G A Y A P EN G A SU H A N ORAN G TUA AUTHORITATIVE DAPAT M EN U M BU H KAN MOTIF BE R P R E S T A S I PA D A DIRIIS E L F A N A K DAN REM A JA

Please download to get full document.

View again

of 6
11 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
G A Y A P EN G A SU H A N ORAN G TUA AUTHORITATIVE DAPAT M EN U M BU H KAN MOTIF BE R P R E S T A S I PA D A DIRIIS E L F A N A K DAN REM A JA Oleh: HM. Engkos Kosasih Abstrak Perolehan tinggi rendah Nilai
Document Share
Document Transcript
G A Y A P EN G A SU H A N ORAN G TUA AUTHORITATIVE DAPAT M EN U M BU H KAN MOTIF BE R P R E S T A S I PA D A DIRIIS E L F A N A K DAN REM A JA Oleh: HM. Engkos Kosasih Abstrak Perolehan tinggi rendah Nilai ujian Nasional (NUN) siswa SMA/remaja, dipengaruhi, diantaranya, oleh faktor internal siswa, dalam hal ini adalah faktor motivasional yaitu faktor motivasi berprestasi. Adanya motivasi berprestasi pada diriis e lf anak dan remaja, dikarenakan adanya motif berprestasi pada derajat yang tinggi dalam diri/se/f-nya. Motif berprestasi, atau kebutuhan berprestasi (N - Ach), adalah suatu keinginan untuk menjadi unggul dengan derajat tinggi, yang tefdapat pada dm lself anak dan remaja. Bagaimana terbentuk dan meningkatkan motif berprestasi pada diriis e lf anak dan remaja, artikel ini mencoba memaparkannya. Kata Kunci: Motivasi Berprestasi, Motif Berprestasi/Kebutuhan berprestasi (N-Ach), Anak dan Remaja. A Latar Belakang Dalam sistem pendidikan nasional, Pasal 1 ayat 3 Undang Undang Dasar Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa Keseluruhan komponen pendidikan saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional . Pendidikan nasioana! bertujuan untuk Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis bertanggung jawab (uu RI. No.20, tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003:7). Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional seperti tersebut diatas, maka sisw a harus diperhatikan secara utuh, yaitu memperhatikan faktor internal yang ada pada diri/se/f-nya, diantaranya adalah faktor motivasional yang antara lain yaitu motif berprestasi. Pendidikan sebagai suatu proses tentu memerlukan evaluasi, model evaluasi yang telah dilakukan dikenal dengan istilah UAN (Ujian Akhir Nasonal), S K Menteri Pendidikan Nasional Nomor 153/U/2003/ 14 Oktober Terdapat perbedaan tinggi rendah perolehan Nilai Ujian Nasional siswa SMA/remaja. Dalam dalam hal ini adalah siswa SMA/remaja yang lulus dengan perolehan Nilai Ujian Nasional (NUN) lebih dari standar yang ditetapkan pada Ujian Akhir Nasional (UAN), dapat dikatakan mereka adalah remaja yang dapat menunjukan prestasi dalam hal belajarnya. Prestasi belajar menurut Sumadi Suryabrata, (1982), dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal siswa Motivasi berprestasi adalah faktor internal siswa, dengan demikian maka siswa SMA/remaja dengan perolehan Nilai Ujian Nasional (NUN) seperti tersebut diatas, dikarenakan salah satunya adalah, karena mereka memiliki motivasi berprestasi dalam diri/se/f-nya. Adanya motivasi berprestasi, pada diri/se/f remaja, seperti dijelaskan McClelland, (1976), bahwa adanya motivasi berprestasi dalam diri seseorang, dikarenakan adanya motif berprestasi atau kebutuhan berprestasi yang tinggi dalam dirinya. Dengan demikian maka dapatlah dikatakan, bahwa siswa/remaja dengan perolehan Nilai Ujian Nasional lebih dari standar UAN, salah satunya adalah dikarenakan mereka memiliki motivasi berprestasi, adanya motivasi berprestasi pada diri/se/f siswa SMA/remaja tersebut, adalah dikarenakan mereka memiliki motif berprestasi atau kebutuhan berprestasi yang tinggi dalam diri/ se/f-nya. Keadaan demikian tentu saja akan berbeda dengan siswa SMA/remaja yang dikarenakan kepemilikan derajat motif berprestasi atau kebutuhan berprestasi dalam diri se/f-nya rendah. Motif berprestasi, atau kebutuhan berprestasi (N-Ach), terbentuk melalui proses belajar, McClelland, (1963; 1976). Proses belajar dimulai dari sejak kanak-kanak, yaitu interaksi dengan orang tua dalam keluarga. Perlakuan orang tua ketika berinteraksi dengan anaknya disebut gaya pengasuhan orang tua (sfy/es of parenting), Baumrind, (1971;1987). McClelland, (1964) menjelaskan bahwa orang tua yang ramah, mendorong anak mereka, tidak mendominasi dan tidak otoriter terhadap anak mereka, merupakan kondisi yang memungkinkan untuk menumbuhkan motif berpretasi pada anak. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa adanya motif berprestasi atau kebutuhan berprestasi pada diri/se/f anak dan remaja adalah tumbuh melalui pengasuhan orang tua yang authoritative. B. Motif Berprestasi Konsep tentang motif berprestasi diperkenalkan dan dipopulerkan pertama kali oleh David McClelland melalui hasil penelitiannya dengan istilah N-Ach, yang merupakan singkatan dari need for achievement. Penelitian McClelland tersebut, bertitik tolak dari pertanyaan, mengapa suatu bangsa lebih maju dari bangsa lainnya?, mengapa suatu bangsa dalam kurun waktu tertentu lebih maju dibandingkan dengan kurun waktu lainnya? Hasil penelitian McClelland menunjukan bahwa kemajuan tersebut disebabkan karena adanya semacam 'virus mental sebagaimana dikemukakan oleh Weiner (1966;20), yaitu...'a certain way of thinking that was relatively are but which, when it occurred in an individual, tended to make him behave in a peculiarly energetic way . Virus mental yang ada pada suatu bangsa atau perorangan itu disebut need for achievement yang lazim disebut 'motif berprestasi. McClelland berpendapat bahwa motif berprestasilah yang membuat para industriawan dan pelaku bisnis lainnya menjadi lebih kompetitif bekeija dan lebih tekun. Motif berprestasi atau kebutuhan berprestsi (N-Ach), merupakan suatu kebutuhan dalam diri seseorang, untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik, efektif dan efisien dalam menyelesaikan masalah atau menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan kemajuan kariernya, dengan tujuan untuk berprestasi dan bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain motif ini merupakan kebutuhan untuk mencapai sukses, yang diukur berdasarkan standar kesempurnaan dalam diri seseorang. Kebutuhan ini berhubungan erat dengan pekeijaan, dan mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi tertentu, yaitu bagaimana mencapai tujuan tersebut, hambatan apa saja yang kemungkinan terjadi, bagaimana mengantisipasi hambatan yang mungkin terjadi. C. Gaya Pengasuhan Orang Tua Gaya pengasuhan orang tua memberikan pengaruh yang nyata terhadap perkembangan anak dan remaja. Thornburg, (1982:146), menjelaskan sebagai berikut; because the family particidarly roles of parents is the basic source of information, chief supplier of needs, and primary interpreter of acceptable social behaviors, the child commonly adopts the attitudes and values of his or her parents. Baumrind, (1971 ;1987), the classic research of Baumrind has delineated three primary styles of parenting, the authoritarian, the permissive and the authoritative, each style approachs the issue of control in the family in a different way, and each has been demonstrated to have significant, predictable effects an adolescent feelings and behavior. Berdasarkan konsep di atas, maka gaya pengasuhan orang tua merupakan gaya perlakuan orang tua ketika berinteraksi dengan anak yang mencakup tiga gaya pengasuhan yaitu; authoritarian, permissive & authoritative. Ketiga gaya pengasuhan tersebut memiliki ciri khasnya sendiri, dan masing-masing memberikan efek yang berbeda terhadap perilaku anak/remaja. Gaya pengasuhan orang tua yang dimaksud dalam hal ini adalah gaya pengasuhan orang tua authoritative. Orang tua yang authoritative, mempunyai hubungan yang dekat dengan ank/remaja, menerapkan peraturan secara rasional, mendorong anak untuk ikut terlibat dalam membuat peraturan dan melaksanakan peraturan dengan penuh kesadaran. Orang tua peka terhadap kebutuhan dan permasalahan anak/remaja, mengarahkan anak untuk bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya. Orang tua memiliki seperangkat standar perilaku untuk mengembangkan kemampuan dan memenuhi kebutuhan anak/remaja, memberi kesempatan pada anak/remaja untuk mengatur diri dan mengambil keputusan, mengarahkan anak untuk berpikir rasional dalam bersikap dan bertindak, mengkomunikasikan segala sesuatu dalam penerapan disiplin, menggunakan wewenang dengan membuimbing anak kearah kesadaran hak dan tanggung jawab. D. Kesimpulan Terjadinya Motivasi berprestasi dalam diriisetf anak dan remaja, dikarenakan adanya motif berprestasi atau kebutuhan berprestasi yang tinggi dalam diri/se/f-nya. Motif berprestasi pada diri/se/f remaja, adalah tumbuh melalui interaksi orang tua - anak, dengan perlakuan orang tua yang authoritative, ketika berinteraksi dengan anak dan remaja. Dengan demikian maka para orang tua di rumah, diharapkan dapat melakukan dan meningkatkan praktek pengasuhan yang authoritative terhadap putra - putrinya, dengan tujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan motif berpprestasi atau kebutuhan berprestasi pada dirt/se/f putra putrinya. Demikian juga dengan para guru di sekolah, guru yang dimaksud dalam hal ini, adalah guru yang memiliki hubungan sosial yang baik ketika berinteraksi dengan siswa, juga memiliki kepekaan terhadap permasalahan dan kebutuhan sisw a dalam hal aktivitas belajar siswanya. Hal demikian dapat menumbuhkan dan meningkatkan motif berprestasi atau kebutuhan berprestasi pada diri/se/f siswanya, yang pada akhirnya dengan meningkatnya motif berprestasi pada diri/se/f siswa, maka teijadi proses motivasi berprestasi dalam diri/se/f-nya. Untuk itu maka para orang tua dan para guru dipandang perlu untuk memahami tentang, anak dan remaja, motif berprestasi; bagaimana menumbuhkan dan meningkatkannya? Motivasi berprestasi; dan bagaimana mekanismenya. Pemahaman teersebut diatad, dapat diperoleh para orang tua dan para guru melalui seminar dan lokakarya. E. DAFTAR PUSTAKA Clark Barbara. (1988). Growing Up Gifted, Third Edition, Merrill Publishing Company. Journal of Cross Cultural Psychology, Vol 30, no. 3, May, 1999, Sage Publication, Inc. Markus, Hazel Rose, Shinobu kitayama, 1991, Culture and The Self: Implication for Cognition, Emotion, and Motivation, Psychological Review, Vol 98 no. 2, , The American Psychological Assocation, Inc. Margie K. Kitano and Darrell F. Kirby (1986). Gifted Education, New Mexico University: Little, Browen and company Boston/Toronto. Matsumoto, David, 2000, Culture and Psychology, secon Edition, Wadsworth. McClelland, David C. 1953, The Achievement Motive, New York. Applenton Cetury. Crofts. McClelland, David C. 1953, The Achieving, D. Van Hastrad C o inc. Prinston Freeman. Inc. McClelland, David C. (1953). The Achievement Motive, New York Applenton Cetury. Crofts. McClelland, David C. (1953). The Achieving, D. Van Hastrad Co inc. Prinston Freeman. Perino. Sheila C. (1981). Parenting The Gifted, R.R. Bowker Company. Pikiran Rakyat (Jum at, 17 Januari 2003), Terpancing Akibat Globalisasi Degradasi Moral di Masa Krisis, Retrieved Mei 1, 2004 from the wold wide web: htto://www/dikiranrakyat.com/cetak/0103/17/080? htm Santrok, John W. (2003). Adolescence, New York : McGrow-Hill Companies, Inc. Steinberg Laurence. (1993). Adolescence, Third Edition, McGraw-Hill Inc.
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks