Penatalaksanaan Terapi Relaksasi Otot Progresif dengan Masalah Penurunan Curah Jantung pada Pasien Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen

Please download to get full document.

View again

of 9
41 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Penatalaksanaan Terapi Relaksasi Otot Progresif dengan Masalah Penurunan Curah Jantung pada Pasien Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen Resti Dyah Ayuningsih 1, Ratna Setiyaningsih 2 Politeknik
Document Share
Document Transcript
Penatalaksanaan Terapi Relaksasi Otot Progresif dengan Masalah Penurunan Curah Jantung pada Pasien Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen Resti Dyah Ayuningsih 1, Ratna Setiyaningsih 2 Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia, sukoharjo Abstract: Hypertension is defined as systolic blood pressure above 1 mmhg and or diastolic blood pressure above 90 mmhg. Hypertension is a condition when a person has an elevated blood pressure above normal that results in an increase in morbidity and mortality. Hypertension that is not immediately handled will cause the occurrence of brain damage, stroke, myocardial infarction, kidney failure so as to prevent these complications are done one of them with progressive muscle relaxation therapy. This therapy can provide a relaxed state and lower blood pressure. This study was conducted to identify differences in blood pressure before and after muscle relaxation therapy in hypertensive patients in dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. The design of this study is descriptive qualitative by using nursing process approach (nursing process) with the number of subjects used by 5 subjects, the subjects used is the subject of nonprobability accidental. The results showed that the difference in blood pressure from 5 subjects before and after doing progressive muscle relaxation in hypertensive patients in hospitals dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Recommendation of this study is as an alternative in lowering blood pressure in hypertensive patients. Keywoard: hypertension, progressive muscle relaxation therapy, blood pressure Abstrak:Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik di atas 1 mmhg dan atau tekanan darah diastolik di atas 90 mmhg. Hipertensi adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan dan angka kematian. Hipertensi yang tidak segera ditangani akan menyebabkan terjadinya kerusakan otak, stroke, infark miokard, gagal ginjal sehingga untuk mencegah komplikasi tersebut dilakukan salah satunya dengan terapi relaksasi otot progresif. Terapi ini dapat memberikan keadaan rileks dan menurunkan tekanan darah. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan terapi relaksasi otot progresif pada pasien hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan (nursing proses) dengan jumlah subjek yang digunakan 5 subjek, subjek yang digunakan adalah nonprobability accidental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan tekanan darah dari 5 subjek sebelum dan sesudah dilakukan terapi relaksasi otot progresif pada pasien hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Rekomendasi hasil penelitian ini adalah sebagai alternatif dalam menurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Kata Kunci: hipertensi, terapi relaksasi otot progresif, tekanan darah I. PENDAHULUAN Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 1 mmhg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmhg. Hipertensi merupakan suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode. Hal ini terjadi bila arteriol-arteriol kontriksi. Kontriksi arteriol membuat darah sulit mengalir dan peningkatan tekanan melawan dinding arteri (Udjianti, 2013). Menurut World Population Prospect (2010) dalam Kemenkes RI (2013) sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi dan lebih dari 90% diantaranya menderita hipertensi esensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan penyebab medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah karena penyebab tertentu (hipertensi sekunder), seperti penyempitan arteri renalis atau penyakit parenkim ginjal, disfungsi organ, tumor dan kehamilan. Dalam waktu yang lama hipertensi yang tidak ditangani akan merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, yaitu mata, jantung, ginjal dan otak. Terjadinya pembesaran pada jantung karena dipaksa meningkatkan beban kerja saat memompa melawan tingginya tekanan darah. Menurut Kemenkes (2013) prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5%. Prevalensi didapat melalui pengukuran pada umur 18 tahun sebesar 25,8%, tertinggi di Bangka Belitung 30,9%, diikuti Kalimantan Selatan 30,8%, Kalimantan Timur 29,6%, dan Jawa Barat 29,4%, dan yang di dapat melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4%, yang di diagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5%. Tedapat 0,1% yang minum obat sendiri. Responden yang mempunyai tekanan darah normal tetapi sedang minum obat hipertensi ISSN (Print) (On Line) - ijmsbm.org 78 sebesar 0,7%. Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5% (25,8% + 0,7%). Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2012) prevalensi kasus hipertensi esensial di Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 72,13% lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 sebesar 67,57%. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kasus tertinggi hipertensi esensial sebanyak kasus. Data Dinkes Kabupaten Sukoharjo tahun 2014, hipertensi esensial masuk dalam sepuluh besar penyakit di Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo dengan prevalensi sebanyak 21,16% ( kasus), sedangkan pada tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 41,57% ( kasus). Menurut Murti et al (2011) ada beberapa cara untuk mengatasi hipertensi yaitu pengobatan secara farmakologis dengan minum obat anti hipertensi, selain itu juga ada pengobatan nonfarmakologis yang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau ditunda. Yang termasuk pengobatan nonfarmakologis diantaranya seperti diet rendah garam/kolesterol, menurunkan berat badan pada obesitas, olahraga secara teratur, meditasi, yoga, dan relaksasi otot progresif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sulistyarini (2013) terapi obat bukan satusatunya alternatif yang dapat dipilih. Diperlukan sebuah terapi pendamping untuk mengurangi ketergantungan terhadap hipertensi untuk mempertahankan kualitas hidup yaitu terapi relaksasi. Terapi relaksasi dapat membantu untuk menimbulkan rasa nyaman atau relaks. Keadaan relaks akan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang berfungsi untuk menurunkan detak jantung, laju pernafasan dan tekanan darah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya pengaruh terapi relaksasi terhadap peningkatan kualitas hidup penderita hipertensi pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan relaksasi. Menurut Murti, dkk (2011) terapi relaksasi otot progresif adalah teknik sistematis untuk mencapai keadaan relaksasi metode yang diterapkan melalui penerapan metode progresif dengan latihan bertahap dan berkesinambungan pada otot skeletal dengan cara menegangkan dan melemaskannya yang dapat mengembalikan perasaan otot sehingga otot menjadi rileks dan dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi esensial. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Penatalaksanaan Terapi Relaksasi Otot Progresif dengan Masalah Keperawatan: Penurunan Curah Jantung pada Subjek Hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen pada tanggal 27 Maret 2017 sampai dengan 8 April Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan cara menggunakan pendekatan proses keperawatan (nursing proses). Populasi yang diambil adalah subjek yang mengalami hipertensi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, sedangkan sampelnya adalah 5 subjek subjek hipertensi di ruang penyakit dalam dengan kriteria: 1. Inklusi seperti 5 subjek hipertensi dan tekanan darahnya 1/90 mmhg 2. Eksklusi seperti tekanan darah 200/130 mmhg dan berumur 70 tahun ke atas Teknik sampling yang digunakan adalah Non Probability Sampling dengan pendekatan Purposive Sampling. Teknik dalam pelaksanaan menggunakan studi kasus kemudian melakukan asuhan keperawatan secara langsung. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah sebagai berikut: wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti sendiri dengan pedoman pengkajian. Data diperoleh dengan menggunakan alat: pedoman observasi seperti stetoskop untuk mendengarkan denyut nadi, spigmomanometer untuk mengukur tekanan darah, leaflet, dan pedoman wawancara dengan beberapa daftar pertanyaan dan alat tulis (pulpen, kertas). III. HASIL PENELITIAN 1. Gambaran Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro di Jl. Sukowati 534, Nglorog, Kec. Sragen, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah 57272, Indonesia, dengan type B. Rumah sakit ini memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 243. Penelitian dilakukan di ruang penyakit dalam yaitu Tulip dan Sakura. 2. Deskripsi Hasil Penelitian a. Karakteristik Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini sejumlah 5 subjek. Subjek yang berumur tahun sebanyak 2 subjek (%) yang berumur tahun sebanyak 3 subjek (60%), yang bekerja swasta sebanyak 3 subjek (60%) yang bekerja sebagai petani sebanyak 2 subjek (%), yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 3 subjek (60%) berjenis kelamin perempuan sebanyak 2 subjek (%), yang berpendidikan SD ISSN (Print) (On Line) - ijmsbm.org 79 sebanyak 2 subjek (%) yang berpendidikan SMP sebanyak 3 responden (60%), yang tekanan darahnya 150/100 mmhg sebanyak 2 subjek (%), tekanan darahnya 160/100 mmhg sebanyak 2 subjek (%) dan tekanan darahnya 180/100 mmhg sebanyak 1 subjek (10%) Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian berdasarkan umur, pekerjaan, jenis kelamin, pendidikan, tekanan darah. No Karakteristik Subjek Frekuensi (%) 1 Umur Pekerjaan Swasta Tani 3 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 4 Pendidikan SD SMP Tekanan darah 150/100 mmhg 2 160/100 mmhg 2 180/100 mmhg 1 Sumber: data primer, diolah b. Pengkajian 1) Subjek 1 subjek mengatakan batuk, pusing dan pandangan kabur sejak 2 hari yang lalu, posisi subjek duduk, faktor yang mempengaruhi posisi yaitu karena sakit, keadaan umum subjek lemah, subjek tampak gelisah, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek memegang bagian kepala, subjek tampak letih, TTV: TD: 160/100 mmhg, N: 90x /menit, R: 24x /menit, S: 37 O C. 2) Subjek 2 subjek mengatakan pegal pada leher, jantung berdebar-debar dan merasa letih jika melakukan pekerjaan yang berat, sudah 1 hari keadaan umum subjek lemah, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tampak gelisah, subjek tampak letih, TTV: TD: 150/100 mmhg, N: 88x /menit, R: 22x /menit, S: 37,5 O C. 3) Subjek 3 subjek mengatakan pusing dan pandangan kabur sejak 2 hari yang lalu, subjek mengatakan di dalam keluarganya ada yang memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus yaitu ayahnya. Posisi subjek duduk, faktor yang mempengaruhi adalah sakit, keadaan umum subjek sedang, subjek tampak gelisah, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek memegangi bagian kepala, TTV: TD: 150/100 mmhg, N: 88x /menit, R: 24x /menit, S: 37,5 O C. 4) Subjek 4 subjek mengatakan pegal pada leher, jantung berdebar-debar dan subjek merasa letih ketika mengerjakan sesuatu dengan tergesa-gesa, sejak 1 minggu yang lalu, subjek mengatakan di dalam keluarganya ada yang memiliki penyakit hipertensi yaitu ibunya, keadaan umum subjek lemah, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tampak gelisah, subjek tampak letih, TTV: TD: 180/100 mmhg, N: 90x /menit, R: 24x /menit, S: 36,5 O C. 5) Subjek 5 subjek mengatakan pusing dan pegal pada leher sejak 3 hari yang lalu, keadaan umum subjek lemah, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tampak gelisah, TTV: TD: 160/100 mmhg, N: 88x /menit, R: 22x /menit, S: 36,9 O C c. Diagnosis keperawatan Dirumuskan problem risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung dengan etiologi peningkatan afterload vasokontriksi, sehingga dapat ditegakkan diagnosa keperawatan risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload vasokontriksi. d. Rencana keperawatan Berdasarkan diagnosa keperawatan yang ditegakkan maka tujuan yang ingin dicapai yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan curah jantung dapat adekuat dengan kriteria hasil: menurunnya tekanan darah (120-1 mmhg), akral hangat, nadi kuat dan teratur, suara napas bersih dan teratur, memberikan keadaan rileks, menurunkan ketegangan otot, untuk mengatasi masalah tersebut tindakan yang akan dilakukan adalah melatih subjek untuk melakukan terapi relaksasi otot progresif. Tindakan ini akan dilakukan satu kali sehari dalam waktu 25 menit selama 3 hari. e. Pelaksanaan keperawatan 1) Subjek 1 batuk, pusing dan pandangan kabur, subjek ISSN (Print) (On Line) - ijmsbm.org 80 tampak gelisah, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek memegangi bagian kepala, TTV: TD: 160/100 mmhg, N: 88x/menit, R: 22x/menit, S: 37 O C. batuk berkurang, tidak pusing dan pandangan kabur berkurang, gelisah berkurang, ekstremitas atas dan bawah hangat, TTV: TD: 130/90 mmhg, N: 88x/menit, R: 24x/menit, S: 36,5 O C. Pelaksanaan tindakan ketiga melatih batuk berkurang, tidak pusing dan pandangan tidak kabur, tidak gelisah, ekstremitas atas dan bawah hangat, TTV: TD: 120/90 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 36,9 O C. 2) Subjek 2 pegal pada leher, jantung berdebar-debar, merasa letih jika melakukan pekerjaan yang berat, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tampak gelisah, subjek tampak letih, TTV: TD: 1/90 mmhg, N: 88x /menit, R: 24 x/menit, S: 37,5 O C. pegal pada leher berkurang, jantung tidak berdebar-debar, tidak merasa letih, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tidak gelisah, TTV: TD: 130/80 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 37 O C. Pelaksanaan tindakan ketiga melatih sudah tidak pegal pada leher, jantung tidak berdebar-debar, tidak merasa letih, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak gelisah, TTV: TD: 120/90 mmhg, N: 84x/menit,R: 22x/menit, S: 36,9 O C. 3) Subjek 3 subjek mengatakan pusing dan pandangan kabur, subjek tampak gelisah, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek memegangi bagian kepala, TTV: TD: 150/90 mmhg, N: 88x/menit,R: 24x/menit, S: 37,5 O C. subjek mengatakan tidak pusing dan pandangan kabur berkurang, subjek tampak gelisah, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak memegangi bagian kepala lagi, TTV: TD: 130/90 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 36,5 O C. subjek mengatakan sudah tidak pusing dan pandangan tidak kabur, subjek tidak gelisah, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak memegangi bagian kepala lagi, TTV: TD: 120/80 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 36,5 O C. 4) Subjek 4 mengatakan pegal pada leher, jantung berdebar-debar dan merasa letih ketika mengerjakan sesuatu dengan tergesagesa, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tampak gelisah, subjek tampak letih, TTV: TD: 170/100 mmhg, N: 88x/menit, R: 24x/menit, S: 36,5 O C. mengatakan pegal pada leher berkurang, jantung tidak berdebar-debar, subjek masih merasa letih, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak gelisah, subjek tampak letih, TTV: TD: 130/90 mmhg, N: 84x/menit, R: 20x/menit, S: 36,9 O C. Pelaksanaan tindakan ketiga melatih mengatakan sudah tidak pegal pada leher, jantung tidak berdebar-debar, subjek tidak letih, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak gelisah, TTV: TD: 130/80 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 37,5 O C. 5) Subjek 5 mengatakan pusing dan pegal pada leher, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tampak gelisah, TTV: TD: 150/100 mmhg, N: 88x/menit, R: 22x/menit, S: 36,9 O C. mengatakan pusing berkurang dan pegal pada leher, ekstremitas atas dan bawah dingin dan pucat, subjek tidak gelisah, TTV: TD: 130/90 mmhg, N: 88x/menit, R: 24x/menit, S: 37,2 O C. ISSN (Print) (On Line) - ijmsbm.org 81 Pelaksanaan tindakan ketiga melatih mengatakan tidak pusing dan tidak pegal pada leher, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak gelisah, 130/90 mmhg, N: 84x/menit, R: 20x/menit, S: 37,5 O C. f. Evaluasi keperawatan 1) Subjek 1 mengatakan batuk berkurang, pusing hilang dan pandangan tidak kabur, tidak gelisah, ekstremitas atas dan bawah hangat, TTV: TD: 120/90 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 36,9 O C. 2) Subjek 2 mengatakan sudah tidak pegal pada leher, jantung tidak berdebar-debar, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak gelisah, subjek tidak letih, TTV: TD: 120/90 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 36,9 O C. 3) Subjek 3 mengatakan pusing hilang dan pandangan tidak kabur, subjek tidak gelisah, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak memegang bagian kepala lagi, TTV: TD: 120/80 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 36,5 O C. 4) Subjek 4 mengatakan sudah tidak pegal pada leher dan jantung tidak berdebardebar, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak gelisah, subjek tidak letih, TTV: TD: 130/80 mmhg, N: 84x/menit, R: 22x/menit, S: 37,5 O C. 5) Subjek 5 mengatakan pusing hilang dan tidak pegal pada leher, ekstremitas atas dan bawah hangat, subjek tidak gelisah, 130/90 mmhg, N: 84x/menit, R: 20x/menit, S: 37,5 O C. Berdasarkan hasil evaluasi dari 5 subjek dapat disimpulkan masalah teratasi maka rencana tindakan dihentikan. IV. PEMBAHASAN 1. Pengkajian keperawatan Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan. Pengkajian yang sistematis dalam keperawatan dibagi dalam empat tahap kegiatan, yang meliputi; pengumpulan data, analisis data, sistematika data dan penentuan masalah (Dermawan, 2012). Tujuan dari pengkajian adalah untuk memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan klien, untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien, untuk menilai keadaan kesehatan klien, untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah-langkah berikutnya (Dermawan, 2012). Berdasarkan hasil pengkajian yang didapatkan, penulis memperoleh data mengenai umur subjek, ada 3 subjek yang berumur tahun dan 2 subjek tahun, seperti yang dikemukakan oleh Rahajeng (2009) tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur, disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi kaku, sebagai akibat adalah meningkatnya tekanan darah sistolik. Menurut Sucipto (2014) seiring bertambahnya usia, seseorang akan mengalami perubahan struktural dan fungsional dalam tubuhnya dan salah satunya mengalami kerusakan struktural dan fungsional pada aorta, yaitu arteri besar yang membawa darah dari jantung, yang menyebabkan semakin parahnya pengerasan pembuluh darah dan semakin tingginya tekanan darah sehingga menyebabkan seseorang mengalami hipertensi. Berdasarkan hasil pengkajian yang didapatkan dari jenis kelamin, 3 subjek berjenis kelamin laki-laki dan 2 subjek berjenis kelamin perempuan yang memiliki penyakit hipertensi. Menurut Rahajeng (2009) pria lebih banyak mengalami kemungkinan hipertensi daripada wanita, seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok dan konsumsi alkohol), depresi dan rendahnya status pekerjaan, perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran. Hasil pengkajian yang didapatkan dari pendidikan, 2 subjek berpendidikan SD dan 3 subjek berpendidikan SMP. Menurut Rahajeng (2009) dari faktor pendidikan adanya pengaruh terhadap kesehatan. Orang yang berpendidikan rendah berkaitan dengan rendahnya kesadaran untuk berperilaku hidup sehat dan rendahnya akses terhadap sarana pelayanan kesehatan. Hasil menunjukkan 5 subjek didapatkan pengkajian tentang tekanan darah yang berbeda-beda dari 150/90-180/100 mmhg. Menurut Udjianti (2013) tekanan darah tinggi yang dialami seseorang adalah hasil awal dari peningkatan curah jantung yang kemudian dipertahankan pada tingkat yang lebih tinggi sebagai suatu timbal balik peningkatan tahanan perifer. Berdasarkan hasil pengkajian riwayat keluarga pada 5 subjek, hanya ada 1 subj
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks