KARAKTERISTIK SOAL UASBN MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PADA TAHUN PELAJARAN 2008/ PDF

Please download to get full document.

View again

of 9
26 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
57 KARAKTERISTIK SOAL UASBN MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PADA TAHUN PELAJARAN 2008/2009 CHARACTERISTICS OF THE TEST ITEMS IN THE NATIONAL STANDARD SCHOOL FINAL EXAMINATION
Document Share
Document Transcript
57 KARAKTERISTIK SOAL UASBN MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PADA TAHUN PELAJARAN 2008/2009 CHARACTERISTICS OF THE TEST ITEMS IN THE NATIONAL STANDARD SCHOOL FINAL EXAMINATION OF THE INDONESIAN LANGUAGE SUBJECT IN THE YOGYAKARTA SPECIAL TERRITORY IN THE ACADEMIC YEAR OF 2008/2009 Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik soal UASBN Bahasa Indonesia di DIY tahun 2008/2009. Perangkat tes ditelaah dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa. Analisis kuantitatif berdasarkan teori tes klasik menggunakan MicroCAT Iteman versi 3.00 dan teori tes modern menggunakan MicroCAT Bigsteps versi Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) secara teoretis, 100% butir soal berkualitas baik dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa, (2) secara empiris dengan teori tes klasik, 11 butir soal berkualitas baik (22%) dengan rerata tingkat kesukaran 0,759 (mudah), rerata daya beda 0,701 (sangat baik), distribusi respons yang berfungsi 32%, dan indeks reliabilitas 0,933 (handal), (3) secara empiris dengan teori respons butir, 39 butir soal berkualitas baik (78%) dengan rerata tingkat kemampuan peserta 1,92 (tinggi), 49 butir soal cocok, fungsi informasi tes 87,76%, dan 44 butir (89,80%) butir soal dengan tingkat kesukaran sedang, (4) secara teoretis dan empiris, 8 butir soal berkualitas baik (16%), (5) tingkat konsistensi hasil analisis teori tes klasik dan teori respons butir sebesar -0,068 (inkonsisten). Kata kunci: karakteristik soal, UASBN, analisis kualitatif, Iteman, Bigsteps Abstract This study aims to reveal characteristics of the test items in the National Standard School Final Examination (NSSFE) of the Indonesian language subject in the Yogyakarta Special Territory in the academic year of 2008/2009. The test set was reviewed in terms of the relevance level from the aspects of materials, construction, and language. The students responses to the test set were quantitatively analyzed in accordance with classical test theory using the programs of MicroCAT lteman version 3.0 and modern test theory using the programs of MicroCAT Bigsteps version The results of the analysis show that: (1) From the theoretical aspect as a whole the test items have good characteristics because, of the 50 test items tested, all or 100% are in the good category in terms of the aspects of materials, construction, and language. (2) Based on the classical test theory analysis using the Iteman program, of the 50 test items, 11 test items have good quality (22%) with an average difficulty index of (easy), an average discrimination index of (very good), functional response distribution (32%), and a reliability index of (reliable). (3) Based on the item response theory analysis with 1 parameter (Rasch Model) using the Bigsteps program, of the 50 test items, 39 test items have good quality (78%) with testees average ability of 1.92 (high), 49 test items fit Rasch Model, 43 test items (87.76%) of 49 items have good item information, and 4 test items (89.80%) have moderate difficulty indices. (4) Based on the theoretical aspect, classical test theory, and item response theory of the 50 test items, 8 test items have good quality (16%). (5) The number of the poor test items based on classical test theory is higher than that based on item response theory; the proportion is 39 to 11, with a consistency level of (inconsistent). Keywords: item characteristics, NSSFE, qualitative analysis, Iteman, Bigsteps 58 - Pendahuluan Pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem yang terbuka dan multimakna; diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat; diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran; diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat; dan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Pemerintah, pemerintah daerah, dewan pendidikan, dan komite sekolah/ madrasah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing. Untuk menjamin mutu pendidikan nasional, pemerintah menentukan kebijakan nasional dan Standar Nasional Pendidikan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, evaluasi diatur dalam Bab XVI Pasal 57, 58, dan 59. Evaluasi pada dasarnya merupakan penafsiran atau interprestasi yang sering bersumber pada data kuantitatif (Sudijono, 2008, p.5). Pelaksanaan evaluasi bertujuan untuk mengukur dan mengendalikan mutu pendidikan. Evaluasi dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penjabaran pelaksanaan evaluasi dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Pada pasal 63 ayat (1) disebutkan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (a) penilaian hasil belajar oleh pendidik, (b) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan (c) penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Evaluasi mencakup dua kegiatan yaitu pengukuran dan penilaian. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian angka kepada individu-individu secara sistematis sebagai sebuah alat untuk merepresentasikan properti indi-viduindividu tersebut (Allen & Yen, 1979, p.2). Pengukuran dibatasi pada kegiatan membandingkan sesuatu dengan alat ukur yang sesuai secara sistematis. Dalam kegiatan pengukuran terdapat seperangkat aturan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan hasil ukur yang tepat (Thorndike, 2005, p.25). Penilaian adalah pengambilan keputusan berdasarkan terhadap hasil pengukuran, sehingga penilaian bersifat kualitatif. Penilaian dalam proses pembelajaran antara lain sebagai kegiatan menghimpun faktafakta dan dokumen belajar peserta didik yang dapat dipercaya untuk melakukan perbaikan program (Surapranata, 2007, p.2). Penilaian hasil belajar oleh pendidik dan satuan pendidikan merupakan bentuk evaluasi internal (internal evaluation), sedangkan penilaian hasil belajar oleh pemerintah merupakan bentuk evaluasi eksternal (external evaluation). Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang Sekolah Dasar (SD), pada tahun pelajaran 2008/2009 ditetapkan sistem penilaiannya dalam bentuk Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 82 Tahun UASBN merupakan salah satu kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang SD. UASBN dilaksanakan secara terintegrasi dalam pelaksanaan ujian sekolah/madrasah untuk SD/ MI/SDLB. Dalam UASBN tahun pelajaran 2008/2009 ada tiga mata pelajaran yang diujikan secara nasional yaitu Bahasa Indonesia, IPA, dan Matematika. UASBN SD/MI/SDLB Tahun 2008/2009 diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 82 Tahun Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 82 Tahun 2008 tentang UASBN untuk SD/MI/SDLB Tahun 2008/2009 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan UASBN adalah (a) menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA; dan (b) mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu. Materi UASBN adalah materi ujian yang sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan UASBN yang 25% soalnya dipersiapkan oleh Pusat, dan 75% soal disiapkan oleh. Penyusunan soal UASBN tahun 2008/2009 berdasarkan pada (a) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Mene- 59 ngah dan (b) kisi-kisi soal UASBN yang terlampir dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 82 Tahun Soal UASBN berbentuk pilihan ganda. Tes bentuk pilihan ganda adalah tes yang jawabannya dapat diperoleh dengan memilih alternatif jawaban yang telah disediakan. Pengembangan tes prestasi belajar mengikuti langkah-langkah standar dalam konstruksi tes. Karakteristik tes yang baik, yaitu (1) valid, (2) reliabel, (3) objektif, (4) praktis, dan (5) ekonomis. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 82 Tahun 2008 (Depdiknas, 2008) disebutkan bahwa hasil UASBN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (a) pemetaan mutu satuan pendidikan, (b) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (c) penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, dan (d) dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Dari Seksi Data dan Teknologi Informasi, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, Daerah Istimewa Yogyakarta diperoleh informasi bahwa sekolah yang mempunyai rata-rata nilai UASBN pada tahun 2008/2009 dari peserta pada tiga mata pelajaran adalah 7,3. Rata-rata masing-masing mata pelajaran adalah 7,8 (Bahasa Indonesia), 6,9 (Matematika), dan 7,3 (IPA). Rata-rata nilai Bahasa Indonesia tertinggi 9,28 dan terendah 4,75. Deskripsi data nilai UASBN di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bahwa hasil UASBN pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di beberapa sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun pelajaran 2008/2009 masih rendah. Rendahnya hasil UASBN dapat disebabkan oleh kemampuan mengajar guru rendah, kemampuan belajar siswa yang rendah, fasilitas belajar yang kurang, kualitas soal ujian yang kurang baik, acuan ujian yang tidak baku, atau gabungan dari kelima faktor tersebut. Kelima faktor tersebut disebut oleh Mardapi (1999) sebagai faktor penyebab rendahnya Ebtanas. Faktor kemampuan mengajar guru, kemampuan belajar siswa, dan fasilitas belajar siswa merupakan faktor yang berpengaruh dalam proses pembelajaran pra-uasbn. Acuan ujian yang tidak baku merupakan faktor penyebab rendahnya hasil UASBN yang berkaitan dengan kebijakan penyelenggaraan ujian. Faktor penyebab yang berkaitan dengan pelaksanaan ujian dan menarik untuk diteliti adalah kualitas soal ujian. Soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun pelajaran 2008/2009 perlu diketahui kualitasnya secara keseluruhan, baik yang dibuat oleh pusat maupun wilayah. Perangkat tes harus benar-benar berkualitas, baik secara kualitatif (teoretis) maupun kuantitatif (empiris). Kualitas tes secara kualitatif dapat dilihat dari sisi materi, konstruksi, dan bahasa. Kualitas tes secara kuantitatif dapat ditinjau berdasarkan dua teknik yaitu dengan menggunakan teori tes klasik dan teori tes modern. Teori Tes Klasik (TTK) atau Classical Test Theory (CTT) merupakan teori yang menggunakan asumsi-asumsi yang cukup sederhana dan mudah dipahami (Mardapi, 1999, p.6). Asumsi-asumsi dalam teori tes klasik menurut Allen & Yen (1979, pp.57 60) sebagai berikut: (1) terdapat hubungan antara skor tampak (observed score) atau X, skor murni (true score) atau T, dan skor kesalahan (error score) yang dilambangkan dengan E, (2) nilai harapan (є (X)) adalah skor murni (T), (3) tidak ada korelasi antara skor kesalahan dan skor murni yang diperoleh dari populasi subjek, (4) tidak ada korelasi antara skor kesalahan tes pertama dan skor kesalahan tes kedua, (5) tidak ada korelasi antara skor kesalahan tes pertama dan skor murni tes kedua, (6) dua perangkat tes merupakan tes yang pararel jika populasi subjek yang menempuh kedua tes tersebut mendapat skor murni yang sama (T = T') dan varian skorskor kesalahannya sama ( = ), dan (6) jika dua perangkat tes mempunyai skor tampak (X 1 dan X 2) yang memenuhi asumsi 1 sampai 5 dan apabila untuk setiap populasi subjek, T 1 = T 2 + c 12, c 12 adalah sebuah bilangan konstanta, maka kedua tes itu disebut tes yang setara. Item Response Theory (IRT) atau Latent Trait Theory (LTT), atau Characteristics Curve Theory (CCT) merupakan suatu teori yang dikembangkan atas dasar dua postulat yaitu: (1) performansi peserta tes pada suatu butir soal dapat diprediksikan (atau dijelaskan) oleh seperangkat faktor yang disebut trait, latent trait, atau kemampuan dan (2) hubungan performansi peserta tes pada suatu butir soal dan perangkat trait yang mendasarinya dapat digambarkan oleh fungsi naik monoton yang disebut fungsi karakteristik butir atau kurva karakteristik butir (Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991, p.7). IRT dilandasi tiga asumsi yaitu (1) unidimensi, (2) independensi lokal, dan (3) fungsi karakteristik butir atau kurva karakteristik butir. Menurut Hambleton, Swaminathan, & Rogers (1991, p.12), tiga macam model logistik 60 - dalam teori respons butir yaitu model logistik satu parameter, model logistik dua parameter, dan model logistik tiga parameter. Model logistik satu parameter (Model Rasch) menggunakan satu parameter untuk menganalisis data yaitu parameter tingkat kesukaran soal. Kelebihan IRT dibandingkan CTT yaitu (1) IRT tidak berdasarkan group dependent, (2) skor siswa dideskripsikan bukan test dependent, (3) IRT menekankan pada tingkat butir soal bukan tes, (4) IRT tidak memerlukan paralel tes untuk menentukan reliabilitas tes, (5) IRT memerlukan suatu pengukuran ketepatan untuk setiap skor tingkat kemampuan. Analisis kuantitatif dibedakan secara klasik dan modern. Aspek analisis butir soal secara klasik adalah validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk objektif), dan kesalahan pengukuran. Analisis kuantitatif butir soal secara klasik dapat dilakukan dengan menggunakan program komputer Item and Test Analysis (Iteman) versi Hayat (1997, p.1) menerangkan bahwa program Iteman dibuat dengan pendekatan klasik yang dapat digunakan untuk menganalisis file data dengan format ASCII (American Standard Code for Information Interchange). Program ini mampu menganalisis maksimal 250 butir soal dengan 3000 responden dan memberikan informasi tentang statistik butir soal, pilihan jawaban, dan tes. Analisis kuantitatif butir soal secara modern dengan teori respons butir bersifat umum karena komposisi sampel dapat mengestimasi parameter dan tingkat kesukaran soal tanpa bias. Analisis dengan model Rasch diarahkan kepada kecocokan butir soal dengan model yang dipilih (Rasch Model) dan estimasi tingkat kesukaran butir soal, sehingga dapat memberikan informasi apakah suatu butir soal cocok dengan model Rasch (fit statistic). Kriteria data sesuai dengan model Rasch adalah apabila hasil korelasi pointbiserial positif dan outfit-nya 2,00 baik outfit butir soal maupun outfit peserta tes. Dilihat dari daya pembeda, butir soal yang mempunyai daya beda (Ptbis) positif berarti cocok dengan model Rasch, sedangkan butir soal yang mempunyai daya beda (Ptbis) negatif berarti tidak cocok dengan model Rasch. Outfit butir soal merupakan statistik butir soal yang menunjukkan bagaimana perilaku yang tidak diharapkan dari orang yang mempunyai kemampuan lebih dengan tingkat kesukaran yang bersangkutan. Outfit peserta tes merupakan statistik orang yang menunjukkan bagaimana perilaku yang tidak diharapkan pada butir soal yang mempunyai tingkat kesukaran jauh dengan kemampuan orang yang bersangkutan. Butir soal yang cocok berarti berperilaku secara konsisten dengan apa yang diharapkan oleh model. Butir soal yang memiliki out fit 2,00 dan daya beda (Ptbis) negatif ditolak dan dinyatakan tidak cocok dengan model Rasch. Teori respons butir menggunakan istilah informasi untuk menyatakan reliabilitas dan validitas butir soal ataupun tes Rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah karakteristik butir soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun pelajaran 2008/2009 ditinjau dari aspek teoretis? (2) Bagaimanakah karakteristik butir soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun pelajaran 2008/2009 ditinjau dari aspek empiris? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik butir soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun pelajaran 2008/2009 ditinjau dari aspek teoretis dan empiris. Kontribusi penelitian ini bagi dunia pendidikan adalah dapat memberikan gambaran tentang karakteristik butir soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun pelajaran 2008/2009, baik secara teoretis maupun empiris. Selain itu, secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan guna peningkatan kualitas soal dan peningkatan kontrol terhadap alat evaluasi yang digunakan pada ujian nasional masa mendatang. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif noneksperimental dengan menggunakan metode deskriptif. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah butir soal UASBN Bahasa Indonesia buatan tim penyusun soal dan sumber datanya adalah lembar jawaban siswa atas 50 butir soal pilihan ganda. Populasi dalam penelitian ini adalah respons siswa peserta tes UASBN mata pelajaran Bahasa Indonesia tahun pelajaran 2008/2009 di Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak siswa dari 2009 sekolah (1514 SD Negeri dan 495 SD Swasta). Populasi terdiri atas respons siswa dari 368 SD di Kabupaten Bantul, respons 61 siswa dari 558 SD di Kabupaten Gunungkidul, respons siswa dari 380 SD di Kabupaten Kulon Progo, respons siswa dari 512 SD di Kabupaten Sleman, dan respons siswa dari 191 SD di Kotamadya Yogyakarta. Sampel respons siswa sejumlah 655 ditentukan dengan teknik stratified sampling dari siswa di 2009 sekolah. Variabel utama penelitian ini adalah karakteristik butir soal Bahasa Indonesia yang digunakan pada UASBN di Daerah Istimewa Yogyakarta. Subvariabel penelitian ini adalah tingkat kesukaran butir, daya beda butir, distribusi respons, validitas tes, indeks keandalan tes, fungsi informasi, tingkat kecocokan butir tes dengan model, dan kesalahan baku pengukuran. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa semua (100%) butir soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun ajaran 2008/2009 yang terdiri dari lima puluh butir soal memenuhi kriteria dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lima puluh butir soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun ajaran 2008/2009 berkategori baik. Hasil analisis kuantitatif dengan Iteman menunjukkan bahwa butir soal UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun ajaran 2008/2009 yang berkualitas baik dari aspek tingkat kesukaran, daya beda, dan distribusi jawaban sebanyak butir soal yang berkualitas baik ada 11 butir (22%) dan 39 butir soal (78%) tidak baik. Enam belas butir atau 32% butir soal memenuhi kriteria yang ditentukan pada aspek tingkat kesukaran, yaitu butir soal nomor 1, 5, 12, 20, 28, 29, 30, 31, 34, 39, 41, 42, 43, 44, 47, dan 49. Sebanyak 49 butir atau 98% butir soal memenuhi kriteria yang ditentukan pada aspek daya beda. Yang tidak memenuhi daya beda adalah butir soal nomor 6. Sebanyak 16 butir atau 32% memiliki distribusi jawaban yang baik. Berdasarkan kriteria tingkat kesukaran butir soal yang baik dari 0,30 sampai dengan 0,70, jumlah butir yang baik untuk perangkat tes UASBN Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun ajaran 2008/2009 sebagai berikut: terdapat 33 butir soal (66%) memiliki tingkat kesukaran lebih besar dari 0,70 (kategori mudah), 16 butir soal (32%) memiliki tingkat kesukaran antara 0,30 dan 0,70 (sedang), dan 1 butir soal (2%) memiliki tingkat kesukaran lebih kecil dari 0,30 (kategori sukar). Tingkat kesukaran disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1.Tingkat Kesukaran Butir Soal Kategori Jumlah % Butir Soal Mudah
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks