PENGARUH ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN LABA DENGAN ACFTA SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

Please download to get full document.

View again

of 9
71 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
ISSN: PENGARUH ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN... (Rr. Prima Dita Hapsari) Vol. 9, No. 1, Maret 2015 Hal J UR NA L EKONOMI & BISNIS Tahun 2007 PENGARUH ANALISIS RASIO
Document Share
Document Transcript
ISSN: PENGARUH ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN... (Rr. Prima Dita Hapsari) Vol. 9, No. 1, Maret 2015 Hal J UR NA L EKONOMI & BISNIS Tahun 2007 PENGARUH ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN LABA DENGAN ACFTA SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI Rr. Prima Dita Hapsari ABSTRACT This study examined the effect of inancial ratio analysis to predict proit growth with ACFTA as a moderating variable. Independent variables used in this study consisted of 9 inancial ratios; dependent variable is growth in earnings and the ACFTA as a moderating variable. Analysis of the data was used in this study is multiple regression analysis. The study sample is a manufacturing company listed on the Indonesia Stock Exchange in the period 2008 to Implementation of the ASEAN-China free trade Free Trade Agreement (ACFTA) does not provide a signiicant inluence on the sustainability of Manufacturing Industry in Indonesia. In addition, this study proves that the ACFTA is not always moderate all inancial ratios proposed in previous studies signiicant effect on earnings growth. Keywords: financial ratio analysis, profit growth, ACFTA JEL Classiication: E44, F36 PENDAHULUAN Model globalisasi ekonomi dalam rantai libelarisasi sudah sangat menggeliat dalam peradaban ekonomi abad ke-20, membuat semua negara di seluruh dunia bersiap- siap dan mengambil regulasi ekonomi dalam menghadapi persaingan global tersebut. Perdagangan bebas adalah praktik ekonomi dimana negara dapat mengimpor dan mengekspor barang tanpa takut intervensi pemerintah. Perjanjian ACFTA adalah perjanjian perdagangan antara negara-negara di ASEAN dengan negara Cina yang mulai efektif berjalan pada bulan Januari 2010 yang lalu. Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan Cina. Seperti hasil penelitian yang dilakukan Chu dan Kalirajan (2010), menjelaskan bahwa dengan adanya ACFTA mampu berdampak positif dalam meningkatkan pangsa tenaga kerja terampil sehingga menjadi kunci bagi perusahaan untuk mencapai output potensial yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui laporan keuangan yang disajikan secara teratur setiap periode (Juliana dan Sulardi, 2003). Informasi akuntansi dalam laporan keuangan sangat penting bagi para pelaku bisnis seperti investor dalam pengambilan keputusan. Para investor akan menanamkan investasinya pada perusahaan yang dapat memberikan return yang tinggi. Informasi laba memiliki pengaruh yang sangat besar bagi para penggunanya dalam mengambil sebuah keputusan, sehingga perhatian investor sering terpusat pada informasi laba (Budileksmana dan Andriani, 2005). Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba (Wild, et al., 2005). Laba yang mengalami peningkatan merupakan kabar baik bagi investor, sedangkan laba yang mengalami penurunan merupakan 27 JEB, Vol. 9, No. 1, Maret 2015: kabar buruk bagi investor. Laba merupakan suatu pos dasar dan penting dari ikhtisar keuangan yang memiliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Pentingnya peran proitabilitas sangat jelas bagi perusahaan karena perubahan pro itabilitas mempengaruhi siklus hidup perusahaan (Warusawitharana, 2012). Analisis rasio merupakan suatu bentuk atau cara yang umum digunakan dalam melakukan analisis terhadap laporan inansial suatu perusahaan. Dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisis tentang baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan. Analisis rasio keuangan memungkinkan manajer keuangan meramalkan reaksi para calon investor dan kreditur serta dapat ditempuh untuk memperoleh tambahan dana. Rasio keuangan dikelompokkan menjadi rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, dan rasio proitablitas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dampak ACFTA terhadap rasio keuangan dalam memprediksi per tumbuhan laba pada perusahaan manufaktur dan menganalisis perbedaan tingkat pertumbuhan laba antara sebelum dan sesudah terjadinya ACFTA. MATERI DAN METODE PENELITIAN Working capital to total assets ratio (WCTA ratio) adalah likuiditas total aktiva dan posisi modal kerja. Modal kerja merupakan salah satu keputusan penting dari fungsi manajemen keuangan. Didukung hasil studi Takarini dan Ekawati (2003), Working Capital to Total Assets berpengaruh positif signiikan terhadap perubahan laba, maka dalam penelitian ini peneliti memproksikan rasio proitabilitas dengan WCTA. Penelitian Yue (2004), menyatakan bahwa dengan adanya Free Trade Area di kawasan Asia Timur mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi. Berdasar argument tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H1: ACFTA memoderasi rasio WCTA dalam memprediksi Salah satu bentuk kemampuan perusahaan bertahan terhadap persaingan dapat terlihat dari rasio solvabilitas. CLI termasuk salah satu rasio solvabilitas. Rasio solvabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Penelitian Ediningsih (2004) menunjukkan bahwa CLI berpengaruh negatif untuk memprediksi pertumbuhan laba satu tahun mendatang. Ini membuktikan bahwa perusahaan tidak mampu mendayagunakan utangnya untuk menambah ekspansi usaha guna memperoleh keuntungan. Takarini dan Ekawati (2003) menyatakan bahwa variabel CLI tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan manufaktur. Anggraeni (2010) menyatakan bahwa ACFTA meningkatkan beban utang perusahaan sehingga menghambat pengembangan usaha di Indonesia. Berdasar pemikiran-pemikiran tersebut, maka diturunkan hipotesis sebagai berikut. H2: ACFTA memoderasi rasio CLI dalam memprediksi Adanya ACFTA semakin membuka peluang pengusaha Indonesia untuk meningkatkan laba perusahaan. OITL merupakan rasio solvabilitas. Semakin besar OITL menunjukkan semakin besar laba yang diperoleh dari kegiatan penjualan terhadap total utang perusahaan. Pernyataan tersebut didukung Ediningsih (2004) yang menunjukkan bahwa OITL berpengaruh positif untuk memprediksi per tumbuhan laba satu tahun ke depan. Berdasar pemikiran-pemikiran tersebut, maka diturunkan hipotesis sebagai berikut. H3: ACFTA memoderasi rasio OITL dalam memprediksi Total Asset Turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan revenue. Semakin besar TAT menunjukkan semakin eisien penggunaan seluruh aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualan. Hasil penelitian Meriewati dan Setiani (2005) menunjukkan bahwa Total Assets Turnover (TAT) erpengaruh positif signiikan terhadap Penelitian Suwarno (2004), Takarini dan Ekawati (2003), Juliana dan Sulardi (2003) serta Meythi (2005) menunjukkan bahwa TAT tidak berpengaruh signiikan terhadap Berdasar hasil penelitian tersebut diajukan hipotesis keempat sebagai berikut: H4 : ACFTA memoderasi rasio TAT dalam memprediksi Revolusi industri membawa kebebasan bergerak dan meningkatkan kesempatan untuk semua tingkat ekonomi masyarakat. Perdagangan bebas membantu mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan persaingan industri. Net Proit 28 PENGARUH ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN... (Rr. Prima Dita Hapsari) Margin (NPM) merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak (yaitu laba sebelum pajak penghasilan dikurangi dengan pajak penghasilan) terhadap penjualan bersih. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan bersihnya terhadap total penjualan bersih yang dicapai perusahaan. Suwarno (2004) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa rasio proitabilitas yang berpengaruh signiikan terhadap pertumbuhan laba adalah NPM dan Gross Proit Margin (GPM). Takarini dan Ekawati (2003) menyatakan bahwa NPM berpengaruh signiikan positif terhadap perubahan Berdasar hasil penelitian tersebut diajukan hipotesis kelima sebagai berikut: H5: ACFTA memoderasi rasio NPM dalam memprediksi Era globalisasi perdagangan bebas ACFTA menuntut perusahaan untuk selalu mengembangkan strategi perusahaan supaya dapat mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki kinerjanya. GPM merupakan rasio antara laba kotor (yaitu penjualan bersih dikurangi dengan harga pokok penjualan) terhadap penjualan bersih. Hasil penelitian Juliana dan Sulardi (2003) menunjukkan bahwa GPM berpengaruh positif signiikan terhadap pertumbuhan laba satu tahun ke depan. Hasil penelitian Hapsari (2007) juga menyimpulkan bahwa GPM berpengaruh positif signiikan terhadap Berdasar hasil penelitian tersebut diajukan hipotesis keenam sebagai berikut: H6: ACFTA memoderasi rasio GPM dalam memprediksi ACFTA merupakan kesepakatan antara negara-negara anggota ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan barang baik tarif ataupun non-tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan aspek kerjasama ekonomi untuk mendorong hubungan perekonomian para pihak ACFTA dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan China (Setyorini, 2013). Perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China semula memang potensial membawa kemajuan bagi perekonomian Indonesia (Maroha, 2013). ROE merupakan ukuran proitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan laba yang bermanfaat bagi para pemegang saham. Ukuran keberhasilan pencapaian alasan ini adalah angka ROE yang berhasil dicapai. Hasil penelitian Kennedy (2003) menyatakan ROE memiliki korelasi positif terhadap harga saham. Begitu pula hasil penelitian yang dilakukan Sheela dan Karthikeyan (2012). ROE dan ROI adalah ukuran yang paling komprehensif proitabilitas perusahaan. Berdasar hasil penelitian tersebut diajukan hipotesis ketujuh sebagai berikut: H7: ACFTA memoderasi rasio ROE dalam memprediksi Permasalahan ekonomi kerap kali muncul mengenai berbagai pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam dan meningkat (Anggraeni, 2010). ACFTA memberikan peluang bagi peningkatan pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia dan dengan masuknya produk dari Cina hendaknya memberikan peluang bagi produsen domestik meningkatkan kapasitas produksi dengan tersedianya pilihan impor barang modal dengan harga yang relatif murah (Ibrahim et al., 2010). Earning Per Share (EPS) adalah salah satu dari dua alat ukur yang sering digunakan untuk mengevaluasi saham biasa di samping Price Earning Ratio (PER dalam lingkaran keuangan. Riset Sasongko dan Wulandari (2006) yang memeriksa pengaruh EVA dan rasio proitabilitas antara lain ROA, ROE, ROS, EPS, dan BEP terhadap harga saham. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa hanya EPS yang berpengaruh terhadap harga saham. Begitu pula dengan Wibowo (2005), yang meneliti pengaruh EVA, ROA, dan ROE perusahaan terhadap return pemegang saham. Berdasar hasil penelitian tersebut diajukan hipotesis kedelapan sebagai berikut: H8: ACFTA memoderasi rasio EPS dalam memprediksi Perkembangan perdagangan internasional mengarah pada bentuk perdagangan yang lebih bebas yang disertai dengan berbagai bentuk kerjasama bilateral, regional dan multilateral. Banyak studi yang berkesimpulan bahwa perdagangan bebas berimplikasi positif bagi negara-negara yang terlibat (Ibrahim et al., 2010). Free Trade Area (FTA) di Asia Timur memberi pengaruh positif pada pertumbuhan laba perusahaan. Operating Margin Ratio (OMR) menunjukkan berapa banyak keuntungan perusahaan setelah membayar biaya variabel produksi seperti upah dan bahan baku. Analisis OMR dapat digunakan untuk mengukur ke- 29 JEB, Vol. 9, No. 1, Maret 2015: mampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Penelitian mengenai kemampuan rasio keuangan laba yang dilakukan oleh Suprihatmi dan Wahyuddin (2003) menunjukkan bahwa rasio keuangan, salah satunya operating proit margin, berpengaruh signiikan dalam memprediksi pertumbuhan laba perusahaan. Berdasar hasil penelitian tersebut diajukan hipotesis kesembilan sebagai berikut: H9: ACFTA memoderasi rasio OMR dalam memprediksi Berdasar studi yang dirilis Institute of Southeast Asian Studies, secara strategis ACFTA merupakan aplikasi dari Konsep Keamanan Baru Cina dalam mendorong dunia yang multikutub, sebagai tandingan atas sikap unilateralisme Amerika Serikat. Presiden China Jiang Zemin mengumumkan konsep tersebut pertama kali pada Dengan demikian, ACFTA dapat dipahami sebagai bagian dari strategi Cina untuk menyebarkan pengaruhnya secara ekonomi maupun politik (Nugroho, 2010). Besar harapan berbagai pihak dengan di mulainya ACFTA menjadi salah satu langkah besar untuk meningkatkan perekonomian di wilayah ASEAN- Cina. Hasil penelitian Yuce dan Rakhmanyil (2010) menyatakan bahwa perdagangan bebas berpengaruh positif terhadap tingkat profitabilitas perusahaan. Berdasar hasil penelitian tersebut diajukan hipotesis kesepuluh sebagai berikut: H10: Terdapat perbedaan tingkat pertumbuhan laba antara sebelum dan sesudah terjadinya ACFTA. Populasi yang digunakan untuk penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2008 sampai dengan 2011 yang berjumlah 145 perusahaan. Pemilihan sampel ditentukan dengan metode purposive sampling. Dengan metoda tersebut, sampel dipilih berdasarkan kesesuaian karakteristik sampel dengan kriteria pemilihan sampel yang ditentukan peneliti. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Variabel Independen dalam penelitian ini adalah rasio keuangan, yang terdiri dari WCTA, CLI, OITL, TAT, NPM, GPM, ROE, EPS, dan OMR. Sedangkan ACFTA merupakan variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Teknik ini dipilih karena penelitian ini dirancang untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan dimoderasi oleh variabel pemoderasi. Model persamaan regresi untuk hipotesis 1 sampai dengan 9 adalah sebagai berikut: Y 1 = a 1 + b 11 X 1 + b 12 Z + b 13 X 1 Y 2 = a 2 + b 21 X 2 + b 22 Z + b 23 X 2 Y 3 = a 3 + b 31 X 3 + b 32 Z + b 33 X 3 Y 4 = a 4 + b 41 X 4 + b 42 Z + b 43 X 4 Y 5 = a 5 + b 51 X 5 + b 52 Z + b 53 X 5 Y 6 = a 6 + b 61 X 6 + b 62 Z + b 63 X 6 Y 7 = a 7 + b 71 X 7 + b 72 Z + b 73 X 7 Y 8 = a 8 + b 81 X 8 + b 82 Z + b 83 X 8 Y 9 = a 9 + b 91 X 9 + b 92 Z + b 93 X 9 Y 0 Y 1 merupakan persamaan regresi untuk hipotesis 10. Keterangan: Y : Pertumbuhan laba a : Koeisien konstanta b : Koefesien regresi dari masing-masing variabel X 1 : Working Capital to Asset (WCTA) X 2 : Current Liability to Inventory (CLI) X 3 : Operating Income to Total Liability (OITL) X 4 : Total Asset Turnover (TAT) X 5 : Net Proit Margin (NPM) X 6 : Gross Proit Margin (GPM) X 7 : Return to Equity (ROE) X 8 : Earning Per Share (EPS) X 9 : Operating Margin Ratio (OMR) Z : ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) e : Koeisien error HASIL PENELITIAN Berikut ini disajikan Tabel 1 yang menunjukkan ringkasan hasil pengujian hipotesis: 30 PENGARUH ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN... (Rr. Prima Dita Hapsari) Tabel 1 Hasil Pengujian Hipotesis H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 Hipotesis Prediksi t α Hasil ACFTA memoderasi rasio WCTA ACFTA memoderasi rasio CLI ACFTA memoderasi rasio OITL ACFTA memoderasi rasio TAT ACFTA memoderasi rasio NPM ACFTA memoderasi rasio GPM ACFTA memoderasi rasio ROE ACFTA memoderasi rasio EPS ACFTA memoderasi rasio OMR Terdapat perbedaan tingkat pertumbuhan laba antara sebelum dan sesudah terjadinya ACFTA. b 13 α 0, Diterima b 23 α 0, Diterima b 33 α 0, Diterima b 43 α 0, Diterima b 53 α 0, Diterima b 63 α 0, Diterima b 73 α 0, Diterima b 83 α 0, Ditolak b 93 α 0, Diterima t hitung t tabel α 0, Ditolak Sumber: Output SPSS, diolah. PEMBAHASAN Hipotesis pertama yang diajukan pada penelitian ini adalah ACFTA memoderasi rasio WCTA dalam memprediksi Berdasar hasil penelitian independen WCTA sebesar -12,485; variabel moderasi ACFTA sebesar -6,66 dan variabel WCTA_ACFTA sebesar 12,695. Ketiga variabel tersebut berada pada nilai signiikansi sebesar 0,00, dimana nilai ini signiikan pada tingkat signiikansi 0,05. Dengan demikian, hipotesis pertama yang menyatakan bahwa rasio ACFTA memoderasi rasio WCTA dalam memprediksi pertumbuhan laba dapat diterima. Hasil ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Takarini dan Ekawati (2003) yang me- 31 JEB, Vol. 9, No. 1, Maret 2015: nyatakan bahwa variabel WCTA berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan manufaktur. Selanjutnya hasil hipotesis ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Yue (2004), yang menyatakan bahwa dengan adanya Free Trade Area di kawasan Asia Timur mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi. Hipotesis kedua yang diajukan pada penelitian ini adalah ACFTA memoderasi rasio CLI dalam memprediksi Berdasar hasil penelitian independen CLI sebesar 0,392; variabel moderasi ACFTA sebesar -2,354 dan variabel X 2 Z sebesar -0,33. Ketiga variabel tersebut berada pada nilai signiikansi sebesar 0,00, dimana nilai ini signiikan pada tingkat signiikansi 0,05. Dengan demikian, hipotesis kedua rasio CLI laba dapat diterima. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Takarini dan Ekawati (2003) yang menyatakan bahwa variabel CLI tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan manufaktur, namun sesuai dengan hasil penelitian Anggraeni (2010) yang menyatakan bahwa dengan adanya ACFTA meningkatkan beban utang perusahaan sehingga menghambat pengembangan usaha di Indonesia. Hipotesis ketiga yang diajukan pada penelitian ini adalah ACFTA memoderasi rasio OITL dalam memprediksi Berdasar hasil penelitian ini diperoleh nilai koeisien regresi untuk variabel independen OITL sebesar 4,619; variabel moderasi ACFTA sebesar -0,308 dan variabel X 3 Z sebesar -4,792. Variabel X 3 dan X 3 Z berada pada nilai signiikansi sebesar 0,00, nilai ini signiikan pada tingkat signiikansi 0,05. Sedangkan untuk variabel Z tidak signiikan, karena berada di atas tingkat signiikansi yang sudah ditentukan. Dengan demikian, hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa rasio ACFTA memoderasi rasio OITL laba dapat diterima. Temuan ini mendukung hasil penelitian Takarini dan Ekawati (2003) dan Suwarno (2004) yang menyatakan bahwa variabel OITL tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan manufaktur. Hipotesis keempat yang diajukan pada penelitian ini adalah ACFTA memoderasi rasio TAT dalam memprediksi Berdasar hasil penelitian independen TAT sebesar -1,613; variabel moderasi ACFTA sebesar -5,352 dan variabel X 4 Z sebesar 1,799. Variabel ACFTA dan TAT berada pada nilai signiikansi sebesar 0,00, sedangkan untuk variabel X 4 Z bernilai signiikansi 0,01, nilai ini signiikan pada tingkat signiikansi 0,05. Dengan demikian, hipotesis keempat rasio TAT laba dapat diterima. Hasil temuan ini mendukung hasil penelitian Asyik dan Sulistyo (2000) yang menyatakan bahwa TAT berpengaruh signiikan terhadap pertumbuhan Namun penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Suwarno (2004), Takarini dan Ekawati (2003), Juliana dan Sulardi (2003), serta Meythi (2005) yang menunjukkan hasil sebaliknya. Hipotesis kelima yang diajukan pada penelitian ini adalah ACFTA memoderasi rasio NPM dalam memprediksi Berdasar hasil penelitian independen NPM sebesar 0,392; variabel moderasi ACFTA sebesar -2,354 dan variabel X 5 Z sebesar -0,33. Variabel ACFTA dan NPM berada pada nilai signiikansi sebesar 0,00, sedangkan untuk variabel X 5 Z bernilai signiikansi 0,025 dan signiikan pada tingkat signiikansi 0,05. Dengan demikian, hipotesis kelima rasio NPM laba dapat diterima. Hasil ini sama dengan hasil penelitian Asyik dan Sulistyo (2000) dan Suwarno (2004), serta Takarini dan Ekawati (2003) yang menyatakan bahwa variabel NPM berpengaruh terhadap Hipotesis keenam yang diajukan pada penelitian ini adalah ACFTA memoderasi rasio GPM Berdasar hasil penelitian ini diperoleh nilai koeisien regresi untuk variabel independen GPM sebesar -14,255; variabel moderasi ACFTA sebesar -6,688 dan variabel X 6 Z sebesar 12,997. Ketiga variabel berad
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks