Kemampuan Guru Fisika dalam Menerapkan Model-Model Pembelajaran pada Kurikulum 2013 serta Kendala-Kendala yang Dihadapi

Please download to get full document.

View again

of 11
12 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Available online at: Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017, Kemampuan Guru Fisika dalam Menerapkan Model-Model Pembelajaran pada Kurikulum 2013 serta
Document Share
Document Transcript
Available online at: Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017, Kemampuan Guru Fisika dalam Menerapkan Model-Model Pembelajaran pada Kurikulum 2013 serta Kendala-Kendala yang Dihadapi Rizky Febriyani Putri 1 *, J. Jumadi 1 1 Program Studi Pendidikan Fisika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta. Jalan Colombo No. 1, Karangmalang, Yogyakarta, 55281, Indonesia * Corresponding Author. Received: 21 April 2016; Revised: 30 May 2017; Accepted: 25 October 2017 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kemampuan guru Fisika SMA Negeri di Kabupaten Sleman dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan model-model yang ditentukan pada Kurikulum 2013, dan (2) mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi guru Fisika dalam menerapkan model-model pembelajaran yang ditentukan pada Kurikulum2013. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) kemampuan guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran masuk kategori baik, dan (2) kendala yang dihadapi guru yaitu pada perubahan format RPP, alokasi waktu untuk melaksanakan model pembelajaran pada Kurikulum 2013, dan pelaksanaan penilaian kompetensi sikap. Kata Kunci: kemampuan guru, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, Kurikulum 2013 Senior High School Physics Teacher s Ability to Apply The Learning Models of 2013 Curriculum and the Obstacles Faced Abstract This study aimed to: (1) describe the senior high school Physics teacher s ability in Sleman to plan and implement the learning models of the 2013 Curriculum, and (2) identify the obstacles faced by Physics teachers in applying learning models that have been specified in the 2013 curriculum. This research was a survey using quantitative descriptive approach. The results of this research indicate that: (1) the teacher s ability to plan and to implement learning models is categorized as good, and (2) the constraints that teachers face are the change in the format of the lesson plan, the allocation of time to implement learning models in the 2013 curriculum, and implementation of the attitude assessment Keywords: the teacher s ability, instructional planning, implementation of learning, 2013 curriculum How to Cite: Putri, R., & Jumadi, J. (2017). Kemampuan guru fisika dalam menerapkan model-model pembelajaran pada Kurikulum 2013 serta kendala-kendala yang dihadapi. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3(2), doi:http://dx.doi.org/ /jipi.v3i Permalink/DOI: Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), PENDAHULUAN Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan perbaikan dan pembaharuan sistem pendidikan di Indonesia, yaitu dalam bentuk pembaharuan kurikulum, penataan guru, peningkatan manajemen pendidikan, serta pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Dengan pembaharuan ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila kegiatan belajar mengajar di kelas efektif sehingga peran guru teramat penting dalam mencapai peningkatan mutu pendidikan nasional, perhatian dan analisis pun perlu diarahkan kepada guru ini dalam melaksanakan tugas pembelajarannya. Komponen pendidikan yang sangat menentukan terselenggaranya proses pendidikan dengan baik adalah guru. Sejalan dengan pendapat Nadeem et al. (2011, p. 218) bahwa dalam semua sistem pendidikan, kinerja guru merupakan salah satu faktor utama penentu efektivitas sekolah dan hasil belajar. Tidak banyak guru yang mampu menjalankan peran dan fungsinya secara memadai. Permasalahan yang dihadapi datang dari fasilitas, kultur sosial sekolah setempat, atau sistem pendidikan. Guru dituntut mampu mengelola pengajaran yaitu pada menentukan strategi dan perencanaan serta diakhiri dengan penilaian. Uno (2007, p. 15) menyatakan guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar. Menurut Suparlan (2008, p. 12), guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah suatu profesi yang secara legal formal maupun tidak formal yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa dengan kemampuannya merancang program pembelajaran yang digunakan untuk melaksanakan tugas utamanya dalam mendidik, mengajar, membimbing dan mengevaluasi peserta didik baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Guru merupakan pihak pertama yang paling bertanggungjawab dalam pentransferan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Rusman (2010, p. 58) berpendapat bahwa guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya, karena guru memegang peranan dalam proses pembelajaran, di mana proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Hasriani & Arty (2015, p. 116) juga berpendapat bahwa keberhasilan pendidikan dalam mencapai tujuan sangat ditentukan oleh peran pendidik. Dalam teori education production function, guru, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan termasuk dalam kategori sebagai instrumental input. Sementara itu, peserta didik termasuk sebagai raw input yang akan diproses dengan menggunakan instrumental input tersebut. Implementasi teori education production function di Indonesia dianggap terlalu mementingkan instrumental input, dan kurang memfokuskan masalah proses pembelajaran di dalam kelas. Kenyataan menunjukkan bahwa hasil pendidikan tidak seperti yang diharapkan. Mutu pendidikan masih memprihatinkan, karena terlalu berorientasi kepada instrumental input, dan tidak atau kurang memerhatikan proses pembelajaran yang dirancang guru di dalam kelas. Proses pembelajaran di dalam kelas merupakan black box (kotak hitam) yang seharusnya lebih memperoleh perhatian secara serius dari guru, tanpa harus mengabaikan masukan instrumentalnya (Suparlan, 2008, p. 34). Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah yaitu kompetensi guru. Adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru antara lain: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Kurniasih & Sani, 2014, p. 24). Selain kompetensi, guru juga mengerahkan berbagai keterampilan dasar mengajar. Menurut Wiyani (2013, p. 33) ada tujuh keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai guru, yaitu: (1) kemampuan bertanya; (2) keterampilan memberi penguatan; (3) keterampilan mengadakan variasi; (4) keterampilan menjelaskan; (5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran; (6) keterampilan membimbing diskusi; dan (7) keterampilan mengelola kelas. Keterampilan dasar mengajar yang telah dijabarkan merupakan bekal guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas. Dalam konteks kelas, guru sebagai seorang leader berperan sebagai pengelola atau manajer pembelajaran. Ada Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), empat komponen keterampilan manajemen kelas, yaitu: (1) keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi; (2) keterampilan mengorganisasi; (3) keterampilan membimbing dan memudahkan belajar; dan (4) keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dalam mengelola proses belajar mengajar, kemampuan guru sangat berkaitan erat dengan tiga fungsi manajerial yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dari beberapa kompetensi, keterampilan, dan kemampuan guru yang telah disebutkan di atas, kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam merancang pembelajaran dengan memahami landasan pendidikan. Rencana pembelajaran yang dirancang mencakup: (a) identitas sekolah/ madrasah, mata pelajaran, kelas/semester, dan alokasi waktu; (b) kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi; (c) materi pembelajaran; (d) kegiatan pembelajaran; (e) penilaian; dan (f) media/alat, bahan, dan sumber belajar. Kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam menata latar (setting) pembelajaran secara keseluruhan proses belajar dan pembentukan kompetensi yang direncanakan, mencakup: (a) mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran; (b) melaksanakan kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup; (c) mengelola interaksi kelas; (d) mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam pembelajaran mata pelajaran; dan (e) melaksanakan penilaian dalam pembelajaran saintifik. Alat untuk mencapai tujuan pendidikan adalah kurikulum. Seperti kita ketahui, sistem pendidikan Indonesia telah menetapkan Kurikulum 2013 pada bulan Juli 2013 lalu, sementara itu, Peraturan Menteri Nomor 159 Tahun 2014 tentang Evaluasi Kurikulum 2013 setelah tiga bulan Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia, Mendikbud RI memutuskan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester dan tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 selama tiga semester. Pelaksanaan Kurikulum 2013 merupakan sesuatu yang baru bagi guru, tak terkecuali guru Fisika. Seperti yang dinyatakan Hussain, Dogar, Azeem, & Shakoor (2011, p. 264), guru harus memiliki pengetahuan tentang kurikulum dan memahami proses dimana kurikulum dapat dikembangkan. Munculnya Kurikulum 2013, memerlukan penyesuaian guru dalam mengemas pembelajaran sesuai dengan yang tertuang dalam Kurikulum Sejumlah persiapan yang seharusnya dilakukan guru, yaitu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, sumber belajar dan instrumen penilaian dengan strategi pengimplementasian yang tepat. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Mundry & Loucks- Horsley (1999, p. 5) yang menyatakan bahwa if the decision is to engage in curriculum development or adaptation, make sure that teachers have the content knowledge needed to translate reform ideas into specific and coherent curriculum, and that they have sample time to develop, test, and refine the curriculum materials. Jadi, berdasarkan pendapat tersebut bila guru diberi kesempatan untuk mengembangkan atau mengadopsi kurikulum, maka pemerintah atau tim pengembang kurikulum harus memastikan bahwa guru memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk menerjemahkan ide ke dalam bentuk kurikulum yang spesifik dan koheren, serta diberi kesempatan untuk mengembangkan, mengetes dan memperbaiki materi kurikulum. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan baik secara konseptual maupun praktikal untuk melaksanakan langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum. Menurut Cullen (2011, p. 217), the curriculum emphases must be in concert with local needs and reflective of students attitudes and aspiration. Kurikulum harus melibatkan guru dan masyarakat, penekanan kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan lokal serta mencerminkan sikap dan aspirasi peserta didik. Karena pentingnya maka setiap kurikulum selalu dievaluasi untuk kemudian disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Setiap perubahan kurikulum tentu membawa karakteristik tersendiri. Demikian juga pada model pembelajaran yang diterapkan pada kurikulum baru tersebut. Salah satu hal pokok dalam penerapan Kurikulum 2013 adalah bagaimana guru mampu menerapkan pendekatan saintifik yang berpusat pada peserta didik serta menekankan pada pembelajaran peserta didik aktif, yaitu dengan diterapkannya model pembelajaran discovery learning, problem based learning, dan project based learning Dalam kegiatan pembelajaran sering terjadi kendala yang dapat menghambat suksesnya proses belajar. Rohani (2004, p. 68) menam- Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), bahkan, yang termasuk komponen belajar mengajar antara lain tujuan instruksional yang hendak dicapai, materi pelajaran, metode mengajar, alat peraga pengajaran dan evaluasi-evaluasi sebagai alat ukur tercapai tidaknya tujuan. Perubahan dan pengembangan kurikulum menjadi salah satu kendala yang dirasakan guru dalam kegiatan belajar mengajar terutama pada aspek perencanaan dan pelaksanaan. Model pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Hal ini berarti tujuan pembelajaran akan dicapai dengan penggunaan model yang tepat. Kendala yang dihadapi terutama berkaitan dengan proses pemahaman kurikulum itu sendiri. Pada Kurikulum 2013, model pembelajaran yang diutamakan adalah model Inquiry Based Learning, model Discovery Learning, model Project Based Learning, dan model Problem Based Learning. Model pembelajaran yang telah disebutkan adalah model pembelajaran yang banyak melibatkan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya perubahan dan pengembangan kurikulum, memerlukan penyesuaian guru dalam mengemas pembelajaran sesuai yang tertuang dalam Kurikulum 2013, guru harus mampu menerapkan Kurikulum 2013 secara tepat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian agar mampu meningkatkan kompetensi peserta didik. Kendala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kendala yang dialami oleh guru Fisika dalam menerapkan model-model pembelajaran yang ditentukan pada Kurikulum Kendala-kendala yang dialami guru dilihat dari adanya perubahan dan pengembangan Kurikulum 2013, yaitu pada: (1) format RPP; (2) model pembelajaran yang ditentukan; (3) pendekatan pembelajaran; dan (4) teknik penilaian. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rezeki & Setiawan (2015) yang berjudul Analisis Kemampuan Pedagogik Guru Sekolah Dasar terhadap Kurikulum 2013 di Kecamatan Medan Area salah satu variabelnya tentang Kurikulum Hasil ini menyimpulkan bahwa (1) kemampuan kognitif guru SD di Kecamatan Medan Area tentang kemampuan pedagogis guru dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 dari keseluruhan indikator diperoleh nilai ratarata 2,70 baik. Hasil yang diperoleh oleh kemampuan guru untuk indikator kemampuan untuk memahami peserta didik, mengembangkan kurikulum atau silabus, belajar untuk merancang, melaksanakan dan belajar dialogis mendidik, dan mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki adalah kategori baik. Dalam indikator kemampuan untuk mengevaluasi hasil belajar adalah kategori cukup baik. Sedangkan indikator kemampuan untuk memanfaatkan teknologi instruksional diklasifikasikan kategori kurang baik; (2) Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Medan Area, dalam praktek rata-rata memiliki kemampuan pedagogik yang relatif baik untuk menerapkan kurikulum pada tahun Hasil yang diperoleh pada indikator kemampuan pedagogik guru untuk merencanakan dan melaksanakan program kegiatan belajar adalah kategori baik. Sementara indikator untuk mengevaluasi kemampuan belajar adalah kategori cukup baik. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kemampuan guru Fisika SMA Negeri di Kabupaten Sleman dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan model-model pembelajaran yang ditentukan Kurikulum 2013, dan (2) mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi guru Fisika dalam menerapkan model-model pembelajaran yang ditentukan pada Kurikulum METODE Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian ini tidak memberikan perlakuan apapun terhadap subjek penelitian, tetapi hanya melakukan observasi dokumen perencanaan guru dan ketika guru melaksanakan pembelajaran di kelas. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri di Kabupaten Sleman pada Tahun Ajaran 2015/ 2016 semester gasal dengan pertimbangan bahwa sekolah-sekolah tersebut tetap melanjutkan Kurikulum 2013, yaitu: (1) SMA Negeri 1 Godean; (2) SMA Negeri 1 Kalasan; (3) SMA Negeri 1 Pakem; (4) SMA Negeri 1 Prambanan; (5) SMA Negeri 1 Seyegan; dan (6) SMA Negeri 1 Sleman. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 sampai dengan bulan Oktober Populasi dalam penelitian ini adalah guru Fisika di seluruh SMA Negeri di wilayah Kabupaten Sleman yang menerapkan Kurikulum 2013 yang berjumlah 18 orang, dimana guru sertifikasi berjumlah 16 orang dan nonsertifikasi berjumlah 2 orang. Pemilihan sampel dilakukan Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), dengan cara proportional stratified random sampling, yaitu pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proporsional dengan anggota populasi yang heterogen. Diperoleh sampel penelitian yaitu 10 guru sertifikasi dan 1 guru nonsertifikasi. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam beberapa kegiatan, yaitu: (1) prasurvei ke sekolah untuk mengetahui jumlah guru yang diteliti; (2) penyusunan instrumen penelitian; (3) pengambilan data penelitian; (4) data yang diperoleh dikumpulkan, disusun, dianalisis, dan diinterpretasikan; dan (5) penyusunan laporan penelitian. Data, Instrumen, dan Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini adalah data observasi kemampuan guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, serta kendalakendala yang dihadapi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi kemampuan guru merencanakan pembelajaran dan lembar observasi kemampuan guru melaksanakan pembelajaran. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara tidak berstruktur. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Dari segi validitas isi, instrumen lembar observasi dan lembar angket layak digunakan menurut ahli. Dari segi validitas empiris, digunakan Model Rasch untuk melihat validitas butir masing-masing instrumen. Uji validitas ini dilakukan dengan bantuan program QUEST. Dalam program QUEST ditetapkan bahwa suatu item menjadi tidak fit menurut Model Rasch bila besarnya INFIT t memiliki nilai -2,0 atau +2,0. Berdasarkan hasil pengujian validitas butir instrumen lembar observasi kemampuan guru merencanakan pembelajaran Fisika menunjukkan bahwa dari 23 butir instrumen yang telah diuji terdapat 1 butir yang tidak valid yaitu butir nomor 20. Pada hasil pengujian validitas butir instrumen lembar observasi kemampuan guru melaksanakan pembelajaran menunjukkan bahwa dari 29 butir instrumen yang telah diuji terdapat 2 butir yang tidak valid yaitu butir nomor 11 dan nomor 25. Sehingga butir yang tidak valid tidak digunakan dalam perhitungan analisis data. Program QUEST juga menyajikan hasil reliabilitas tes menurut teori tes klasik, yakni berupa indeks konsistensi internal (internal consistency). Nilai internal consistency untuk analisis data politomus merupakan indeks alpha Cronbach (Adam & Khoo (1996) dalam Subali & Suyata (2011, p. 11). Berdasarkan hasil analisis dengan program QUEST diperoleh nilai internal consistency lembar observasi kemampuan guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran masing-masing sebesar 0,93 dan 0,89. Teknik Analisis Data Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini meliputi kemampuan guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Fisika. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif. Oleh karena itu, analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menentukan kategorisasi kemampuan guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Fisika dan memberikan jawaban atas pertanyaan penelitian. Langkah yang perlu dilakukan adalah menentukan dahulu mean idea (Mi), simpangan baku ideal (SBi) serta skor tertinggi ideal dan skor terendah ideal masingmasing variabel sebagai kriteria. Untuk mendeskripsikan kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Fisika digunakan skor rerata ideal sebagai norma perbandingan dengan lima kriteria seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Penilaian Ideal No. Rentang Skor Kriteria 1. X Xi + 1,8 SBi Sangat Baik 2. Xi + 0,6SBi X Xi + 1,8SBi Baik 3. Xi - 0,6SBi X Xi + 0,6SBi Cukup Baik 4. Xi 1,8SBi X Xi - 0
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks