IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK DI ERA KURIKULUM 13 DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB: RELEVANKAH? Moh. Ainin Universitas Negeri Malang

Please download to get full document.

View again

of 9
210 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK DI ERA KURIKULUM 13 DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB: RELEVANKAH? Moh. Ainin Universitas Negeri Malang Abstrak: Kurikulum merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran.
Document Share
Document Transcript
IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK DI ERA KURIKULUM 13 DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB: RELEVANKAH? Moh. Ainin Universitas Negeri Malang Abstrak: Kurikulum merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran. Sebagai bagian integral, keberadaan kurikulum merupakan instrumern utama yang dijadikan pijakan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran, baik dari sisi proses maupun hasil. Kebermaknaan kurikulum akan terwujud manakala kurikulum tersebut selalu diupdate sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan jaman. Sejak awal tahun duaribuan, kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia selalu mengalami perubahan yaitu dari kurikulum Berbasis Kompetensi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dan yang terkahir Kurikulum tahun 2013 (K13). Dalam K 13 ini, pendekatan pembelajaran yang ditetapkan untuk semua matapelajaran, termasuk bahasa Arab adalah pendekatan saintifik. Pertanyaannya adalah apakah pendekatan ini relevan atau aplicable untuk pembelajaran bahasa Arab bagi siswa yang notabena masih tingkat pemula? Berdasarkan hasil pemikiran konseptual dan data empiris di lapangan dapat dikemukakan, bahwa pendekatan ini kurang relevan dan kurang aplikatif untuk diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa Arab. Pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Arab memiliki pendekatan tersendiri yang diadopsi baik dari teori linguistik maupun psikologi belajar. Apabila pendekatan saintifik ini dipaksakan untuk diterapkan, maka keterpaksaan itu pada pembelajaran membaca dan menulis. Kata kunci: Pembelajaran bahasa Arab, tingkat pemula, pendekatan saintifik, relevankah. A. PENDAHULUAN Kurikulum merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran. Sebagai bagian integral, keberadaan kurikulum merupakan instrumern utama yang dijadikan pijakan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran, baik dari sisi proses maupun hasil. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Hidayat (2013), bahwa kurikulum itu sebagai alat atau instrumental input untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Para peneliti menegaskan bahwa kurikulum merupakan suatu cara untuk meningtkatkan layanan bagi siswa (Supriyanto, 2012). Di dalam UU nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I, Pasal 1, ayat 1 dikemukakan, bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,dan negara. Terkait dengan keberadaan kurikulum yang strategsi, tugas pertama dan utama yang dikembangkan oleh guru adalah pengembangan kurikulum. Menurut Cooper (1979), guru atau pendidik sebagai pengambil keputusan dalam pembelajaran memiliki tiga tugas utama, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (implement), dan penilaian (evaluate). Salah satu wujud dari tahap perencanaan adalah penyusunan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum, tugas operasional yang dilakukan oleh pendidik adalah melakukan analisis kebutuhan siswa, merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan model dan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan, dan merencanakan penyusunan materi ajar atau bahan ajar. Perencanaan pembelajaran ini secara fungsional digunakan sebagai alat pemandu bagi guru (pendidik) dalam melaksanakan proses pembelajaran (Abidin, 2014). 377 Dalam dunia pendidikan, kurikulum selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan jaman. Perkembangan yang terjadi dimaksudkan sebagai sebuah usaha untuk menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Masyarakat tentunya berharap agar perubahan, pergantian, atau rekonseptualisasi kurikulum lebih diwarnai oleh kondisi objektif dan kondisi dinamis yang terjadi dalam masyarakat yang meliputi prinsip relevansi, efektifitas, efisiensi, integritas, kontinyutas, objektifitas, dan fleksibilitas. Rekonstruksi kurikulum bukan lebih bernuansakan kepentingan administratif maupun birokratif. Artinya, perkembangan, pergantian, atau rekonseptualisasi kurikulum tidak terkesankan ganti menteri ganti kurikulum. Sepertinya sudah menjadi toeri (bukan hipotesis lagi), bahwa perubahan atau rekonstruksi kurikulum di Indonesia berbasis pada pergantian menteri. Setiap menteri mempunyai pemikiran yang berbeda dalam memahami kurikulum, sehingga setiap ada menteri baru dapat dipastikan akan ada kurikulum baru. Sosialisasi kurikulum lama belum menyentuh semua lapisan sekolah dan guru, sudah disodori kurikulum baru. Akhirnya para pelaksana pendidikan mengatakan bingung, bingung aku memikirnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerinatah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom menuntut perubahan dan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik ke desentralistik Kewenangan yang dimaksud adalah (a) penetapan standar kompetensi, (b) pengaturan kurikulum nasional, (c) penilaian hasil belajar secara nasional, (d) penyusunan pedoman pelaksanaan, dan (e) penetapan standar materi pelajaran pokok, penetapan kalender pendidikan, dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun bagi pendidikan dasar, menengah, dan luar sekolah (Depdiknas, 2002). Salah satu wujud dari otonomi pendidikan adalah pemberlakuan Kurikulum 2004 Berbasis Kompetenti selanjutnya disingkat KBK (ada yang mempelesetkan Kurikulum Mbiyen Kae= Kurikulum Lama). KBK sebagai konsep kurikulum menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (konpetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2003). Oleh karena itu, rumusan kompetensi dalam KBK merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan satuan pendidikan dan sekaligus menggambarkan kemampuan siswa yang dicapai secara bertahap dan keberlanjutan untuk menjadi kompeten (Depdiknas, 2002). Sekitar tahun 2006, KBK dikembangkan menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). KTSP ini memberikan otoritas kepada satuan pendidikan (termasuk guru) untuk mengembangkan kurikulum baik yang makro maupun yang mikro berdasarkan kebutuhan kondisi, dan visi misi satuan pendidikan dengan tetap mengacu pada kurikulum inti. Sosialisasi KTSP ini belum merata ke sampai satuan pendidikan di daerah-daerah atau sekolah-sekolah yang berada di pedesaan yang jauh dari akses informasi pendidikan. Kemudian pada tahun 2012 dilahirkan sebuah kurikulum baru yang disebut dengan K 13 (Kurikulum tahun 2013). Terlepas dari semua itu, kenyataan yang ada di depan mata saat ini, kita masih menggeluti dan proses pelaksanaan K 13, khususnya dalam Pembelajaran Bahasa Arab (PBA) baik di tingkat dasar maupun menengah. Dalam implementasinya, para guru bahasa Arab masih meraba-raba dan trial and error untuk pengembangkan dan mengimpelemtasikan K 13 dalam PBA. Mereka meraba-raba untuk pengembangan 378 Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) ke dalam silabus dan RPP. Yang lebih membingungkan guru adalah implementasi pendekatan saintifik ( pendekatan ilmiah ) ke dalam pembelajaran bahasa Arab. Bagi guru/pendidik dan pemerhati pembelajaran bahasa Arab, implementasi pendekatan saintifik ke dalam pembelajaran bahasa Arab ini terasa asing dan aneh serta nyeleneh. Oleh karena itu pertanyaan yang selalu mengemkuka adalah relevankah implementasi pendekatan saintifik ke dalam pembelajaran bahasa Arab, khususnya bagi pembelajar tingkat pemula? B. KONSEP PENDEKATAN SAINTIFIK Pendekatan saintifik merupakan suatu pendekatan yang direkomendasikan dalam K13 untuk pembelajaran semua mata pelajaran di sekolah/madrasah. Menurut Kuhlthau, Maniotes, dan Caspari, 2007 (dalam Abidin, 2014), pendekatan saintifik merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa beraktivitas sebagaimana seorang ahli sains. Dalam praktiknya, siswa diharapkan melakukan serangkaian aktifitas selayaknya langkah-langkah penerapan metode ilmiah. Sebagai suatu metode ilmiah, implementasi pendekatan saintifik tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah penelitian, yaitu (1) merumuskan masalah (2) merumuskan hipotesis dan pertanyaan, (3) menganalisis data dan menyajikan hasil, dan (4) menginterpertasikan temuan dan membuat kesimpulan (diadopsi dari Sukmadinata, 2015). Secara konseptual, pendekatan saintifik (pendekatan ilmiah) dalam pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut. mengamati menanya menalar mencoba menyimpulkan mengkomunikasikan Gambar Pendekatan Ilmiah: sumber Kemendikbud (dalam Abidin, 2014) Kegiatan mengamati merupakan kegiatan yang melibatkan siswa mengamati suatu objek atau fakta. Aspek yang diamati misalnya bentuknya, karakteristiknya, mengamati sifat-sifatnya, warnanya, dan lain-lainnya. Menurut Abidin (2014), kegiatan mengamati dalam pembelajaran memerlukan waktu persiapan yang lama. Kegiatan menanya terkait dengan sikap keingintahuan siswa terhadap sesuatu yang menarik dan unik yang belum diketahui jawabanna sehingga menimbulkan pertanyaan dalam dirinya. Kegiatan menanya ini muncul dari proses pengamatan. Kegiatan menanya ini bisa muncul dari guru untuk menggali pendapat siswanya terhadap hakikat suatu fakta atau objek. Kegiatan menalar merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan sebelumnya, yaitu mengamati dan menanya. Kegiatan ini merupakan proses berpikir logis dan sistematis atas fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan (Abdin, 2014). Dari pengertian ini, secara lebih sepesifik, kegiatan menalar ini dapat dimaknai sebagai proses menafsirkan fakta atau data sebagai pijakan untuk melakukan kegiatan berikutnya. Kegiatan mencoba terkait dengan aktifitas siswa dalam bentuk melakukan percobaan terhadap hasil pemahamannya yang diperoleh melalui pengamatan, pertanyaan, dan penalaran. Dalam konteks pembelajaran IPA misalnya siswa melakukan percobaan secara terhadap fenonema suatu benda atau objek misalnya 379 warana apa yang muncul jika warna putih dan warna merah dicampur menjadi satu. Sementara itu, kegiatan menyimpulkan terkait dengan kegiatan pemaknaan fata atau fenomena dan sekaligus pembuatan intisari dari suatu fenomena yang terjadi. Langhkah berikutnya yang disebut mengkomunikasikan, yaitu kemampuan siswa untuk menyampaikan hasil dari kegiatan yang telah dilaksanakan melalui mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan menyimpulkan. Terkait dengan uraian di atas, dapat dikemukakan, bahwa pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah dengan lima langkah sebagaimana dikemukakan lebih pada pembeajaran matapelajaran sains dan teknologi yang sifatnya positivistik. Apakah tidak bisa digunakan dalam pembelajaran Bahasa, khususnya bahasa Arab. Jawabannya bisa saja tetapi tampak dipaksakan. Pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Arab memiliki pendekatan tersendiri. Bahkan pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang dapat digunakan tidak tunggal, tetapi bisa lebih dari satu tergantung pada sudut pandang seseorang terhadap hakikat bahasa dan hakikat belajar bahasa itu sendiri. Misalnya pendekatan behavioris-struktural dan pendekatan fungsional-komunikatif. Selain itu, pembelajaran bahasa Arab pada dasarnya tidak senjelimet seperti pembelajaran dengan pendekatan saintifik (pendekatan ilmiah). Pembelajaran bahasa Arab itu intinya pada penggunaan dan pembiasaan berbahasa Arab. Apabila pendekatan saintifk dipaksakan dalam pembelajaran bahasa Arab, keterpaksaan itu dapat dilakuka dalam pembelajaran membaca dan kemungkinan menulis. Dalam pembelajaran membaca atau maharah qira ah misalnya sebagaimana contoh berikut ini. Mengamati Siswa mencermati gambar dan atau otograpi Arab yang mengilustrasikan isi teks. Siswa memperhatikan guru memodelkan membaca teks. Siswa mencermati teks bahasa Arab yang dibacakan oleh guru. Siswa berlatih membaca teks dengan suara keras. Menanya Siswa menanyakan beberapa kosa kata yang dianggap sulit. Siswa mencoba membuat pertanyaan yang bersumber dari teks sebagai salah satu cara untuk memahami isinya. Menalar Siswa di bawah bimbingan guru dan atau diskusi dengan temannya menemukan imformasi yang terdapat dalam teks. Melalui bimbingan guru dan diskusi antarteman, siswa menafsirkan isi teks. Mencoba Siswa mencoba menemukan imformasi tersurat dan tersirat yang terdapat dalam teks. siswa mencoba memukan informasi umum yang terdapat dalam teks. siswa mencoba menemukan hubungan antara isi teks dengan pengalamannya sehari-hari. Siswa mencoba menemkukan ide pokok dalam setiap paragraf. Siswa mencoba menyimpulkan isi teks. Siswa mencoba membuat ringkasan isi teks. 380 Menyimpulkan Siswa menemkukan ide pokok dalam setiap paragraf. Siswa menyimpulkan isi teks. Siswa membuat ringkasan isi teks. Mengkomunikasikan Siswa membaca teks dengan suara keras di depan kelas. Siswa menceritakan kembali isi teks di depan kelas. Siswa menyimpulkan isi teks di depab kelas. C. FENOMENA OVERGENERALISASI K 13 dalam PBA K 13 sebagai kurikulum yang mencirikan dirinya sebagai kurikulum yang mengedepankan tiga ranah kompetensi secara simultan dan mencirikan dirinya sebagai kurikulum yang berbasis pendidikan karakter telah menggeneralisasikan secara berlebihan (overgeneralisasi) terhadap semua matapelajaran. Artinya, semua mata pelajaran dengan kekhasan masing-masing diseragamkan begitu saja, tanpa harus ada pemilahan dan pemilihan yang proporsional (Ainin, 2014). Selanjutnya Ainin (2014) menegaskan bahwa overgeneralisasi K 13 dapat dicermati dari aspek KI (KI 3 dan KI 4) dan pendekatan pembelajaran yang direkomendasikan. Rumusan KI 3 dan KI 4 yang merepresentasikan kompetensi mata pelajaran dirumuskan secara seragam, padahal KI antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain beragam. Misalnya, KI 3 dan KI 4 untuk mata pelaharan bahasa Arab MTs dan MA/SMA: KI 3 (MTs) Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. KI 3 (SMA/MA) Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah KI 4 (MTs) Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang semua dalam sudut pandang teori. KI 4 (MA/SMA) Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 381 Kedua KI untuk matapelajaran bahasa Arab tersebut (MTs dan MA/SMA) sangat general. Padahal KI itu merupakan gambaran secara katagorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotorik). Pada tataran pengetahuan dan keterampilan, seharunya KI 3 dan KI 4 itu langsung mengacu ke kompetensi mata pelajaran tertentu, misalnya kompetensi kebahasaaraban dan keterampilan berbahasa Arab (tarkib, kosa kata, maharah istima, kalam, qira ah, dan kitabah), bukan rumusan yang sangat absud sebagaimana yang ada yang pada akhirnya kurang sinkron dengan rumusan pada KD dan Indikator. Apabila KI ini dimaksudkan sebagai kompetensi lulusan dalam tataran institusional dari satuan pendidikan atau pada tempo dulu disebut tujuan institusional (kompetensi hard skills dan soft skills), maka rumusan KI ini tidak diletakkan pada setiap mata pelajaran, melainkan pada tatataran tujuan/kompetensi insitusional yang memayungi semua kompetensi untuk setiap mata pelajaran. Apabila dispesifikasi, maka KI 3 dan KI 4 dirumusan lebih sederhana misalnya. KI 3 MTs/SMA/MA : Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tentang sistem kebahasaan bahasa Arab baik pada tataran sistem bunyi, kaidah (tarkib), maupun unsur kosa kata untuk menunjang kompetensi berbahasa Arab sesuai dengan konteks. KI 4 MTs/SMA/MA : Memiliki keterampilan berbahasa Arab baik yang sifatnya reseptif (maharah istima dan qira ah) dan produktif (maharah kalam dan kitabah) sesuai dengaan konteks. Hal yang sama juga terjadi pada pendekatan pembelajaran. K 13 memberlakukan pendekatan seintifik pada semua mata pelajaran. Sementara itu, masing-masing mata pelajaran memiliki pendekatan/metode pembelajaran yang khas. Dalam pembelajaran maharah qira ah misalnya dikenal metode juz iyyah (bootom up), kulliyyah (top down), dan tafa uliyyah atau interactive approach (Carrell, et.all. 1988). Masiang-masing metode tersebut telah memiliki langkah-langkah atau prosedur pembelajaran. Pendekatan saintifik lazim digunakan pada mata pelajaran IPA, misalnya Kimia, Fisika, Biologi, dan sejenisnya. Dengan ungkapan lain, KI 3 dan KI 4, serta pendekatan saintifik tampak dipaksakan untuk semua mata pelajaran. D. KEMBALIKAN KEPADA HABITAT ASAL Sebagaimana dipertanyakan dalam judul, yakni masih relevankah penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran bahasa Arab, khususnya bagi pemula. Berdasarkan uraian di atas, jelas secara eksplisit, bahwa penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran bahasa Arab kurang relevan bahkan kurang aplicable. Secara administratif memang dapat dirancang dalam silabus atau RPP. Akan tetapi dalam implementasinya di lapangan pendekatan saintifik itu kurang fisibel untuk diterapkan. Apabila pendekatan saintifik ini kurang relevan dan aplicable, kemudia pendekatan apa yang layak direkomendasikan. Mengingat pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran bahasa Arab mempunyai kekhususan, maka pendekatan pembelajaran dan metode pembelajarannya dikembalikan kepada habitat asalnya. Pendekatan dan metode apa yang dapat digunakan tergantung pada tujuan 382 pembelajarannya. Apakah tujuan pembelajaran untuk pemahaman teks berbahasa Arab ataukah untuk komunikasi (terutama komunikasi lisan). Secara umum, model pembelajaran bahasa Arab dapat direduksi menjadi dua katagori, yaitu pembelajaran bahasa Arab untuk kompetensi memahami wacana berbahsa Arab dan kompetensi penggunaan bahasa Arab sebagai alat komunikasi. Masing-masing kompetensi tersebut memiliki metode tersendiri. Metode Pembelajaran bahasa Arab yang bersifat reseptif (istiqbaliyah) akan berbeda dengan metode pembelajaran bahasa Arab bersifat produktif (istintajiyah). Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang bersifat reseptif misalnya Metode Tatabahasa-Terjemah (the Grammar-Translation Method) dan Metode Membaca (the Reading Method). Tujuan Metode Tatabahasa-Terjemah ini adalah agar siswa mampu mengeksplorasi isi karya sastra terkenal secara mendalam. Selain itu juga membantu siswa memahami bahasa penutur asli melalui kegiatan analisis lanjutan terhadap tatabahasa dari bahasa sasaran, dan mampu menerjemahkannya (Alice, 1986). Di lingkungan pondok pesantren salafiah, metode ini digunakan dalam pembelajaran kutub tsuratsiyah dengan teknik pembelajarannya yang khas pesantren salafiah. Metode ini fokus untuk mengembangkan kemampuan siswa pada aspek maharah qira ah dan kitabah ( Al-fauzan, 2011). Sementara itu, pembelajaran yang bersifat produktif (istintajiyah) bertujuan agar siswa mampu menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulis. Metode yang digunakan adalah metode yang memberikan kesempatan siswa untuk menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi. Beberapa metode yang dapat digunkan, misalnya Metode Langsung, Metode Campuran, Metode Alamiah, Metode Audio-Lingual, Metode Total physical Respon (Metode Respon Fisik Total), dan metode komunikatif. Kelas bahasa Arab yang menggunakan metode sebagaimana dikemukakam akan kaya dengan aktifitas berbahasa Arab. Lingkungan bahasa arab di kelas ini kondusif dan potensial sebagai input berbahasa yang dapat dipahami (comprehensible inp
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks