IMPLIKASI TEORI KONSTRUKTIVISME VYGOTSKY DALAM PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF DI SD

Please download to get full document.

View again

of 15
32 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
1 IMPLIKASI TEORI KONSTRUKTIVISME VYGOTSKY DALAM PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF DI SD As Janah Verrawati 1) dan Ali Mustadi 2) Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarya 1)
Document Share
Document Transcript
1 IMPLIKASI TEORI KONSTRUKTIVISME VYGOTSKY DALAM PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF DI SD As Janah Verrawati 1) dan Ali Mustadi 2) Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarya 1) Universitas Negeri Yogyakarta 2) 1) / 1) dan 2) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implikasi teori konstruktivisme Vygotsky dalam pelaksanaan model pembelajaran tematik integratif di SD. Urgensi teori konstrukivisme pada pembelajaran tematik integratif serta implikasi konstruktivisme dalam pembelajara tematik integratif. Penelitian ini merupakan penelitian teoritik dengan perolehan data melalui berbagai artikel dalam berbagai jurnal, buku, dan media cetak lainnya yang berkaitan dengan teori Konstruktvisme Vygotsky dan Model Pembelajaran Tematik Integratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implikasi teori konstruktivisme dalam pelaksanaan pembelajaran tematik integratif sangat sesuai. Siswa akan lebih antusias jika pembelajaran lebih berfokus pada siswa. Kata kunci: Konstruktivisme Vygotsky, Model Pembelajaran Tematik Integratif IMPLICATION OF THE THEORY OF CONSTRUCTIVISM VYGOTSKY IN IMPLEMENTATION OF LEARNING MODELS INTEGRATIVE TEMATIC IN ELEMENTARY SCHOOL The purpose of this research is to describe the implications of Vygotsky's constructivism theory in the implementation of integrative thematic learning model in elementary school. The urgency of constructivism theory on integrative thematic learning and the implications of constructivism in integrative thematic learning. This research is a theoretical research with data reports through various articles in various journals, books, and other print media related to Vygotsky Constructivism Theory and Integrative Thematic Learning Model. The results of this study indicate the implication of constructivism theory in the implementation of integrative thematic learning is very appropriate. Students will be more enthusiastic if learning easier on students. Keywords: Vygotsky Constructivism, Integrative Thematic Learning Model 2 PENDAHULUAN Tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 yaitu pembentukan Pemerintah Negara Republik Indonesia yaitu menerdaskan anak bangsa. Perluasan dari Undang-Undang Dasar 1945 yaitu dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Menurut Hamalik (2010) : 79) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik agar mampu untuk beradaptasi dengan situasi apapun di lingkungan sekitar sehingga menghasilkan perubahan menjadi lebih baik agar dapat digunakan dan bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan karakter begitu penting bagi pembentukan karakter yang kuat. Karakter yang kuat tidak akan terbentuk jika dalam proses pembelajaran hanya memfokuskan pada kegiatan yang menekankan pada aspek kognitif saja. Melihat nilai strategis pendidikan, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) terus menerus melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan dengan tujuan agar generasi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas sekaligus berkarakter. Salah satu upaya pemerintah dalam melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia adalah dengan melakukan perubahan kurikulum. Pemerintah Indonesia berupaya mewujudkan tujuan pendidikan dengan cara memperbaiki sistem pendidikan dengan cara memberlakukan kurikulum Model pembelajaran tematik integratif merupakan perwujudan kurikulum Menurut (Drake, 2012:273), thematic approach is one of the teaching strategy that uses themes toward creating anactive, interest-ing, and meaningful learning. Pendekatan tematik merupakan bentuk strategi pembelajaran yang menggunakan tema melalui penciptaan pembelajaran yang aktif, menarik, dan bermakna. Dikatakan bermakna karena peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep. Melalui kurikulum 2013, peserta didik akan didorong menjadi insan yang kreatif, produktif, inovatif, dan afektif melalui kompetensi-kompetensi yang berimbang antara spiritual, pengetahuan, sikap, dan psikomotor/keterampilan (Kemdikbud (2013): 4). (Authentic & Sekolah, 2013) Pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah scientific. Pendekatan scientific ini lebih dikenal dengan pendekatan ilmiah. Pendekatan scientific lebih mengedepankan penalaran secara induktif daripada deduktif. Penalaran induktif fenomena atau situasi spesifik kemudian menarik kesimpulan secara keseluruhan. (Apriani, Wangid, & Yogyakarta, 2015) mengemukakan bahwa pembelajaran tematik integratif baik untuk dilaksanakan karena mampu meningkatkan soft skill dan hard skill peserta didik berdasar pada proses pembelajarannya yang aktif, menarik, dan bermakna. Pendidikan karakter begitu penting bagi pembentukan karakter yang kuat. Karakter yang kuat tidak akan terbentuk jika dalam proses pembelajaran hanya memfokuskan pada kegiatan yang menekankan pada aspek kognitif saja. Hal ini sesuai dengan pendapat yang diungkapkan oleh (Saptono,2011:16) yang menyatakan bahwa pendidikan karakter sangat penting, karakter lebih tinggi nilainya daripada intelektualitas. Kehidupan kita bergantung pada karakter kita, karakter membuat 3 orang mampu bertahan, memiliki stamina berjuang, dan sanggup mengatasi ketidak beruntungan secara bermakna. Model pembelajaran tematik intergratif menggunakan pendekatan scientific yang memberikan kesempatan peserta didik untuk dapat melakukan proses ilmiah yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme Vygotsky yang lebih menitikberatkan interaksi dari faktor-faktor interpersonal (sosial), kultural-historis, dan individual sebagai kunci dari perkembangan manusia (Schunk, 2012: 339). Teori belajar ini berfokus pada peserta didik (student Center). Guru berperan sebagai fasilitator. Berdasarkan beberapa hal diatas, maka penulis bermaksud untuk mengkaji lebih dalam mengenai mengenai implikasi teori belajar konstruktivisme Vygotsky dalam model pembelajaran tematik integratif. PEMBAHASAN Teori Konstruktivisme Vygotsky Teori Vygotsky lebih menitikberatkan interaksi dari faktor-faktor interpersonal (sosial), kultural-historis, dan individual sebagai kunci dari perkembangan manusia (Schunk, 2012: 339). Pusat konsep dan prinsip dalam teori konstruktivisme Lev Vygotsky dikemukakan oleh Ormrod (2012: 314) bahwa: Some cognitive processes are seen in a variety of species; others are unique to human beings. Vygotsky distinguished between two kinds of processes, or functions. Many species exhibit lower mental functions: certain basic ways of learning and responding to the environment discovering what foods to eat, how best to get from one location to another, and so on. But human beings are unique in their use of higher mental functions : deliberate, focused cognitive processes that enhance learning, memory, and logical reasoning. In Vygotsky s view, the potential for acquiring lower mental functions is biologically built in, but society and culture are critical for the development of higher mental functions Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menggunakan fungsi mental mereka untuk meningkatkan pembelajaran, ingatan dan penalaran logis. Dalam pandangan Vygotsky, dasar fungsi mental manusia dibangun secara biologis dan untuk mengembangkan fungsi mental tersebut, manusia memutuhkan peranan masyarakat dan budaya. Ormrod (2012) menjelaskan lebih lanjut terkait konsep-konsep dalam teori konstruktivisme Lev Vygotsky, menurut Ormrod, Vygotsky mengungkapkan beberapa gagasan penting dalam teorinya yaitu: a. Interaksi informal maupun formal antara orang dewasa dan anak akan memberi pemahaman bagi anak tentang bagaimana anak berkembang. b. Setiap budaya memiliki makna dalam upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak, kebermaknaan budaya bagi anak bertujuan untuk menuntun anak dalam menjalani kehidupan secara produktif dan efisien. c. Kemampuan berfikir dan berbahasa berkembang pada awal tahun perkembangan anak. Perkembangan kognitif menurut Vygotsky sangat tergantung pada perkembangan dan penguasaan bahasa. d. Berkembangnya proses mental yang kompleks terjadi setelah anak melakukan aktifitas sosial, dan secara bertahap akan terinternalisasi dalam kognitif anak yang dapat dipergunakan 4 secara bebas. Vygotsky mengemukakan bahwa proses berfikir yang kompleks sangat tergantung pada interaksi sosial anak. Sebagaimana anak mendiskusikan tentang peristiwa, objek dan masalah dengan orang dewasa dan orang lain yang lebih berpengetahuan, maka secara bertahap hasil diskusi tersebut akan menjadi bagian dalam struktur berpikir anak. e. Anak akan mampu mengerjakan tugastugas yang menantang jika diberi tugas yang lebih menantang dari individu yang kompeten. Pemberian tugas yang menantang mendorong berkembangnya kemampuan kognitif secara optimal. Terkait konsep penting dalam teori konstruktivisme Lev Vygotsky, selain Interaksi-interaksi sosial yang berperan dalam membangun pengetahuan anak, Schunk (2012) menfokuskan penjelasannya pada empat konsep utama teori konstruktivisme Vygotsky yang terdiri dari Zone of Proximal Development (ZPD), Scaffolding, serta bahasa dan pemikiran. a. Zone of Proximal Development (ZPD) Satu konsep yang utama pada teori konstruktivisme Lev Vygotsky adalah Zone of Proximal Development (ZPD). Schunk (2012: 341) menjelaskan bahwa ZPD merupakan jarak antara level potensi perkembangan yang ditentukan melalui pemecahan masalah secara mandiri dan level potensi perkembangan yang ditentukan melalui pemecahan masalah dengan bantuan orang lain atau dengan teman sebaya yang lebih mampu. Sedangkan Woolfok (2009: 74) mengartikan ZPD sebagai sebuah perbedaan tentang apa yang dapat dilakukan sendiri oleh anak dan apa yang perlu bantuan dari orang lain ataupun dari orang dewasa. Interaksi dengan orang dewasa ataupun dengan teman sebaya mampu memberi dorongan anak dalam proses perkembangannya. Kedua penjelasan tersebut sejalan dengan definisi ZPD yang diungkapkan oleh Vygotsky (1986: 86) yaitu jarak antara tingkat perkembangan aktual dengan ditentukan oleh pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat potensi pembangunan yang ditentukan melalui permasalahan pemecahan di bawah bimbingan orang dewasa atau bekerja sama dengan rekan yang lebih cakap. Maka dapat disintesiskan bahwa Zone of proximal development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Zone of Proximal Development merupakan istilah vygotsky untuk serangkaian tugas yang sulit dikuasai anak secara mandiri tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dari orang lain seperti dari guru atau teman yang lebih mampu. Jadi, batas bawah dari ZPD adalah tingkat sebuah masalah yang mampu di pecahkan oleh anak secara mandiri. Batas atas ZPD adalah tingkat tanggung jawab atau tugas tambahan yang dapat diterima anak dengan bantuan dari seorang instruktur atau guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Ormod (2012: 317) bahwa zone of proximal development merupakan konsep wilayah yang menunjukan terjadinya peluang kemampuan anak untuk memahami tugas-tugas sebagai wujud berkembangnya ke-mampuan kognitif anak 5 Konsep ZPD dalam teori konstruktivisme Lev Vygotsky dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1 Zone of Proximal Development (ZPD) (Moll, 1990: 185) Gambar 2.1 tentang empat tahap dalam zone of proximal development (ZPD) dijelaskan oleh Gallimore dan Tharp (dalam Moll, 1990) sebagai berikut: Tahap I : Tahap pertama menunjukkan bagaimana peserta didik mengembangkan pemahaman tentang bahasa yang sesuai dengan studi mereka dan dasar-dasar topik yang sedang dipelajari dengan mengandalkan orang lain seperti instruktur untuk melakukan suatu tugas. Tahap II : Pada tahap kedua, pembelajar menggunakan pengetahuan sebelumnya untuk melaksanakan tugas tanpa bimbingan apapun. ZPD terjadi antara tahap pertama dan kedua. Peserta didik berlatih sendiri, yang menyiratkan bahwa mereka melakukan aktivitas tertentu tanpa bantuan. Namun, mereka tidak pada tahap kemampuan sempurna dan terkadang memerlukan beberapa bantuan. Tahap III : Pada tahap ketiga kinerja dikembangkan. Artinya pada tahap ini peserta didik mencapai tahap kemandirian. Pada tahap ini, seorang siswa tidak memerlukan bantuan dari orang dewasa, atau berlatih lebih banyak latihan untuk memperkuat pengetahuan yang sudah ada. Tahap IV : Pada tahap keempat, peserta didik melakukan deautomatisasi kinerja yang mengarah pada proses pengulangan fungsi, setiap kali menerapkannya pada hasil tahap sebelumnya melalui ZPD. Pembelajaran seumur hidup oleh setiap individu terdiri dari urutan ZPD yang diatur, dari bantuan lain untuk bantuan mandiri yang berulang berulang kali untuk pengembangan kapasitas baru (Moll, 1990). Interpretasi pendekatan sosio-kultural Vygotsky pada perkembangan kognitif adalah bahwa seseorang harus memahami dua prinsip utama karya Vygotsky: Pengetahuan yang Lebih Berpengetahuan (MKO) dan ZPD. MKO mengacu pada seseorang yang memiliki pemahaman yang lebih baik atau tingkat kemampuan yang lebih tinggi daripada pelajar sehubungan dengan tugas, proses, atau konsep tertentu (Galloway, 2001). ZPD menyiratkan bahwa pada tahap tertentu dalam pengembangan, peserta didik dapat memecahkan berbagai masalah tertentu hanya ketika 6 mereka berinteraksi dengan guru dan bekerja sama dengan rekan sejawat. Begitu aktivitas pemecahan masalah pelajar telah diinternalisasi, masalah yang awalnya dipecahkan di bawah bimbingan dan kerja sama dengan orang lain dapat ditangani secara independen. Vygotsky (1978: 87) menyoroti bahwa apa yang ada di ZPD hari ini akan menjadi tahap perkembangan aktual besok, yaitu, apa yang dapat dilakukan pembelajar dengan bantuan hari ini, dia atau dia akan dapat melakukannya sendiri besok . Vygotsky percaya bahwa ketika seorang pelajar berada di ZPD untuk tugas tertentu, memberikan bantuan yang tepat akan memberi kemajuan pelajar untuk mencapai tugas tersebut (Galloway, 2001). Setelah pelajar, dengan bantuan bantuan, tuankan tugas, bantuan kemudian dapat dihapus dan pelajar kemudian dapat menyelesaikan tugasnya sendiri. Wertsch (1985: 67) menyatakan bahwa ZPD adalah untuk menangani dua masalah praktis dalam situasi belajar: penilaian kemampuan intelektual peserta didik dan evaluasi praktik instruksional . Kegiatan pembelajaran menantang pemikiran peserta didik dalam proses pembelajaran. Borchelt (2007: 2) selanjutnya menegaskan bahwa pembelajaran ditentukan oleh interaksi antara pengetahuan peserta didik, konteks sosial yang mapan, dan masalah yang harus dipecahkan . Ini mendukung gagasan Vygotsky (1978) bahwa pemikiran tingkat tinggi dikembangkan terlebih dahulu dalam tindakan dan kemudian dipikirkan. Borchelt (2007: 2) berpendapat bahwa potensi pengembangan kognitif dioptimalkan dalam ZPD atau area eksplorasi yang dipersiapkan secara kognitif, namun membutuhkan bantuan melalui interaksi sosial . Prosesnya dapat dipahami dalam perspektif sosio-kultural dengan mengacu pada ZPD Vygotsky, yang menjelaskan bagaimana memajukan proses belajar siswa. Pendekatan ini diperkuat oleh Wertsch (1985: 60-61) yang menegaskan bahwa: Setiap fungsi dalam perkembangan budaya siswa muncul dua kali, atau pada dua bidang. Pertama, ia muncul di pesawat sosial, dan kemudian di bidang psikologis. Pertama, muncul di antara orang-orang sebagai kategori antar-psikologis dan kemudian berada di dalam siswa sebagai kategori intra-psikologis. b. Scaffolding. Konsep lain dalam teori Konstruktivisme Lev Vygotsky adalah Scaffolding. Scaffolding erat kaitannya dengan zone of proximal development yaitu sebuah teknik untuk mengubah level dukungan. Selama sesi pengajaran, orang yang lebih ahli (guru atau siswa yang lebih mampu) menyesuaikan jumlah bimbingannya dengan level kinerja murid yang telah dicapai. Ketika tugas yang akan dipelajari murid merupakan tugas yang baru, maka orang yang lebih ahli dapat menggunakan teknik instruksi langsung. Saat kemampuan siswa meningkat, maka semakin sedikit bimbingan yang diberikan. Vygotsky menganggap bahwa anak mempunyau konsep yang kaya tetapi tidak sistematis, tidak teratur, dan spontan. Anak akan bertemu dengan konsep yang sistematis dan logis serta rasional yang dimiliki oleh orang yang lebih ahli yang membantunya. c. Bahasa dan pemikiran Perkembangan manusia terjadi melalui alat-alat kultur (bahasa dan 7 simbol-simbol) yang kemudian diteruskan dari satu orang ke orang lain atau sering disebut dengan transmisi alat-alat kultur (Schunk: 2012: 341). Bahasa adalah alat kultur yang paling penting. Bahasa di dapat dari tuturan sosial, kemudian untuk disimpan dalam tuturan pribadi, dan akhirnya menjadi tuturan tersembunyi (didalam). Vygotsky mempercayai bahwa bahasa tidak hanya untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk merencanakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri dinamakan pembicaraan batin (inner speech) (pembicaraan privat). Menurut Piaget inner speech bersifat egosentris dan tidak dewasa. Tetapi menurut teori Vygotsky inner speech adalah alat penting bagi pemikiran selama masa kanak-kanak (early childhood). Anakanak berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa sebelum mereka dapat fokus pada pemikirannya. Anakanak menggunakan bahasa untuk komunikasi dengan dunia luar selama periode agak lama sebelum transisi dari pembicaraan eksternal ke pembicaraan internal (batin). Periode transisi terjadi antara usia 3 sampai 7 tahun dan terkadang anak dalam usia ini sering berbicara sendiri. Setelah beberapa waktu kebiasaan berbicara sendiri dapat hilang dan mereka melakukannya tanpa harus diucapkan. Ketika ini terjadi anak sudah memasukkan pembicaraan egosentris menjadi inner speech, dan pembicaraan batin ini kemudian akan menjadi pemikiran mereka. Teori Vygotsky mengemukakan bahwa anak yang menggunakan inner speech merupakan proses awal menjadi komunikatif secara sosial dan juga menegaskan bahwa seorang anak yang menggunakan inner speech akan lebih kompeten secara sosial daripada anak yang tidak menggunakannya (Santrock. 2013: 63). Teori Vygotsky mengundang banyak perhatian karena teorinya mengandung pandangan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi situasi dan bersifat kolaboratif. Artinya pengetahuan didistribusikan diantara orang dan lingkungan, yang mencakup objek, alat, buku, dan komunitas dimana orang berada. Hal ini menunjukkan bahwa memperoleh pengetahuan dapat dicapai dengan baik melalui interaksi dengan orang lain dalam kegiatan bersama. Implikasi Teori Konstruktivisme Vygotsky Teori konstruktivisme menekankan pada siswa sebagai pembelajar aktif, sehingga dalam penerapannya teori konstruktivisme sering disebut sebagai strategi pengajaran yang berpusat pada siswa (student-centered instruction). Di ruang kelas yang berpusat pada siswa, guru menjadi pemandu di samping dan bukan orang bijaksana di atas panggung, dengan membantu siswa menemukan makna mereka sendiri dan bukan mengendalikan semua kegiatan di ruang kelas (Weinberger & Combs: 2001). Menurut Drake (2012: 273), thematic approach is one of the teaching strategy that uses themes toward creating anactive, interest-ing, and meaningful learning. Hal ini sesuai dengan pendekatan tematik merupakan bentuk strategi pembelajaran yang menggunakan tema melalui penciptaan pembelajaran yang aktif, menarik, dan bermakna. Dikatakan bermakna karena peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep. Melalui kurikulum 2013, peserta didik akan 8 didorong menjadi insan yang kreatif, produktif, inovatif, dan afektif melalui kompetensi-kompetensi yang berimbang antara spiritual, pengetahuan, sikap, dan psikomotor/keterampilan. Teori konstruktivisme menekankan pada siswa sebagai pembelajar aktif, sehi
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks