PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DALAM UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU

Please download to get full document.

View again

of 13
84 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DALAM UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU Oleh Rafika Rahmawati, Mumpuniarti, Nur Azizah, Sukinah. Pendidikan Luar Biasa FIP UNY Abstrak: Tujuan
Document Share
Document Transcript
PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DALAM UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU Oleh Rafika Rahmawati, Mumpuniarti, Nur Azizah, Sukinah. Pendidikan Luar Biasa FIP UNY Abstrak: Tujuan pendampingan membantu guru sekolah khusus di wilayah Sleman Barat peningkatan keterampilan mengoperasionalkan kebijakan dari ketentuan dalam kurikulum 2013; membantu peningkatan keterampilan dalam penjabaran Rancangan Program Pembelajaran(RPP) yang sesuai kondisi peserta didik dengan pendekatan saintafik; serta mendorong kinerja guru SLB di wilayah Sleman Barat dengan indikator mereka telah mewujudkan RPP sebagai wujud kinerja profesional dalam merencanakan pembelajaran. Metode pendampingan dengan orientasi rancangan pembelajaran dengan paradigma kurikulum 2013dan berorientasi sesuai kondisi peserta didik berkebutuhan khusus, penugasan untuk menyusun, serta presentasi hasil tugas dan pemberian umpan balik. Hasil dari pendampingan bahwa sebagian dari peserta sudah mampu mengikuti dan melakukan menyusun RPP yang sesuai dengan paradigma kurikulum 2013, namun ada sebagian yang belum sesuai dengan paradigma kurikulum 2013.Kendala bagi yang belum sesuai adalah pada menghubungkan tema dengan indicator dan kegiatan belajar peserta didik. Kata kunci:implementasi kurikulum dalam peningkatan kinerja guru Abstract: The purposes of mentoring to help special school teachers in Sleman western district increasing skills operationalize the policy in the curriculum, 2013; help to improve skills in the elaboration of the educational program plan and adapted to learners with scientific approach; and to encourage the performance of special-education teacher in Sleman western district with indicator they have to realize the RPP as a form of professional performance in planning learning. Method of mentoring to use orientation design paradigm of learning with the curriculum in 2013 and oriented according to the conditions of learners with special needs, the assignment to prepare, as well as the presentation of the results of the task and providing feedback. The results of the assistance that some of the participants have been able to follow and do develop a lesson plan in accordance with the paradigm of the curriculum in 2013, but there are some that do not correspond to the curriculum paradigm Constraints to those who have the appropriate is the connecting theme of the indicator and learning activities of students. Keywords: Implementation of curriculum in improving teacher performance 59 PENDAHULUAN Penyusunan program pendidikan khusus merupakan tugas utama guru di sekolah-sekolah khusus (SLB). Setelah guru mendapatkan bantuan keterampilan untuk asesmen dan para guru di wilayah Sleman Barat telah mampu melaksanakan asesmen, sehingga diperoleh deskripsi kondisi potensi dan kelemahan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK), diperlukan suatu kelanjutan untuk kompetensi penyusunan program. Penyusunan program pendidikan khusus yang masih memiliki kendala dan kesulitan ketika para guru dihadapkan untuk penyesuaian dengan pola pikir kurikulum Kesulitan antara lain dalam hal mengembangkan Rencana Program Pembelajaran (RPP) melalui penentuan tema, kompetensi dasar, dan indikator yang sesuai dengan kondisi peserta didik, serta perancangan strategi dan metode pembelajaran menggunakan pendekatan saintafik. Kesulitan yang utama adalah merubah pembelajaran dari yang sudah terbiasa bagi PDBK yang kategori hambatan/disabiltas kategori berat dan sedang ke paradigma saintafik. Guru kesulitan menjabarkan program pembelajaran sesuai ketentuan yang sudah menjadi kebijakan di dalam Peraturan Menteri tentang Kurikulum Kebijakan tersebut dapat diimplementasikan sesuai dengan kondisi PDBK secara operasional. Peserta didik berkebutuhan khusus atau yang pada masa lampau disebut anak cacat memiliki karakteristik khusus dan kemampuan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Tipe anak berkebutuhan khusus bermacammacam dengan penyebutan yang sesuai dengan bagian diri anak yang mengalami hambatan baik telah ada sejak lahir maupun karena kegagalan atau kecelakaan pada masa tumbuh kembangnya. Menurut Kauffman & Hallahan (2005) dalam Bendi Delphie (2006). Jenis kebutuhan khusus yang selama ini menyita perhatian orangtua dan guru adalah (1) tunagrahita (mental retardation) atau anak dengan hambatan perkembangan (child with development impairment), (2) kesulitan belajar (learning disabilities) atau anak yang berprestasi rendah, (3) hiperaktif (Attention Deficit Disorder with Hyperactive ), (4) tunalaras (emotional and behavioral disorder), (5) tunarungu wicara (communication disorder and deafness), (6) tunanetra atau anak dengan hambatan penglihatan (partially seing and legally blind), (7) autistik, (8) tunadaksa (physical handicapped), dan (9) anak berbakat (giftedness and special talents). 60 Jenis-jenis tersebut yang terbanyak prevalensinya di sekolah khusus/slb adalah jenis peserta didik tunagrahita, berikutnya jenis autis, tunadaksa kategori cerebral palsy, dan tunanetra. Keberadaan mereka di sekolah khusus dikarenakan kekhususannya yang jelas terlihat atau observable. Mereka pada umumnya lebih diutamakan mendapatkan program khusus, keterampilan, dan akademik fungsional. Program itu sebagai kurikulum utama dan dalam pembelajaran juga diperlukan dengan pendekatan khusus. Pendekatan khusus yang sering dilakukan oleh guruguru di sekolah khusus dalam pembelajaran berorientasi pendekatan behavioristik. Mereka lebih sering menggunakan latihan yang berulang, dan sedikit dari mereka untuk mencoba melakukan perubahan. Hal itu terjadi sebagai efek pengiring dari kondisi peserta didik yang memiliki banyak hambatan mengharuskan para guru di sekolah khusus mencari solusi yang emergensi yang termudah dengan pendekatan latihan berulang. Kondisi tersebut yang menghambat mereka ketika dihadapkan dengan perubahan paradigma kurikulum 2013, dan diperkenalkan suatu pendekatan saintafik. Untuk itu, hambatan dalam implementasi perubahan paradigma itu diperlukan suatu pendampingan. Berlangsungnya suatu pembelajaran di sekolah atau lembaga pendidikan manapun dikarenakan terdapatnya kurikulum. Kurikulum dikemukakan dalam kamus Webster (Nasution, 2001: 1) artinya A race course; a place for running; a chariot. 2. A course in general; applied particulary to the course of study in a university. Jadi dengan kurikulum dimaksud 1. Suatu jarak yang ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan, dari awal sampai akhir. 2. Mata pelajaran yang khususnya digunakan pada suatu program studi. Kurikulum juga berarti chariot semacam kereta pacu zaman dahulu, yakni suatu alat yang membawa seorang dari start sampai finish. Pengertian itu mengandung maksud bahwa kurikulum sebagai alat untuk berpacu menuju tujuan atau mata pelajaran yang dipelajari. Alat untuk berpacu tersebut berupa program yang dipelajari oleh peserta didik. Program itu harus dikembangkan oleh guru agar supaya peserta didik belajar sampai peserta didik mencapai tujuan. Pembelajaran sebagai sebuah aktivitas yang dirancang oleh guru agar supaya mengkondisikan peserta didik belajar perlu sebuah kurikulum. Hal itu dikarenakan dalam kurikulum terdapat program-program sebagai substansi yang menggerakkan peserta didik belajar. 61 Dalam kurikulum 2013 dikembangkan secara berdiversifikasi (Herry Widyastono, 2014: 181). Diversifikasi dengan maksud memberikan keleluasaan guru untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta didik dan potensi daerah di tempat kurikulum itu dilaksanakan. Hanya untuk diversifikasi tersebut diperlukan juga kompetensi guru untuk mengembangkan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan induktif (Daryanto, 2014: 55). Proses yang sederhana dimulai dari kegiatan 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan). Proses itu merujuk pada metode ilmiah dengan teknik investigasi pada fenomena atau gejala. Siswa diajak aktif untuk memperoleh pengetahuan baru dengan mengumpulkan dan mengoreksi, serta memadukan dengan pengetahuan sebelumnya. Beberapa contoh model pembelajaran menggunakan pendekatan tersebut, antara lain: a) Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Solving) Langkah-langkah dalam model pembelajaran berbasis masalah (problem solving) adalah: 1) Peserta didik diajak untuk mengamati obyek benda, peristiwa atau kejadian untuk menentukan masalah; 2) Masalah dijadikan tema pembelajaran; 3) Peserta didik diajak guru untuk mencari alasan bahwa pada tema terdapat masalah; 4) Peserta didik diajak guru untuk bertanya tentang tema tersebut memerlukan pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prosedur yang perlu dicari siswa untuk pemecahan masalah; 5) Peserta didik diajak guru untuk mencari alasan pengetahuan yang dikumpulkan dapatkah untuk pemecahan masalah; 6) Pengetahuan atau informasi untuk mengatasi masalah tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber; 7) Pengetahuan yang telah terkumpul disusun atau distrukturkan oleh peserta didik dengan dibimbing guru menurut urutan, hubungan, atau pengelompokan secara bertahap berguna untuk pemecahan masalah; serta 8) Pengetahuan yang telah disusun sebagai pola-pola pemecahan masalah oleh peserta didik, dilanjutkan untuk dikomunikasikan dengan diagram, skema, bagan, gambar atau tulisan, atau karya cipta baru. b) Model Pembelajaran dengan Penemuan (Discovery) Langkah-langkah model pembelajaran dengan penemuan (discovery) sebagai berikut: 1) Peserta didik diharapkan pada sesuatu obyek atau peristiwa yang perlu diamati; 2) Peserta didik didorong untuk mengamati obyek tersebut apa dan bagaimana; Guru mengajak peserta didik 62 untuk mencari jawaban dengan cara membaca buku dan aktivitas belajar lainnya yang mendukung pemecahan masalah; 3) Identifikasi masalah: guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masaah yang ada pada obyek tersebut dan relevan dengan sumbersumber yang telah dicari peserta didik; 4) Peserta didik merumuskan masalah dalam bentuk jawaban sementara atas pertanyaan masalah; 5) Permasalahan yang dipilih selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan; 6) Peserta didik diajak mencari jawab dari pertanyaan masalah melalui sumbersumber belajar; 7) Ketika eksplorasi berlangsung guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya yang relevan untuk mrembuktikan benar dan tidaknya jawaban sementra tersebut; 8) Peserta didik diberi kesempatan mengumpulkan berbagai informasi yang relevan dengan membaca literatur, mengamati obyek, melakukan wawancara dengan nara sumber atau melakukan uji coba sendiri; 9) Peserta didik diajak menenukan permasalahan dari obyek yang diamati; 10) Peserta didik diajak aktif menemukan jawaban permasalahan secara tidak langsung peserta didik dapat menghubungkan permasalahan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya; 11) Semua informasi yang telah dikumpulkan peserta didik semuanya diolah dengan urutan, dikelompokkan, ditabulasi, dihitung dengan cara tertentu untuk diambil kebermaknaannya; 12) Peserta didik menarik kesimpulan dari hasil temuan; serta 13) Hasil temuan dikomunikasikan dengan presentasi di kelas. c) Model Pembelajaran Pembuktian Kebenaran (Inquiry) Langkah-langkah model pembelajaran pembuktian kebenaran (inquiry) adalah sebagai berikut :1) Peserta didik diajak mengamati suatu obyek atau peristiwa yang menjadi masalah atau pertanyaan yang jawabnya perlu dibuktikan; 2) Menentukan masalah bersama-sama antara guru dan peserta didik dengan kalimat pernyataan masalah; 3) Peserta didik diajak untuk mencari jawaban dengan mengumpulkan berbagai informasi/pengetahuan dari beberapa sumber; 4) Peserta didik diajak untuk mengidentifikasikan pengetahuan yang telah terkumpul dalam bentuk urutan, klasifikasi, kesamaan dan perbedaan yang dapat digunakan menjawab pernyataan masalah; 5) Guru dan peserta didik menarik kesimpulan tentang pembuktian kebenaran dari pernyataan masalah; 6) Kesimpulan 63 dikomunikasikan melalui diagram, susunan gambar, skema atau tulisan. Langkah-langkah itu memiliki suatu maksud peserta didik aktif mencari dan mengolah pengetahuan yang diperoleh dalam konteks kehidupan, selanjutnya diambil makna untuk dikomunikasikan. Peserta didik didorong untuk mengaitkan pengetahuan yang diperoleh dengan konteks kehidupan sebenarnya, sehingga mampu mengambil makna manfaat dari pengetahuan yang diperolehnya. Perencanaan pembelajaran bagi PDBK disampaikan Mumpuniarti (2007: 76-80) harus mempertimbangkan tujuan yang perlu dikembangkan oleh pengajar adalah tujuan khusus (TIK). Dalam langkah ini analisis kebutuhan siswa sangat menentukan untuk mampu dan tidaknya siswa mencapai tujuan yang dirancang. Hal ini sangat tergantung dari kemampuan awal serta kondisi PDBK. Untuk itu asesmen perlu dilakukan dan dihasilkan suatu deskripsi tentang kondisi PDBK. Tujuan Khusus saat ini dikembangkan melalui rumusan indikator dari kompetensi dasar. Rambu-rambu yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan khusus dalam bentuk indikator: 1) Dirumuskan dalam batasbatas kemampun siswa untuk mencapainya, yaitu mencakup potensi dan keterbatasan PDBK: 2) Tujuan yang diprioritaskan untuk dicapai ialah kemampuan yang praktis dan fungsional; 3) Tujuan harus sesuai dengan usia kronologis PDBK; 4) Tujuan harus dirumuskan dengan kata-kata operasional yang menggambarkan perilaku yang diinginkan secara spesifik, dengan berbagai kondisinya; 5) Komponen ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan Degree) dapat dipedomani dalam menyusun tujuan khusus. Pertimbangan dalam perencanaan berikutnya adalah materi. Pokok-pokok materi yang akan diajarkan dapat diambil dari silabus kurikulum sekolah yang bersangkutan. Namun pokok-pokok materi yang ada tersebut perlu dikembangkan dan diorganisasikan. Untuk melakukan hal ini, rambu-rambu berikut perlu dipedomani. 1) Materi yang disajikan harus mendukung tercapainya tujuan khusus/indikator yang telah ditetapkan. 2) Materi yang disajikan harus berada dalam batas-batas kemampuan PDBK untuk mempelajarinya. Hal ini berkaitan langsung dengan potensi yang ada pada PDBK, sesuai dengan kekhususan yang disandangnya. 3) Materi yang disajikan haruslah bermanfaat bagi kehidupan PDBK. 4) Materi harus disusun dari yang mudah ke yang sukar, yang sederhana ke yang kompleks, dan dari yang konkret ke yang abstrak. Rambu-rambu di atas menekankan bahwa materi yang 64 dikembangkan harus berpedoman pada layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Lynch dan Lewis via Wardani, 1994 (Mumpuniarti, 2007: 79) menyusun urutan bidang pelayanan pendidikan sebagai berikut: 1) Pengembangan dalam kemampuan membaca, menulis, dan matematika. 2) Persiapan untuk menjadi warga negara/anggota masyarakat. 3) Pendidikan jasmani, pendidikan seni dan musik; dan Pendidikan vokasional (keterampilan). Jenis dan urutan pelayanan pendidikan tersebut akan dapat menjadi acuan dalam menentukan luas dan dalamnya materi yang akan disajikan. Setelah memilih dan mengembangkan materi, guru perlu mengidentifikasi dan mengembangkan alat bantu belajar yang dapat dimanfaatkan. Alat bantu itu digunakan memudahkan PDBK menguasai kemampuan yang ditargetkan. Alat bantu tersebut perlu juga bervariasi sesuai dengan tingkatan kategori PDBK hakikat materi, serta indikator yang ingin dicapai. Rambu-rambu kerelevanan, baik dengan karakteristik PDBK, usia kronologis, tujuan, maupun materi yang disajikan, di samping menarik dan mudah dikelola, hendaknya dijadikan pedoman pemilihan dan pengembangan alat bantu mengajar. Pertimbangan selanjutnya adalah strategi. Pemilihan dan pengembangan strategi penyampaian merupakan satu rangkaian dalam mengembangkan perencanaan pembelajaran. Mengembangkan strategi ini perlu berpedoman pada rambu-rambu antara lain hasil penelitian dalam Snell (1983) via Wardani (1994: 8) menunjukkan bahwa belajar pada dasarnya berlangsung melalui tahap-tahap. Keekfektifan dari strategi yang digunakan tegantung dari tahap belajar tersebut, dan tahap itu sebagai berikut: 1) Tahap memperoleh kemampuan baru (acquisition), 2) Tahap memperlancar (fluency), 3) Tahap memelihara/memantapkan (maintenance), dan 4) Tahap generalisasi, yaitu menerapkan kemampuan baru dalam situasi lain. Strategi yang dipilih dan dikembangkan harus sesuai dengan kemampuan atau tujuan yang ingin dicapai, karakteristik PDBK, serta usia kronologisnya. Strategi yang dipilih haruslah berfokus pada PDBK, bukan pada guru. Pertimbangan terakhir adalah penilaian. Penilaian dirancang untuk menilai tingkat ketercapaian tujuan/indikator dan sekaligus dapat mencerminkan tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Prosedur dan alat penilaian dikembangkan dari acuan tujuan khusus/indikator. Indikator yang dirumuskan secara jelas dan operasional 65 akan memudahkan guru mengembangkan alat penilaian. Khusus menilai pencapaian indikator bagi PDBK, alat ukur yang bersifat informal dianggap sesuai untuk mengukur kualitas perilaku yang harus ditampilkan oleh PDBK. Alat penilaian yang dikembangkan haruslah mampu menilai tentang kemampuan/kompetensi PDBK yang akan dinilai. Misalnya, jika yang diukur ialah kemampuan melakukan sesuatu, tentu alat ukur yang tepat dengan tes perbuatan, bukan tes tertulis. Kemampuan belajar seumur hidup juga merupakan target pada siswa PDBK, maka alat ukur yang dikembangkan selain berfokus pada penilaian hasil pembelajaran yang bersifat langsung, juga pada hasil pembelajaran yang akan terbentuk dalam jangka panjang. Metode Pendampingan Orientasi lapangan yang dilakukan adalah memberikan pendampingan agar guru mampu melanjutkan hasil dari keterampilan asesmen untuk memenuhi pengembangan program pembelajaran sebagai kewajiban profesinya. Kewajiban itu juga dilakukan oleh guru dengan tetap mempertimbangkan kondisi PDBK dan mampu mengimplementasikan kebijakan pemerintah. Untuk itu, diperluan langkahlangkah sebagai berikut: 1) Penjelasan 66 kurikulum 2013 dan modifikasinya bagi PDBK; 2) Pendampingan dan konsultasi mendeskripsikan hasil asesmen dan kerangka dasar penyusunan program; dan 3) Workshop menyusun RPP. Hasil dari penyusunan RPP diberikan umpan balik untuk mendapatkan penghargaan atau masih perlu penyempurnaan tentang kinerjanya. Bagan kerangka pemecahan masalah sebagai berikut: Penjelasan pola pikir kurikulum HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Mendeskripsi kan hasil asesmen Pendampingan menyusun program Pelatihan dan Workshop RPP Kegiatan pendampingan ini dibuat dalam rangka membantu guru-guru SLB di wilayah binaan Sleman Barat untuk dapat memiliki kompetensi pedagogis pada pemahaman peserta didik melalui kompetensi profesional dengan penyusunan instrumen asesmen berbasis kurikulum Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini guru belum dapat sepenuhnya menerapkan kurikulum 2013 dalam pembelajaran di kelas mereka. Guru-guru di wilayah binaan yang menjadi peserta PPM memiliki pengetahuan yang baik tentang kurikulum 2013, dikarenakan mereka telah banyak Pendampingan pengembangan kurikulum Hasil RPP mendapatkan pelatihan serupa dari dinas atau dari pihak lain. Pengetahuan guruguru dalam kurikulum 2013 ditunjukkan dari hasil dialog yang menyebutkan bahwa guru-guru tersebut telah memahami komponen-komponen yang terdapat dalam struktur kurikulum Namun peserta masih banyak mengemukakan bahwa guru masih kesulitan dalam penerapan kurikulum 2013 di dalam kelas mereka, seperti contohnya dalam menyesuaikan materi di kurikulum dengan kemampuan siswa yang ada di kelasnya. Beberapa guru cenderung memaksakan kurikulum yang ada dengan kemampuan anak dikarenakan beban administrasi yang harus mereka kerjakan untuk memenuhi tugas mereka. Guru masih kesulitan dalam menyesuaikan materi di kurikulum dengan kemampuan siswa yang ada di kelasnya. Beberapa guru cenderung memaksakan kurikulum yang ada dengan kemampuan anak. Pelaksanaan asesmen yang menjadi dasar untuk mendapatkan kemampuan awal siswa juga sudah dilakukan oleh para guru, hanya permasalahan dalam pengembangkan alat/instrument asesmen, mengembangkan asesmen berbasis kurikulum, dan dalam mengambil keputusan tentang posisi peserta didik menunjukkan bahwa dalam melakukan a
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks