Potensi Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Bencana

Please download to get full document.

View again

of 13
67 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Potensi Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Bencana Suhadi Purwantoro Disampaikan dalam seminar IMAHAGI Koordinartor wilayah III Jawa bagian Tengah 22 Desember 2012 di Kampus IKIp Veteran Su*u.unj Potensi
Document Share
Document Transcript
Potensi Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Bencana Suhadi Purwantoro Disampaikan dalam seminar IMAHAGI Koordinartor wilayah III Jawa bagian Tengah 22 Desember 2012 di Kampus IKIp Veteran Su*u.unj Potensi Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Bencana Suhadi Purwantoro Intisari sifat manusia memberikan andil terhadap beraneka jenis bencana, besar dan frekuensinya. Meskipun demikian manusia.'od r., terah diberi ruhan kemampuan berfikir sehingga tidak seperti umat ter lahulu pada zaman nabi-nabi diberi tahu langsung telah dap keselama memiliki potensi dalam mitigasi bencana. alam telah dilalui, dan mereka cepat melakukan pemulihan diri. Pengantar Seorang sosiolog barat pada awal abad XX, Spranger, pernah mengemukakan bahwa ada enam tipe manusia berdasar budayanya di muka bumi ini. Ke enam tipe tersebut adalah manusia teori yang rebih banyak berfikir, manusia ekonomi yang lebih banyak bekerja, manusia rerigi yang rebih banyak berdo'a, manusia estetika yang rebih banyak menikmati, manusia sosial yang lebih banyak berkurbary dan manusia politik yang ingin selalu berkuasa. Manusia mana yang rebih baik? Tentu saja yang paring baik apabila ada keseimbangan. Artinya seorang ilmuwanpun juga butuh makary juga mencintai keindahary yang tidak atheis pasti juga suka berdo'a, kadang membantu orang dan juga ingin berkuasa. Masarahnya adarah sebagian 'airy besar manusia cenderung menjadi manusia ekonomi dan politik. Hal ifu melahirkan manusia_manusia serakah' Andai saja digorongkan menjadi penyakit, maka penyakit serakah surit dicarikan obatnya, dibandingkan penyakit sociar rainnya, seperti bodoh, maupun miskin Konon kebodohan dapat mudah obatnya, yaitu diberikan pendidikan yang benar, Demikian pula kemiskinan dapat diatasi dengan bekerja keras. Keserakahan inilah yang sebenarnya menjadi sumber bencana dan malapetaka umat manusia. Bencana atau dalam bahasa sanskerta ztancana, yang bermakna godaary tipuan, kecelakaan, dan kerusakary sudah sering diiadikan contoh, dalam kitab-kitab suci. I Kisah banjir nabi Nuh, kisah kekeringan panjang pada zarnannabi yusuf, kisah gempa bumi pada zaman nabi Luth, adalah sebagian contoh bahwa manusia hidup diiringi dengan bencana. Bencana dalam bahasa Inggris adalah disaster, berawal dari bahasa Yunati ilisastro yang berarti bencana yang disebabkan oleh kedudukan planet yang tidak menguntungkan. oleh karena itu sebenarnya manusia telah diberikan pembelajaran mitigasi pada kisah-kisah itu, dimana nabi Nuh dan pengikutnya selamat dari peristiwa banjir besar setelah diperintahkan Tuhan membuat kapal besar karena akan ada banjir besar. Demikian pula kisah-kisah lain yang merupakan mitigasi bencana seperti kekeringan panjang hingga tujuh tahury sebagian mereka selamat karena menyimpan sebagian bulir padi untuk mencukupi pangan pada musim kemarau sangat panjang. suatu peristiwa bencana terah ada tanda alam sehingga sebagian dari mereka dapat melakukan mitigasi bencana. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa sebenarnya mitigasi bencana bukan barang baru. Tuhan telah menurunkan penyakit dengan obatnya, demikian pula Tuhan terah menurunkan bencana dengan mitigasinya. Mitigasi merupakan istilah berasal dari bahasa Latin mitigationem (kata benda) yang berasal dari kata ke\a mitigare. Mitigare berasal dari gabungan kata mitis yang bermakna rembut, 1unak, dan jinak, serta kata agare yang bermakna melakukan atau membuat. Jeraslah maknanya mitigasi adalah usaha membuat jinak sesuatu yang riar. Daram har ini, bencana dianggap sesuatu yang liar, dimana wilayah dan waktunya sulit diprediksi. sebagaimana pendapat spranger, maka manusia teori yang selaru berfikir rambat Iaun menghasilkan teori, dan konsep yang dapat mengatasi masarah di muka bumi ini. Berbagai masalah bencana, lambat tapi pasti terah dapat diprediksi. Bencana sering melanda bumi ini tak terkecuali di Indonesia. Akhirnya pemerintah RI mengeluarkan undang-undang no. 24 tahun 2007 tentang penanggurangan bencana. Daram undangundang tersebut diawari antara lain dengan makna kata bencana, bencana aram, bencana non alam, bencana sosial, kegiatan pencegahan bencana, kesiapsiagaary peringatan dini, mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi, rekonstruksi, ancaman r bencana, rawan bencana, risiko, dan lain-lain yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Macam-macam Bencana Jenis-jenis bencana menurut UU no 24 fa}irun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana alam contohnya tsunami, gg4pa, banjir, badai, ergp! vulkan, tanah longsor, dan kekeringan. Bencana sosial contohnya perang, kerusuhan antar etnis, perkelahian pelajar, dan perkelahian antar kampung. Bencana non alam, contolmya kecelakaan lalulintas, kecelakaan kerja, maupun kebakaran bangunan. Ada beberapa istilah yang perlu diketahui daiam hai mitigasi bencana. Beberapa istilah tersebut adalah hazard, disasfur, dnn catastrophic. Hszard berarti bahaya, disaster berarti bencana, sedangkan catastrophic berarti malapetaka. Bahaya alam adalah kemungkinan terjadinya potensi kerusakan di suatu wilayah dengan periode tertentu (Natural hazqrds means the probability of occurrence zuithin s specifed period of n time nn zuithin a gioen area of a potentially damnging phenomenon). Bencana alam adalah dampak bahaya pada masyarakat, yang terjadi pada kurun waktu dan wilayah geografis tertentu (Natural disaster, is the effect of hazard on society, usually ns an eaent that occurs oaer a limited time span in a defned geographic area). Statu malapetaka, adalah bencana besar yang memerlukan waktu lama dan beaya besar untuk pemulihan (A catastrophe, simply put, is a massioe disaster, requiring signifcnnt expenditure of time and money for recoztery). Berbeda dengan UU no 24 tahun 2007, Verstappen (1985: 14) mengelompokkan Natural hazards menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Bahaya yang berasal dari dalam bumi (Hazards of endogenous origin), contohnya gempa bumi dan erupsi gunung berapi. 2. Bahaya yang berasal dari luar bumi (Haznrds of exogenous origin), contohnya jatuhnya meteor, sambaran halilintar, badai, tornado, hurricane, taifun, pating beliung, tanah longsor, maupun banjir. / 3. Bahaya yang berasal dari manusia (Hazards of nnthrophogenous origin), contohnyn kebaknran permukiman, kecelakaan lalulintas udnra, laut, dan darat, kerusuhnn, dan peperangan. Pengelompokan bahaya dan bencana juga dapat dibagi berdasarkan kemurnian pengaruh alam hingga ulah manusia, berturut-turut adalah: 1. Luar angkasa 2. Dalam bumi 3. Bumi bagian luar 4. Atmosfer 5. Lingkungan 6. Penyakit 7. Teknologi 8. Kon-flik Fakta Bencana sebesar 95% peristiwa bencana alam terjadi di Negara berkembang dan Negara miskin, tetapi 75o/ kerugian materi menimpa Negara-negara kaya (Brunsden, 19g4: 524). Indonesia, dapat disebut sebagai negeri jamrut katulistiwa, karena banyak mineral mahal seperti emas, perak, tembaga, timah, aluminium dan lain-lain. produksi emasnya saja sebesar 100 ton pertahun, merupakan penghasil emas ketujuh di dunia, tersebar dari sumatera, fawa, Nusa Tenggara, Kalimantary sulawesi hingga papua. Bangsa Indonesia harus selalu waspada sebab wilayah Indonesia juga merupakan negeri yang sarat bencana, negeri rangkaian tepi neraka karena ada di wirayah ring of fre, atau dijuluki juga negeri yang memiliki supermarket bencana. Hampir semua bencana tersedia. Berdasarkan macam bencana, fakta menunjukkan bahwa jenis bencana yang berasal dari dalam bumi atau bencana geologi sebenarnya sangat sediki! karena hanya gempa bumi dan erupsi. Tabel Jenis dan Jumlah Kejadian Bencana di Indonesia (2002_ZO0g) / No Kejadian Meninggal (orang) , / '1,39 9 r\euakaran Eutan dan Lahan Kecelakaan Indusbri 't T_ I\ELclilKaan r ransportasl L ^-- n:1 t f t I '1,.099 Sr 467 Bencana di Indonesia berdasar data dari Badan Nasional penanggulangan Bencana (BNPB) dari tahun 2002 hingga 2009 terdiri 14 jenis bencana, dengan 3.g02 kejadian bencana, hanya terjadi 74 kejadian gempa bumi, 2 kari gempa dan tsunami, dan erupsi gunung berapi 2r kari Dengan demikian kejadian bencana dari dalam bumi, seperti bencana hydrometeorologis dan ekorogis, dan bencana yang diakibatkan oreh urah manusia lebih dominan' Bencana hidrometeorologis seperti angin topary banjir, tanah iongsor' abrasi, dan kebakaran hutan mencapai rebih dari 2000 kejadian. Bencana hidrometeorologis dan ekologis tidak lepas dari porah tingkah umat manusia. 5 Penggundulan hutan, pembalakan riar, pertumbuhan jumlah pabrik dan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fos' diperkirakan menjadi penyebab I bencana ekologis. Konsep dasar untuk memahami bencana 1. Bahaya/bencana dapat diprediksi secara ilmiah. Karau pada zaman dahuru Tuhan merarui maraikat secara langsung memberikan pertanda akan terjadinya bencana kepada nabi, maka sekarang tanda-tanda atau signal harus dicari sendiri' Para ahli terah dapat mengetahui berbagai tanda akan terjadinya bahaya, seperti bahaya badai, bahaya banjir, bahaya kekeringan, bahaya tanah iongsor, bahaya erupsi gunung berapi, bahkan bahaya gempa bumi sudah dan tsunami sudah dapat diprediksi secara ilmiah. 2' Analisis risiko merupakan komponen penting dalam pengertian dampak proses bencana. Dengan memahami risiko bencana, membuat seseorang atau masyarakat dapat bertindak rebih bijak. Contohnya w'ayah yang sering diranda gempa karena merupakan jalur gempa bumi, seharusnya masyarakat membangun rumah dengan konstruksi anti gempa. 3' Ada kaitan antara bahaya alam dengan bahaya alam lainnya. Berbagai peristiwa bencana sering berkaitan dengan bencana alam rain. Contoh Gempa Aceh 2004 berdampak pada Tsunami dahsyat. Bencana erupsi gunung berapi Merapi menyebabkan bencana banjir lahar panas dan lahar dingin. 4. Peristiwa berbahaya sebelumnya menyebabkan bencana selanjutnya menyebabkan malapetaka. Contohnya di Mexico. pertambahan penduduk yang tinggal di wilayah yang semakin sempit memerrukan air tana', memerlukan ruang unfuk permukimary akibatnya adalah terjadinya penurunan permukaan tanah, berdampak pada rusaknya bangunan. Dalam kasus eksfrem seperti di Mexico City (22 juta penduduk) dengan batuan sedimen rakustrin yang air tanah terus dipompa, terjadi subsidence yang tidak serentak, terjadi gempa g skala Richter (1985) mengakibatkan bangunan rusak, dan orang tewas. 5. Konsekuensi bencana dapat diminimalisir. Tuhan memberikan akal pikiran / manusia untuk dapat berfikir sehingga dapat melakukan berbagai mitigasi bencana. Untuk menghindari dan menyesuaikan bahaya, maka perlu ada perencanaan wilayah, asuransi, kesiapsiagaan bencana, membangun penangkal bahaya seperti checkdam untuk lahar, talud untuk lereng terjal, tanggul buatary pohon bakau di pantai untuk tsunami, banjir kanal dll Mitigasi Bencana Secara umum penanggulangan bencana meliputi : 1. Sebelum bencana: pencegahan (preaention), penjinakan (mitigntion), kesiapsiagaan (preparedness), 2 selama bencana: tahap awal, tahap darurat (response), konsolidasi (consolidation), tahap akhir, rehabilitasi (rehabilitation) 3. Sesudah bencana : rekonstruksi, pembangu nan (deaelopment) untuk dapat mempelajari mitigasi suatu bencana, maka terrebih dahuru harus mempelajari jenis bahaya. Contohnya bahaya gempa bumi (Enrthqunke hazard), harus lebih dahulu memahami bagaimana proses gempa terjadi, wilayah mana saja yang rentan gempa bumi, apa keuntungan dan kerugian alami gempa bumi, dan apakah manusia ikut andil dalam proses gempa bumi. Usaha meminimalisir bahaya gempa bumi antara lain dengan mempelajari: 1. pusat gempa 2. mempetakan wilayah gempa 3. memprediksi efek gempa 4. menerapkan has riset dengan mensosialisasikan ke masyarakat tentang bahaya gempa 5. System peringataan dini gempabumi Usaha meminimaiisir bahaya erupsi gunung berapi 1. Memprediksi secara ilmiah 2. Memonitor aktivitas seismic 3. Memonitor kondisi panas, magnetik dan kondisi hidrologis 4. Memonitor sudut kelerengan lahan puncak gunung berapi 5. Memonitor gas_gas emisi vulkanik 6. Peringatan dini bahaya erupsi Bahaya Banjir 1. Mempelajari sungai 2. Banjir 3. Wilayah geografis banjir 4. Dampak banjir dan kaitaannyaa dengaan bahyaa lainnya 5. Fungsi alami banjir 6. Peran manusia terhadap banjir 7. Usaha meminimalisir bahaya banjir Bahaya tanah longsor 1. Mempelajari tanah longsor 2. Wilayah geografis rentan tanah Iongsor 3. Dampak tanah longsor dan kaitannya dengan bahaya lainnya 4. Fungsi alami tanah longsor 5. Peran manusia terhadap tanah longsor 6. Usaha meminimalisir bahaya tanah longsor Potensi Masyarakat Potensi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ialah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. potensi masyarakat dalam tulisan ini ialah kemampuan masyarakat yang mempunyai kernungkinan untuk dikembangkan sesuai konteksnya. Dalam kaitan dengan upaya mitigasi, maka sebenarnya rata-tata bangsa Indonesia telah belajar sangat lama secara arif. Kearifan lokal bukan barang / baru bagi masyarakat Indonesia. Ketika kakek nenek moyang kita dahulu kala menggunakan bahan kayu dan bambu, bukan batu bata, semery dan besi untuk membangun rumah adalah bukan tanpa alasan. Pasti karena wilayah yang sering dilanda gempa bumi menjadi salah satu alasannya. Di Yogyakarta ketika terjadi gempa bumi besar pada tanggal 23 Juli tahun 1943 jarn 22.30, dalarn Geology of Indonesia (Bemmelery 1972), bangnan tempat tinggal yang selamat adalah rumah yang merniliki korutruksi anti gempa milik orang kulit putih, dan rumah penduduk pribumi yang dibuat dengan kayu dan bambu. Sebagian besar korban yang tewas dan luka karena tinggal di rumah tembok tanpa beton, bahkan sebagian besar tembok dibangun tanpa semen. Jumlah korban tewas seketika 213 onng, terluka dan kemudian tewas 677 orcng, luka berat 1,.1,65 orang,luka ringan orang, rumah roboh, 166 rusak berat, rusak ringan. Namun jeda waktu tanpa gempa bumi besar sangat 1ama, 63 tahurl jadi membuat masyarakat lupa bahwa wilayah yang mereka huni adalah wilayah rawan bencana alam gempa bumi, sehingga mereka mulai membangun rumah dengan batu bata tetapi tanpa besi beton. Kejadian berulang pada hari sabtu 27 Mei 2006 jam pagi dan kita semua telah menyaksikan betapa dahsyatnya bencana itu. Wilayah Yogyakarta kurang lebih sama hancurnya dengan gempa bumi besar Namun Alhamdulillafu karena watak atau karakter masyarakat Indonesia yang suka membantu, maka bantuan baik tenaga, material, makanary obat-abatan, maupun uang dengan segera datang di wilayah bencana. Hal itu juga tampak di wilayah bencana yang lairy baik di Ace[ Wasior, Mentawai, Padang, dan berbagai tempat bencana lairmya. Rekonstruksi pasca bencana pun cepat selesai. Masyarakat bangsa ini mungkin dalam proses penggemblengan alamiah. Untuk menjadi bangsa yang besar, perlu jatuh bangury tidak saja oleh masalah sosial, politik dan ekonomi, tetapi juga oleh bencana alam. Seperti kata Bung Karno yang pernah mengatakan dalam acara pidato Maulid Nabi tahun 1963, bahwa bangsa Indonesia tidak boleh menjadi bangsa, seperti bangsa di negeri uttarakhuru dalam kisah I Ramayana, yang kehidupannya serba tenang-tenang saja. sukarno mendeskripsikan di negeri itu keadaan alamnya dapat dikatakan tidak terlalu panas, tidak terlalu dingiry semuanya tenang-tenang saja. Katanya adem tentrem kndyo siniram banyu unyu sewinrlu Iazuns6.. Beliau mengajak bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan itu memang perlu ada proses penggembl6ngan. Penggembl6ngan itu baik fisik maupun mental, termasuk oleh proses almiah seperti berbagai bencana yang hadir di lingkungan kita, sehingga bangsa ini harus siap menghadapi haznrd. Bukan hanya negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat saja yang memiliki potensi masyarakat menghadapi bahaya (hnznnl) bencana. Masyarakat Indonesia juga sangat memiliki potensi dalam mitigasi bencana. Masyarakat telah lama memiliki kode simbol alarm berupa alat kentongan. Telah ada maknanya bunyi kentongan satu safu, dua dua, tiga tiga, empat empat dan seterusnya. Masyarakat seputar Merapi termasuk contoh masyarakat yang memiliki daya pemulihan diri relatif cepat menghadapi bencana Merapi. Demikian pula masyarakat Bantur yogyakarta, dan Klaten yang memiliki semangat cepai bangkit adalah contoh bahwa masyarakat telah memiliki potensi menghadapi bencana aram. Banyak wilayah rain yang langganan bencana telah memiliki ketahanan bertahan hidup, dan usaha cepat dalam mitigasi seperti daerah banjir Jakarta, dataran banjir seputar sungai Bengawan solo, sungai Brantas, dan banyak lagi lainnya. Bahwa ada sebagian kecil yang lambat bergerak, sebagian oknum yang nakar menyelewengkan bantuary oknum yang jahat malah merampok, tidak terkena bencana sekalipun mereka tetap berbuat jahat. Di wilayah lain seperti di sumatera Barat, bahkan terah terbentuk sebanyak 104 Kelompok siaga Bencana (KSB) kelurahan se-kota padang yang berjumlah 2.0g0 orang dan instansi yang terlibat dalam penanggurangan bencana, antara lain satpol pp, Basarnas, Damkar Tagana, pmi, KSB pertiwi (www.pedang aiid). Dernikian pula di Kabupaten sanggau, Kalimantary juga telah dibentuk Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM). Tujuannya agar kehicrupan khususnya cli sarrggau dapat berjalan dengan rukur! tentram dan damai, mengahadapi segala macam bencana, baik / alam maupun non alam, clan sosiai (Borneo Tribury 04 September 2012) Banyak perguruan tinggi juga telah melakukan berbagai cara sosialisasi melalui Program Pengabdian pada Masyarakat (PPM) dalam mitigasi bencana. Contoh UGM dengan program Workshop Untuk masyarakat Samigaluh dalam rangka peningkatan pemahaman tentang bahaya tanah longsor, (PHKI UGM, 201,2), atau UNY dalam program PPM tentang tema yang sama di wilayah rawan longsor di Kabupaten Bantul. Fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut di atas menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki karakter yang baik. Watak masyarakat bangsa ini yang religious, ikhlas saling membantu, gotong royong, rukun, suka bekerja, mau belajar, dermawan, tidak mudah putus asa, ulet, sangat tampak dalam peristiwa-peristiwa itu. Potensi inilah yang sebenarnya menjadi modal bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Penutup Fakta bahwa lingkungan yang ada di permukaan bumi ini adalah surga dan neraka . Sekalipun manusia berada di tepi neraka kaiau bijak terhadap lingkungannya tidak akan masuk ke lembah penderitaary bahkan akan memetik buah surga bila mampu menyikapi dengan bijak. Banyak masyarakat lereng gunung berapi mengenyam indahnya surga. Bangsa Jepang tetap dapat menikmati indahnya dunia karena mereka cerdas dan bijaksana. Apa salahnya bangsa Indonesia meniru mereka? Sebagaimana konon Tuhan menurunkan penyakit dengan obatnya, maka pasti Tuhan juga menurunkan bencana dengan mitigasinya. Ketangguhan masyarakat Indonesia dengan berbagai bencana telah ditunjukkan di banyak wilayah rawan bencana alam, seperti seputar Merapi, daerah gempa bumi Bantul, Klaten, daerah banjir Jakarta, Bengawan Solo dan lain sebagainya. Intinya potensi masyarakat Indonesia pada umumnya sangat besar dalam upaya mitigasi bencana. Masyarakat dalam hal ini adalah dari kalangan akademisi, pelajar, dan mahasisswa, tokoh masyaraka! haruslah menjadi pelopor. 11 Daftar Pustaka Bemrnelery 1'972. Geotogy of rn,onesia.vol 1, The Haque: Government printing office. / t*lt ol?r? Data dan Informadi Bencana Indonesia. Diakses dari wr.tw.bnpb.go.i,/ Borneo Tribury 04 September lliil;?; Xljrnrt ., D.8., 1s84. stope rnstabitiry. Macquarie University, sidney: toli:fl o Kelrer dan Robert Blodgen, Natural hazards. rjsa:pearson prenrice PHKI. UGM _Undang-undang no. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana u*tllr5:#sfi.awtuageomorphorogicils rrtr y anrturarhazaritzoning. Pemerintah kota padang. Bangun Ketahanan Masyarakat Dari Bencana, Biodata: suhadi Purwantoro, Jurdik Geografi UNy Karangmarang Jogjakarta. pendidikan s1,s2, Geografi h. sci e n ce s o n d A 'o' po,, r n hj d ih e N eth e rt a llil tit-llffi n dsrjiplr.l' - ,.e 72
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x