PENDAHULUAN Memperoleh pendidikan yang berkualitas adalah dasar untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Tujuan pendidik

Please download to get full document.

View again

of 10
39 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
PROSES INTERNALISASI PENDIDIKAN KEUANGAN MAHASISWA DALAM MENUNJANG SDGs ZeniRusmawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas MuhammadiyahSurabaya Abstrak Pendidikan
Document Share
Document Transcript
PROSES INTERNALISASI PENDIDIKAN KEUANGAN MAHASISWA DALAM MENUNJANG SDGs ZeniRusmawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas MuhammadiyahSurabaya Abstrak Pendidikan keuangan sangat penting bagi mahasiswa, agar mahasiswa bisa mandiri dalam mengelola keuangannya. Fokusdalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana proses internalisasi pendidikan keuangan dalam menunjang SDGs.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.hasil penelitian ini menjelaskan mengenai tahapan proses internalisasi. Proses Internalisasi pendidikan keuangan diperoleh dari tahap transformasi berupa penyampaian materi; tahap transaks ini lai berupa interaksi antar kedua belah pihak, dan tahap trans internalisasi yaitu bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Perantara atau mediator dalam proses internalisasi pendidikan keuangan antara lain teman/sahabat, praktik pribadi, keluarga (orang tua) dan dosen/perguruan tinggi.internalisasi pendidikan keuangan ke dalam perilaku mahasiswa dapat membentuk mahasiswa/lulusan yang berkualitas, sehingga memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran dalam era SDGs. KataKunci:Proses Internalisasi, PendidikanKeuangan,SDGs INTERNALIZATION PROCESS OF FINANCIAL EDUCATION STUDENT S TO SUPPORTINGSDGs Abstract Financial education is very important for students, so students can be independent in managing their finances. The focus of this research is to describe how the internalization process of financial education in supporting SDGs. This research uses qualitative approach. The results of this study explain the stages of the internalization process. Internalization process of financial education is obtained from the transformation stage in the form of material delivery; value transaction stage in the form of interaction between both parties, and transinternalisasi stage that is not only done with verbal communication but also mental attitude and personality. Intermediaries or mediators in the process of internalization of financial education such as friends / friends, personal practice, family (parents) and lecturers / colleges. Internalization of financial education into student behavior can form qualified students / graduates, thus spurring the achievement of goals and objectives in the era of SDGs. Keywords:Internalization process,financialeducation,sdgs Zeni Rusmawati, Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan.. Page 44 PENDAHULUAN Memperoleh pendidikan yang berkualitas adalah dasar untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Tujuan pendidikan akan menjadi tumpuan upaya pemerintah untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan hingga 2030 berdasarkan arahan dari Forum PBB. Peningkatan pendidikan bagi masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam SDGs, terutama untuk menangkal peningkatan angka kemiskinan. Pendidikan di Indonesia merupakan bagian dalam amanah konstitusional UU Untuk itu Pemerintah wajib melaksanakan pendidikan dengan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam konteks global, focus pada peningkatan peran perguruan tinggi juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang disepakati dunia yang disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs), agenda yang ditujukan untuk mencapai kondisi dunia yang lebih baik pada tahun 2030 melalui 17 tujuan dan 169 target. Peningkatan pendidikan melalui perguruan tinggi bagi masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam SDGs, terutama untuk menangkal peningkatan angka kemiskinan. Perguruan tinggi merupakan penggerak pendidikan di Indonesia mengambil bagian dalam amanah dalam pencapaian SDGs. Perguruan tinggi berperan dalam mencetak lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing didunia kerja harus senantiasa meningkatkan kualitas pembelajarannya. Sehingga selama proses pembelajaran tersebut dapat di aplikasikan dalan kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaannya. Setiap manusia pasti memiliki tujuan hidup dan tujuan hidup tersebut tidak lepas dari masalah keuangan.begitu juga dengan mahasiswa, dalam melakukan proses perkuliahan dan untuk masa depannya.oleh karena itu,untuk mencapai tujuan keuangan melalui pengetahuan, perencanaan, dan implementasi atas praktik pengelolaan keuangan pribadi (personalfinance) yang sehat, idealnya perlu dipunyai dan dilakukan oleh setiap orang dan semua itu diperoleh melalui suatu pendidikan keuangan. Tempat yang dapat pemberikan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan mahasiswa adalah lembaga pendidikan formal yaitu perguruan tinggi. Pendidikan diperguruantinggi dengan materi yang diberikan dapat mengembangkan pengetahuan, kemampuan, sikap dan keterampilan mengenai keuangan (UU No 20 Tahun 2003). Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan mahasiswa dalam hal keuangan rendah.hal tersebut dibuktikan oleh Lutfi dan Iramani (2008) mengenai keuangan untuk mahasiswa ekonomi di Indonesia tentang pengetahuan dan implementasinya terhadap keuangan diperoleh hasil bahwa mahasiswa kelompok usia 18 sampai dengan 24 tahun memiliki pengetahuan yang tidak cukup Zeni Rusmawati, Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan.. Page 45 mengenai keuangan. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Krisna, dkk (2010) tentang pengetahuan dan implementasi keuangan mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia diperoleh skor rata-rata 63% yang menunjukkan tingkat pengetahuan keuangan mahasiswa masih jauh dari optimum, bahkan mendekati kategori rendah. Sekarang pertanyaannya mengapa demikian? Padahal berdasarkan teori, perencanaan mahasiswa dalam mengambil keputusan keuangan yang lebih baik, memahami hak-hak dan tanggung jawab mereka sebagai konsumen produk- produk keuangan didasarkan pada pengetahuan mereka mengenai keuangan (Lusardi, 2010). Strategip embelajaran yang dirancang oleh pedidik (dosen/guru) yaitu menyampaika nmateri, penggun akan metode, media dan sumber belajar sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam memahami dan mengaplikasikan materi yang diajarkan dalam kehidupan seharihari. Namun metode pengeajaran saat ini kurang mencerminkan perilaku yang dapat disesuiakan dengan perilaku / kaidah-kaidah keuangan, karena pengajaran saat ini lebih menekankan pada pengetahuan keuangan entitas / perusahaan (Djamarah dan Zein,2006). Penelitian ini mengambil focus yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana proses internalisasi pendidikan keuangan dalam menunjang SDGs. LANDASAN TEORI Internalisasi Tata bahasa Indonesia menjelaskan bahwa akhiran-isasi mempunyai definisi proses. Sehingga internalisasi diartikan sebagai suatu proses. Dalam kamus besar bahasa Indonesia internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:336). Proes internalisasi yang dikaitkan dengan mahasiswa melampaui tiga tahap (Muhaimin, 1996:153 dalam Ardiansyah, 2011), yaitu:1) Tahap Transformasi Nilai: dosen yang melakukan suatu proses menginformasikan nilainilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara dosen dan mahasiswa;2) Tahap Transaksi Nilai: tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi imbal balik antara mahasiswa dengan dosen;3) Tahap Trans internalisasi: Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif Pendidikan Keuangan Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana Zeni Rusmawati, Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan.. Page 46 untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlakmulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Keuangan mempelajari bagaimana individu, bisnis, dan organisasi meningkatkan, mengalokasi, dan menggunakan sumber daya keuangan sejalan dengan waktu, dan juga menghitung risiko dalam menjalankan proyek mereka. Learning by doing telah terbukti menjadi teknik pengajaran yang efektif untuk siswa dewasa (mahasiswa). Pengalaman pribadi dalam hidup menjadi sumber daya untuk mengevaluasi relevansi teoridan aplikasi praktis kedunia nyata (Schiller,1981:1). Pernyataan tersebut sesuai dengan amanat Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional sebagai mana tersurat dalam penjelasan Pasal 35 (Standar Nasional Pendidikan): kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Jadi pendidikan keuangan diperguruan tinggi merupakan suatu proses yang terencana untuk memaksimalkan potensi diri mengenai keuangan sehingga dapat diaplikasi dalam kehidupan seharihari. Pembelajaran yang efektif dan efisien seharusnya dapat mengembangkan seluruh ranah tujuan pembelajaran yaitu pengetahuan (kognitif), sikap(afektif) dan keterampilan (psikomotorik) secara integral. Strategi pembelajaran yang dirancang dosen yaitu penyampaian materi, penggunaan metode, penggunaan sumber media dan sumber belajar sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam memahami dan mengaplikasikan materi yang diajarkan (Djamarah, 2006). Perilaku Perilaku merupakan overtbehavior, yaitu tindakan nyata yang dilakukan seseorang sebagai manusia, yang dapat berupa perilaku umum (common behavior) atau perilaku tidak umum (uncommonbehavior), dapat diterima atau tidak dapat diterima sesuai dengan norma-norma social yang terevaluasi. Terevaluasi bermakna bahwa perilaku tersebut dapat diterima atau tidak, akan berubah-ubah, sejalan dengan control social yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku mahasiswa dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, jika dilihat berdasarkan bentuk operasional, jenis perilaku tersebut antara lain:1) Perilaku dalam bentuk pengetahuan, adalah didapat dengan mengetahui rangsangan sekitar dan situasi;2) Perilaku dalam bentuk sikap, yaitu tanggapan perasaan terhadap keadaan dari luar dan keadaan tersebut bersifat non fisik, tetapi mempunyai pengaruh kuat terhadap pembentukan perilaku manusia. 3) Perilaku dalam bentuk tindakan, yaitu berupa perbuatan Zeni Rusmawati, Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan.. Page 47 terhadap situasi dan suatu rangsangan dari luar. Sustainable DevelopmentGoals(SDGs) SDG berisi tujuan pembangunan berkelanjutan, dengan target pencapaian sampai tahun2030. Implementasi SDG menjadi komitmen Negara terhadap rakyat Indonesia dan komitmen Indonesia kepada masyarakat global.sdg s memiliki 17 target yang harus dicapai antara lain: penghapusan kemiskinan, penghapusan kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan, Berkualitasnya pendidikan, Penyetaraana Gender, Air yang bersih dan adanya sanitasi, Pertumbuhan ekonomi, Tangguhnya infrastruktur, Industri yang inklusif dan inovatif, Minimnya kesenjangan, Kota Inklusif berkelanjutan, Produksi berkelanjutan, Perubahan iklim dan pengurangan bencana, Pelestarian dan pemanfaatan ekosistem laut dan darat, Perdamaian, Keadilan dan kelembagaan yang kokoh, Kemitraan untuk semua Tujuan Pembangunan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Fenomenologi merupakan sebuah pendekatan yang mendeskripsikan makna bagi beberapa individu terhadap pengalaman hidup mereka sebagai sebuah konsep atau sebuah fenomena (Cresswell, 2007:57). Penelitian ini mendeskripsikan mengenai proses internalisasi pendidikan keuangan mahasiswa dalam menunjang SDGs. Pendekatan kualitatif yang digunakan bersifat natural, deskriptif dan induktif. Natural bermakna bahwa latar belakang penelitian merupakan sumber data langsung yang dialami, sehingga peneliti harus terjun langsung di lapangan. Deskriptif bermakna bahwa data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar-gambar, sehingga untuk memberikan dukungan terhadap uraian yang disajikan dalam laporan penelitian, diungkapkan kutipankutipan dari data sebagai hasil pengungkapan responden. Pencarian data bukan untuk membuktikan atau menolak hipotesis, melainkan membuat abstraksi ketika fakta-fakta khusus telah terkumpul dan dikelompokkan bersama-sama yang disebut dengan induktif. Adapun penelitian kualitatif menurut Lexy J. Moleong (2007), yaitu suatu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, tindakan, dan lain sebagainya secara holistik dan deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatan berbagai metode ilmiah. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang hasilnya berupa data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis/ lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, pendekatan ini diarahkan pada latar belakang individu tersebut secara holistik (utuh). Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dengan purposive Zeni Rusmawati, Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan.. Page 48 random Sampling yaitu mahasiswa yanag telah mendapatkan matakuliah Manajemen Keuangan dan telah melakukan pengelolaan keuangan pribadinya. Berdasarkan ketentuan sampling tersebut diperoleh sampel sebanyak 16 mahasiswa. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan Proses internalisasi diawali dengan proses indoktrinasi diperoleh dari pendidikan yang ada diperguruan tinggi dengan dosen sebagai mediatornya. Dosen memberikan informasi berupa materi kuliah dan memberikan tugas sebagai transaksi nilai (Devi: contohnya itu sederhana, konkrit dan ada disekitar kita jadi bisa dimengerti ). Selanjutnya proses transinternalisasi nilai yaitu proses transaksi nilai yang dilakukan akan menjadi perilaku mahasiswa. Selain melalui pendidikan keuangan di perguruan tinggi, proses internalisasi juga diperoleh dari keteladanan yang disampaikan/diberikan oleh orangtua kepada anaknya/mahasiswa (Rahmah: Iya sejak masih dibangku SD saya disuruh nabung saya orangtua dicelengan ). Proses indoktrinasi juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitas mahasiswa, yaitu teman. Teman dapat memberikan dampak yang positif dan dapat ditiru (Nadya: Ehh.. gimana ya bu, kalo teman saya mau beli sesuatu, saya jadinya pingin ikutbu he he he ). Berdasarkan data tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Proses internalisasi Proses Indoktrinasi: - Pengalama n pribadi - Lingkunga n sekitar Mediator: - Praktek - Hubungan antar teman Proses Internalisasi Transformasi nilai Transaksi nilai Mediator: - Orangtua - PT/ dosen Proses Indoktrinasi: - Keteladanan - Pendidikan (pembelajaran) Transinternalisasi nilai Mahasiswa merupakan pribadi yang tidak lepas dari yang namanya uang, karena uang merupakan komoditas utama dalam setian transaksi. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah penting. Hal itu disebabkan karena pengelolaan keuangan merupakan tanggungjawab terhadap keuangannya sendiri. Pengelolaan keuangan diperlukan untuk mengatur kehidupan sehari-hari, karena setiap kebutuhan tidak Zeni Rusmawati, Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan.. Page 49 pernah lepas dari keuangan. Kebutuhan kuliah dan kebutuhan pribadi semakin lama semakin banyak karena pengaruk teknologi, oleh karena itu perlu dikelola dengan baik, agar tidak terjadi deficit yaitu lebih banyak pengeluaran dari pada pendapatan. Dalam pengelolaan keuangan pribadi merupakan pola hidup yang mendahulukan proiritas. Dapat juga disebut sebagai kekuatan dari prioritas (thepowerofpriority )dan berpengaruh pada tingkat kedisiplinan mahasiswa dalam mengelola keuangan pribadinya yang diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Pengelolaan uang dilakukan karena merupakan tanggung jawab individu dalam kehidupan seharihari. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Chintia (2010) yang menyatakan bahwa keuangan berhubungan dengan tanggung jawab seseorang mengenai cara pengelolaan keuangan mereka. Sama halnya dengan mahasiswa yang juga mempunyai tanggung jawab terhadap pengelolaan keuangannya sendiri. Pengelolaan keuangan tersebut akan mudah dievaluasi jika dilakukan pencatatan tiap hari. Catatan tersebut setelah di evaluasi dibuat perencanaan baru untuk kedepannya sehingga bias lebih berhemat dalam melakukan bembelanjaan. Pengelolaan keuangan tersebut juga mempunyai peran bagi mahasiswa saat mereka pada saat terjun ke masyarakat/bekerja, serta bias digunakan sebagai bekal untuk menjadi seorang entrepreneur. Proses internalisasi mempunyai tiga tahap, yaitu: Pertama tahap transformas inilai, tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini seorang pendidik dalam hal ini dosen menyampaikan materi dan nilai- nilai mengenai keuangan kepada mahasiswa. Baik secara teori maupun praktik. Praktik meliputi keuangan untuk perusahaan dan keuangan untuk pribadi. Untuk praktik keuangan pribadi dalam bentuk mengkombinasikan pada pembahasan keuangan perusahaan. Kedua, tahap transaksi nilai, suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Tahap ini pendidik/dosen berinteraksi dengan mahasiswa berupa pertanyaan, diskusi dan pembahasan kasus mengenai materi yang telah disampaikan baik tentang keuangan perusahaan maupun keuangan pribadi. Tahap Internalisasi yang terakhir adalah tahap transinternalisasi, tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi yaitu bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap, mental dan kepribadian yang ada pada diri mahasiswa (Muhaimin, 1996: 153 dalam Ardiansyah).Pada tahap ini mahasiswa mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh kedalam kehidupan sehari-harinya. Diperguruan tinggi terdapat sarana untuk mengimplementasikan perilaku keuangannya dalam praktik misalnya koperasi, Zeni Rusmawati, Proses Internalisasi Pendidikan Keuangan.. Page 50 laboratorium, atau praktik enterpreneur. Jadi, proses internalisasi diperoleh dari informasi dan doktrin (pengaruh) yang ada diberbagai lingkungan mahasiswa. Proses indoktrinasi diperoleh dari pendidikan yang ada diperguruan tinggi dengan dosen sebagai mediatornya. Dosen memberikan informasi berupa pengetahuan tentang keuangan dan memberikan pekerjaan atau tugas sebagai transaksi nilai. Selanjutnya proses transinternalisasi nilai yaitu proses transaksi nilai yang dilakukan akan menjadi kebiasaan mahasiswa, atau dengan kata lain perilaku mahasiswa Perilaku Keuangan Mahasiswa Dalam Menunjang Era SDGs Tujuan pendidikan akan menjadi tumpuan upaya pemerintah untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan hingga 2030 berdasarkan arahan dari Forum PBB, peningkatan pendidikan bagi masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam SDGs, terutama untuk menangkal peningkatan angka kemiskinan. Pendidikan diindonesia merupakan amanah, untuk itu Pemerintah wajib melaksanakan pendidikan yang berkualitas untuk masyarakat. Pendidikan yang berkualitas merupakan dasar untuk mencapai pertumbuhan yang berkualitas juga. Dalam pendidikan memerlukan system pendidikan yang berkesinambungan,dari sector pemerataan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. SDGs memiliki batas waktu tertentu dan target terukur yang harus dicapai hingga akhir Implementasi SDGs menjadi komitmen Negara terhadap rakyat Indonesia dan komitmen Indonesia kepada masyarakat global. Sonny Harry B.Harmadi membagi tujuan SDGs ke dalam tiga pilar utama, yaitu: Pilar Pertama yaitu Pembangunan Manusia, mencakup kesehatan, pendidikan dan kesetaraan jender. Kedua yaitu Pembangunan Ekonomi Sosial (ketimpangan, kemiskinan, ketersediaan sarana dan pra-sarana lingkungan, serta pertumbuhan ekonomi). Pilar Ketiga yaitu Pembangunan Lingkungan,yang berupaya menjaga
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks