j e m b a t a n i n f o r m a s i i n d o n e s i a - a m e r i k a

Please download to get full document.

View again

of 48
5 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
edisi 18, Agustus 2008 j e m b a t a n i n f o r m a s i i n d o n e s i a - a m e r i k a Semangat Agustusan Indonesian Transwoman Desperately Seeking Asylum in America Testimonial Kemerdekaan kabari:
Document Share
Document Transcript
edisi 18, Agustus 2008 j e m b a t a n i n f o r m a s i i n d o n e s i a - a m e r i k a Semangat Agustusan Indonesian Transwoman Desperately Seeking Asylum in America Testimonial Kemerdekaan kabari: #18, agustus 2 kabari: Publisher: John Oei Advisory Board: Anwar Rawy Vincent Lie Rudy Rudianto L.A. Managing Directors: Lisa Tungka Dewi Tirtowidjojo Rudy Agus Editor in Chief Sudjono Indradjenardinata Artistic 3de Josh CR Reporters (Indonesia) Yayat Suratmo Chika Nadya Amir Hamzah Arip Budiman Theresia Puspitasari Reporters (USA) Peter Phwan Sabrina Fitranty Amron-Paul Yuwono Riana K. Liptak Videographer Amir Hamzah Account Executive: Lorna Dietz Sarah Citradi Chief Operating Officer: Indriati Oei Chief Finance Officer: Theresia Laysana Promotion and Circulation Yohanes Lie Hari Chandra Khoe Fan Djung Contact Editor: Advertisement: kabari: info USA OFFICE th Avenue, San Francisco, CA Phone: (415) Brea Canyon Road, Suite 205, Diamond Bar, CA Phone: INDONESIA OFFICE Jl. Cempaka Putih Tengah 2A No. 4A Jakarta Pusat 10510, Indonesia Phone: (021) Fax: (021) TAHUN SUDAH INDONESIA MERDEKA. 63 tahun pula rumah bernama Indonesia diterpa bermacam badai. Banyak yang skeptis, apakah rumah tersebut masih layak sebagai tempat berteduh? Karena masih banyak yang sibuk mengenyangkan perutnya sendiri. Saling menjatuhkan. Memuja kemapanan dan kemakmuran. Dan semua itu kita akui bahwa di dalam rumah itu, kekacauan masih saja terjadi. Tapi nyatanya, rumah bernama Indonesia sampai sekarang masih berdiri tegak. Masih terlihat megah. Dan yang terpenting, masih ada orang-orang yang mencintainya. Di Amerika, perayaan Fourth Of July juga baru saja dilaksanakan. Pesta kembang api, festival musik, parade, dan berbagai macam acara digelar guna merayakan apa yang dinamakan kemerdekaan. Kemerdekaan sifatnya memang harus universal, yakni bebas dari penjajahan segala bentuk. Karena jika tidak, keuniversalannya tak akan berarti apa-apa. Bulan Agustus adalah bulan yang keramat bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, seberapapun sulitnya kami mencari tema, perihal Agustusan selalu akan mengemuka. Bulan Agustus ini kami mengangkat cerita para veteran yang kini hidupnya jauh dari makmur. Kami juga memuat lintasan peristiwa menjelang detik-detik proklamasi lengkap dengan sejarah lomba-lomba Agustusan yang masih marak hingga kini. Ada juga profil Des Alwi, salah seorang saksi hidup yang melihat langsung pergulatan republik ini mencapai kemerdekaan. Kemudian dari Amerika sendiri kami mengangkat artikel menarik seperti jalan-jalan ke New York, ulasan film, dan juga berbagai tips-tips menarik. Jangan lewatkan juga sambungan artikel menghitung hari di penjara El Paso. Dan jangan lupa beritahukan rekan, sahabat atau keluarga Anda yang belum sempat membaca Kabari edisi cetak untuk mengunjungi situs kami di. Karena semua konten di majalah ini juga tersedia di sana. Selain banyak video, podcast dan artikel menarik, Anda juga dapat mendaftar sebagai reader dan memberi komentar atau rating di setiap artikel di. Selamat Ulang tahun ke-63 Indonesiaku! kabari: #18, agustus Negara sudah merdeka, tapi saya belum. Kalimat yang dilontarkan Pak Mustafa itu serasa menghujam ulu hati. Baca kisah nyata veteran Indonesia di halaman Bosan dengan jenis sekolah pada umumnya? Mungkin Anda bisa mempertimbangkan jenis sekolah yang satu ini. Baca selengkapnya di halaman Sebuah film tentang cinta, keluarga, agama dan nasionalisme... Baca ulasannya di halaman Meski musim panas merupakan musim yang dinanti-nanti, namun tak jarang di musim tersebut kerap terjadi bencana alam Buka pembahasannya di halaman Kabari Utama 6 Suara Para Veteran 8 Testimonial Kemerdekaan 10 Detik-Detik Proklamasi Kabari Khusus 12 Kisah Menarik Seputar Proklamasi 14 Indonesian Transwoman Desperately Seeking Asylum in America Kabari Profil 16 Des Alwi Kabari Kisah 18 Menghitung Hari di Penjara Imigrasi El Paso Kabari Film 20 Brick Lane Kabari Musik 22 Maing Berjuang Lewat Musik Kabari Buku 24 Soekarno - Bapak Indonesia Merdeka Kabari Seni 26 Urban Fest 2008 Kabari Fotografi 28 Semangat Agustusan Kabari Jajanan 30 Jajanan Betawi di Setu Babakan Kabari Edukasi 32 Sekolah Alam Kabari Parenting 33 Surat Ijin Mengemudi Bagi Remaja 34 Storm Warning! Kabari Kesehatan 36 Ayo Minum Yoghurt... Kabari Jalan-Jalan 38 Ke New York Siap-Siap Bokek! 40 Liburan Penuh Edukasi di Taman Wisata Mekarsari Kabari Sana-Sini 42 Panjat Pinang 42 Wawancara Tokoh 43 Antara 4th of July dan Agustusan Kabari Nusantara 44 Wisata Alam, Budaya, dan Sejarah Kabari Gosip 46 Ramai-Ramai Terjun ke Politik 46 Ramai-Ramai Dukung Obama ANNOUNCEMENT Saat ini saya tinggal di Houston di daerah terpencil dan hanya bisa membaca KabariNews.com. Rencananya komunitas kami di sini ingin mengadakan acara. Bisakah kami memasang announcement di KabariNews.com atau di edisi cetaknya? Yolanda, Houston Redaksi: Pasti bisa, silakan hubungi marketing kami. DUKUNG INDONESIA Meski Indonesia masih jauh dari makmur, kita harus mendukungnya agar tetap tegak berdiri. Merdeka! Arief Wong, New York City Redaksi: Merdeka Bung! UCAPAN TERIMA KASIH Kami atas nama segenap Tim Tunas Indonesia 2008 yang melakukan pendakian ke Gunung Mc Kinley, Alaska, menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada KJRI San Francisco, masyarakat Indonesia di Amerika, dan khususnya masyakarat Indonesia di Anchorage, Alaska, yang telah dengan tulusnya membantu proses pemulangan jenazah rekan kami tercinta, Alm. Pungkas Tri Baruno hingga tiba di tanah air. Sungguh kami tak dapat membalasnya kecuali dengan do a, semoga Tuhan membalas semua kebaikan Anda dengan keberkahan. Hartman Nugraha, Anggota Ekspedisi Tunas Indonesia 2008, Jakarta. KIRIM BUNGA Bulan Juli lalu ada kerabat saya yang meninggal dunia di Bogor, tetapi karena satu dan lain hal saya tidak bisa pulang. Akhirnya saya hanya bisa mengirim karangan bunga saja untuk mereka. Namun sebelumnya saya sempat kesulitan mencari florist di Indonesia yang bisa mengantarkan ke tempat tujuan dengan pembayaran transfer dari sini. Apakah Kabari bisa membantu? Terima kasih. Ronggo Hernowo, San Francisco, Kabari: Saat ini Kabari tengah menyiapkan layanan pengiriman bunga untuk pembaca Kabari dimanapun Anda berada. Dengan begitu, jika Anda bermaksud mengirim karangan bunga atau gift basket untuk kerabat di Indonesia, bisa melalui kami. Stay tune! Surat pembaca dapat dikirim melalui ke com. Redaksi berhak menyunting, mengganti atau tidak memuat surat pembaca Iklan bukan kebijakan redaksional. Penerbit tidak bertanggung jawab atas isi dan materi iklan. kabari: #18, agustus kabari: utama SUARA PARA VETERAN Pak Mustafa Pak Tato 63 tahun sudah Indonesia merdeka, 4 jaman telah dilalui. Mulai dari Revolusi, Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. Namun di bumi yang ijo royo-royo ini ternyata masih ada saja veteran yang dulu berjuang demi kemerdekaan Republik, hidupnya kini malah terlunta-lunta dan menderita. SUDAH MERDEKA, TAPI SAYA BELUM. Kalimat yang dilontarkan Pak Mustafa itu serasa menghujam ulu hati. Sampai sekarang saya masih harus NEGARA berjuang untuk bisa hidup sebagai kuli panggul dan pendorong gerobak, ujar veteran perang anggota Batalyon Siliwangi. Di usianya yang menjelang 84, Mustafa masih saja bekerja keras. Rata-rata para veteran mendapat tunjangan hidup Rp 600 ribu sebulan. Bagaimana bisa hidup layak dengan uang segitu? ujar ayah 5 anak dan kakek 15 cucu ini. Keadaan tersebut memaksanya harus bekerja keras, mulai dari beduk Subuh hingga menjelang Mahgrib, Apapun saya kerjakan, yang penting halal, tidak ngemis. Bantu dorong gerobak, dikasih upah ya Alhamdulillah, gak dikasih ya kagak apa-apa, karena saya lakukan dengan ikhlas. ujarnya dengan logat Betawi kental. Setiap pagi Pak Mustafa bekerja sebagai tukang sampah Pasar Minggu. Tugasnya menyapu dan mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar pasar. Menjelang sore ia alih profesi menjadi pendorong gerobak di perlintasan rel kereta Api Pasar Minggu-Depok. Ia membantu mendorong gerobak milik siapa saja yang ingin melintasi rel. Kadang diberi uang kadang tidak. Profesi tukang sampah pasar bahkan ia telah jalani sampai 30 tahun lebih. 6 kabari: [ i n d o n e s i a ] Habis perang sampai tahun 1949 saya pulang, dan nggak mau ikut perang lagi, udah capek tiap hari dihujanin pelor, jadi saya memilih menjadi peternak beberapa tahun, kemudian mencoba jadi pedagang buah dan akhirnya jadi kuli sampai sekarang. Setiap hari saya di pasar ini dari subuh sampe jam empat sore, trus langsung nongkrong di lintasan rel. ungkapnya. Menjadi seorang veteran merupakan kebanggaan bagi Pak Mustafa. Namun kebanggaan tinggal kebanggaan, Pak Mustafa menyadari betul ia tidak bisa hidup kalau cuma bermodal bangga. Pak Mustafa berharap pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan anak dan cucu para veteran, Perhatikan kita yang dulu berjuang demi negara, bukan penghormatan yang kita mau, tapi kepedulian terhadap kita. Bukan mereka yang berdasi dan berpendidikan tinggi, tapi kita rakyat jelata, gembel, yang telah memperjuangkan bangsa ini mati-matian. Ini saya masih hidup, lha nasib orang-orang yang udah pada mati, bagaimana nasib keluarganya? umpatnya menyala-nyala. Demikian juga keluhan Pak Tato, veteran lain yang sempat ditemui Kabari, Kita turut berjuang hingga negara ini merdeka seperti sekarang. Itu suatu kebanggan, tapi kenyataannya negara ini tidak mengingat orang-orang veteran. Kita baru menerima tunjangan setelah tahun 80-an, Jadi sebelumnya selama habis merdeka sampai tahun 80-an kita makan angin. Dulu pas jamannya Bung Karno tahun 1959-an veteran sempat dapat jatah sembako, tapi kemudian tidak mendapat jatah lagi. tandas Pak Tato. Pak Tato juga berkisah, masa perjuangannya dulu saat pindahpindah kampung, keluar masuk hutan tidak satu sen pun mereka terima. Dari tahun empat lima sampai lima puluh tidak satu orang pun yang menggaji kita, siapa yang memberi makan? Ya, rakyat. Jadi kalau kita tinggal di perkampungan atau kelurahan, rakyat membuat dapur umum dan kasih makan untuk para tentara. Bukan balasan yang kita minta, tapi ya mbok kita diberikan penghormatan yang semestinya sebagai seorang veteran yang turut berjuang. tegas mantan Ketua Ranting Veteran Cabang Pasar Minggu. Nasib para veteran seperti Pak Mustafa dan Pak Tato merupakan gambar muram bangsa ini. Bagi mereka, kemerdekaan menjadi begitu nihil tatkala mereka harus berjuang sendirian menyiasati hidup. Meski akhirnya Pak Tato dan Pak Mustafa mengamini sebuah kesimpulan sederhana. Merdeka ya, sejahtera belum. q (pipit) Untuk melihat video wawancara Kabari dengan para veteran, Silakan Klik /?31670 Untuk Share Artikel dengan video, Klik /?31698 More About Allan Samson, Click KabariNews.com/?2558 kabari: #18, agustus kabari: utama Iman Brotoseno, Sutradara. Hakekat kemerdekaan tidak sekedar lepas dari penjajahan bangsa asing. Mungkin semangat dan paradigmanya sudah berubah. Tetapi ada yang lebih menakutkan, yakni munculnya penjajahan oleh bangsa sendiri. Eksploitasi bangsa sendiri untuk kepentingan modal dan kapitalis. Penghisapan umat manusia atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi disatu sisi secara tidak sadar menciptakan kelaskelas masyarakat tertindas. Jauh dari tatanan keadilan dan persamaan hak. Rakyat Porong harus kehilangan masa depannya dan tercabut dari lingkungan hidupnya akibat arogansi perusahaan besar, demikian juga suku Amungme di Papua yang hanya bisa menatap kekayaan alamnya dikeruk habishabisan. Kemerdekaan bukan sekedar membebaskan sebuah nasion menentukan hidupnya sendiri. Ia harus juga membebaskan rakyatnya dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Sesuatu yang belum dapat diwujudkan setelah 63 tahun bangsa ini merdeka. TESTIMONIAL KEMERDEKAAN Kol. CPM (Purn) H. W Sriyono, Ketua Legiun Veteran RI DKI. Dulu kita mencetuskan keinginan merdeka itu, adalah untuk membebaskan kehidupan kita dari aturan orang asing. Mencerdaskan sendiri. Membesarkan sendiri. Menjadi negara yang mandiri, hidup dengan hasil apa yang kita capai sendiri. Namun ternyata keinginan para pejuang dulu itu belum seluruhnya bisa dimengerti apalagi dicapai oleh generasi muda sekarang ini. Keinginan kita adalah simple saja, merubah dari yang tidak benar menjadi benar. M. Zamroni, Web Developer Kita bisa merdeka, melakukan apa yang kita mau tanpa mengganggu kemerdekaan orang lain. Kemerdekaan yang dulu dan sekarang berbeda. Kalau dulu, kemerdekaan itu melawan atau membebaskan diri dari belengu penjajahan secara fisik dan mental. Kalau sekarang lebih ke idealisme, pemikiran opini dan kebebasan pendapat. Itulah kemerdekaan. Apa kata mereka? Herman Saksono, System Analyst Kemerdekaan tercapai ketika seseorang bisa menjadi manusia yang utuh. Dalam arti semua kebutuhan dasarnya terpenuhi, terbebas dari rasa takut, ketidakpastian, ketidaknyamanan dan keterpaksaan. Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik /?31669 Satu Juta Rumah di US, hanya di 8 kabari: Untuk saksikan Video tentang Chung Phang, silakan Klik /?2551 kabari: #18, agustus kabari: utama DETIK-DETIK PROKLAMASI Banyak kisah menarik menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, di antaranya: 6 Agustus 1945 Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima Awal kekalahan Jepang dalam Perang Dunia ke dua. Peristiwa ini juga didengar pemuda-pemuda Indonesia. 7 Agustus 1945 Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pada 29 April 1945 atas dasar janji Jepang yang akan memberi kemerdekaan kepada Indonesia, berubah namanya menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 8 Agustus 1945 Amerika Serikat dan Sekutunya kembali menjatuhkan bom atom, kali ini kota Nagasaki yang menjadi sasaran. Jepang hampir menyatakan kalah. Para pemuda indonesia mulai melihat hal ini sebagai kesempatan yang baik untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Saat ini Bung Karno, Bung Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat sedang berada di Dhalat, Vietnam diundang untuk bertemu Marsekal Terauchi. Disana mereka di beritahukan tentang kemerdekaan yang akan di berikan Jepang kepada Indonesia pada tgl 24 Agustus Pada hal, ketika itu seluruh garis pertahanan perang Jepang mengalami kemunduran. 9 Agustus 1945 Jepang menyerah kalah kepada Amerika Serikat dan Sekutu. Berita kekalahan Jepang ini baru di ketahui secara resmi pada tgl. 13 Agustus di Jakarta dan pada tanggal 14 Agustus berita itu tersiar ke seluruh pelosok Tanah Air. 14 Agustus 1945 Bung Karno, Hatta dan Radjiman sudah berada di Tanah Air. Suasana di kalangan pemuda mulai tegang. Kelompok-kelompok pemuda, termasuk para mahasiswa mulai mengatur kerjasama dan siasat bagaimana caranya untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Mereka melihat kesempatan ini untuk menekan Bung Karno dan Bung Hatta agar segera bertindak. Peristiwa Rengasdengklok: Padda tanggal 16 Agustus, pagi subuh, jam 04:30, kekuatan para pemuda yang betul-betul telah di kordinir secara rapih, mengambil tindakan berani, melakukan penculikan terhadap 10 kabari: [ a m e r i k a ] Bung Karno dan Bung Hatta. Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi turut serta di angkut mereka dengan mobil ke Rengasdengklok, Krawang. Kepada kedua pemimpin itu, tidak di beritahu ke mana mereka akan di bawa. Mereka di kawal oleh pasukan Peta dan di aman kan di sebuah rumah milik seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiaw Ki Siong yang biasa di sapa Babah Djiaw. Para pemuda sekali lagi meyakinkan Sukarno-Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Saat itu suasana tegang, sebab para pemuda tetap teguh pada pendirian mereka yaitu proklamasi kemerdekaan sedangkan sikap Bung Karno dan Bung Hatta masih tersirat keragu-raguan. Akhirnya, setelah terjadi perdebatan yang sengit antara pemuda dan kedua pemimpin itu, di sepakati untuk membuat teks proklamasi, tetapi tidak di Rengasdengklok. Atas persetujuan bersama, Sukarno-Hatta menuju ke rumah Laksamana Maeda Liason Officer militer Jepang di Asia Pasifik di Jl. Imam Bonjol No. 1. Di pagi subuh, pada jam 02:00 tgl 17 Agustus 1945, di saksikan oleh beberapa orang pemuda teks proklamasi itu selesai di susun dan di tandatangani oleh Bung Karno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, yang berbunyi: Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l. di selenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya. 17 Agustus 1945: Pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan RI itu di lakukan di rumah kediaman Bung Karno, Pegangsaan Timur 56, pada hari Jum at jam pagi. Hal-hal lain yang menarik dari detik-detik proklamasi kemerdekaan itu adalah, pada pagi harinya Bung Karno sempat mengalami sakit kena gejala malaria tertiana. Bendera Pusaka Merah-Putih pada pertama kali di kibarkan menggunakan sebatang bambu yang di tancapkan beberapa menit. q (arip) Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik /?31659 Baru: Simbol Temukan tambahan foto, podcast, tulisan, atau video di KabariNews.com untuk setiap artikel majalah yang mempunyai simbol-simbol berikut di bagian bawah: Video Slideshow Podcast Foto Tulisan ekstra kabari: #18, agustus kabari: khusus KISAH MENARIK SEPUTAR PROKLAMASI Diantara kisah menarik tersebut yaitu: REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA ADA YANG BILANG MERUPAKAN REVOLUSI KAMAR TIDUR, APA IYA DAN APA MAKSUDNYA? Kemerdekaan Indonesia memang harus ditebus dengan ribuan nyawa dan proses panjang ratusan tahun untuk mencapainya. Tetapi dibalik semua itu ternyata ada beberapa kisah menarik dibalik semangat proklamasi. Sesaat sebelum teks proklamasi dibacakan, pagi itu Bung Karno sedang sakit, saat ditemui dokter pukul WIB, Bung Karno masih lelap tidur di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat. KabariBunga.com Ingin pesan BUNGA untuk ke Indonesia? Hubungi: atau Menurut penjelasan dokter, Soekarno menderita gejala malaria tertiana. Pada malam harinya memang Bung Karno baru saja pulang dari Rengasdengklok (70 Km dari Jakarta) dan begadang semalaman di rumah Laksamana Maeda untuk menyusun naskah proklamasi, sehingga kondisi tubuh Soekarno turun drastis. Usai membacakan teks proklamasi Bung Karno berkata singkat, Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka! ucapnya, acara langsung disusul dengan mengibarkan Bendera Pusaka Merah Putih dengan diiringi nyanyian lagu Indonesia Raya. Upacaranya sendiri singkat saja, tetapi makna dan artinya begitu dalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bung Karno lalu kembali menuju kamar tidurnya dengan kondisi badan yang kurang sehat. Mungkin ini yang menyebabkan sebagian orang mengganggap bahwa revolusi kemerdekaan Indonesia sering juga disebut revolusi dari kamar tidur. Apapun itu, toh Indonesia sudah merdeka kok. Hal menarik lain adalah, saat upacara proklamasi kemerdekaan tidak dilangsungkan dengan protokol resmi, tanpa korps musik pengiring upacara, tanpa konduktor dan tanpa pancaragam, semuanya serba sederhana. Tiang bendera yang digunakan untuk mengibarkan bendera pusaka merah putih adalah sebuah bambu yang dipotong secara kasar dan ditancapkan di lapangan hanya beberapa menit saja. q (arip/berbagai sumber) Untuk Share Artikel ini, Silakan Klik /? kabari: [ a m e r i k a ] kabari: #18, agustus kabari: khusus INDONESIAN TRANSWOMAN DESPERATELY SEEKING ASYLUM IN AMERICA SABTU PAGI JAM 10 DI AWAL MEI Jalanan di persimpangan Distrik Castro yang biasanya ramai masih lengang. Sementara itu Michelle Saraswati sudah bersiap membuka galeri seni di salah satu pojok tikungan itu. Gecko Gecko Art Shop itu menempati bagian bawah rumah bergaya Victoria. Di luar ada umbul-umbul mini. Di dalamnya ada berbagai barang seni Indonesia, mulai dari batik, kain ikat, wayang golek, lukisan sampai topeng Bali. Di sini Michelle membantu menjaga toko milik kawannya. Sehari-hari lulusan Arkitektur Trisakti ini bekerja sebagai drafter di Oakland. Ayo... masuk saja, begitu ujar Michelle menyilakan tamunya ke dalam. Suaranya lembut tanpa intonasi berat. Jika kurang perhatian, orang tidak menyangka bahwa dua tahun yang lalu Michelle adalah seorang lelaki bernama Michael. Pagi itu wajah Michelle terlihat bersih dengan bedak
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks