Konsep Dasar Manusia Menurut Islam Tinjauan Sosial Budaya

Please download to get full document.

View again

of 7
244 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Konsep Dasar Manusia Menurut Islam Tinjauan Sosial Budaya Oleh : Amir Mu'alllm AmIrMu'alllm, lahirdikebumenjawa Tengah,50ktober 1954, Sarjana Mudanya diselesaikan di Ullsedangkan S-1 nyadhainsuka tahun
Document Share
Document Transcript
Konsep Dasar Manusia Menurut Islam Tinjauan Sosial Budaya Oleh : Amir Mu'alllm AmIrMu'alllm, lahirdikebumenjawa Tengah,50ktober 1954, Sarjana Mudanya diselesaikan di Ullsedangkan S-1 nyadhainsuka tahun 1982dalambidangSyari'ah. GelarMasterof Islamic Studies diperolehnya di Universitas Kebangsaan Malaya pada tahun Sejak tahun 1978 la sudah mengabdikan dirinya di Ull sebagai Kabag. Pengajaran, Perpustakaan, Penelitian - dan kemudian diangkat menjadi dosen tetap pada Fak. Syari'ah Ull. Tahun 1988 la di percayakan menjabat sebagai Pembantu Dekan IIpada fakultas yang sama, dan saatinidipercayakan untukmemimpin Fak. Syari'ah Ull. sebagai Dekan. Pendahuluan Kehidupan manusia di muka bumi ini senantiasa dihadapkan dengan berbagai masalah. Salah 'satu permasalahan yang selalu menjadi perhatian manusia terutuma yang berhubungan dengan Islam adalah masalah sosial budaya, karena dari sinilah,munculnya keberagamari nilai yang berkaitan dengan perilaku manusia. Dalam agama Islam masalah sosial budaya bukan merupakan hal yang asing, karena Islam tidak-sekedar agama yang mengajarkan tata cara kontemplasi ritual melainkan merangkum aspek ajaran yang meliputi aktivitas individu dan aktivitas sosial termasuk di dalamnya masalah budaya yang berkembang di masyarakat. Istilah sosial budaya dalam tulisan ini diarahkan pada segala sesuatu yang' terkait dengan kehidupan manusia dalam. dimensi sosial yang diperoleh dari hasil kajian dan kreativitas. Sedangkan hubungannya dengan umat Islam adalah merupakan prestasi dan kreasi manusia (muslim) yang dalam wujud operasionalnya bersqmber dari ajaran pokok yaitu Al- Qur'an dan As-Sunnah. Keberagaman budaya umat Islam harus didekatkan dan dapat diukur dengan nilai-nilai yang agung yang digali dari penghayatan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi landasan makhluk berbudaya yaitu manusia. Namun sebagai konsekwensi dari globalisasi yang sudah merambah kepermukaan bumi, tidak menutup kemungkinan nilai-nilai- budaya produk manusia akan menggeser nilai-nilai ilahiyah. Bertitik tolak dari persoalan tersebut, tulisan ini mencoba mengungkap tentang ajaran Islam kaitannya dengan 14 AmirMu'allim.Ko'nsepDasarManusiaMenunjtIslam aspek sosial budaya hubungannya dengan perkembangan zaman. Pluralisme Kehidupan Manusia. Islam meriipakan norma yang harus menjadi acuan dalam mengaplikasikan perilaku manusia. Kapasitas produk perilaku manusia ditentukan oleh sejauh mana manusia mampu melekatkan kaidah/ norma Islam dalam dirinya. Al-Qur'an telah menegaskan dalam kalimat yang pendek tapi berdimensi luas bahwa, kualitas manusia yang dikatakan ashabul jannah (penghuni sorga) adalah mereka yang memiliki pendalaman aqidah dan beramal saleh (al-a'raf : 42). Istilah lain yang melengkapikualitas sumberdaya manusia adalah kemampuan seseorang dalam memadukan antara konsep pikir dan zikir (All Imron : 191). Dalam kontek ini konsep pikir menjadi perhatiandan bahasa.konseppikir seperti yang ditegaskan dalam surat Ali Imron ayat (9) adalah menjabarkan segala isi langit dan bumi dalam bentuk kreasi yangdapat memenuhi hajat hidup manusia yang berdaya guna dan berhasil guna. Ketinggian nilai aqidah seseorang adalah sangat didukung oleh kemampuan menggunakan nadhar (akal pikiran) dengan melihat ciptaan Allah secara makro. Keunikan alam dan pluralisme segala kehidupan manusia selalu dikembalikan kepada keagungan Rabbnya yang menciptakan alam, dengan kata-kata Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia maha Sue! Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Ali Imron : 191). Al-Qur'an menegaskan bahwa pluralisme hidup bermasyarakat adalah merupakan fithrah untuk memberik'an kesempatan kepada hambanya berkompetisi dalam kebaikan (Al-Maidah : 48). Bagi orang Islam hidup dalam kemajemukan merupakan kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya dalam mengemban amanah Allah dengan mengingat batas-batas/norma yang ada. Allah menegaskan bahwa sikap hidup yang sehat itu adalah menggunakan segi-segi kelebihan masing-masing untuk secara maksimal saling mendorong dalam usaha mewujudkan berbagai kebaikan (Al khairat) dalam masyarakat. Kemajemukan hidup dalam masyarakat tidak sekedar tertulis dalam sejarah masa lalu dimanarasulullah s.a.w. menyebarkan agamanya, tetapi dalam kehidupan sekarangpun terbukti tentang kemajemukan hidup masyarakat. S^erti halnya di Indonesia juga dapat disebut sebagai 'masyarakat majemuk (plural) disebabkan hampir semua agama, khususnya agama-agama besar (Islam, Kristen, Hindu dan Budha) terwakili di Indonesia. Berikutnya dengan itu, masyarakat sering merujuk dengan perasaanbangga yangsulit disembunyikan kepada kadar toleransi keagamaan yang tinggi,kepada bangsa kita. Bahkanjidak jarang sikap itu disertai sedikit banyak anggapan bahwa di dunia, dan sudah tentu Pancasila acapkali disebut sebagai salah satu bahan dasar, jika bukan yang terpenting bagi keadaan-keadaan positif itu (Nurcholis Madjid, 1992 : 177). Dalam menanggapi kemajemukan agama, M. Din Syamsuddin mengatakan bahwa kemajemukan agama adalah kenyataan yang tidak dapat diingkari mungkin merupakan Sunnatullah dalam proses pembiakan dan persebaran umat manusia. Proses globalisasi yang membara 15 UNISIANO. 20 TAHUN XIIITRIWULAN proses pluralisme atau pemajemukan dewasa ini menjadikan kemajemukan tersebut bertambah majemuk, seperli halnya kemajemukan agama, proses pemajemukan agama juga tidak btsa dielakkan. Proses ini bahkan dapat terjadi dalam satu tradisi keagamaan yang majemuk dikalangan umat satu agama. Proses sejarah membuktikan bahwa paham keagamaan ini dapat mentransformasi menjadi agama tersendiri. Banyak agamaagama kontemporer sesungguhnya merupakan Sempalan dari agama induk lertentu (Panjimas No. 771 : 14). Sinyalemen-sinyalemen yang tertuang dalam Al-Qur'an dan fakta-fakta yang dikemukakan oleh para pakar tentang pluralismekehidupan manusia memberikan indikasi bahwa aspek-aspek perilaku sosial budaya produk manusia sangat mempengaruhi budaya Qur'ani. Oleh karena itu untuk menjaga kelestarian sosial budaya Islam maka setiap produk budaya manusia harus selalu dipayungi dengan budaya Qur'ani. Penciptaan Manusia dan Gagasan Al- Qur'an tentang Sosial Budaya. Apabila manusia ditinjau dari sudut pandang agama Islam,' maka manusia adalah khalifah Allah di bumi. Makhluk yang berlugas mengurus bumi dengan seluruh isinya, dan berkewajiban memakmurkannya. Menurut kodratnya, manusia cinta kepada kesucian dan selalu cenderung kepada kebenaran. Tema-lema Al-Qur'an tentang penciptaan manusia ini banyak diungkap balk secara filosofis, tujuan dan arti kehidupan itu fnenuntut kepatuhan mutlak manusia, adalah pemenuhan dan realisasi kehendak Tuhan. Manusia dilengkapi dengan unsurrunsur yang sangat esensial untuk menjalankan misi istimewanyasebagai khalifah. Sebagai makhluk bermoral, manusia merupakan jembatan kosmis tempat lewat kehendak Illahi, dalam totalitas dan etika yang tinggi menembus ruang waktu dan menjadikannya aktual. Manusia juga dilengkapi akal dan kemampuan mengkonseptualisasikan, diberi petunjuk melalui wahyu Tuhan dalam terma-terma keuiamaan moral. (Manzoor, 1991 ; 64). Unsur-unsur esensial yang melekat pada diri manusia itu menjadikan status ke-khalifahan yang disandangnya dalam lingkup anugerah Allah yang sehtral dan berimplikasi pada suatu otoritas untuk merancang bangunan masyarakat dan masa depannya. Berdasarkan pengertian tersebut, kiranya jelas bahwa khalifah adalah gagasan Al-Qur'an tentang kebudayaan. Sedangkan bumi dengan berbagai fasilitas yang tersedia di dalamnya menjadi sarana sekaligus -alat dalam berkreasi untuk menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi individu maupun lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Di samping otoritas mutlak yang diberikan kepada manusia, mereka. juga harus dapat mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Di dalam Al-Quf'an terdapat pernyataan Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami . (AI-Mu'minuh, 115), mengingatkan m'anusia bahwa seluruh aktivitasnya yang merupakan menifestasi budaya harus dapat dikontrod berdasarkan kriterium nilai Ilahiyah. DalanTkaitan ini,. Islam sarat dengan kandungan sistem nilai moral dan norma-norma yang dapa(_dijadikan pilar 16 AmjrMu'allim. Konsep DasarManusia Menunit Islam pembentukan masyarakat yang beradab. Pesan-pesan AI-Qur'an seperti menegakkan keadilan dalam dimensi politik, ekonomi, sosial, spiritual dan dimensi-dimensi lainnya, menunjukkan bahwa Al-Qur'an mampu, memotivasi manusia untuk berkarya sekaligus berkiprah dalam kehidupan menurut batasbatas etik tertentu untuk menjalankan transaksi kehidupan. Menyimpang dari gagasan etik dan konsep-konsep eternal Al-Qur'an, individuindividu dan masyarakat akan kehilangan pegangan dan karenanya bertentangan dengan fitrahnya, sehingga aktivitas manusia dalam lingkungan dan masyarakat merupakan suatu cerminan dari kreasi yang secara utuh dapat dikategorikan menjadi' suatu budaya yang erat kaitannya dengan kesadaran moral dan etika kebudayaan. Di sini, pandangan mengenai budaya melipuli perilaku yang berwujud dalam pola aktivitas suatu masyarakat, dan budaya bentuk fisik material yang dihasilkan oleh kreatifitas individu atau kelompok masyarakat. Kedua bentuk budaya ini sesungguhnya bisa diukur dengan nilai pola ' interaksi sosial kelompok masyarakat, baik itu dalam bidang ekonomi, politik dan kesenian. Peranan Dakwah dalam Transformasi Sosial Budaya Dalam melaksanakan tugasnya selaku ulusan Allah, Muhammad selalu menekankan ajaran moralitas keagamaan (Islam) dalam rangka menciptakan tatanan kolektivitas yang utuh dan harmonis. Doktrin yang ditawarkan adalah al-furqan, pemisah antara yang baik dengan yang buruk. Paras dakwah yang ditampilkan oleh Nabi ini menunjukkan sikap arif dan bijaksana yang menempalkan beliau sebagai teladan yang baik. Dalam kontek kebudayaan, interaksi dakwah dengan lingkungan sosial berkembang dua lipe pendekalan yang dia metrical, yaitu pendekatan yang kompromis dan non kompromis. (Simuh, 1993 : 6). Tipe pendekatan non kompromis bcrdasarkan pada pengembangan nalar yang membedakansecara diameterik antara yang Islamidan yang tidak Islami. Istilahistilah diametrik seperti iman dan kafir, Islam dan Jahiliyah, tauhid dan musyrik adalah sarana untuk menarik garis pemisah (furqan) yang tegas dan diametrik antara yang Islami dan yang tradisi Sosial budaya masa jahiliyah yang sangat bertentangan dengan Islam. Ciri utama tipe pendekatan ini, kurang terbuka dan hanya dapat menerima unsur-unsur tradisi setempat atau yang bisa diintegrasikan dengan ajaran Islam. Dengan cara ini ajaran-ajaran agama tetap lerjaga karena memang berlujuan ingin mendominasi atau mewarnai secara kental budaya-budaya yang ada. Betapapun luhurnya tujuan dari tipe pendekatan non kompromis, namun dalam prakteknya sering kurang mendapat respon posilif dari masyarakat, terutama mereka yang fanatik dan mempertahankan tradisi lama. Dengan latar belakang seperti inilah banyak konflik atau bahkan menimbulkan pertempuran fisik. Karena bagaimanapun juga mendobrak sesuatu yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat merupakan pekerjaan yang tidak ringan. Pada masa awal Islam, misalnya, sering terjadi ketegangan antara Rasulullah dan kaum muslimin dari satu pihak dengan elitiselitis Arab Quraisy yang sangat membela tradisi jahiliyah dari pihak lain. Demikian 17 UNISIA NO. 20 TAHUNXm TRIWULAN ini sering mengakibatkan tindakantindakan penindasan terhadap kaum muslimin yang pada masa itu secara kuantitatif jauh lebih kecil dibanding mereka yang menyembah berhala (musyrik). Pendekatan non kompromis sesungguhnya bertujuan ihempertahankan jati diri ajaran Islam. Oleh karena itu membutuhkan aktor dakwah yang sanggup memahami jiwadan kepribadian ajaran Al- Qur'an, dan memiliki pandangan kritis dan dinamis terhadap lingkungan seni dan sosial budaya yang dihadapinya. Sehingga mampu membedakan hal-hal yang Islami dengan yang tidak Islami. Jati diri ajaran Islam tidak tergantung pada sosial budaya di dalam suatu daerah tertentu. Untuk itulah dalam pelaksanaan dakwah, terutama keluar menghadapi masyarakat primitif hanya akan berjalan muius denganmendahulukan amar (perintah) terhadap hal-hal yang ma'ruf dan mengemudikan nahi (larangan) terhadap hal-hal yang mungkar, sebagai taktik pentahapan proses untuk sementara waktu. Tipe pendekatan non kompromis, dengan demikian, tetap lelevan untuk menciptakan seni atau memperhalus seni budaya setempat ke arah yang positif yang dapatdimanfaatkan untuk mengembangkan agama. Pendekatan tipe kompromis ini sangat dominan dalam sejarah penyebaran agama Islam. Pada kompromis ini berarti ajaran Islam dipertemukan atau dipadukan dengan tradisi budaya lama yang memiliki jati diri yang berbeda atau bahkan mungkin berlawanan. Dengan perpaduan ini tentu membentuk sinkritis yang menyimpang dari jati diri ajaran Islam asali (awali). Para pakar muslim mengasumsikan bahwa munculnyapendekatan ini lebih disebabkan karena faktor ketidaktahuan terhadap jati diri Islam asali. Yaitu jati diri ajaran Islam yang dipahami dan diamaikan oleh Nabi dan sahabat pada periode awal Islam. Konsep imamah, misalnya, yang dikembangkan oleh aliran Syi'ah menurut dugaan berasal dari tradisi budaya suku Arab bagian selatan.(yaman) dan warisan kerajaan Persia purba yang mendewadewakan sang raja. Pemitosan para Imam atau pimpinan agama berasal dari pendewaan tersebut, kemudian dijadikan pisau analisis untuk memahami dan menafsirkan ajaran Islam. Berkembangnya konsep imamah yang demikian dalam tradisi Syi'ah berarti mereka merubah sistem kepemimpinan rasional dalam Islam dengan ulama sebagai pemuka agama sesudah zaman Nabi, menjadi sistem kepemimpian yang kharismatik dengan-para imam sebagai pemegang otoritas di atas para ulama. (Simuh, 1993). Namun demikian-, pendekatan tersebut sangat ^ prospektif bagi pengembangan agama Islam. Karena nilainilai ajaran Islam tidak rigit sehinggaselalu terbuka untuk menyedap kreasi-kreasi pemikiran baru budaya. Dan budaya inipun akan mencuat berkat dukungan dan penyerapan unsur-unsur kerohanian dan etika ke-islaman. Strategi kebudayaan yang dijalankan oleh aktor dakwah adalah tidak lainupaya menyelenggarakan unsur-unsur ajaran Islam dengan warisan budaya komunitas dalam suatu daerah. Masyarakat Muslim dan Kebudayaan Kontemporer Dalam Islam tidak ada pertentangan antara etika yang terinternalisasi dengan hukum yang tereksternalisasi, antara niat 18 AmirMu'allim, Konsep DasarManusia Menurut Islam yang- t.erssembunyi dengan tindakantindakan nyata. (Manzoor, 1991 : 64 ). Oleh sebab itu, nilai kebudayaan bagi komunitas muslim yang merupakan hasil kreasi dan produkstivitasnya adalah yang mendasardari masyarakat itu sendirl. Islam menuntut bahwa liiasyarakat perlu moralitas dan tuntunan-tuntunan komitmen relegius. Nilai-nilai agung inl menjadi kontrol aktivitas manusia, termasuk memberi arahan dalam pembentukan budaya. Jadi pemanfaatan alam semesta dengan etika transendental menjadi tujuan utama manusia. Dan nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur,an dan Sunnah satu-satunya alternatif pilihan dalam era globalisasi yang mendunia ini dimana nilai-nilai yang bersumber dari luar ajaran Islam sudah tidak mampu menyelamatkan m^anusia dari krisis nilai yang sangat kontras dengan tujuan penciptaannya. Namun demikian, dalam era globalisasi ini dimana pembangunan merupakan usaha aplikatif atas pcnemuanpenemuan ilmu pengetahuan dan teknologi; sebagai salahsatu manifestasi kebudayaan terdapat dua kecenderungan para pemikir muslim. Pertama, kelompok modernis berkeyakinan dan bersikap dptimis yang realis. Artinya; mereka menerima dan membuka diri dengan penuh.gairah pengaruh ilmu dan teknologi barat sebagai sarana yang paling ampuh untuk menyegarkan dan mendinamisir kemurnian pemahaman agama mereka. Pandangan ini cukup realistis karena dengan mengawinkan Islam dengan pendekatan dan anaiisis ilmiah hasil pemikiran barat modern pemurnian pemikiran Islam yang dinamis kritis bisa dihidupkan kembali. Kedua, kelompok revitalis, mengembahgkan sikap optimis 'yang romantisme; Mereka berkeyakinari bahwa Islam justru merupakan alternasi bagi kemajuan peradaban barat. Mereka berkeyakinan dan optimis, apabila segala-galanya lelah dikembalikan pada jati diri Islam tentu otomatis akan beres. Sikap optimistis ini, kemudian memunculkan ide islamisasi ilmu-, ekonomi, masyarakat dan lain sebagainya. Lepas dari sikap tersebut di atas, jiwa ajaran Islam yang terkandung dalam pesan-pesan Al-Qur'an dan sunnah adalah sebagai bentuk dan nilai yang paling sesuai dengan semangat zaman modern. Islam telah menklaim dirinya sebagai aliran komprehensip dan rahmatan bagi seluruh makluk-sudah barang tentu mampu menumbuhkan satu tradisi nilai baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Dalam prespektif ini, Islam ditempatkan' sebagai satu sistem lengkap dan sempurna dalam proses modernitas masyarakat. Dan eksistensinya harus ditonjolkan secara kreatif dan fungsionai sehingga mampu beraklarasi dengan perubahan arus modernisasi bidang-bidang sosial, politik, pengembangan alat-lat produksi dan teknologi, demikian juga di bidang pemikiran dan kebudayaan. Penutup Dalam masa global yang sudah mendunia ini, dimana pengaruh budaya asing telah menimbulkan konflik nilai sebetulnya akan menempatkan umat Islam pada posisi delematis. Bukankah Islam karena sosoknya yang Ilahiyah dan ideal mampu membangkitkan inti kebebasan jati diri manusia yang mandifi dan luhur. Islam memandang secara menyeluruh aspekaspek filsafat, spiritual, dan pandangan- 19 UNISIA NO. 20 TAHUNXIIITRIWULAN pandangan moral. Dengan demikian KebudayaanUlumui Quran, No. 9, vol. problema umat dalam lingkaran konfiik 1991), hal. 64 nilai bisa diselesaikan melalui interpretasi Nurchollsh Madjid, DR Islam Doktrin dan dahwah ke dalam pengertian tranformasi Peradaban sebuah Telaah Kriiis budaya dalam pengertian yang dinamis, tentang Keimanan. Kemanusiaan dan namun berakarpada nilai-nilai Qur'ani ATemot/erena/i.-Jakarta: YayasanWakaf paramadina, Panjimas, Nomor 771, tahun XXXV a ar acaan Simuh,'Dr, Interaksi Islam dan Kebudayaan rrarf/s/o/ifl/, (Jurhal Penelitian Agama, AUVaruqi, Ismail Islam dan Kebudayaan, no. 3 Januari-April 1993, Balal ahhbahasayustiono, Mizan, It, hal.7. penelitian P3M IAIN Sunan kalljaga ManzooT,S.Puvtz,Ungkungandannilai-nilai Yogyakarta) hal. 6. dalam prespektifislam, (Jurnal ilmu dan 20
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks