PERFORMA PRODUKSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIBUDIDAYAKAN PADA TAMBAK SISTEM SEMI INTENSIF DENGAN APLIKASI PROBIOTIK

Please download to get full document.

View again

of 16
40 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
PERFORMA PRODUKSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIBUDIDAYAKAN PADA TAMBAK SISTEM SEMI INTENSIF DENGAN APLIKASI PROBIOTIK Titik Susilowati,Vivi Endar Herawati, Fajar Basuki, Tristiana Yuniarti,
Document Share
Document Transcript
PERFORMA PRODUKSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIBUDIDAYAKAN PADA TAMBAK SISTEM SEMI INTENSIF DENGAN APLIKASI PROBIOTIK Titik Susilowati,Vivi Endar Herawati, Fajar Basuki, Tristiana Yuniarti, Diana Rachmawati dan Suminto Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi probiotik terhadap pertumbuhan, kelulushidupan, produksi, produktivitas, dan rasio konversi pakan udang vaname ( L. vannamei) yang dibudidayakan di tambak dengan sistem semi intensif.tambak berukuran m 2 sebanyak 6 petak masing-masing ditebari benih udang vaname ( L. vannamei)pl-12 dengan padat tebar 15 ekor/m 2.Perlakuan yang diujikan adalah A).0 mg/l (t anpa pemberian probiotik)., B). 1.5 mg/l (dengan probiotik). Masing-masing perlakuan diulang 3 kali.pemberian fermentasi probiotik diberikan setiap minggu sekali yang dimulai satu minggu sebelum penebaran hingga menjelang panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B rata-rata bobot udang akhir lebih tinggi ( ± g) dari perlakuan A (15.7 ± g), Kelulushidupan udang pada perlakuan A : 0.432± sedangkan perlakuan B : 0.79± rata-rata produksi udang vaname pada perlakuan A : ±0.083 kg/2000 m 2 dan perlakuan B : kg/200 m 2. Rata-rata produktivitas pada perlakuan A : 0.1 kg/m2/mt dan perlakuan B: 0.25 kg/m2/mt. Rata-rata rasio konversi pakan pada perlakuan A 1.79±0.005 dan perlakuan B : 1.42± Probiotik yang diaplikasikan pada tambak udang semi intensif mempunyai peranan dalam hal memperbaiki kualitas air (BO, amoniak) sehingga berakibat pada produksi udang di perlakuan B lebih tinggi daripada pada perlakuan A. Kata kunci : produksi; udang vaname; probiotik ABSTRACT The aimed of this research to effect probiotics influented on the growth, survival rates, production, productivity and FCR and water quality condition of Pacific white shrimp L. vannamei in pond under semi intensif system. Six of pond compartments each sized 2,000 m2 were stocked with PL-12 at the density of 15 fries/m2. Two treatmens of probiotics application in pond were tested, there were A). 0 mg/l probiotic and B).1.5 mg/l fermentation of probiotic. Each treatment was done in three replicated. On treatment probiotic applied weekly to the ponds started on the first week before shrimp stocking until harvested, while in treatment B probiotic application was mixedwith feed pelled then it was given to the cultured shrimp in the ponds. Result of the research showed that final shrimp body weight in treatment B tend to be higher compared to the treatment A. Absolut shrimp growth-rate in treatment B: ± g and treatment A :15.7 ± g, Shrimp survival rate treatment A 0.432± and treatment B : 0.79± Production-rate of shrimp in treatment A: ±0.083 kg/2000 m2 and treatment B : kg/200 m2. Productivity of shrimp in treatment A : 0.1 kg/m2/period of plants dan perlakuan B: 0.25 kg/m2/period of plants. FCR of shrimp in treatment A 1.79±0.005 and treatment B : 1.42± Probiotics used in treatment B resulted in the enchancement of water quality condition (total organic matter, nitrat) compared to the treatment A ( 0 probiotics). This condition presumably resulted the highest shrimp production in treatment A. Keywords : production, Pacific white shrimp, probiotics. 22 PENDAHULUAN Keberadaan bahan organik yang tinggi pada tambak berpengaruh besar terhadap karakteristik lingkungan tanah dan air. Tingginya kandungan bahan organik akan menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen untuk proses biode-komposisi sehingga terjadi penurunan kadar oksigen terlarut dan terbentuknya produk perombakan bahan organik secara anaerob yang bersifat toksik bagi udang (Setyati et al., 2016). Selanjutnya dikatakan oleh Susianingsih et al., 2016), bahwa penggunaan probiotik sebagai alternatif pencegahan terhadap penyakit pada budidaya udang yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogen maupun oleh kualitas lingkungan yang jelek. Upaya budidaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengaplikasikan probiotik, mengingat kemampuan probiotik yang dapat menguraikan bahan organik dari sisa pakan dan kotoran udang secara cepat menjadi nutrien yang berguna bagi pertumbuhan fitoplankton. Limbah budidaya tidak mencemari lingkungan tambak, kualitas tanah dan air tetap layak untuk kehidupan udang yang dibudidayakan, sehingga tidak terjadi kegagalan panen (Valsamma et al., 2014). Aplikasi probiotik yang berisi bakteri menguntungkan mampu mendegradasi bahan organik, mereduksi penyakit dan mempercepat proses siklus nutrient (Herdianti et al., 2015). Devaraja et al. (2013) mengemukakan bahwa jenis-jenis bakteri yang sering digunakan dalam media budidaya adalah Saccharomyces, Lactobacillus, Bacillus, Clostridium, Enterococcus, Shewanella, Leuconostoc, Lactococcus, Carnobacterium, aeromonas dan beberapa spesies lainnya. Selanjutnya dikatakan oleh Hapsari et al. (2016), dalam rangka meningkatkan produksi udang adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan dengan penambahan probiotik dalam pakan. Menurut Ariole dan Kanu (2014), bakteri proteolitik dapat ditemukan pada 23 saluran pencernakan ikan. Hapsari et al (2016) melaporkan bahwa Lactobacillus sp, Pseudomonas sp, dan Bacillus sp memiliki aktivitas proteolitik, amilolitik dan lipolitik merupakan isolate potensial untk dikembangkan sebagai probiotik pada usaha budidaya udang vaname. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi probiotik terhadap produksi udang vaname dan perubahan kualitas air dan konversi pakan udang vaname di tambak semi intensif METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat eksploratif dengan mengambil data di lapangan, yaitu di Bulu Jepara. Udang vaname ( L. vannamei) menggunakan 6 petak tambak berukuran masing-masing 4 x 5 x 1.2 m dengan volume air masing-masing petak 2000 L. Setiap bak ditebari pascalarva udang vaname ( L. vannamei) (PL -12) dengan padat tebar 15 ekor/m 2. Sebelum probiotik diaplikasikan terlebih dahulu dilakukan fermentasi menggunakan bahan dedak halus, tepung ikan, molase, ragi (marine yeast), dan air tambak untuk meningkatkan populasi bakteri probiotik. Aplikasi probiotik hasil fermentasi tersebut diberikan setiap minggu yang dimulai satu minggu sebelum penebaran hingga menjelang panen ke wadah petak tambak pemeliharaan udang vaname dengan konsentrasi untuk perlakuan A = 0 mg/l, B = 1.5 mg/l. Selama pemeliharaan larva udang diberi pakan komersial sebanyak 4-10 % dari total biomassa udang dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Pengukuran bobot udang uji dilakukan setiap 10 hari sekali menggunakan timbangan elektrik dengan ketelitian 0.01 g. Pertumbuhan mutlak diukur berdasarkan rumus yang digunakan oleh Ghoshet al (2016).Pada awal pemeliharaan contoh udang diambil dan dilakukan penimbangan bobot. Selanjutnya selama pemeliharaan dilakukan pemberian pakan dan penimbangan bobot setiap 10 hari sekali guna mengetahui pertumbuhan sampai akhir penelitian. Variabel yang diukur meliputi pertumbuhan, kelangsungan hidup, FCR, dan produksi. Data tersebut akan dianalisa secara diskriptif, 24 dengan menggunakan tabel, histogram dan grafik. Variabel kualitas air diukur setiap 10 hari selama masa pemeliharaan. Data produksi,kualitas air dan FCR dibandingkan dengan nilai control. Sebagai control adalah udang vaname ( L. vannamei) yang dipelihara tanpa menggunakan probiotik (perlakuan A). HASIL PENELITIAN Pertumbuhan Udang Vaname ( L. vannamei) Selama Penelitian Gambar 1 memperlihatkan pola pertambahan bobot udang vaname (L. vannamei) setiap 10 hari selama masa pemeliharaan. Pada awal pemeliharaan sampai umur 30 hari tidak ada perbedaan antara perlakuan tanpa probiotik dan probiotik, namun demikian setelah umur 30 hari hingga 120 hari terlihat adanya perbedaan pertumbuhannya. Gambar 1. Pertumbuhan harian udang vaname (L. vannamei) selama penelitian Kelulushidupan Udang Vaname (L. vannamei) Selama Penelitian Gambar 2 memperlihatkan kelulushidupan udang vaname ( L. vannamei) setiap 10 hari selama masa pemeliharaan. Pada awal pemeliharaan sampai umur 70 hari tidak ada perbedaan antara perlakuan tanpa probiotik dan probiotik, namun demikian setelah umur 70 hari hingga 120 hari terlihat adanya perbedaan kelulushidupan. 25 Gambar 2. Kelulushidupan udang vaname (L. vannamei) selama penelitian Produksi Udang Vaname (L. vannamei) Selama Penelitian Gambar 3 memperlihatkan produksi udang vaname ( L. vannamei) selama penelitian, terlihat adanya perbedaan antara perlakuan tanpa probiotik (A) dan probiotik (B) Gambar 3. Produksi udang vaname (L. vannamei) selama penelitian Hasil pengukuran pertumbuhan, kelulushidupan, produksi dan rasio konversi pakan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. 26 Tabel 1. Pertumbuhan udang vaname, kelulushidupan, produksi dan rasio konversi pakan selama penelitian Peubah Perlakuan Luas tambak (m2) Bobot awal rata-rata (g) 0.018± ± Jumlah tebar (ekor) Lama pemeliharaan (hari) Bobot akhir rata-rata (g) 15.7± ±0.042 Kelulushidupan (%) 0.432± ± Produksi (kg/2000 m2) ± ±0.80 Produktivitas (kg/m2/mt) FCR 1.79± ±0.003 Keterangan : A (tanpa probiotik), B (menggunakan probiotik) A B Kualitas Air Media Pemeliharaan Udang Vaname (L. vannamei) pemeliharaan pada perlakuan tanpa probiotik dan probiotik Gambar 4 memperlihatkan bahwa nilai nitrat berfluktuasi selama. Gambar 4. Fluktuasi nilai total ammonium (mg/l) pada air media pemeliharaan udang vaname (L. vannamei) selama penelitian Hasil pengukuran variabel kualitas air yang terdiri dari salinitas, temperatur, oksigen terlarut, ph, kecerahan disajikan pada Tabel 2. 27 Tabel 2. Kisaran peubah kualitas air selama penelitian Peubah Perlakuan aplikasi probiotik A (0 mg/l) B (1.5 mg/l) Salinitas (ppt) Suhu ( o C) ph DO (ppm) Bahan Organik (ppm) Kecerahan air (cm) NH3 (ppm) Perkembangan Populasi Bakteri Umum pada air tambak pemeliharaan udang vaname (L. vannamei). Gambar 5. memperlihatkan perkembangan bakteri umum selama pemeliharaan pada perlakuan tanpa probiotik dan probiotik. Gambar 5. Total bakteri umum pada air tambak pemeliharaan udang vaname (L. vannamei) selama Penelitian PEMBAHASAN Pertumbuhan Udang Vaname ( L. vannamei) Pertumbuhan udang vaname selama 120 hari penelitian dari dua perlakuan tanpa aplikasi probiotik dan aplikasi probiotik dapat dilihat pada Gambar 1. Grafik pertumbuhan di bawah terlihat bahwa pertumbuhan udang vaname pada hari pertama sampai hari ke 30 memiliki pertumbuhan yang sama, baik perlakuan tanpa probiotik dan dengan orobiotik. Laju pertumbuhan berbeda pada hari ke 40 Hingga hari ke 120. Perlakuan dengan menggunakan probiotik lebih baik dibanding perlakuan tanpa probiotik. Setelah panen didapatkan terbukti perlakuan tanpa probiotik 28 mendapatkan bobot 15.7 g/ekor atau 64 ekor/kg, sedangkan perlakuan dengan menggunakan probiotik mendapatkan bobot g/kg atau 49 ekor/kg, dengan demikian terdapat perbedaan terhadap performa pertumbuhan udang vaname. Menurut Suwoyo dan Mangampa (2016), pertumbuhan udang dipengaruhi oleh keturunan, jenis kelamin, umur, kepadatan, parasit dan penyakit serta kemampuan memanfaatkan pakan. Pertambahan bobot dipengaruhi oleh konsumsi pakan, karena konsumsi pakan menentukan masukan zat nutrisi ke dalam tubuh untuk pertumbuhan dan keperluan lain. Selanjutnya dikatakan Suwoyo dan Mangampa bahwa pemberian pakan yang tepat baik kualitas maupun kuantitas dapat memberikan pertumbuhan optimum bagi udang. Pemberian pakan dalam jumlah yang berlebihan akan menyebabkan sisa pakan yang berlebihan yang berakibat pada penurunan kualitas air sehingga berpengaruh pada pertumbuhan dan kelulushidupan. Hal ini mengidikasikan bahwa aplikasi probiotik, meningkatkan pemanfaatan nutrisi dan perbaikan lingkungan. Pertumbuhan bobot udang rata-rata yang didapat pada penelitian ini lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh Suwandi et al (2013) pada penelitian budidaya udang vaname super intensif dengan perlakuan probiotik Aplikasi probiotik dalam budidaya udang vaname telah menghasilkan pertambahan bobot pada perlakuan B (probiotik) lebih tinggi dibanding tanpa perlakuan probiotik (A). Kelulushidupan Udang Vaname (L. vannamei) Aplikasi probiotik pada budidaya udang mapu mendukung kehidupan udang yang dipelihara. Tabel 1 memperlihatkan bahwa kelulushidupan udang dengan perlakuan aplikasi probiotik lebih tinggi dari perlakuan tanpa probiotik.pada perlakuan aplikasi probiotik angka kelulushidupan mencapai 0.79 ± sedangkan 29 tanpa probiotik mencapai ± Tingginya kelulushidupan karena probiotik mampu memperbaiki kondisi air media budidaya (Gambar 2) Rangka dan Gunarto (2012 ) mengemukakan bahwa kelulushidupan udang vaname cenderung meningkat pada perlakuan yang menggunakan probiotik dibanding dengan tanpa probiotik. Hal ini sejalan dengan uji coba dan pengamatan lapangan yang dilakukan Hasniar et al (2013) bahwa dengan mengunakan probiotik dalam budidaya udang dapat memberikan kelulushidupan udang vaname pada perlakuan aplikasi probiotik ( %) cenderung lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan tanpa probiotik yakni 67%. Pada Tabel 1, terlihat bahwa pemberian probiotik menghasilkan kelulushidupan lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa probiotik. Tingginya kelulushidupan udang vaname yang diberi probiotik mengindikasikan bahwa probiotik yang diberikan telah mampu bekerja secara sinergis pada lingkungan budidaya. Hal ini selain karena tersedianya pakan buatan, aplikasi probiotik diduga menyebakan kelulushidupan udang vaname menjadi tinggi. Menurut Ghosh et al (2016), bahwa penambahan bakteri probiotik ke wadah pemeliharaan udang galah ( Macrobrachium rosenbergii de Man) dapat berfungsi sebagai komplemen sumber pakan atau kontribusi pada sistem pencernaan makanannya dan juga menekan populasi bakteri pathogen. Produksi Udang Vaname ( L. vannamei) Berdasarkan Gambar 3, terlihat bahwa rata-rata produksi udang vaname tertinggi didapat pada perlakuan B ( ±0.80 kg) ; dibanding perlakuan A ( ±0.083 kg). Hal ini mengindikasikan bahwa penambahan probiotik ke dalam media pemeliharaan mampu meningkatkan produksi udang yang dibudidayakan. Rendahnya produksi udang vaname yang pada perlakuan A (tanpa probiotik) disebabkan karena kurangnya aktivitas bakteri merombak bahan organik terlarut 30 dalam media pemeliharaan yang berasal dari sisa pakan dan feses udang, sehingga terjadi penumpukan bahan organik yang meningkat seiring dengan waktu pemeliharaan. Hal ini menyebabkan udang mengalami stress dan mempengaruhi kelulushidupan yang berujung rendahnya produksi udang vaname yang dihasilkan. Menurut Tahe et al (2015), penggunaan probiotik mampu meminimalisir dampak limbah yang dihasilkan dari kegiatan budidaya udang akibat adanya aktivitas mikroorganisme yang terkandung dalam probiotik mampu mengurai bahan organik sisa pakan dan feses secara cepat sehingga tidak terjadi akumulasi yang berlebihan di dasar tambak. Lebih lanjut Suwandi et al (2013) mengemukakan bahwa tinggi rendahnya produksi udang yang dihasilkan tergantung pada kelulushidupan, laju pertumbuhan, makanan dan padat penebaran udang yang dipelihara. Selanjutnya Tahe et al (2015), menyatakan bahwa pengaruh aplikasi probiotik pada tambak udang terhadap produksi udang vaname adalah ada peningkatan yang nyata untuk produksi, rasio konversi pakan, dan kelulushidupan, dan ukuran udang. Rasio Konversi Pakan (FCR) Udang Vaname (L. vannamei) Rasio konversi pakan merupakan gambaran tingkat efektifitas pakan yang diberikan terhadap respon pertumbuhan udang yang didapat.hasil pengukuran konversi pakan udang vaname ( L. vannamei) dengan perlakuan aplikasi probiotik lebih baik dalam memanfaatkan pakan, hal ini terlihat dari konversi pakannya lebih kecil yaitu 1.42±0.003 dibanding perlakuan tanpa probiotik yaitu 1.79± Hal ini dapat dilihat dari nilai FCR tersebut yang menunjukkan bahwa udang vaname ( L. vannamei) pada perlakuan B (probiotik) lebih kecil dibanding FCR dari perlakuan A (tanpa probiotik). Rendahnya konversi pakan diduga karena peran bakteri probiotik yang ditambahkan ke tambak. Menurut Tahe et al (2015) dan Hapsari et al (2016) bakteri probiotik akan meningkatkan aktivitas enzim 31 pencernaan secara nyata dalam tubuh udang, dibanding dengan yang tanpa menggunakan probiotik dalam pemeliharaan udang. Selanjutnya dikatakan oleh Valsamma et al (2014) mendapatkan adanya peningkatan aktivitas enzim amylase dan tripsin dalam pencernaan udang yang mendapatkan perlakuan probiotik. Tahe et al (2016) melaporkan, bahwa penambahan bakteri probiotik dalam pakan dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan, rasio konversi pakan, hal ini terkait dengan enzim selulotik dan amilolitik yang diproduksi oleh bakteri tersebut. Selanjutnya Wing- Keong et al (2015) dan Cruz et al., (2012) mengatakan bahwa penggunaan probiotik dalam budidaya udang dapat meningkatkan kecernaan nutrisi, efisiensi pakan, toleransi terhadap stress. Kualitas Air Media Pemeliharaan Udang Vannamei (L. vannamei) Kualitas air berdampak terhadap kesehatan udang. Rendahnya kualitas air pada media pemeliharaan dapat mengakibatkan rendahnya tingkat pertumbuhan, kelulushidupan dan frekuensi ganti kulit serta peningkatan bakteri yang merugikan. Hasil pengukuran salinitas berkisar antara ppt (perlakuan A) dan (perlakuan B). Kisaran ini dikategorikan tidak layak untuk kehidupan udang. Menurut Herdianti et al (2015)., bahwa kualitas air yang layak untuk budidaya udang vaname adalah salinitas optimum ppt (toleransi 50 ppt), suhu o C, Oksigen terlarut 4 mg/l(toleransi minimum 0.8 mg/l). ph , Alkalinitas mg/l, Amonia 0.1 mg/l. fosfat mg/l, dan H2S 0.003 mg/l. Hasil pengukuran suhu pada perlakuan A : o C dan perlakuan B: o C. Kisaran tersebut masih berada dalam batas yang optimal bagi kehidupan udang vaname. Suhu optimal untuk budidaya udang vaname berkisar o C (Tahe et al., 2015).Sedangkan Kilawati dan Maimunah ( 2015) melaporkan bahwa suhu untuk budidaya udang vaname berkisar o C baik untuk pemeliharaan udang vannamei. Bila 32 suhu lebih dari angka optimum maka metabolisme dalam tubuh udang akan berlangsung cepat sehingga kebutuhan oksigen terlarut meningkat. Hasil pengukuran ph antara pada perlakuan tanpa probiotik (A) dan pada perlakuan dengan probiotik (B). Menurut Herdiati et al.(2015), kisaran ini dalam kategori normal untuk pertumbuhan udang vaname. Tahe et al (2015) mengemukakan bahwa kisaran ph air yang cocok untuk budidaya udang vaname secara intensif sebesar , dengan nilai optimum 8.0. Hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut dalam media budidaya udang vaname selama pemeliharaan pada perlakuan A : mg/l dan perlakuan B: mg/l. Kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air merupakan factor kritis bagi kesehatan udang. Tahe et al(2015) melaporkan bahwa DO minimum untuk kesehatan udang 3.0 mg/l dan DO 2.0 mg/l akan menyebabkan kematian. Hasil pengukuran terhadap kecerahan air pada perlakuan A (tanpa probiotik) berkisar antara cm dan dengan aplikasi probiotik kecerahan berkisar cm. Hal ini diduga keberadaan probiotik mampu mempertahankan kestabilan parameter kualitas air tambak. Rangka dan Gunarto (2012), mengemukakan bahwa sisa pakan, feses udang dan bahan organik lainnya didekomposisi oleh mikroorganisme menjadi nutrient anorganik seperti fosfat, ammonia dan karbohidrat, dan fosfat dalam air berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan fitoplankton, sehingga kecerahan pada tambak dengan aplikasi probiotik lebih rendah. Kandungan BO pada perlakuan tanpa probiotik berkisar antara ppm, sedangka BO pada perlakuan dengan aplikasi probiotik sekitar ppm. Penggunaan probiotik pada kedua perlakuan tersebut diduga kurang mampu mencegah peningkatan bahan organik dalam air tambak. Hal ini diduga karena salinitas air tambak yang tinggi hingga 37 ppt, sehingga 33 pakan yang diberikan kepada udang cenderung hanya digunakan untuk pemeliharaan tubuh, dan bahan organik dalam air menjadi tinggi. Menurut Susianingsih et al.(2016), menyarankan sebaiknya kandungan bahan organik tidak lebih dari 30 mg/l, karena kandungan bahan organik yang melebihi 30 mg/l selain dapat memicu perkembangan bakteri Vibrio spp. juga meningkatkan patogenisitas Vi
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks