Komunikasi Interpersonal oleh Anak Dewasa dalam Menciptakan Kohesivitas pada Keluarga Perceraian

Please download to get full document.

View again

of 10
16 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Komunikasi Interpersonal oleh Anak Dewasa dalam Menciptakan Kohesivitas pada Keluarga Perceraian
Document Share
Document Transcript
    Komunikasi Interpersonal oleh Anak Dewasa dalam Menciptakan Kohesivitas pada Keluarga Perceraian Ratis Dhuril Rekso, S.I.Kom, Akh. Muwafik Saleh, S.Sos.,M.Si, dan Diyah Ayu Amalia A, SE., M.Si     Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya ABSTRAK    Penelitian ini tentang komunikasi interpersonal yang diciptakan anak kepada orang tuanya sebagai reaksi atas  persepsinya terhadap kondisi kohesivitas di keluarga perceraian. Permasalahan penelitian merujuk pada seberapa besar  pengaruh komunikasi interpersonal anak terhadap kohesivitas keluarga pasca perceraian. Oleh karena itu permasalahan dalam penelitian ini adalah: bagaimana peran anak dewasa dalam menciptakan kohesivitas pada keluarga broken home  melalui komunikasi interpersonal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Objek penelitian adalah lima orang anak dari keluarga  perceraian yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap. Sebelum melakukan penelitian,  peneliti melakukan preliminary research dengan melakukan teknik wawancara terbuka atau tidak terstruktur. Setelah data umum terkumpulkan, peneliti melakukan wawancara semi terstruktur dengan dua tahap, yaitu mengumpulkan data profil informan kemudian mereduksi data sebagai bahan wawancara semiterstruktur yang kedua untuk pengembangan data lebih dalam. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan teknik miles dan huberman, yang meliputi data reduction, data display, dan conclusion drawing atau verification. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang dilakukan anak sebagai reaksi atas kondisi kohesivitas keluarganya mampu mempengaruhi kohesivitas itu sendiri dengan memberikan perubahan yang positif. Kesimpulannya komunikasi interpersonal dan kohesivitas keluarga yang tercakup dalam komunikasi keluarga merupakan suatu bentuk metakomunikasi, yaitu hubungan simbiosis antara komunikasi dengan perkembangan relasional. Komunikasi mempengaruhi perkembangan relasional, dan pada gilirannya, perkembangan relasional mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat.  Kata kunci: Komunikasi interpersonal, kohesivitas keluarga, persepsi interpersonal, komunikasi keluarga, keluarga broken home. ABSTRACT    This research is about interpersonal communication which created by grown children to their parents as reaction  for cohesive condition caused by divorced parents. The research exposed how grown children interpersonal communication affects family cohesiveness after divorce. So the main problem is how grown children role can create cohesiveness in “broken home” family by interpersonal communication.  This research is using descriptive qualitative method. The object is five grown children from broken home family which purposively chosen. Data collect including three steps. Before research, preliminary research by doing some open or unstructured interview should be done. After general data collected, researcher doing semi-structured interview including two steps, first collect source profile data, then reduce data as material for second semi-structural interview for deeper data development. In data analysis, Miles and Huberman technique is used, including data reduction, data display, and conclusion drawing or verification. This research results shows that grown children interpersonal communication as reaction for the family cohesiveness can affect that cohesiveness itself. The conclusion is, interpersonal communication and family cohesiveness which covered in family communication is a form of meta-communication, which is symbiosis between communication and relational development. Communication affects relational development, and in turns, relational development affects the nature of communication among involved people.  Keywords: Interpersonal communication, family cohesiveness, interpersonal communication, family communication, broken home family  1.   PENDAHULUAN   Keluarga merupakan suatu sistem yang menekankan hubungan-hubungan secara keseluruhan daripada secara individual. Hubungan-hubungan dapat terjadi sebagai bentuk komunikasi di dalam keluarga inti, dimana di dalam sebuah keluarga terdapat ikatan darah antara satu dengan yang lain pada keluarga inti tersebut, seperti yang diungkapkan Galvin dan Brommel dalam Stewart dan Sylvia (2001:215) yang mengungkapkan  bahwa keluarga adalah jaringan orang-orang yang  berbagai kehidupan dalam jangka waktu lama, yang terikat oleh perkawinan, darah, atau komitmen, legal atau tidak, yang menganggap diri mereka sebagai keluarga, dan yang berbagi pengharapan-pengharapan masa depan mengenai hubungan yang berkaitan. Pemahaman tersebut dilihat lebih pada keseluruhan daripada sebagai jumlah anggota perseorangan. Di dalam keluarga terdapat suatu bentuk sistem dimana para anggota keluarga saling berhubungan satu sama lain dan bersifat saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam jangka waktu yang lama. Namun, seringkali terdapat keluarga yang di dalam  perkembangannya menemui banyak permasalahan dalam menjaga hubungan di antara para anggotanya. Baik antara suami istri, orang tua ke anak, antar anak, hingga antara keluarga inti dengan keluarga besar. Dalam  penelitian ini, fokus akan diletakkan pada kondisi keluarga yang mengalami perceraian hidup. Perceraian merupakan salah satu bentuk permasalahan hubungan individu di dalam keluarga, khususnya antara suami dan istri. Menurut Erna Perceraian adalah cerai hidup antara pasangan suami istri sebagai akibat dari kegagalan mereka menjalankan obligasi peran masing-masing. Dalam hal ini perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku (http://belajarpsikologi.com/pengertian- perceraian/,2/4/13; 08:04 PM). Perceraian menjadi awal terjadinya perubahan-perubahan terhadap sistem di keluarga serta fungsi dan peran masing-masing anggotanya. Beberapa di antaranya adalah terciptanya peran ganda bagi orang tua yang menerima hak asuh anak, perubahan psikis pada masing-masing anggota keluarga saat mengikuti dinamika  perubahan yang ada sebagai tindakan adaptasi, dampak sosial ekonomi, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan,  perceraian telah menyangkut, dipengaruhi dan mempengaruhi banyak aspek sosial. Pasca perceraian, anak akan memiliki dua “kubu” keluarga orientasi yaitu orientasi keluarga ibu dan orientasi keluarga Ayah. Constance Ahrons dalam  Bunga Rampai Sosiologi Keluarga  (2004:158) mengemukakan bahwa Ikatan yang terjadi antara anak dengan ayah-ibunya yang tidak serumah lagi membentuk suatu sistem keluarga yang disebut “ a binuclear family  system ”. Sistem keluarga ini terdiri dari dua keluarga  batih yang merupakan keluarga orientasi dari si anak dan tetap berhubungan satu sama lain. Keluarga yang akan menjadi orientasi sang anak bergantung pada kesepakatan yang dibentuk oleh para orang tua mereka yang bercerai. Ada yang menentukan keluarga Ibu menjadi orientasi utama dan sebaliknya, atau sama-sama memiliki orientasi yang sama. Merujuk pada masalah sistem dan orientasi keluarga  pasca perceraian yang telah disinggung di atas, akan muncul suatu pertanyaan mengenai bagaimana tingkat dimensi hubungan yang disebut dengan kohesivitas di antara mereka. Hal ini dikarenakan, di antara banyak variabel yang digunakan para ahli teori untuk menjelaskan keluarga, dua variabel yang penting adalah kohesi dan adaptasi. Stewart dan Sylvia (2001:217) menjelaskan bahwa “Kohesivitas merujuk pada seberapa dekat keterikatan anggota- anggota keluarga”. Hal ini sangatlah menarik, karena di dalam keluarga yang tidak mengalami perceraian sekalipun, masih sering ditemukan keluarga yang mengalami krisis hubungan yang ditandai dengan menurunnya tingkat kohesivitas di dalamnya. Misalnya adalah adanya permasalahan keluarga yang diakibatkan kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya karena kesibukan bekerja, sehingga antara orang tua dan anak memiliki “jarak” walaupun tinggal dalam satu atap. 2.   Metode Pengumpulan Data Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Bogdan dan Taylor (Zuriah,2006:92) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur  penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan menurut Sumanto (1990:47), pendekatan deskriptif kualitatif adalah  penelitian yang berusaha mendeskripsi dan menginterpretasi kondisi atau hubungan yang ada,  pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang  berlangsung, akibat yang sedang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembang. Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Fokus penelitian sangat membantu penelitian kualitatif membuat keputusan untuk membuang atau menyimpan informasi yang diperolehnya. Moleong (2006:94) menyebutkan  bahwa melalui fokus penelitian dapat diketahui secara   pasti data mana dan data mengenai apa yang perlu dikumpulkan serta data mana pula yang walaupun menarik karena tidak relevan, tidak perlu dimasukkan ke dalam sejumlah data yang sedang dikumpulkan. Fokus dari penelitian iniantara lain: 1.   Komunikasi dan kohesivitas pada keluarga  pasca perceraian. 2.   Bentuk dan dampak komunikasi interpersonal oleh anak dewasa terhadap kohesivitas keluarga. Ada metode pengumpulan data yang bisa dilakukan peneliti untuk mengumpulkan data-data sebagai berikut: 1.   Wawancara terbuka Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan  preliminary research. Preliminary research atau penelitian pendahuluan adalah aktivitas atau kegiatan persiapan yang dilakukan oleh seorang  peneliti, dengan tujuan untuk menentukan objek dan subjek penelitian yang tepat, yang sesuai dengan tema  penelitian yang menjadi fokus kajian peneliti. Penelitian pendahuluan dilakukan dengan cara wawancara terbuka atau tidak terstruktur. Wawancara terbuka atau tidak berstrukur yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan metode sederhana yaitu dengan bertanya langsung pada informan. Tujuan adalah untuk mendapatkan gambaran umum dan pendapat awal mengenai perceraian, dampak perceraian terhadap fungsi keluarga, dan kohesivitas keluarga pasca perceraian. Hasil dari penelitian pendahuluan tersebut akan dijadikan sebagai latar belakang dan ringkasan hasil datanya akan tersajikan. Teknik pemilihan informan dipilih secara  purposive  sampel.Menurut Sugiyono (2009:54)  purposive sampel merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.Informan akan dipilih sesuai dengan keperluan penelitian karena yang digali merupakan kedalaman informasi bukan kuantitas informan. Menurut Bunguin (2008:76) subyek penelitian atau yang disebut juga informan penelitian adalah subyek yang memahami informasi obyek penelitian sebagai  pelaku maupun orang lain yang memahami obyek  penelitian. Berikut ini adalah beberapa kriteria yang ditetapkan oleh  peneliti dalam menentukan informan, antara lain: 1.   Anak dewasa dari keluarga perceraian. Masa dewasa yang dipilih oleh peneliti adalah masa dewasa awal yaitu awal umur 20 tahun hingga 30 tahun. 2.   Tinggal atau dibesarkan oleh orang tua kandung. 3.   Bersedia untuk sepenuhnya terbuka karena data yang diingin peneliti merupakan informasi kehidupan pribadi informan. 4.   Memiliki orang-orang dekat yang bisa dijadikan informan tambahan untuk menunjang akuratisasi  jawaban informan utama serta validitas hasil penelitian. Pada penelitian ini, dikarenakan tempat tinggal atau domisili para informan tersebar di beberapa kota yang  berbeda dan jauh, maka penelitian dilakukan dengan menggunaan media internet seperti skype, email, dan voice mail. Serta media komunikasi seperti telepon. Sedangkan untuk informan yang berdomisili di Malang, dilakukan wawancara langsung. Karena informan di Malang lebih mudah untuk dilakukan penelitian, maka  pelaksanaannya didahulukan dan hasil dari wawancara dijadikan sebagai acuan dalam triangulasi jawaban pada keseluruhan informan Hasil dan Pembahasan 3.1.   Komunikasi Keluarga Di dalam kasus-kasus perceraian, anak sering kali menjadi korban. Tetapi yang paling menjadi sorotan adalah perubahan pola asuh yang diterapkan terhadap anaknya. Perubahan pola asuh yang dilakukan oleh dua kubu (ayah dan ibu) dapat terjadi melalui hasil penelitian terhadap empat informan yang mengalami perubahan dalam berkomunikasi dari lima informan. Keterangan:     Authoritarian  (otoriter / over protective )     Authorative  (otoritatf / mengasuh dan mendukung)     Neglectful   (mengabaikan / kurang mengatur)     Indulgent   (Memanjakan) Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hanya informan Nanda yang mengalami pola asuh tetap atau tidak mengalami perubahan sebelum atau sesudah  perceraian terjadi. Hal tersebut dikarenakan sikap orang tua yang kooperatif dalam mengasuh anak. Pola asuh yang berkembang juga bukan hanya atas dasar keinginan orang tua, tapi juga berdasarkan keinginan Nanda. Sebelum Perceraian Pasca Perceraian Orang tua serumah Orang tua tidak serumah 1.   May Indulgent Ibu Neglectful Ayah Neglectful 2.   Ima Indulgent Ibu Authoritarian+Authoritative Ayah Authoritative 3.   Sand Indulgent+Authoritative Ibu Authoritative+Neglectful Ayah Authoritarian+Neglectful 4.    Nand Authoritative Ayah Authoritative Ibu Authoritative 5.   Eva Authoritarian Ibu Authoritarian Ayah Neglectful  Terbukanya kesempatan untuk berdiskusi dan  berpendapat membuat fungsi-fungsi keluarga berjalan sepenuhnya tanpa kurang. Hal-hal yang dipertanyakan oleh Nanda selalu dijawab oleh orang tuanya dengan  jujur tanpa saling menjatuhkan. Berbeda dengan Nanda, empat informan lainnya mengalami perubahan yang tidak lebih baik. Dari  berbagai hasil wawancara yang didapat, peneliti menyimpulkan beberapa sebab mengapa hal tersebut bisa terjadi, yaitu antara lain:    Penyebab perceraian yang mengakibatkan sakit hati  pada salah satu atau kedua belah pihak orang tua, sehingga mempengaruhi hubungan emosional dan kerja sama keduanya dalam pengasuhan, sehingga  berpengaruh pada cara berinteraksi dengan anaknya.    Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan  peran masing-masing orang tua pasca perceraian.    Beban fungsi ganda bagi  single parents , seperti harus  bekerja dan mengurus rumah tangga.    Adanya jarak bagi orang tua yang tidak serumah dengan anaknya. Sehingga waktu untuk bersama sangatlah sedikit.    Adanya keluarga baru dari orang tua yang menikah lagi, sehingga terdapat pihak ketiga yang belum tentu memiliki pola asuh yang sama dengan orang tua informan. Pola asuh perlu untuk dibahas karena bagaimana cara orang tua membimbing anaknya berhubungan erat dengan bagaimana cara mereka mengkomunikasikan  banyak hal dalam menjalankan fungsi keluarga. Hal ini  juga berkaitan tentang bagaimana pola yang membentuk suatu sistem, apakah terbuka atau tertutup, dan sistem tersebut akan melahirkan suatu budaya komunikasi di dalamnya. Bentuk sistem akan mempengaruhi  bagaimana orang-orang di dalamnya dalam menghadapi situasi-situasi di dalam keluarga. 3.2.   Kohesivitas Berbicara mengenai komunikasi yang membentuk dan terbentuk karena pola asuh, dan dampaknya pada terciptanya konflik-konflik yang ada, akan membawa  pada ranah bagaimana tingkat keterikatan atau kohesivitas antara anggota-anggota keluarga. Keberadaan dua kubu orang tua telah menjadi indicator adanya ketidakmaksimalan, contoh sederhananya adalah pada masalah kontak fisik. Kohesivitas bertalian erat terhadap  pemenuhan kebutuhan emosional para anggota keluarga. Pola asuh, kinerja fungsi keluarga, dan komunikasi keluarga di dalamnya, berpengaruh pada bagaimana kinerja manajemen kebutuhan emosional para anggotanya. Sebelum perceraian terjadi, rata-rata kohesivitas yang dimiliki oleh keluarga informan memiliki nilai negatif yang dominan terletak pada indikator coalition  (kerja sama)  , space (privasi), dan decision making (pembuatan keputusan). Tiga hal tersebut berhubungan mengenai seberapa besar orang tua melibatkan anak dalam menyelesaikan masalah ( coalition  dan decision making  ). Peneliti melihat hal ini masih dalam suatu batas kewajaran atau normal. Hal ini didasarkan pada umur  para informan saat itu yang rata-rata adalah di bawah 12 tahun. Artinya, memang sudah seharusnya orang tua menciptakan batasan keterbukaan mengenai hal-hal tertentu dan tidak terlalu melibatkan anak dalam seluruh  permasalahan keluarga karena anak saat itu belum dewasa dan belum memiliki kematangan berfikir rasional. Saat perceraian terjadi, kedudukan orang tua kini sudah tidak dalam satu kesatuan dan menjadi dua kubu. Untuk mengetahui hal apa saja yang berubah mengenai kondisi kohesivitas keluarga informan pasca perceraian,  perlu adanya melihatnya dari dua sisi yaitu kohesivitas anak dengan orang tua serumah dan dengan yang tidak serumah. Berikut ini merupakan hasil penelitian dari dua sisi tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di  bawah ini.    3.3.   Dengan orang tua serumah Hasil yang didapat mengenai hubungan informan dengan orang tuanya yang serumah adalah bahwa walaupun mereka tinggal dan tumbuh dalam satu atap tidaklah menjamin kesehatan komunikasi dan kohesivtas di antara mereka. bentuk-bentuk permasalahan kedekatan hubungan atau kohesivitas antara anak dan orang tua serumahnya, yaitu antara lain: a.    Emotional bonding Cenderung saling tidak bergantung satu sama lain. Masing-masing pihak lebih independent dalam menangani masalah.  b.    Boundaries  Tidak memiliki batasan aturan, namun komunikasi antara anak dan orang tua serumah cenderung tertutup. Tidak adanya batasan terjadi karena minimnya interaksi di antara mereka. c.   Coalition Permasalahan yang justru datangnya dari hubungan mereka, menandakan lemahnya koalisi dalam menyelesaikan masalah. Cenderung saling menyalahkan dan tanpa ada penyelesaian masalah karena cenderung menghindari diskusi. d.   Space  Karakter komunikasi yang tertutup cenderung menciptakan sebuah privasi yang kuat pada masing- masing pihak. Mereka cenderung kurang saling mengetahui dan ingin tahu satu sama lain. e.    Friends  Pengetahuan orang tua pada lingkungan luar rumah yang dimiliki anak sangatlah kurang. Hal ini mendorong anak untuk lebih bebas dalam melakukan  banyak hal diluar kendali orang tua. Namun saat anak mendapat masalah di luar rumah, orang tua akan agresif dalam menyalahkan. Di sisi lain, anak juga kurang mengetahui banyak tentang lingkuan luar rumah yang dimiliki oleh orang tua serumah mereka. Hal ini yang pada akhirnya menimbulkan persepsi yang belum tentu benar, menimbulkan kecurigaan, dan berujung pada protes yang berakhir dengan konflik perbedaan pendapat. f.    Decision making   Orang tua jarang dan hampir tidak pernah mengajak anak untuk berdiskusi dan menentukan suatu keputusan untuk kepentingan bersama. Anak memiliki sedikit dan hampir tidak memiliki kebebasan berpendapat. Hal ini cenderung membuat masing-masing pihak lebih sering berbuat dengan kehendak sendiri, atas keputusan sendiri tanpa ada  pertimbangan bersama terlebih dahulu. Keadaan seperti ini juga yang sering menimbulkan konflik di antara mereka. NAMA INFORMAN KOHESIVITAS MAYA IMA SANDA NANDA EVA 1.    Emotional Bonding ADA (+) ADA (+) ADA (+) ADA (+) TIDAK ADA (-) 2.    Boundaries Tidak ada batasan. Terbuka (+) Ada batasan, Tertutup (-) Tidak ada batasan, terbuka (+) Ada batasan, terbuka (+) Ada batasan, tertutup (-) 3.   Coalitions TIDAK ADA (-) TIDAK ADA (-) TIDAK ADA (-) TIDAK ADA (-) TIDAK ADA (-) 4.   Time ADA (+) ADA (+) ADA (+) ADA (+) TIDAK ADA (-) 5.   Space ADA (-) ADA (-) ADA (-) TIDAK ADA (+) ADA (-) 6.    Friends ADA (+) ADA (+) ADA (+) ADA (+) TIDAK ADA (-) 7.    Decision Making TIDAK ADA (-) TIDAK ADA (-) TIDAK ADA (-) ADA (+) TIDAK ADA (-) 8.    Interest and  Recreation ADA (+) ADA (+) ADA (+) ADA (+) TIDAK ADA (-) HASIL    5   (   +   )   3   (  -   )   4   (   +   )   4   (  -   )   5   (   +   )   3   (  -   )   7   (   +   )   1   (  -   )   0   (   +   )   8   (  -   ) Kohesivitas Tinggi Kohesivitas Normal Kohesivitas Tinggi Kohesivitas Tinggi Tidak Ada Kohesivitas
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks