PENDAMPINGAN PEKERJA SOSIAL TERHADAP ANAK KORBAN INCEST DI LEMBAGA KONSULTASI KESEJAHTERAAN KELUARGA (LK3) KOTA TASIKMALAYA

Please download to get full document.

View again

of 12
6 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
PENDAMPINGAN PEKERJA SOSIAL TERHADAP ANAK KORBAN INCEST DI LEMBAGA KONSULTASI KESEJAHTERAAN KELUARGA (LK3) KOTA TASIKMALAYA Ajeng Diah Rahmadina Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Interdisciplinary Islamic
Document Share
Document Transcript
PENDAMPINGAN PEKERJA SOSIAL TERHADAP ANAK KORBAN INCEST DI LEMBAGA KONSULTASI KESEJAHTERAAN KELUARGA (LK3) KOTA TASIKMALAYA Ajeng Diah Rahmadina Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Pekerjaan Sosial di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2015 Abstrak Arus globalisasi, yang ditandai dengan kemajuan ilmu dan teknologi serta perubahan sosial yang pesat di masyarakat telah mengakibatkan semakin bergesernya nilai-nilai ikatan keluarga yang berdampak terhadap masalah psikososial dan keutuhan keluarga. Berbagai permasalahan muncul dalam sebuah keluarga yang tak jarang membuat anak menjadi korban sehingga merusak masa depannya. Salah satu masalah terberat yang dewasa ini semakin sering ditemui di lingkungan masyarakat adalah masalah incest atau hubungan sedarah. Orangtua yang memiliki peran dan fungsi melindungi dan memastikan tumbuh kembang anak dengan baik, malah menjadi predator bagi anak kandungnya sendiri. Dalam penelitian ini ingin mengetahui bagaimana proses pendampingan yang dilakukan oleh pekerja sosial di Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) dalam upaya pemberian layanan terhadap anak korban incest. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian Studi Kasus. Teknik yang digunakan melalui pengumpulan data primer seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa, pendampingan pekerja sosial LK3 di Kota Tasikmalaya melakukan tahapan pelayanan pekerjaan sosial yaitu Pendekatan Awal (Engagement, intake dan kontrak), Penggalian Masalah(Assesment), penyusunan rencana pemecahan masalah (Planning), pemecahan masalah (intervention), monitoring dan evaluasi, terminasi, dan bimbingan lanjut. PENDAHULUAN Keluarga yang pada umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak merupakan struktur lembaga terkecil yang memiliki tugas dan fungsi yang berkaitan satu sama lain. Tugas dan fungsi itu seharusnya berjalan dengan baik secara bersamaan, agar tercipta suatu keadaan yang harmonis. Namun, bila salah satu saja fungsi dari anggota keluarga tidak berjalan, maka yang terjadi adalah masalah. Oleh karenanya, bila terjadi masalah dalam keluarga tentunya akan mempengaruhi keadaan sosial dari anggota keluarganya. Anak yang merupakan unsur terlemah dalam sebuah keluarga menjadi satu objek yang perlu dipastikan terpenuhi hak dasarnya. Menurut Konvensi Hak Anak disebutkan, bahwa hakhak anak yang mutlak harus dipenuhi dikelompokan menjadi 4 kategori, antara lain: 1) Hak Kelangsungan Hidup meliputi hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup dan hak memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik-baiknya. 2) Hak Perlindungan, perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan keterlantaran. 3) Hak Tumbuh Kembang, hak memperoleh pendidikan dan hak mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. 4) Hak Berpartisipasi, hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak. 1 Dewasa ini, banyak kasus anak yang menjadikan rumah seolah kini bukan lagi tempat yang aman untuk berlindung bagi anak. Incest atau hubungan sedarah, kini banyak terjadi di Indonesia. Menurut data tahunan Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dari kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan sepanjang 2017 sebanyak kasus incest. 1 Konvensi Hak-Hak Anak yang diatur dalam pasal Volume 04 Nomor 02 Mei Pelaku incest terbanyak adalah ayah kandung, yaitu 425 kasus, kemudian dilakukan oleh paman yaitu 322 kasus, sisanya dilakukan oleh ayah tiri, kakak kandung, kakek kandung serta sepupu. 2 Semakin maraknya kasus yang menjadikan anak sebagi korban, membuat pemerintah semakin gencar melakukan upaya preventif hingga rehabilitatif dengan dasar UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dalam undangundang tersebut menegaskan adanya kewajiban bagi negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orangtua, untuk melakukan upaya perlindungan terhadap anak. Kewajiban memberikan perlindungan anak walaupun sudah disadari merupakan kewajiban bersama, namun perlu diberikan landasan hukum secara khusus disamping yang sudah dicantumkan dalam pasal-pasal UUD 1945 atau dalam berbagai Peraturan Perundang-Undangan yang lain, agar dapat menjamin pelaksanaannya secara komprehensif dan tepat penanganan serta sasaran-nya, yang harus dilakukan oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua anak. Perlu adanya keseimbangan antara perlindungan hak anak dan pemberian kewajiban bagi anak dalam kapasitas mendidik anak. Oleh karena itu, disamping dilindungi hak-haknya, agar tidak menjadi salah asuh, salah arah, maka perlu ditujukkan juga kewajiban yang perlu dilaksanakan oleh anak. Sebagai implementasi dari upaya perlindungan anak di Indonesia, sejak tahun 2010 Kementerian Sosial RI mendirikan lembaga yang bertujuan untuk mengatasi masalah psikososial keluarga, memulihkan kondisi psikososial keluarga, dan memperkuat ketahanan keluarga. Lembaga tersebut di kenal dengan nama Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) yang kemudian tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di Kota Tasikmalaya LK3 dibentuk pada tahun 2010, menjadi lembaga terdepan yang merespon kasus Incest yang beritanya mencuat pada bulan Juli 2017 lalu. Dalam proses pendampingan terhadap anak korban incest yang paling memiliki peran paling besar adalah pekerja sosial. Pekerja sosial yang termasuk pada tim tenaga profesional yang masuk dalam struktur pengurus LK3. Sebagai seorang profesional,pekerja sosial LK3 melakukan upaya-upaya pendampingan khususnya terhadap anak sebagai korban incest dan juga kepada keluarga. Dengan pendahuluan tersebut, maka dalam hal ini penulis berupaya ingin mendeskripsikan tentang tahap pendampingan yang dilakukan oleh pekerja sosial di LK3 terhadap anak korban incest, yang merupakan korban persetubuhan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri hingga harus berurusan dengan hukum. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tujuan dari pendekatan kualitatif adalah memperoleh fakta dan data di lapangan yang dikaji melalui pendekatan dan pemikiran teoritis serta digunakan dalam pembentukan konsep baru. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan melalui pengumpulan data primer seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pihak yang menjadi informan dalam data primer adalah pengurus yang ada dalam struktur LK3 Kota Tasikmalaya terutama pekerja sosial yang memiliki tugas terdepan dalam pendampingan kasus di lapangan. Informasi penelitian ini juga diperoleh dari anak korban dan keluarga sebagai penerima manfaat layanan, serta tokoh masyarakat setempat yang menjadi lokasi terjadinya kasus incest tersebut, melalui cara kunjungan beberapa kali menemani pekerja sosial LK3 saat home visit. Data yang dapat mendukung penelitian didokumentasikan melalui foto dan video. Data sekunder yang telah diperoleh diperkuat melalui studi kepustakaan dengan tujuan mencari 2 Dina Astria, Kasus Incest Terjadi di Indonesia Sepanjang 2017, di diakses tanggal 14 Maret literatur yang terkait dengan topik penelitian. Referensi yang dipergunakan antara lain adalah bersumber dari buku, situs resmi pemerintah maupun jurnal ilmiah. Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kota Tasikmalaya Dalam Peraturan Menteri Sosial RI nomor 16 tahun 2013 tentang Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga disebutkan bahwa LK3 sebagai unit pelayanan sosial terpadu yang melaksanakan penanganan masalah psikososial keluarga untuk mewujudkan ketahanan keluarga. LK3 merupakan lembaga atau organisasi yang memberikan pelayanan konseling, konsultasi, pemberian / penyebarluasan informasi, penjangkauan, perlindungan, pendampingan dan pemberdayaan keluarga secara profesional, termasuk merujuk sasaran ke lembaga pelayanan lain yang mampu memecahkan masalahnya. Kota Tasikmalaya sebagai kota yang terkenal religius dan terkenal dengan sebutan kota santri karena terdapat banyak pesantren, ternyata belum juga dapat menjamin kotanya aman dari segala bentuk kejahatan dan kriminalitas khususnya yang menjadikan anak-anak sebagai korbannya. Masih terbilang tinggi jumlah kasus yang terjadi pada anak-anak di kota Tasikmalaya, dari data yang didapat dari Dinas Sosial Kota Tasikmalaya bahwa ada 38 anak yang menjadi dampingan yang menimpa anak sepanjang tahun 2017 lalu, dan 5 anak diantaranya adalah korban kasus incest. 3 Adapun struktur organisasi LK3 Kota Tasikmalaya tahun 2017 adalah sebagai berikut: Penanggungjawab Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kota Tasikmalaya Ketua Sekretaris Bendahara Tenaga Profesional/ Tim Konselor Pekerja Sosial Psikolog Dokter Hukum Polisi Dalam kepengurusan LK3 Kota Tasikmalaya, saat ini diketuai oleh Hendrik Elansyah, SE dibantu oleh Sekretaris Ade Ramdani dan bendahara Elis Mulyani. LK3 juga terdiri dari tenaga profesional/ Tim Konselor diantaranya Lilis Supriani MZ (Pekerja Sosial), Endra Nawawi, S.Psi., M.Psi (Psikolog), dr.h.m. Ali Firdaus, Sp.A. (Dokter), Tulus Lestari SH (Hukum) dan Kanit PPA Polres Kota Tasikmalaya sebagai mitra dari kepolisian. Kronologis Kasus Seorang anak berinisial M, yang masih berusia 15 tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 SMP adalah warga Kota Tasikmalaya yang menjadi korban incest atau hubungan sedarah antara anak dan ayah kandung. Kondisi anak pada saat kasusnya mencuat awal bulan Juli 2017 lalu tengah dalam kondisi hamil 7 bulan. Ironisnya, anak maupun keluarga tidak mengetahui bahwa kondisi anak hamil selama 7 bulan tersebut, sehingga pada saat warga setempat yang menyadari perubahan bentuk tubuh anak menyarankan untuk memeriksakan ke Rumah Sakit, maka pada saat itulah anak dan keluarga baru menyadari bahwa dirinya hamil, dan warga langsung menginterogasi anak. Tidak butuh waktu lama pelaku akhirnya terungkap 3 Data respon kasus Satuan Bhakti Pekerja Sosial Kemensos RI Dinas Sosial Kota Tasikmalaya pada tahun Volume 04 Nomor 02 Mei dari pengakuan anak yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Sesaat emosi warga memuncak dan melakukan upaya main hakim sendiri tetapi berhasil diamankan oleh Polsek Kawalu Kota Tasikmalaya. Tahapan Pendampingan Pekerja Sosial LK3 terhadap Anak Korban Incest Pekerja Sosial sebagai salah satu profesi yang masuk pada tim konselor yang memiliki andil yang cukup besar karena menjadi garda terdepan dalam upaya pendampingan terhadap anak yang menjadi korban incest yang menjadi dampingan LK3. Dalam melakukan pendampingan atau proses pertolongan yang dilakukan oleh seorang pekerja sosial menurut Max Siporin dalam Dwi Heru harus melalui tahapan Engagement, intake dan kontrak, Assesment, Planning, Intervention, Monitoring dan evaluasi, dan Terminasi Engagement, intake, dan kontrak Engagement adalah proses pelamaran seseorang yang bermasalah untuk mendapatkan pertolongan. Pada tahap ini terjadi penyesuaian kebutuhan-kebutuhan dan sumber-sumber (calon klien) dan calon pemberi bantuan. Engagement merupakan suatu periode dimana pekerja sosial mulai berorientasi terhadap dirinya sendiri, khususnya mengenai tugas tugas yang ditanganinya. Awal keterlibatanya pada suatu situasi yang menyebabkan pekerja sosial mempunyai tanggung jawab untuk menjalin hubungan dengan klien. Menurut Dorang Luhpuri, dalam Dewani, ada 3 cara yang dapat dilakukakan peksos untuk melalui engagement yaitu: Klien datang secara sukarela untuk meminta bantuan (Voluntary Application), Klien tidak mau datang secara suka rela (Involuntary Application), dan Pekerja sosial berusaha untuk mencari klien (Reaching out effort by worker). Dalam proses awal peksos LK3 melakukan engagement atau pendekatan awal terhadap anak korban Incest sesaat setelah mengetahui adanya kasus dan laporan dari pihak kepolisian. Pekerja sosial LK3 melakukan cara Reaching out effort by worker. Dalam hal ini pekerja sosial merasa mempunyai tanggung jawab untuk membantu orang-orang yang bermasalah. Oleh karena itu pekerja sosial melakukan tracing lapangan untuk melibatkan dirinya dengan orang yang tidak aktif mencari bantuan dan tidak direferal agar dapat memperoleh bantuan.karena anak berada pada posisi yang tertekan oleh kondisi yang ada, dan situasi krisis yang membuat anak tidak dapat meminta bantuan pada pihak manapun termasuk pada peksos. Seperti yang diungkapkan oleh peksos Lilis berikut ini: Yang dilakukan pertama kali, saat mengetahui dari media bahwa ada kasus incest, saya langsung ngontak pihak polsek Kawalu dan memastikan benar tidaknya kalo ada kasus anak yang hamil sama bapaknya. Setelah tau kalo berita itu benar, saya langsung menuju ke rumah si anak. 5 Pendekatan awal yang dilakukan oleh pekerja sosial dimulai dengan pendekatan lingkungan. Peksos melakukan pendekatan terhadap aparat dan tokoh masyarakat setempat sekaligus memperkenalkan diri dan memohon izin untuk melakukan tugas pendampingan terhadap anak. Setelah sampai di lokasi, saya tidak langsung ke rumahnya, saya izin dulu ke RT setempat yang kebetulan ternyata rumahnya sangat dekat dengan rumah si anak. Karena kan ga semua orang kenal peksos, nanti bertanya-tanya, siapa sih kita gitu. Disana saya dapat informasi awal terkait kronologi yang menimpa anak versi masyarakat, karna itu juga sangat penting. 6 4 Dwi Heru Sukoco, Profesi Pekerjaan Sosial dan Proses Pertolongannya, (Bandung: Koperasi Mahasiswa STKS Bandung, 1991) 5 Wawancara dengan Peksos Lilis pada tanggal 5 Juli Wawancara dengan Peksos Lilis pada tanggal 5 Juli Dari penjelasan tentang pendekatan awal peksos dalam wawancara tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan awal yang dilakukan adalah dengan memperkenalkan diri sebagai peksos dan maksud dan tujuan pendampingan yang harus jelas diutarakan pada klien dan pada pihak yang berkaitan dengan klien. Intake merupakan tahap permulaan pekerja sosial bertemu dengan penyandang masalah atau dalam hal ini anak korban Incest. Proses intake merupakan tahap permulaan dari suatu proses pelayanan, dimana terjadi suatu persetujuan klien dengan pemberi pelayanan atau pekerja sosial. Jika tidak ada kesesuaian kebutuhan klien, maka klien dialihkan kepada sumber lain. Pada proses intake ini, klien menyetujui untuk terbuka dan mau didampingi oleh peksos meskipun dengan beberapa syarat. abi hoyong dibaturan ku ibu (peksos Lilis). Abi ge ngke hoyong sakola deui, asal pang meserkeun sapatu sareng tas anyar kanggo sakola.(saya mau didampingi ibu Lilis. Saya juga nanti mau kembali sekolah, asalkan saya dibelikan sepatu baru dan tas baru untuk saya sekolah lagi. 7 Pernyataan anak tersebut dapat dianggap sebagai sebuah persetujuan anak untuk didampingi peksos selama masa proses hukum berjalan dan pendampingan selama hamil hingga persalinan tiba. 2. Assesment Assessment merupakan suatu kegiatan pengungkapan dan pemahaman masalah yang terus menerus dilakukan dan sekaligus bersamaan waktunya dengan proses pertolongan itu sendiri. Peksos LK3 melakukan assesment atau istilah dalam LK3 adalah pengungkapan dan pemahaman masalah. Dalam tahap ini, peksos menggali informasi dari setiap elemen terpenting baik dari diri anak sebagai korban, keluarga maupun masyarakat di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Pertama, peksos melakukan kunjungan ke rumah anak, dan mencari tempat yang dianggap anak paling nyaman untuk melakukan proses interview. Namun dalam pengungkapan masalah ini, peksos tidak hanya cukup menggali masalah hanya dari sisi anak. Keluarga sebagai orang terdekat dengan anak pun digali masalahnya, karena masalah yang menimpa anak seringkali muncul disebabkan tidak berfungsinya peran salah satu anggota keluarga, terutama orangtua. LK3 menjangkau semuanya dan tidak hanya anak. Ibunya, ayahnya, kakaknya, nenek, bahkan tetangga terdekat pun kami assesment. Pokoknya orang-orang yang satu rumah dengan anak digali informasinya 8 Hasil assesment peksos terhadap anak diketahui awal terjadinya anak mengaku bahwa ayahnya yang memintanya untuk melayani nafsu birahinya. Seperti pada pengakuan anak berikut ini: Abi teh uih sakola, terus bapak teh langsung nyium ka abi. Terus abi teh disurungkeun kana kasur. Diporosotkeun lancingan abi teh. (Sepulang saya sekolah, bapak langsung mencium saya. Dan saya didorong ke tempat tidur. Celana saya dibuka (oleh ayahnya) 9 Keterangan dari anak tersebut, belum dapat menjawab apa yang menjadi penyebab hubungan sedarah antara ayah kandung dan anak kandung ini terjadi. Maka pada saat pendampingan anak dalam persidangan ayahnya di Pengadilan Negeri kelas 1A Kota 7 Wawancara dengan M pada saat BAP di Polres Kota Tasikmalaya tanggal 3 Juli Wawancara dengan Peksos Lilis pada tanggal 5 Juli Wawancara dengan M pada saat pendampingan BAP di Polres Kota Tasikmalaya tanggal 10 Juli 2017 Volume 04 Nomor 02 Mei Tasikmalaya diketahui bahwa ayahnya terpicu untuk menggauli anaknya karena ada pancingan dari anaknya tersebut: Ya saya kepancing lah bu Hakim. Orang anak saya lihatin ke saya video yang begituan, terus megang - megang burung saya 10 Pernyataan ayah kandung yang merupakan asli dari suku Betawi di hadapan majelis hakim tersebut membuat Peksos kembali meneliti dan menggali informasi kebenaran hal tersebut dengan melakukan teknik assesment konfrontasi terhadap anak: Dari hasil assesment lanjutan, anak tersebut saya konfrontasi, dan akhirnya mengaku bahwa dia mendapat pinjaman HP dari teman sekolahnya, perempuan. Dan di dalam HP tersebut ada video porno. Anak mengaku bahwa dirinya jadi penasaran dan terangsang dikala melihat video porno itu. Anak juga mengaku bahwa sebelum dengan ayahnya, anak juga pernah digauli oleh sepupunya pada saat anak masih usia 13 tahun. Berarti sudah 2 tahun yang lalu sebelum dengan ayahnya. 11 Lingkungan pertemanan yang kurang sehat dan kurang berjalannya fungsi keluarga menjadi penyebab anak menjadi tidak terkontrol perkembangannya. Ayahnya yang hanya seorang pengangguran yang sehari-hari di rumah seharusnya menjaga anak-anaknya malah menjadi predator bagi anaknya sendiri: Bapak mah nya kitu we, sadidinten calik di bumi. Paling ge nguseup sakali-sakali. Teu damel. Mamah we nu damel mah, jadi pembantu. Indit isuk-isuk keneh uihna magrib.( Bapak ya begitu saja, sehari-hari di rumah. Sesekali mancing. Tidak kerja. Mamah yang bekerja, jadi asisten rumah tangga. Pergi pagi-pagi sekali pulangnya magrib. Ketidakberfungsian peran seorang ayah yang idealnya sebagai pencari nafkah, membuat ibunya menjadi tulang punggung keluarga yang harus bekerja dari subuh hingga menjelang magrib sebagai seorang asisten rumah tangga. Caroge kan teu damel. Abi janten kedah damel kanggo biaya sadidinten. Boro-boro abi teh merhatoskeun murangkalih, paling kur nyayogikeun sangu sareng rencangna sa aya-aya we. ( Suami saya tidak bekerja. Saya jadi harus bekerja untuk biaya sehari-hari. Saya tidak sempat memperhatikan kondisi anak-anak, hanya cukup menyiapkan nasi dan lauk seadanya saja). 12 Peran seorang ibu yang seharusnya lebih mengutamakan mengurus anak-anak di rumah menjadi terhambat karena kondisi perekonomian keluarga tersebut sangat kurang baik sehingga ibunya harus bekerja dan tidak mengetahui hal-hal yang menimpa anak dengan suaminya. Setelah semua data assesment terkumpul, pekerja sosial kemudian mempersiapkan untuk rencana intervensi yag akan dilakukan untuk penanganan anak tersebut. 3. Planning Menurut Max Siporin, planning (perencanaan) merupakan pemilihan strategi, teknik, dan metode yang didasarkan pada proses assessment masalah. Planning yaitu tahap untuk menyusun dan mengembangkan pelayanan yang menyeluruh untuk klien sesuai dengan hasil assesmen. Hasil-hasil identifikasi masalah yang didapatkan dari tahap assesmen (sesuai keinginan klien, masalah kebutuhannya, serta sumber daya yang tersedia) kemudian disusun menjadi suatu formulasi masalah dan selanjutnya dapat ditetapkan prioritas masalah yang digunakan untuk menyusun perencanaan. 10 Pernyataan Bapak B (ayah kandung M) pada sidang tertutup pada tanggal 9 Oktober Wawancara dengan Peksos Lilis pada tanggal 11 Oktober Wawancara dengan Ibu kandung M pada saat peneliti mendampingi peksos LK3 melakukan proses asses
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks