JIME Vol. 2 No. 1. April 2016 ISSN

Please download to get full document.

View again

of 14
8 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
JIME Vol. 2 No. 1. April 2016 ISSN MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHITUNG LUAS BANGUN RUANG MELALUI BENDA KONKRET SEKITAR SISWA KELAS VI SDN TALABIU TAHUN PELAJARAN 2011/2012 ANWAR Guru SDN Talabiu
Document Share
Document Transcript
JIME Vol. 2 No. 1. April 2016 ISSN MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHITUNG LUAS BANGUN RUANG MELALUI BENDA KONKRET SEKITAR SISWA KELAS VI SDN TALABIU TAHUN PELAJARAN 2011/2012 ANWAR Guru SDN Talabiu Abstrak; an ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan menghitung luas bangun ruang pada mata pelajaran Matematika melalui benda konkret di sekitar siswa kelas VI SDN Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima tahun pelajaran 2011/2012. Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SDN Talabiu tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 17 anak. Jumlah tersebut terdiri atas 13 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Jenis penelitin ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi. Data aktivitas belajar siswa diperoleh dengan cara observasi sedangkan data hasil menghitung luas bangun ruang siswa diperoleh dari pemberian tes pada tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan evaluasi tahap pra siklus diketahui bahwa dalam menghitung luas permukaan kubus dan balok perolehan nilai siswa yang memperoleh nilai di atas 70 sebanyak 9 siswa 52,9 %, sedangkan yang memperoleh nilai kurang dari 70 sebanyak 8 siswa 47,1 %. Kemudian ppada evaluasi Siklus I meningkat menjadi 70,6 % atau 12 siswa yang mendapatkan nilai diatas 70 sedangkan yang kurang dari 70 sebanyak 5 siswa atau 29,4 %. Selanjutnya pada evaluasi Siklus II perolehan nilai diatas 70 sebanyak 14 siswa sebesar 82,4 % dan 3 siswa mendapat nilai kurang dari 70 sebesar 17,6 % dan pada siklus III Hasil kemampuan hitung yang memperoleh nilai diatas 70 sebanyak 17 siswa sebesar 100 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan benda konkret disekitar siswa telah berhasil terlaksana dalam upaya meningkatkan kemampuan menghitung luas bangun ruang pada mata pelajaran Matematika siswa kelas VI SDN Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima tahun pelajaran 2011/2012. Kata kunci : Benda konkret disekitar siswa, menghitung luas bangun ruang, aktivitas belajar, PENDAHULUAN Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan, simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika sekolah dasar seperti tertuang dalam GBPP Sekolah Dasar tahun 2004 bertujuan Melatih cara berpikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten (Depdikbud, 2004:75) Oleh karena itu konsep-konsep matematika haruslah dipahami oleh siswa sekolah dasar secara dini, yang pada akhirnya terampil dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan matematika diharapkan dapat membentuk pola pikir orang yang mempelajarinya menjadi pola pikir matematis yang sistematis, logis, kritis dengan penuh kecermatan namun sayangnya, pengembangan sistem atau model pembelajaran matematika tidak sejalan dengan perkembangan berpikir anak terutama pada anak-anak usia SD. Apa yang dianggap logis dan jelas oleh para guru dan apa yang dapat diterima oleh orang yang berhasil mempelajarinya, merupakan hal yang tidak masuk akal dan membingungkan bagi anakanak. Kenyataan ini dapat ditemukan setelah peneliti mengadakan diskusi dengan para guru SDN Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Bahwa pada umumnya anak-anak mengalami kesulitan dalam mata pelajaran matematika. Terutama menghitung luas permukaan bangun ruang. Matematika bagi anak SD berguna untuk kepentingan hidup dalam lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya dan banyak yang dijumpai di lingkungan siswa sebagai Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) 134 sumber belajar, sebagai contoh bentukbentuk dan ukuran bangun ruang bekas bungkus barang. Hal ini sesuai prinsip pembelajaran memanfaatkan lingkungan siswa sebagai sumber belajar. Perkembangan anak itu berbeda dengan orang dewasa, hal ini tampak jelas baik dalam bentuk fisiknya maupun dalam caracara berpikir dan bertindak. Keadaan ini sering dilupakan guru, bahwa siswa dianggap dapat berpikir seperti orang dewasa. Padahal anak usia SD pada umumnya berada pada tahap berpikir operasional konkret. Kenyataan di lapangan para guru dalam model pembelajaran hanya dalam bentuk verbal, sehingga anak tidak dapat memecahkan, sesuai dengan teori Piaget bahwa usia 7 11 tahun perkembangan kognitif anak disebut Stadium operasional konkret. Sesuai dengan teori Piaget di atas bahwa dalam pembelajaran diperlukan suatu media sebagai alat memecahkan masalah khususnya pada menghitung luas bangun ruang, medianya dapat berupa benda konkret. Sehingga dengan menggunakan benda konkret anak mampu melakukan aktivitas logis dalam batas konkret, untuk memecahkan masalah. Dengan menggunakan benda konkret di sekitar lingkungan siswa dapat meningkatkan pemahaman konsep-konsep matematika. Hal ini sesuai dengan pendapat Bruner (dalam Resniek, 1981 : 110) bahwa perkembangan kognitif anak dimulai dari belajar melalui benda-benda konkret, dilanjutkan pada belajar melalui gambar-gambar dan diagramdiagram (semi konkret dan semi abstrak) kemudian belajar melalui simbol-simbol atau tanda. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan peneliti di SDN Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima pelaksanaan pembelajaran matematika belum berpusat pada siswa cenderung berpusat pada guru sehingga siswa pasif dalam belajar, kecenderungan ini disebabkan kurangnya guru dalam menggunakan media pada bendabenda konkret sekitar siswa sangat menunjang dalam proses pembelajaran. Kurangnya alat peraga matematika, tuntutan kurikulum yang harus dipenuhi oleh guru agar target pencapain kurikulum sesuai, maka pembelajaran matematika yang ada di sekolah dasar cenderung monoton tanpa melihat proses sehingga dalam memahami luas bangun ruang mengalami kesulitan. Disamping itu pemahaman guru tentang perkembangan peserta didik kurang diperhatikan. Pada dasarnya anak itu bukanlah tiruan dari orang dewasa. Anak bukan bentuk mikro dari orang dewasa. Anak-anak mempunyai kemampuan intelektual yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Cara-cara berpikir anak berbeda dengan cara-cara berpikir orang dewasa. Hal inilah perlu mendapat perhatian terutama tentang kesiapan untuk belajar dan bagaiamana berpikir mereka itu berubah sesuai dengan perkembangan usianya. Sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran diperlukan strategi pembelajaran matematika harus sesuai dengan perkembangan intelektual akan perkembangan tingkat berpikir anak. Adanya kebiasaan guru untuk membatasi kebebasan mengeluarkan pendapat sangat merugikan kreativitas siswanya, sehingga apa yang dipelajari siswa dalam matematika kurang bermakna. Seorang guru hendaknya menggunakan benda-benda atau objek-objek sekitar siswa untuk membelajarkan matematika kepada siswa. Hal ini sangat bermanfaat apa yang dipelajari siswa dalam matematika lebih bermakna baik secara logis maupun psikologis karena sesuai dengan pengalaman anak. Benda-benda sekitar siswa dapat dijadikan alat peraga yang murah dan mudah didapat. Serta bermanfaat bagi pelaksanaan model pembelajaran dengan alat peraga siswa lebih termotivasi, aktif dan kreatif, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk memanipulatif dan bermain secara terpadu sehingga pengawasan siswa terhadap matematika lebih aktif. Berdasarkan latar belakang di atas, agar pembelajaran tidak merugikan siswa dan memungkinkan siswa lebih berkembang kemampuannya, maka perlu diberi cara pemecahannya dengan menciptakan suasana belajar yang kondusif serta menyesuaikan karakter siswa sekolah dasar yang masih suka dengan benda-benda konkret. Penerapan 135 pembelajaran tersebut juga berdasarkan pada perkembangan anak. Oleh karena itu dilakukan penelitian tindakan kelas dengan judul : Meningkatkan Kemampuan Menghitung Luas Bangun Ruang Melalui Benda Konkret Sekitar Siswa Kelas VI SDN Talabiu. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang salah satu strategi pembelajaran matematika yang dapat dilakukan guna meningkatkan kemampuan belajar matematika siswa tentang menghitung luas bangun ruang. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini difokuskan pada peningkatan kemampuan menghitung luas bangun ruang dengan memanfaatkan benda-benda konkret sekitar siswa di kelas VI SDN Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Dengan demikian dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : Bagaimanakah Meningkatkan Kemampuan Menghitung Luas Bangun Ruang Melalui Benda Konkret Sekitar Siswa Kelas VI SDN Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima Tahun Pelajaran 2011/2012. KAJIAN PUSTAKA A. Strategi Pembelajaran Matematika SD Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika pemecahan masalah, merupakan fokus kegiatan (Diknas,2004:78). Sedangkan definisi pembelajaran adalah sebagai upaya untuk membelajarkan siswa (Degeng, 1997:7). Dengan pengertian di atas bahwa pembelajaran dapat diartikan sebagai, suatu kegiatan yang mermberikan fasilitas belajar yang baik sehingga terjadi proses belajar (Harmini,2005:3). Sehingga strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih oleh guru dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan fasilitas belajar sehingga memperlancar tujuan belajar matematika (Hudoyo dalam Harmini, 2004:9). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih guru dalam suatu proses pembelajaran yang meliputi: (1) Kemana proses pembelajaran matematika? (2) Apa yang menjadi isi dari proses pembelajaran matematika? (3) Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran matematika? (4) Sejauh mana proses pembelajaran matematika tersebut berhasil? Keempat aspek tersebut membentuk terjadinya proses pembelajaran. Adanya interaksi siswa dengan guru dibangun atas dasar keempat unsur di atas. Pengetahuan tentang matematika mencakup pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan konseptual mengacu pada pemahaman konsep, sedangkan pengetahuan prosedural mengacu pada keterampilan melakukan sesuatu prosedur pengajaran. Dua hal penting yang merupakan, bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat dengan berpikir kritis dan kreatif (Karso, 2005:2-17) untuk mengembangkan dua hal tersebut haruslah dapat mengembangkan imajinasi anak dan rasa ingin tahu. Dua hal tersebut harus dikembangkan dan ditumbuhkan, siswa diberi kesempatan berpendapat, bertanya, sehingga proses pembelajaran matematika lebih bermakna. Dalam pembelajaran ini guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang melibatkan keaktifan siswa, baik secara mental maupun fisiknya. Disamping itu optimalisasi interaksi dan optimalisasi seluruh indera siswa harus terlibat. Penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep, dalam pemahamannya tentu saja disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa, mengingat objek matematika adalah abstrak. Karena objeknya abstrak maka penanaman konsep matematika di sekolah dasar sedapat mungkin di mulai dari penyajian Konkret. Selain itu dalam belajar matematika, siswa memerlukan suatu dorongan (motivasi) yang tinggi. Kurangnya dorongan seringkali menimbulkan siswa mengalami patah semangat. Dengan demikian guru haruslah pandai-pandai dalam memilih metode, strategi dan media yang diperlukan, salah satu untuk meningkatkan motivasi adalah dengan menggunakan alat peraga atau sumber belajar lingkungan 136 khususnya benda-benda Konkret sekitar siswa. Dengan demikian, guru pada merencanakan dan melaksanakan pembelajaran matematika dengan mengupayakan suasana kelas yang menantang, menyenangkan. Hal ini memungkinkan situasi lebih kreatif dan aktif. B. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD Matematika sebagai suatu ilmu memiliki objek dasar yang berupa fakta, konsep operasi dan prinsip. Menurut Sudjadi (1994:1), pendapat tentang matematika tampak adanya kelainan antara satu dengan lainnya, namun tetap dapat ditarik ciri-ciri atau karakteristik yang sama, antara lain: 1. Memiliki obyek kajian abstrak 2. Bertumpuh pada kesepakatan 3. Berpola pikir deduktif Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memodelkan pembelajaran matematika di sekolah dasar hendaknya dimulai dengan hal-hal yang Konkret. Dalam Depdikbud (1993) disebutkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbolsimbol serta ketajaman pemahaman yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan dalam Gipayana, Muhana dkk (2005 : 141) karakterisrik diantaranya meliputi menggunakan dunia nyata. Di samping itu pembelajaran matematika adalah berjenjang atau bertahap, dalam pembelajaran dimulai dari konsep yang sederhana menuju ke konsep yang lebih sukar. Pembelajaran matematika harus di mulai dari yang konkret, ke semi konkret, dan berakhir pada yang abstrak.(karso, 2005:2-16) Dalam setiap memperkenalkan konsep atau bahan yang baru perlu memperhatikan konsep atau bahan yang telah dipelajari siswa sebelumnya.(karso, 2005:2-16) C. Hakekat Anak Didik dalam Pembelajaran Matematika di SD 1. Anak dalam Pembelajaran Matematika di SD Anak usia SD sedang mengalami perkembangan dalam tingkat berpikirnya. Dan tahap berpikirnya belum formal masih relatif Konkret, sehingga apa yang dianggap logis dan jelas oleh para ahli serta apa yang dapat diterima orang yang berlatih mempelajarinya merupakan hal yang tidak masuk akal dan membingungkan bagi anakanak. (Karso, 2005:1-5) Dari kenyataan di atas maka peneliti berpendapat bahwa jika dalam melaksanakan model pembelajaran hendaknya menggunakan benda-benda Konkret sekitar siswa. 2. Anak Sebagai Individu yang Berkembang Sesuatu yang mudah menurut logika berpikir kita sebagai orang dewasa belum tentu dianggap mudah oleh logika berpikir anak, malahan mungkin anak mengganggap itu adalah sesuatu yang sulit untuk dimengerti, hal ini sesuai dengan pendapat Jean Piaget dkk (dalam Karso, 2005:1-6) dinyatakan bahwa anak tidak bertindak dan berpikir sama seperti orang dewasa. Hal ini tugas guru sebagai penolong anak untuk membentuk, mengembangkan kemampuan intelektualnya yang maksimal sangat diperlukan. 3. Kesiapan Intelektual Anak Kebanyakan para ahli jiwa percaya bahwa jika akan memberikan pelajaran tentang sesuatu kepada anak didik, maka kita harus memperhatikan tingkat perkembangan berpikir anak. Teori tingkat perkembangan berpikir anak ada empat tahap (Jean Piaget dan Karso, 2005:1-6), diantaranya : tahap sesuai motorik (dari lahir sampai usia 2 tahun), tahap operasional awal/pra operasional (usia 2-7 tahun), tahap operasional / operasional konkret (usia 7-11 atau 12 tahun) dan tahap operasional formal / operasi formal (usia 11 tahun ke atas). Usia SD pada umumnya pada tahap berpikir operasional konkret, siswa dalam tahapan ini memahami hukum kekekalan, tetapi ia belum bisa berpikir secara deduktif, sehingga dalil-dalil matematika belum 137 dimengerti. Hal ini mengakibatkan bila mengajarkan bahasan harus diberikan bagi siswa yang sudah siap intelektualnya. D. Tingkat Pemahaman Usia SD Tingkat pemahaman usia SD merupakan tahapan perkembangan intelektual atau berpikir anak SD (Karso, 2005: 1-10). Dalam hal ini anak masih mengalami kesulitan merumuskan definisi dengan kata-kata sendiri, gurulah bertugas untuk membimbingnya. Uraian di atas jelas bahwa anak itu bukanlah tiruan dari orang dewasa, anak bukan bentuk mikro dari orang dewasa. Intelektual anak berbeda dengan orang dewasa, dan cara berpikirnya pun berbeda. Bertolak dari teori Piaget tersebut di atas bahwa kesiapan untuk belajar dan bagaimana berpikir mereka itu berubah sesuai dengan perkembangan usianya, hal ini diperlukan agar tingkat pemahaman anak terhadap pelajaran matematika lebih baik. Jika pemahaman pelajaran baik dan maka tingkat kemampuan siswa dapat ditingkatkan. E. Teori Belajar Bruner Hal-hal yang dapat dinyatakan sebagai proses belajar menurut Bruner dalam Karso (2005: 1-12) di bagi dalam tiga tahapan yaitu: 4. Tahap Enaktif atau Tahap Kegiatan (Enactive) Pada tahun awal ini anak belajar konsep berhubungan dengan benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitar. 5. Tahap Ikonik atau Tahap Gambar Bayangan (Iconic) Pada tahap ini anak tetap mengubah, menandai dan menyimpan peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan dalam kata lain anak dapat membayangkan kembali tentang benda/peristiwa yang dialami. 6. Tahap Simbolik (Symbolik) Pada tahap ini anak dapat mengutarakan bayangan mental tersebut dalam bentuk simbol dan bahasa. Dalam hal ini anak sudah mampu memahami simbol-simbol atau penjelasan. Dari apa yang dirancang oleh Bruner ini, hendaknya dapat dijadikan guru sebagai dasar untuk merancang model pembelajaran. Sehingga dapat mempermudah pemahaman dan keberhasilan anak dalam pembelajaran matematika. F. Peranan Media dalam Pembelajaran Matematika Tiap anak didik memiliki kemampuan indera yang berbeda atau tidak sama. Maka peranan media dalam model pembelajaran sangat diperlukan. Hal ini sesuai dengan pendapat Oemar Hamalik (1986 : 15) dinyatakan bahwa media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan kegiatan belajar mengajar. Menurut Encyclopedia of Educational Research dalam Oemar Hamalik (1980:27) bahwa manfaat media pendidikan diantaranya: (1) Meletakkan dasar-dasar yang Konkret untuk berpikir dan oleh karena itu mengulangi verbalisme. (2) Memperbesar perhatian para siswa. (3) Memberikan pengalaman yang nyata menimbulkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. Dari pengertian di atas bahwa media mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Peranan guru dalam keterampilan atau bervariasi penggunaan media sempat menentukan keberhasilan/optimal. Pencapaian tujuan. Dalam hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (1997, ) dinyatakan bahwa keuntungannya adalah manarik perhatian anak pada tingkat yang tinggi dan menyajikan pengalaman riil yang akan mendorong kegiatan mandiri anak. Dari uraian di atas penulis berpendapat bahwa dengan adanya media dalam proses pembelajaran siswa lebih aktif, mandiri dan terlibat kegiatan langsung, bebas menyusun dan memanipulasi benda tersebut sehingga berperan untuk membantu mengefektifkan komunikasi dan menciptakan interaksi dalam kegiatan. METODE PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif mempunyai karakteristik sebagaimana dikemukakan oleh Sugiono dalam penelitian Harmini (2004:21) antara lain; (a) natural setting artinya kondisi obyek penelitian alamiah, (b) peneliti sebagai 138 instrumen utama, (c) kaya akan data yang bersifat deskriptif keadaan, (d) analisis di lakukan secara induktif (dari contoh-contoh ke kesimpulan atau dari khusus ke umum), dan berlangsung sejak dimulai sampai pengumpulan data selesai, (e) pengumpulan data dilakukan secara berkesinambungan baik dalam hal metode, sumber, dan pengumpulan data. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk menelusuri dan mendapatkan gambaran secara jelas tentang fenomena yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung. Fenomena tersebut adalah: situasi kelas dan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK), karena ingin menerapkan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menghitung luas bangun ruang di kelas VI SDN Talabiu. Kehadiran peneliti di lapangan sangat mutlak diperlukan, hal ini sesuai dengan pendapat Moleong dalam penelitian Harmini (2004:22) kedudukan peneliti kualitatif adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpul, penganalisa, penafsir data dan pada akhirnya sebagai pelapor hasil penelitian. Dengan penelitian ini, maka kehadiran peneliti dilapangan adalah untuk menyusun rencana kegiatan, melaksanakan pembelajaran, mengobservasi kegiatan pembelajaran dalam rangka pengumpulan data serta mengadakan wawancara dengan siswa. Disamping itu juga peneliti dibantu oleh dua guru sebagai observasi. an tindakan kelas ini dilakukan di
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks