Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017, Halaman PDF

Please download to get full document.

View again

of 7
134 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 4, Tahun 217, Halaman 326 Volume 6, Nomor 4, Tahun 217, Halaman Online di : HUBUNGAN DENSITAS ENERGI DAN
Document Share
Document Transcript
Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 4, Tahun 217, Halaman 326 Volume 6, Nomor 4, Tahun 217, Halaman Online di : HUBUNGAN DENSITAS ENERGI DAN ASUPAN CAIRAN DENGAN BERAT JENIS URIN PADA REMAJA Liani Setyarsih 1, Martha Ardiaria 1, Deny Yudi Fitranti 1 1 Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Jln. Prof. H. Soedarto, SH., Semarang, Telp (24) , ABSTRACT Background: Hydration status is a condition that describes total body fluid. One of the method of measuring hydration status is urine specific gravity. Energy density of food is the amount energy content of total weight food. Foods with high energy density tend to have a lower water content, which will affect fluid intake. The aim of this research was to know the correlation of energy density and fluid intake with urine specific gravity as one of the markers of hydration status. Method: This was an observational research with cross-sectional study design. The research was conducted in Senior High School 15 Semarang involving 55 subjects by Simple Random Sampling method. Food intake and fluid intake were assessed by 1x24 hours Food Recall. Urine specific gravity measured in laboratory. Body fat percentage measured by BIA (Bioelectrical Impendance Analysis) and physical activity assessed by 1x24 hours record physical activity. Data were analyzed by rank spearman. Result: Median of urine specific gravity men and women was 1,2 g/ml. Mean of energy density in men was 1,8±,32 kcal/gram, in women was 2,1±,59 kkal/gram. Mean of fluid intake in men was 246,4±491,38 ml, in women was 2159,5±648,42 ml. There was significant correlation of fluid intake with hydration status (p=,27). There was no significant correlation of energy density and hydration status (p=,218). Multivariate analysis showed that 14,6% of hydration status is affected by both fluid intake and energy intake. Conclusion: There was significant correlation of fluid intake with urine specific gravity. There was no significant correlation of energy density and urine specific gravity. Key Words: Energy density, fluid intake, urine specific gravity, hydration status, adolescents ABSTRAK Latar Belakang: Status hidrasi merupakan suatu kondisi yang menggambarkan jumlah cairan dalam tubuh. Salah satu metode pengukuran status hidrasi adalah berat jenis urin. Makanan memiliki densitas energi, yaitu jumlah kandungan energi dari berat total suatu makanan. Makanan dengan densitas energi tinggi memiliki kandungan air yang rendah, sehingga akan mempengaruhi asupan cairan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan densitas energi dan asupan cairan dengan berat jenis urin sebagai salah satu penanda status hidrasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 15 Semarang. Jumlah subjek sebanyak 55 remaja dengan metode pengambilan sampel Simple Random Sampling. Data asupan diperoleh melalui Food Recall 1x24 jam. Pengukuran berat jenis urin dilakukan di laboratorium. Persen lemak tubuh diperoleh melalui pengukuran menggunakan BIA (Bioelectrical Impendance Analysis) dan aktivitas fisik menggunakan form record aktivitas fisik 1x24 jam. Data dianalisis menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil: Median berat jenis urin laki-laki dan perempuan yaitu 1,2 g/ml. Rerata densitas energi laki-laki 1,8±,32 kkal/gram, sedangkan perempuan 2,1±,59 kkal/gram. Rerata asupan cairan laki-laki 246,4±491,38 ml, sedangkan perempuan 2159,5±648,42 ml. Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan cairan dengan berat jenis urin (p=,27). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara densitas energi dengan berat jenis urin (p=,218). Analisis multivariat menunjukkan 14,6% status hidrasi dipengaruhi oleh asupan cairan dan asupan energi. Simpulan: Terdapat hubungan antara asupan cairan dengan berat jenis urin. Tidak terdapat hubungan antara densitas energi dan berat jenis urin. Kata Kunci: Densitas Energi, Asupan Cairan, Berat Jenis Urin, Status Hidrasi, Remaja PENDAHULUAN Status hidrasi merupakan suatu kondisi yang menggambarkan jumlah cairan dalam tubuh seseorang. Keseimbangan cairan tubuh tercapai apabila volume air yang masuk ke dalam tubuh sama dengan volume air yang keluar. Air yang masuk ke dalam tubuh diperoleh dari makanan dan minuman. Air dikeluarkan dari tubuh melalui urin, keringat, pernapasan, dan feses. Apabila cairan dalam tubuh tidak seimbang maka akan terjadi dehidrasi. Dehidrasi merupakan suatu kondisi dimana cairan yang hilang jumlahnya lebih banyak dibandingkan cairan yang masuk. 1,2 Salah satu metode pengukuran status hidrasi yaitu menggunakan berat jenis urin. 3 Berat jenis urin merupakan gambaran konsentrasi zat terlarut dalam urin, yaitu perbandingan antara massa larutan dengan volume air. 4 Konsentrasi urin ditentukan oleh jumlah partikel seperti elektrolit, fosfat, urea, asam urat, protein, glukosa per volume urin. 5 Seseorang yang 327 Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 4, Tahun 217 mengalami dehidrasi akan meningkatkan reabsorpsi air oleh ginjal dan akan meningkatkan konsentrasi urin. 4 Air memiliki berat jenis 1, dan akan selalu naik apabila ditambahkan zat terlarut ke dalamnya. Semakin terkonsentrasi urin makan berat jenis urin akan semakin meningkat. 6 Masa remaja merupakan periode transisi antara anak-anak menuju dewasa. 3 Remaja cenderung melakukan banyak aktivitas fisik dalam kegiatan sehari-hari, namun terkadang mereka tidak memperhatikan sinyal fisiologis terkait kehilangan cairan tubuhnya, seperti berkeringat yang berlebih dan timbulnya rasa haus. Hal tersebut menyebabkan mereka rentan mengalami dehidrasi karena mengabaikan tanda dan gejala tersebut. 7 Hasil penelitian The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) di beberapa kota di Indonesia, pada tahun 21 sebesar 46,6% penduduk Indonesia mengalami dehidrasi ringan, jumlah tersebut lebih tinggi pada remaja (49,5%) dibanding orang dewasa (42,5%). 8 Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi status hidrasi, seperti asupan cairan dan asupan makan. Kurangnya asupan cairan menyebabkan seseorang rentan mengalami dehidrasi. Hal tersebut karena cairan dalam tubuh akan berperan dalam proses metabolisme dan akan keluar dari tubuh bersama zat sisa metabolisme. Penelitian yang dilakukan di Bogor menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi status hidrasi pada remaja adalah asupan cairan karena hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat asupan cairan dengan status hidrasi pada remaja. 9 Faktor lain yang mempengaruhi status hidrasi yaitu asupan makan. Hal tersebut karena makanan yang dikonsumsi juga mengandung air sehingga berpengaruh pada keseimbangan cairan dalam tubuh. Penelitian yang dilakukan di Jerman menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara status hidrasi dan profil diet pada anak-anak. Hasilnya menunjukkan bahwa profil diet berkorelasi dengan FWR (Free Water Reserve) yang merupakan salah satu penanda status hidrasi tubuh, namun hubungan yang paling signifikan ditunjukkan oleh densitas energi, yaitu asupan dengan densitas energi yang tinggi menunjukkan nilai FWR yang rendah sehingga meningkatkan risiko dehidrasi. 1 Densitas energi adalah jumlah kandungan energi dari berat total suatu makanan. 11,12 Makanan dengan densitas energi tinggi biasanya tinggi kandungan karbohidrat sederhana yang ditambah gula dan lemak, sehingga cenderung lezat, murah, dan banyak disukai termasuk oleh remaja. 13 Makanan dengan densitas energi tinggi cenderung memiliki kandungan air yang rendah, sehingga akan mempengaruhi asupan cairan tubuh dan status hidrasi seseorang. 14,15 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan densitas energi dan asupan cairan dengan berat jenis urin sebagai salah satu penanda status hidrasi pada remaja. METODE Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dan termasuk lingkup gizi masyarakat. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 15 Semarang pada bulan Mei 217. Jumlah subjek dalam penelitian ini yaitu 55 subjek. Metode pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling. Kriteria inklusi sampel yakni remaja berusia tahun, tidak sedang menjalani diet khusus atau diet karena penyakit tertentu, tidak mengalami diare dan muntahmuntah, tidak menderita penyakit ginjal dan diabetes mellitus, tidak mengonsumsi obat yang bersifat diuretik, serta bagi subjek perempuan tidak sedang mengalami menstruasi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah karakteristik subjek, persen lemak tubuh, asupan makan, asupan cairan, berat jenis urin, serta aktivitas fisik. Aktivitas fisik diperoleh melalui formulir record aktivitas dalam sehari dengan durasi kegiatan per lima menit. Energi yang dikeluarkan untuk beraktivitas selama 24 jam dihitung menggunakan rumus 3,5 x BB x 5/1 x Kelipatan EMB x W, dimana kelipatan EMB adalah kelipatan energi metabolisme basal masing-masing aktivitas dan W adalah waktu. 16 Aktivitas fisik pada laki-laki dikategorikan menjadi ringan apabila 26 kkal, sedang kkal, dan berat kkal. Sedangkan pada perempuan dikategorikan ringan apabila 2 kkal, sedang kkal, dan berat kkal. 17 Persen lemak tubuh diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Kategori persen lemak tubuh laki-laki dikatakan underfat apabila 1%, normal 11-2%, overfat 21-25%, dan obese 26-35%. Sedangkan pada perempuan dikategorikan underfat apabila persen lemak tubuh 15%, normal 16-29%, overfat 3-34%, dan obese apabila 35%. 18 Asupan makan diteliti untuk mengetahui asupan energi dan densitas energi makanan yang dikonsumsi subjek melalui food recall selama 1x24 jam. Asupan energi dikategorikan tinggi apabila 11% AKG, baik apabila 8-11% AKG dan kurang apabil 8% AKG. 19 Perhitungan densitas energi makanan diperoleh melalui total energi makanan sehari dibagi berat makanan. Densitas energi dikategorikan menjadi empat yaitu densitas energi sangat rendah -,6 kkal/g, rendah,6-1,5 kkal/g, sedang 1,5-4, kkal/g, dan tinggi 4,-9, kkal/g. 2 Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 4, Tahun 217, Halaman 328 Asupan cairan adalah cairan yang masuk dalam tubuh yang berasal dari minuman dan makanan. Total asupan cairan diperoleh dari asupan air putih maupun minuman lainnya, serta cairan dari makanan yang diperoleh melalui dietary recall selama 1x24 jam yang diambil satu hari sebelum pengambilan sampel urin. Perhitungan total asupan cairan menggunakan rumus pertambahan total cairan dari minuman dan total cairan dari makanan yang dilihat dari DKBM 25. Asupan cairan dikategorikan menjadi dua yaitu kurang dan cukup. Asupan cairan pada laki-laki dikatakan cukup apabila 22 ml dan kurang apabila 22 ml. sedangkan pada perempuan dikatakan cukup apabila 21 ml dan kurang apabila 21 ml. 21 Berat jenis urin digunakan untuk mengukur status hidrasi subjek. Metode berat jenis urin (BJU) dipilih karena mudah dilaksanakan, waktu analisis singkat, ketepatan baik, biaya terjangkau, portabilitas alat baik, dan rendahnya risiko bagi subjek. Pengambilan sampel urin menggunakan botol kaca bening. Pemeriksaan BJU dilakukan di laboratorium dengan menggunakan metode reagent strip. BJU dikategorikan menjadi empat, yaitu status hidrasi baik apabila nilai BJU 1.1, dehidrasi ringan apabila nilai BJU dan dehidrasi sedang apabila nilai BJU , dehidrasi berat apabila nilai BJU Pengolahan dan analisis data dilakukan menggunakan program komputer. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel. Data diuji normalitasnya menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov (n 5) dengan nilai kemaknaan p ,5. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat menggunakan uji korelasi Rank Spearman karena data berdistribusi tidak normal. Analisis multivariat digunakan untuk mengetahui variabel prediktor dari berat jenis urin menggunakan uji regresi linier ganda. HASIL Karakteristik Subjek Penelitian Jumlah subjek penelitian ini sebanyak 55 orang yang terdiri dari 25 remaja laki-laki dan 3 remaja perempuan dengan rentang usia tahun. Perempuan memiliki rerata persen lemak tubuh dan asupan dengan densitas energi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Sementara rerata asupan cairan lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara persen lemak tubuh, aktivitas fisik, densitas energi antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan berat jenis urin, asupan cairan, dan asupan energi antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan. Karakteristik subjek selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik usia, persen lemak tubuh, aktivitas fisik, berat jenis urin, asupan cairan, densitas energi, dan asupan energi berdasarkan jenis kelamin Karakteristik Laki-laki (n=25) Perempuan (n=3) Subjek Minimal Maksimal Rerata/Median Minimal Maksimal Rerata/Median p Usia (tahun) b b,895 c Persen lemak tubuh 7, ,6±8,7 a 13, ,8±7,2 a,1 d * (%) Aktivitas Fisik (kkal) 229,3 2973,1 2683,7±162,32 a 1796, ,23 b,1 c * Berat Jenis Urin 1,5 1,2 1,2 b 1,5 1,2 1,2 b,429 c Asupan Cairan (ml) 1537,6 3391,9 246,4±491,38 a 1162,49 424,4 2159,5±648,42 a,123 d Densitas Energi 1,27 2,5 1,8±,32 a 1,3 3,26 2,1±,59 a,23 d * (kkal/g) Asupan Energi (kkal) 111,1 2627,5 1443,1 b 757,1 1954,2 1213,9 b,56 c a Rerata±SD, b Median c Uji Mann-Whitney, d Uji T tidak berpasangan *Perbedaan signifikan (p ,5) Distribusi Frekuensi Densitas Energi, Asupan Energi, Asupan Cairan, Aktivitas Fisik, Persen Lemak Tubuh, dan Status Hidrasi Subjek dalam penelitian ini memiliki berat jenis urin yang tergolong dalam kategori status hidrasi baik dan dehidrasi ringan. Sebanyak 29 (52,8%) subjek memiliki status hidrasi baik yang terdiri dari 12 laki-laki dan 17 perempuan. Sedangkan dehidrasi ringan dialami oleh 26 subjek (47,2%) yang terdiri dari 13 laki-laki dan 13 perempuan. 329 Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 4, Tahun 217 Tabel 2. menunjukkan bahwa sebanyak 54,6% subjek yang memiliki asupan dengan densitas energi tinggi mengalami dehidrasi ringan. Tidak ada subjek yang memiliki asupan energi tinggi, baik dari golongan dehidrasi ringan maupun status hidrasi baik. Subjek dengan asupan cairan kurang mengalami dehidrasi ringan sebanyak 65,2%. Sebanyak 18 subjek (44%) mengalami dehidrasi ringan pada kategori aktivitas fisik sedang. Subjek yang memiliki persen lemak tubuh pada kategori overfat sebanyak 54,5% mengalami dehidrasi ringan. Tabel 2. Distribusi frekuensi densitas energi, asupan energi, asupan cairan, aktivitas fisik, dan persen lemak tubuh berdasarkan status hidrasi Status Hidrasi Baik Dehidrasi Ringan Total Karakteristik n % n % n % Densitas Energi Rendah Sedang ,1 52, ,9 47, ,7 87,3 Total 29 52, , Asupan Energi Tinggi Baik Kurang , , ,9 69,1 Total 29 52, , Asupan Cairan Cukup Kurang ,6 34, ,4 65, ,2 41,8 Total 29 52, , Aktivitas Fisik Sedang Ringan , , ,5 25,5 Total 29 52, , Persen Lemak Tubuh Underfat Normal Overfat Obese ,1 53,6 45,5 55, ,9 46,4 54,5 44, ,7 5,9 2 16,4 Total 29 52, , Hubungan antara densitas energi, asupan energi, asupan cairan, aktivitas fisik, dan persen lemak tubuh dengan berat jenis urin Tabel 3. menunjukkan korelasi antara variabelvariabel yang diambil dengan berat jenis urin. Berdasarkan hasil analisis uji korelasi diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan cairan dengan berat jenis urin pada remaja (p ,5) dan menunjukkan arah korelasi negatif (r= -,315). Nilai r negatif tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsumsi cairan, maka nilai berat jenis urin akan semakin rendah yang menunjukkan status hidrasi baik. Sedangkan variabel densitas energi, asupan energi, aktivitas fisik, dan persen lemak tubuh tidak menunjukkan adanya hubungan dengan berat jenis urin. Tabel 3. Hubungan antara densitas energi, asupan energi, asupan cairan, aktivitas fisik, dan persen lemak tubuh dengan berat jenis urin Variabel Berat Jenis Urin Koefisien Korelasi (r) P value Densitas Energi,164,232 Asupan Energi,158,25 Asupan Cairan -,315,19* Aktivitas Fisik,32,817 Persen lemak tubuh,77,578 Uji korelasi rank spearman *korelasi signifikan (p ,5) Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki p ,25 antara lain densitas energi, asupan energi, dan asupan cairan. Kemudian variabel-variabel tersebut dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis regresi linier ganda untuk mengetahui variabel prediktor dari berat jenis Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 4, Tahun 217, Halaman 33 urin. Hasil uji regresi linier ganda akan dinyatakan dalam Tabel 4. Hasil analisis regresi linier ganda menunjukkan bahwa variabel asupan cairan dan asupan energi menjadi variabel prediktor dari berat jenis urin dengan nilai adjusted R square yaitu,146 menunjukkan bahwa 14,6% variasi berat jenis urin dapat dijelaskan oleh variasi asupan cairan dan asupan energi. Tabel 4. Hasil Uji Multivariat Asupan Cairan, Asupan Energi Variabel Beta (Standarized Coefficients) p Konstanta Adjusted R Square Asupan Energi,312,21 Asupan Cairan -,388,5 1,18,146 PEMBAHASAN Terdapat berbagai metode untuk mengukur status hidrasi, salah satunya adalah metode berat jenis urin. 3 Berat jenis urin merupakan gambaran konsentrasi zat terlarut dalam urin, yaitu perbandingan antara massa larutan dengan volume air di dalam urin. 4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa parameter berat jenis urin memiliki tingkat konsistensi dan akurasi yang baik, sama seperti parameter osmolalitas urin. 23 Metode berat jenis urin ini cocok digunakan pada penelitian terkait pengukuran status hidrasi dengan jumlah subjek yang besar. 4 Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sebanyak 47,2% remaja mengalami dehidrasi ringan. Hal tersebut lebih tinggi daripada penelitian sebelumnya yaitu sebesar 44,5% remaja mengalami dehidrasi. 9 Dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh yang berlebih karena penggantian cairan yang tidak cukup akibat asupan cairan yang tidak memenuhi kebutuhan tubuh ataupun karena peningkatan pengeluaran cairan baik melalui urin, keringat, dan proses pernapasan. 24 Secara teori terdapat beberapa faktor yang menyebabkan dehidrasi seperti asupan cairan, aktivitas fisik, komposisi tubuh, jenis kelamin, suhu lingkungan. 25 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara asupan cairan dengan berat jenis urin sebagai salah satu penanda status hidrasi. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya hubungan antara jumlah asupan cairan terhadap status hidrasi pada remaja di pesantren. 26 Tubuh memperoleh cairan terutama dari konsumsi makanan dan minuman, serta sebagian kecil dari hasil metabolisme. 27 Pada penelitian ini total asupan cairan diperoleh dari penjumlahan cairan yang berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Hasilnya menunjukkan bahwa rerata asupan cairan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Studi di Jakarta dan Bandung menunjukkan hal yang sama, yaitu total asupan cairan laki-laki lebih besar (3591 ml) dibandingkan dengan perempuan (2713 ml). 8 Hal ini sesuai dengan data National Health And Nutrition Examination Survey (NHANES) III di USA yang menunjukkan rata-rata asupan total cairan pada remaja (14-18 tahun) lakilaki sebesar 34 ml per hari dan perempuan sebesar 25 ml per hari. 28 Remaja saat ini sudah mengalami pergeseran pola makan dari pola makan tradisional ke pola makan barat. Pemilihan makanan tidak lagi didasarkan pada kandungan gizi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh media massa dan sosialisasi antar teman sebaya. Remaja cenderung mengkonsumsi makanan dengan densitas energi tinggi yang biasanya tinggi kandungan karbohidrat sederhana, gula dan lemak. 13 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara densitas energi dengan berat jenis urin sebagai salah satu penanda status hidrasi (p value=,164). Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara status hidrasi dengan densitas energi, yaitu asupan dengan densitas energi yang tinggi dapat meningkatkan risiko de
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks