Reaksi Pasar Terhadap Kebijakan Tax Amnesty Pada Saat Pengumuman, Periode I, Periode II, dan Periode III

Please download to get full document.

View again

of 27
223 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
DOI: https://doi.org/ /eja.2018.v23.i01.p12 Reaksi Pasar Terhadap Kebijakan Tax Amnesty Pada Saat Pengumuman, Periode I, Periode II, dan Periode III Ni Putu Mediana Trisnayani 1 Naniek Noviari 2
Document Share
Document Transcript
DOI: https://doi.org/ /eja.2018.v23.i01.p12 Reaksi Pasar Terhadap Kebijakan Tax Amnesty Pada Saat Pengumuman, Periode I, Periode II, dan Periode III Ni Putu Mediana Trisnayani 1 Naniek Noviari 2 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia ABSTRAK Tujuan penelitian ini dilaksanakan agar dapat menganalisis perbedaan abnormal return pada saham LQ-45 sebelum dan setelah kebijakan Tax Amnesty. Event study adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini, dengan cara dilakukan pengamatan atau observasi terhadap rata-rata abnormal return selama 5 hari sebelum peristiwa, event date, dan 5 hari setelah peristiwa pengumuman, periode I,II,dan III Tax Amnesty. Data sekunder yang digunakan disini diunduh dari BEI dan Pusat Data Pasar Modal. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni harga saham penutupan harian atau closing price, indeks saham LQ-45. Sampel yang dipilih dalam penelitian ini adalah saham dari perusahaan yang masuk dalam daftar LQ-45 di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil analisis penelitian, diperoleh hasilbahwaadaperbedaan abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman Tax Amnesty, namun tidak ada perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah periode I,II,dan III Tax Amnesty karena kurangnya waktu pengamatan. Kata Kunci : Reaksi pasar, abnormal return, tax amnesty ABSTRACT The purpose of this study was conducted in order to analyze the difference of abnormal return on LQ-45 stock before and after Tax Amnesty policy. Event study is a method used in this study, by observation or observation of the average abnormal return for 5 days before the event, event date, and 5 days after the announcement event, the period I, II, and III Tax Amnesty. The secondary data used here is downloaded from IDX and Capital Market Data Center. The data used in this research is the closing stock price daily or closing price, LQ-45 stock index. The sample selected in this research is the shares of the companies listed in the LQ-45 list on the Indonesia Stock Exchange. Based on the result of the research analysis, it is found thatthereisanabnormalreturn difference beforeandaftertax Amnesty announcement, but thereisnodifferenceof average abnormal return before and after period I, II, andiii Tax Amnesty due to lack of observation time. Keywords: Market reaction, abnormal return, tax amnesty. PENDAHULUAN Pengampunan Pajak atau yang lebih dikenal dengan Tax Amnesty ialah penghapusan pajak dari wajib pajak yang seharusnya terhutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap seluruh harta yang dimilki atau yang belum terlaporkan dan 296 Ni Putu Mediana Trisnayani dan Naniek Noviari. Reaksi membayar Uang Tebusan. Tax Amnesty berlaku sejak tanggal 1 Juli 2016 s/d 31 Maret (Undang-Undang Nomor 11 tahun 2016) Semua wajib pajak di Indonesia baik Orang Pribadi maupun Badan disarankan untuk mengikuti Tax Amnesty. Wajib pajak terlebih dahulu harus melaporkan Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan ( SPT PPh ) tahun terakhir, barulah setelah itu wajib pajak dapat mengikuti Tax Amnesty dengan cara mengisi formulir Surat Pernyataan Harta yang berisikan nilai perolehan harta dan hutang yang telah dilaporkan, beserta harta dan hutang yang akan diungkap, setelah itu wajib pajak akan membayar uang tebusan di bank persepsi, nilai uang tebusan didapat dari total harga perolehan harta yang diungkap dalam Surat Pernyataan Harta dikalikan dengan tarif sesuai dengan yang tercantum pada Undang-undang nomor 11 tahun 2016 mengenai Pengampunan Pajak. Tax Amnesty dibagi menjadi 3 (tiga) periode dengan tarif yang berbedabeda, sesuai dengan periode dan kualifikasi wajib pajaknya. Adapun periode berlangsungnya Tax Amnesty beserta tarifnya adalah sebagai berikut. Periode I mulai berlaku tanggal 1 Juli 2016 s/d 30 September Wajib pajak non UMKM dikenakan tarif 2% pada periode ini, sedangkan wajib pajak UMKM dikenakan tarif 0,5% dan 2% bagi wajib pajak UMKM yang pengungkapan hartanya bernilai lebih dari 10 Miliar Rupiah. Pengungkapan harta di luar negeri yang dikembalikan ke Indonesia atau repatriasi dikenakan tarif 2%. Sedangkan untukpengungkapanharta yang beradadiiluarnegeridan tidak dialihkan keindonesia dikenakan tarif 4%. 297 Periode II berlaku tanggal 1 Oktober s/d 31 Desember Wajib pajak yang mengikuti tax amnesty periode II ini dikenakan tarif yang lebih tinggi, dimana wajib pajak non UMKM dan repatriasi dikenakan tarif 3%, sedangkan untuk deklarasi harta luar negeri dikenakan tarif 6%. Wajib pajak UMKM dikenakan tarif tetap yaitu 0,5% dan 2% bagi wajib pajak UMKM yang pengungkapan hartanya diatas 10 Miliar Rupiah. Periode III berlaku tanggal 1 Januari 2017 s/d 31 Maret Tarif yang dikenakan kepada wajib pajak UMKM masih tetap sama seperti periode sebelumnya, untuk wajib pajak non UMKM dan repatriasi harta dikenakan tarif 5%, sedangkan deklarasi harta luar negeri dikenakan tarif sebesar 10% (www.pajak.go.id). Tujuan dari diadakanya Tax Amnesty menurut Undang-undang No.11 Tahun 2016, adalah mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan harta, yang antara lain akan berdampak pada likuiditass domestik, perbaikan nilai tukar rupiah, penurunann suku bunga, dan peningkatan investasi, mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif, dan terintergrasi, meningkatkan penerimaan pajak,yang antara lain akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Selain untuk meningkatkan pendapatan negara, Tax Amnesty juga bertujuan untuk menarik dana yang disimpan oleh warga negara Indonesia di luar negeri atau disebut dengan repatriasi, kembalinya dana yang disimpan warga negara Indonesia di luar negeri diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Menurut 298 Ni Putu Mediana Trisnayani dan Naniek Noviari. Reaksi Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Tax Amnesty juga dapat meningkatkan basis perpajakan nasional, dikarenakan aset yang diungkapkan dalam permohonan pengampunan pajak dapat digunakan sebagai dasar untuk pemajakan di tahun pajak berikutnya (www.finance.detik.com), sehingga tingkat kepatuhan wajib pajak di Indonesia juga akan meningkat. Tax Amnesty berdampak bagi banyak aspek ekonomi, salah satunya berdampak pada kondisi pasar Indonesia. Ketika seorang investor ingin berinvestasi maka investor tersebut akan membutuhkan informasi untuk menilai bagaimana kedepannya kerja dari suatu perusahaan sehingga ia mempunyai gambaran mengenai resiko dan expected return sehubungan dengan dana atau modal yang diinvestasikan apabila sebuah informasi memiliki nilai relevansi. Investor selalu mengikutsertakan informasi yang tersedia dalam keputusan mereka sehingga memberikan timbal balik terhadap harga yang mereka transaksikan. (Robert Ang, 1997) Penelitian sebelumnya mengenai reaksi pasar terhadap suatu informasi menghasilkan simpulan yang berbeda-beda. Penelitian Mahaputra (2015) menyebutkan bahwa tidak terdapat perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman peristiwa pemilu legislatiff tahun 2014 pada saham yang tergolong LQ 45. Hal ini terjadi karena informasi tentang pengumuman peristiwa pemilu legislatif tahun 2014 sudah dapat diprediksi sebelumnya oleh pelaku pasar. Penelitian dari Nuryana (2017) menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan abnormal return saat peristiwa pengangkatan Joko Widodo sebagai presiden RI. 299 Penelitian Wulandari, dkk (2017) menyimpulkan bahwa adanya perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa berlakunya Undangundang Tax Amnesty, sedangkan penelitian dari Sanjiwani (2017) menyebutkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata abnormal return pada saat sebelum dan sesudah kebijakan Tax amnesty pada saat pengumuman dan akhirperiodee I. Dilihat dari ketidak konsistenan hasil penelitian, maka penelitian ini dirasa perlu untuk dilakukan kembali, ditambah lagi dalam penelitian ini juga akan diuji apakah pasar modal juga bereaksi terhadap pelaksanaan Tax Amnesty pada saat periode II, dan III. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan rata-rata abnormal return pada pasar modal saat sebelum dan sesudah berlangsungnya pengumuman tax amnesty, tax amnesty periode I, periode II, dan periode III. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata abnormal return pada saat sebelum dan sesudah berlangsungnya pengumuman tax amnesty, tax amnesty periode I, periode II, dan periode III. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis. Manfaat teoritis yang diharapkan adalah dapat memberikan tambahan wawasan kepada pembaca serta dapat mengkonfirmasi apakah terjadi perbedaan abnormal return pada perusahaan yang termasuk dalam kelompok LQ-45 di BEI tahun 2016 yang disebabkan oleh kebijakan Tax Amnesty yang diberlakukan pemerintah. Sedangkan manfaat praktis yang diharapkan adalah dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, seperti misalnya manfaat bagi para calon investor agar penelitian ini dapat digunakan sebagai 300 Ni Putu Mediana Trisnayani dan Naniek Noviari. Reaksi acuan atau masukan dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi berdasarkan pada kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam hal ini adalah tax amnesty. Untuk perusahaan, diharapkan agar penelitian ini dapat memberikan masukan untuk perusahaan dalam menghadapi kebijakan tax amnesty. Informasi yang diterbitkan ke publik sebagai pengumuman akan memberikan sinyal-sinyal bagi investor untuk pengambilan keputusan dalam berinvestasi. Saat pengumuman informasi, investor terlebih dahulu menggambarkan dan mencermati informasi yang ada apakah sebagai sinyal baik (good news) ataukah sinyal buruk (bad news). Apabila dalam pengumuman tersebut terdapat nilai positif atau good news, pasar akan bereaksi pada saat pengumuman tersebut. (Jogiyanto, 2014) Informasi menjadi instrumen yang sangat penting bagi pemodal, karena informasi tersebut mengandung keterangan, gambaran masa sebelumnya, sekarang, maupun masa depan mengenai kelangsungan dari suatu perusahaan dan bagaimana implikasinya pada pasar. Metode event study atau bisa disebut dengan studi peristiwa telah biasa digunakan oleh mahasiswa untuk menguji ada atau tidaknya reaksi pasar dari suatu peristiwa atau pengumuman yang sedang hangat diperbincangkan, semisal untuk menguji reaksi pasar dari peristiwa terorisme meledaknya bom bali yang pada saat itu menjadi sorotan media asing, peristiwa pemilu presiden dimana terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, pengumuman naiknya harga Bahan Bakar Minyak, dan sebagainya. (Jogiyanto, 2010) 301 Studi peristiwa sebagai studi yang didalamnya terdapat analisis prilaku harga sekuritas disekitar waktu kejadian atau pengumuman informasi. (Bowman, 1983 dalam Jogiyanto, 2014:4). Studi peristiwa menganalisis return tidak normal dari perusahaan yang mungkin terjadi disekitar tanggal-tanggal pengumuman dari suatu peristiwa. Abnormal return atau excess returnadalah kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. (Jogiyanto, 2014) Alasan digunakanya event study dalam penelitian ialah studi peristiwa banyak digunakan untuk menganalisis pengaruh dari suatu peristiwa terhadap nilai perusahaan. Apabila nilai perusahaan diukur dengan laba perusahaan, maka tidak akan menghasilkan nilai perusahaan yang sebenarnya, dikarenakan laba perusahaan dapat dimanipulasi sedemikian rupa untuk kepentingan tertentu atau biasa disebut dengan manajemen laba. Maka dari itu, harga saham dianggap lebih mencerminkan kinerja perusahaan yang sebenarnya. Alasan kedua karena studi peristiwa dapat mengukur langsung pengaruh peristiwa terhadap harga saham perusahaan pada saat terjadinya peristiwa karena harga saham tersedia pada saatt peristiwanya terjadi sedangkan laba akuntansi belum tentu tersedia pada saat peristiwa terjadi karena disajikan secara periodik oleh perusahaan. (Jogiyanto, 2014) Abnormal return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap normal return yang merupakan return yang diharapkan oleh investor (expected return). Selisih return akan positif jika return yang didapatkan lebih besar dari return yang diharapkan atau return yang dihitung. Sedangkan 302 Ni Putu Mediana Trisnayani dan Naniek Noviari. Reaksi return akan negatif jika return yang didapat lebih kecil dari return yang diharapkan atau return yang dihitung. Abnormal return sebelum peristiwa tax amnesty Investasi Saham Return Terdapat abnormal return Uji Beda Sumber: Data Diolah, Gambar 1. Kerangka Konseptual Abnormal return sesudah peristiwa tax amnesty Kerangka Konseptual pada Gambar 1 menunjukan tahapan bagaimana abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa tax amnesty diperoleh. Investor akan memulai dengan menginvestasikan sahamnya di bursa saham, pada periode tertentu investor akan memeroleh return dari investasi tersebut, setelah diketahui nilai actual return maka akan muncul abnormal return karena antara expected return dengan actual return terjadi selisih. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa tax amnesty dalam rentang waktu pengamatan akan digunakan uji beda. Menurut Jogiyanto (2014), studi peristiwa menganalisis return tidak normal dari sekuritas yang mungkin terjadi disekitar pengumuman dari suatuperistiwa. Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Sehingga dapatt disimpulkan, bahwa abnormal return terjadi karena dipicuoleh adanya kejadian 303 atau peristiwa tertentu, misalnya hari libur nasional, suasana politik,kejadiankejadian luar biasa,stock split, penawaran perdana, suspend dan lain-lain. Penelitian Mahaputra (2015) menyebutkan bahwa tidak adanya perbedaan abnormal return sebelum maupun. setelah pengumuman hasil pemilu legislatif tahun 2014 pada saham yang masuk dalam kelompok saham LQ 45. Ini dapat terjadi dikarenakan informasi tentang pengumuman peristiwa pemilu legislatif tahun 2014 sudah dapat diprediksi sebelumnya oleh pelaku pasar. Selanjutnya penelitian dari Nuryana (2017) menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan abnormal return saat peristiwa pengangkatan Joko Widodo sebagai presiden RI. Penelitian Wulandari, dkk (2017) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan ratarata abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa berlakunya Undang-undang Tax Amnesty, sedangkan penelitian dari Sanjiwani (2017) menyebutkan juga bahwa tidak terdapat beda rata-rata abnormal return pada saat sebelum dan setelah kebijakan Tax amnesty pada diumumkan dan berakhirnya periode I. Hasil penelitiandari Wendi,dkk (2016) menunjukkan bahwa investor di pasar modal bereaksi karena adanya pengumuman kebijakan tax amnesty, hal ini dapat dilihat dari pola pergerakan abnormal return yang fluktuatif selama peristiwa pengumuman kebijakan tax amnesty. Berdasarkan penelitian sebelumnya maka hipotesis yang dapat ditarik adalah sebagai berikut. H 1 : Terdapat perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan setelah pengumuman adanya kebijakan tax amnesty. H 2 : Terdapat perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan setelah berlangsungnya tax amnesty periode I. 304 Ni Putu Mediana Trisnayani dan Naniek Noviari. Reaksi H 3 : Terdapat perbedaan pada rata-rata abnormal return sebelum dan setelah berlangsungnya tax amnesty periode II. H 4 : Terdapat perbedaan pada rata-rata abnormal return sebelum dan setelah berlangsungnya tax amnesty periode III. METODE PENELITIAN Penelitian ini berupa studi peristiwa atau Event Study yang menunjukan bagaimana perbandingan rata-rata abnormal return saham karena adanya peristiwa Tax Amnesty. Penelitian ini adalah penelitian komparatif, membandingkan abnormal return pada saat sebelum dan sesudah periode Tax Amnesty. Rentang waktu peristiwa yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 hari sebelum tanggal peristiwa dan 5 hari setelah tanggal peristiwa. Rentang waktu tersebut dipilih untuk meminimalisir adanya peristiwa pengganggu atau confounding effects. Peristiwa-peristiwa pengganggu didefinisikan sebagai peristiwa-peristiwa lain yang terjadi baik dalam periode estimasi ataupun dalam jendela peristiwa, yang bukan merupakan peristiwa yang diteliti dan dapat mempengaruhi validitas reaksi pasarnya (Jogiyanto, 2010:136). Lokasi penelitian dilakukan di BEI pada perusahaan yang terdaftar dalam LQ45 dengan mengakses website resmi dari BEI. Objeknya adalah perbedaan rata-rata abnormal return saat sebelum dan sesudah pengumuman, periode I, periode II, dan periode III Tax Amnesty. Terdapat 2 (dua) jenis data yang dipakai dalam penelitian.ini, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Jenis data kuantitatif yang digunakan disini adalah daftar harga saham dan closing price. perusahaan yang termasuk indeks LQ-45 dan harga IHSG pada peristiwa di Bursa EfekIndonesia. Data kualitatifnya berupa daftar nama 305 perusahaan yang tergolong dalamlq 45 selama periode tax amnesty. Data sekunder yang dipakai adalah data indeks LQ-45 yang dipublikasikan oleh BEI, yang di dapat pada website Populasinya adalah perusahaanyangtergolong dalamindekslq45 di BursaEfekIndonesia, dengan sampel 45 perusahaan LQ45 dalam rentang waktu peristiwa. Menentukan sampel menggunakan metode purposive sampling. Perusahaan yang tergabung kedalam LQ-45 disetiap periodenya tidak sama, terdapat beberapa perusahaan yang keluar dari LQ-45 di periode tertentu dan ada pula yang masuk ke dalam LQ-45, maka sampel yang diambil adalah perusahaan yang secara konsisten berada di dalam kategori LQ-45 selama tiga periode tersebut. Pemilihan sampel yang digunakann disini adalah metode purposive sampling. Jumlah perusahaan yang tercatat dalam LQ 45 Periode Februari s/d Juli 2016 sejumlah 45 perusahaan, 1 (satu) perusahaan keluar dari LQ 45 di periode Agustus 2016-Januari 2017, dan 3 (tiga) perusahaan keluar pada periode Februari 2017-Agustus Sehingga jumlah sampel yang digunakan adalah 41 perusahaan. Data didapat dari pengamatan dan mencatat data yang ada dengan mengunjungi situs resmi BEI yaitu Data diperoleh dengan metode observasi non partisipan, yakni mengumpulkan data dengan cara pengamatan yang tidak melibatkan peneliti secara langsung namum peneliti hanya bertindak sebagai pengamat independen. (Sugiyono, 2014) 306 Ni Putu Mediana Trisnayani dan Naniek Noviari. Reaksi Teknik analisis data yang dipakai menggunakan statistic sample t-test berpasangan yaitu teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data agar dapat melihat apakah terjadi perbedaan antara dua rata-rata (Nata, 2002; 1). Untuk menguji normalitas suatu data dapat dilakukan dengan metode uji satu sampel Kolmogorov-Smirnov (Suyana (2009). Program aplikasi yang digunakan untuk uji normalitas adalah program SPSS Uji normalitas dilakukan agar dapat diketahui apabila data yang digunakan terdistribusi normal atau tidak terdistribusi normal, sehingga dalam menentukan uji yang digunakan untuk menguji hipotesis dapat dipilih uji yang tepat. HASIL DAN PEMBAHASAN Teknik analisis yang tepat digunakan untuk penelitian ini adalah statistic sample t-test berpasangan yaitu teknik statistik yang digunakan untuk menganalisisdataagar dapat melihat apakah terjadi perbedaan antara dua rata-rata (Nata, 2002; 1). Untuk menguji normalitas suatu data dapat dilakukan dengan metode uji satu sampel Kolmogorov-Smirnov (Suyana (2009). Program aplikasi yang digunakan untuk uji normalitas adalah program SPSS Hasil dari uji normalitas menunjukan seluruh data terdistribusi normal sehingga dapat dilanjutkan ketahap pengujian berikutnya. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel1. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Variabel Jumlah Kolmogorov- Smirnov Z Asymp. Sig (2-Tailed) Kriteria Keterangan PengumumanT ax Amnesty Periode I Tax Amnesty 41 0,479 0,976 0,05 Normal 41 0,765 0,602 0,05 Normal 307 Periode II Tax Amnesty 41 0,548 0,925 0,05 Normal Periode III Tax Amnesty Sumber: Data diolah, ,096
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks