MASKULINISASI IKAN NILA MELALUI PERENDAMAN LARVA PADA SUHU 36 C DAN PENGUKURAN RESIDU 17α-METILTESTOSTERON MEGA DISSA AFPRIYANINGRUM

Please download to get full document.

View again

of 35
183 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
MASKULINISASI IKAN NILA MELALUI PERENDAMAN LARVA PADA SUHU 36 C DAN PENGUKURAN RESIDU 17α-METILTESTOSTERON MEGA DISSA AFPRIYANINGRUM SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016 PERNYATAAN
Document Share
Document Transcript
MASKULINISASI IKAN NILA MELALUI PERENDAMAN LARVA PADA SUHU 36 C DAN PENGUKURAN RESIDU 17α-METILTESTOSTERON MEGA DISSA AFPRIYANINGRUM SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul maskulinisasi ikan nila melalui perendaman larva pada suhu 36 C dan pengukuran residu 17αmetiltestosteron adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Desember 2016 Mega Dissa Afpriyaningrum NIM C RINGKASAN MEGA DISSA AFPRIYANINGRUM. Maskulinisasi ikan nila melalui perendaman larva pada suhu 36 C dan pengukuran residu 17α-metiltestosteron Dibimbing oleh DINAR TRI SOELISTYOWATI dan ALIMUDDIN. Ikan nila memiliki sifat dimorfisme kelamin, yaitu ikan jantan memiliki pertumbuhan lebih cepat dari pada ikan betina. Sifat ini akan sangat menguntungkan pembudidaya jika ikan nila dibudidayakan secara monoseks jantan. Monoseks jantan dapat dihasilkan dengan pembalikan kelamin menggunakan hormon 17α-metiltestosteron (MT) pada saat sebelum terjadi diferensiasi kelamin. Namun, pembatasan penggunaan hormon ini perlu dilakukan karena dampak yang ditimbulkan. Pembatasan tersebut berupa meminimalisasi dosis dengan kombinasi peningkatan suhu inkubasi. Induksi suhu dapat mempengaruhi ekspresi hormon yang mengarahkan diferensiasi kelamin menjadi jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan dosis minimum MT yang dikombinasikan dengan suhu 36 C dan lama perendaman terhadap efektivitas pengarahan kelamin jantan pada ikan nila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua kombinasi perlakuan, yakni suhu dan lama perendaman. Suhu yang digunakan ialah suhu 26 C dan 36 C, sedangkan lama perendaman dilakukan selama 2 dan 4 jam. Sebanyak 300 ekor larva umur 10 hari pascatetas direndam dalam satu liter larutan MT dosis 2 mg/l. Perendaman dilakukan dalam kantong plastik berukuran 30x50 cm 2 yang diisi dengan oksigen. Untuk perendaman suhu 36 C dilakukan di waterbath, sedangkan untuk suhu 26 C direndam di akuarium. Pemeriksaan konsentrasi MT di tubuh ikan dilakukan setelah perendaman, hari ke-30, hari ke- 60 dan hari ke-90. Parameter uji lainnya ialah nisbah kelamin jantan, konsentrasi glukosa darah, tingkat kelangsungan hidup, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin jantan berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol. Kombinasi lama perendaman MT dan suhu dapat meningkatkan kelamin jantan. Konsentrasi glukosa darah pada sebagian besar perlakuan berbeda nyata, sedangkan perlakuan pada suhu 26 C lama perendaman 2 jam tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan kontrol negatif. Tingkat kelangsungan hidup sesaat setelah perendaman berbeda nyata antara suhu 26 C dan suhu 36 C, sedangkan tingkat kelangsungan hidup selama pemeliharaan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Konsentrasi hormon MT di tubuh ikan setelah 30 hari menurun tajam dari 23,86-16,49 ng/g menjadi 2,72-3,93 ng/g dan setelah 90 hari menjadi 3,13-3,96 ng/g. Nilai pada hari ke-90 ini tidak berbeda dengan kontrol. Kata kunci: Alih kelamin, ikan nila, lama perendaman, suhu, 17αmetiltestosteron. SUMMARY MEGA DISSA AFPRIYANINGRUM. Masculinization of Nile Tilapia by Larva Immersion at 36 C and 17α-methyltestosterone Residual Measurement. Supervised by DINAR TRI SOELISTYOWATI and ALIMUDDIN. Tilapia has properties sex dimorphism, i.e males had faster growth rates than female fish. These properties will greatly benefit farmers if tilapia is cultivated in monosex males. Monosex male can be generated by sex reversal using the 17α-methyltestosterone (MT) hormone before sex is differentiated. However, restrictions on the use of this hormone is necessary because the impacts. The restrictions in the form of minimizing the dose to a combination of increased temperature incubation. Temperature induction can affect endogenous hormone level to drive sex differentiation to male. This study aimed to evaluate effectiveness of the use of the minimum dose of MT combined with different temperature and immersion time on sex reversal of tilapia. This study used a completely randomized factorial design with two treatment combination, namely incubation temperature and duration of immersion. The temperature used were 26 C and 36 C, while the dipping time was performed for 2 and 4 hours. A total of 300 ten-day-old larvae was immersed in one liter of MT solution at a dose of 2 mg/l. Immersion was performed using 30x50 cm 2 of packing plastic that has been filled with oxygen. Temperature of 36 C immersion is done in water bath, while the temperature 26 C immersed in an aquarium. Measurement of MT concentration is done after immersion, day 30, day 60 and day 90. Other test parameters, namely the male sex ratio, blood glucose consentration, survival rate, and water quality were also examined. The results showed that male sex ratio were significantly different between the treatment and control groups. MT immersion time with temperature combined can increase male sex ratio. Blood glucose concentrations at most of the treatment was significantly different whereas treatment at temperature 26 C, 2 hours immersion time was not significantly different when compare to the negative control. The survival rate shortly after immersion significantly different between temperature 26 C and a temperature of 36 C. While the survival rate for maintenance were not significantly different between treatments. MT hormone content in the body of the fish after 30 days dropped to ng/g until 2.72 to 3.93 ng/g and after 90 days be 3.13 to 3.96 ng/g. Values in the 90 days was not different from control. Keywords: Nile tilapia, long immersion, sex reversal, temperatures, 17αmethyltestosterone. Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB MASKULINISASI IKAN NILA MELALUI PERENDAMAN LARVA PADA SUHU 36 C DAN PENGUKURAN RESIDU 17α-METILTESTOSTERON MEGA DISSA AFPRIYANINGRUM Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Akuakultur SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Prof Dr Ir M Zairin Jr, MSc PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta ala atas segala karunia-nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Desember 2015 ini ialah sex reversal, dengan judul penelitian Maskulinisasi ikan nila melalui perendaman larva pada suhu 36 C dan pengukuran residu 17α-metiltestosteron. Pada Program Studi Ilmu Akuakultur, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Ibu Dr Ir Dinar Tri Soelistyowati, DEA dan Bapak Dr Alimuddin, SPi, MSc selaku dosen pembimbing serta Bapak Dian Hardyantho, SPi, MSi selaku pembimbing lapang atas waktu, arahan, kesabaran, nasehat, serta semangat yang telah diberikan hingga tesis ini dapat terselesaikan. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Prof Dr Ir M Zairin Jr, MSc sebagai dosen penguji luar komisi dan Dr Ir Widanarni, MSi sebagai komisi program studi yang telah memberikan saran dalam ujian sidang tesis ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada orangtua tercinta, Bapak Sunarya dan Ibu Samidah yang telah tulus mendoakan, memberi kasih sayang serta semangat agar tidak mudah menyerah dan fokus dalam menyelesaikan studi. Selain itu kepada saudara saya Lucky Dian Wijayanti dan Mellinda Rizky Fahrizza serta keluarga besar yang telah memberikan doa dan semangat. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada seluruh dosen Program Studi Ilmu Akuakultur Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan seluruh pegawai BBPBAT Sukabumi khususnya di POKJA nila, laboratorium genetik dan laboratorium pakan dan residu yang telah memberikan saran kepada penulis. Terimakasih kepada rekan-rekan yang telah membantu selama penelitian serta memberikan masukan dan ide yang membangun yaitu Agung Luthfi Fauzan, Fadilla Maharani Putri, Deny Yunus Wijaya, M. Restya Naufal serta teman-teman mahasiswa Program Studi Ilmu Akuakultur Angkatan 2014 atas kebersamaan dan motivasinya selama menempuh studi. Akhir kata, semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk kemajuan ilmu pengetahuan umumnya dan perikanan khususnya. Bogor, Desember 2016 Mega Dissa Afpriyaningrum DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN 1 PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Perumusan Masalah 2 Tujuan Penelitian 2 Hipotesis 2 3 METODE 3 Waktu dan Tempat 3 Alih Kelamin Jantan 3 Identifikasi Nisbah Kelamin Jantan 4 Konsentrasi Glukosa Darah 4 Pengukuran Kadar Hormon 17-metiltestosteron pada Tubuh Ikan 4 Analisis kualitas air 4 Parameter Uji 5 Nisbah kelamin jantan 5 Konsentrasi glukosa darah 5 Tingkat kelangsungan hidup 5 Konsentrasi 17α-metiltestosteron dalam tubuh ikan 5 Analisis Data 6 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 6 Hasil 6 Nisbah kelamin jantan 6 Konsentrasi glukosa darah 6 Tingkat kelangsungan hidup 7 Konsentrasi 17α-metiltestosteron 8 Kualitas air 9 Pembahasan 9 xi xii xii 5 SIMPULAN DAN SARAN 11 Simpulan 11 Saran 11 DAFTAR PUSTAKA 11 LAMPIRAN 15 RIWAYAT HIDUP 23 DAFTAR TABEL 1 RAL dengan perlakuan suhu dan lama perendaman dalam MT pada alih kelamin ikan nila 3 2 Kualitas air 9 DAFTAR GAMBAR 1 Nisbah kelamin jantan yang direndam pada fase larva dalam air suhu berbeda dan mengandung hormon 17α-metiltestosteron, dengan lama waktu perendaman berbeda 6 2 Konsentrasi glukosa darah pada ikan nila sesaat setelah perendaman dalam air suhu 36 C ( ) dan 36 C ( ) mengandung hormon 17αmetiltestosteron serta K- (kontrol negatif ). 7 3 Tingkat kelangsungan hidup (TKH) ikan nila sesaat setelah perendaman yang direndam pada fase larva dalam air suhu berbeda, dan mengandung hormon 17α-metiltestosteron (MT), dengan lama waktu berbeda 7 4 Tingkat kelangsungan hidup (TKH) ikan nila selama dipelihara di akuarium (30 hari) yang direndam pada fase larva dalam air suhu berbeda, dan mengandung hormon 17α-metiltestosteron (MT), dengan lama waktu berbeda 8 5 Tingkat kelangsungan hidup (TKH) ikan nila selama dipelihara di kolam (90 hari) yang direndam pada fase larva dalam air suhu berbeda, dan mengandung hormon 17α-metiltestosteron (MT), dengan lama waktu berbeda 8 6 Konsentrasi residu 17α-metiltestosteron dalam tubuh ikan nila yang direndam pada fase larva dalam air suhu berbeda (26 C, dan 36 C) dan mengandung hormon 17α-metiltestosteron (MT), dengan lama waktu berbeda 8 DAFTAR LAMPIRAN 1 Prosedur analisis kadar glukosa darah menggunakan KIT Glucose GOD FS dari DiaSys International 16 2 Ekstraksi tubuh ikan nila 16 3 Hasil uji ANOVA 17 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Ikan nila Oreochromis niloticus merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang tumbuh cepat, mempunyai daya hidup tinggi dan mempunyai dimorfisme kelamin dimana pertumbuhan ikan nila jantan lebih cepat daripada ikan betina (Srisakultiew dan Komonrat 2013). Sifat tersebut mengarahkan untuk memelihara ikan nila dengan jenis kelamin jantan. Monoseks jantan pada ikan nila dapat memberikan pertumbuhan hampir dua kali lipat daripada ikan nila yang dibudidayakan secara campuran (Dagne et al. 2013), mengurangi reproduksi yang tidak terkontrol (Ferdous dan Ali 2011) dan menyeragamkan ukuran saat panen (Beardmore et al. 2001). Produksi monoseks jantan efektif dilakukan menggunakan hormon androgen yaitu 17α-metiltestosteron (Wassermann dan Afonso 2003, Megbowon dan Mojekwu 2014). Aplikasi hormon ini dapat dilakukan dengan perendaman, penyuntikan dan melalui pakan (Beardmore et al. 2001). Metode perendaman lebih efisien digunakan pada stadia larva. Larva direndam sebelum atau saat terjadi diferensiasi kelamin atau periode kritis, yaitu otak larva masih dalam keadaan bipotensial dalam mengarahkan pembentukan kelamin baik secara morfologi, tingkah laku maupun fungsi (Carman et al. 2008). Perendaman larva umur 14 hari menggunakan MT 1,8 mg/l selama 4 jam menghasilkan jantan sebanyak 91,6% (Wasserman dan Afonso 2003), sedangkan Srisakultiew dan Komonrat (2013) melakukan perendaman larva umur 10 hari menggunakan MT 0,5 mg/l selama 12 jam dapat menghasilkan jantan sebanyak 86,4%. Penggunaan 17α-metiltestosteron (MT) di Indonesia menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No: KEP.52/MEN/2014 telah dilarang karena potensi bahaya yang ditimbulkannya. Untuk menggantikan fungsi 17αmetiltestosteron beberapa peneliti telah mencari alternatif lain seperti penggunaan madu (Soelistyowati et al. 2007), propolis (Ariyanto et al. 2012), dan purwoceng (Arfah 2013). Hasil dari penggunaan bahan alami tersebut belum seefektif MT yang menghasilkan ikan jantan sebanyak 100% (Zairin et al. 2002), sehingga beberapa pembudidaya masih menggunakan MT karena efektivitas yang lebih baik. Dalam Internasional Standards for Resposible Tilapia Aquaculture, penggunaan metil dan etiltestosteron masih boleh dipergunakan (WWF 2009). Beberapa peneliti menemukan bahwa hormon ini tidak selamanya berada di tubuh ikan. Kadar MT di plasma menurun pada jam ke-22 setelah penghentian pakan menjadi 0,5 ng/ml (Rinchard et al. 1999). Pengeluaran MT dari tubuh ikan setelah 100 jam berkurang menjadi 1 % (Johnstone et al. 1983). Hal ini menunjukkan bahwa MT cepat dimetabolisme dan diekskresikan. Selain dengan MT, maskulinisasi dapat dilakukan dengan manipulasi suhu lingkungan berupa peningkatan suhu (Tessema et al. 2006). Suhu lingkungan berperan dalam seks diferensiasi karena sifat nila yang termosensitif (Barroiller et al. 1995). Semakin tinggi suhu, maka rasio kelamin jantan semakin tinggi (Tessema et al. 2006). Larva nila umur 20 hari setelah kuning telur habis yang direndam suhu 36,83 C selama 28 hari dapat menghasilkan jantan 80% (Azaza et 2 al. 2008). El Fotoh et al. (2014) juga melaporkan bahwa perendaman larva nila umur 10 hari setelah fertilisasi selama 30 hari pada suhu 36 C menghasilkan jantan 81%. Dengan demikian suhu dapat dikombinasikan dengan hormon untuk memaksimalkan produksi monoseks jantan dan meminimalkan penggunaan MT. Berdasarkan latar belakang tersebut maka maskulinisasi dengan kombinasi perlakuan hormon MT dan suhu dapat dilakukan untuk memaksimalkan produksi ikan jantan dan meminimalkan penggunaan MT serta pengukuran residu MT pada tubuh ikan setelah perendaman, saat ikan berumur 30 hari, 60 hari dan 90 hari. Selanjutnya, penelitian kombinasi MT dengan suhu juga belum banyak dilaporkan pada ikan nila. Dengan demikian menarik untuk dikaji kombinasi hormon MT dan suhu untuk efektivitas maskulinisasi jantan pada ikan nila. Perumusan Masalah Ikan nila mempunyai sifat dimorfisme kelamin di mana nila jantan memiliki pertumbuhan lebih cepat daripada nila betina, sehingga lebih cepat besar jika dibudidayakan secara monoseks jantan. Budidaya monoseks jantan mempunyai keuntungan yaitu pertumbuhannya lebih cepat, mengurangi reproduksi yang tidak diinginkan dan menyeragamkan ukuran saat panen. Penggunaan MT efektif untuk alih kelamin jantan, tetapi penggunaan hormon ini sudah dilarang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan karena residu yang ditimbulkan. Selain dengan hormon, pengaruh lingkungan yaitu suhu dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan, begitu juga dengan lama perendaman. Kombinasi perlakuan hormon dan suhu dengan lama perendaman 2 dan 4 jam diharapkan dapat menurunkan dosis MT dengan tetap meningkatkan rasio kelamin jantan. Residu yang ditimbulkan MT dapat dievaluasi dengan mengukur konsentrasinya setelah perendaman, setelah 30 hari, 60 hari dan 90 hari. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan MT dan suhu 36 C melalui perendaman larva terhadap keberhasilan alih kelamin jantan ikan nila Oreochromis niloticus serta pengukuran residu pada tubuh ikan nila setelah perendaman, 30 hari, 60 hari dan setelah 90 hari. Hipotesis 1. Kombinasi perlakuan MT dan suhu 36 C melalui perendaman larva akan menurunkan ambang optimum kedua perlakuan tersebut untuk menghasilkan monoseks jantan. 2. Penggunaan MT pada fase larva tidak menyisakan residu pada tubuh ikan setelah pemeliharaan selama 90 hari. 3 2 METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Juni Penelitian bertepat di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Nisbah kelamin jantan, tingkat kelangsungan hidup dan konsentrasi residu MT dilakukan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Analisis glukosa darah dan histologi dilakukan di laboratorium Fisiologi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Alih Kelamin Jantan Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan kombinasi suhu dan lama perendaman dalam MT. Suhu yang digunakan ialah suhu 26 C dan 36 C, sedangkan lama perendaman dilakukan selama 2 dan 4 jam. Dosis yang digunakan sebesar 2 mg/l. Rancangan percobaan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. RAL dengan perlakuan suhu dan lama perendaman dalam MT pada alih kelamin ikan nila Suhu ( C) 26 C 36 C Lama perendaman (jam) kontrol 2 4 Pa0 1 Pa1 1 Pa2 1 Pa0 2 Pa1 2 Pa2 2 Pa0 3 Pa1 3 Pa2 3 Pb0 1 Pb1 1 Pb2 1 Pb0 2 Pb1 2 Pb2 2 Pb0 3 Pb1 3 Pb2 3 Perlakuan alih kelamin dilakukan melalui perendaman larva umur 10 hari setelah menetas (Wassermann dan Afonso 2003, Tessema et al. 2006) menggunakan MT dan suhu, setiap perlakuan mempunyai tiga ulangan. MT sebanyak 2 mg dilarutkan dalam alkohol 70% sebanyak 50 µl dan dicampur menggunakan vorteks sampai larut, kemudian dicampur dalam 1 L air. Larutan ini kemudian diukur menggunakan ELISA dan konsentrasi yang didapatkan ialah 0,1 mg/l. Larva direndam dalam larutan perlakuan sesuai rancangan percobaan dengan kepadatan 300 ekor/l. Perendaman dilakukan menggunakan plastik berukuran 30x50 cm 2 yang telah diisi oksigen, kemudian dipelihara dalam akuarium (40x60x60 cm 3 ) sampai hari ke-30. Selanjutnya benih dipindahkan ke hapa (2x1x1 m 3 ) sampai hari ke-90. Untuk menjaga kualitas air akuarium dilengkapi dengan aerasi serta dilakukan pergantian air sebanyak 75% setiap dua hari sekali. Pakan komersial dengan protein 40% diberikan setelah kuning telur habis. Pemberian pakan dilakukan secara at satiation dengan frekuensi pemberian tiga kali sehari. Konsentrasi glukosa darah diambil sesaat setelah perendaman. Sampling dilakukan 30 hari sekali untuk kualitas air dan residu MT di tubuh ikan. Tingkat kelangsungan hidup dan nisbah kelamin jantan dihitung setelah akhir pemeliharaan di akuarium dan kolam. 4 Identifikasi Nisbah Kelamin Jantan Identifikasi nisbah kelamin jantan dilakukan di akhir pemeliharaan (30 dan 90 hari setelah perendaman). Sampel yang diambil sebanyak 30% dari populasi. Pemeriksaan kelamin dilakukan dengan melihat morfologi gonad ikan, kemudian dilakukan menggunakan pewarnaan eosin (Zairin et al. 2005) dan metode histologi (Kent 1985). Konsentrasi Glukosa Darah Konsentrasi glukosa darah diukur untuk melihat pengaruh pemberian perlakuan kombinasi MT dan suhu terhadap tingkat stres larva. Konsentrasi glukosa darah diukur menggunakan kit glucose-pap dengan prosedur sesuai manual (Lampiran 1). Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan kit glucose-pap. Konsentrasi glukosa darah diperiksa setelah perendaman. Sampel ikan yang digunakan sebanyak 300 ekor. Ikan digerus menggunakan penggerus dan disentrifugasi dengan kecepatan 8000 rpm selama 10 menit un
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks