KAJIAN KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA TANAMAN OBAT DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KAWASAN SUKU SAMBORI KABUPATEN BIMA

Please download to get full document.

View again

of 10
9 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Junaidin, Sugeng Utaya, I Komang Astina, Budi Handoyo. (2017). Kajian Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman Obat Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima. Journal
Document Share
Document Transcript
Junaidin, Sugeng Utaya, I Komang Astina, Budi Handoyo. (2017). Kajian Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman Obat Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima. Journal of Natural Science and Engineering. Vol.1 (3) pp KAJIAN KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA TANAMAN OBAT DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KAWASAN SUKU SAMBORI KABUPATEN BIMA Junaidin 1, Sugeng Utaya 2, I Komang Astina 3, Budi Handoyo 4 1 Universitas Negeri Malang 2 Universitas Negeri Malang 3 Universitas Negeri Malang 4 Universitas Negeri Malang Abstrak This research can provide the answer that the potential of the local area is quite potential and needs to be utilized wisely for the welfare of the community. The purpose of this research is to know the potential of medicinal plant cultivation land and to obtain data base on the suitability of medicinal plant cultivation area with application of Geographical Information System (GIS) as a medicinal plant area in Sambore Tribe Area. In this research using survey method with MLA (Multidiciplinaire Landscape Assessment) approach is a method to determine what resources are most important to society. The research instruments that we present are tools used in research processes such as GPS, benchmarking, thermometer, geological compass, stpowatch, sechi disk, salinometer, and GIS data analysis software and supported by data collection methods that are observation, documentation and experimental methods so this research can be done well. Keywords: Geographic Information System, Land Fit, Data Base. PENDAHULUAN Satu di antara kendala dalam pengembangan wilayah lahan Kawasan Sambori Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat adalah masih terbatasnya data rinci dan informasi mengenai ketepatan kelayakan potensi sumberdaya lahan Kawasan Suku Sambori di daerah tersebut, data rinci dan informasi mengenai hasil survei kelayakan potensi sumberdaya lahan sebagai budidaya tanaman obat yang dibuat dalam bentuk peta prospektif. Penelitian menyangkut pengelolaan dan pengembangan wilayah lahan Kawasan Sambori Kabupaten Bima yang dapat dikembangkan adalah pemetaan kesesuaian lahah sebagai budidaya tanaman obat dengan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi sumberdaya wilayah lahan sebagai budidaya tanaman obat dalam skala global yang dapat dilakukan secara efektif dan akurat. Dari berbagai sudut pandang yang dikaji, maka penulis memiliki ketertarikan untuk mngambil judul Pemetaan Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei menggunakan pendekatan metode MLA (Multidiciplinaire Landscape Assesment) yaitu suatu metode untuk menentukan sumber daya apa yang paling penting bagi masyarakat Kawasan Suku Sambori dalam Pemetaan Kesesuaian Lahan budidaya tanaman Obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Pendekatan ini bersumber pada aspek sosial (antropologi, etnobotani, sosial-ekonomi) sebagaimana juga aspek pengetahuan alam (ekologi, botani, pedologi, geografi). Sheil dkk., 2004: Penggunaan survei menggunakan pendekatan metode MLA biasanya terdiri dari: tim desa (yang melakukan dan menggunakan berbagai sarana survei di desa) dan tim lapangan (yang melakukan studi ekologi dengan membuat plot-plot di setiap lanskap). Penelitian ini memfokuskan pada hasil studi dari tim desa, lebih spesifik lagi dari hasil pemetaan bersama masyarakat, wawancara, kuesioner dan hasil kegiatan PDM (Pebble Distribution Method). * Corresponding author. Addresses: (Junaidin ), (Sugeng Utaya) 3ikomang (I Komang Astina), budi (Budi Handoyo) Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan survei. Menurut Riyanto, (2001:23) penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Berdasarkan pendapat ahli diatas maka dalam penelitian ini menggunakan pendekatan survei untuk mengetahui bagaimana Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang disajikan dalam bentuk peta dan data di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima. Lokasi yang dipilih oleh peneliti yaitu di daerah Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima yang meliputi tiga dusun, yaitu Dusun Lambitu, Dusun Lengge 1 dan Dusun Lengge 2, yang terdiri dari 4 RW dan 10 RT. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai pada bulan Mei Dalam penelitian Pemetaan Kesesuaian Lahan budidaya tanaman Obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis ini bahan yang digunakan antara lain: laporan survey dan penelitian sebelumnya yang menunjang, peta kawasan, informasi lain yang digali langsung dari pengelola teknis, pemerintah daerah, masyarakat dan pengunjung. Peralatan yang digunakan antara lain: kaset rekaman untuk kepentingan dokumentasi, komputer/laptop, alat tulis lainnya selain itu Instumen Penelitian menurut Ibnu Hadjar (2006:160), adalah alat ukur mendapatkan informasi kualitatif tentang variasi alat yang digunakan untuk mengetahui Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang disajikan dalam bentuk peta ( gambar 2 dan 3) dan data (table 1) di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima., dapat dilihat sebagai berikut. Tabel 1. Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima No Nama Alat Jumlah Kegunaan 1 Global Positioning System (GPS) 1 buah Penentu posisi stasiun pengamatan 2 Rambu ukur/tiang skala 1 buah Pengukur Kemiringan Lereng Tingkat 3 Termometer 1 buah Mengukur Suhu 4 Tali pengukur 1 buah Pengukur Luas Lahan 5 Kompas Geologi 1 buah Penentu arah 6 Stopwatch 1 buah Penentu/menghitung waktu 7 Secchi disk 1 buah Mengukur Kecerahan 8 Kamera Foto Digital 1 buah Dokumentasi proses 9 Alat tulis menulis 1 set Pencatatan hasil pengukuran 10 Cool Box 2 buah WadahPenyimpanan Sampel 11 Kertas Label - Pelabelan sample 12 Software pengolah data (MS Excel) 1 buah Mengolah data Junaidin, Sugeng Utaya, I Komang Astina, Budi Handoyo (2017). International Journal of Natural Science and Engineering. Vol.1 (3) pp 13 Software analisa data GIS 1 buah Mengolah data Sumber: Dokumentasi Kantor Desa Sambori, dikutip tanggal, 14 April Dalam observasi ini peneliti melakukan suatu pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala/fenomena yang diselidiki untuk menjelaskan tentang Pemetaan Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima Tahun Sehubungan dengan penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui tentang data satelit dan peta serta hasil pencatatan berdasarkan observasi lapangan yang disajikan wilayah yang akan dijadikan sebagai tempat budidaya tanaman obat dengn parameter sifat kimia dan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Gambar 1 Metode Dokumentasi Menurut Sugiyono (2000:14), Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan (skoring). Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah jenis data kualitatif. Menurut Surakhmad (2008:134) sumber data menurut sifatnya digolongkan menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang diperoleh dari hasil data satelit, observasi serta dokumentasi lapangan. Dan sumber sekunder yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang lainnya. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Langkah awal yang dilakukan dalam pemetaan bersama masyarakat adalah menggambar peta lanskap dengan nama-nama lokal dari setiap satuan lanskap di kawasan Suku Sambori tersebut seperti sungai-sungai dan tempat-tempat lain di mana sumber daya alam utama ditemukan. Pemetaan ini dibuat bertujuan untuk mengetahui bagaimana Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima. Survei desa dilakukan dengan metode kuesioner kepada hampir seluruh rumah tangga yang ada di Kawasan Suku Sambori. Informasi yang dikumpulkan dari setiap kepala keluarga meliputi tingkat pendidikan, sumber pendapatan utama dan mata pencaharian. Kuesioner tersebut juga mengumpulkan informasi dasar mengenai pandangan masyarakat lokal tentang ancaman yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati, perspektif terhadap pengelolaan dan konservasi sumber daya alam, dan penguasaan atas lahan. Selanjutnya dilaksanakan kegiatan skoring, dimana para informan diminta untuk mendistribusikan 100 kacang atau kerikil pada kartu-kartu berilustrasi menurut kepentingan mereka. Kegiatan skoring ini dilakukan untuk menilai tentang : 1. tipe-tipe lahan, seperti yang ditetapkan oleh masyarakat; 2. hutan pada masa dulu, masa kini dan masa yang akan datang; 3. sumber-sumber yang berbeda dari tumbuhan dan hewan (liar, ditanam/dipelihara, dibeli); 4. jenis tumbuhan dan binatang dari masing-masing kategori kegunaan, sebagaimana ditetapkan oleh masyarakat untuk mengetahui bagaimana Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman obat dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima. 112 Kajian Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman Obat Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima Peta: Desa Sambori (Kawasan Suku Sambori Sumber: Dokumentasi Kantor Desa Sambori, dikutip tanggal, 14 April 2017 Gambar 2 Peta Desa Pembagian Lahan Berdasarkan Pola Spasial Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima Gambar 3 Pembagian satuan lingkungan oleh masyarakat Suku Sambori pada awalnya dibagi atas hasil kesepakatan para sesepuh tokoh adat dan tokoh agama yang sudah lama menetap di kawasan Suku Sambori Desa Sambori. Pembagian satuan lingkungan ini bertujuan untuk melakukan analisis pola spasial penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan lahan dan mengikuti kaidah kaidah tata ruang di Kawasan Suku Sambori. Adapun pembagian satuan lingkungan oleh masyarakat Kawasan Suku Sambori dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Pembagian Satuan Lingkungan Oleh Masyarakat Kawasan Suku Sambori No Satuan Lingkungan Deskripsi Manfaat 1 Dusun Lengge 1 (Suku Sambori) 2 Dusun Lengge 2 (Suku Sambori) Dusun Lengge 1 ialah kawasan suku yang dijadikan sebagai pusat tempat tinggal yang berada di kawasan bagian bawah bukit dan lembah Dusun Lengge 2 ialah kawasan suku yang dijadikan sebagai pusat tempat tinggal yang berada di kawasan lereng gunung Lambitu yang merupakan pemukiman baru. Junaidin, Sugeng Utaya, I Komang Astina, Budi Handoyo (2017). International Journal of Natural Science and Engineering. Vol.1 (3) pp 3 Woha arak (hutan primer) Woha arak atau hutan primer merupakan kawasan hutan yang sengaja dibiarkan oleh masyarakat Sambori karena dipercaya menjadi sumber mata air. 4 So (kawasan luas) So merupakan kawasan paling luas di Desa Sambori yang mencakup lebih dari 50 % dari luas wilayah Sambori. So merupakan kumpulan dari beberapa kawasan yang ada di Sambori yang dimanfaatan untuk bertani dan berladang serta aktifitas yang lain. 5 Bangga (sawah) Bangga (sawah) merupakan lahan pertanian tadah hujan yang dipakai untuk menanan tanaman komoditi pangan maupun obat. 6 Oma (tegalan) Oma (tegalan) merupakan kawasan pegunungan yang dimanfaatkan sebagai ladang 7 Rasa (pemukiman) Rasa (pemukiman) merupakan kawasan yang berisi rumah-rumah penduduk Sumber: Dokumentasi Kantor Desa Sambori, dikutip tanggal, 14 April Mata pencaharian masyarakat Kawasan Suku Sambori didominasi oleh petani dengan memanfaatkan lahan yaitu petani ladang, kebun serta tegalan. Sebagian besar masyarakat Suku Sambori memiliki lahan untuk kegiatan pertanian seperti sawah dan ladang tegalan yang sangat luas dengan status kepemilikan yaitu sawah hak milik serta tegalan sebagian besar belum memiliki sertifikat hak milik namun masyarakat Sambori membayar pajak hak guna pakai. Masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian biasanya bekerja membantu petani yang memiliki lahan sendiri demi mendapatkan upah yang tidak seberapa dan tidak menentu tergantung keikhlasan pemilik lahan. Sebagian lahan yang ada di Sambori digunakan oleh masyarakat untuk membudidayakan tanaman kunyit dan tempuyang. Kedua tanaman tersebut merupakan tanaman komoditi khas Desa Sambori selain bawang putih dan tanaman obat. Oleh karena itu masyarakat Sambori merupakan desa dengan ciri khas masyarakatnya yang identik dengan membudidayakan serta berdagang tanaman obat dan bawang putih. Tamanan obat yang sudah dipanen seperti bawang putih, tempuyang, kunyit, lengkuas di jajakan secara oleh masyarakat Sambori ke seluruh wilayah Bima maupun Dompu dengan sistem pembayaram menggunakan uang maupun dengan menukar dengan barang atau kebutuhsn yang lain yang dikenal dengan istilah kancao (barter). Sebagian tanaman yang dipanen disimpan untuk dipergunakan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan obat-obatan tradisional.dibawah ini dapat terlihat gambar 4 hasil pertanian, petani ading, kebun serta tegalan masyarakat Suku Sambori Kabupaten Bima: Sumber: Dokumentasi tanggal 9 s.d 11 April 2017 Gambar 4. Hasil Pertanian 114 Kajian Kesesuaian Lahan Budidaya Tanaman Obat Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima Tanaman pangan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Padi atau nama latinnya adalah Oryza sativa merupakan tanaman pangan yang pokok. Selain padi, tanaman pangan yang sering dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Sambori sehari-hari adalah jagung.hal ini dikarenakan pembudidayaan tanaman tersebut tidak terlalu sulit dan tidak membutuhkan lahan khusus. Tanaman jagung ini dapat dibudidayakan di sela-sela tanaman lain.tanaman yang menjadi komoditi adalah tanaman toga yang dibudidayakan di kawasan Sambori antara lain jahe (Zingiber officinale ), kunyit (Curcumae Domesticae), lengkuas (Alpinia galanga), mengkudu (Morinda citrifolia L), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kumis kucing (Orthosiphon stamineus), kencur (Kaempferia galanga), bangle (Zingiber purpureum), lempuyang (Zingiber spp) dan lain-lain.umumnya tanaman tumbuh di sekitar sumber mata air atau mada oi. Selain itu masyarakat Sambori mengembangbiakan atau mebudidayakan tanaman toga tersebut di pekarangan rumah yang kondisi lingkungan tumbuhnya hampir sama dengan lingkungan tumbuhnya yang ada di hutan sekitar pemukiman Sambori. Peternakan kawasan Sambori biasa dijumpai jenis ternak seperti kuda, kerbau, sapi dan unggas.kebiasaan beternak secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat Sambori, namun jumah hewan ternak yang dipelihara semakin sedikit karena berkurangnya pakan ternak dan banyak yang dijual. Dibawah ini dapat terlihat gambar 6 Flora dan Fauna Kawasan Suku Sambori: Sumber: Dokumentasi tanggal 9 s.d 11 April 2017 Gambar 6. Flora dan Fauna Kawasan Suku Sambori Masyarakat yang bermukim di Dusun Lengge 1 dan Lengge 2 memiliki tradisi atau kepercayaan yang lebih kental dibandingkan dengan masyarakat Sambori yang bermukim di dudun Lambitu atau Sambori Bou (baru). Hampir semua masyarakat Sambori tinggal dirumah panggung dan setiap rumah tersebut ditinggali oleh satu kepala keluarga yang disebut keluarga batih (inti). Budaya yang paling dapat dilihat dimasyarakat Sambori ialah Mama ro,o nahi(menginang) yang merupakan kebiasaan sehari-hari masyarakat Sambori. Mama ro,o nahi (menginang) ini juga menjadi suguhan kepada tamu yang datang kerumah warga Sambori yang merupakan suatu bentuk penghormatan serta dapat diartikan sebagai bentuk ungkapan penerimaan terhadap tamu tersebut dalam suasana kekeluargaan yang erat. Masyarakat Sambori mempercayai bahwa menginang merupakan tradisi yang banyak memberikan manfaat seperti menyembuhkan penyakit pada gigi, menguatkan gigi, serta menghangatkan tubuh. Masyarakat Sambori lama juga memiliki kepercayaan bahwa memiliki istri lebih dari satu dan memiliki anak banyak dapat mendatangkan rezeki banyak, karena mereka juga mengajak anak serta istrinya untuk bertani di sawah, ladang maupun tegalan dan kebun, namun kepercayaan tersebut lambat laun memudar teriring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat Sambori untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Junaidin, Sugeng Utaya, I Komang Astina, Budi Handoyo (2017). International Journal of Natural Science and Engineering. Vol.1 (3) pp Sumber: Dokumentasi tanggal 9 s.d 11 April 2017 Gambar 7. Budaya Masyarakat Sambori Pada saat ini kondisi ataupun tinglat partisipasi pendidikan masyarakat Sambori sangat baik dan meningkat tajam. Masyarakat Sambori saat ini menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi ke berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Oleh karena itu banyak anak-anak Sambori yang menajdi orang-orang yang berhasil di rantauan. Masyarakat Sambori memiliki kondisi kesehatan yang baik serta kondisi fisik yang baik karena kebiasaan mereka yang bertani serta berladang pada kawasan berbukit-bukit sehingga masyarakat Sambori memiliki fisik yang bugar sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengobatan bagi warga yang sakit, masyarakat Sambori mengobatinya dengan cara membawa atau memanggi Samdo (dukun) untuk melakukan ritual ufiyakni membaca do a sambil meniup bagian tubuh yang sakit dan mengusap ngusap kepala dan bagian tubuh yang sakit.untuk mengobati penyakit yang berbahaya seperti cacar atau penyakit menahun lainnya, masyarakat akan mengadakan suatu pengobatan khusus dengan nyanyian. Nyanyian ini sekaligus menjadi mantra untuk memohon kesembuhan kepada sang khalik. Di desa sambori terdapat beberapa orang memiliki pekerjaan dalam bidang kesehatan. Untuk anggota masyarakat yang biasanya melakukan praktek kesehatan di Desa Sambori, tercatat 3 orang Dukun bayi dan 3 orang Dukun sunat, 2 orang Bidan Desa. Masyarakat Sambori hanya memiliki 4 buah sumur. Masyarakat Sambori memiliki cara atau tradisi dalam melakukan pengobatan terhadap orang yang terkena sakit. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan dua cara yaitu pertama dengan cara ufi (membacakan mantra tertentu kemudian meniupkan ke orang yang sakit atau membacakan mantra tertentu pada segelas air lalu diberikan ke orang yang sakit untuk diminum. Cara yang kedua ialah dengan memberikan ramuan atau obat-obatan yang dibuat dengan bahan tumbuhan yang hidup di pekarangan atau di hutan. Bahan-bahan seperti daun bidara (ro o rangga) (Ziziphus mauritiana) bagian pucuk, tanaman kunyit (Curcuma longa), beras (fare monca) (Oriza satifa), ketan hitam, daun delima (Punica granatum). Untuk pembuatannya, daun bidara (Ziziphus mauritiana) direbus terlebih dahulu sambil diaduk-aduk sampai air kelihatan keruh, setelah air mendidih diangkat dan didiamkan selama 10 sampai 20 menit, kemudian diminum. Selanjutnya tanaman kunyit (Curcuma longa), beras (vare monca), dicampur dan ditumbuk sampai halus kemudian dioleskan ke seluruh tubuh adar bintik cacar cepat muncul pada permukaan kulit. Setelah bintik cacar sudah muncul sebaiknya ketan hitam dan daun delima yang telah dihaluskan tadi langsung dioleskan keseluruh tubuh sehingga bintik cacar tadi akan lebih cepat kering. Selain beberapa bahan diatas ada pula bahan-bahan lain yang dimanfaatkan sebagai obat cacar, seperti akar ruku-ruku hutan (Alpinia galanga L.) atau masyarakat Sambori biasa menyebutnya dengan pataha doro, kenanga (Cananga odorata), dan bunganya cempaka (Michelia champaca). Hanya saja cara pemanfaatannya yang beda yaitu semua bahan ditumbuk dan dikunyah. 1. Obat Panas. Bahan-bahan yang digunakan sebagai obat panas oleh masyarakat Sambori yaitu daun melati dan daun jinten (bumbujo).melati dn bumbu jo ini biasanya ditanam di pekarangan rumah maupun di kebun yang ada di sekitar kawasan pemukiman yang sering disebut Nggaro (kebun). Cara pembuatan obat ini ialah dengan cara
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks