KURIKULUM 2013 DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN. Pardomuan Nauli Josip Mario Sinambela. Abstrak

Please download to get full document.

View again

of 13
20 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
17 KURIKULUM 2013 DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN Pardomuan Nauli Josip Mario Sinambela Abstrak Kurikulum 2013 menuntut agar dalam pelaksanaan pembelajaran siswa diberi kebebasan berpikir memahami
Document Share
Document Transcript
17 KURIKULUM 2013 DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN Pardomuan Nauli Josip Mario Sinambela Abstrak Kurikulum 2013 menuntut agar dalam pelaksanaan pembelajaran siswa diberi kebebasan berpikir memahami masalah, membangun strategi penyelesaian masalah, mengajukan ide-ide secara bebas dan terbuka. Kegiatan guru dalam pembelajaran adalah melatih dan membimbing siswa berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah. Guru harus berupaya untuk mengorganisasikan kerjasama dalam kelompok belajar, melatih siswa berkomunikasi menggunakan grafik, diagram, skema, dan variabel. Diharapkan seluruh hasil kerja selalu dipresentasikan di depan kelas untuk menemukan berbagai konsep, hasil penyelesaian masalah, aturan serta prinsip yang ditemukan melalui proses pembelajaran. Pembelajaran tidak hanya ditekankan pada satu aspek saja tetapi keseimbangan pada aspek afektif, aspek psikomotorik, dan aspek kognitif. Kata Kunci : kurikulum 2013, guru, siswa, afektif, psikomotorik, kognitif A. PENDAHULUAN Kurikulum 2013 merupakan suatu kebijakan baru pemerintah dalam bidang pendidikan yang diharapkan mampu untuk menjawab tantangan dan persoalan yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia ke depan. Perubahan yang mendasar pada kurikulum 2013 dibanding dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya adalah perubahan pada tingkat satuan pendidikannya dimana implementasi kurikulum ini dilakukan pada tingkat satuan pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan. Perubahan yang lain dapat dilihat dari konsep kurikulum 2013 itu sendiri. Kurikulum dalam hal ini diharapkan dapat memberikan keseimbangan aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor secara berimbang, sehingga pembelajaran yang terjadi diharapkan dapat berjalan dengan menyeimbangkan ketiga aspek tersebut, tidak seperti yang selama ini terjadi dimana pembelajaran lebih cenderung mengutamakan aspek kognitif saja. Akibat dari konsep kurikulum 2013 itu, maka penilaian dalam pembelajaran tentunya harus disesuaikan dengan konsep kurikulum itu sendiri, sehingga penilaian juga harus didasarkan pada ketiga aspek tersebut yaitu harus menilai aspek kognitifnya, menilai aspek afektifnya, dan menilai aspek psikomotoriknya. Selain itu kurikulum 2013 juga membawa perubahan besar dalam pelaksanaannya. Hal ini ditunjukkan dengan disediakannya buku ajar yang disusun sesuai dengan tuntutan kurikulum itu 18 sendiri. Artinya kurikulum 2013 itu tidak sekedar hanya sebuah konsep dan dokumen semata tetapi dalam implementasinya, kurikulum 2013 itu menata bagaimana dan apa yang seharusnya dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajarannya. B. PEMBAHASAN 1. Pola Pikir Kurikulum 2013 Seperti yang diungkapkan sebelumnya bahwa pada kurikulum 2013 pembelajaran itu tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi harus meliputi ketiga aspek. Pola pikir yang menjadi rumusan dalam pembentukan kurikulum itu adalah memandang bahwa standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Berbeda halnya dengan kurikulum sebelumnya yaitu standar kompetensi diturnkan dari standar isi. Pada kurikulum KBK 2004 dan KTSP 2006 dijelaskan bahwa standar isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata pelajaran yang di dalamnya merupakan paparan standar kompetensi lulusan mata pelajaran dirinci menjadi standar kompetensi dasar mata pelajaran. Pada kurikulum 2013, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang tidak terikat pada mata pelajaran. Pola pikir lainnya dalam kurikulum 2013 memandang bahwa semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan aspek afektif, aspek psikomotorik, dan aspek kognitif pada peserta didik. Padahal pada kurikulum sebelumnya jelas sekali terlihat adanya pemisahan mata pelajaran untuk membentuk aspek afektif, membentuk aspek psikomotorik, dan pembentukan aspek kognitif. Kurikulum 2013 menurunkan mata pelajaran dari kompetensi yang ingin dicapai oleh peserta didik, sementara kurikulum 2004 dan KTSP 2006 menurunkan kompetensi dari mata pelajaran. Perbedaan pandangan ini akhirnya yang tadinya mata pelajaran yang saling lepas satu dengan yang lainnya, yaitu seperti sekumpulan mata pelajaran yang terpisah dan tidak tertata irisan dari tiap mata pelajaran menjadi mengikat semua mata pelajaran oleh suatu kompetensi yaitu kompetensi inti dari tiap tingkatan kelas. Pembelajaran yang terjadi akibat implementasi dari kurikulum 2013 ini adalah adalah Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi pembelajaran lebih banyak berpusat pada aktivitas siswa. Karena pembelajaran lebih banyak berpusat pada siswa akibatnya pembelajaran tidak lagi menjadi satu arah tetapi lebih bersifat interaktif. Kurikulum juga menuntut agar dalam pembelajaran terjadi aktivitas aktif dan menyeldidiki dan diharapkan juga guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dapat merancang pembelajaran agar siswa mampu menyelesaikan permasalahanpermasalahan yang kontekstual dan nyata. Pembelajaran yang selama ini terjadi yaitu pembelajaran yang terlalu luas yang mengakibatkan terlalu banyak materi diajarkan. Penyampaian materi pengetahuan hanya merupakan sebuah kegiatan transfer ilmu belaka yang artinya guru hanya memindahkan pengetahuan saja kepada siswa tanpa memperhatikan apakah siswa memahami atau tidak pengetahuan yang diberikan tersebut. Berbeda halnya dengan kurikulm 2013, kurikulum ini memaksa guru agar mengerti betul karakteristik dari siswanya. Materi pengetahuan yang disampaikan guru harus mampu menunjukkan perilaku yang khas yang mampu memberdayakan kaidah keterkaitan antar materi. Pembelajaran pada kurikulum 2013 juga mengharapkan agar guru dapat 2. Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 Berdasarkan pola pikir kurikulum 2013, maka pembelajaran dalam implementasi kurikulum juga mengalami perubahan. Perubahan ini mengakibatkan pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan saintifik yaitu memahami bagaimana menggunakan alat multimedia yaitu berbagai peralatan teknologi pendidikan yang mampu mengorganisakan siswa dalam belajarnya. Satu hal yang sangat menarik tentang kurikulum 2013 yaitu siswa dalam belajarnya memperoleh dokumen belajar sesuai dengan ketertarikannya dan potensinya dalam belajar, sehingga tidak lagi siswa yang dalam tingkatan yang sama harus diberikan dokumen belajar yang sama. Hal ini menggugurkan pembagian jurusan di sekolah menengah atas yang selama ini dilakukan pada waktu siswa naik ke kelas XI, akan tetapi pembelajaran dan dokumen belajar siswa akan diperoleh siswa pada waktu siswa tersebut duduk pertama sekali di bangku sekolah menengah atas. Pembelajaran yang tadinya hanya transfer ilmu pengetahuan akhirnya menuntut terjadinya pertukaran pengetahuan antara guru dengan guru lainnya, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa lainnya. pendekatan yang menggunakan pendekatan ilmiah. Kriteria dalam pendekatan ini menekankan beberapa aspek antara lain: 1) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau 20 penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata; 2) Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis; 3) Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran; 4) Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran; 5) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan; 6) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya. Berdasarkan penjelasan sebelumnya yaitu, ada tiga aspek penting yang harus diperhatikan dalam pembelajaran yaitu aspek afektif, aspek psikomotorik, dan aspek kognitif. Sehingga langkah-langkah setiap pembelajaran tidak boleh terlepas dari ketiga aspek tersebut. Pada pembelajaran aspek sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar siswa tahu mengapa.. Aspek psikomotorik menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar siswa tahu bagaimana. Aspek Kognitif menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar siswa tahu apa.. Hasil akhir dari kegiatan pembelajaran adalah diharapkannya peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari siswa yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dimensi paedagogik modern yang diterapkan pada kurikulum 2013 adalah pendekatan ilmiah. Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dalam pendekatan ini adalah. 1) kegiatan observing (mengamati); 2) kegiatan questioning(menanya); 3) kegiatan associating(menalar); 4) kegiatan experimenting (mencoba); dan 5) kegiatan networking(membentuk jejaring atau menyimpulkan. Pembelajaran yang diterapkan mengakibatkan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Kegiatan siswa lebih cenderung untuk mencari tahu tentang prinsip dan konsep ilmu pengetahuan tersebut bukan menunggu dibberikan oleh 21 guru, pembelajaran ini disebut dengan discovery learning. Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila siswa tidak disajikan dengan materi pelajaran dalam bentuk utuh, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Dalam Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang ilmuwan, ahli sejarah, atau ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan. 3. Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Discovery Learning a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Tahap awal dalam pembelajaran ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah menimbulkan kebingungannya, kemudian pada persiapan pemecahan masalah. dilanjutkan untuk tidak memberi Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk generalisasi, agar timbul keinginan dari menyediakan kondisi interaksi belajar siswa untuk menyelidiki sendiri. Selain itu yang dapat mengembangkan dan guru sebagai fasilitator memulai membantu siswa dalam mengeksplorasi pembelajarannya dengan mengajukan bahan. b. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Tahap kedua dari pembelajaran ini kemudian salah satunya dipilih dan adalah guru memberi kesempatan kepada dirumuskan dalam bentuk hipotesis siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin kejadian-kejadian dari masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, (jawaban masalah) sementara atas pertanyaan 22 c. Data collection (Pengumpulan Data). Pada tahap ini berfungsi untuk relevan, membaca sumber belajar, menjawab pertanyaan atau membuktikan mengamati objek, wawancara dengan nara benar tidaknya hipotesis, dengan sumber, melakukan uji coba sendiri dan demikian siswa diberi kesempatan untuk kegiatan lainnya yang relevan. mengumpulkan berbagai informasi yang d. Data Processing (Pengolahan Data) Menurut Syah (2004:244) bacaan, wawancara, observasi, dan pengolahan data merupakan kegiatan sebagainya, semuanya diolah, diacak, mengolah data dan informasi yang telah diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila diperoleh para siswa baik melalui perlu dihitung dengan cara tertentu serta wawancara, observasi, dan sebagainya, ditafsirkan pada tingkat kepercayaan lalu ditafsirkan. Semua informai hasil tertentu e. Verification (Pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan menurut Bruner, bertujuan agar proses pemeriksaan secara cermat untuk belajar akan berjalan dengan baik dan membuktikan benar atau tidaknya kreatif jika guru memberikan kesempatan hipotesis yang ditetapkan sebelumnya dengan beberapa fenomena yang sudah diketahui, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik memperhatikan hasil verifikasi (Syah, kesimpulan adalah proses menarik sebuah 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip maka dirumuskan prinsip-prinsip yang umum dan berlaku untuk semua kejadian mendasari generalisasi atau masalah yang sama, dengan 4. Model-Model Pembelajaran Pendukung Kurikulum 2013 Beberapa model pembelajaran pembelajaran itu bukan paku mati model yang sesuai dengan kurikulum 2013 antara yang harus dilaksanakan dalam lain 1) Model Pembelajaran Berdasarkan pembelajaran yang mengimplementasikan Masalah dan 2) Model Pembelajaran kurikulum Model-model Berbasis Proyek. Kedua model pembelajaran lain juga dapat digunakan 23 dengan catatan bahwa model pembelajaran a. Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pembelajaran berdasarkan masalah adalah suatu pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek kognitif siswa dan pembelajarannya berpusat kepada siswa. Fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang dilakukan siswa melainkan kepada apa yang mereka pikirkan pada saat melakukan pembelajaran tersebut. Peran guru dalam pembelajaran ini terkadang melibatkan presentasi dan penjelasan sesuatu hal kepada siswa, namun pada intinya dalam pembelajaran berdasarkan masalah guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berpikir dan memecahkan masalah dengan cara mereka sendiri. Model pembelajaran berdasarkan masalah, pembelajarannya lebih menekankan pada aspek kognitif siswa. Pembelajaran diawali dengan memberikan masalah. Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah haruslah bersifat top-down artinya diawali dengan masalah yang kompleks, dilanjutkan dengan masalah-masalah yang spesifik dengan maksud mencari solusi masalah kompleks tersebut. Dalam pembelajaran dengan model pembelajaran tersebut menganut paham konstruktivisme. berdasarkan masalah, guru harus mengupayakan siswa agar dapat dengan sendirinya mengkonstruk konsep maupun prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Pembelajaran yang akan dilakukan harus terlebih dahulu dirancang oleh guru, dan guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan pembimbing. Dalam model pembelajaran berdasarkan masalah (problem-based instruction) ditekankan bahwa pembelajaran dikendalikan dengan masalah. Oleh karena itu, pembelajaran berdasarkan masalah dimulai dengan memecahkan masalah, dan masalah yang diajukan kepada siswa harus mampu memberikan informasi (pengetahuan) baru sehingga siswa memperoleh pengetahuan baru sebelum mereka dapat memecahkan masalah itu. Dalam pembelajaran yang dilakukan tujuannya bukan hanya mencari jawaban tunggal yang benar, tapi lebih dari itu siswa harus dapat menginterpretasikan masalah yang diberikan, mengumpulkan informasi yang penting, mengidentifikasi kemungkinan pemecahan masalah, mengevaluasi pilihan, dan menarik kesimpulan. b. Peran guru dalam pembelajaran berdasarkan masalah Dalam mengajarkan konsepkonsep dan prinsip-prinsip materi pelajaran, guru harus mengilustrasikannya dalam beberapa cara. Dalam 24 penyampaiannya dimulai dari ilustrasi masalah nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, memilih kata-kata dalam percakapan yang mudah dipahami, memilih simbol-simbol, gambar-gambar, atau objek nyata. Hal lain yang perlu dilakukan adalah memberi kesempatan pada siswa memikirkan, menelaah apa saja yang terkandung dalam konsep dan prinsip. Gardner (dalam James Hiebert, 1992: 66) menyatakan, karena kerja mental tidaklah tampak, mendiskusikan bagaimana gagasan/informasi disusun di dalam otak didasarkan pada tingkat berpikir yang tinggi. Dugaan representase mental adalah suatu gagasan inti yang membawa bersama-sama bekerja pada pengamatan dari berbagai bidang, mencakup psikologi, ilmu pengetahuan, linguistik, dan banyak hal. Dalam pembelajaran berdasarkan masalah, kemampuan guru mengajar harus c. Tahapan-tahapan pembelajaran berdasarkan masalah Dalam membuat suatu rencana pembelajaran perlu dibuat tahapan-tahapan yang akan digunakan dalam pembelajaran, tujuannya adalah agar pembelajaran yang akan dilaksanakan benar-benar terlaksana dengan baik dan memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajaran berdasarkan masalah adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Oleh karena itu guru harus dapat merancang rencana pembelajaran yang lebih kritis dibanding kelas tradisional yang berpusat pada guru. Disamping menyajikan pengetahuan bagi siswa, guru dalam pembelajaran berdasarkan masalah harus melibatkan siswa dalam menyusun informasi dan penggunaan pengetahuan mereka dalam pemecahan masalah Guru dalam pembelajaran berdasarkan masalah harus merancang dan mengatur pembelajaran terhadap pemahaman ilmu pengetahuan siswa yang memungkinkan guru untuk memandu siswa dalam menerapkan pengetahuan pada berbagai situasi masalah. Guru harus memiliki kemampuan ilmu pengetahuan yang dalam/luas agar dapat melakukan hal tersebut. Guru dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang dangkal dalam pembelajaran berdasarkan masalah, kemungkinan akan dapat membawa siswa pada kegagalan dalam mempelajari konsep dan prinsip ilmu pengtahuan tersebut. benar-benar dapat merangsang rasa ingin tahu siswa serta memotivasi siswa untuk dapat menjadi pebelajar yang mandiri, sehingga memudahkan dalam pelaksanaan berbagai tahap pembelajaran model pembelajaran berdasarkan masalah dan pencapaian tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dalam pembelajaran ini guru harus terlebih dahulu menetapkan tujuan pembelajaran sehingga tujuan itu dapat dikomunikasikan dengan jelas kepada 25 siswa. Setelah guru menetapkan tujuan kemudian guru harus merancang situasi masalah yang sesuai dengan materi. Situasi masalah yang baik seharusnya autentik, mengandung teka-teki, dan tidak terdefinisikan dengan ketat, memungkinan kerja sama, bermakna bagi siswa, dan konsisten dengan tujuan kurikulum. Ibrahim dan Nur (2000: 13) mengemukakan tahapan-tahapan dalam pembelajaran berdasarkan masalah (problem-based instruction) berikut : Tabel 1. Tahapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Tahap Tahap-1 Orientasi siswa kepada masalah Tahap-2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Tahap-5 Menganalisis dan meng evaluasi proses pemecahan masalah pada tabel Tingkah Laku Guru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan Berdasarkan tahapan-tahapan pembelajaran berdasarkan masalah di atas jelaslah bahwa pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa lebih aktif. Karena dalam p
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks