Persalinan pada Pasien HIV.docx

Please download to get full document.

View again

of 3
0 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Download Persalinan pada Pasien HIV.docx
Document Share
Document Transcript
  Persalinan pada Pasien HIV Sebagian besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat  persalinan. Hal ini disebabkan meningkatnya tekanan plasenta sehingga terjadi koneksi antara darah ibu dan darah bayi. Peningkatan penularan ini dapat terjadi oleh karena bayi menelan lendir atau darah ibu saat persalinan. Selain itu, kulit  bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah terinfeksi jika kontak dengan HIV. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke  bayi selama persalinan adalah sebagai berikut: 1.   Jenis persalinan (per vaginam atau per abdominal (SC) 2.   Lamanya peralinan. Risiko penularan HIV dari ibu ke bayi semakin meningkat jika persalinan berlangsung lama karena akan menyebabkan semakin lamanya kontak antara darah atau lendir ibu dengan bayi. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari empat jam sebelum persalinan. 3.   Faktor lain yang mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke bayi adalah  penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forceps, dan tindakan episiotomi. Persalinan yang aman diputuskan oleh ibu setelah mendapat konseling  berdasarkan penilaian dari tenaga medis. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa  persalinan dengan seksio caesaria dapat menurunkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sebesar 50% hingga 60%.  Syarat Persalinan per Vaginam Persalinan per Abdominal Pemberian ARV ≥ 4 minggu Atau VL <1000 copy/mm 3 Pemberian < 4 minggu Atau VL < 1000 copy/mm 3 Atau ada indikasi obstetrik Risiko penularan dari ibu ke bayi 20% - 25% 2% - 4%    Persalinan Normal pada Pasien HIV Persalinan pervaginam pada pasien HIV diperbolehkan jika pasien telah mengonsumsi Anti Retro-viral (ARV) sejak kehamilan ≤14 minggu, dan telah mengonsumsi ARV >6 bulan atau viral load < 1000 kopi/µL (Kemenkes, 2012). Persalinan pervaginam pada pasien HIV pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan persalina pervaginam pada wanita normal. Ada  beberapa kontraindikasi pasien ini yaitu tindakan invasif seperti  pengambilan sampel darah fetal menggunakan elektrode kulit kepala fetal dan amniotomi.    Persalinan Sectio Cesarea Operasi Seksio Cesarea direkomendasikan pada usia kehamilan 38 minggu sebelum onset persalinan dan sebelum pecah ketuban. Seksio Cesarea (SC) yang direkomendasikan bagi pasien HIV adalah SC elektif. SC elektif terbukti dapat mengurangi presentase penularan HIV dari ibu ke bayi pada periode inpartum sampai dengan 50%. Teknik SC yang direkomendasikan bagi  pasien SC adalah teknik “  Bloodless Caesarian Section ” yang berarti melahirkan bayi dengan minimal kontak atau tanpa kontak sama sekali dengan darah atau cairan ibu.SC dengan teknik ini dapat memiliki efek yang hampir sama dengan pemberian antiretroviral, dan dapat menjadi alternatif bagi ibu yang tidak mendapatkan terapi antiretoviral (College, 2010).  SC dengan perdarahan minimalmerupakan metode yang mebutuhkan ketelitian utuk mengontrol perdarahan pada luka incisi, antiseptik, dan dermakasi lapangan operasi sehingga terhindar dari kontaminasi darah, mencuci sarung tangan operator dengan sabun sebelum digunakan untuk operasi, dan menghindari pecahnya selaput ketuban. SC dengan perdarahan minimal hampir sama dengan SC pada umumnya sampai dengan pada level sbelum insisi uterus. SC dengan teknik ini mencakup pembukaan uterus dengan menggunakan staple gun yang secara simultan memotong dan memberikan hemostasis sehingga  proses persalinan bayi relatif pada lapangan yang kering dan kontak dengan darah ibu bisa dihindari. SC dengan perdarahan minimal ini, pembuluh darah bu yang terluka selama operasi dikauter sehingga terjadi hemostasis dan bayi tidak terpajan darah ibu. Kauter menggunakan agen (seperi panas, dingin, atau listrik) untuk membakar pembuluh darah ibusebelum pembuluh darah tersebut dipotong sehingga tidak terjadi perdarahan.setelah tidak didapatkan perdarahan, ketuban dipecah kemudian bayi dilahirkan. Walaupun persalinan SC terbilang lebih aman untuk mengurangi  penularan HIV dari ibu ke bayi, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain: 1.   Faktor keamanan ibu pasca seksio sesaria. Komplikasi minor dari seksio sesaria seperti endometritis, infeksi luka, dan infeksi saluran kemih lebih  banyak terjadi pada ODHA daripada non-ODHA. 2.   Fasilitas kesehatan dari tempat layanan, apakah memungkinkan untuk dilakukan seksio sesaria atau tidak. 3.   Biaya seksio sesareea yang relatif mahal.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks