KORELASI OBESITAS SENTRAL DAN TINGKAT VO 2 MAKS PADA PRIA DI KOTA MALANG

Please download to get full document.

View again

of 11
43 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
KORELASI OBESITAS SENTRAL DAN TINGKAT VO 2 MAKS PADA PRIA DI KOTA MALANG Sofyan Noor Fakultas Ilmu Keolahragaan,Jurusan Ilmu Keolahragaan Universias Negeri Malang Jalan Semarang No.5 Malang
Document Share
Document Transcript
KORELASI OBESITAS SENTRAL DAN TINGKAT VO 2 MAKS PADA PRIA DI KOTA MALANG Sofyan Noor Fakultas Ilmu Keolahragaan,Jurusan Ilmu Keolahragaan Universias Negeri Malang Jalan Semarang No.5 Malang Rias Gesang Kinanti Fakultas Ilmu Keolahragaan, Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No.5 Malang Olivia Andiana Fakultas Ilmu Keolahragaan, Jurusan Ilmu Keolahragaan Universits Negeri Malang Jalan Semarang No.5 Malang Abstract: Abnormal fat accumulation in the stomach not only a triglyceride storage organ, but also as a producer of leptin that will effect the cardiovascular system. This study was conducted with the aim of knowing men s VO 2 max in Malang. To knowing the correlation between central obesity and VO 2 max. this is a survey study. The instrument used is Bench Step Test. From the results of statistical analysis, average of VO 2 max respondents which is ml/kg/min. Correlation waist circumference and VO 2 max r = with level of significance α = 0,1 means significance. Keyword: Central obesity, VO 2 max, men s. Obesitas sentral merupakan penum-pukan lemak di dalam tubuh bagian perut. Penumpukan lemak ini disebabkan oleh jumlah lemak yang berlebihan pada jaringan adiposa subkutan atau jaringan viseral perut. Penumpukan lemak di daerah perut merupakan bentuk dari ketidakseimbangan energi pada tubuh. Ketidak- seimbangan energi pada tubuh dapat dipengaruhi oleh asupan makan berlebihan, dan aktifitas fisik yang rendah (Tchernof, 2013:369). Pada umumnya penumpukan lemak pada perut terjadi pada usia dewasa karena lemak tubuh menumpuk pada usia 30 tahun akibat menurunnya metabolisme tubuh (Fitriah, 2007:4). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara nasional, tahun 2013 prevalensi obesitas sentral adalah 26.6 %, lebih tinggi dari prevalensi pada tahun 2007 yaitu 18,8%. Namun akumulasi lemak yang abnormal atau berlebihan akan menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan (Watulingas, 2013:1064) karena jaringan adiposa bukan hanya sebagai organ penyimpan trigliserida, tetapi juga sebagai penghasil zat bioaktif yaitu leptin yang akan mempe-ngaruhi fisiologi yang ada di dalam tubuh termasuk sistem kardiovaskular. Jaringan adiposa bukan hanya organ penyimpanan trigliserida, tetapi sebagai penghasil zat bioaktif yang disebut adipokines yaitu leptin di dalam peredaran darah (Rahmawati, 2015:1). Kemudian pengikatan leptin dengan reseptor menyebabkan dimerisasi reseptor, sehingga mengaktifkan kompleks JAK2/STAT3. STAT3 dapat mengaktifkan inducible NO synthase (inos) yang akan meningkatkan NO dalam sel. NO yang meningkat akan mengaktifkan guanylate cyclase dan mengubah guanosine triphosphate (GTP) menjadi (Cyclic guanosine monophos-phate) cgmp sehingga kontraksi kardio-miosit akan menurun (Limanan, 2013:152). Penurunan kontraksi kardiomiosit akan menyebabkan stroke volume akan menurun sehingga suplai oksigen menuju otot akan menurun (Sudiana, 2013:216). Penurunan kerja otot ini mengakibatkan kelelahan (Maharja, 2015:99). Kelebihan lemak pada tubuh akan meningkatkan massa tubuh sehingga menurut hukum II Newton akan menurun-kan percepatan (gerak). Peningkatan berat badan akan membawa pada kebutuhan energi yang lebih besar pada sistem aerobik untuk melakukan pergerakan tubuh (Ramba & Hendrik, 2013:51). Penelitian Dagan dkk (2013:2) menyatakan pada laki-laki memiliki hubungan yang lebih kuat antara lingkar pinggang dengan physical fitness yang diperoleh dari hasil maximal fitness test bruce protocol, seseorang dengan lingkar pinggang yang lebih besar (dalam kategori obesitas sentral) memiliki VO 2 Maks yang lebih rendah. Peningkatan sel lemak di dalam tubuh akan melepaskan lebih banyak sitokin terutama IL-6 yang menstimulasi keadaan inflamasi (Sharma dkk, 2016:41). Peningkatan jumlah sitokin dalam tubuh akan mempengaruhi sistem kardiovaskular. Dari uraian di atas timbunan lemak yang berlebihan di daerah abdomen atau disebut obesitas sentral bukan hanya sebagai tempat penyimpanan trigliserida, tetapi juga menghasilkan leptin yang dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular. Diketahui sistem kardiovaskular sebagai tolak ukur tingkat VO 2 Maks. Atas dasar latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Korelasi Obesitas Sentral dan VO 2 Maks pada Pria di Kota Malang penting untuk dilakukan. Metode Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian survei kemudian dilakukan analisis korelasi antara fenomena atau antara faktor resiko dan faktor efek dengan rancangancross sectional. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengambilan sampel secara purposive sampling ini dilakukan didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti (Notoatmodjo, 2012:124). Variabel-variabel dalam penelitian ini yaitu obesitas sentral yang merupakan variabel indepeden atau variabel bebas dan VO 2 Maks yang merupakan variabel dependen atau variabel terikat. Populasi dan Sampel Populasidari penelitian ini adalah pria dewasa yang melakukan aktfitas fisik di lapangan Rampal kota Malang. Sampel yang dipilih berjumlah 68 orang. Peneliti membutuhkan sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2012:130). Pada penelitian ini kriteria inklusi yang dipilih adalah individu yang memenuhi kriteria penelitian yaitu pria berusia tahun, mengalami obesitas sentral, bersedia menjadi responden, dan lolos dalam screening tes melalui pengisian Part- Q & You Test (Physical Activity Readiness Questionnaire & You). Kriteria yang digunakan dalam pengukuran obesitas sentral yaitu memiliki lingkar pinggang lebih dari 90 cm yang diukur di antara tulang rusuk paling bawah atau costa XII dengan crista iliaca dengan pita ukur dan atau memiliki Waist Height Ratio (WHR) lebih dari 0,5 yang didapat dari hasil bagi antara lingkar pinggang dengan tinggi badan. Instrumen Penelitian Pada penelitian ini terdapat dua instrumen yang digunakan. Pertama, yaitu instrumen non tes yang digunakan untuk mengukur lingkar pinggang sampel. Lingkar pinggang diukur dengan pita meteran merk Butterfly. Yang kedua, instrumen tes dengan menggunakan tes naik turun bangku Bench Step test. Teknik Pengumpulan Data Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut. Tahap persiapan, dalam tahap ini peneliti akan menyiapkan dan menentukan sampel penelitian sebagai responden. Penentuan calon responden yaitu yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia menjadi responden penelitian. Pada tahap pelaksanaan, Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2017 yang bertempat di Lapangan Rampal, Kota Malang yang akan dilakukan beberapa hal meliputi: 1) Mengisi form ketersediaan menjadi subjek penelitian (informed consent), 2) Melakukan cek kesehatan (cek tekanan darah, dan menghitung heart rate per menit sebelum dan sesudah tes), berat badan, tinggi badan, dan lingkar pinggang, 3) Responden mengisi form Part-Q & You Test (Physical Activity Readiness Questionnaire & You)sebagai screening tes VO 2 Maks, 4) Responden yang dinyatakan lolos screening tes VO 2 Maks dapat melak-sanakan tes VO 2 Maks, 5) Menyiapkan alat tes berupa bangku, stopwatch, metronom beats, blangko pengumpulan data, dan kamera, 6) Mengkoordinasi pelaksanaan tes pada tenaga pembantu lapangan, 7) Memberikan arahan atau petunjuk pelaksanaan tes kepada responden, 8) Responden melakukan pemanasan, 9) Melakukan pengumpulan data melalui tes kepada tiap responden. Data yang diperoleh akan dilakukan analisis data dan pembahasan sehingga dapat menyimpulkan hasil penelitian. Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yang pertama adalah uji statistik deskriptif, selanjutnya uji normalitas. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data hasil pengukuran lingkar pinggang dan VO 2 Maks berdistribusi normal atau tidak sebagai uji persyaratan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test dengan taraf signifikansi 0,1. Uji hipotesis menggunakan uji Korelasi KarlPearson yang digunakan untuk menentukan hubungan antara dua variabel yaitu lingkar pinggang dengan VO 2 Maks. Penghitungan uji statistik deskriptif, uji normalitas, dan uji korelasi KarlPearsonmenggunakan ban-tuan aplikasi SPSS statistic for windows version19.0. Hasil Deskripsi Data Berdasarkan uji statistik deskriptif terhadap responden disajikan dalam Tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Deskripsi data Lingkar Pinggang VO 2 Maks N Mean 93, ,9559 Std. Dev 6, ,41518 Minimum 78,00 30,69 Maximum 111,00 52,53 Modus 91 44,13 Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa ter-hadap 68 orang responden memiliki rata-rata lingkar pinggang cm. Nilai minimum lingkar pinggang responden 78 cm sedangkan nilai maksimum 111 cm. Modus hasil pengukuran lingkar pinggang adalah 91 cm. Hasil pengukuran VO 2 Maks didapatkan hasil rata-rata VO 2 Maks ml/kg/min. Nilai terendah VO 2 Maks ml/kg/min sedangkan nilai tertinggi VO 2 Maks ml/kg/min. Nilai modus VO 2 Maks adalah 44,13 ml/kg/min. Tabel 2.Hasil pengukuran IMT (Indeks Massa Tubuh) IMT F N P Normal % Gemuk % Obesitas % Keterangan: F = Jumlah responden N = Jumlah seluruh reponden P (%) = Persentase Berdasarkan data tabel 2 dari hasil pengukuran IMT responden yang memiliki IMT kategori normal berjumlah 25 orang (37%), IMT dengan berat badan lebih berjumlah 20 orang (39%), dan IMT dengan kategori obesitas 23 orang (34%). Tabel 3. Tabel Tingkat VO 2 Maks Kategori F N P Superior Excellent Good Fair Poor Very poor Berdasarkan data tabel 3 dari hasil pengukuran tingkat VO 2 Maks didapatkan hasil sebanyak 7 orang (10,3%) memiliki kategori excellent, 13 orang (19,1%) memiliki kategori good, 16 orang (23,5%) memiliki kategori fair, 16 orang (23,5%) memiliki kategori poor, dan 16 orang (23,5%) memiliki kategori very poor. Uji Normalitas Untuk mengukur apakah data tersebut berdistribusi normal sehingga dapat di-pakai dalam statistik parametrik dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test. Perhitungan uji normalitas dilakukan dengan taraf α = 0,1. Berikut adalah hasilnya. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirnov Test) dengan Taraf Signifikansi α = 0,1. Lingkar VO 2 Maks Kolmogorov- Smirnov Test pinggang 0,701 0,922 Signifikansi 0,709 0,363 Keterangan Normal Normal Berdasarkan Tabel 3 uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Test data lingkar pinggang responden pengunjung lapangan Rampal Kota Malang yang dilakukan dengan bantuan program komputer SPSS 19. Berdasarkan hasil uji normalitas (tabel 4.), distribusi data lingkar pinggang adalah normal karena memiliki signifikansi hitung sebesar 0.701, dan data VO 2 Maks memiliki signifikansi hitung sebesar Dari kedua data tersebut, semuanya memiliki sigifikansi hitung lebih besar dari 0.1 yang merupakan batas uji normalitas Kolmogorov-Smirnov Test pada taraf signifikansi 10% dengan bantuan program komputer SPSS 19. Maka dapat disimpulkan bahwa semua kelompok data yang ada dalam penelitian ini berdistribusi normal. Uji Korelasi Karl Pearson Setelah uji persyaratan normalitas dilakukan maka tahap selanjutnya adalah mencari hasil Pearson Correlation dengan hasil sebagai berikut. Tabel 5. Uji Korelasi Karl Pearson dengan Taraf signifikansi α=0,1. Lingkar pinggang VO 2 Maks Pearson - 1 Lingkar Correlation 0,462 pinggang Sig. (2- tailed) 0,000 VO 2 Pearson Correlation -0,462 1 Maks Sig. (2- tailed) 0,000 Berdasarkan data hasil uji KarlPearson Correlation menunjukkan bahwa hasil pengujian korelasi antara lingkar pinggang dengan VO 2 Maks (r = ). Hasil pengujian menunjukkan hasil negatif menunjukkan korelasi yang berlawanan antara lingkar pinggang dengan VO 2 Maks. Angka koefisien korelasi tersebut menunjukkan kuatnya korelasi antara lingkar pinggang dengan VO 2 Maks yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang cukup. Pada hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai Sig. (0,00) 0,1 maka Ha diterima. Berdasarkan hasil tersebut berarti bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara lingkar pinggang dengan VO 2 Maks. Pembahasan Karakteristik Subyek Penelitian Penelitian ini menggunakan sampel manusia berjenis kelamin laki-laki berusia tahun yang mengalami obesitas sentral, ditentukan menggunakan kriteria pengukuran lingkar pinggang lebih dari 90 cm dan atau lingkar pinggang 0,5 tinggi badan yang diukur di antara Crista illiaca dan Costa XII dengan jumlah 68 orang yang melakukan kegiatan olahraga di Lapangan Rampal Kota Malang. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengambilan sampel secara purposive sampling ini dilakukan didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti (Notoatmodjo, 2012:124). Penelitian dilakukan pada April 2017 di Lapangan Rampal Kota Malang. Data dari responden yang mengalami obesitas sentral pada pria berjumlah 68 orang. Dari hasil data yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak semua responden yang mengalami obesitas sentral memiliki IMT yang berlebihan ataupun obesitas, IMT dengan kategori normal tidak menutup kemungkinan termasuk dalam kategori obesitas juga. Seseorang dengan indeks massa tubuh rendah dapat memiliki rasio lingkar pinggang melebihi normal jika simpanan lemak pinggang meningkat yang berdampak pada meningkatnya risiko penyakit (Septyaningrum, 2014:50). IMT adalah tolok ukur untuk mengetahui status gizi yang merupakan keadaan dari tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan energi antara asupan makanan dan penggunaan energi. Ketika asupan makanan lebih melebihi kebutuhan maka pada tubuh mengakibatkan kelebihan nutrisi, begitupun sebaliknya ketika asupan makanan kurang dari kebutuhan maka tubuh akan kekurangan nutrisi. Untuk mengetahui IMT dihitung dengan memadukan antara berat badan dalam satuan kilogram (Kg) dan tinggi badan dalam satuan meter (m) yang kemudian dikuadratkan. Setelah dilakukan penghitungan kemudian hasil dari penghitungan diketemukan 3 kategori yaitu normal, gemuk, dan obesitas. Indeks Massa Tubuh normal meru-pakan keadaan tubuh yang tergolong sehat karena tidak kekurangan ataupun kelebihan berat badan. Berdasarkan hasil analisis data, responden sebanyak 25 orang (37%) memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) normal yaitu antara 18,5-24,9. Berdasar-kan hasil analisis terdapat responden berada pada kategori IMT antara 24-25, diketahui berjumlah 15 orang. Hal ini perlu menjadi perhatian karena mendekati kategori gemuk. Responden yang termasuk dalam kategori IMT gemuk yaitu hasil peng-hitungan antara sebanyak 20 orang (29%). Sedangkan responden yang termasuk dalam kategori IMT obesitas yaitu yang hasil penghitungannya lebih dari 27 sebanyak 23 orang (34%). Namun Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak dapat menggambarkan ukuran massa lemak dan tidak selalu akurat mencerminkan tingkat lemak tubuh dan distribusi lemak tubuh (Du, 2010:92). Dalam pengukuran IMT mempunyai keterbatasan yaitu pada orang yang berotot dan bertulang besar dapat memiliki IMT tinggi tetapi tetap sehat sehingga penggunaan IMT kurang tepat (Setyaningrum, 2014:50). Berdasarkan hasil pengukuran IMT terdapat 37% dari responden yang memiliki kategori normal, akan tetapi setelah diukur lingkar pinggangnya menggunakan pita ukur terdapat penumpu-kan jaringan lemak yang berlebihan di daerah abdomen. Penumpukan jaringan lemak yang berlebihan di daerah abdomen ini disebut dengan obesitas sentral. Hal ini berdasarkan data hasil pengukuran lingkar pinggang yang menunjukkan dengan IMT yang normal tetapi lingkar pinggangnya masuk dalam kategori obesitas sentral. Kategori obesitas sentral yang ditentukan adalah memiliki lingkar pinggang lebih dari 90 cm dan atau 0,5 dari hasil bagi antara lingkar pinggang dengan tinggi badan. Hal ini terjadi karena sebagian besar laki-laki yang memiliki energi berlebihan dalam tubuh akan diubah menjadi trigliserida dan akan disimpan di jaringan adiposa sebagai lemak tubuh di daerah abdomen yang biasa disebut obesitas tipe android (Tchernof, 2013:371). Menurut Patidar (2013:791) bahwa obesitas tipe android juga disebut obesitas tipe apel karena bentuk tubuh seperti apel yang kebanyakan dialami oleh laki-laki. Selain itu, obesitas sentral pada orang dewasa dapat terjadi karena dipengaruhi oleh pola makan yang salah. Apabila asupan kalori melebihi dari yang dibutuhkan tubuh, maka kelebihan kalori tersebut akan disimpan di jaringan adiposa khususnya di daerah abdomen (Susanti, 2015:32) disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipo-talamus agar menurunkan produksi Neuro Peptide Y (NPY), sehingga terjadi penurunan nafsu makan (Cahyaningrum, 2015:1368). Tetapi pada sebagian besar yang mengalami obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan. Resistensi leptin merupakan kondisi dimana menurunnya kemampuan leptin untuk menekan makanan yang masuk, dan menekan penambahan berat badan. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya obesitas sentral adalah aktifitas fisik. Aktifitas fisik berperan penting untuk mencegah terjadinya penumpukan lemak dalam tubuh dan memiliki peranan terhadap distribusi lemak tubuh melalui penggunaan lemak dari daerah perut sebagai hasil simpanan jaringan adiposa. Menurut Nisa (2015:8) aktifitas fisik yang ringan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan obesitas sentral. Aktifitas fisik berbanding terbalik dengan obesitas sentral, semakin ringan aktifitas fisiknya, resiko mengalami obesitas sentral semakin meningkat. Semakin berat aktifitas seseorang, risiko seseorang mengalami obesitas sentral semakin rendah. Dalam hal ini berlaku konsep keseimbangan energi. Sisa energi yang tidak digunakan untuk beraktifitas akan menimbulkan timbunan lemak dalam tubuh. Aktifitas fisik merupakan pengeluaran energi yang mempunyai pengaruh besar pada total energy expenditure sehingga dapat menurunkan risiko obesitas sentral. VO 2 maks pada Pria Obesitas Sentral di kota Malang Pada hasil data yang diperoleh 7 orang (10,3%) memiliki kategori excellent, 13 orang (19,1%) memiliki kategori good, 16 orang (23,5%) memiliki kategori fair, 16 orang (23,5%) memiliki kategori poor, dan 16 orang (23,5%) memiliki kategori very poor. Sebagian besar responden memiliki VO 2 maks dengan kategori fair, poor, dan very poor karena tempat penelitian dilakukan di Lapangan Rampal kota Malang sebagai salah satu tempat untuk melakukan kegiatan olahraga, namun yang menjadi responden adalah pria yang mengalami obesitas sentral sehingga rata-rata VO 2 maksnya memiliki kategori yang fair, poor, dan very poor. Dari hasil pengisian Part-Q & You Test oleh responden bahwa tidak ada yang mengalami kelainan jantung dan sendi, sehingga hasil yang didapat dari bench step test sebagian besar memiliki VO 2 maks dengan kategori fair, poor, dan very poor. Kesehatan jantung berhubungan dengan sistem kardiovaskular yang dapat dijaga melalui kegiatan olahraga. Penelitian yang dilakukan Watulingas dkk (2013:1067) terhadap mahasiswa obesitas yang melakukan latihan fisik aerobik intensitas 70-80% dari heart rate maksimal (HRmax) selama 3 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu menunjukkan bahwa terdapat peningkatan VO 2 maks bermakna yang sebelumnya memiliki rata-rata 30,05 ml/kg/menit menjadi 35,73 ml/kg/menit. Respon dari sistem kardiovaskular yang utama terhadap aktifitas fisik adalah peningkatan cardiac output. Dari hasil data responden menun-jukkan bahwa sebagian besar memiliki VO 2 maks dengan kategori fair, poor, dan very poor, bahkan ada yang memiliki kategori sangat baik. Hal ini disebabkan karena responden di lapangan Rampal kota Malang melakukan kegiatan olahraga yang terma-suk kegiatan aktifitas fisik, sehingga rata-rata tingkat VO 2 maks responden sebagian besar memiliki VO 2 maks dengan kategori fair, poor, dan very poor. Karena dengan melakukan aktifitas fisik yang lebih berat seperti olahraga akan berkaitan dengan peningkatan VO 2 maks (Martinez dkk, 2013:312). Aktifitas fisik merupakan gerakan tubuh yang dilakukan otototot rangka yang menghasilkan pengeluaran sejumlah energi yang dinyatakan dalam satuan kilo kalori (Harikedua, 2012:
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks