Materi Kuliah Jumat, 08 Maret 2013 Al-'Urf

Please download to get full document.

View again

of 27
21 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Materi Kuliah Jumat, 08 Maret 2013 Al-'Urf
Document Share
Document Tags
Document Transcript
  Materi Kuliah  Jumat, 08 Maret 2013 Al-'Urf BAB I   PENDAHULUAN  A.   LATAR BELAKANG MASALAH  Konsep bahwa Islam sebagai agama wahyu yang mempunyai doktrin-doktrin ajaran tertentu yang harus diimani, juga tidak melepaskan perhatiannya terhadap kondisi masyarakat tertentu. Kearifan lokal (hukum) Islam tersebut ditunjukkan dengan beberapa ketentuan hukum dalam al- Qur‟an  yang merupakan pelestarian terhadap tradisi masyarakat pra-Islam.Seiring  pertumbuhan jaman yang begitu pesat tidak dapat di hindari bahwa tradisi-tradisi masyarakat Indonesia telah banyak berubah dan terpengaruh oleh kemajuan zaman.untuk mendefinisikan  Al-Urf   dari sisi ini lebih dulu mengetahui definisi masing-masing dari dua kata yang membentuknya.Kemudian apa yang dimaksud dengan  Al-Urf   adalah gabungan dari arti bahasa tersebut. S. Waqar Ahmed Husaini mengemukakan, Islam sangat memperhatikan tradisi dan konvensi masyarakat untuk dijadikan sumber bagi jurisprudensi hukum Islam dengan  penyempurnaan dan batasan-batasan tertentu. Prinsip demikian terus dijalankan oleh Nabi Muhammad saw. Kebijakan-kebijakan beliau yang berkaitan dengan hukum yang tertuang dalam sunnahnya banyak mencerminkan kearifan beliau terhadap tradisi-tradisi para sahabat atau masyarakat. Sehingga sangatlah penting bagi umat muslim untuk mengetahui serta mengamalkan salah satu metode Ushl Fiqh  untuk meng-  Istimbath  setiap permasalahan dalam kehidupan masyarakat yang tumbuh seiring jaman. B.   RUMUSAN MASALAH  1.   Apa pengertian serta macam-macam  Al-Urf ?  2.   Bagaimana Kedudukan  Al-Urf   dalam hujjah untuk menentukan hokum?  3.   Apa saja syarat-syarat al-Urf dalam Hujjah untuk menentukan hokum? C.   TUJUAN  Mahasiswa mampu untuk mengambil salah satu istinbath hokum dalam pemecahan masalah yang timbul dalam masyarakat pada umumnya. D.   MANFAAT  Berdasar pada rumusan masalah diatas diharapkan di dalam menyikapi kemajuan zaman kita sebagai umat muslim Indonesia mampu untuk menjadi solutif dan selektif dalam menyikapi adat istiadat atau budaya masyarakat di Indonesia yang beraneka ragam diantaranya ada suku  jawa, batak, Madura dan lain sebagainya. dengan dasar hokum yang jelas dan kuat kita bisa mengambil keputusan dengan bijak dan menjadi mahasiswa yang solutif di dalam kehidupan  bermasyarakat. BAB II   PEMBAHASAN   A.   PENGERTIAN Al-Urf (ADAT ISTIADAT)  Kata Urf secara etimologi berarti ―sesuatu yang dipandang baik dan diterima oleh akal sehat‖.  Al-urf (  adat istiadat  )  yaitu sesuatu yang sudah diyakini mayoritas orang, baik berupa ucapan atau perbuatan yang sudah berulang-ulang sehingga tertanam dalam jiwa dan diterima oleh akal mereka.[1] Secara terminology Abdul- Karim Zaidan, Istilah ‗ urf   berarti : 1 ―Sesuatu yang tidak asing lagi bagi satu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan atau perkataan‖ [2]  Menurut Ulama‘ ‗Usuliyyin Urf   adalah 2 ―Apa yang bisa dimengerti oleh manusia (sekelompok manusia) dan mereka jalankan, baik  berupa per   buatan, perkataan, atau meninggalkan‖. [3]  Al-Urf   adalah apa yang dikenal oleh manusia dan menjadi tradisinya; baik ucapan, perbuatan atau pantangan-pantangan, dan disebut  juga adat, menurut istilah ahli syara‘,tidak ada perbedaan antara al-urf   dan adat istiadat.[4]  Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1.   Adat harus terbentuk dari sebuah perbuatan yang sering dilakukan orang banyak (masyarakat) dengan berbagai latar belakang dan golongan secara terus menerus, dan dengan kebiasaan ini, ia menjadi sebuah tradisi dan diterima oleh akal pikiran mereka. dengan kata lain, kebiasaan tersebut merupakan adat kolektif dan lebih kusus dari hanya sekedar adat biasa karena adat dapat  berupa adat individu dan adat kolektif.  2.   Adat berbeda denga n ijma‘. Adat kebiasaan lahir dari sebuah kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang yang terdiri dari berbagai status social, sedangkan ijma‘ harus lahir dari kesepakatan  para ulama mujtahid secara khusus dan bukan orang awam. dikarenakan adat istiadat berbeda dengan ijma‘ maka legalitas adat terbatas pada orang -orang yang memang sudah terbiasa dengan hal itu, dan tidak menyebar kepada orang lain yang tidak pernah melakukan hal tersebut, baik yang hidup satu zaman dengan mereka atau tidak. adapun ijma‘ men  jadi hujjah kepada semua orang dengan berbagai golongan yang ada pada zaman itu atau sesudahnya sampai hari ini. 3.   Adat terbagi menjadi dua kategori; ucapan dan perbuatan. Adat berupa ucapan misalnya adalah  penggunaan kata walad   hanya untuk anak laki-laki, padahal secara bahasa mencakup anak laki- laki dan perempuan dan inilah bahasa yang digunakan al_Quran, ―Allah mensyari‘atkan bagimu tentang anak-anakmu. Yaitu: Bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak  peremp uan‖(QS. An -  Nisa‘(4):11). Sedangkan adat berupa perbuatan adalah setiap perbuatan yang sudah biasa dilakukan orang, seperti dalam hal jual beli, mereka cukup dengan cara mu‟athah  (Take and Give) tanpa ada ucapan, juga kebiasaan orang mendahulukan sebagian mahar dan menunda sisanya sampai waktu yang disepakati.[5]  B.   MACAM-MACAM Al-Urf     Al-Urf   (adat) itu ada dua macam : Adat yang benar dan adat yang rusak. adat yang benar adalah kebiasaan yang dilakukan manusia, tidak bertentangan dengan dalil syara‘, tidak meghalalkan yang haram dan tidak membatalkan kewajiban.seperti adat meminta pekerjaan, adat membagi mas kawin menjadi dua; didahulukan dan di akhirkan, adat seorang istri tidak berbulan madu kecuali telah menerima sebagian mas kawin dari suaminya.sedangkan adat yang rusak adalah kebiasaan yang dilakukan oleh manusia tetapi bertentangan dengan dengan syara‘, menghalalkan yang haram, atau membatalkan kewajiban. seperti banyak kebiasaan mungkar  pada saat menghadapi kelahiran, ditempat kematian, serta kebiasaan memakan barang riba‘ dan akad perjudian.[6]  Menurut Abdul-karim zaidan membedakan  Al-Urf   menjadi dua macam : 1.   al-Urf al- „Am (Adat kebiasaan umum), yaitu adat kebiasaan mayoritas dari berbagai negri di satu masa. contoh adat yang berlaku di beberapa negri dalam memaka i ungkapan ― engkau telah haram aku gauli”  kepada istrinya sebagai ungkapan untuk menjatuhkan talak istrinya itu, dan kebiasaan menyewa kamar mandi umum dengan sewa tertentu tanpa menentukan secara pasti  berapa lamanya mandi dan berapa kadar air yang digunakan. 2.   al-Urf al-Khas (Adat kebiasaan khusus), yaitu adat istiadat yang berlaku pada masyarakat negri tertentu. misalnya, kebiasaan masyarakat Irak dalam menggunakan kata al-dabbah  hanya kepada kuda, dan menganggap catatan jual beli yang berada pada pihak penjual sebagai bukti yang syah dalam masalah utang piutang.[7]  C.   KEDUDUKAN al-Urf DALAM SUMBER HUKUM  Jumhur  fuqaha‟   mengatakan bahwa al-Urf   merupakan hujjah  dan dianggap sebagai salah satu sumber hokum syariat. mereka bersandar pada dalil-dalil sebagai berikut: 1.   Firman Allah SWT: 3  ―Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpaling lah daripada orang- orang yang bodoh .‖(QS.Al - A‘Raf(7):199).  Kata al-urfi dalam ayat tersebut, dimana umat manusia disuruh mengerjakanmya, oleh para ulama‘ Ushul Fiqh dipahami sebagai sesuatu yang baik dan telah menjadi kebiasaan masyarakat.  2.   Didalam hadist Rosulullah SAW. 4. “ Sesuatu yang dianggap oleh orang muslim itu baik maka Allah menganggap perkara itu baik  pula‖  yang dimaksud hadist tersebut adalah semua perbuatan yang terjadi di masyarakat tertentu apabila yang menilai adalah seorang mukmin sejati dan dinilai baik suatu perbuatan tersebut maka perbuatan tersebut dianggap baik pula oleh Allah SWT. 3.   Syariat Islam sangat memperhatikan aspek kebiaaan orang arab dalam menetapkan hokum. semua ditetapkan demi mewujudkan kemaslahatan bagi khalayak ramai, seperti akad salam dan mewajibkan denda kepada pembunuh yang tidak disengaja. selain itu, islam juga telah membatalkan beberapa tradisi buruk yang membahayakan, seperti mengubur anak perempuan dan menjauhkan kaum wanita dari harta warisan. semua ini adalah bukti nyata bahwa syariat islam mengakui keberadaan adat istiadat yang baik .[8]  4.   Syariat Islam memiliki prinsip menghilangkan segala kesusahan dan memudahkan urusan manusia dan mewajibkan orang untuk meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi adat kebiasaan mereka karena sama artinya dengan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesulitan. Sebagaimana Firman Allah SWT: 5 ― Dan Dia sekali- kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan‖(QS. Al -Hajj(22):78) 5.   Pada dasarnya, syariat islam dari masa awal banyak menampung dan mengakui adat atau tradisi yang baik dalam masyarakat selama tradisi itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah .Kedatangan Islam bukan menghapuskan sama sekali tradisi yang telah menyatu dengan masyarakat.tetapi secara selektif ada yang diakui dan dilestarikan serta adapula yang dihapuskan. D.   SYARAT-SYARAT al-  ‘Urf   Sebagian besar ulama yang menggunakan Urf   sebagai hujjah, memberikan syarat-syarat tertentu dalam menggunakan al-Urf   sebagai sumber hokum, diantaranya adalah sebagai berikut: 1.   Tidak bertentangan dengan al-Quran atau As-SUnnah. jika bertentangan, seperti kebiasaan orang minum khamer, riba,berjudi, dan jual beli  gharar   (ada penipuan) dan yang lainnya maka tidak  boleh diterapkan. 2.   Adat kebiasaan tersebut sudah menjadi tradisi dalam muamalat mereka, atau pada sebagian  besarnya. jika hanya dilakukan dalam tempo tertentu atau hanya beberapa individu maka hal itu tidak dapat dijadikan sumber hokum 3.   Tidak ada kesepakatan sebelumnya tentang penentangan terhadap adat tersebut. jika adat suatu negri mendahulukan sebagai mahar dan menunda sebagainya, namun kedua calon suami istri sepakat untuk membayarnya secara tunai lalu keduanya berselisih pendapat, maka yang menjadi  patokan adalah apa yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak, karena tidak ada arti bagi sebuah adat kebiasaan yang sudah didahului oleh sebuah kesepakatan untuk menentangnya.  4.   Adat istiadat tersebut masih dilakukan oleh orang ketika kejadian itu berlangsung. adat lama yang sudah ditinggalkan orang sebelum permasalahan muncul tidak dapat digunakan, sama seperti adat yang baru lahir setelah permasalahannya muncul.[9]  Abdul-Karim Zaidan Menyebutkan beberapa persyaratan bagi Urf   yang bisa dijadikan landasan hokum yaitu: 1.   Urf    itu harus termasuk ‗ urf   yang shahih dalam arti tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah. 2.   Urf   itu harus bersifat umum, dalam arti minimal telah menjadi kebiasaan mayoritas penduduk negri itu. 3.   „Urf   itu harus sudah ada ketika terjadinya suatu peristiwa yang akan dilandaskan kepada urf   itu. 4.   Tidak ada ketegasan dari pihak-pihak terkait yang berl ainan dengan kehendak ‗ Urf   tersebut, sebab jika kedua belah pihak yang berakad telah sepakat untuk tidak terikat dengan kebiasaan yang berlaku umum, maka yang dipegang adalah ketegasan itu, bukan‘ Urf . [10]    E.   PANDANGAN ULAMA DALAM al-Urf   Berikut adalah praktek-praktek ‟Urf dalam masing-masing mahzab: 1.Fiqh Hanafy  a.   Dalam akad jual beli. Seperti standar harga, jual beli rumah yang meliputi bangunanya meskipun tidak disebutkan.  b.   Bolehnya jual beli buah yang masih dipohon karena ‟urf  . c.   Bolehnya mengolah lahan pertanian orang lain tanpa izin jika di daerah tersebut ada kebiasaan  bahwa lehan pertanian digarap oleh orang lain, maka pemiliknya bisa meminta bagian. d.   Bolehnya mudharib mengelola harta shahibul maal dalam segala hal menjadi kebiasaan para  pedagang. e.   Menyewa rumah meskipun tidak dijelaskan tujuan penggunaaannya 2.Fiqh Maliki  a.   Bolehnya jual beli barang dengan menunjukkan sample  b.   Pembagian nisbah antara mudharib dan sahibul maal berdasarkan ‟urf  jika terjadi perselisihan 3.Fiqh Syafi’i  a.   Batasan penyimpanan barang yang dianggap pencurian yang wajib potong tangan  b.   Akad sewa atas alat transportasi c.   Akad sewa atas ternak d.   Akad istishna 4.Fiqh Hanbali  a.   Jual beli mu‟thah  Para ulama sepakat bahwa „urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah. Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks