JURNAL Akuntansi & Keuangan Vol.4, No.2, September 2013 Halaman JURNAL Akuntansi & Keuangan Volume 4, Nomor 2, September

Please download to get full document.

View again

of 17
4 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
JURNAL Akuntansi & Keuangan Vol.4, No.2, September 20 Halaman JURNAL Akuntansi & Keuangan Volume 4, Nomor 2, September PENGARUH TINDAKAN SUPERVISI TERDAPAT KINERJA AUDITOR INTERNAL DENGAN MOTIVASI
Document Share
Document Transcript
JURNAL Akuntansi & Keuangan Vol.4, No.2, September 20 Halaman JURNAL Akuntansi & Keuangan Volume 4, Nomor 2, September PENGARUH TINDAKAN SUPERVISI TERDAPAT KINERJA AUDITOR INTERNAL DENGAN MOTIVASI DAN KERJASAMA SEBAGAI VARIABEL INTERVENIG (Studi Kasus Bank Negara Indonesia 1946 Palembang) Poppy Indriani Jaka Darmawan (Universitas Bina Darma, Palembang) Abstract Research on the supervision on job satisfaction measures have been carried out by previous researchers, but studies on the effect of supervisory actions and motivations of the performance is still rare. In this study that distinguishes it from previous research is here the researcher intends to reexamine the influence of variables on the performance of the act of supervision and motivation variables plus the variable cooperation as an intervening variable. This study uses an instrument questions for each variable. The primary data in this study was obtained from the Internal Auditor opinion on the perception of PT. BNI 46 who complete and return the questionnaire to the researcher. Data collected by the census, which is distributed to the internal auditors in the Compliance Division operating in Palembang. Furthermore then analyzed statistically assisted program SPSS The analysis technique used is the analysis of the path. Keywords: Action Supervision, Motivation, Collaboration, Performance, Internal Auditor and Path Analysis. 1. LATAR BELAKANG Sebuah Sistem Pengendalian Internal (SPI) terdiri dari kebijakan dan prosedur yang dirancang agar manajemen mendapatkan keyakinan yang memadai bahwa perusahaan mencapai tujuan dan sasarannya. Didunia perbankan Sistem Pengendalian Internal yang efektif merupakan komponen yang penting dalam manajemen bank dan menjadi dasar bagi kegiatan operasional bank yang sehat dan aman, hal ini dikarenakan Sistem Pengendalian Intern yang efektif akan dapat membantu pihak manajemen perbankan dalam hal menjaga aset bank, menjamin tersedianya pelaporan keuangan dan manajerial yang dapat dipercaya, meningkatkan kepatuhan bank terhadap ketentuan dan peraturan perundangan-undangan yang berlaku, serta mengurangi risiko terjadinya kerugian, penyimpangan dan pelanggaran aspek kehati-hatian. Terselenggaranya Sistem Pengendalian Intern bank yang handal dan efektif menjadi tanggung jawab dari pengurus dan para pejabat bank. Bank Indonesia sebagai lembaga otoritas moneter mewajibkan setiap bank umum untuk memiliki system pengendalian yang intern yang baik. Sejalan dengan hal itu Bank Indonesia mengeluarkan peraturan No.8/4/PBI/1999 tanggal 20 September 1999 tentang Penerapan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank Umum, bahwa bank wajib menerapkan fungsi audit intern bank sebagaimana ditetapkan dalam Standar 34 JURNAL Akuntansi & Keuangan Volume 4, Nomor 2, September 20 Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank (SPFAIB). Bank wajib menyusun Piagam Audit Intern ( Internal Audit Charter), membentuk Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) dan menyusun panduan audit intern. Pada tahun 2006 Bank Indonesia kembali mengeluarkan peraturan No.8/4/PBI/2006 tanggal 30 September 2006 yang mewajibkan setiap bank untuk menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Gorvernance. Yang dimaksud dengan Good Corporate Governance adalah suatu tata kelola Bank yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban ( responsibility), independensi (independency), dan kewajaran (fairness). (Ferdinand, 17:2006) PT. Bank BNI 46 sebagai salah satu bank pemerintah, telah memiliki SKAI yang dikenal dengan Satuan Pengawasan Intern (SPI). Ketentuan umum mengenai pelaksanaan audit internal di PT. Bank BNI 46 telah disempurnakan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan Good Coorporate Governance bagi Bank Umum dalam pasal 50 yang berisikan : (1) Dalam rangka memastikan kepatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, Bank wajib menunjuk seorang Direktur Kepatuhan dengan berpedoman pada persyaratan dan tata cara sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Penugasan Direktur Kepatuhan (Compliance Director) dan Penerapan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank Umum. (2) Dalam rangka membantu pelaksanaan fungsi Direktur Kepatuhan secara efektif, Bank membentuk satuan kerja kepatuhan (compliance unit) yang independen terhadap satuan kerja operasional. (3) Satuan kerja kepatuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib menyusun dan mengkinikan pedoman kerja, sistem dan prosedur visi, misi, motto, tujuan dan ruang lingkup kegiatan dari SPI. Kegiatan utama dari SPI adalah untuk memberikan rekomendasi perbaikan terhadap efekt5itas dan efisiensi kinerja, kualitas dan efektifitas pengelolaan risiko serta kecukupan dan efektifitas pengendalian intern. Agar setiap internal auditor di PT. Bank BNI 46 dapat melaksanakan tugas utamanya dengan baik diperlukan peranan supervisi dari lini pimpinan SPI. Menurut Comstock dalam Edi (2003) yang dimaksud dengan supervisi adalah tindakan mengawasi atau mengarahkan penyelesaian pekerjaan. Seiring dengan perjalanan waktu, supervisi dikatakan sebagai proses yang dinamis. Kemampuan supervisor dalam memberikan bantuan teknis dan dukungan pada perilaku karyawan. Demikian juga dengan iklim partisipatif yang diciptakan oleh supervisor dapat memiliki pengaruh substansial dari pada melakukan partisipasi dalam suatu keputusan spesifik, karena merasa mendapat perhatian dan dukungan yang cukup dari atasannya. Salah satu bentuk dari supervisi adalah mentoring (pelatihan) yang didefinisikan sebagai proses membentuk dan mempertahankan hubungan yang berkembang, berlangsung secara intensif dari karyawan senior (pementor) dan karyawan junior. Kram (1998) dalam Ferdinan (3:2006) mengindentifikasikan dua kategori fungsi mentoring yaitu fungsi karir dan fungsi psikososial. Fungsi karir menunjang peserta mentoring dalam mempelajari pekerjaannya dan mempersiapkan peningkatan karir dalam organisasi. Sebaliknya fungsi psikososial berguna untuk menunjang dan memastikan perkembangan keberadaan diri peserta mentoring. Pementor dapat mengambil peran sosial aktif dengan membagi pengalaman pribadinya dan mendorong peserta mentoring untuk terbuka bila menghadapi masalah pekerjaan. Pengaruh JURNAL Tindakan Akuntansi Supervisi & Keuangan TerhadapKinerja (Poppy Volume 4, Nomor 2, September Indriani & 20 Jaka Darmawan) 35 Pernyataan Standar Auditing (PSA) No. 04 tahun 2001 menyebutkan bahwa dalam standar umum yang pertama bahwa audit harus dilaksanakan oleh seseorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan tehnis. Selanjutnya dalam PSA tersebut dikatakan bahwa dalam melaksanakan audit untuk sampai pada pernyataan pendapat, auditor senantiasa bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang akuntansi dan bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan formal auditor diperluas dengan pengalaman selanjutnya dalam praktek audit. Untuk memenuhi persyaratan sebagai seorang profesional, auditor harus melalui pelatihan teknis maupun pendidikan umum yang cukup. Selanjutnya dalam PSA tersebut dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pelatihan seorang professional mencakup pula kesadarannya yang terus menerus terhadap perkembangan yang terjadi dalam bisnis dan profesi. Karyawan harus mempelajari, memahami dan menerapkan ketentuan-ketentuan baru dalam prinsip akuntansi dan standar auditing yang ditetapkan. Pelatihan akan meningkatkan kemampuan seseorang menjadi lebih baik. Dengan adanya pelatihan diharapkan dapat menumbuhkan motivasi kerja bagi seorang auditor dalam melaksanakan aktivitasnya. Hal ini sejalan dengan telaah studi yang dilakukan oleh AECC ( Accounting Education Change Commission) yang merupakan badan yang menangani pendidikan akuntansi di Amerika Serikat, telah menerbitkan Issue Statement No.4. Salah satu isi dari Issue Statement No. 4 adalah AECC Recommendations Early Work Experience yang mendorong pemberdayaan akuntan melalui tindakan supervisi yang tepat akan menumbuhkan intrinsik motivasi dan kerja sama. Motivasi dan kerja sama merupakan proses atau faktor yang mendorong orang untuk bertindak atau berperilaku dengan cara tertentu. Proses motivasi mencakup tiga hal, yaitu: pengenalan dan penilaian kebutuhan yang belum terpuaskan, penentuan tujuan yang akan menentukan kepuasan serta penentuan tindakan yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan (Moekijat, 1992). Motivasi penting karena dengan motivasi diharapkan setiap individu bekerja keras dan antusias untuk mencapai hasil kerja yang tinggi. Motivasi dan kerja sama secara umum dapat diidentifikasikan sebagai serangkaian kekuatan penggerak yang muncul dari dalam dan diluar diri masingmasing individu. Kedua kekuatan itu menimbulkan minat kerja dan berhubungan dengan tingkah laku dan menentukan arah, intensitas dan durasi dari tingkah laku atau kebiasaan individual Hasibuan (2001). Adanya tindakan supervisi dan tumbuhnya motivasi dan kerja sama sangat menentukan prestasi kerja (kinerja). Kerjasama dalam organisasi merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam sebuah hubungan. Kerjasama juga dapat memaksimalkan kinerja antara supervisi dan auditor intern, dengan cara melakukan koordinasi yang efektif, meningkatkan pengetahuan bagi setiap anggota dan pemecahan masalah secara bersama-sama. Selain itu Heide dan Minner dalam Syamsul Bahri (2010), memberikan dimensi tingkah laku dalam kerjasama, yaitu; penyebaran informasi (information sharing), memecahkan masalah secara bersama (problem solving), kemauan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan (adaptability) dan pengendalian atas penggunaan kekuasaan (use of power). 36 JURNAL Akuntansi & Keuangan Volume 4, Nomor 2, September TELAAH LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan populasi auditor internal pada Auditor intern pada Divisi Audit Kepatuhan di PT Bank Negara Indonesia Selain itu dalam penelitian ini akan menggunakan tindakan supervisi sebagai variabel independen. Variabel tindakan supervisi tersebut akan diuji pengaruhnya terhadap kinerja auditor internal yang dijadikan variabel dependen dalam penelitian ini. Disamping menggunakan tindakan supervisi sebagai variabel independen, penelitian ini juga menggunakan variabel intervening yang diprediksi akan memediasi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Motivasi dan kerja sama akan digunakan sebagai variabel intervening dalam penelitian ini. Berdasarkan tujuan penelitian, yaitu ingin menguji pengaruh tindakan supervisi terhadap kinerja auditor internal dengan motivasi dan kerja sama sebagai variabel intervening. Sifat dari penelitian ini dikategorikan penelitian penjelasan atau eksplanatory, dimana menjelaskan hubungan dan pengaruh melalui pengujian hipotesis Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Auditor Internal di bagian Satuan Pengendalian Intern pada Divisi Kepatuhan. Jumlah auditor yang terdapat pada Divisi Kepatuhan adalah orang. Karena sedikit jumlah populasinya,maka peneliti menggunakan metode sensus yaitu seluruh auditor dijadikan data dalam penelitian. Bila merujuk pada pendapat beberapa penulis yang diantaranya menurut Sekaran (2003) populasi merupakan keseluruhan group dari orang-orang, peristiwa-peristiwa atau benda-benda yang ingin diteliti oleh peneliti. Populasi adalah seluruh kumpulan elemen yang dapat digunakan untuk membuat beberapa kesimpulan. Kumpulan elemen tersebut pada hakekatnya merupakan objek dimana pengamatan akan dilakukan oleh peneliti. Jika populasi sangat besar maka perlu dilakukan pengambilan sampel (sampling). Mengingat populasi yang digunakan terbatas jumlahnya, maka metode sensus digunakan dalam penelitian ini agar dapat memperoleh tingkat respon rate yang maksimal Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel Operasional variabel adalah suatu yang diberikan dalam suatu variable dengan cara member arti, kemudian menspesifikasikan bagaimana kegiatan variable tersebut. Agar peneltian ini memiliki arah yang jelas maka perlu ditetapkan operasional variable seperti dalam table 3.2 dibawah ini: Tabel 1 Operasional Variabel Penelitian Variable Definisi Dimensi Variable independen: Tindakan Supervisi Comstock dalam Edi (2003) mengatakan supervisi merupakan tindakan mengawasi atau mengarahkan penyelesaian pekerjaan. Tindakan Pengawasan dan Mengarahkan Skala Ukur Skala likert Motivasi Motivasi kerja adalah sesuatu yang Kebutuhan, Skala Pengaruh JURNAL Tindakan Akuntansi Supervisi & Keuangan TerhadapKinerja (Poppy Volume 4, Nomor 2, September Indriani & 20 Jaka Darmawan) 37 Kerja Sama Variable dependen: Kinerja memulai gerakan, sesuatu yang membuat orang bertindak atau berprilaku dalam cara-cara tertentu. Memotivasi orang adalah menunjukkan arah tertentu kepada mereka dan mengambil langkahlangkah yang perlu untuk memastikan bahwa mereka sampai ke suatu tujuan. (Michael Armstrong:2002). Kerjasama sebagai proses interaksi yang dilakukan oleh individu, kelompok dan organisasi untuk mendapatkan manfaat (Smith, et.al., 1995 dalam Budiman 2002 ). Kinerja adalah sebagai fungsi dari interaksi antara kemampuan atau ability (A), motivasi atau motivasi (M) dan kesempatan atau opportunity (O); yaitu kinerja = f(axmxo); (Robbins, 1999 dalam Hendraprijatna). Harapan dan Mengarahkan Interaksi, Koordinasi dan Manfaat Kemampuan, Motivasi dan Kesempatan likert Skala likert Skala likert Untuk lebih jelas lagi maka pada peneliti akan menguraikan lebih lanjut dari semua variabel operasional yang ada, yang akan di teliti. Tindakan Supervisi Pengukuran variabel tindakan supervisi sebagai variabel independen, menggunakan instrumen yang digunakan oleh Budiman (2002). Peneliti melakukan modifikasi terhadap instrument yang digunakan Budiman dengan menyesuaikan pada kondisi lingkungan kerja para auditor internal PT Bank Negara Indonesia Jumlah pertanyaan untuk mengukur variabel tindakan supervisi terdiri 22 pertanyaan. Setiap responden diminta untuk menjawab setiap pertanyaan dengan skala Likert 5 (lima) poin, yaitu: angka 1 (Sangat Tidak Setuju), angka 2 (Tidak Setuju), angka 3 (Sedang/Netral), angka 4 (Setuju) dan angka 5 (Sangat Setuju). Motivasi dan Kerja Sama. Pengukuran motivasi kerja sebagai variabel intervening menggunakan instrument yang dikembangkan James E Huton (1996) dan juga digunakan Sri (2001). Peneliti melakukan modifikasi terhadap instrumen yang digunakan Budiman dengan menyesuaikan pada kondisi lingkungan kerja para auditor internal PT Bank Negara Indonesia Jumlah pertanyaan untuk mengukur variabel motivasi kerja terdiri 10 pertanyaan. Setiap responden diminta untuk menjawab setiap pertanyaan dengan skala Likert 5 (lima) poin, yaitu: angka 1 (Sangat Tidak Setuju), angka 2 (Tidak Setuju), angka 3 (Sedang/Netral), angka 4 (Setuju) dan angka 5 (Sangat Setuju). 38 JURNAL Akuntansi & Keuangan Volume 4, Nomor 2, September 20 Kinerja Auditor Internal Yang dimaksud kinerja dalam penelitian ini adalah kinerja individu anggota suatu organisasi dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan audit. Untuk mengukur variabel kinerja sebagai variabel dependen digunakan instrumen yang dikembangkan oleh Kalbers dan Fogarty (19 95) dan digunakan Sumardi (2001). Peneliti melakukan modifikasi terhadap instrumen yang digunakan Kalbers dan Fogarty dimana akan disesuaikan kriteria penilaian prestasi kerja tahunan auditor internal di PT. Bank BNI 46. Jumlah pertanyaan untuk mengukur variabel kinerja terdiri 7 pertanyaan. Setiap responden diminta untuk menjawab setiap pertanyaan dengan skala Likert 5 poin, yaitu: angka 1 (Sangat Tidak Setuju), angka 2 (Tidak Setuju), angka 3 (Sedang/Netral), angka 4 (Setuju) dan angka 5 (Sangat Setuju) Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi dalam penelitian ini adalah Divisi Audit Intern PT. Bank BNI 46. Untuk auditor internal yang berada pada sub Divisi Audit Kepatuhan yang berada di Palembang. Waktu penelitian yang dilakukan oleh penulis selama 6 bulan pada tahun Prosedur pengumpulan data Studi ini dirancang sebagai studi empiris dan merupakan cross sectional study, yaitu studi yang dilakukan terhadap suatu obyek tertentu pada waktu tertentu. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan metode kuesioner yang disebarkan ke auditor internal pada Divisi Kepatauhan yang berada di PT. Bank BNI 46 di Palembang. Pengambilan data disebarkan melalui dengan satu cara, yaitu kuesioner diberikan secara langsung oleh peneliti kepada para responden Teknik Analisis Untuk menganalisis masalah penelitian ini akan menggunakan metode regresi berganda dengan bantuan program software SPSS versi Adapun teknis analisis yang digunakan sebagai berikut Statistik Deskriptif Peneliti menggunakan tabel distribusi frekwensi yang menunjukkan nilai distribusi data penelitian yang memiliki kesamaan kategori dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi absolut yang menunjukkan rata-rata, median dan deviasi standar Uji Reliabilitas dan Validitas Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi alat ukur dalam penggunaannya, atau dengan kata lain alat ukur tersebut mempunyai hasil yang konsisten apabila digunakan berkali-kali dalam waktu yang berbeda. Untuk uji realibilitas ini akan digunakan Tehnik Alpha Cronbach, jika suatu konstruk atau variable dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Aplha 0,6 (Imam, 2005). Uji validitas adalah untuk mengukur sah atau valid tidak suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Imam, 2005). Pengaruh JURNAL Tindakan Akuntansi Supervisi & Keuangan TerhadapKinerja (Poppy Volume 4, Nomor 2, September Indriani & 20 Jaka Darmawan) 39 Mengukur tingkat validitas dilakukan dengan melakukan korelasi antara skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel, dengan hipotesa, HO: skor butir pertanyaan berkorelasi positif dengan total skor konstruk HA: skor butir pertanyaan tidak berkorelasi positif dengan total skor konstruk Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n -2. Jika r hitung lebih besar dari r tabel dan nilai r positif maka pertanyaan tersebut dikatakan valid Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variable independen yang nilai korelasinya antar sesama variabel independen sama dengan nol (Imam, 2005). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas didalam model regresi akan digunakan dengan menggunakan penilaian ƒvariance Inflation Factorƒ atau ƒtolerance Valueƒ. Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Uji Autokorelasi Uji asumsi klasik berupa uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena observasi yang beruntun sepanjang waktu berkaitan satu sama lain, dimana residual (kesalahan pengganggu) tidak terbebas dari satu observasi ke observasi yang lain. Masalah autokorelasi muncul pada penelitian yang menggunakan data bersifat time series data. Menurut Imam (2005) pada data yang bersifat cross section (silang waktu), masalah autokorelasi relatif jarang terjadi karena ƒgangguanƒ pada observasi yang berbeda berasal dari individu/kelompok yang berbeda. Dalam pengujian untuk memastikan ada atau tidaknya masalah autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW test). Nilai DW yang dihasilkan kemudian dibandingkan dengan tabelnya. Menurut Gujarati (2003) jika nilai DW berada diluar dari batas atas (du) dan batas bawah (dl) berarti tidak ada masalah autokorelasi di dalam penelitian. Uji Heteroskedastisitas Uji Hetero
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks