Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Model Discovery Learning Pada Konsep Klasifikasi Makluk Hidup

Please download to get full document.

View again

of 8
19 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Jurnal Pendidikan Hayati ISSN : Vol.3 No.4 (2017) : Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Model Discovery Learning Bambang Wiji Prayitno 1, Dr. Hj. Rezky Nefianthi Dian W., M.Si 1 1. Program
Document Share
Document Transcript
Jurnal Pendidikan Hayati ISSN : Vol.3 No.4 (2017) : Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Model Discovery Learning Bambang Wiji Prayitno 1, Dr. Hj. Rezky Nefianthi Dian W., M.Si 1 1. Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmasin ( ) ( ) ABSTRAK Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran IPA Terpadu Kelas VIIA SMP Negeri 4 Kandangan, bahwa hasil belajar siswa secara klasikal pada tahun ajaran 2015/2016 masih belum memenuhi kriteria ketuntasan minimum yaitu 75%. Ketuntasan klasikal untuk materi IPA Terpadu hannya 62,5% dengan ketuntasan minimum yang ditetapkan sekolah tersebut yaitu 75. Alternatif yang mungkin dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan siswa terhadap pembelajaran pada konsep Klasifikasi Makhluk Hidup dengan menggunakan model Discovery Learning. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dan tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Kandangan yang berjumlah 14 orang. Teknik pengumpulan data untuk keaktifan diperoleh dari obsevasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar siswa dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa siklus I 58,92 dengan kategori cukup meningkat menjadi 85,93 pada siklus II dengan kategori baik. Publised Desember 2017 PENDAHULUAN Salah satu permasalahan pendidikan yang menjadi prioritas untuk dicari pemecahannya adalah kualitas pendidikan, khususnya kualitas pembelajaran. Dari berbagai kondisi dan potensi yang ada, upaya yang dapat dilakukan berkenaan dengan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah adalah mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang berkelanjutan. Kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini berarti bahwa pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara profesional. Setiap kegiatan pembelajaran selalu melibatkan dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pencipta kondisi belajar yang didesain secara sengaja, sistematis, dan berkesinambungan. Sedangkan siswa sebagai peserta didik merupakan pihak yang menikmati kondisi yang diciptakan oleh guru. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini melahirkan interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan ajar sebagai mediumnya. Pada kegiatan 136 Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Model Discovery Learning pembelajaran, guru dan siswa saling mempengaruhi dan memberi masukan. Karena itulah kegiatan pembelajaran harus menjadi aktivitas yang hidup, sarat nilai, dan senantiasa memiliki tujuan yang jelas. Selama ini guru cenderung menggunakan model pembelajaran lama yang tidak dianjurkan oleh Pemerintah seperti metode ceramah yang memerlukan peran dominan dari guru sementara siswa cenderung pasif karena mereka hanya menerima pelajaran tanpa dilibatkan secara penuh dan tidak diberi kesempatan untuk menalar dan memecahkan masalah sendiri. Siswa yang pasif berpengaruh besar dan berdampak langsung terhadap buruknya hasil belajar yang diperoleh siswa dalam pembelajaran pada konsep Klasifikasi Makhluk Hidup. METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yaitu kajian yang bersifat reflektif untuk meningkatkan kemampuan rasional, memperdalam pemahaman, serta memperbaiki kondisi pembelajaran di kelas. Kunandar (2012: 45-46) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif atau pastisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam suatu siklus. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk kegiatan refleksi diri yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam suatu kondisi kependidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang: (a) praktikpraktik kependidikan mereka, (b) pemahaman mereka tentang praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di mana praktik-praktik tersebut dilaksanakan. Penelitian tindakan kelas adalah upaya guru dalam memperbaiki mutu proses belajar-mengajar, yang akan berdampak pada hasil pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam pelaporan penelitian tindakan kelas harus tampak adanya perbaikan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya (Arikunto, dkk. 2015: 196). Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Hal ini terjadi karena kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri, di kelas sendiri, dengan melibatkan siswa-siswanya sendiri melalui tindakan yang direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi guru sendiri. Dengan demikian diperoleh umpan balik yang sistematis mengenai apa yang selama ini dilakukan dalam kegiatan belajar-mengajar (Arikunto, dkk. 2015: 192) Di samping itu, dapat dibuktikan suatu teori belajar-mengajar untuk diterapkan dengan baik di kelas yang ia tekuni. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelasnya, melalui penelitian tindakan kelas seorang guru dapat mengadaptasi teori lain untuk kepentingan proses/produk belajar yang lebih efektif, optimal, dan fungsional. Artinya, guru selalu dituntut untuk berjiwa kreatif dan inovatif dalam kegiatan pembelajaran. Guru yang kreatif tidak akan menyerah dalam menghadapi persoalan pembelajaran (Arikunto, dkk. 2015: 192). 137 Bambang, Rezky Nefianthi Dian / Jurnal Pendidikan Hayati Vol.3 No.4 (2017) : Penelitian tindakan kelas berfokus pada kelas atau proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) atau pun output (hasil belajar). Penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenai halhal yang terjadi di dalam kelas. Pengertian kelas dalam penelitian tindakan kelas tidak hanya terbatas pada kelas yang sedang aktif melangsungkan proses belajar mengajar di dalam suatu ruang tertutup saja, tetapi juga dapat terjadi ketika siswa sedang melaksanakan aktivitas di luar kelas, seperti ketika siswa sedang karya wisata (study tour), di laboratorium, di kebun, di masyarakat dan berbagai tempat lainnya (Kunandar, 2012: 66). Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dan setiap siklus dilaksanakan dalam 2 kali pembelajaran, sehingga untuk 2 siklus terdapat 4 kali pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan setelah siklus I selesai merupakan diagnosa kemampuan siswa dalam memahami konsep Klasifikasi Makhluk Hidup serta perbaikan untuk siklus berikutnya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Kandangan dengan jumlah siswa sebanyak 14 orang yang terdiri dari 8 orang siswa laki-laki dan 6 orang siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan kurang lebih 4 bulan yaitu dimulai dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2016 dan bertempat di SMP Negeri 4 Kandangan yang beralamat di Jalan Batuah No. 33 Desa Tibung Raya Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan. Setiap pertemuan dilakukan pengamatan untuk mengetahui perkembangan keaktifan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada saat pengamatan berupa lembar observasi keaktifan siswa. Keaktifan siswa dikatakan baik apabila mendapatkan nilai 75. Teknik analisis data berupa data kualitatif, dianalisis dengan menggunakan rumus: Keaktifan belajar siswa = Jumlah Skor Perolehan Skor Maksimal x 100 Kemudian dikategorikan sesuai KKM dan diklasifikasi menjadi: Nilai Keaktifan Siswa Kategori Sangat Baik Baik Cukup 55 Kurang (Sumber: Adaptasi dari Panduan Penilaian SMP Permendikbud No. 53 Tahun 2015) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan keaktifan siswa pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 1. berikut. Tabel 1. Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus I Siklus I No Aspek yang Diamati Pertemuan 1 2 Rata-rata 1 Terlibat dalam melaksanakan tugas belajarnya 57,14 62,5 59,82 2 Terlibat dalam pemecahan masalah 53,57 57,14 55,35 3 Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru 55,36 58,93 57,14 138 Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Model Discovery Learning 4 Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya 58,93 67,86 63,39 Nilai Rata-rata 56,25 61,60 58,92 Kategori C C C Hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus I dapat disajikan dalam bentuk grafik pada Gambar 1. berikut Melaksanakan tugas belajarnya Memecahkan masalah Berdiskusi sesuai petunjuk guru Bertanya apabila tidak mengerti Gambar 1. Grafik Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus I Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-rata Pada siklus I pertemuan 1 keaktifan siswa dalam proses pembelajaran memperoleh nilai 56,25 dengan kategori Cukup dan pertemuan 2 memperoleh nilai 61,60 dengan kategori cukup. Tabel 2. Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus II Siklus II No Aspek yang Diamati Pertemuan 1 2 Rata-rata 1 Terlibat dalam melaksanakan tugas belajarnya 80,36 96,43 88,39 2 Terlibat dalam pemecahan masalah 75 89,28 82,14 3 Melaksanakan diskusi sesuai petunjuk guru 76,78 91,07 83,92 4 Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya 80,36 98,21 89,28 Nilai Rata-rata 78,12 93,75 85,93 Kategori B A B Hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus II dapat disajikan dalam bentuk grafik pada Gambar 2. berikut Melaksanakan tugas belajarnya Memecahkan masalah Berdiskusi sesuai petunjuk guru Bertanya apabila tidak mengerti Pertemuan 1 Pertemuan 2 Gambar 2. Grafik Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus II 139 Bambang, Rezky Nefianthi Dian / Jurnal Pendidikan Hayati Vol.3 No.4 (2017) : Pada siklus II pertemuan 1 keaktifan siswa dalam proses pembelajaran memperoleh nilai 78,12 dengan kategori Baik dan pertemuan 2 memperoleh nilai 93,75 dengan kategori Sangat Baik. HASIL dan PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa penggunaan model Discovery Learning dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran pada konsep klasifikasi makhluk hidup. Rata-rata keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA pada siklus I masih dalam kategori cukup, hal ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa belum maksimal dan masih jauh dari kriteria ketuntasan minimum sekolah yang bersangkutan. Pada siklus I pertemuan 1 siswa mengalami kesulitan dalam berdiskusi dan memecahkan masalah dalam LKS dan LP. proses sehingga peneliti harus turun tangan memberikan bimbingan. Hal ini wajar terjadi karena pada pertemuan 1 siswa masih belum terbiasa untuk terlibat aktif secara penuh, dan kurangnya kepercayaan diri sebagian siswa yang cukup menjadi kendala dalam kegiatan pembelajaran. Kendala-kendala itu perlu penanganan yang baik, penuh kesungguhan dan berkelanjutan. Agar kesadaran akan potensi, eksistensi, dan percaya diri pada diri siswa dapat terus tumbuh, maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berjalan dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu (individual learning). Gunanya agar kemampuan individu, pendapat atau gagasan, maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. Selain itu, yang penting lagi adalah guru harus rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para siswa antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi, mengajak siswa yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan, memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya. Jika guru memahami prinsip perbedaan individu ini, maka guru akan menggunakan multimetode dan multimedia, agar semua interest siswa merasa terwakili (Rusman 2010: 112). Hal ini karena ada siswa yang tipenya auditif, yaitu senang mendengarkan penjelasan dari guru. Selain itu, ada siswa yang tipenya visual, yaitu senang melihat media yang digunakan oleh guru, dan ada siswa yang tipenya kinestetis, yaitu senangnya malakukan seperti metode demonstrasi dan sebagainya. Jadi idealnya guru harus mampu menyentuh interest siswa (Rusman 2010: 112). Jika di dalam kegiatan pembelajaran telah tersedia fasilitas, media, dan sumber belajar yang menarik dan cukup untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar, maka hal itu juga akan menumbuhkan semangat belajar siswa. Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi yang juga penting untuk diperhatikan, jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar (Rusman 2010: 112). Rata-rata keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA pada siklus II termasuk kategori baik, hal ini menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa sudah maksimal dan telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian dan kriteria ketuntasan minimum sekolah yang bersangkutan. Pada siklus II pertemuan 1 keaktifan siswa sudah mulai menunjukkan peningkatan yang berarti karena semua aspek penilaian sudah termasuk dalam kategori baik, sementara pada pertemuan 2 keaktifan dalam berdiskusi dan memecahkan masalah dalam LKS dan Lembar Penilaian Proses sudah mengalami peningkatan dengan kategori sangat baik, sedangkan keaktifan 140 Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Model Discovery Learning dalam bertanya dan melaksanakan tugas belajarnya mengalami peningkatan yang paling tajam dan termasuk dalam kategori sangat baik. Keberhasilan penelitian pada siklus II ini berkat kerjasama yang baik semua pihak karena guru model, peneliti, observer, dan siswa saling mendukung satu sama lain. Selain itu selama proses pembelajaran guru dan peneliti bahu-membahu memberikan bimbingan kepada siswa sehingga mereka tanpa ragu-ragu untuk terlibat aktif secara penuh, karena setiap siswa mengalami kesulitan guru model selalu tanggap (responsif) serta memberikan bimbingan dengan tulus dan bijaksana. Keaktifan akan meningkat apabila siswa merasa diperhatikan dan dilibatkan secara penuh sehingga mereka dengan penuh kesadaran akan melibatkan diri dengan suka rela dan penuh percaya diri. Hal ini sangat menguntungkan karena dengan keaktifan yang tinggi tujuan pembelajaran akan tercapai dan hasil belajar akan meningkat. Selain itu dalam proses pembelajaran juga diperlukan penguatan yang diberikan oleh guru. Penguatan adalah pemberian respon dalam proses interaksi belajar-mengajar baik berupa pujian maupun sanksi. Pemberian penguatan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan keaktifan belajar siswa dan mencegah berulangnya kesalahan yang diperbuat oleh siswa. Penguatan yang bersifat positif dapat dilakukan dengan kata-kata seperti; Bagus sekali!, Tepat sekali!, Betul!, Hebat! dan sebagainya. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan gerak; acungan jempol, tepuk tangan, menepuk-nepuk bahu, menjabat tangan, manggut-manggut, dan lain-lain. Ada pula dengan memberi hadiah seperti hadiah buku, benda kenangan atau bahkan diberi hadiah khusus seperti siswa boleh pulang lebih cepat atau perlakuan menyenangkan lainnya (Rusman, 2010: 111). Sejalan dengan hal tersebut Rusman (2010: 111), berpendapat bahwa sikap guru tampil hangat, bersemangat, penuh percaya diri dan antusias, serta mempunyai pola pandang bahwa siswa adalah manusia-manusia cerdas berpotensi, merupakan faktor penting yang akan neningkatkan partisipasi aktif siswa. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para siswanya. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat, maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri siswa. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses pembelajaran, serta dapat meyakinkan bahwa materi pembelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi siswa, sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri siswa yang bersangkutan. Pembelajaran aktif merupakan pendekatan yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti mengananlisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan mengharapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran aktif memiliki persamaan dengan model pembelajaran self Discovery Learning, yakni pembelajaran yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan kesimpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (Rusman, 2010: 324). Dalam pembelajaran aktif, guru lebih banyak memposisiskan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate of 141 Bambang, Rezky Nefianthi Dian / Jurnal Pendidikan Hayati Vol.3 No.4 (2017) : learning) kepada siswa. Siswa terlibat secara aktif dan berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran (Rusman, 2010: 324). Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning, yaitu siswa sedang melaksanakan diskusi sesuai petunjuk guru. Siswa telihat aktif dan penuh semangat dalam melaksanakan kegiatan yang dimaksudkan. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa Discovery Learning dapat meningkatkan keaktifan siswa. Hal ini terjadi karena pembelajaran yang menggunakan model Discovery Learning memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif menemukan jawaban atas konsepkonsep yang mereka pelajari. Meningkatnya keaktifan selama proses pembelajaran dipengaruhi oleh adanya stimulasi belajar yang semakin meningkat dan siswa semakin bersemangat dalam belajar karena siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri dengan cara melakukan praktik langsung dan menggali informasi dari pengalaman nyata serta membandingkan data dengan bahan-bahan materi. Sejalan dengan hal tersebut Hamiyah (2014: 269) menyatakan bahwa belajar adalah suatu tindakan sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan dalam diri mereka atas stimulasi lingkungan dan proses mental sehingga pengetahuannya bertambah. Hamiyah (2014: 3) juga menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri manusia. Apabila tidak terjadi perubahan dalam diri manusia setelah belajar, maka tidaklah dikatakan bahwa telah berlangsung proses belajar padanya. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang relatif permanen, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dan tidak terampil menjadi terampil, serta aspek-aspek lainnya. Akhirnya bila hakikat belajar adalah perubahan, maka hakikat belajar-mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru untuk memperoleh generasi yang berkualitas. Keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti siswa selalu terlibat, melibatkan diri secara sukarela, dan melaksanakan tugasnya tanpa harus diminta. Pada penelitian ini kriteria aktif jika hasil belajar menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelas yang menggunakan model Discovery Learning dengan kelas yang menggunakan metode ceramah dan metode konvensional lainnya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Discovery Learning lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa daripada pembelajaran dengan metode ceramah dan model pembelajaran lainnya. 142 Meningkatkan Keaktifan Siswa Dengan Model Discovery Learning DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi 2). Jakarta: PT. Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi Penelitian Tindakan Kelas (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Bumi Aksa
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks