Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017, Halaman PDF

Please download to get full document.

View again

of 8
83 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017, Halaman 249 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017, Halaman Online di : HUBUNGAN ASUPAN LEMAK, PROTEIN
Document Share
Document Transcript
Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017, Halaman 249 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017, Halaman Online di : HUBUNGAN ASUPAN LEMAK, PROTEIN DAN KALSIUM DENGAN KEJADIAN MENARCHE DINI PADA ANAK USIA TAHUN Annisa Nur Fathin, Martha Ardiaria, Deny Yudi Fitranti *) *) Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Jln. Prof. H. Soedarto, SH., Semarang, Telp (024) , ABSTRACT Background: The prevalence of early menarche is increasing as a result of the rising quality of life, specifically diet quality which includes intakes of food high in fat, protein and calcium. Early menarche is associated with obesity, increased incidence of metabolic syndrome, cardiovascular disease, non-alcoholic liver disease. Objective: To determine the relationship of fat, protein and calcium intake with early menarche. Method:The study design was case-control with 21 female students in each group. Subjects were chosen by consecutive sampling based on screening results of year olds with those who has had their menarche as the case, while the control group was chosen randomly without matching on students who has not had their menarche. Identity and age of menarche were acquired using structured questionnaires. Fat, protein and calcium intake data were obtained by semiquantitative food frequency questionnaire (SQFFQ). Data were analyzed using Chi Square test and Multiple Logistic Regression test. Results: The mean age of menarche at age 11.2 years. Protein and calcium intake was found to be associated with early menarche with p value p=0,034 and p=0,01, increasing the risk up to 3.2 times (95% CI: ) and 13.6 times(95% CI: ), respectively. There was no correlation between nutritional status, birth weight and fat intake,with early menarche with p value p=0,232 and p= Logistic regression showed that girls with excessive calcium intake are 43% more likely to have early menarche. Conclusion: The intake of protein and calcium are positively linked with early menarche. Keywords: fat intake, protein and calcium, early menarche. ABSTRAK Latar Belakang : Prevalensi menarche dini semakin meningkat sebagai akibat dari meningkatnya standar kehidupan teruatama faktor asupan makan, diantaranya adalah asupan makanan tinggi lemak, protein dan kalsium. Menarche dini berhubungan dengan obesitas, peningkatan kejadian sindrom metabolik, penyakit kardiovaskuler, penyakit hati nonalkoholik. Tujuan : Mengetahui hubungan asupan lemak, protein dan kalsium dengan kejadian menarche dini. Metode : Desain penelitian case-control dengan jumlah sampel pada masing-masing kelompok 21 siswi. Subjek kasus diambil secara consecutive sampling berdasarkan hasil skrining siswi usia tahun yang sudah mengalami mengalami menarche dini sedangkan subjek kontrol dipilih secara random tanpa matching pada siswi yang belum mengalami menarche. Data identitas dan usia menarche diperoleh dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Data asupan lemak, protein dan kalsium diperoleh menggunakan kuesioner semi quantitative food frequency (SQFFQ) Data dianalisis menggunkan uji Chi Square dan uji Regresi Logistik Ganda. Hasil : Rerata usia menarche terjadi pada usia 11,2 tahun. Terdapat hubungan antara asupan protein dan kalsium dengan kejadian menarche dini dengan nilai p=0,034 dan p=0,01 dengan besar risiko masing-masing 3,2 kali (95% CI: 0,918-11,509) dan 13,6 kali (95% CI: 3,091-59,831). Tidak terdapat hubungan antara status gizi, berat badan lahir dan asupan lemak dengan kejadian menarche dini dengan nilai p masing masing p=0,232 dan p=0,075. Regresi logistik menunjukkan asupan kalsium berlebih mempunyai pengaruh sebesar 43% terhadap kejadian menarche dini. Simpulan : Asupan protein dan kalsium berhubungan dengan kejadian menarche dini. Kata kunci : asupan lemak, protein dan kalsium, menarche dini. PENDAHULUAN Menarche adalah kejadian luruhnya dinding endometrium rahim atau menstruasi/haid pertama kali. 1 Menarche terjadi pada usia 12,5-16,5 tahun, dengan rata-rata terjadi pada usia 12,5 tahun. Menarche dini terjadi sebelum usia 12 tahun. 2,3 Prevalensi menarche dini semakin bertambah seiring adanya perubahan gaya hidup namun tidak disertai dengan asupan makanan yang bergizi dan seimbang. 4 Laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010, terdapat 20,6% perempuan usia tahun di Jawa Tengah mengalami menarche pada usia kurang dari 12 tahun dan di Indonesia perempuan usia tahun terdapat 22,5% sudah mengalami menarche pada usia kurang dari 12 tahun. 5 Studi di Indonesia pada Tahun 2010 ditemukan bahwa 10,3% perempuan di Indonesia mengalami menarche pada usia 9-11 tahun. 3 Penurunan usia menarche dapat menjadi faktor risiko kondisi kesehatan pada saat dewasa. 6 Penelitian *) Penulis Penanggungjawab 250 Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 menyebutkan, menarche dini berhubungan dengan obesitas, peningkatan kejadian sindrom metabolik, 7,8 penyakit kardiovaskuler, 9 penyakit hati nonalkoholik 10. Kejadian menarche dini berhubungan dengan peningkatan GH (growth hormone) dan IGF- 1 (Insulin-like growth factor-1) secara progresif. Level IGF-1 yang tinggi akan meningkatkan penumpukan lemak tubuh melalui diferensiasi dan proliferasi sel adiposit yang mengakibatkan tingginya IMT dan obesitas sehingga meningkatkan risiko sindrom metabolik. 12 Pada menarche dini, peningkatan level IGF-1 juga berhubungan dengan timbulnya resistensi insulin akibat dari tingginya pelepasan asam lemak bebas yang mengganggu tingkat kepekaan reseptor insulin. 13,14 Bergesernya usia menarche menjadi lebih dini berkaitan dengan meningkatnya derajat kesehatan terutama asupan zat gizi, namun tidak disertai dengan asupan yang bergizi dan seimbang. 4 Penelitian menunjukkan bahwa penurunan masa pubertas pada perempuan tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik tapi dapat dipengaruhi oleh faktor epigenetik. 15 Faktor risiko menarche dini adalah gaya hidup, aktifitas fisik, status gizi, 16 pola makan dan asupan zat gizi, 17 komposisi tubuh 18, gen atau usia menarche ibu, 19 berat badan lahir 20 dan kondisi sosial ekonomi. 21 Beberapa zat gizi berhubungan dengan regulasi hormon reproduksi yang berkaitan dengan terjadinya percepatan masa pubertas. Asupan berlebih dari lemak, 22 protein 23 dan kalsium, 24 berpengaruh terhadap kejadian menarche dini. Konsumsi makanan dengan kandungan lemak berlebih dapat meningkatkan simpanan lemak tubuh ketika tidak digunakan sebagai sumber energi sehingga dapat meningkatkan level dari hormon leptin. 19 Serum leptin yang tinggi dapay merangsang hipotalamus untuk sekresi hormon GnRH (Gonadrotopin Releasing Hormone). Peningkatan sekresi GnRH merangsang kelenjar pituitari pada hipofisis anterior untuk mengeluarkan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). 18 FSH merangsang pematangan folikel dan menstimulasi produksi estrogen. Pematangan sel telur atau ovum lebih cepat mengakibatkan proses ovulasi yang lebih cepat sehingga menyebabkan menarche yang lebih dini. Konsumsi protein berlebih juga berhubungan dengan menarche dini. Protein dapat meningkatkan sekresi hormon IGF-1 di hati. Ketika ketersediaan IGF-1 bebas lebih banyak dalam aliran darah, IGF-1 menstimulasi sekresi GnRH di hipotalamus. 23 Sekresi GnRH lebih banyak jumlahnya, maka kelenjar pituitari mengeluarkan FSH dan LH lebih banyak. Jumlah hormon seks yang lebih tinggi mempercepat pematangan ovum dan proses ovulasi sehingga menarche terjadi lebih dini. Kalsium juga memiliki efek dalam kejadian menarche dini. Konsumsi kalsium yang bersumber dari produk susu seperti susu, keju dan yogurt, berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan, serta meningkatkan sekresi IGF Penelitian dari NHANES menunjukkan perempuan dengan konsumsi susu 245 g/hari memiliki resiko lebih tinggi menarche dini. 24 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan lemak, protein dan kalsium dengan kejadian menarche dini. METODE Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup keilmuan gizi masyarakat yang dilaksanakan di SD N Lamper Kidul 02 Semarang pada bulan Maret-April Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case-control tanpa matching. Populasi target dalam penelitian ini adalah siswi SD di kota Semarang yang berusia tahun, sedangkan populasi terjangkaunya adalah siswi SDN Lamper Kidul 02 Semarang yang berusia tahun. Besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian adalah sebanyak 21 siswi masing-masing pada kelompok kasus dan kontrol. Subjek kasus diperoleh melalui consecutive sampling pada subjek yang mengalami menarche dini dan kelompok kontrol dengan random sampling pada subjek yang belum mengalami menarche. Skrining dilakukan pada 246 siswi dan diperoleh 33 siswi yang sudah mengalami menarche dini. Subjek yang diambil sebanyak 21 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi antara lain berusia tahun, pada kelompok kasus mengalami menarche 12 tahun dan mengetahui pasti bulan dan tahun saat mengalami menarche, tidak menderita penyakit kronis atau genetik, ibu tidak menarche dini dan orang tua subjek bersedia menjadi responden penelitian dengan mengisi informed-consent. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah asupan lemak, protein dan kalsium dan variabel terikat adalah usia menarche dini. Variabel perancu dalam penelitian ini adalah status gizi dan berat badan lahir. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sekunder dari sekolah berupa berat badan dan tinggi badan siswi yang diukur pada bulan Juni Data primer adalah data identitas sampel, data antropometri meliputi data berat badan, tinggi badan. Data asupan gizi meliputi asupan lemak, protein, dan kalsium, serta data hereditas yaitu berat badan lahir dan usia menarche ibu. Asupan zat gizi yaitu rerata asupan lemak, protein dan kalsium dari berbagai makanan dan Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017, Halaman 251 minuman yang dikonsumsi diperoleh dengan menggunakan metode Semi Quantitative Food Frequency Questionaire (SQFFQ). Hasil analisis asupan dibandingkan dengan kebutuhan gizi masingmasing individu dan dikalikan 100%. Tingkat persen kecukupan asupan zat gizi yang terdiri dari asupan lemak, protein dan kalsium dibagi menjadi dua kategori yaitu asupan tidak lebih jika 100% kebutuhan individu dan asupan lebih jika 100% kebutuhan individu. 25 Usia menarche didefinisikan sebagai usia saat pertama kali subjek mengalami menstruasi. Dikategorikan sebagai menarche dini apabila subjek mengalami mengalami menarche 12 tahun. Status gizi didefinisikan sebagai hasil perhitungan dari IMT (Indeks Massa Tubuh) berdasarkan usia. Data berat badan dan tinggi badan diperoleh dari data sekunder yang dimiliki oleh sekolah dengan pengukuran yang dilaksanakan pada bulan Juli Status gizi dikategorikan berdasarkan nilai z-score IMT/U yaitu normal dengan nilai z-score 2 SD dan overweight 2 SD. 26 Berat badan lahir didapatkan dari kuesioner yang diberikan dan di isi oleh orang tua subjek. Berat badan lahir dikategorikan menjadi berat badan lahir rendah jika 2500 gram dan berat badan lahir normal jika 2500 gram. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel. Kenormalan data di uji menggunakan Uji Shapiro- Wilk karena n 30. Uji Independent T-test digunakan untuk mengetahui perbedaan rarata status gizi antara kedua kelompok dan Man-Whitney digunakan untuk mengetahui perbedaan rerata usia subjek, berat badan lahir, asupan lemak, protein dan kalsium. Untuk melihat hubungan antara variabel IMT/U dan berat badan lahir dengan kejadian menarche dini menggunakan uji Fisher Exact. Uji chi-square with continuity corretion digunakan untuk melihat hubungan variabel asupan lemak, protein dan kalsium dengan kejadian menarche dini. Untuk melihat keeratan hubungan antar variabel menggunakan odds ratio (OR). Analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik ganda untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian menarche dini. 27 HASIL PENELITIAN Rata-rata usia menarche pada kelompok kasus adalah 11,2 tahun dengan 9,5% (n=2) subjek mengalami menarche pada usia 9 tahun, kemudian 9,5% (n=2) pada usia 10 tahun dan 80,9% (n=17) pada usia 11 tahun. Tabel 1. Karateristik Subjek Penelitian Variabel Kontrol (n=21) Kasus (n=21) Mean±SD Min Maks Mean±SD Min Maks p Usia 11,5±0,4 10,4 11,9 11,6±0,4 10,5 11,9 0,38 b (tahun) Usia Menarche ,2±0,6 9,7 11,8 - (tahun) Status gizi -1,17±0,2-2,9 0,69 0,12±0,24-2,5 1,9 0,45 a (z-score IMT/U) Berat badan lahir 3,2±0,4 2,5 4,1 3,0±0,6 2,1 4,2 0,11 b (kg) Asupan Lemak 102,6±14,6 81, ,5±10, ,61 b (%) Asupan Protein 98,6±15,9 68, ,7±17, ,03 b (%) Asupan Kalsium (%) 74,1±29, ,7±27, ,01 b a Uji Independent T test b Uji Mann-Whitney Tabel 1 menunjukkan karakteristik subjek penelitian pada kedua kelompok. Tidak ada perbedaan rerata pada variabel usia subjek, status gizi, berat badan lahir dan asupan lemak antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Terdapat perbedaan rerata asupan protein dan asupan kalsium antara kelompok kasus dan kontrol. Pada kelompok kasus asupan protein dan kalsium lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Tabel 2 menunjukkan hasil analisis hubungan antar variabel dengan kejadian menarche dini. Variabel status gizi dan berat badan lahir bukan merupakan faktor risiko dari kejadian menarche dini. Pada variabel status gizi, semua subjek berada dalam ketegori normal. Secara tidak langsung, subjek penelitian sudah dikontrol dalam variabel status gizi. Pada variabel berat badan lahir menunjukkan subjek yang mengalami BBLR 100% mengalami menarche dini. 252 Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Tabel 2. Tabel analisis bivariat status gizi, BBL dan asupan zat gizi (lemak, protein dan kalsium) dengan kejadian menarche dini. Kontrol (n=21) Kasus (n=21) n % n % p OR (95%CI) Status gizi normal overweight Berat Badan Lahir BBLR ,232 a - Normal 21 53, ,2 Asupan Lemak tidak lebih 12 63,2 7 36,8 0,075 b 2,6(0,762-9,336) lebih 9 39, ,9 Asupan Protein tidak lebih 14 63,6 8 36,4 0,034 b 3,2(0,918-11,509) lebih Asupan Kalsium tidak lebih 17 77,3 5 22,7 0,001 b 13,6(3,091-59,831) lebih 4 20, ,0 p= p value OR = Odds Ratio CI= Confidance Interval a b Fisher Exact Continuity Correction Asupan lemak, protein dan kalsium merupakan faktor risiko kejadian menarche dini. Asupan lemak dalam kategori berlebih tidak berhubungan dengan kejadian menarche dini namun memiliki risiko 2,6 kali untuk mengalami menarche dini dibandingkan dengan asupan lemak dalam kategori tidak lebih. Namun, data menunjukkan 60,9% subjek yang memiliki asupan lemak berlebih mengalami menarche dini. Asupan protein kategori lebih berisiko 3,2 kali l untuk terjadinya menarche dini dibandingkan dengan asupan protein yang tidak lebih. Sedangkan asupan kalsium berlebih memiliki risiko 13,6 kali untuk terjadi menarche dini dibandingkan dengan asupan kalsium yang tidak lebih. Tabel 3. Analisis Regresi Logistik Kejadian Menarche Dini Variabel Koefisien (B) P R square Asupan Kalsium ,015 0,43 Konstanta 21,956 Tabel 3 menunjukkan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian menarche dini adalah asupan kalsium. Hasil analisis menunjukkan bahwa 43% kejadian menarche dini diprediksi oleh asupan kalsium yang berlebih. PEMBAHASAN Menarche merupakan luruhnya dinding endometrium rahim atau menstruasi/haid pertama kali. 1 Prevalensi kejadian menarche dini berdasarkan Laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010, terdapat 20,6% perempuan usia tahun di Jawa Tengah dan di Indonesia pada perempuan usia tahun terdapat 22,5% sudah mengalami menarche pada usia 9-12 tahun. 5 Studi di Indonesia pada Tahun 2010 ditemukan bahwa 10,3% perempuan di Indonesia mengalami menarche pada usia 9-11 tahun. 3 Menarche merupakan tanda terjadinya puncak pubertas pada perempuan dan merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara beberapa hormon yang disekeresi oleh kelenjar hipotalamus, kelenjar pituitari dan struktur-struktur endokrin di ovarium. 28 Pada masa awal pra pubertas yaitu usia sekitar 8-9 tahun, aksis dari kelenjar hipotalamus dan kelenjar pituari tidak aktif, yang ditandai dengan kadar hormon LH dan estradiol yang tidak terdekteksi. Sejak usia 6 tahun, sudah terjadi ritme pelepasan LH secara bertahap. Aktifitas folikel dalam ovarium sudah terjadi peningkatan sejak pertengahan masa anak-anak. 29 Terjadi pertumbuhan yang cepat kira-kira 4 tahun sebelum menarche, terutama dalam dua tahun pertama dan kemudian melambat saat terjadinya menarche. Satu sampai tiga tahun sebelum terjadinya menarche, kadar LH serum semakin meningkat. Hal ini menunjukkan adanya pengeluaran endogen GnRH dari kelenjar hipotalamus. GnRH mulai dihasilkan oleh hipotalamus secara bergelombang kemudian merangsang kelenjar pituitari pada daerah hipofisis anterior untuk menghasilkan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Pada kejadian menarche dini, sekresi GnRH lebih banyak sehingga menyebabkan kelenjar pituitari meningkatkan produksi FSH dan LH. Hormon LH berperan pada proses menarche dan merangsang timbulnya ovulasi. 29 Journal of Nutrition College, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017, Halaman 253 Pada penelitian ini, asupan protein dan asupan kalsium berlebih terbukti berhubungan dengan kejadian menarche dini. Asupan protein berlebih berisiko 3,2 kali untuk mengalami kejadian menarche dini. Penelitian yang dilakukan di Jerman dengan desain kohort menyebutkan bahwa konsumsi protein dari susu dan produk olahannya selama usia 5-6 tahun berhubungan dengan kejadian menarche dini. Pada penelitian ini, asupan protein lebih banyak diperoleh dari susu, olahan daging, daging ayam dan dari konsumsi ikan. Protein merupakan zat gizi yang dibutuhkan untuk proses perkembangan dan pertumbuhan. Protein memiliki susunan asam amino yang berperan pada beberapa regulasi hormon pertumbuhan. Protein dapat meningkatkan sekresi hormon insulin dan insulin-like growth factor-1 (IGF-1). 23 Sebuah studi kohort pada anak usia 12 bulan, bulan, menyebutkan bahwa asupan protein berlebih meningkatkan risiko obesitas dengan merangsang sistem hormonal yaitu sekresi insulin dan IGF Konsumsi protein berlebih meningkatkan konsentrasi serum IGF-1 dan rasio molar IGF-1 terhadap protein pengikatnya yaitu IGFBP-3. IGF-1 berikatan dengan protein pengikatnya lebih banyak dapat meningkatkan respon diferensiasi preadiposit. 30 IGF-1 merupakan faktor regulasi utama pertumbuhan yang berperan dalam poliferasi dan diferensiasi sel adiposit. Ketika sel adiposit dalam tubuh banyak meningkatkan proses steroidogenesis yang menghasilkan hormone-hormon steroid sepeti androgen dan estrogen untuk pematangan organ reproduksi. 31 Selain itu hormon insulin yang disekresi dalam tubuh menekan IGF-1 binding protein sehingga ketersediaan IGF-1 bebas menjadi lebih banyak dan menstimulasi sekresi GnRH pada hipotalamus. 23 Ketika sekresi GnRH lebih banyak jumlahnya, maka kelenjar pituari mengeluarkan FSH dan LH lebih banyak. FSH dan LH merupakan hormone glikoprotein yang terdiri dari 10 asam amino (dekapeptida) dan karbohidrat. Hormon seks yang lebih tinggi mempercepat pematangan ovum dan proses ovulasi sehingga menarche terjadi lebih dini. Asupan kalsium juga berhubungan dengan kejadian menarche dini. Pada penelitian ini, asupan kalsium berlebih berisiko 13,6 kali untuk mengalami menache dini. Kalsium merupakan mineral yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja. Kalsium biasanya diperoleh dari olahan produk susu seperti keju dan yoghurt. Studi di Teheran pada anak yang mengkonsumsi susu dengan kategori tinggi berhubungan dengan menarche dini setelah di kontrol dari asupan energi dan protein. 24 Penelitian yang dilakukan oleh NHANES pada remaja putri usia 9-12 tahun menyebutkan bahwa total asupan kalsium dimana 35% berasal dari produk susu memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami menarche dini. 22 Penelitian crossectional pada anak usia 7-8 tahun yang mengkonsumsi susu dalam kategori tinggi berkaitan dengan level IGF-1 yang meningkat sebesar 20-30%. 32,33 Kalsium merupakan unsur regulator proses seluler termasuk sebagai mediator kerja hormon.
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks