Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 11 / No. 2 / Agustus PDF

Please download to get full document.

View again

of 15
30 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKIP) pada Wanita Pasangan Usia Subur (PUS) di Kabupaten Kendal Tahun 2013 Sri Setiasih *), Bagus Widjanarko **), Tinuk
Document Share
Document Transcript
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKIP) pada Wanita Pasangan Usia Subur (PUS) di Kabupaten Kendal Tahun 2013 Sri Setiasih *), Bagus Widjanarko **), Tinuk Istiarti **) * ) Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Korespondensi : **) Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro Semarang ABSTRAK Pasangan Usia subur berusia lebih dari 30 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kesehatannya, termasuk reproduksi, sehingga diharapkan untuk menggunakan MKJP Non Hormonal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan pemilihan MKJP Non Hormonal pada wanita PUS di Kabupaten Kendal Tahun Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan cross-sectional dengan sampel sejumlah 400 responden di 20 kecamatan di Kabupaten Kendal. Untuk sampel kualitatif ada 6 orang. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan Metode Kontrasepsi ( p value = 0.034), ada hubungan antara sikap dengan pemilihan Metode Kontrasepsi (p value = 0.027), ada hubungan Dukungan Petugas KB (p value = 0.049). Ada hubungan Ketersediaan Pelayanan KB dengan pemilihan Metode Kontrasepsi (p value = 0.011), tidak ada hubungan Dukungan Suami dengan pemilihan Metode Kontrasepsi (p value = 0.835), dan tidak ada hubungan antara dukungan Tokoh Agama atau Tokoh Masyarakat (p value = 0.384). Variabel yang paling berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi MKJP non hormonal adalah sikap dengan OR 2,041. Kata Kunci : Faktor yang mempengaruhi, pemilihan MKJP non hormonal ABSTRACT Analysis Factors Affecting Selection Of Long-Term Contraception Method (Ltcm) Non Hormonal On Woman Of Fertile Couple (Pus) In Kendal By 2013; Women of fertile couple more than 30 years old have a higher risk factor for their health, including reproduction, which is expected they will use LTCM non-hormonal. The purpose of this study is to analyze factors that related to the selection of LTCM Non-Hormonal in women of fertile couple in Kendal The type of this research is descriptive analytics and cross-sectional design with quantitative and qualitative approaches and the sample is 400 respondents from 20 districts in Kendal Regency. The qualitative sample is 6 respondents. The results showed a relationship between knowledge with selection of contraception method (p value = 0.034), there is a relationship between attitudes to the selection of contraception method (p value = 0.027), there is a relationship between support of birth control officer with selection contraception method (p value = 0.049), and there is a correlation between the availability of service of birth control with the selection of contraception method (p value = 0.011), there is no relationship between husband support to selection of contraception method (p value = 0835, and there is no relationship between religious leaders or community leaders on selection contraception method (p value = 0384). The most influential factor in the selection of LTCM non-hormonal is the attitude with OR 2,041. Keywords : selection of long term contraception, factor, affect 32 Faktor-faktor yang mempengaruhi.. (Sri S, Bagoes W, Tinuk I) PENDAHULUAN Di Indonesia, sebagian besar peserta KB aktif menggunakan kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek, dengan penggunaan terbanyak pada suntik KB. Kecenderungan ini terjadi sejak tahun Berdasarkan hasil SDKI penggunaan suntik KB meningkat dari 28% pada tahun 2002 menjadi 31,6% pada tahun 2007 dan menjadi 31,9% pada tahun Pemakaian metode kontrasepsi yang jangka panjang seperti sterilisasi (tubektomi dan vasektomi), IUD cenderung menurun. Penggunaan IUD, misalnya, menurun dari sekitar 6,4% pada tahun 2002 menjadi 4,8% pada tahun 2007 dan 3,9% pada tahun 2012 (Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dan Kementrian Kesehatan RI, 2012). Berdasarkan pengolahan data dari Badan pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kendal, data akseptor KB di Kabupaten Kendal pada tahun 2011 ( akseptor), tahun 2012 ( akseptor), dan tahun 2013 ( akseptor). Selain itu, alat kontrasepsi non MKJP (suntik, pil, kondom) masih mendominasi lebih dari setengah total akseptor KB di Kabupaten Kendal yaitu sekitar 81%, dan MKJP hormonal (Implan) sekitar 10% dan MKJP non Hormonal (IUD, MOW, MOP) hanya 9%. Suntik sebagai alat kontrasepsinya adalah yang terbanyak karena memiliki proporsi hampir 60% dari keseluruhan jumlah akseptor per tahunnya. Kemudian disusul dengan Pil dan Implant. Ketiga alat kontrasepsi ini merupakan alat kontrasepsi hormonal yang memiliki efek samping hormonal juga. Akan tetapi untuk alat kontrasepsi MKJP non Hormonal seperti IUD, MOW, dan MOP memiliki proporsi yang sedikit dibanding lainnya. Jumlah akseptor MKJP di Kabupaten Kendal terhadap wanita dari PUS tahun 2011 untuk IUD akseptor, MOW akseptor, dan MOP akseptor dari wanita PUS. Tahun 2012 untuk IUD akseptor, MOW 5489 akseptor, dan MOP akseptor dari wanita dari PUS, dan tahun 2013 untuk, IUD ada akseptor, MOW akseptor, dan MOP 982 akseptor dari wanita dari PUS. Akseptor IUD setiap tahun selama 3 tahun terus bertambah, walaupun tidak besar pertambahannya. Untuk MOW tidak mengalami kenaikan yang berarti bahkan cenderung stagnan, begitu juga dengan MOP. Namun, pencapaian ini masih jauh dari terget yang ditentukan yaitu seluruh wanita dari PUS yang berusia lebih dari 30 tahun diharapkan memakai alat kontrasepsi dengan MKJP non Hormonal. Wanita yang usianya berada di antara tahunan berisiko untuk mengalami beberapa masalah seperti 33 melahirkan bayi dengan syndroma down, kecenderungan untuk melahirkan dengan seksio Cesarean, masalah masalah dengan diabetes dan tekanan darah tinggi, serta persalinan yang lebih sulit dan lama. Selain itu, sebagian masalah kesehatan adalah berkaitan dengan usia dan risiko mengalami masalah kesehatan akan meningkat sejalan dengan penigkatan usia (Saifuddin, 2006). Faktor keputusan akseptor KB untuk menggunakan MKJP tidak terlepas dari faktor perilaku yang dimiliki oleh masing-masing individu. Jika dikaitkan dengan teori perilaku Lawrence Green (2005) bahwa perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor yang pertama predisposing factor merupakan faktor pemudah atau mempredisposisikan terjadinya perilaku seseorang yang dapat dilihat dari umur, pendidikan, pengetahuan, sikap, paritas dan riwayat kesehatan. Faktor yang kedua adalah enabling factor atau faktor pemungkin yaitu faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau tindakan, faktor ini meliputi Pelayanan KB (ruangan, alat, dan transportasi). faktor ketiga adalah reinforcing factor atau faktor penguat yaitu faktor yang memperkuat terjadinya perilaku, dalam hal ini adalah dukungan suami dan dukungan petugas pelayanan KB (Notoatmodjo, 2007). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor faktor yang mempengaruhi pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Non Hormonal pada wanita Pasangan Usia Subur di Kabupaten Kendal tahun METODE Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, mengggunakan desain cross sectional yaitu yang mengukur variabel dependen dan variabel independen secara simultan (dalam waktu bersamaan). Desain cross-sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara variabel independe dan dependen, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, subyek hanya diobservasi sekali saja (Chandra, 2008 dan Sugiyono, 2010). Populasi target dari penelitian ini adalah semua Wanita Pasangan Usia Subur (PUS) yang berusia lebih dari 30 tahun dan berada di Kabupaten Kendal yang seluruhnya berjumlah wanita. Wanita pada PUS yang berusia lebih dari 30 tahun berisiko untuk mengalami beberapa masalah seperti melahirkan bayi dengan syndroma down, kecenderungan untuk melahirkan dengan seksio Cesarean, masalah masalah dengan diabetes dan tekanan darah tinggi, serta persalinan yang lebih sulit dan lama. Selain itu, sebagian 34 Faktor-faktor yang mempengaruhi.. (Sri S, Bagoes W, Tinuk I) masalah kesehatan adalah berkaitan dengan usia risiko mengalami masalah kesehatan akan meningkat sejalan dengan penigkatan usia (Saifuddin, 2006). Besar sampel data diperoleh 400 orang. Kemudian untuk memperoleh alokasi sampel tiap kecamatan dihitung berdasarkan proporsional jumlah wanita Pasangan Usia Subur (PUS) yang berusia lebih dari 30 tahun di tiap kecamatan, dihitung dengan menggunakan rumus metode alokasi proporsional. Untuk responden kualitatif, responden terdiri dari 6 orang yang diambil dari daerah cakupan tinggi (Kecamatan Boja) dan daerah cakupan rendah (Kecamatan Ringinarum) dengan pertimbangan setelah dilakukan wawancara kepada para suami yang istrinya berusia lebih dari 30 tahun dan tidak menggunakan KB MKJP Non Hormonal, Bidan pemberi pelayanan dan Tokoh Agama/Masyarakat dari masing-masing Kecamatan, jawaban mereka intinya cenderung sama. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Ringkasan Ringkasan Hasil Analisis Bivariat antara Variabel Independen dengan Variabel Dependen No Variabel Pemilihan Metode Kontrasepsi p value Keterangan 1 Pengetahuan Signifikan 2 Sikap Signifikan 3 Dukungan Suami Tidak Signifikan 4 Dukungan Tokoh Agama/Tokoh Masyarakat Tidak Signifikan 5 Dukungan Petugas Pelayanan KB Signifikan 6 Ketersediaan Layanan KB Signifikan 35 Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Logistik antara Variabel Independen dengan Variabel Dependen yang Mempunyai Hubungan Hubungan dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi pada Wanita Pasangan Usia Subur yang berusia lebih dari 30 tahun di Kabupaten Kendal 95,0% C.I.for EXP(B) Variabel B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper Sikap Pengetahuan Ketersediaan Layanan KB Dukungan Petugas Pelayanan KB Pengetahuan Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan responden dengan pemilihan MKJP Non Hormonal, ditandai dari hasil Chi Square (p=0.034). Setelah dilakukan Uji regresi logistik ganda, pengetahuan responden didapatkan nilai OR 1,413, artinya adalah responden dengan pengetahuan baik tentang MKJP mempunyai kemungkinan memilih MKJP Non Hormonal sebesar 1,413 kali dibandingkan dengan Responden yang berpengetahuan kurang dan memilih MKJP Non Hormonal persentasenya sebesar 9,6% lebih kecil dibandingkan responden yang berpengetahuan kurang dan memilih Selain MKJP Non Hormonal persentasenya sebesar 60%. Sedangkan responden yang berpengetahuan baik dan memilih Selain MKJP Non Hormonal persentasenya lebih kecil (40%) dibandingkan responden yang berpengetahuan baik dan memilih selain MKJP Non Hormonal (90,4%). Hal ini dikarenakan pengetahuan responden berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan untuk menerima suatu inovasi. Pengetahuan responden yang tinggi dapat menggambarkan wawasan yang lebih luas sehingga memudahkan dalam menerima inovasi baru dan pengambilan keputusan yang sesuai. Tingkat pengetahuan seseorang yang tinggi, selain dikarenakan tingkat pendidikan yang tinggi, juga dipengaruhi oleh keaktifan seseorang dalam mencari informasi. Pengetahuan seseorang dapat diperoleh dari keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan, 36 Faktor-faktor yang mempengaruhi.. (Sri S, Bagoes W, Tinuk I) misalnya penyuluhan rutin mengenai alat kontrasepsi (Nototatmodjo, 2007). Pengetahuan peserta KB yang baik tentang hakekat program KB akan mempengaruhi mereka dalam memilih metode/alat kontrasepsi yang akan digunakan termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan, kecocokan, pilihan efektif tidaknya, kenyamanan dan keamanan, juga dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai karena wawasan sudah lebih baik, sehingga kesadaran mereka tinggi untuk terus memanfaatkan pelayanan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugiarti et al (2011) di Kelurahan Cipari Kota Tasikmalaya yang menyatakan ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai p=0,004. Begitu juga dengan penelitian Pramono et al ( 2012 ) di Kelurahan Kembang Arum Semarang bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan alat kontrasepsi, dalam penelitian ini IUD dengan p value = Sikap Responden yang memiliki sikap baik dan memilih MKJP Non Hormonal persentasenya lebih besar (55,69%) daripada responden yang memiliki sikap kurang dan memilih MKJP Non Hormonal (9,01%). Responden yang memiliki sikap baik dan memilih Selain MKJP Non Hormonal sebesar 44,31% dibandingkan responden yang memiliki sikap kurang dan memilih Selain MKJP Non Hormonal sebesar 90.99%. Hasil uji chi square memperoleh nilai p=0,027, sehingga ada hubungan antara sikap dengan pemilihan MKJP Non Hormonal. Setelah diuji regresi logistik ganda, untuk sikap responden didapatkan nilai OR 2,041 artinya adalah responden dengan sikap baik tentang MKJP mempunyai kemungkinan memilih MKJP Non Hormonal sebesar 2,041 kali dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap kurang baik. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek Sedangkan menurut Berkowitz dalam Azwar menyatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut. (Andrews, 2009 & Azwar, 2008). Sikap menunjukkan kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Dalam hal ini menyangkut alat kontrasepsi. Sikap responden sangat berpengaruh terhadap alat kontrasepsi yang akan dipilih. Responden yang memiliki sikap yang baik terhadap sesuatu dapat disebabkan oleh kepercayaan positif yang dimiliki oleh responden. Begitupun sebaliknya, jika kepercayaan 37 terhadap sesuatu bersifat negatif, maka menimbulkan sikap yang negatif pula. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hanya sedikit responden yang sangat setuju dengan pernyataan MKJP Non Hormonal (IUD, MOP, MOW) lebih efektif daripada selain MKJP non hormonal. Sikap kurang baik responden terhadap jenis kontrasepsi MKJP Non Hormonal disebabkan oleh pengetahuan responden yang tidak menyeluruh mengenai KB, rasa takut, rasa tidak nyaman, dan adanya pengaruh orang lain yang diketahui melalui cerita yang menyebabkan timbulnya sikap negatif terhadap alat kontrasepsi MKJP. Sikap kurang baik mengenai MKJP ini kemudian menyebabkan ketidakinginan responden untuk memilih jenis kontrasepsi MKJP. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arief (2013) di Kabupaten Lampung Tengah yang menyatakan terdapat hubungan antara sikap dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai p=0,026 (Arief,. Begitu juga dengan penelitian Imroni et al (2010) bahwa sikap berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi implant dengan p value 0,0348, dan sejalan juga dengan Pramono et al (2012) bahwa ada hubungan antara sikap dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD dengan hasil p value dan OR 3,863. Dukungan Petugas Pelayanan KB Dukungan Petugas pelayanan KB di wilayah responden yang baik dan memilih MKJP Non Hormonal persentasenya lebih besar (62,96%) daripada Dukungan Petugas pelayanan KB di wilayah responden yang kurang dan memilih MKJP Non Hormonal (15,75%). Dukungan Petugas pelayanan KB di wilayah responden yang baik dan memilih Selain MKJP Non Hormonal sebesar 84,25% lebih besar dibandingkan Dukungan Petugas pelayanan KB di wilayah responden yang kurang dan memilih Selain MKJP Non Hormonal sebesar 37,04%. Hasil uji chi square memperoleh nilai p=0,049 sehingga ada hubungan antara dukungan Dukungan Petugas pelayanan KB di wilayah responden dengan pemilihan MKJP Non Hormonal. Setelah diuji regresi logistik ganda, didapatkan nilai OR 1,035 artinya adalah responden yang memiliki dukungan petugas pelayanan KB di wilayahnya baik, mempunyai kemungkinan memilih MKJP Non Hormonal sebesar 1,035 kali dibandingkan dengan responden yang mempunyai dukungan petugas pelayanan KB yang kurang. Untuk segi fasilitas, karena berada di desa hanya ada IUD atau Spiral, selebihnya ada Selain MKJP Non Hormonal seperti Pil, Suntik, Kondom, dan Implant. Sedangkan untuk langkah 38 Faktor-faktor yang mempengaruhi.. (Sri S, Bagoes W, Tinuk I) langkah petugas kesehatan jika ada wanita berumur lebih dari 30 tahun berkonsultasi tentang KB yang baik untuknya, maka pegawai tersebut akan menjelaskan satu persatu tentang metode kontrasepsi yang ada (MOW, MOP atau IUD) serta menjelaskan indikasi dan kontra indikasinya. Setelah itu ibu akan memilih dan menentukan sendiri KB yang ingin dipakai. Dari hasil wawancara dengan Bidan S (43 tahun), bahwa untuk wanita yang berumur 30 tahun akan dianjurkan untuk menggunakan KB MKJP Non Hormonal karena tingginya risiko jika hamil di umur lebih dari 30 tahun. Selain itu, bidan juga sudah menjelaskan tentang KB MKJP dengan baik dan pengguna IUD di desa juga sudah banyak, hanya saja untuk MOW dan MOP terkendala jarak. Dari sisi kompetensi Bidan, Bidan puskesmas di Kabupaten Kendal sudah kompeten dan terampil dalam mengatasi pasien yang ingin ber-kb MKJP. Jika ada pasien yang datang, maka pasien akan di anamnesa, kemudian dilakukan pemeriksaan, jika sudah mantap, maka pasang (IUD) sedangkan untuk MOW/MOP dikirim ke Semarang dengan perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih dalam waktu 1 jam. Pelayanan kesehatan merupakan suatu kumpulan dari berbagai jenis layanan kesehatan, mulai dari promosi kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, reahabilitasi kesehatan, hingga transplantasi organ (Suryono, 2008). Pelayanan kesehatan meliputi prosedur, petugas, biaya dan sarana prasarana (Kurniawati, 2002). Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan derajat kebutuhan masyarakat (costumer satisfication) melalui pelayanan yang efektif oleh pemberi pelayanan yang juga akan memberikan kepuasan dalam harapan dan kebutuhan pemberi pelayanan (provider satisfication) dalam institusi pelayanan yang diselenggarakan secara efisien (institutional satisfication). Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesehatan yang serasi, selaras dan seimbang merupakan paduan dari kepuasan tiga pihak dan ini merupakan pelayanan kesehatan yang memuaskan atau satisfactory health car (Satrianegara, 2009). Dalam hal ini adalah pelayanan kesehatan oleh petugas pelayanan KB yaitu Bidan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan yang antara variabel dukungan petugas pelayanan KB dengan variabel pemilihan MKJP Non Hormonal. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah bidan atau perawat yang bertugas di klinik kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana (KIA/KB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan berupa pemberian informasi berhubungan dengan pemakaian MKJP Non Hormonal. Petugas kesehatan 39 berperan dalam memberikan informasi, penyuluhan dan menjelaskan tentang alat kontrasepsi utamanya mengenai MKJP Non Hormonal. Petugas kesehatan sangat banyak berperan dalam tahap akhir pemakaian alat kontrasepsi. Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam pemakaian alat kontrasepsi akhirnya memutuskan untuk memakai MKJP Non Hormonal setelah mendapat dorongan maupun anjuran dari petugas kesehatan. Petugas kesehatan merupakan pihak yang mengambil peran dalam tahap akhir proses pemakaian alat kontrasepsi. Di Kabupaten Kendal, per kecamatan sendiri telah mempunyai petugas KIA/KB di tiap-tiap desa di wilayah kerjanya, biasa disebut Bidan desa, tetapi mereka tetap memilih selain MKJP non hormonal, ini dikarenakan responden menilai bahwa petugas dalam memberikan pelayanan menurutnya tidak menyenangkan, dan mungkin saat memberikan penyuluhan tidak menggunakan alat peraga sehingga mereka menganggap penjelasan yang di dapat belum jelas. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Via ( 2012) bahwa dukungan petugas pelayanan KB, dalam penelitian ini adalah Petugas Pelayanan Keluarga Berencana Desa (PPKBD), memiliki pengaruh dalam pemilihan alat kontrasepsi IUD (p value 0.001). Begitu juga dengan hasil penelitian Arliana et al (2012)
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks