HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN PASCA STROKE DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Please download to get full document.

View again

of 18
27 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN PASCA STROKE DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Pendidikan
Document Share
Document Transcript
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN PASCA STROKE DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta Oleh : Dita Karuniawati J PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2017 i ii Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Pasien Pasca Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta Abstrak Latar Belakang : Stroke merupakan manifestasi neurologik yang mudah dikenal dan umum dari penyakit neurologik lain karena timbul secara mendadak dalam kurun waktu singkat. Pasien stroke mengalami perubahan fisik maupun perubahan psikologis. Perubahan psikologis pada pasien stroke karena adanya abnormalitas mood, kesedihan, depresi, dan menyalahkan diri sendiri. Kecenderungan pasien stroke mengalami depresi sangatlah tinggi, hal tersebut sangat diperlukan peran keluarga dalam membantu proses perawatan pasien agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien pasca stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Metode Penelitian : Desain pada penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2017 di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta sebanyak 34 orang responden yang dipilih berdasarkan teknik Purposive sampling. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji Chi-square. Hasil : Berdasarkan analisis data didapatkan nilai p = 0,006 untuk dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien pasca stroke, dimana p 0,05. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien pasca stroke. Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Tingkat Depresi, Pasien Pasca Stroke Abstract Background : Stroke is a neurologic manifestation that is easily recognized and common from other neurologic diseases because it emerges suddenly in a short span of time. Stroke patients experience physical changes as well as their psychological. Their psychological changes caused by mood abnormality, sadness, depression, and self-blame. The tendency of stroke patients experience depression is very high, the role of family is very necessary in assisting patient care process so that patient can do activity as well as before. Objective : To determine the relationship between family support with depression level in post-stroke patients at Dr. Moewardi Surakarta. 1 2 Research Method : The design of this research used analytic observational research with cross sectional approach. This research was conducted in October 2017 at Dr. Moewardi Surakarta. There were 34 respondents selected based on Purposive sampling technique. Hypothesis test used is Chi-square test. Result : Based on data analysis, p = for family support with depression level in post stroke patient, where p 0.05. Conclusion : There is a relationship between family support with depression level in post-stroke patients. Keywords: Family Support, Depression Level, Post-Stroke Patient 1. PENDAHULUAN Stroke merupakan manifestasi neurologik yang mudah dikenal dan umum dari penyakit neurologik lain karena timbul secara mendadak dalam kurun waktu singkat (Sidharta, 2012). Stroke merupakan gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, bila lebih 24 jam berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh gangguan peredarahan darah otak sepintas, tumor otak, stroke sekunder dikarenakan trauma ataupun infeksi (Setyopranoto, 2011). Stroke terdiri dari stroke iskemik yang disebabkan adanya trombosis atau emboli sebanyak 87 %, dan stroke hemoragik yang disebabkan pecahnya pembuluh darah atau aneurisma sebanyak 13 % (WHO, 2012). Angka kematian penderita stroke di Indonesia paling banyak menderita stroke iskemik sebesar 52,9 %, penyebab yang lainnya ada perdarahan intraserebral 38,5 %, emboli 7,2 %, dan perdarahan subaraknoid 1,4 % (Sastri, 2013). Penyakit stroke memerlukan perawatan dengan waktu yang lama dan biaya yang tinggi, serta apabila sembuh pun penderita akan mengalami gangguan, kelemahan atau cacat fisik seperti kelumpuhan, gangguan menelan, gangguan bicara maupun gangguan eliminasi (Wirawan, 2009). Pasien stroke mengalami perubahan fisik maupun perubahan psikologis. Pasien stroke tidak dapat melakukan aktivitas perawatan diri sendiri seperti makan minum, mandi, berpakaian, berhias, menggunakan toilet, kontrol buang air kecil dan besar, berpindah tempat, jalan, dan 3 menggunakan tangga (Wirawan, 2009). Perubahan psikologis pada pasien stroke adanya abnormalitas mood, kesedihan, depresi, dan menyalahkan diri sendiri (Susilawati, 2014). Depresi merupakan kelainan mental umum ditandai dengan munculnya gejala perasaan sedih, hilangnya minat pada aktivitas keseharian, perasaan bersalah, gangguan tidur, menurunnya nafsu makan, penurunan konsentrasi dan kurangnya energi (WHO, 2012). Pada pasien stroke mengalami depresi sering ditemukan sekitar %. Dapat menurunkan kualitas hidup pasien stroke dan memperlambat penyembuhan atau memperberat penyakit fisik (Elvira et al., 2013). Keluarga merupakan rumah tangga yang memiliki hubungan perkawinan atau hubungan darah atau menyediakan terselenggaranya fungsi instrumental mendasar dan fungsi ekspresif keluarga bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan (Lestari, 2012). Dukungan baik yang diterima pasien menunjukkan bahwa pasien membutuhkan kehadiran kelurga. Karena keluarga adalah orang yang paling dekat dengan pasien memberikan dukungan berupa informasi, bantuan, dan perhatian. Dukungan buruk yang di dapat dari keluarga dapat membuat pasien mengalami stres ringan. Maka sangat di perlukan dukungan moril maupun material agar pasien merasa terkurangi beban dalam menjalani perawatan (Agustini, 2010). Kecenderungan pasien stroke mengalami depresi sangatlah tinggi, hal tersebut sangat diperlukan peran keluarga dalam membantu proses perawatan pasien agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula. Hal ini yang mendorong peneliti untuk meneliti hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien stroke di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. 2. METODE Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Tempat penelitian ini di lakukan di Poli Saraf RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Waktu penelitian ini pada bulan 4 Oktober tahun Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis stroke di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Sampel pada penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis stroke yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini pasien stroke mampu berkomunikasi dan usia tidak lebih dari 60 tahun, serta kriteria ekslusi yaitu pasien stroke yang mempunyai gangguan pendengaran dan pasien stroke yang tidak bersedia menjadi responden. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 34 orang dan metode pengambilan sampel dengan purposive sampling. Instrument penelitian ini adalah kuesioner dengan wawancara menggunakan kuesioner dukungan keluarga untuk menilai dukungan keluarga diambil dari penelitian Maulidia (2014), menggunakan 25 pertanyaan meliputi dukungan emosional dan dukungan instrumental dimana kedua kelompok ini telah mencakup dukungan yang lain, tingkat depresi menggunakan kuesioner Back Depression Inventory (BDI), dan kuesioner tentang karakteristik responden serta ketersediaan menjadi subjek penelitian untuk mengetahui data diri responden secara lengkap dan terjaga kerahasiaannya. Variabel bebas pada penelitian ini adalah dukungan keluarga dan variabel terikat yaitu tingkat depresi. Proses penelitian adalah pasien pasca stroke yang sedang rawat jalan di RSUD Dr. Moewardi dan keluarga pasien diberikan penjelasan secara rinci tentang penelitian yang dilakukan, pasien diberikan kuesioner dan penjelasan untuk mengisi kuesioner, dengan kriteria inklusi dan ekslusi, kemudian analisis data. Data yang diperoleh akan diolah dengan program SPSS versi 20.0 dan analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square jika p value 0,05 maka ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi. 5 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Analisis Univariat a. Deskripsi Sampel Berdasarkan Umur Tabel 1. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur No Umur (Tahun) Frekuensi Persentase (%) , , ,5 Berdasarkan tabel 1 didapatkan distribusi data berdasarkan umur dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok umur sebanyak 25 orang (73,5%), kelompok umur sebanyak 8 orang (23,5%), dan kelompok umur sebanyak 1 orang (2,9%). b. Deskripsi Sampel Berdasarkan Lama Menderita Tabel 2. Distribusi Sampel Berdasarkan Lama Menderita No Lama Menderita (Bulan) Frekuensi Persentase (%) , , , , ,9 6 60 3 8,8 Berdasarkan tabel 2 diketahui responden berdasarkan lama menderita paling banyak pada kelompok lama menderita 0 12 bulan yaitu 11 orang (32,4%). c. Deskripsi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 3. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) 1 Laki laki 16 47,1 2 Perempuan 18 52,9 6 Berdasarkan tabel 3 diketahui responden dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan responden laki laki yaitu sebanyak 18 orang (52,9%). d. Deskripsi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 4. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Pendidikan Frekuensi Persentase (%) 1 Tidak sekolah 3 8,8 2 SD 9 26,5 3 SMP 6 17,6 4 SMA 11 32,4 5 PT 5 14,7 Berdasarkan tabel 4 didapatkan distribusi data berdasarkan pendidikan dengan responden paling banyak SMA yaitu sebanyak 11 orang (32,4%) dan responden paling sedikit tidak sekolah yaitu sebanyak 3 orang (8,8%). e. Deskripsi Sampel Berdasarkan Pekerjaan Tabel 5. Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan No Pekerjaan Frekuensi Persentase (%) 1 Tidak bekerja 19 55,9 2 Bekerja 15 44,1 Berdasarkan tabel 5 diketahui responden paling banyak tidak bekerja sebanyak 19 orang (55,9%). f. Deskripsi Sampel Berdasarkan Keluarga yang Mendampingi Tabel 6. Distribusi Sampel Berdasarkan Keluarga yang Mendampingi No Keluarga yang Mendampingi Frekuensi Persentase (%) 1 Sendiri 6 17,6 2 Suami 13 38,2 3 Keponakan 1 2,9 4 Istri 7 20,6 5 Anak 7 20,6 Berdasarkan tabel 6 didapatkan distribusi data berdasarkan keluarga yang mendampingi responden saat penelitian paling banyak suami yaitu sebanyak 13 orang 7 (38,2%) dan paling sedikit keponakan yaitu sebanyak 1 orang (2,9%). g. Deskripsi Sampel Berdasarkan Tinggal dengan Keluarga Inti Tabel 7. Distribusi Sampel Berdasarkan Tinggal dengan Keluarga Inti No Tinggal dengan Keluarga Inti Frekuensi Persentase (%) 1 Ya 33 97,1 2 Tidak 1 2,9 Berdasarkan tabel 7 diketahui responden paling banyak tinggal dengan keluarga inti yaitu sebanyak 33 orang (97,1%). h. Deskripsi Sampel Berdasarkan Jenis Stroke Tabel 8. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Stroke No Jenis Stroke Frekuensi Persentase (%) 1 Stroke Hemoragik 1 2,9 2 Stroke Iskemik 33 97,1 Berdasarkan tabel 8 diketahui responden paling sedikit yaitu stroke hemoragik sebanyak 1 orang (2,9%). i. Deskripsi Sampel Berdasarkan Dukungan Keluarga Tabel 9. Distribusi Sampel Berdasarkan Dukungan Keluarga No Dukungan Keluarga Frekuensi Persentase (%) 1 Tidak baik 16 47,1 2 Baik 18 52,9 Berdasarkan tabel 9 didapatkan distribusi data berdasarkan dukungan keluarga dengan nilai baik sebanyak 18 responden (52,9%). j. Deskripsi Sampel Berdasarkan Tingkat Depresi Tabel 10. Distribusi Berdasarkan Tingkat Depresi No Tingkat Depresi Frekuensi Persentase (%) 1 Normal 18 52,9 2 Ringan 13 38,2 3 Sedang 3 8,8 4 Berat 0 0 8 Berdasarkan tabel 10 diketahui responden dengan tingkat depresi normal sebanyak 18 orang (52,9%) dan sedang sebanyak 3 orang (8,8%) Analisis Bivariat a. Hasil Uji Chi Square Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Pasien Pasca Stroke di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tabel 11. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Pasien Pasca Stroke di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tingkat Depresi Normal Depresi Total p value Dukungan Baik ,006 Keluarga (77,8%) (22,2%) (100%) Tidak Baik (25%) Total 18 (52,9%) (75%) 16 (47,1%) (100%) 34 (100%) Berdasarkan tabel 11 diperoleh informasi bahwa dukungan keluarga baik normal 14 (77,8%) yang depresi 4 (22,2%) sementara dukungan keluarga tidak baik menunjukkan tingkat depresi lebih banyak 12 (75%) dibandingkan yang normal 4 (22,2%). Nilai p = 0,006 yang menunjukkan secara statistik adanya hubungan antara dua variabel yaitu dukungan keluarga dengan tingkat depresi karena nilai p 0, Pembahasan Hasil distribusi data berdasarkan umur responden pasca stroke pada tabel 1 menunjukkan kelompok umur paling banyak adalah tahun 25 orang. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Bariroh et al., (2016) menyebutkan bahwa kualitas hidup yang rendah pada pasien stroke lebih banyak ditemukan dalam kelompok umur lansia rerata usia 55 tahun karena terjadi perubahan fisik secara fisiologis. Pada penelitian Karunia (2016), menunjukkan paling banyak responden berumur antara tahun dengan rata rata keseluruhan umur responden adalah 54,64 tahun. Keadaan stroke pada lansia cenderung merasa tidak berguna 9 hanya untuk melakukan aktivitas seperti kelemahan pada anggota gerak dan kecacatan pada tubuhnya. Lansia lebih rentan mengalami stroke dikarenakan penurunan fungsi tubuh. Pasien pasca stroke di Ruang Rawat Jalan Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi lebih dari separuh memiliki usia lansia (Hayulita et al., 2015). Penelitian Munir et al., (2016) adanya pengaruh yang signifikan antara usia dengan depresi pada pasien post stroke infark bahwa sampel dengan usia 60 tahun atau lebih akan memiliki peluang besar mengalami depresi. Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil distribusi data pasien pasca stroke dengan frekuensi lama menderita paling banyak pada kelompok lama menderita 0 12 bulan yaitu 11 orang (32,4%). Pada penelitian Hayulita et al., (2015) didapatkan lebih dari separuh (67,3%) pasien pasca stroke lama menderita stroke 6 bulan di Ruang Rawat Jalan Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi. Lama menderita akan menyebabkan pasien semakin putus asa terhadap penyakitnya dan merasa tidak berdaya. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 menunjukkan pasien pasca stroke berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan 18 responden lebih banyak dibandingkan laki laki berjumlah 16 responden. Penelitian Bariroh et al., (2016) untuk jenis kelamin kualitas hidup lebih rendah ada pada kelompok laki laki dibandingkan perempuan. Untuk jenis kelamin dan lama menderita tidak ada pengaruh yang signifikan dengan depresi post stroke infark (Munir et al., 2016). Hasil distribusi data berdasarkan pendidikan pada tabel 4 menunjukkan pasien pasca stroke paling banyak adalah SMA sejumlah 11 orang (32,4%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Hayulita et al., (2015) separuh pasien memiliki tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah, SD, SLTA, SMA) dikarenakan biaya yang tidak banyak untuk pendidikan dan jarak sekolah yang ditempuh sangat jauh. Penelitian Bariroh et al., (2016) bahwa nilai kualitas hidup yang rendah pada tingkat pendidikan terdapat pada responden yang tidak bersekolah karena kurangnya pengetahuan yang didapat. 10 Berdasarkan tabel 5 didapatkan hasil distribusi data berdasarkan pekerjaan pasien pasca stroke paling banyak adalah tidak bekerja sebanyak 19 orang (55,9%). Penelitian Parasari et al., (2015) menunjukkan adanya perbedaan tingkat depresi yang signifikan pada lansia dengan sumber finansial berasal dari diri sendiri lebih tinggi daripada dari anak dan suami. Penelitian Bariroh et al., (2016) menunjukkan kualitas hidup yang rendah terdapat pada responden yang tidak bekerja. Penelitian Karunia (2016), pekerjaan menjadi salah satu faktor risiko yang secara tidak langsung mempengaruhi kejadian stroke, sedangkan dalam penelitian ini kebanyakan pasien tidak bekerja. Hasil distribusi data berdasarkan keluarga yang mendampingi pada tabel 6 didapatkan paling banyak adalah suami sebanyak 13 orang (38,2%). Penelitian Fahrizal et al., (2016) baiknya dukungan keluarga dalam merawat pasien dilihat dari peran keluarga mencari informasi cara perawatan pasien seperti menyediakan kebutuhan pasien, pengobatan, keluarga yang memperhatikan dan mendengar keluh kesah pasien. Tabel 7 hasil distribusi data berdasarkan tinggal dengan keluarga inti paling banyak 33 orang (97,1%). Penelitian Parasari et al., (2015) menyatakan tingkat depresi pada lansia dengan status pasangannya yang telah meninggal lebih tinggi daripada lansia yang status pasangannya masih hidup. Berdasarkan tabel 8 didapatkan pasien pasca stroke paling banyak yaitu stroke iskemik sejumlah 33 orang (97,1%). Penelitian Bariroh et al., (2016) kualitas hidup menurun pada responden dengan jenis stroke non hemoragik hal ini berkaitan dengan tingkat kecacatan dan keparahan. Keluarga memainkan peran yang bersifat mendukung selama masa penyembuhan dan pemulihan. Dukungan yang diberikan keluarga besarnya tidak sama satu dengan lainnya (Wurtiningsih, 2012). Hasil distribusi data tabel 9 menunjukkan dukungan dengan nilai baik sebanyak 18 orang (52,9%). Diibaratkan dukungan keluarga adalah proses yang selalu terjadi sepanjang hidup dengan jenis dan sifat yang 11 berbeda beda di setiap tahap kehidupan. Dukungan paling efektif yang dilakukan keluarga adalah membantu penderita apabila mengalami kesulitan dalam melakukan suatu hal dan dapat mengurangi depresi pada penderita (Karunia, 2016). Berdasarkan tabel 10 didapatkan hasil distribusi data berdasarkan tingkat depresi dengan normal sebanyak 18 orang, ringan sebanyak 13 orang, sedang sebanyak 3 orang, dan berat sebanyak 0 orang. Penelitian Kristyaningsih (2011), didapatkan tingkat depresi pada lansia hampir seluruhnya tidak ada depresi sebanyak 76 responden dari 96 responden. Berdasarkan tujuan penelitian ini, untuk mencari korelasi hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien pasca stroke terdapat hubungan yang signifikan antara keduanya (p = 0,006). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Parasari et al., (2015) menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan tingkat depresi pada lansia di Kelurahan Sading (p = 0,000; p 0,05.) Dukungan sosial semakin tinggi maka kecenderungan tingkat depresi semakin rendah. Dukungan keluarga termasuk bentuk terapi agar terhindar dari depresi dan dapat menjalankan hidupnya dengan baik. Kepedulian anggota keluarga yang kurang dapat menyebabkan pasien merasa tidak dihargai atas tindakannya dan mudah mengalami depresi (Dani et al., 2014). Hasil analisis data menunjukkan terdapat hubungan antara umur, tinggal dengan keluarga inti, jenis stroke, dan tingkat depresi, namun tidak terdapat hubungan antara lama menderita, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, keluarga yang mendampingi, dan dukungan keluarga. Penelitian ini masih banyak ditemukan kekurangan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Peneliti hanya mewawancarai pasien pasca stroke. Hal ini dikarenakan peneliti ingin melihat dukungan dari keluarga yang diterima oleh pasien pasca stroke dan tingkat depresi pada pasien pasca stroke. Faktor faktor lain yang tidak dikendalikan peneliti 12 misalnya analisis multivariat, pengetahuan, penyakit penyerta lain, dan kemampuan fungsional. 4. PENUTUP Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien pasca stroke di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Bagi keluarga di harapkan untuk memberikan dukungan, kepedulian, dan kesabaran terhadap pasien agar menghindari pasien mengalami depresi. Bagi rumah sakit untuk memberikan informasi tentang depresi dan dukungan keluarga kepada pasien pasca stroke dan keluarga agar mengantisipasi terjadinya depresi serta memberikan dukungan optimal pada pasien pasca stroke. Bagi penelitian selanjutnya di harapkan dapat memasukkan variabel variabel yang diteliti lebih spesifik misalnya penyakit pe
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks