merupakanhasil kesepakatan (convention)  . Hubungan antara penanda konsepbersifat arbitrer (acak dan sewenang-wenang). Ia mengklaim bahasamerupakan sebuah sistem tanda (signs)   yang terlibat dalam sebuahproses penandaan (signification)  yang kompleks. Bahasa ini berfunggsi sebagai ―pengontrasan‖ (difference). Misalnya, kata ―anjing‖ memiliki makna karena kita dapat membedakan ―anjing‖ dari kucing, pohon, dan sebagainya. Dengan demikian, kata ada sebagai bagian dari jaringpenanda-penanda (signifiers)  yang disatukan dalam sebuah strukturkeberbedaan (structure of difference).      3 Saussure mengedepankan pendekatan sinkronik daripadadiakronik (kesejarahan) atas bahasa. Ini berarti ia ingin memetakansebuah sistem bahasa pada suatu momen tertentu, dan tidak mauterjebak dalam penelusuran sejarah kata. Ia membedakan langue  (bahasa, language  ) dengan  parole  (ucapan, speech  ). Parole  adalah apa yang diucapkan orang pada saat dan masa tertentu, sedangkan langue  adalah struktur yang ada ―di dalam‖ –  keseluruhan sistem tanda yangmendasari  parole. Fokus kajian Saussure adalah pada langue  (struktur).Dengan menekankan sifat arbitrer penandaan, logika, dan strukturinternal bahasa, ia ingin menunjukkan bahaw bahasa merupakanfenomen yang sui generis. Artinya, bahasa itu otonom sebab maknadiproduksi dalam sistem linguistik melalui sebuah sistem pembedaan.Berdasarkan hal tersebut, Amir Pilliang (2003), menyimpulkanpaling tidak ada enam prinsip semiotika struktural yang dikembangkanoleh Saussure. Pertama, prinsip struktural. Saussure memandang relasitanda sebagai relasi struktural, yang di dalamnya tanda dilihat sebagaisebuah kesatuan antara sesuatu yang bersifat material, yang olehRoland Barthes  —  sebagai penerus Saussure  —  disebut penanda (signifier)dan sesuatu yang bersifat konseptual, yang disebut petanda (signified).Dalam kaitan inilah, semiotika yang dikembangakan Saussure biasadisebut semiotika struktural ( structural semiotics  ), dan kecenderunganke arah pemikiran struktur ini disebut strukturalisme ( structuralism  ).Strukturalisme dalam semiotika tidak menaruh perhatian pada relasikausalitas antara suatu tanda dan causa prima  -nya, antara bahasa danrealitas yang direpresentasikannya, melainkan pada relasi secara totalunsur-unsur yang ada dalam sebuah sistem (bahasa). Sehingga, yangdiutamakan bukanlah unsur itu sendiri melainkan relasi diantaraunsur-unsur tersebut. Apa yang disebut makna tidak dapat ditemukansebagai bagian intrinsik dari sebuah unsur melainkan sebagai akibatdari relasi total yang ada dengan unsur-unsur lain secara total.Kedua, prinsip kesatuan (unity). Sebuah tanda merupakankesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara bidang penanda yangbersifat konkrit atau material (suara, tulisan, gambar, objek) dan bidangpetanda (konsep, ide, gagasan, makna), seperti dua sisi dari selembarkertas yang tidak mungkin dipisahkan. Meskipun penanda yang abstrakdan nonmaterial tersebut bukan bagian instrinsik dari sebuah penanda,akan tetapi dianggap hadir  (  present  ) bersama-sama penandanya yangkonkrit, dan kehadiranya adalah absolut. Dengan demikian, adakecenderungan metafisik (metaphysics  ) pada konsep semiotikaSaussure, di mana sesuatu yang besifat non fisik (petanda, konsep,makna, kebenaran) dianggap hadir  di dalam sesuatu yang bersifat fisik(penanda).Ketiga, prinsip konvensional (conventional  ). Relasi strukturalantara sebuah penanda dan petanda, dalam hal ini, sangat bergantungpada apa yang disebut konvensi (convention  ), yaitu kesepakatan sosialtentang bahasa (tanda dan makna) di antara komunitas bahasa. Hanyakarena adanya konvensi yang memungkinkan tanda memiliki dimensisosial, dan dapat digunakan di dalam wacana komunikasi sosial. Sebab,tanpa konvensi tidak akan ada komunitas bahasa, dan tidak ada    4 komunikasi. Tanda disebut konvensional, dalam pengertian, bahwarelasi antara penanda dan petandanya disepakati sebagai sebuahkonvensi sosial.Keempat, prinsip sinkronik ( synchronic). Keterpakuan kepadarelasi struktural menempatkan semiotika struktural sebagai sebuahkecenderungan kajian sinkronik ( synchronic  ), yaitu kajian tanda sebagaisebuah sistem yang tetap di dalam konteks waktu yang dianggapkonstan, stabil, dan tidak berubah. Semiotika struktural, dengandemikian, mengabaikan dinamika, perubahan, serta transformasibahasa itu sendiri di dalam masyarakat. Penekanan semiotika strukturalpada apa yang disebut Saussure langue  (sistem bahasa), oleh beberapapemikir Post-strukturalis dianggap telah melupakannya pada sifatberubah, dinamis, produktif, dan transformatif dari  parole  (penggunaanbahasa secara aktual dalam masyarakat).Kelima, prinsip representasi (representation). Semotika strukturaldapat dilihat sebagai sebuah bentuk representasi, dalam pengertiandalam sebuah tanda memrepresentasikan sebuah realitas, yang menjadirujukan atau referensinya. Sebuah tanda bunga, misalnya, mewakilisesuatu di dalam dunia realitas, sehingga hubungan tanda dan realitaslebih bersifat mewakili. Dengan perkataan lain, keberadaan tanda sangatbergantung pada keberadaan realitas yang direpresentasikannya.Realitas mendahului sebuah tanda, dan menentukan bentuk danperwujudannya. Ketiadaan realitas berakibat logis pada ketiadaan tanda.Keenam, prinsip kontinuitas ( continuity  ). Ada kecenderungan padasemiotika struktural untuk melihat relasi antara sistem tanda danpenggunaannya secara sosial sebagai sebuah continuum  , yaitu sebuahrelasi waktu yang berkelanjutan dalam bahasa, yang di dalamnyaberbagai tindak penggunaan bahasa selalu secara berkelanjutanmengacu pada sebuah sistem atau struktur yang tidak pernah berubah,sehingga di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perubahan radikalpada tanda, kode, dan makna. Perubahan kecil pada berbagai elemenbahasa, sebagai akibat logis dari perubahan sosial itu sendiri.Selanjutnya, menurut Saussure (Smith, 2001), analisis tentangsistem linguistik dapat diterapkan pada teori kebudayaan. Iamengajukan kemungkinan untuk mengembangkan ilmu yang khususmempelajari peran penanda sebagai bagian dari kehidupan sosial.Gagasan inilah yang memungkinkan berkembangnya Strukturalisme. C h a r l e s S a n d e r s P e i r c e Sementara itu, Trifonas (2001), ketika membahas karya Barthes; The Empire Sign  (Imperium Tanda), menyatakan bahwa meski modelSaussurean lebih berpengaruh terhadap perkembangan strukturalismePerancis, filsuf Amerika Charles Sanders Peirce melakukankonseptualisasi tentang tanda yang ia kembangkan secara lengkap.Bagi Pierce, tanda adalah unsur bahasa atau citra yang tersusundari hubungan antar tanda itu sendiri, referen (objek yang diacu olehtanda), dasar representasi (sifat hubungan terhadap referen), daninterpretan (hubungan eksperiensial antara penafsir dan makna). Tandamengacu kepada referen di dalam wilayah representasi yang mendasari    5 tanda sesuai fungsinya  –  apa yang diacunya, bagaimana, dan demitujuan apa. Makna tercipta ketika pembaca tanda men-dekode-kandasar representasi, yang dengan demikian menafsirkan perbedaanantara tanda dengan pengalaman.Meskipun terdapat perbedaan antara semiotika Saussureandengan Piercean, sebagaimana yang tersirat di atas, namun keduanyaberpendapat sama bahwa tanda tak mungkin memiliki hubunganmotivasional, kedekatan, analogis, atau relasional dengan sesuatu yangia representasikan. Tanda selalu bersifat arbiter, atau sebaliknya, iamerepresentasikan dirinya sendiri, yang selanjutnya menentukanapakah suatu tanda adalah hal yang disebut Pierce sebagai indeks, ikon,dan simbol.Indeks menunjuk pada makna langsung yang jelas dan bersifatuniversal, ikon adalah tanda yang memiliki makna assosiatif atauanalogis, simbol adalah suatu tanda yang bermakna simbolik yang dapatdimengerti hanya jika dipahami latar budayanya. R o l a n d B a r t h e s Barthes (1915-1985) merupakan tokoh intelektual dan filsuf Perancis yang gagasannya berada pada fase peralihan dariStrukturalisme ke Poststrukturalisme. Walau demikian, Barthesbersama Lévi-Strauss adalah tokoh-tokoh awal yang mencetuskan fahamstruktural dan meneliti sistem tanda dalam budaya. Menurutnya, adatitik temu atau konvergensi antara linguistik (ilmu-ilmu bahasa) danpenelitian budaya yang pada gilirannya akan memperkaya penelitiansemiologi (yaitu ilmu tentang praktek penandaan/ signifying  atau analisispenetapan makna dalam budaya) yang ia kembangkan. Berikut adalahbeberapa tema konseptual dan terminologi yang ia pakai. (Barthes, 1973:Barthes, 1981: Smith, 2001).Pertama , langue/parole:  distingsi yang dicetuskan oleh Saussureini tidak hanya dapat dipakai dalam fenomena linguistik tetapi jugadalam konteks semiotik.Kedua , signifer/signified:  distingsi Sussurian tentang benda atau konsep yang dihadirkan melalui ―yang ditandakan‖ (signified)  , dan tanda yang menghadirkan ( signifier  /penanda) bagi Barthes merupakan sesuatu yang esensial dalam sistem penandaan (sign systems).  Ketiga , syntagm  dan system.. Syntagm  mengacu pada carabagaimana tanda-tanda disusun melintasi waktu dalam satu susunan(tata bahasa/grammatika). Oleh karenanya, setiap bagian dalam hal inimengambil nilai terhadap lawannya. System, mengacu padaperlawanannya yang bisa diganti atau kadang dilihat sebagai paradigma.Keempat , denotation  dan c onnotation:  keduanya mengacu pada ―tatanan makna kata‖ (order of signification). Yang pertama pada maknakata lugas atau literal, dalam arti menjelaskn sesuatu sebagaimanaadanya (denotasi). Yang kedua menggunakan arti kiasan (konotasi), dandalam arti tertentu melibatkan semacam metabahasa. Denotasi beradapada tingkatan yang lebih rendah. Tema-tema tersebut disajikan dalam karyanya Mythologies  (1957).Buku ini merupakan pengantar terbaik untuk mengilustrasikan
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks