Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Volume 4, No 2, Desember 2016 ( ) Online:

Please download to get full document.

View again

of 14
7 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Volume 4, No 2, Desember 2016 ( ) Online: KEBIJAKAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENDAYAGUNAAN MODAL SOSIAL UNTUK PENINGKATAN VITALITAS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SWASTA
Document Share
Document Transcript
Volume 4, No 2, Desember 2016 ( ) Online: KEBIJAKAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENDAYAGUNAAN MODAL SOSIAL UNTUK PENINGKATAN VITALITAS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SWASTA 1) Suwadi, 2) Suyata, 3) Sumarno 1) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2) 3) Universitas Negeri Yogyakarta 1) 2, 3) Abstrak Studi ini bertujuan untuk menjelaskan pola pendayagunaan modal sosial untuk peningkatan vitalitas sekolah swasta. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif naturalistik. Lokasinya di Kabupaten Sleman. Subjek terdiri dari tiga kasus yang dipilih secara purposive. Prosedur penelitian ditempuh dengan empat langkah, dengan metode penggalian data: observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model induktif sedangkan tingkat kepercayaan hasil-hasil penelitian ditempuh dengan cara terpenuhinya kriteria kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konformabilitas. Temuan penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, terdapat variasi dalam pemanfaatan modal sosial sekolah. Kedua, pendayagunaan modal sosial menunjukkan pola menjembatani dan mempererat melalui komponen jejaring, relasi saling menguntungkan dan membantu, dan kepercayaan. Ketiga, kebijakan kepada sekolah dalam memanfaatkan modal sosial ditunjukkan oleh integritas sekolah dalam program pengembangan akademik, sumber daya manusia, sistem pendanaan dan budaya lokal. Keempat, kebijakan pemanfaatan modal sosial didasarkan pada nilai militansi dan loyalitas (kasus pertama),nilai silaturahim dan syafaat (kasus kedua), dan universalisme Islam (kasus ketiga). Kata kunci: modal sosial, jaringan, relasi, kepercayaan, vitalitas sekolah PRINCIPAL S POLICIES IN THE UTILIZATION OF SOCIAL CAPITAL FOR SCHOOL S VITALITY IMPROVEMENT IN PRIVATE JUNIOR HIGH SCHOOL 1) Suwadi, 2) Suyata, 3) Sumarno 1) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2) 3) Universitas Negeri Yogyakarta 1) 2, 3) Abstract This study aims at finding the potential and the actuality of social capital to improve the quality of private junior high schools. This study was conducted by means of naturalistic qualitative approach. The setting was Sleman Regency. The subjects consisted of three cases of school established through purposive sampling techniques. The research procedure consisted of four steps by means of data collection methods in the form of observation, in-depth interviews, and document study. The data were using by inductive models, while the validity of the result met the criteria of credibility, transferability, dependability and conformability. The research findings are as follows. First, (a) there are some varieties of using the school social capital. (b) The using of school social capital indicated the models of bridging and bonding the network elements, reciprocal relationship, mutual aid and trust. (c) The school performance in using the social capital could be seen from the school integrity in the academic development, human resources, funding system and the local contents. (d) The reason of utilizing the social capital was based on such values as militant and loyality (the first case), silaturahim and syafaat (the second case), and Islamic universalism (the third case) Keywords: social capital, network, reciprocal, trust, school vitality p-issn: e-issn: Kebijakan Kepala Sekolah Dalam Pendayagunaan... Suwadi, Suyata, Sumarno 173 PENDAHULUAN Pendidikan atau sekolah memiliki hubungan timbal balik (reciprocity) dengan masyarakat dan realitas sosial untuk merespons tanda-tanda zaman. Dikatakan demikian karena melalui pendidikan, peradaban manusia dapat tumbuh dan berkembang. (Fägerlind & Saha, 1983, p. vi). Pendidikan berada pada masyarakat, sehingga ilmu pendidikan dan praksis pendidikan tumbuh dan berkembang di masyarakat. Sementara itu pendidikan, menurut Rao (2003, p. 8), education is about people learning. Melalui pendidikan manusia dapat membuat rekayasa masa depan, (Sindhunata, 2000, p. 9), bahkan dengan pendidikan takdir pun dapat diretas. (Depag RI, 1989, p. 370), sehingga melalui pendidikan dapat memajukan kesempurnaan hidup (Tauchid, 1977, p. 15). Dengan kata lain, hubungan timbal balik dalam pendidikan memiliki peran penting dalam membangun peradaban suatu bangsa. Peran pendidikan dalam lembaga pendidikan formal dapat dijelaskan melalui dua hal. Pertama, bagaimana institusi sekolah mengetahui potensi dan aktualisasi modal sosial. Kedua, seperti apa vitalitas sekolah dalam pemanfaatan modal sosial. Peran yang pertama ditunjukkan oleh kebijakan kepala sekolah dalam mengelola aset sekolah untuk meningkatkan vitalitas sekolah. Sedangkan peran yang kedua menunjukkan kinerja kepala sekolah dalam mendayagunakan aset sekolah menjadi modal sosial yang bermanfaat bagi peningkatan vitalitas sekolah. Dalam kerangka ini, modal sosial dikonsepsikan sebagai jejaring (network) yang didayagunakan dan menjadi komitmen sekolah untuk mengembangkannya dalam membangun kepercayaan (trust), relasi-relasi timbal balik yang saling menguntungkan (reciprocal relationships) dan saling membantu (mutual aid) berbasis pada jejaring tersebut. Kemudian vitalitas sekolah dikonsepsikan sebagai kinerja (performance) sekolah dalam pengembangan akademik (kurikulum, silabus dan perpustakaan), kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan murid), sistem pendanaan, dan pengembangan muatan lokal atau budaya sekolah.. Untuk menjadikan sekolah efektif dibutuhkan intrumen yang kuat dan kokoh melalui sebuah relasi sosial. Relasi sosial ini penting karena melalui relasi sosial sekolah dapat memfasilitasi dan menjawab kebutuhan serta tuntutan sekolah efektif. Disamping itu relasi sosial juga mendorong perbaikan sekolah. Relasi sosial sebagai modal untuk mendorong sekolah berelasi yang saling mendukung dan menguntungkan sehingga melahirkan kepercayaan (trust). Relasi sosial sekolah bisa juga sebagai instrumen atau sarana mobilitas vertikal, sehingga menimbulkan hal-hal yang saling membantu menguntungkan dan mendukung sehingga kepercayaan terbangun. Relasi sosial juga dapat mempertegas identiitas, sehingga mendorong perbaikan dan peningkatan komponen pendidikan seperti kurikulum, sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendidikan serta muatan lokal atau budaya. Namun yang pada dataran fenomena, modal sosial belum mampu diidentifikasi oleh kepala sekolah secara optimal, baik yang berada pada internal sekolah maupun eksternal sekolah. Disamping itu kepala sekolah juga belum mampu memanfaatkan dan mendayagunakan modal sosial untuk kehidupan sekolah. Menurut Hwan (2005, p. 147), pemanfaatan modal sosial dalam kinerja sekolah dapat meningkatkan vitalitas sekolah. Bahkan dipertegas oleh Dewey, (1964, pp ), bahwa fungsi sekolah sebagai institusi pendidikan, fungsi sekolah tersebut adalah sebagai agen perubahan (agent of change), kebutuhan hidup (necessity of life), fungsi sosial (social function), memberi arah (direction), pertumbuhan (growth), konservasi dan kemajuan (conservative and progressive). Fungsi tersebut dapat berjalan maksimal bila mana kinerja sekolah berjalan sehat (healthy) dan berbasiskan modal sosial sekolah. Data dari Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sleman menunjukkan bahwa di Kabupaten Sleman terdapat 106 sekolah menengah pertama, yang terdiri dari 54 SMP Negeri, dan 52 SMP Swasta. (http://disdiksleman.org). Bila dikaji lebih mendalam terhadap 52 sekolah swasta di Kabupaten Sleman menunjukkan variasi vitalitas sekolah. Variasi tersebut tergambar dalam kinerja sekolah pada lima tahun terakhir yang menunjukkan kategori baik, sedang dan kurang. Perbedaan kinerja sekolah tersebut disebabkan oleh perbedaan pengelolaan pendidikan dalam pendayagunaan dan pemanfaat- 174 an potensi modal sosial. Adapun variasi tersebut diperkirakan memperlihatkan tiga tendensi. Pertama, sekolah bervitalitas rendah berangsur-angsur menjadi sekolah bervitalitas sedang dan tinggi. Kedua, sekolah bervitalitas tinggi, tetapi kemudian menjadi sekolah bervitalitas sedang dan rendah. Ketiga, sekolah yang dalam 5 (lima) tahun terakhir berada pada posisi vitalitas yang kurang lebih sama, tidak ada peningkatan dan penurunan vitalitas sekolah. Berdasarkan penelitian awal menggunakan hasil akreditasi sekolah diambil tiga sekolah di Kabupaten Sleman dengan kategori sekolah yang memiliki vitalitas rendah, sedang dan tinggi pada lima tahun terakhir. Sekolah yang memiliki vitalitas rendah diwakili oleh SMP Muhammadiyah 1 Depok, sekolah dengan vitalitas sedang diwakili oleh SMP Diponegoro Depok dan sekolah dengan vitalitas tinggi diwakili oleh SMP Budi Mulia Dua Depok. Pada lima tahun terakhir ketiga sekolah ini memiliki sejarah khusus dalam kinerjanya. Sekolah yang pertama berafiliasi kepada Persyarikan Muhammadiyah, sementara sekolah yang kedua berafiliasi kepada Lembaga Pendidikan Ma arif Nahdhatul Ulama dan sekolah ketiga berafiliasi pada Yayasan Pendidikan Budi Mulia Dua yang didirikan oleh tokoh nasional terkenal. Pada lima tahun yang lalu, sekolah yang pertama, memiliki vitalitas rendah yang ditunjukkan oleh jumlah siswa pada tahun pelajaran 2008/2009 khususnya pada kelas tujuh memiliki siswa sebanyak 10 orang, manajemen sekolah yang tidak jelas (tidak ada kepala sekolah yang definitif) dan akreditasi sekolah peringkat B. Sementara itu, sekolah kedua dapat dikategorikan pada posisi vitalitas sedang dimana pada tahun pelajaran 2008/2009 jumlah siswa pada kelas tujuh sebanyak 63 orang, memiliki kepala sekolah dan akreditasi sekolah kategori B. Selanjutnya sekolah ketiga berada pada vitalitas tinggi, semenjak awal sekolah ini memiliki segmentasi tersendiri dimana pada tahun pelajaran 2008/2009 jumlah siswa kelas ketujuh sebanyak 80 siswa, sekolah memiliki kepala sekolah yang kreatif sehingga akreditasi sekolah berada pada kategori A. (Dokumen Laporan Individu Sekolah, ). Dengan demikian, upaya mengetahui potensi dan aktualiasi modal sosial di sekolah memiliki kedudukan yang lebih penting dari pada modal manusia dalam pengalaman pendidikan dan pekerjaan seperti yang dikemukakan oleh Lin (2004, p.97),... that sosial capital may be as important as or even more important than human capital (education and work experience) in status attainment. Karena modal sosial merupakan berbagai sumber daya dan jaringan sosial yang tertanam dalam hubungan antar aktor walaupun mereka dibangun dalam konteks yang berbeda. Pentingnya pemanfaatan dan pendayagunaan modal sosial ini memberi pengaruh yang besar terhadap vitalitas sekolah. Hal ini secara implisit sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Parsons (2004, p. 32); (Dewey, 1964, pp ); bahwa fungsi sekolah adalah membangun masyarakat secara bersama-sama,... functions of schools that help hold society together. Hal ini berhubungan dengan stratifikasi. (Ballantine, 1983, p. 75); (Gamoran, 2004, p. 250); (Giddens & Held, 1982, p. 119); (Parsons, 1981, p. 274); (Budirahayu, 2012, p. 170). Juga hasil dari sosialisasi (Berger&Luckman, 1967, p. 85). Sehingga posisi individu secara fisik, berakar di dalam ikatan keluarga. (Coleman, 1973, p. 134); (Bourdieu, 1977, p. 487); (Fägerlind& Saha, 1983, p. 20); (Buchori, 1994, pp. 3-9). Sedangkan terkait teori modal sosial (theory of social capital) ditemukan pertama kali oleh dua tokoh besar yakni Bourdieu dan Coleman. (Häuberer, 2011, p. 35) Selanjutnya Putnam membagi elemen modal sosial mencakup 1) kepercayaan (Trust), 2) jaringan keterlibatan masyarakat/warga (Networks of Civil Engagement), 3) norma hubungan yang saling menguntungkan (Norms of Reciprocity). (Putnam, 1993, p. 13); ( Svendsen & Svendsen, 2009, p. 3); (Lin, 2001, pp. 4-8). Dengan demikian sekolah berdampak pada masyarakatnya (school matter). (Mortimore, et al., 1988, p. 1); (Hwan, 2005, p. 147); (Tesconi & Hurwitz, 1974, p. 78); (Kholis, Zamroni & Sumarno, 2014, pp ). Menurut Ancok (2003, pp ), modal sosial memiliki kegunaan dalam kehidupan seperti manfaatnya pada masyarakat dalam bentuk rasa percaya (trust). (Suwadi, 2013, p. 2677; 2015). Vitalitas sekolah dapat dilacak dari konsep sekolah efektif (effective schools) dari Beare, Caldwell & Millikan, (1989, p. 62); (Fullan, 1993, p. 15); (Mortimore, et al., 1988, Kebijakan Kepala Sekolah Dalam Pendayagunaan... Suwadi, Suyata, Sumarno 175 p. 263). Tanpa itu, sekolah sehebat apapun mengalami stagnasi (kemandegan) dan involusi (berjalan di tempat). (Ali, 2009, p. vii); (Kotter, 1996, p. 26); (Muhadjir, 2003, p. 1); (Hopper, 1979, p. 153); (Pring, 2004, p. 43). Gaya kepemimpinan sekolah mengikuti alur ilmu pendidikan yang menekankan pada dimensi kultural. (Deal & Peterson, 1994, p. xi); (Tilaar, 2009, p. 88); (Coleman, 1968, pp. 7-22); (Ornstein, 1977, p. 552); Felestin & Triyono, 2015, p. 13, sehingga pembinaan guru diarahkan pada sosok guru pada era globalisasi (Olssen, Codd & O Neill, 2004, p. 2); (Rao, 2003, p.35). Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini dipandang penting dan strategis untuk dilakukan guna meningkatkan vitalitas sekolah swasta agar memiliki peran yang lebih dalam membangun peradaban suatu bangsa. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh kepala sekolah dalam mendayagunakan modal sosial untuk meningkatkan vitalitas sekolah swasta. Permasalahan penelitian ini terfokus pada tiga hal yakni: (1) mengkaji seperti apa pola-pola pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial untuk meningkatkan vitalitas sekolah swasta di Kabupaten Sleman Yogyakarta, (2) Bagaimana kapasitas dan integritas kepemimpinan sekolah dalam pemanfaatan dan pendayagunaan modal sosial untuk menangkap peluang dan kendala dalam peningkatan vitalitas sekolah, dan (3) Mengapa potensi modal sosial dijadikan sebagai agen perubahan untuk meningkatkan vitalitas sekolah. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk menggambarkan pola-pola pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial untuk meningkatkan vitalitas sekolah swasta di Kabupaten Sleman Yogyakarta, (2) menemukan kapasitas dan integritas kepemimpinan sekolah dalam pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial sekolah, dan (3) menemukan alasan dan rasionalisasi serta nilai-nilai dalam potensi modal sosial yang dapat dijadikan sebagai agen perubahan untuk meningkatkan vitalitas sekolah. Secara teoritis, penemuan tentang pola-pola pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial untuk meningkatkan vitalitas sekolah dapat memberikan kerangka teori keilmuan pendidikan bagi para peneliti, pakar dan policy makers praksis pendidikan persekolahan. Secara metodologis, unsur-unsur yang terkait dengan pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial dalam meningkatkan vitalitas sekolah, kapasitas dan integritas kepemimpinan sekolah dalam pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial, dan rasionalisasi pemanfaatan modal sosial untuk meningkatkan vitalitas sekolah melalui usaha menyuburkan, meningkatkan dan mendayagunakan potensi modal sosial sekolah dapat dikembangkan lebih lanjut. Secara praktis kemasyarakatan, hasil-hasil penelitian ini bermanfaat bagi pemerintah RI melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementeriaan Agama, Lembaga Pendidikan dan Tenaga Keguruan (LPTK), sekolah dan madrasah dalam pengembangan vitalitas pendidikan persekolahan berbasis modal sosial. METODE PENELITIAN Jenis penelitian lapangan, multi case study, ini menggunakan pendekatan kualitatif naturalistik. Penelitian ini dilaksanakan selama satu tahun mulai bulan Desember Tempat penelitiannya yaitu di tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta yakni SMP Muhammadiyah 1 Depok, SMP Diponegoro Depok, dan SMP Budi Mulia Dua. Ketiga lokasi berada di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lokasi dipilih dengan empat pertimbangan. Pertama, Ketiga sekolah tersebut pada lima tahun yang lalu kinerjanya masing-masing dalam kategori kurang, sedang dan baik,. Kedua, sekolah-sekolah tersebut diasumsikan memiliki perbedaan pendayagunaan potensi modal sosial dalam mengelola pendidikan sehingga menghasilkan variasi vitalitas sekolah. Ketiga, terdapat variasi vitalitas sekolah yang diperkirakan memperlihatkan tiga tendensi, yakni pertama sekolah bervitalitas rendah berangsur-angsur menjadi sekolah bervitalitas sedang dan tinggi. Kedua, sekolah bervitalitas tinggi kemudian menjadi sekolah bervitalitas sedang dan bisa jadi rendah. Ketiga, sekolah yang dalam 5 tahun terakhir berada pada posisi vitalitas yang kurang lebih sama atau tetap bertahan. Subjek penelitian ini terdiri dari key informant pangkal adalah kepala sekolah, sedangkan informan penelitian ini adalah 176 pengelola yayasan/persyarikatan, orang tua murid dan pihak terkait di lingkungan SMP Muhammadiyah 1 Depok, SMP Diponegoro Depok. SMP Budi Mulya Dua Depok. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan purposive dan snowball sample. Artinya informan bertambah terus sampai informasi yang diperoleh memuaskan atau sudah tidak dapat bertambah lagi atau jenuh (redundancy). Objek penelitian ini adalah pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial untuk meningkatkan vitalitas sekolah swasta di Kabupaten Sleman Yogyakarta, program-program sekolah yang dicanangkan untuk meningkatkan vitalitas sekolah pada 5 tahun terakhir, kapasitas dan integritas kepemimpinan sekolah dalam pemanfaatan dan pendayagunaan potensi modal sosial untuk menangkap peluang dan kendala dalam peningkatan vitalitas sekolah, pendayagunaan jejaring (network) untuk mencapai keberhasilan program-program tersebut dan kapasitas dan integritas pimpinan sekolah, pengelola yayasan, orangtua murid dan pemerintah daerah dalam mencapai keberhasilan programprogram tersebut, potensi modal sosial dijadikan agent perubahan terhadap vitalitas sekolah dan alasan dan rasionalisasi yang diperlukan sebagai modal dasar untuk menyuburkan, meningkatkan dan mendayagunakan potensi modal sosial sekolah dalam vitalitas sekolah. Prosedur penelitian dilakukan dengan empat langkah 1) pengumpulan data, 2) reduksi data melalui koleksi data, pengkodean data, dan refleksi data, 3) display data, dan 4) penarikan kesimpulan/verifikasi. Alat pengumpul data atau instrumen penelitian adalah peneliti sendiri (human instrument). Peneliti terjun sendiri ke lapangan secara aktif melakukan pengamatan langsung dan wawancara mendalam tentang modal sosial, praksis pendidikan persekolahan dan stratifikasi sosial pada dimensi modernitas. Manusia sebagai instrumen peneliti karena hanya manusia yang dapat memahami makna interaksi antar-manusia, memahami bahasa tubuh, menyelami perasaan dan nilai yang terkandung dalam ucapan dan perbuatan responden. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejalagejala yang diteliti, dan wawancara dilakukan secara bebas terkontrol. Dokumen yang terkait dengan penelitian ini berupa dokumentasi artifak, manuskrip yang berhubungan dengan pendayagunaan modal sosial, praksis pendidikan persekolahan dan stratifikasi sosial pada dimensi modernitas Model induktif digunakan dalam analisis data. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menempuh empat komponen analisis interaktif, yakni pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Pada tiap komponen berinteraksi dan membentuk sebuah siklus. (Miles & Huberman, 1992; Nasution, 1988: 129). Data yang diperoleh selanjutnya dicek kebenarannya guna menjamin keabsahan data. Tingkat kepercayaan hasil-hasil penelitian ditempuh dengan cara terpenuhinya kriteria kredibilitas atau validitas internal, transferabilitas atau validitas eksternal, dependabilitas atau reliabilitas dan konfirmabilitas atau objektivitas. (Nasution (1988: 114). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bagian ini diuraikan data mengenai potensi modal sosial yang ada, kemampuan menganali dan mengidentifikasi modal sosial, keberhasilan sekolah dalam mendayagunakan dan mengembangkan modal sosial pada aspek dan caranya, komitmen dan kinerja sekolah dalam mengembangkan modal sosial, serta nilai-nilai yang menggerakkan pemanfaatan modal sosial utuk peningkatan vitalitas sekolah. Oleh karena penelitian ini multi kasus, penyajian data dipapark
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks