KURIKULUM 2013 DALAM PRESPEKTIF TEORI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS

Please download to get full document.

View again

of 14
226 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
KURIKULUM 2013 DALAM PRESPEKTIF TEORI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS Hendri Purbo Waseso 1 Abstrak : Tulisan ini berupaya membuktikan keterlibatan teori pembelajaran konstruktivisme dalam
Document Share
Document Transcript
KURIKULUM 2013 DALAM PRESPEKTIF TEORI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS Hendri Purbo Waseso 1 Abstrak : Tulisan ini berupaya membuktikan keterlibatan teori pembelajaran konstruktivisme dalam konsep kurikulum Melalui kajian pustaka, diketahui bahwa pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 mengandung asumsi-asumsi pembelajaran yang ada dalam teori pembelajaran konstruktivisme. Secara lebih spesifik, kegiatan seperti mengamati, menanya, menalar dan mencoba dalam pendekatan saintifik kurikulum 2013 menampilkan ciri-ciri dari proses pembelajaran konstruktivisme yaitu 1) proses untuk mengubah gagasan/ide siswa yang sudah dimilikinya yang mungkin salah; 2)kemandirian dalam konstruksi pengetahuan; 3) belajar merupakan pembentukan makna (meaning) dengan cara membangun atau mengkonstruksi hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki oleh pembelajar dan pengetahuan yang sedang dipelajari, proses pembelajaran yang berlangsung secara terus-menerus dan aktif; dan 4)belajar juga menyangkut kesedian pembelajar untuk menerima pengetahuan yang sedang dipelajari, sehingga pembelajar bertanggung jawab tentang belajarnya. Kata Kunci: Kurikulum 2013, Pendekatan Saintifik dan Pembelajaran Konstruktivisme Abstract : This paper seeks to prove the involvement of constructivism learning theory in the concept of curriculum Through literature review, it is known that the scientific approach in the curriculum 2013 contains the assumptions that existing learning in constructivism theory of learning. More specifically, activities such as observing, questioning, reasoning and experimenting in the curriculum approach of the curriculum 2013 display the characteristics of constructivism learning: 1) the process of altering a student's ideas / ideas that he may have that may be wrong; 2) independence in knowledge construction; 3) learning is the formation of meaning (meaning) by building or constructing the relationship between the knowledge already possessed by the learner and the knowledge being studied, the learning process that takes place continuously and actively; and 4) learning also concerns the learner's willingness to accept the knowledge being learned, so that the learner is responsible about his learning. Keywords: Curriculum 2013, Scientific Approach and Constructivism Learning 1 Dosen Universitas Sains Al-Qur an (UNSIQ) Wonosobo 59 PENDAHULUAN Kajian pendidikan selalu mengalami dinamika kontekstual seiring dengan perubahan yang terjadi dalam sebuah masyarakat. Diantara elemen dasar terlaksananya pendidikan, kurikulum menjadi salah satu elemen yang juga mengalami perubahan. Sedangkan setiap kurikulum akan selalu menampilkan kecenderungan tertentu baik dalam substansi maupun paradigma yang diusung oleh masing-masing kurikulum yang akan diberlakukan. Begitu juga beberapa kurikulum yang pernah diberlakukan di Indonesia yang memiliki tekanan tertentu dilihat dari prespektif teori pembelajaran yang dipakai. Kurikulum merupakan sebuah perencanaan dalam menyelenggarakan sebuah proses pendidikan. Termasuk perencanaan pembelajaran akan masuk dalam pembahasan mengenai kurikulum. Sedangkan pembelajaran memiliki banyak landasan teori yang digunakan. Aliran-aliran filsafat yang muncul menjadi ujung pangkal dari teori yang ada. Salah satu paradigma yang menjadi isu sentral saat ini adalah teori belajar konstruktivisme. Diberlakukannya kurikulum 2013 mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan termasuk praktisi dan akademisi. Mereka mengkaji kurikulum 2013 sesuai dengan ketertarikannya masing-masing. Namun demikian, salah satu persoalan yang perlu dilacak adalah paradigma pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum Mengingat konsep pembelajaran yang direncanakan dalam kurikulum merupakan inti pokok yang akan bersentuhan langsung dengan kepentingan peserta didik. Oleh karena itu, menguak dan melacak konsep atau tendensi pembelajaran yang digunakan dalam kurikulum 2013 menjadi persoalan yang menarik untuk dikaji. Asumsi awal yang digunakan dalam tulisan ini adalah kurikulum 2013 lebih dominan atau memiliki kecenderungan pada paradigma teori pembelajaran konstruktivisme. Terkait dengan kajian tersebut Suparno melihat bahwa penelitian pendidikan sekarang lebih menekankan pada proses belajar mengajar dan metode penelitian yang menitikberatkan pada konsep bahwa dalam belajar seseorang mengonstruksi pengetahuannya. 2 Terlepas dari relevansi teori pembelajaran Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1997), 60 konstruktivisme dengan praktik pembelajaran di Indonesia, dalam tulisan ini penulis ingin memperkuat dugaan bahwa kurikulum 2013 memang memiliki kecenderungan model pembelajaran konstruktivisme. Meskipun dalam beberapa panduan kurikulum dalam latarbelakang disebutkan bahwa kurikulum 2013 merupakan perpaduan berbagai teori-teori pembelajaran baik yang konvensional maupun kontemporer. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas secara detail konsep-konsep yang ditawarkan oleh kaum konstruktivis, melainkan hanya sekilas saja dan digunakan sebagai kerangka dalam membaca asumsi-asumsi pembelajaran yang ditawarkan oleh kurikulum Asumsi-asumsi konstruktivis mengenai pembelajaran yang tergolong baru dianggap sebagai terobosan dalam pemecahan masalah pembelajaran yang muncul sebelumnya. Pendekatan psikologi yang digunakan dalam perencanaan pembelajaran sangatlah penting untuk diintegrasikan dalam sebuah kurikulum. Pertanyaan yang hendak mengantarkan isi tulisan ini adalah apa saja asumsi-asumsi konstruktivis terkait dengan pembelajaran? Apakah kurikulum 2013 mengakomodasi prinsip-prinsip yang ditawarkan oleh teori konstruktivisme? PEMBAHASAN A. Konstruktivisme; Sebuah Pendekatan Dalam Pembelajaran Konstruktivis melihat belajar sebagai proses aktif pelajar mengkonstruksi arti baik dalam bentuk teks, dialog, pengalaman fisis, ataupun bentuk lainnya. Von Glasersfeld menyatakan bahwa dalam perspektif konstruktivis, belajar bukan suatu perwujudan hubungan stimulus-respons. Belajar memerlukan pengaturan diri dan pembentukan struktur konseptual melalui refleksi dan abstraksi. Fosnot menambahkan, tujuan belajar lebih difokuskan pada pengembangan konsep dan pemahaman yang mendalam daripada sekedar pembentukan perilaku atau keterampilan. Dalam paradigma ini, belajar lebih menekankan proses daripada hasil. Implikasinya, 'berpikir yang baik' lebih penting daripada 'menjawab yang benar'. Seseorang yang bisa berpikir dengan baik, dalam arti cara berpikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat 61 menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan yang lain. Sementara itu, seorang pelajar yang sekadar menemukan jawaban benar belumtentu sanggup memecahkan persoalan yang baru karena bisa jadi ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban itu. Bila proses berpikirnya berdasarkan pengandaian yang salah atau tidak dapat diterima pada saat itu, maka ia masih dapat memperkembangkannya. Piaget, seorang tokoh konstruktivisme, menyatakan bahwa proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, ataupunpengalaman baru ke dalam struktur atau skemayang sudah ada di dalam pikirannya. Asimilasi dapat dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam struktur yang telah ada. Asimilasi ini tidak menyebabkan perubahan/pergantian struktur/skema yang telah ada, melainkan memperkembangkannya. Proses asimilasi ini berjalan terus. Setiap orang selalu secara terus menerus mengembangkan proses ini. Sedangkan akomodasi, adalah (1) membentuk struktur/ skema baru yang dapat cocok dengan rangsangan yang baru atau (2) memodifikasi struktur/skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Proses akomodasi ini terjadi karena seseorang itu menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru dan orang tersebut tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru itu dengan skema yang telah dipunyai. Maka di sini diperlukan pembentukan skema yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru tersebut. 3 Selain dari konsep asimilasi dan akomodasi tersebut, esensi lain dari teori Konstruktivis dalam pembelajaran adalah ide-ide atau gagasan harus siswa sendiri yang diamati, ditemukan sendiri oleh siswa dan ditransformasikan serta diinterpretasikan sendiri suatu informasi kompleks jika mereka diharuskan menjadikan informasi itu sebagai miliknya. 3 Sukiman, Teori Pembelajaran dalam Pandangan Konstrukstivisme dan Pendidikan Islam, Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 3, No. 1, Januari-Juni 2008, Konstruktivisme adalah suatu pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses pembelajar secara aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap realita melalui pengamatan dan interaksi mereka. Menurut pandangan konstruktivisme pembelajar secara aktif membangun pengetahuan secara terus menerus mengasimilasi dan mengakomodasi informasi baru. Dengan perkataan lain konstruktivisme adalah teori perkembangan kognitif yang menekankan kepada pembelajar dalam membangun tentang pemahaman mereka menganai realita. Dahar. R.W menyatakan bahwa implikasi pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran yaitu pertama, dalam mengajar guru harus memperhatikan pengetahuan awal siswa yang dibawa dari luar sekolah. Kedua, mengajar bukan berarti meneruskan gagasan/ide guru kepada siswa, melainkan merupakan suatu proses untuk mengubah gagasan/ide siswa yang sudah dimilikinya yang mungkin salah. Ausebel menyatakan bahwa jika pengajaran tidak mengindahkan gagasan / ide yang dibawa siswa maka akan membuat miskonsepsi-miskonsepsi anak semakin kompleks dan stabil. 4 Driver & Bell mengemukakan beberapa prinsip dasar dari pembelajaran berdasarkan pendangan konstruktivisme. Pertama, hasil belajar sangat bergantung pada lingkungan belajar dan pengetahuan yang sudah ada dimiliki oleh pembelajar. Kedua, belajar merupakan pembentukan makna (meaning) dengan cara membangun atau mengkonstruksi hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki oleh pembelajar dan pengetahuan yang sedang dipelajari. Ketiga, proses ini berlangsung secara terus-menerus dan aktif. Keempat, belajar juga menyangkut kesedian pembelajar untuk menerima pengetahuan yang sedang dipelajari, sehingga pembelajar bertanggung jawab tentang belajarnya, dan Kelima, pengalaman belajar dan kemampuan berbahasa berpengaruh pada pola meaning yang dikonstruksi. 5 Selain itu, prinsip pembelajaran konstruktivisme menurut Iskandar yaitu pembelajaran yang terbaik adalah pembelajaran yang dilakukan menurut 4 Muh. Abduh Makka, Aplikasi Teori Kognitif dan Model Pembelajaran Konstruktivisme dalam Pembelajaran IPA SD, Makalah LPMP Sulawesi Selatan, hlm. 5http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=203:kognitif&c atid=42:widyaiswara&itemid=203, tanggal akses 25 Mei Ibid 63 situasi; yakni belajar di mana siswa memecahkan soal-soal, mengerjakan tugas, dan belajar materi baru dalam suatu konteks yang dapat mereka pahami. Dengan demikian, salah satu kritik utama yang dihadapi oleh kalangan konstruktivisme terhadap praktek pendidikan yang banyak dilakukan sekarang adalah bahwa banyak pembelajaran terdiri atas informasi dan keterampilan yang tidak berkaitan dengan dunia nyata. Prinsip lain konstruktivisme adalah bahwa siswa harus didukung di sepanjang proses belajar dengan menggunakan penyangga. Penyangga merupakan proses di mana seorang guru (bahkan siswa lainnya) membantu seorang siswa dalam mengembangkan pemahaman baru atau keterampilan baru. Bila siswa tersebut telah berkembang, dukungan bisa dihilangkan sehingga akhirnya siswa tersebut dapat bediri sendiri. Salah satu contoh pendekatan konstruktivisme terhadap pendidikan adalah teknik belajar berbasis masalah (problem based learning/pbl). Ada beberapa prinsip kunci dalam PBL sejak pertama kali dikembangkan. Pertama, persoalan selalu sebagai hal pertama yang harus dijumpai. Tidak disediakan materi latar belakang yang berkaitan. Kedua, persoalan disajikan dalam konteks yang realistik. Misalnya, dalam pendidikan kedokteran, siswa dihadapan pada berbagai studi kasus yang hanya kelihatan seperti kasus-kasus pasien yangsesungguhnya. Ketiga, siswa bekerja mengatasi masalah pada suatu tingkat yang cocok dengan kemampuan mereka yang ada. Berbagai persoalan serupa (bahkan yang sama) dapat digunakan pada beberapa tingkat pendidikan yang berbeda, dengan siswa yang memberikan jawaban terhadap masalah-masalah tersebut dengan berbagai macam tingkat kecanggihan, tergantung pada tingkat kesadaran mereka sendiri. Dalam banyak hal, pendekatan konstruktivisme modern terhadap pengajaran telah membawa kita kembali pada teori-teori sebelumnya sekaligus kepada berbagai penggunaan baru teknologi dalam pendidikan. Para pemikir terdahulu, seperti John Dewey, Lev Vygotsky, dan Jean Piaget mendukung banyak praketk konstruktivisme. 6 6 Iskandar Wiryo Kusumo, behaviorisme, kognivisme, dan konstruktivisme; Teori belajar dan implikasinya terhadap pembelajaran, Jurnal Prospektus, Tahun VII Nomor 2, Oktober 2009, B. Pendekatan Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013 Pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah merupakan suatu proses ilmiah dalam pembelajaran. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serial aktivitas pengoleksian data melalui observasi dan ekperimen, kemjdian memformulasi dan menguji hipotesis. 7 Sementara itu, Kemendikbud (2013) memberikan konsepsi tersendiri bahwa pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran didalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen-komponen tersebut seyogyanya dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran, tetapi bukanlah sebuah siklus pembelajaran. 8 Berikut penjelasan komponen dari pendekatan saintifik. 7 Diklat Guru Dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013, (Jakarta: Kemendikbud, 2013) 8 tanggal akses 22 Mei 1. Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. 2. Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah pertanyaan tidak selalu dalam bentuk kalimat tanya, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Kriteria pertanyaan yang baik adalah singkat dan jelas, menginspirasi jawaban, memiliki fokus, bersifat probing atau divergen, bersifat validatif atau penguatan,memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang,merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif, dan merangsang proses interaksi. 66 3. Menalar Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike, yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. Jadi, prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi, yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Menurut 67 Thorndike, proses pembelajaran, lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap, bukan secara tibatiba. 4. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (a) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (b) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus d
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks