Jurnal Al-Ta dib Vol. 6 No. 2 Juli - Desember 2013 PENDIDIKAN ISLAM MASA PRA ISLAM DI INDONESIA

Please download to get full document.

View again

of 16
4 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Jurnal Al-Ta dib Vol. 6 No. 2 Juli - Desember 2013 PENDIDIKAN ISLAM MASA PRA ISLAM DI INDONESIA Oleh : Imelda Wahyuni Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Sultan Qaimuddin Kendari Abstrak Perkembangan pendidikan
Document Share
Document Transcript
Jurnal Al-Ta dib Vol. 6 No. 2 Juli - Desember 2013 PENDIDIKAN ISLAM MASA PRA ISLAM DI INDONESIA Oleh : Imelda Wahyuni Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Sultan Qaimuddin Kendari Abstrak Perkembangan pendidikan Islam pada masa pra Islam terkait dengan proses masuknya Islam di Indonesia. Penyebaran Islam di Indonesia diperkenalkan oleh para muballig pedagang yang melakukan kontak dagang dengan penduduk pribumi Nusantara sehingga perdagangan membantu proses Islamisasi. Pendidikan Islam pada masa awal berlangsung tidak terbatas pada satu tempat dan waktu tertentu, tetapi dimana dan kapan saja terjadi kontak antara muballig pedagang dengan penduduk pribumi, maka pada saat itu pula berlangsung pendidikan Islam. Sistem pendidikan pada mulanya berlangsung di lingkungan keluarga, kemudian bertempat di surau atau langgar, mesjid, dan rumah para bangsawan dan hartawan. Kata kunci: Islam, Pendidikan, Pendidikan Islam, dan Sistem pendidikan. Abstrack The development of Islamic education in the pre Islamic period associated with the entry of Islam in Indonesia. The spread of Islam in Indonesia is done by muballig trader who contacts with the native population so the trade helps Islamization of the archipelago. Islamic education in the early days took place not limited by a particular time and place, but where and whenever it contacts between muballiq traders and the native population took place at that time Islamic education. The education system in the first place on the environment, then in the surau, mosque, manor houses, and wealthy homes. Key words: Islam, Education, Islamic Education, Education system. A. Pendahuluan Islam merupakan agama yang bertujuan membimbing manusia kepada kesalehan dan penemuan makna substansial. Karena itu, pendidikan Islam dapat diartikan sebagai usaha pembinaan dan pengembangan pribadi manusia dari aspek jasmani dan rohani secara 129 2013 Vol. 6 No. 2 Juli - Desember Jurnal Al-Ta dib integratif dan bertahap. Kemampuan jasmani dan kematangan rohani serta mental intelektual yang dibina melalui pendidikan Islam sangat signifikan utamanya dalam upaya mengantisipasi gerak dan dinamika kehidupan dan sejarah kemanusiaan. 1 Salah satu Aspek Islam adalah pendidikan. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk menambah kecakapan, pengertian, keterampilan, pengalaman dan sikap belajar yang dibutuhkan untuk memungkinkan manusia mempertahankan dan mencapai tujuan hidup. 2 Terkait dengan dinamika kehidupan dan sejarah kemanusiaan, sejarah menyimpan kumpulan kekuatan yang dapat melahirkan dan menimbulkan nilai-nilai baru bagi perkembangan kehidupan umat manusia. Demikian pula halnya dengan sejarah pendidikan Islam, selain mengandung perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya, juga menumbuhkan perspektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3 Jika dirinci, paling tidak ada dua manfaat yang dapat diperoleh dalam studi sejarah pendidikan Islam, yaitu yang bersifat umum yakni sebagai faktor keteladanan, dan yang bersifat khusus atau akademis dalam rangka pembangunan dan pengembangan pendidikan Islam. 4 Berbicara tentang pendidikan Islam masa pra Islam di Indonesia, sangatlah erat hubungannya dengan kedatangan Islam di Indonesia. Pendidikan Islam pada masa pra Islam tidak terlepas dari proses perkembangan Islam. Pendidikan mengalami perkembangan seiring dengan berjalannya proses islamisasi di beberapa daerah yang merupakan wilayah Nusantara, khususnya daerah tertentu yang didatangi oleh para muballig yang juga berdagang. Perlu dipahami bahwa sejarah telah memberikan untaian informasi tentang para pembawa Islam datang ke Indonesia, demikian pula dengan informasi tentang waktu pertama kali Islam datang di Indonesia dan daerah-daerah yang pertama kali dikunjungi oleh para muballig pedagang yang senantiasa menyebarkan Islam sambil berdagang di beberapa daerah di Nusantara pada waktu itu. Dalam konteks ini Mahmud Yunus mengatakan bahwa Sejarah Sosial Pendidikan Islam di Indonesia sama tuanya dengan masuknya 1 Abd Rahman Getteng, Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan; Tinjauan Historis dari Tradisional hingga Modern (Cet. I; Grha Guru: Yogyakarta, 2005), h Mappanganro, Rasyid Ridha dan Pendidikannya tentang Pendidikan Formal (Cet. I; Makassar: Alauddin Press, 2008), h. 3 3 Hasbullah, Sejarah Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia; Lintasan Pertumbuhan dan Perkembangannya (Cet. II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h Ibid. 130 Jurnal Al-Ta dib Vol. 6 No. 2 Juli - Desember 2013 agama tersebut ke Indonesia. 5 Realitas ini disebabkan karena pemeluk baru agama Islam pada saat itu tentu ingin mempelajari dan memahami lebih mendalam ajaran-ajaran Islam. Jika mereka ingin belajar shalat dan membaca al-qur an, terjadi proses belajar mengajar agama Islam, walaupun proses tersebut masih sangat sederhana dan tradisional. Masa tersebut merupakan awal timbulnya pendidikan Islam, di mana pada mulanya mereka belajar di rumah-rumah, langgar/surau, masjid dan kemudian berkembang menjadi pondok pesantren. 6 Seiring berkembangnya zaman dan semakin besarnya volume kebutuhan akan pendidikan yang sistematis, timbul sistem madrasah yang teratur sebagaimana yang dapat dilihat saat ini. Pendidikan Islam dimulai seiring dengan beralihnya masa pra Islam yang ditandai dengan datangnya Islam di kepulauan Nusantara, namun pendidikan Islam secara lembaga pada saat itu masih dalam bentuk yang sangat sederhana sesuai dengan budaya pendidikan masing-masing daerah, seperti seorang murid atau santri mendatangi gurunya atau seorang guru melakukan kunjungan keliling untuk berdakwah dan sebagainya. Oleh karena itu, uraian permasalahan yang muncul dalam tulisan adalah bagaimana proses masuknya Islam di Nusantara dan bagaimana sistem pendidikan Islam pada masa awal. B. Proses Masuknya Islam Ke Nusantara Pembahasan mengenai proses masuknya Islam di Indonesia akan memberikan informasi tentang tiga hal yang saling terkait. Pertama, informasi tentang pembawa Islam masuk ke Indonesia. Literatur atau sumber-sumber sejarah tentang Islamisasi di Nusantara menginformasikan bahwa Islam datang dibawa oleh orang-orang Arab mubalig yang kebetulan berprofesi pedagang. Pembawa Islam tersebut dapat disebut sebagai mubalig pedagang. Mereka membawa barang-barang dagangan yang mendukung proses penyebaran Islam. Dikatakan mubalig karena mereka menguasai pengetahuan agama secara komprehensif. 7 Kedua, hal tentang waktu masuknya Islam di Indonesia. Informasi tentang hal ini sangat beragam berdasarkan daerah dimana Islam 5 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1985), h Timur Jaelani, Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Perguruan Agama (Jakarta: CV. Darmaga, 1980), h Hal yang terkait dengan uraian tersebut disampaikan oleh Abd. Rahman Getteng selaku dosen pemandu pada forum perkuliahan mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam Semester I pada Program Doktor (S3) PPS UIN Alauddin Makassar pada tanggal 22 Oktober 2013 Vol. 6 No. 2 Juli - Desember Jurnal Al-Ta dib berkembang. Sebagaimana hasil seminar yang di adakan di Medan pada tahun 1963 dan di Aceh pada tahun 1980 menyimpulakan bahwa Islam masuk di Indonesia pada abad 1 Hijriyah dan dibawa dari Arab. Munculnya tesis baru ini, yakni Islam masuk di Indonesia pada abad pertama hijriyah sekitar abad ke-7 dan ke-8 Masehi merupakan pemebetulan dari pendapat yang berkembangan sebelumnya. Suatu hal yang dapat dikemukakan bahwa masuknya Islam di Indonesia tidak bersamaan, ada daerah yang sejak dini telah dimasuki oleh Islam, ada pula yang terbelakang dimasuki oleh Islam. 8 Ketiga, hal tentang tempat Islam pertama kali masuk diwarnai dengan beragam pendapat. Asumsi-asumsi tersebut disimpulkan juga dengan beragam pendekatan. Salah satunya adalah asumsi bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui pesisir Sumatra Utara. Realitas bahwa pesisir Sumatra Utara sebagai persinggahan pelayaran memperkuat interpretasi bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui pesisir Sumatra Utara. Para saudagar yang berlayar ke Asia Timur melalui Selat Malaka singgah di Pantai Sumatra Utara untuk memperoleh tambahan bekal yang mulai berkurang, seperti makanan, minuman dan kebutuhan lainnya. 9 Proses tersebut membentuk komunitas baru yang disebut masyarakat muslim. Pada perkembangan berikutnya, terjalinlah hubungan perkawinan dengan penduduk pribumi atau menyebarkan Islam sambil berdagang. Namun sampai sekarang belum ada bukti tertulis tentang hal tersebut. Banyak teori tentang hal tersebut yang bersifat samar atau hanya diperkirakan. Secara umum teori-teori tersebut dikaitkan dengan jalur pelayaran dan perdagangan antara Dunia Arab dengan Asia Timur. 10 Terbentuknya komunitas muslim pada tempat tertentu melalui proses yang panjang yang dimulai dengan pembentukan pribadi muslim sebagi output dari usaha para pembawa Islam. Komunitas muslim tersebut selanjutnya menumbuhkan kerajaan Islam. Tercatatlah sejumlah kerajaankerajaan Islam di Nusantara, seperti kerajaan Perlak, Pasai, Aceh Darussalam, dan Demak. 11 Kekuasaan yang ada pada kerajaan tersebut membantu proses Islamisasi di daerah-daerah tersebut. Senada dengan hal tersebut Uka Tcandrasasmita sebagaimana dikutip oleh Badri Yatim mengemukakan bahwa saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam, yaitu; saluran perdagangan, perkawinan, tasawuf, politik, pendidikan dan kesenian. Islamisasi melalui 8 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia (Cet. I; Jakarta: Kencana, 2007), h ibid 10 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Logos, 1999), h Haidar Purta Daulay, loc. cit. 132 Jurnal Al-Ta dib Vol. 6 No. 2 Juli - Desember 2013 saluran pendidikan, baik pada pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai dan ulama-ulama. Mereka dibekali pengetahuan agama dan kemudian kembali ke kampung halaman dan menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat di daerahnya tersebut. 12 Penjelasan tentang penyebaran Islam di Indonesia tidak dapat dipahami hanya berpegang pada suatu teori tertentu. Penggunaan beberapa teori yang ada dapat memberikan gambaran yang lebih memuaskan. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa Islam pada mulanya diperkenalkan oleh para pedagang muslim yang melakukan kontak dagang dengan penduduk pribumi Nusantara. Dalam sejarah Nusantara masalah perdagangan, pembentukan kerajaan dan islamisasi adalah proses yang saling beriringan dan membentuk sifat utama perkembangan sejarah Islam. Para pedagang muslim internasional kerap kali didampingi oleh para guru pengembara. Dengan dukungan para penguasa, pedagang dan guru-guru pengembara muslim tersebut berperan sebagai pelaku ekonomi dan juru dakwah yang memperkenalkan Islam kepada masyarakat lokal. 13 Dengan demikian hubungan antara pedagang muslim dengan penduduk setempat menjadi semakin erat. Pada masa awal saudagarsaudagar muslim yang dikenal cukup mendominasi memberikan pengaruh terhadap proses perkenalan nilai-nilai Islam terutama ketentuan-ketentuan hukum Islam mengenai perdagangan yang memberikan keuntungan ekonomi secara maksimal. Kehadiran saudagar muslim menjadikan kota-kota perdagangan sebagai pusat ekonomi, yang pada akhirnya mendukung kegiatan pengembangan Islam. Kegiatan perdagangan yang maju memungkinkan terselenggaranya pengajaran Islam dan pembangunan lembaga-lembaga pendidikan Islam sehingga menciptakan kehidupan beragama yang dinamis. Dinamika ummat Islam di perkotaan akhirnya mampu memperkuat penetrasi Islam sampai ke pelosok Nusantara. 14 Cara penyebaran Islam lainnya adalah dengan cara kekuasaan. Cara ini sangat penting bagi perluasan Islam di Nusantara. Agama yang dianut oleh penguasa akan mudah diikuti rakyat dan pendukungnya secara tepat. Keputusan penguasa dapat mempengaruhi penguasa-penguasa 12 Badri Yatim, Sejarah Perdaban Islam (Cet. XX; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h Taufik Abdullah et al., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara Jilid 5 ( Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), h Azyumardi Azra, Persfektif Islam di Asia Tenggara (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991), h. xiv. 133 2013 Vol. 6 No. 2 Juli - Desember Jurnal Al-Ta dib lainnya untuk memeluk agama Islam sehingga Islam berkembang dengan cepat. 15 Setelah berdirinya kerajaan Islam, penguasa mempelopori berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan, mulai dari dakwah Islam, pembangunan mesjid-mesjid, sampai penyelenggaraan pendidikan Islam. Secara umum Islam masuk di Indonesia dengan damai, tidak melalui paksaan, penaklukan ataupun peperangan. Ada tiga hal yang menjadi faktor utama yang ikut mempercepat proses penyebaran Islam di Indonesia, yaitu: Pertama, karena ajaran Islam melaksanakan prinsip ketauhidan dalam sistem ketuhanannya, yaitu suatu prinsip yang menegaskan ajaran untuk mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, karena fleksibilitas ajaran Islam dan merupakan kodifikasi ajaran nilainilai yang universal. Ketiga, karena Islam dianggap sebagai institusi yang sangat dominan untuk menghadapi ekspansi pengaruh Barat melalui kekuasaan-kekuasaan bangsa Portugis kemudian Belanda, mengobarkan penjajah dan menyebarkan agama lain. 16 Demikian uraian singkat tentang proses masuknya Islam di Nusantara serta keterkaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan Islam. Kegiatan penyebaran Islam sejak awal telah memiliki hubungan timbal balik dengan pengembangan pendidikan Islam. Munculnya institusi-institusi pendidikan Islam memberikan konstribusi terhadap kebutuhan penyebaran agama Islam di Nusantara. Demikian pula kegiatan penyebaran agama Islam menopang secara alami terbentuknya pendidikan Islam. C. Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Awal Corak pendidikan pada masa pra Islam dipengaruhi oleh agama yang telah ada pada masa tersebut. Pada masa pra Islam di Indonesia telah ada kerajaan-kerajaan yang masyarakatnya mayoritas menganut agama Hindu. Seperti kerajaan Kutai dan kerajaan Majapahit. Corak pendidikan berbentuk wetonan atau halaqah, dan sorongan ada kemiripan dengan sistem yang berlangsung di lingkungan kerajaan tersebut. Pada hakekatnya pendidikan Islam mulai berkembang sejak terjadinya kontak dagang antara pedagang-pedagang muslim dengan penduduk pribumi, nilai dan hukum dagang yang dianut dalam sistem perdagangan internasional pada saat itu adalah nilai-nilai Islam, sehingga yang dapat membina hubungan dagang adalah mereka yang telah menerima dan mengamalkan hukum dagang Islam tersebut. 15 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, op. cit., h Lihat Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Indonesia (Jakarta: Tinta Mas, 1974), h Jurnal Al-Ta dib Vol. 6 No. 2 Juli - Desember 2013 Selain itu, sebagian dari mereka termotivasi untuk memasuki agama Islam karena ingin membaca al-qur'an. Para muballig pedagang mensyaratkan harus lebih dahulu mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah. 17 Adapula yang memeluk agama Islam melalui perkawinan, yang mensyaratkan calon istri harus lebih dahulu masuk Islam, kemudian disusul oleh para pembantu dan anggota keluarga lainnya. 18 Gambaran di atas menunjukkan bahwa pendidikan Islam berlangsung tidak terbatas pada satu tempat dan waktu tertentu, namun dimana dan kapan saja berlangsung kontak antara pedagang muballig dengan penduduk pribumi, pada saat itu pula terjadi dan berlangsung pendidikan Islam. Adapun materi pendidikan mengenai syahadat, membaca al-qur'an, nilai-nilai moral dan akhlak yang baik, kemudian diajarkan cara-cara shalat lengkap dengan syarat-syaratnya dan seterusnya. 19 Demikian pula yang terjadi di Sulawesi Selatan, pendidikan Islam mulai seiring dengan masuknya agama Islam di daerah tersebut, secara resmi dimulai pada tahun 1635 M. Para pedagang dan muballig yang datang dari kawasan Melayu mayoritas orang-orang yang mudah bermasyarakat. Mereka menyebarkan ajaran Islam melalui aktivitas keseharian dalam kehidupan secara damai tanpa paksaaan. 20 Proses penyebaran ajaran Islam berlangsung bebas dan alami, namun tetap sesuai dengan nilai-nilai ajaran yang substansinya merupakan bagian dari pendidikan Islam. Pendidikan agama pada periode awal tersebut berlangsung di lingkungan keluarga. Para muballig meluangkan waktunya untuk mengajarkan agama kepada pemilik rumah yang mereka tempati menginap. Bagi orang dewasa diajarkan pengetahuan agama yang terkait dengan pelaksanaan ibadah, terutama tata cara shalat lima waktu. Bagi anak-anak remaja diajarkan mengaji. 21 Hal ini menegaskan posisi para pedagang yang menjalankan aktivitas ganda, selain sebagai pendatang dengan tujuan memasarkan barang dagangan juga sebagai muballig (penyebar ajaran Islam). Namun secara umum perkembangan selanjutnya, terbentuklah komunitas-komunitas Islam di kota-kota pelabuhan di mana pedagang 17 Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam diterjemahkan oleh H. A. Nawawi Rambe dengan judul Sejarah Dakwah Islam (Cet. III; Jakarta: Wijaya, 1985), h ibid., h Hasbullah, op. cit., h Abd. Rahman Getteng, op. cit., h ibid. 135 2013 Vol. 6 No. 2 Juli - Desember Jurnal Al-Ta dib 136 muballig Islam membangun mesjid. Ulama dan guru-guru mulai berdatangan, pengajian-pengajian diselenggarakan dengan mengambil tempat di masjid-masjid, langgar atau rumah ulama dan para guru. Tempat-tempat pengajian ini kemudian ada yang berkembang menjadi sistem pendidikan sebagai berikut 22 : 1. Sistem pendidikan Surau Pada awal perkembangan Islam di Indonesia, pendidikan Islam dilaksanakan secara informal, para muballig melaksanakan penyiaran agama Islam kapan dan dimana saja pada setiap kesempatan dengan cara yang mudah diterima oleh masyarakat. Mereka mendirikan masjid sebagai tempat beribadah dan mengerjakan shalat Jum'at di setiap desa yang dominan penduduknya muslim, mereka mendirikan surau (di Sumatera Barat) atau langgar untuk mengaji, membaca al-qur'an dan sebagai tempat untuk mendirikan shalat lima waktu. Pendidikan Islam yang berlangsung di surau atau langgar bersifat elementer, dimulai dengan mempelajari huruf abjad Arab (hijaiyyah) atau kadang-kadang langsung mengikuti guru dengan menirukan apa yang telah dibaca dari kitab suci al-qur'an. Pendidikan seperti ini dikelola oleh seorang petugas yang disebut 'amil, modin atau lebai yang memiliki tugas ganda, yaitu selain memberikan do'a pada waktu upacara keluarga atau desa, juga berfungsi sebagai guru. Pelajaran biasanya diberikan setiap pagi dan petang hari, selama satu sampai dua jam yang memakan waktu selama beberapa bulan bahkan sampai sekitar satu tahun. Kegiatan belajar berlangsung dalam bentuk sorogan 23 dan halaqah 24. Materi pelajaran awal adalah membaca al-qur'an, setelah itu diajarkan tentang tata cara shalat, dan masalah keimanan yang lebih dikenal dengan sifat dua puluh Tuhan, serta pelajaran akhlak yang disajikan melalui cerita-cerita para Nabi, orang-orang Saleh sehingga murid-murid diharapkan mampu meneladaninya dengan baik. 25 Pengajian al-qur'an pada pendidikan langgar ini dapat dibedakan atas dua tingkatan, yaitu; (a) tingkatan rendah, yang merupakan tingkatan pemula, yaitu dimulai dengan pengenalan huruf hijaiyah sampai bisa membacanya yang diadakan pada tiap-tiap kampung, (2) tingkatan atas; pelajarannya selain tersebut di atas, juga 22 Ary H. Gunawan, Kebijakan-kebijakan Pendidikan di Indonesia (Cet. I; Jakarta: Bina Aksara, 1986), h Sorogan yaitu murid-murid belajar pada guru atau kyai dengan cara seorang demi seorang. 24 Halaqah atau wetonan adalah cara belajar dimana murid duduk mengelilingi guru yang juga memberi pelajaran sambil duduk. 25 Hasbullah, op. cit., h. 22 Jurnal Al-Ta dib Vol. 6 No. 2 Juli - Desember 2013 ditambah dengan pelajaran lagu, qasidah dan barazanji, tajwid dan mengaji kitab perukunan. 26 Tujuan utama dari pendidikan surau atau langgar adalah agar murid dapat membaca al-qur'an dengan baik dan benar, dan belum ada kajian yang terlalu mendalam untuk memahami isinya. Penyelenggaraan pendidikan ini tidak memungut biaya, tergantung pada kerelaan pada orang tua murid yang boleh saja memberikan sesuatu sebagai wujud rasa terima kasih orang tua k
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks