LAPORAN AKHIR. Perencanaan Sistem Drainase Lahan untuk Budidaya Tanaman Karet di Areal Sub DAS Kelekar Seluas 50 Ha

Please download to get full document.

View again

of 97
9 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
LAPORAN AKHIR Perencanaan Sistem Drainase Lahan untuk Budidaya Tanaman Karet di Areal Sub DAS Kelekar Seluas 50 Ha CV. Niaga Utama 2014 KATA PENGANTAR PT. Hamparan Alam Mandiri (PT. HAM) merupakan salah
Document Share
Document Transcript
LAPORAN AKHIR Perencanaan Sistem Drainase Lahan untuk Budidaya Tanaman Karet di Areal Sub DAS Kelekar Seluas 50 Ha CV. Niaga Utama 2014 KATA PENGANTAR PT. Hamparan Alam Mandiri (PT. HAM) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan karet. Memperhatikan permintaan dunia terhadap komoditi karet yang terus meningkat, maka PT. HAM berupaya untuk melakukan perluasan tanaman karet di Kabupaten Muara Enim. Oleh karena sebagian besar lahan milik PT. HAM di Kabupaten Muara Enim berada di tepi Sungai Kelekar dengan topografi lahan yang relatif rendah, maka resiko terjadinya banjir dan genangan pada lahan tersebut sangat besar. Tujuan utama perencanaan sistem drainase lahan adalah untuk mengantisipasi kelebihan air yang dapat menimbulkan masalah banjir dan genangan. Drainase yang terkendali akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mengacu pada isi surat perjanjian kerjasama dan sesuai dengan lingkup pekerjaan yang telah digariskan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), maka CV. Niaga Utama selaku konsultan menyampaikan Laporan Akhir sebagai bagian dari sistem pelaporan yang diwajibkan oleh pengguna jasa. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur PT. HAM atas kepercayaan yang telah diberikan kepada CV. Niaga Utama untuk melaksanakan pekerjaan ini. Harapan kami semoga hasil pekerjaan ini dapat bermanfaat sesuai dengan maksud dan tujuannya. Palembang, Agustus 2014 Team Leader i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... iv BAB I. PENDAHULUAN... I Latar Belakang... I Tujuan... I Lingkup Kegiatan... I Output Pekerjaan... I Informasi Pekerjaan... I-7 Hal BAB II. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN... II Kerangka Pendekatan... II Tahapan Kegiatan... II Persiapan... II Pekerjaan Lapangan... II Pekerjaan Analisis... II Pemetaan dan Perencanaan... II Metode Analisis... II Analisis Hujan Rancangan... II Analisis Debit Banjir Rancangan... II Analisis Kapasitas Tampung Saluran... II-24 BAB III. KONDISI UMUM WILAYAH... III Letak Geografis dan Kondisi Topografi... III Kemiringan Tanah... III Jenis Tanah... III Klimatologi... III Hidrologi... III-12 BAB IV. KONSEP PERENCANAAN... IV Karakteristik Lahan... IV Hidrotopografi Lahan... IV Potensi Kedalaman Drainase (Drainabilitas)... IV Tipe Tanah... IV Perencanaan Sistem Drainase... IV Drainase Maksimum... IV-8 ii 4.2.2 Persyaratan Drainase... IV Dasar Drainase... IV Kemampuan Drainase... IV Dimensi Saluran... IV Lebar Berm... IV Tinggi Bebas... IV Kemiringan Sisi Saluran dan Tanggul... IV Pengamanan Banjir... IV-14 BAB V. RANCANGAN DETAIL... V Perhitungan Curah Hujan dan Debit Rancangan... V Perhitungan Curah Hujan Rancangan... V Analisis Hidrograf Satuan... V Perhitungan Debit Rancangan... V Rancangan Sistem Drainase... V Kondisi Batas dan Kriteria Rancangan... V Rancangan Detail Saluran... V Kalkulasi Drainase... V-20 BAB VI. PENUTUP... VI-1 LAMPIRAN iii DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Hal Tinggi Rata-rata dari Permukaan Laut dan Persentase Luas Kecamatan Terhadap Luas Kabupaten Dirinci Menurut Kecamatan dalam Kabupaten Muara Enim... III-3 Derajat Kemiringan dan Persentase Luas Daerah Kabupaten Muara Enim... III-4 Luas Daerah Dirinci Menurut Jenis Tanah di Kabupaten Muara Enim... III-5 Sistem Sungai pada Sub DAS Ogan... III-13 Tabel 5.1 Nilai Statistik Data Hujan... V-2 Tabel 5.2 Hujan Rancangan menurut Distribusi Normal... V-3 Tabel 5.3 Hujan Rancangan menurut Distribusi Gumbel... V-4 Tabel 5.4 Tabel 5.5 Hujan Rancangan menurut Distribusi Pearson III... V-4 Hujan Rancangan menurut Distribusi Log- Pearson III... V-5 Tabel 5.6 Hasil Uji Kesesuaian Distribusi... V-7 Tabel 5.7 Periode Ulang dan Hujan Harian Rancangan... V-8 Tabel 5.8 Distribusi Curah Hujan CMB... V-9 Tabel 5.9 Parameter HSS GAMA I... V-9 Tabel 5.10 Hasil Perhitungan HSS Gama I... V-10 Tabel 5.11 Hasil Perhitungan Hidrograf Banjir Rancangan... V-11 iv DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan... II-2 Gambar 2.2 Hujan Rata-rata Polygon Thiessen... II-7 Gambar 2.3 Unit Hidrograf Satuan GAMA I... II-20 Gambar 3.1 Peta Wilayah Administratif Kabupaten Muara Enim... III-2 Gambar 3.2 Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi... III-3 Gambar 3.3 Rata-rata Lama Penyinaran Matahari Bulanan... III-7 Gambar 3.4 Rata-rata Kelembaban Udara Bulanan... III-8 Gambar 3.5 Rata-rata Kecepatan Angin Bulanan... III-8 Gambar 3.6 Rata-rata Suhu Udara Bulanan... III-9 Gambar 3.7 Rata-rata Curah Hujan Bulanan... III-10 Gambar 3.8 Curah Hujan Bulanan Maksimum... III-10 Gambar 3.9 Rata-rata Curah Hujan Harian Maksimum... III-11 Gambar 3.10 Curah Hujan Harian Maksimum... III-11 Gambar 3.11 Rata-rata Jumlah Hari Hujan... III-12 Gambar 4.1 Peta Kontur Lahan Perkebunan PT. HAM... IV-2 Gambar 4.2 Peta Mikrotopografi Lahan Perkebunan PT. HAM... IV-3 Gambar 5.1 Grafik Curah Hujan Rancangan... V-5 Gambar 5.2 Besaran Curah Hujan Harian Maksimum Tahunan Hasil Pengamatan dan Prediksi... V-6 Gambar 5.3 Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) GAMA I... V-10 Gambar 5.4 Hidrograf Banjir Rancangan... V-11 Gambar 5.5 Peta Rencana Sistem Drainase... V-15 Gambar 5.6 Skema Arah Aliran Air... V-16 Gambar 5.7 Sketsa Penampang Melintang Saluran Primer... V-17 Gambar 5.8 Sketsa Penampang Melintang Saluran Kolektor... V-18 Hal v Gambar 5.9 Sketsa Penampang Melintang Saluran Pembuang... V-18 Gambar 5.10 Sketsa Penampang Melintang Saluran Sekunder... V-19 Gambar 5.11 Kedalaman Air pada Ruas Saluran Primer CP4, Kolektor CK6, dan Saluran Sekunder CS5... V-19 vi Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Karet (Havea brasiliensis) merupakan salah satu komoditas perkebunan. Tanaman karet berasal dari Brasil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan karet alam dunia. Sebagai penghasil lateks, karet merupakan salah satu tanaman yang dibudidayakan secara besar-besaran. Perkebunan karet memiliki peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Devisa negara yang dihasilkan dari komoditas karet ini cukup besar. Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia. Prospek perkaretan dunia diperkirakan semakin cerah, sehingga pengembangan agribisnis karet di Indonesia diarahkan pada usaha agribisnis yang berbasis lateks dan kayu yang berdaya saing tinggi, mensejahterakan, berwawasan lingkungan, dan I-1 berkelanjutan. Tujuan utama pasar hasil produksi tanaman karet Indonesia adalah ekspor. Di pasar internasional (perdagangan bebas), produk karet Indonesia menghadapi persaingan ketat. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberi kontribusi dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Setiap tahun, ekspor karet Indonesia terus menunjukkan peningkatan, dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yaitu 5% dari pendapatan devisa non-migas. Pada tahun 2005, produksi karet nasional sekitar 2.2 juta ton, dengan luas area perkebunan karet lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari luasan tersebut, 85% diantaranya merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar milik negara, serta 8% perkebunan besar milik swasta. Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet. Sebagian besar lahan tersebut berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas areal perkebunan karet di Indonesia Pada tahun 2009 mencapai 3.4 juta ha dengan total produksi 2.4 juta ton. Volume ekspor komoditas karet pada tahun 2008 mampu menghasilkan devisa bagi negara sebesar US$ 2.76 milyar dari total ekspor sebesar 2.3 juta ton. Jumlah tersebut masih dapat ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan kosong tidak produktif yang sesuai untuk tanaman karet. Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet di masa yang akan datang, maka upaya perluasan tanaman I-2 karet dan peremajaaan kebun merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Pengembangan perkebunan karet memerlukan pengelolaan dan teknologi budidaya yang tepat. Pada dasarnya, tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media tumbuhnya. Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan karena perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet, baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut yang kurang dari 2 meter. Tanaman karet memerlukan curah hujan maksimum antara mm hingga mm per tahun, dengan banyaknya hari hujan berkisar antara 100 hingga 150 hari hujan per tahun. Namun demikian, jika sering terjadi hujan pada pagi hari, maka produksi akan berkurang. Indonesia merupakan daerah yang beriklim basah. Curah hujan untuk tanaman karet pada umumnya cukup, namun seringkali jumlahnya tidak sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman, sehingga diperlukan pengelolaan air yang tepat. Pengelolaan air tidak hanya terbatas pada pembuangan (drainage) air untuk mengatasi masalah kelebihan air, tetapi juga pemasukan (supply) air untuk mencukupi kebutuhan air tanaman. I-3 Pada daerah basah, keperluan drainase lebih besar dibandingkan daerah kering. Drainase berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Drainase yang optimal akan dapat meningkatkan susunan tanah serta menyempurnakan produktivitas tanah. Hasil orientasi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan milik PT. Hamparan Alam Mandiri di Kabupaten Muara Enim berada di tepi Sungai Kelekar dengan topografi lahan relatif rendah, sehingga resiko terjadinya banjir dan genangan pada lahan tersebut sangat besar. Ancaman banjir dan genangan akan terjadi setiap tahun jika tidak dilakukan upaya pengendalian dan penanggulangan secara tepat. Pada umumnya, sebagian besar lahan yang tergenang disebabkan karena limpasan air dari Sungai Kelekar dan beberapa anak sungainya. Luapan terjadi karena volume air di sungai tersebut telah melampaui kapasitas tampung sungai. Pada beberapa lokasi lahan terdapat cekungan. Pada kejadian hujan normal saja, genangan dapat terjadi pada lahan cekungan tersebut, apalagi jika terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi, maka luasan dan kedalaman genangan akan bertambah. Pembuatan saluran atau parit memang merupakan salah satu solusi untuk menanggulangi masalah genangan, namun pembuatan saluran harus memperhatikan banyak aspek, seperti tata letak, dimensi saluran, serta pertimbangan faktor klimatologi, hidrologi, dan topografi sehingga saluran dapat berfungsi dengan optimal. Oleh karena itu, PT. Hamparan Alam Mandiri memandang perlu dilakukannya perencanaan sistem drainase lahan untuk I-4 mengantisipasi masalah banjir dan genangan sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 1.2 Tujuan Tujuan utama perencanaan sistem drainase lahan adalah untuk mengantisipasi kelebihan air yang dapat menimbulkan masalah banjir dan genangan. Drainase yang terkendali akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tujuan utama tersebut dapat dicapai melalui beberapa tujuan khusus sebagai berikut: 1. Mempelajari karakteristik biofisik lahan dan sistem sungai; 2. Melakukan pengukuran topografi lahan; 3. Melakukan analisis hidroklimatologi; 4. Merancang sistem drainase lahan dan bangunan pengendali air; serta 5. Melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan pembuatan sistem drainase lahan. 1.3 Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi lokasi. 2. Survei/investigasi: a. Pengumpulan data sekunder; b. Identifikasi sistem sungai; c. Pengukuran topografi; dan I-5 d. Pengambilan sample tanah. 3. Analisis: a. Analisis sifat fisik tanah; b. Analisis klimatologi; c. Analisis hidrologi; dan d. Analisis hidrolika. 4. Pemetaan dan perencanaan: a. Pemetaan topografi lahan; b. Perencanaan sistem drainase lahan dan bangunan pengendali air; serta c. Gambar desain. 5. Pengawasan pelaksanaan pekerjaan pembuatan sistem drainase lahan 1.4 Output Pekerjaan Output dari pekerjaan ini adalah: 1. Informasi karakteristik biofisik lahan dan sistem sungai, serta kondisi hidroklimatologi; 2. Peta topografi lahan; 3. Peta rencana sistem drainase lahan dan bangunan pengendali air; serta 4. Gambar desain. I-6 1.5 Informasi Pekerjaan Informasi pelaksanaan pekerjaan: 1. Nama Pekerjaan : Perencanaan sistem drainase lahan untuk budidaya tanaman karet di areal sub DAS Kelekar seluas 50 ha (lima puluh hektar). 2. Lokasi : Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. 3. Pemberi Tugas : PT. Hamparan Alam Mandiri. 4. Konsultan Perencana : CV. Niaga Utama. 5. Sumber Dana : PT. Hamparan Alam Mandiri. 6. Waktu Pelaksanaan : 40 (empat puluh) hari kalender. I-7 Metode Pelaksanaan Pekerjaan 2.1 Kerangka Pendekatan Kerangka pendekatan studi yang digunakan dalam pekerjaan ini dirancang dengan tujuan agar pelaksanaan pekerjaan dapat runtut, jelas, efektif, dan efisien. Untuk mencapai sasaran yang diharapkan dalam pekerjaan ini, maka dilakukan beberapa tahapan pekerjaan yang terdiri atas: 1. Identifikasi permasalahan sebagai bentuk pemahaman terhadap wilayah kajian yang kemudian akan menjadi dasar dalam pelaksanaan survei lapangan dan pengumpulan data; 2. Survei lapangan dan pengumpulan data; 3. Analisis dan perencanaan, dilakukan terhadap data dan informasi yang telah diperoleh selama survei dan pengumpulan data; 4. Diskusi dan konsultasi; serta 5. Penyusunan rekomendasi teknis. Melalui pendekatan tersebut, maka diharapkan akan terjadi dialog dan masing-masing pihak dapat mengemukakan pendapat teknis (scientific opinion) terhadap persoalan yang ada, serta mendapatkan feed back atas hasil yang telah diperoleh dalam II-1 proses pelaksanaan pekerjaan. Dengan demikian, hasil studi yang dilakukan dapat bermanfaat sesuai dengan maksud dan tujuannya. Secara ringkas, bagan alir pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 2.1. IDENTIFIKASI MASALAH SURVEI & PENGUMPULAN DATA ANALISIS & PERENCANAAN DISKUSI/ KONSULTAS REKOMENDASI Gambar 2.1 Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan 2.2 Tahapan Kegiatan Untuk mencapai sasaran yang diharapkan dalam studi ini, maka dilakukan beberapa tahapan pekerjaan yang terdiri atas 3 (tiga) kegiatan utama, yaitu: Persiapan Tahap persiapan meliputi: 1. Mobilisasi tenaga dan peralatan; 2. Koordinasi tim; dan II-2 3. Pengumpulan data sekunder, seperti peta lokasi, data iklim dan hidrologi, research study, serta data pendukung lainnya Pekerjaan Lapangan Pekerjaan lapangan meliputi: 1. Identifikasi sistem sungai; 2. Identifikasi morfologi sungai utama dan anak sungai; 3. Identifikasi tanggul alam dan buatan; 4. Identifikasi sistem jaringan tata air eksisting; 5. Pengamatan muka air di sungai, saluran, dan lahan; 6. Identifikasi arah aliran dan genangan; 7. Pengamatan karakteristik fisik lahan; 8. Pengukuran topografi lahan; dan 9. Pencatatan koordinat geografi pada masing-masing titik pengukuran Pekerjaan Analisis Pekerjaan analisis meliputi: 1. Analisis sifat fisik tanah; 2. Analisis klimatologi; 3. Analisis hidrologi; dan 4. Analisis hidrolika. II-3 2.2.4 Pemetaan dan Perencanaan Pekerjaan pemetaan dan perencanaan meliputi: 1. Pemetaan topografi lahan; 2. Perencanaan sistem drainase lahan dan bangunan pengendali air; serta 3. Gambar desain. 2.3 Metode Analisis Analisis Hujan Rancangan Analisis hujan rancangan bertujuan untuk menetapkan besaran curah hujan rancangan dengan periode ulang tertentu. Hujan rancangan diprakirakan dengan cara analisis frekuensi. Analisis ini didasarkan pada sifat statistik data hujan yang tersedia untuk memperoleh kemungkinan besaran hujan di masa yang akan datang. Penetapan besaran hujan rancangan dapat dipilih dari salah satu distribusi yang paling sesuai dengan sifat statistik dari seri data hujan. Untuk penggambaran data hujan pada kertas probabilitas distribusi digunakan cara yang dikembangkan oleh Weibull-Gumbel, yaitu dengan mengurutkan data dari data terkecil ke terbesar dan probabilitasnya dihitung dengan persamaan: P( X i X ) m % N 1 dengan P(X i X) : probabilitas data hujan pada nomor II-4 urut ke-i; m N : nomor urut data; dan : jumlah data. Analisis awal yang dilakukan untuk memilih distribusi frekuensi yang sesuai dengan seri data hujan suatu DAS yaitu dengan menghitung nilai statistik data hujan, meliputi rata-rata seri data hujan, standar deviasi, koefisien variasi, koefisien kemiringan atau asimetri (skewness), dan koefisien kurtosis. Nilai statistik data hujan yang dihitung adalah: a. Nilai rata-rata ( X ) X N i 1 N X i b. Standar deviasi (S) S N i1 ( X i X ) N 1 2 c. Koefisien variasi (Cv) Cv S X d. Koefisien kemiringan (Cs) N Cs ( N 1)( N 2) S N 3 ( X ) 3 i X i1 e. Koefisien kurtosis (Ck) 2 N Ck ( N 1)( N 2)( N 3) S 4 N i1 ( X i X ) 4 II-5 Analisis hujan rancangan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu uji konsistensi data curah hujan, analisis hujan wilayah, analisis distribusi frekuensi, uji kecocokan, dan terakhir pemilihan distribusi hujan terbaik yang akan dipakai sebagai curah hujan rancangan untuk analisis debit rancangan. 1. Uji Konsistensi Uji konsistensi dilakukan terhadap data curah hujan tahunan yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan data curah hujan, sehingga dapat disimpulkan apakah data tersebut layak dipakai dalam perhitungan hidrologi atau tidak. Keadaan ini dapat diperlihatkan dan sekaligus dikoreksi dengan menggambarkan suatu grafik orthogonal yang disebut mas curve, yaitu suatu kurva yang membandingkan antara hujan tahunan kumulatif stasiun yang diuji dengan rata-rata hujan tahunan kumulatif dari stasiun yang lain. 2. Analisis Hujan Wilayah (Area Rainfall) Data curah hujan yang diperoleh dari alat penakar hujan merupakan hujan yang hanya terjadi pada suatu tempat atau titik saja (point rainfall). Mengingat curah hujan sangat bervariasi terhadap tempat (space), maka untuk kawasan yang luas, satu alat penakar hujan tidak akan cukup untuk menggambarkan curah hujan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, di berbagai tempat pada daerah aliran sungai perlu dipasang alat penakar hujan. Untuk mendapatkan rata-rata hujan wilayah perlu dianalisis terlebih dahulu hujan titik (point rainfall) yang merupakan hujan harian maksimum dari II-6 masing-masing stasiun hujan. Analisis curah hujan wilayah dalam studi ini menggunakan metode Poligon Thiessen. Metode ini berdasarkan rata-rata tertimbang (weighted average). Setiap pos penakar curah hujan memiliki daerah yang dibentuk dengan menggambarkan garis-garis sumbu tegak lurus terhadap garis penghubung di antara dua buah pos penakar hujan. Gambar 2.2 Hujan Rata-rata Polygon Thiessen Misalkan A i menyatakan luas daerah pengaruh pos penakar pertama. A 2 adalahuas daerah pengaruh pos penakar kedua, dan seterusnya. Jumlah A 1 + A A n = A adalah jumlah luas seluruh daerah yang dicari tinggi curah hujan rata-ratanya. Jika pos penakar pertama menakar tinggi hujan d 1, pos penakar kedua menakar d 2, dan pos penakar ke-n menakar d n, maka tinggi curah hujan rata-rata wilayah dapat dihitung dengan persamaan: II-7 d A d 1 1 A d A A A d... A n n n n i1 A d i A i i n i1 A d i A i Jika A i P merupakan persentanse luas pada pos i A penakar ke-i yang jumlahnya untuk seluruh luas adalah 100%, maka: dengan n D i1 p i d i A D : luas area; : tinggi curah hujan rata-rata area; d i : tinggi curah hujan pada pos penakar i; A i : luas daerah pengaruh pos penakar i; n P i i1 = Jumlah persentase luas = 100%. 3. Analisis Distribusi Frekuensi Sistem hidrologi kadang-kadang dipengaruhi oleh kejadian-kejadian ekstrim seperti banjir dan ke
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x