GAMBARAN STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK TUNAGRAHITA USIA TAHUN DI SLB NEGERI WIDIASIH KECAMATAN PARI KABUPATEN PANGANDARAN TAHUN

Please download to get full document.

View again

of 7
201 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
GAMBARAN STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK TUNAGRAHITA USIA TAHUN DI SLB NEGERI WIDIASIH KECAMATAN PARI KABUPATEN PANGANDARAN TAHUN Rudi Triyanto 1 Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Document Share
Document Transcript
GAMBARAN STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK TUNAGRAHITA USIA TAHUN DI SLB NEGERI WIDIASIH KECAMATAN PARI KABUPATEN PANGANDARAN TAHUN Rudi Triyanto 1 Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya address: Abstrak Masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering untuk penderita tunagrahita adalah penyakit jaringan gusi (periodontal), gigi berlubang dan gigi tidak beraturan (malokluksi). Kelainan ini juga ditambah dengan kesulitan anak untuk dapat menjaga kesehatan gigi mulutnya secara mandiri dan kurang aktifnya otot mulut untuk mendapatkan pembersihan alamiah gigi yang baik. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Rancangan penelitian deskriptif merupakan rancangan penelitian yang sederhana berupa sampling survey dan merupakan rancangan penelitian noneksperimental (Budiarto, 2004). Populasi penelitian adalah anak tunagrahita yang ada di SLBN Widiasih Parigi Kab. Pangandaran dengan jumlah 133 siswa. Sampel yang digunakan sebanyak 27 orang. Hasil penelitian menunjukkan Indeks kebersihan gigi dan mulut () pada anak tunagrahita ringan dan tunagrahita sedang usia tahun di SLB Negeri widiasih Parigi Kabupaten Pangandaran rata-rata dari 27 sampel penelitian berada diantara rentang 0-1,2 dengan kriteria baik sebanyak 4 orang (14,81%), berada diantara rentang 1,3-3,0 dengan kriteria sedang sebanyak 19 orang (73,37%), berada diantara rentang 3,1-6,0 sebanyak 4 orang (14,81%). Hasil penelitian ini membuktikan terdapat gambaran status kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita ringan dan anak tunagrahita sedang di SLB Widiasih Parigi Kabupaten Pangandaran, dengan hasil pemeriksaan yang mencapai 70% anak yang memiliki keterbelakangan mental khususnya anak tunagrahita ringan dan sedang memiliki kriteria kebersihan sedang. Kesimpulan gambaran kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita di SLBN widiasih kecamatan parigi kabupaten pangandaran memiliki nilai sedang yang berarti anak tunagrahita tersebut masih mampu melakukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan baik yang diakibatkan oleh pola asuh orang tua yang maksimal dalam mendidik anak tunagrahita sejak usia dini. Kata kunci: Status Kebersihan gigi dan mulut, Tunagrahita. 24 PENDAHULUAN Tujuan pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 diantaranya Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemenkes R.I., (2012), juga menyatakan pula bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu aspek penting dalam mencapai tujuan pembangunan nasional disegala bidang. Pembangunan kualitas sumber daya manusia diperlukan peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan kesejahteraan manusia dan pembentukan moral yang baik sehingga dapat menunjang tercapainya tujuan pembangunan nasional. UUD Kesehatan dan Kesehatan Jiwa Tahun 2009, menyatakan bahwa setiap kegiatan dalam upaya memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondriskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumberdaya manusia Indonesia. UUD tersebut menyatakan pula pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berdasarkan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama. Depkes RI tahun 2003, Menyatakan bahwa hidup sehat merupakan kebutuhan dan tuntutan yang semakin meningkat, walaupun pada kenyataannya derajat kesehatan masyarakat Indonesia masih belum sesuai dengan harapan. Hal tersebut didukung oleh Depkes RI 2009, dalam Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, menetapkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UUD tentang Kesehatan, 2009). Kesehatan yang perlu diperhatikan selain kesehatan tubuh secara umum, juga kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan (Kusumawardani, 2011). Menjaga kesehatan gigi adalah sendi utama menjaga kesehatan secara umum terutama kesehatan alat pencernaan (Mu nis, 2004). Kesehatan mulut penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh secara umum dan sangat mempengaruhi kualitas kehidupan, termasuk fungsi bicara, pengunyahan dan rasa percaya diri. Gangguan kesehatan mulut akan berdampak pada kinerja seseorang (Putri,dkk, 2012). Faktor yang mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut yaitu adanya penumpukan sisa-sisa makanan, plak, kalkulus, material alba dan stain pada permukaan gigi geligi (Caranza, 2002, Cit. Diska Mahardika,2011). Menjaga kesehatan gigi dan mulut yaitu dengan cara menggosok gigi secara teratur 2 (dua) kali sehari pagi sesudah makan dan malam sebelum tidur. Pencegahan dengan cara tersebut akan membebaskan gigi dan mulut dari sisa makanan dan kumar yang merusak. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut harus dilakukan pada semua kelompok, baik dari kelompok anak usia sekolah dasar, pra sekolah maupun pada anakanak yang menyandang status keterbelakangan mental. Suwelo dkk, Cit Mc. Donald (1974) dan Brown (1976) serta ahli yang lain, menyatakan bahwa pada anak cacat mental / keterbelakangan mental memiliki kebersihan mulut yang kurang. Menurut Syafri Ahmad Salim M (2006) dalam penelitian skripsinya menyatakan bahwa secara umum, pasien anak tunagrahita memiliki kesehatan mulut dan oral hygiene yang jelek dibandingkan dengan anak normal. Pasien anak tunagrahita bisa memperoleh perawatan gigi, tetapi mereka dalam menerima tindakan-tindakan khusus seperti anastesi lokal dan instrumen-instrumen berkecepatan tinggi tergantung tingkat pemahaman dan usia mereka. Pernyataan tersebut didukung pula oleh Diska Mahardiyanti tahun (2012) menyatakan bahwa sehubungan dengan semakin meningkatnya usia, meningkat pula masalah kesehatan gigi dan mulut penderita tunagrahita yang disebabkan oleh tunagrahita, sehingga kebutuhan akan perawatan gigi dan mulut semakin meningkat sejalan dengan usianya. Indikator kesehatan gigi dan mulut masyarakat, baik melalui wawancara yang dilakukan terhadap semua kelompok umur maupun melalui pemeriksaan gigi dan mulut, dari sebanyak 25,3% penduduk jawa barat mengalami masalah gigi dan mulut dan sebanyak 33,1% nya menerima perawatan dari 25 tenaga medis, terdapat 13 dari 25 kabupaten/kota di Jawa barat yang mempunyai prevalensi teringgi ditemukan di kabupaten Garut (36,7%), sedangkan terendah di kabupaten Kuningan (13%) dan prevalensi masalah gigi dan mulut di kab. Tasikmalaya mencapai (31,7%) (Depkes RI, 2010). WHO merekomendasikan usia untuk pemeriksaan kesehatan rongga mulut, yaitu usia 12 sampai 18 tahun. Usia tersebut direkomendasikan sebagai usia untuk pemeriksaan karena gigi tetap yang menjadi indeks telah bertumbuh seutuhnya (Depkes RI, 2010). Masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering untuk penderita tunagrahita adalah penyakit jaringan gusi (periodontal), gigi berlubang dan gigi tidak beraturan (malokluksi). Kelainan ini juga ditambah dengan kesulitan anak untuk dapat menjaga kesehatan gigi mulutnya secara mandiri dan kurang aktifnya otot mulut untuk mendapatkan pembersihan alamiah gigi yang baik (Maulani,dkk,2005). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Diska mahardika di SDLB Negeri Patrang pada bulan Desember 2010 sampai Juni 2011 pada anak penderita tunagrahita menggambarkan kebersihan gigi dan mulut didapatkan sampel sebanyak 15 anak menunjukkan prosentase tertinggi terdapat pada kriteria klinis sedang yaitu sebesar 60%, sedangkan yang mempunyai kriteria klinis baik sebesar 40%. Bardasarkan permasalah diatas penulis mengadakan riset yang berjudul Gambaran status kesehatan gigi dan mulut pada anak tunagrahita usia tahun di SLBN Widiasih kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran?. BAHAN DAN METODE Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Rancangan penelitian deskriptif merupakan rancangan penelitian yang sederhana berupa sampling survey dan merupakan rancangan penelitian noneksperimental (Budiarto, 2004). Populasi penelitian adalah anak tunagrahita yang ada di SLBN Widiasih Parigi Kab. Pangandaran dengan jumlah 133 siswa. Sampel yang digunakan sebanyak 27 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu purposive sample atau sampel diambil menurut ketentuan tertentu dari seluruh siswa di SLBN Widiasih Parigi Kab. Pangandaran yang berjumlah 27 orang, dengan kriteria sebagai berikut : a. Anak tunagrahita sedang. b. Anak tungrahita ringan. c. Bersedia menjadi reponden. d. Usia tahun. Alat yang dipakai dalam penelitian adalah sebagai berikut: diagnostic set (sonde, eksavator, pinset, kaca mulut), Nier beiken, gelas kumur, alat tulis, ember. Bahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah kapas, cotton roll dan alcohol, masker, handschoen. Penelitian ini akan dilaksanakan pada tanggal 06 april 2015 selama 1 (satu) hari. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran status kesehatan gigi dan mulut pada anak tunagrahita di SLBN Widiasih Parigi Kab. Pangandaran. Penelitian dilakukan sebanyak satu kali dalam satu waktu. Adapun pelaksaan penelitiaannya sebagai berikut: a. Melaksanakan kalibrasi dengan guru SLB b. Melaksanakan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut tentang cara menyikat gigi yang baik dan benar c. Melakukan pemeriksaan dan dilanjutkan dengan sikat gigi masal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status kesehatan gigi dan mulut () pada anak tunagrahita di SLBN Widiasih Parigi Kabupaten Pangandaran. Analisa data yang digunakan dalam penelitian menggunakan tabel frekuensi terhadap variabel dari hasil penelitian. HASIL Tabel 1. distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin No. Jenis Frekuensi Persentase kelamin 1 Laki-laki 12 44,5 2 Perempuan 15 55,5 Jumlah Tabel diatas menunjukan menunjukan sampel yang diperiksa berjenis kelamin laki-laki sebanyak 15 orang dengan persentase 55,5% dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 12 orang dengan persentase 44,5% pada siswa 26 tunagrahita usia tahun di SLBN Widiasih Parigi Kabupaten Pangandaran. Tabel 2. Gambaran sampel penelitian berdasarkan umur No. Golongan Jumlah % umur orang 1 12 tahun 5 18, tahun 2 7, tahun 6 22, tahun 5 18, tahun 4 14, tahun 1 3, tahun 4 14,8 Total Tabel diatas menunjukkan bahwa sampel yang diperiksa umur 12 tahun sebanyak 5 orang dengan persentase 18,5%, umur 13 tahun sebanyak 2 orang dengan persentase 7,5%, umur 14 tahun sebanyak 6 orangdengan persentase 22,22 %, umur 15 tahun sebanyak 5 orang dengan persentase 18,5%, umur 16 tahun sebanyak 4 orang dengan persentase 14,8%, umur 17 tahun sebanyak 1 orang dengan persentase 3,7%, umur 18 tahun sebanyak 4 orang sebanyak 14,8%. Tabel 3. distribusi frekuensi berdasarkan kriteria tunagrahita No tunagrahita Jumlah orang Persentase (%) 1 Tunagrahita 22 81,48 Ringan 2 Tunagrahita 5 18,52 Sedang Total % Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa penelitian dilakukan pada anak tunagrahita ringan sebanyak 22 orang dengan jumlah persentase 81,48 dan pada anak tunagrahita sedang sebanyak 5 orang dengan jumlah persentase 18.52%. Tabel 4. distribusi frekuensi hasil pengukuran sampel penelitian pada kelompok umur tahun. No Skor Jumlah % 1 Baik 0-1,2 4 14,81 2 Sedang 1,3-3, ,37 3 Buruk 3,0-6,0 4 14,81 Jumlah Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukkan bahwa tingkat kebersihan gigi dan mulut pada kelompok usia tahun, kriteria baik sebanyak 4 orang (14,81%), kriteria OHI- S sedang sebanyak 19 orang (73,37%), kriteria buruk sebanyak 4 orang (14,81%). Tabel 5. distribusi frekuensi hasil pengukuran sampel penelitian pada anak tunagrahita ringan No Skor Jumlah % 1 Baik 0-1,2 4 18,18 2 Sedang 1,3-3, ,64 3 Buruk 3,0-6,0 4 18,18 Jumlah Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa tingkat kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita ringan, kriteria baik sebanyak 4 orang (18,18%), kriteria sedang sebanyak 14 orang (63,64%), kriteria buruk sebanyak 4 orang (18,18%). Tabel 6. distribusi frekuensi hasil pengukuran sampel penelitian pada anak tunagrahita sedang No Skor Jumlah % 1 Baik 0-1, Sedang 1,3-3, Buruk 3,0-6, Jumlah Berdasarkan tabel 6 diatas menunjukkan bahwa tingkat kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita sedang, kriteria baik sebanyak 0 orang (0%), kriteria sedang sebanyak 5 orang (100%), kriteria buruk sebanyak 0 orang (0%). Tabel 7. Rata-rata hasil pengukuran sampel penelitian pada anak tunagrahita ringan dan anak tunagrahita sedang Rata- Rata Indeks Jumlah Orang Nilai Sedang Tabel 7 menunjukkan bahwa rata-rata hasil pengukuran pada anak tunagrahita ringan dan tunagrahita sedang sebesar 2.15 dengan kriteria sedang. PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada siswa tunagrahita usia tahun dari mulai SD kelas 6 sampai SMA kelas 3 SLB widiasih kecamatan parigi kabupaten pangandaran dengan sampel penelitian sebanyak 27 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu purposive sample atau sampel diambil menurut ketentuan tertentu dari seluruh siswa di SLBN Widiasih Parigi Kab. Pangandaran yang berjumlah 27 orang dengan kriteria sebagai berikut : 1). Anak tunagrahita sedang 2). Anak tungrahita ringan 3). Bersedia menjadi reponden 4). Usia tahun. Penelitian ini dilakukan selama 1 (satu) hari yaitu pada tanggal 26 februari Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran status kesehatan gigi dan mulut pada anak tunagrahita ringan dan anak tunagrahita sedang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SLB Negeri widiasih kecamatan parigi kabupaten pangandaran untuk mengoptimalkan kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita perlu dilakukan upaya kebersihan gigi dan mulut secara menyeluruh. Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti bahwa pada SLB Negeri Widiasih kecamatan parigi kabupaten pangandaran didapatkan nilai 3,04 artinya tiap siswa ratarata mempunyai pengalaman karies 4 gigi sulung, dan rata-rata indeks DMF-T berjumlah 4,51 artinya tiap siswa rata-rata mempunyai pengalaman karies 4 gigi tetap. Indeks kebersihan gigi dan mulut () pada anak tunagrahita ringan dan tunagrahita sedang usia tahun di SLB Negeri widiasih Parigi Kabupaten Pangandaran ratarata dari 27 sampel penelitian berada diantara rentang 0-1,2 dengan kriteria baik sebanyak 4 orang (14,81%), berada diantara rentang 1,3-3,0 dengan kriteria sedang sebanyak 19 orang (73,37%), berada diantara rentang 3,1-6,0 sebanyak 4 orang (14,81%). Hasil penelitian ini membuktikan terdapat gambaran status kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita ringan dan anak tunagrahita sedang di SLB Widiasih Parigi Kabupaten Pangandaran, dengan hasil pemeriksaan yang mencapai 70% anak yang memiliki keterbelakangan mental khususnya anak tunagrahita ringan dan sedang memiliki kriteria kebersihan sedang. Analisa hasil data tingkat kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita ringan dan anak tunagrahita sedang dapat digambarkan bahwa anak yang memiliki keterbelakangan mental memiliki kebersihan gigi dan mulut sedang yang diakibatkan oleh beberapa faktor misalnya pola asuh dari orang tua anak tunagrahita yang menunjukan keberhasilan orang tua dalam menanamkan kemandirian pada anak tunagrahita serta dalam mendidik anak tunagrahita sejak usia dini menjaga kesehatan gigi dan mulut nya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Diska mahardika di SDLB Negeri Patrang pada bulan Desember 2010 sampai Juni 2011 pada anak penderita tunagrahita menggambarkan kebersihan gigi dan mulut didapatkan sampel sebanyak 15 anak menunjukkan prosentase tertinggi terdapat pada kriteria klinis sedang yaitu sebesar 28 60%, sedangkan yang mempunyai kriteria klinis baik sebesar 40%. Keadaan itu disebabkan oleh beberapa faktor misalnya keberhasilan orang tua dalam mendidik anak tunagrahita untuk mampu membersihkan keadaan gigi dan mulut. Perawatan sejak awal dari dokter gigi dan perawatan sehari-hari di rumah dapat memungkinkan individu pada anak tunagrahita dapat merasakan manfaat mulut yang bersih dan sehat. Menurut penelitian Hardiani dkk (2012) menyatakan bahwa pola asuh orang tua merupakan faktor penentu perkembangan kemandirian. Kemandirian memiliki pengaruh terhadap kemampuan anak dalam menjaga kebersihan dirinya. Edukasi kesehatan gigi dan mulut serta pelayanan kesehatan gigi sangat mempengaruhi kebersihan rongga mulut anak. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai gambaran status kesehatan gigi dan mulut dengan keterbelakangan mental pada anak tunagrahita usia tahun di SLBN Widiasih Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Secara umum, status kesehatan anak tunagrahita memiliki kondisi yang kurang baik di bandingkan dengan anak normal seperti penyakit jaringan gusi (periodontitis), gigi tidak berarturan, lambatnya pertumbuhan gigi, gigi berlubang yang mencapai 4 gigi sulung dan 4 gigi tetap dan hypersaliva (kelebihan air liur). 2. Gambaran kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita di SLBN widiasih kecamatan parigi kabupaten pangandaran memiliki nilai sedang yang berarti anak tunagrahita tersebut masih mampu melakukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan baik yang diakibatkan oleh pola asuh orang tua yang maksimal dalam mendidik anak tunagrahita sejak usia dini. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, A. Supriyono, W Psikologi Belajar. Rineka Cipta: Jakarta. Hal Assova, Status Kesehatan. [online], tersedia:http://assova.blogspot.com/2012/1 2/statuskesehatan_8352.html.[25 januari 2015] Astati, karakteristik dan pendidikan anak tunadaksa dan anak tunalaras. Universitas Pendidikan Indonesia.[online], tersedia: ND._LUAR_BIASA/ A STATI/Karakteristik_Pend_ATD- ATL.pdf, [ 29 januari 2015]. Bahar, A Paradigma Baru Pencegahan Karies Gigi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta. Hal : Baihaqi, dan Sugiarmin Memahami dan Membantu Anak ADHD. Refika Aditama : Bandung. Hal 2. Budiarto, E Metode Penelitian Kedokteran. EGC : Jakarta. Cammini, M. 2012, Pendidikan Seregrasi, Universitas Pendidikan Indonesia.[online], tersedia : file.upi.edu/direktori/fip/jur._pend.../ Pendidikan_Segregasi.pdf, [23 januari 2015]. Caranza Cit Mahardika, D Gambaran Kebersihan Mulut dan Karies Gigi pada Anak Penderita Down Syndrome Di SDLB Negeri Patrang dan Slb Bintoro Jember. Skripsi: Universitas Jember, [online]. [5 februari 2015]. Departemen kesehatan RI, 2003.Model Pendayagunaan Dokter Gigi dan Perawat Gigi Di Sekolah. Depkes RI : Jakarta..., Sistem Kesehatan Nasional. Depkes. R.I:Jakarta...., Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKERDAS) Provinsi Jawa Barat Tahun 2007, [online], tersedia: http;//terbitan.litbang.depkes.go.id/penerb itan/index.php. [13 januari 2015] Hardiani, Karina A. Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Kebersihan Rongga Mulut Anak Reterdasi Mental di SLB-C Yayasan Taman 29 Pendidikan dan Asuan Jember.[online] tersedia:http://repository.unej.ac.id/bitstre am/handle/ /2138/karina Anggi Hardiani _01.pdf, [ 04 juni 2015]. Herijulianti,E Pendidikan Kesehatan Gigi. Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Hal : Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia,2015. Undang-Undang Kesehatan dan Kesehatan Jiwa. Pustaka Mahardika : yogyakarta. Houwink, B. dkk. 1993, Ilmu Kedokteran Gigi Geligi. Gajah Mada University Pers : Yogyakarta. Kementrian Kesehatan R.I., Undang-Undang RI no 36 tahun 2009 tentang kesehatan, Badan Pengembangan, dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Kemenkes R.I : Jakarta. KusumaWardani, E., Buruknya Kesehatan Gigi dan Mulut. Siklus : Yogyakarta. Mahardika, D Gambaran Kebersihan Mulut dan Karies Gigi pada Anak Penderita Down Syndrome Di SDLB Negeri Patrang dan Slb Bintoro Jember. Skripsi: Universitas Jember, [online]. [5 februari 2015]. Maulani, Ch., Enterprise, J Kiat Merawat Gigi Anak. PT Elex Media Komputindo: Jakarta. Hal Mettovaara H.L Cynical Hostility As A Determinant Of Toothbrushing Frequency And Oral Hygiene. Journal Of Clinical Periodontology. 33. Hal : Mu nis, A., Pengobatan Cara Nabi. Kalam Mulia : Jakar
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks