PENGGUNAAN TUNGKU HEMAT ENERGI DALAM UPAYA PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL PADA PERAJIN GULA NIPAH DI DESA NUSADADI

Please download to get full document.

View again

of 8
68 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Tema: 6 (Rekayasa Sosial dan Pengembangan Perdesaan) PENGGUNAAN TUNGKU HEMAT ENERGI DALAM UPAYA PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL PADA PERAJIN GULA NIPAH DI DESA NUSADADI Oleh: Endang Sriningsih, Ulfah Nurdiani
Document Share
Document Transcript
Tema: 6 (Rekayasa Sosial dan Pengembangan Perdesaan) PENGGUNAAN TUNGKU HEMAT ENERGI DALAM UPAYA PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL PADA PERAJIN GULA NIPAH DI DESA NUSADADI Oleh: Endang Sriningsih, Ulfah Nurdiani Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Jl. Dr.Soeparno No.61 Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ABSTRAK Usaha gula nipah berkembang di Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas kirakira sejak tahun 2005 secara konvensional.padahal daerah ini memiliki potensi yang cukup besar dalam hal usaha gula nipah. Usaha penggergajian kayu dan penggilingan padi yang limbahnya belum dimanfaaatkan secara optimal yaitu untuk bahan bakar kegiatan pengolahan gula nipah sebagai pengganti kayu bakar.limbah ini merupakan bahan bakar utama untuk tungku hemat energi dan secara ekonomi lebih efisien.tujuan penelitian adalah (1) menganalisis pendapatan perajin gula nipah konvensional, (2) menganalisis pendapatan perajin gula nipah yang menggunakan teknologi tungku hemat energy, (3) membandingkan pendapatan perajian konvensional denganyang menggunakantungku hemat energy. Metode penelitian yang digunakan adalah action research. Hasil penelitian menunjukkan Pendapatan perajin gula nipah konvensional adalah sebesar Rp per bulan.pendapatan perajin gula nipah yang menggunakan teknologi tungku hemat energy sebesar Rp per bulan.pemakaian teknologi tungku hemat energy pada usaha gula nipah dapat meningkatkan pendapatan perajin sebesar Rp per bulan dibandingkan pendapatan perajin konvesional. Kata Kunci: Perajin, Gula Nipah, Tungku Hemat Energy, Pendapatan ABSTRACT The nipah sugar business has grown in Nusadadi Village, Sumpiuh Sub-district, Banyumas District, since 2005 conventionally. Whereas this area has considerable potential in the case of nipah sugar business, sawmills and rice mills whose waste has not been optimally utilized to fuel the processing of palm sugar as a substitute for firewood. This waste is the main fuel for energy efficient furnaces and is economically more efficient.the objectives of the study were (1) to analyze the income of conventional nipah sugar craftsmen, (2) to analyze the income of nipple craftsmen using energy-efficient furnace technology, (3) to compare the income of conventional cooking with those using energy-efficient stoves. The research method is used action research. The results showed that conventional nipah craftsman income is Rp 524,875 per month. The income of nipah craftsmen using energy-efficient furnace technology is Rp 1,350,180 per month. The use of energy-efficient furnace technology in the palm sugar business can increase the craft income of Rp 825,305 per month compared to the income of conventional craftsmen. Keywords: Crafter, Nipah Sugar, Energy Efficient Furnace, Revenue 1314 PENDAHULUAN Gula nipah mulai diusahakan di Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh sekitar tahun 2005 tepatnya pada saat harga gula kelapa meningkat sehingga perajin gula kelapa berusaha mencoba membuat gula nipah yang biaya produksinya relatif masih rendah karena tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk mengambil nira dari pohon. Hal itu karena ketinggian pohon nipah yang lebih rendah dari pohon kelapa. Oleh karena itu peluang usaha gula nipah masih sangat menjanjikan untuk dikembangkan mengingat : 1. Potensi Desa Nusadadi untuk meyediakan nira nipah sebagai bahan baku pembuatan gula masih cukup besar. Hal itu tercermin dari potensi daerah tersebut yang mempunyai lahan rawa terluas dikecamatan sumpiuh yaitu sebesar 180 ha. Yang ditumbuhi tanaman nipah dan merupakan sumber bahan baku dalam pembuatan gula nipah. 2. Usaha gula nipah mempunyai kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga perajin sebesar Rp.303,64/bulan atau sebesar 35,65% dan memberikan lapangan kerja bagi tenaga kerja pedesaan sebesar 1,25 orang/hari/perajin atau 37,5 orang /bulan (Sriningsih, 2009) 3. Desa Nusadadi memiliki banyak usaha penggergajian kayu dan usaha penggilingan padi yang cukup banyak yang limbahnya yaitu serbuk gergaji dan merang dapat digunakan untuk bahan bakar sebagai pengganti kayu bakar yang harganya sekitar /kubik dan habis dalam 3 hari proses produksi. Produksi gula nipah di Desa Nusadadi baru mencapai kira-kira 1-10 kg/perhari/perajin.hal ini disebabkan karena mereka masih berusaha secara tradisional dan sederhana, khususnya dalam pemakaian tungku untuk memasak nira.mereka masih menggunakan tungku yang terbuat dari tumpukan batu bata merah yang dilepa dengan tanah.bahan bakar menggunakan kayu bakar.tungku batu bata dinilai masih boros bahan bakar karena panas yang dihasilkan tungku ini masih menyebar keseluruh ruangan tungku sehingga kurang efektif. Tungku hemat engergi merupakan tungku yang dapat mengurangi biaya bahan bakar karena bahan bakar tungku ini menggunakan merang atau serbuk gergaji yang merupakan limbah kegiatan penggergajian kayu dan penggilingan padi sehingga harganya relative lebih murah yaitu kira-kira 3000/kandi. Panas yang dihasilkan oleh tungku hemat energy ini tidak menyebar keluar sehingga dapat menghemat waktu dan biaya bahan bakar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Suyono dan Tarjoko (2016) di Desa Kemawi Somagede yang menyebutkan bahwa dengan tungku hemat energy dapat menguragi rata-rata biaya produksi gula kelapa organic sebesar Rp /bulan. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menganalisi pendapatan perajin gula nipah konvensional; 2) Menganalisis pendapatan perajin gula nipah yang menggunakan teknologi tungku hemat energy; 3) Membandingkan pendapatan perajian yang menggunakan tungku hemat energy dan melakukan diversifikasi produk dengan perajin konvensional. 1315 METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode action research dan pendekatan partisipatif atas dasar masalah yang ada.peneliti mentransfer pengetahuan, memotivasi dan merealisasikan kegiatan dan mendampingi kegiatan.populasi dibagi dalam tiga kelompok yang pertama adalah kelompok perajin konvensional sebagai control, perajin yang menggunakan tungku hemat energy, dan perajin yang melakukan diversifikasi produk. Masing-masing kelompok akan diamati pendapatan dan efisiensi usaha kemudian dibandingkan. Analisis Pendapatan digunakan rumus Menurut Soekartawi (1995), biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam usahatani. Biaya usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap.biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang akan dihasilkan, sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh volume produksi. Secara matematis untuk menghitung pendapatan usahatani dapat ditulis sebagai berikut : π = Y. Py Σ Xi.Pxi - BTT Keterangan : π Y Py Xi Pxi BTT = Pendapatan (Rp) = Hasil produksi (Kg) = Harga hasil produksi (Rp) = Faktor produksi (i = 1,2,3,.,n) = Harga faktor produksi ke-i (Rp) = Biaya tetap total (Rp) Untuk mengetahui usahatani menguntungkan atau tidak secara ekonomi dapat dianalisis dengan menggunakan nisbah atau perbandingan antara penerimaan dengan biaya (Revenue Cost Ratio). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: Keterangan: R/C = PT / BT R/C = Nisbah penerimaan dan biaya PT = Penerimaan Total (Rp) BT = Biaya Total (Rp) Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: a. Jika R/C 1, maka usahatani mengalami keuntungan karena penerimaan lebih besar dari biaya. b. Jika R/C 1, maka usahatani mengalami kerugian karena penerimaan lebih kecil dari biaya. c. Jika R/C = 1, maka usahatani mengalami impas karena penerimaan sama dengan biaya. 1316 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Biaya dan Pendapatan Pada Usaha Gula Nipah Biaya usaha gula nipah adalah seluruh biaya atau korbanan yang dikeluarkan perajin untuk memproduksi dan memasarkan produk gula nipah. Biaya tersebut meliputi biaya nira sebgai bahan baku tetepi karena perajin tidak mengeluarkan biaya untuk beli nira maka biaya nira tidak diperhitungkan, kayu bakar, biaya tenaga kerja efektif dan biaya bahan pengawet serta biaya pemasaran produk pada perajin gula nipah konvensional. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. menunjukkan rata-rata biaya penggunaan faktor produksi dan pemasaran per bulan pada perajin gula nipah konvesional di dukuh Nusapule desa Nusadadi sebesar Rp /bulan. Biaya terbesar dikeluarkan untuk pembeliah kayu bakar yaitu sebesar Rp /bulan, sedangkan biaya terkecil untuk pembelian natrium bisulfit iatu sebesar Rp7.995/bulan karena perajin sudah memiliki edukasi bahan pengguanaan natrium bisulfit jika terlalu banyak. Selain itu ada perajin yang mengguanakan kulit manggis sebagai pengganti natrium bisulfit. Tabel 1. Biaya Rata-rata Penggunaan Faktor Produksi dan Pemasaran Per Bulan Pada Perajin Gula Nipah Konvensional No Faktor Produksi Jumlah Penggunaan Harga per Satuan ( Fisik ) (Rp) Total Biaya Rp/Bulan 1 Nira nipah 844 liter -- ( tdk diperhitungkan ) 2 Kayu bakar 4,32 Kubik Tenaga kerja Efektif 24,75 Jam atau 3, ( HKSP) HKSP 4 Bahan pengawet nira 4 Bungkus (Natrium Bisulfit) 5 Biaya pemasaran 2 kali Jumlah Sumber: Diolah dari data primer, 2017 Tabel 2. Biaya Rata-rata Penggunaan Faktor Produksi Dan Pemasaran Per Bulan Pada Perajin Gula Nipah Yang Menggunakan Tungku Hemat Energi di dukuh Nusapule desa Nusadadi No Faktor Produksi Jumlah Penggunaan Fisik Harga per Satuan Total Biaya (Rp) (Rp) 1 Nira Liter Kayu bakar 5,833 Kubik Tenaga kerja efektif 34,5 jam = 4,313 HKSP Bahan Pengawet Nira 6 Bungkus ( Na bisulfit ) 5 Biaya pemasaran 6 kali Total Biaya Rata-rata Per Bulan Sumber: Data Primer Diolah, 2017 Tabel 2. menunjukkan rata-rata biaya penggunaan faktor produksi dan pemasaran per bulan pada perajin gula nipah yang menggunakan tungku hemat energi di dukuh Nusapule desa Nusadadi sebesar Rp /bulan. Biaya terbesar dikeluarkan untuk pembelian kayu bakar yaitu sebesar 1317 Rp /bulan, sedangkan biaya terkecil untuk pembelian natrium bisulfit iatu sebesar Rp12.000/bulan. Tabel 3. Jumlah Nira, Kayu Bakar, Dan Waktu Yg Digunakan Dalam Proses Produksi, Serta Produksi Gula Nipah Per Bulan Pada perajin Gula Nipah Konvesional dan Produksi Jumlah Nira Waktu Waktu TK Efektif Produksi yang No Jumlah Kayu yang Dimasak Pemasakan yang digunakan Diperoleh Sampel Bakar (Rp) (liter) (Jam) (Jam) (Kg) ,5 214, , ,5 120 Jumlah ,5 733,2 Rata-rata ,75 122,2 Sumber: data primer diolah, 2017 Tabel 3menunjukkan bahwa rata-rata perajin gula nipah mengolah nira sebanyak 844 Liter per bulan, dengan lama waktu yang digunakan dalam pemasakan sebesar 128 jam per bulan dan jumlah pemakaian kayu bakar rata-rata sebesar Rp atau setara dengan 4,32 kubik per bulan. Pemakaian tenaga kerja efektif rata-rata sebesar 24,75 jam per bulan dan produksi gula nipah yang diperoleh rata-rata sebesar 122,2 Kg per bulan atau rata-rata per ikg produksi gula nipah dibutuhkan nira sebanyak 6,9 liter nira dengan waktu pemasakan sebanyak 1,047 jam dibutuhkan jumlah kayu bakar sebanyak Rp 3.183,3 atau 0,035 kubik kayu bakar dan dibutuhkan waktu kerja efektif sebesar 0,2 jam. Tabel 4. Jumlah Nira, Kayu Bakar,Jumlah Waktu Yang Digunakan Dalam Proses Produksi Serta Produksi Gula Nipah Per Bulan Pada Perajin Dengan Penggunaan Tungku Hemat Energi No Jumlah Nira Waktu Penggunaan Produksi Kayu Bakar Yg Dimasak Pemasakan TK Efektif Gula nipah (Rp) (Liter) (Jam) (Jam) (Kg) , Jumlah ,20 Rata-rata , ,5 234,6 Sumber: data primer diolah, 2017 Dari Tabel 4 dan 5 dapat diambil kesimpulan bahwa dengan pemakaian tungku hemat energy dapat mengurangi waktu pemasakan nira dari 1,047 jam turun menjadi 0,99 jam,sehingga ada pengurangan waktu pemasakan nira sebesar 0,057 jam, penggunaan kayu bakar berkurang dari 0,035 kubik menjadi 0,0248 kubik atau biaya kayu bakar turun dari RP 3.183,3 menjadi Rp.2.237,8, ada penurunan biaya kayu bakar sebesar Rp 845,5 penggunaan waktu TK efektif juga turun dari 0,2 jam menjadi 0,147 jam jadi ada pengurangan waktu TK efektif sebesar 0,053 jam utk 1318 menghasilkan 1 kg gula nipah. Hal ini disebabkan karena pada pemakaian tungku hemat energi api di dalam tungku tidak menyebar keluar tungku sehingga panas yang dihasilkan tinggi dan dapat mempercepat proses pemasakan hal ini sejalan dengan hasil penelitian Suyono dan Tarjoko (2016)yang menyatakan bahwa pemakaian teknologi tungku hemat energy dapat mengurangi ratarata biaya produksi gula kelapa Kristal organic sebesar Rp per bulan. Tabel 5. Produksi, Penerimaan, Biaya Produksi dan Pendapatan Usaha Gula Nipah Per Bulan Pada perajin Gula Nipah Konvensional No Produksi gula Harga Jual Gula Biaya Produksi Keuntungan / Penerimaan per bulan Nipah per kg per bulan pendapatan (Rp / bulan) (kg ) ( Rp ) ( Rp ) (Rp/bln) 1 214, Jumlah 733, Rata-rata 122, Sumber: Data primer diolah Tahun 2017 Dari Tabel 5. dapat diketahui bahwa rata-rata produksi perajin per bulan sebanyak 122,2 kg dengan harga jual bervariasi dari Rp8.000 sampai dengan Rp9.2000, Harga yang tinggi diatas Rp9.000 diperoleh pada perajin yang menjual produknya ke pasaran yg ada di kota Sumpiuh dengan tambahan biaya transport sebesar Rp per bulan utk 6 kali pemasaran. Untuk harga Rp8.000 Rp8.700 biasanya perajin menjual produknya di warung di Desa Nusadadi. Pekerjaan yg menghasilkan pendapatan yg rendah masih dibawah UMR ini masih tetap mereka tekuni dan lakukan karena tidak ada pilihan usaha lain, selain itu pekerjaan tersebut dapat memberikan pendapatan setiap hari utk memenuhi kebutuhan mereka. Tabel 6.Produksi, Penerimaan, Biaya dan Pendapatan Perajin Gula Nipah Per Bulan Yang Menggunakan Tungku Hemat Energi No Pendapatan Produksi Gula Harga jual Penerimaan Biaya Produksi Rp per Nipah Kg/Bulan Produk Rp/Kg Rp per Bulan Rp per Bulan Bulan 1 214, Jumlah 469, Ratarata 234, Sumber: data primer diolah, 2017 Dari tabel6 dapat diketahui bahwa produksi gula nipah yang dihasilkan perajin per bulan yang menggunakan tungku Hemat Energi rata-rata sebesar 234,6 Kg, atau lebih tinggi dari pada produk yang dihasilkan oleh perajin gula nipah konvensional yaitu sebesar 122,2 Kg per bulan.demikian juga pada pendapatan per bulan antara perajin gula nipah yang 1319 konfensional`dengan pendapatan perajin gula nipah yang menggunakan tungku hemat energy akan terlihat lebih menguntungkan usaha gula nipah yg menggunakan tungku hemat energi yaitu ada selisih pendapatan sebesar Rp , yang berasal dari pendapatan usaha gula nipah yg menggunakan tungku hemat energy sebesar Rp , sedang pendapatan usaha gula nipah perajin konvensional sebesar Rp Sehingga ada selisih sebesar Rp , bisa disimpulkan lebih menguntungkan usaha gula nipah yang menggunakan tungku hemat energi, hal ini disebabkan karena biaya produksi pada tungku hemat energi khususnya biaya kayu bakar dan biaya penggunaan tenaga kerja efektif lebih rendah, yaitu untuk biaya produksi gula per Kg dibebani biaya sebesar Rp3.310,4 per kg gula yg dihasilkan, sedangkan usaha gula nipah yang konvensional dibebani biaya produksi sebesar Rp4.578,5 per Kg gula nipah yg dihasilkan. KESIMPULAN 1. Pendapatan perajin gula nipah yang konvensional atau yang memakai tungku konvensional adalah sebesar Rp per bulan. 2. Pendapatan perajin gula nipah yang menggunakan teknologi tungku hemat energy sebesar Rp per bulan. 3. Pemakaian teknologi tungku hemat energi pada usaha gula nipah dapat meningkatkan pendapatan perajin sebesar Rp per bulan. Dibandingkan pendapatan perajin konvesional. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Gula Indonesia, Tahun 2016 Produksi Gula Menurun, Tahun 2017 Impor Menggila. https://swasembada.net/2016/03/18/tahun-2016-produksi-gula-menurun-tahun impor-menggila/. Diakses pada tanggal 1 Desember 2016 Bandini,1996. Nipah Pemanis Alami Baru. Penebar Swadaya. Jakarta. Nipah. 10 November 2016 Purwaningsih, A., dan Sriningsih E., Profil Usaha Gula Nipah di Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sumberdaya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan II. Universitas Jenderal Soedirman. Rachman, A.K. dan Sudarto,Y Nipah Sumber Pemanis Baru. Kanisius. Yogyakarta Sriningsih, E., Hastuti, P., dan Widarni S., Kajian Pemanfaatan Tanaman Nipah Sebagai Bahan Baku Alternatif Pembuatan Gula Merah dan Kontribusinya terhadap Rumah Tngga. Prosseding Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2010, dilaksanakan 12 Juni Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman. Trisnowati, H Motivasi Petani wanita Perajin Gula Nipah dalam Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga di Desa Nusadadi Kabupaten Banyumas. Skripsi. Universitas Jenderal Soedirman 1320 Trjoko dan Suyono, Evaluasi Peningkatan Pendapatan Perajin Gula Kelapa melalui Aplikasi Tungku Hemat Energi dan Pupuk Organik Cair. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sumberdaya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VI. Universitas Jenderal Soedirman. 1321
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks