Fithri Sylviana Anggraini¹, Farida Titik². ¹Akuntansi, Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Telkom

Please download to get full document.

View again

of 28
167 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org) Tugas Akhir ANALISIS PENGARUH GROSS PROFIT MARGIN, TOTAL ASSET TURNOVER, DEBT RATIO DAN CURRENT RATIO TERHADAP RETURN ON EQUITY (PENELITIAN PADA PERUSAHAAN RETAIL
Document Share
Document Transcript
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org) Tugas Akhir ANALISIS PENGARUH GROSS PROFIT MARGIN, TOTAL ASSET TURNOVER, DEBT RATIO DAN CURRENT RATIO TERHADAP RETURN ON EQUITY (PENELITIAN PADA PERUSAHAAN RETAIL TRADE YANG LISTING DI BEI PERIODE ) Fithri Sylviana Anggraini¹, Farida Titik² ¹Akuntansi,, Universitas Telkom Abstrak ABSTRAK Evaluasi kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan rasio keuangan. Hal ini sangat diperlukan pemimpin perusahaan atau manajemen untuk dijadikan sebagai alat pengambilan keputusan lebih lanjut untuk masa yang akan datang. Perusahaan yang menghasilkan laba yang semakin meningkat tentu menjadi daya tarik bagi investor karena dengan laba perusahaan yang semakin tinggi makan tingkat pengembalian (return) yang diperoleh para investor juga semakin tinggi. Alat pengukur kinerja perusahaan yang paling popular diantara para penanam modal dan manajer senior adalah Return On Equity (ROE). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Gross Profit Margin, Total Asset Turnover, Debt Ratio, Current Ratio terhadap Return On Equity secara parsial dan simultan serta mengetahui gambaran umum dari masing-masing rasio keuangan tersebut. Penelitian ini dikategorikan sebagai jenis penelitian deskriptif verifikatif bersifat kausalitas. Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan retail trade yang listing di Bursa Efek Indonesia periode dengan sampel yang dipilih berdasarkan purposive sampling sebanyak 7 perusahaan. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder, yaitu laporan keuangan tahunan Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan tingkat signifikansi 5% yang sudah memenuhi syarat pengujian asumsi klasik. Gross Profit Margin, Total Asset Turnover, Debt Ratio, Current Ratio dan Return On Equity tahun berfluktuatif. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa hanya Total Asset Turnover, Debt Ratio dan Current Ratio memiliki pengaruh signifikan terhadap Return On Equity. Sedangkan secara simultan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh dari Gross Profit Margin, Total Asset Turnover, Debt Ratio dan Current Ratio terhadap Return On Equity pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode dengan nilai koefisien determinasi sebesar 46,1%. Keywords: return on equity, gross profit margin, total asset turnover, debt ratio dan current ratio. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Bursa Efek Indonesia merupakan bursa saham yang dapat memberikan peluang investasi dan sumber pembiayaan dalam upaya mendukung pembangunan ekonomi nasional. Bursa Efek Indonesia berperan juga dalam upaya mengembangkan pemodal lokal yang besar dan solid untuk menciptakan pasar modal Indonesia yang stabil. Secara historis, pasar modal telah hadir sejak jaman Kolonial Belanda. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC. Secara resmi, pasar modal di Indonesia telah berdiri sejak 14 Desember 1912 dikenal dengan Vereniging voor de Effectenhandel, bertempat di Jakarta. Dikarenakan perkembangan yang memuaskan, pemerintah kolonial Belanda kemudian mendirikan bursa efek di kota Surabaya (11 Januari 1925) dan Semarang (1 Agustus 1925). Pergolakan politik dunia menyebabkan penutupan ketiga bursa efek tersebut. Pada tahun 1952, bursa efek kembali dibuka dengan memperdagangkan saham dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaanperusahaan Belanda sebelum perang dunia. Kegiatan bursa efek kemudian terhenti lagi ketika pemerintah meluncurkan program nasionalis pada tahun Pada tanggal 10 Agustus 1977, bursa efek kembali dibuka oleh Presiden RI dan ditandai dengan listingnya PT. Semen Cibinong. Setelah ditetapkannya UU No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, bursa efek di Indonesia semakin stabil. Tahun 2007, bursa efek di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan, yaitu mergernya kedua pasar modal di Indonesia. Pada tanggal 1 1 Oktober 2007, Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya berhasil melaksanakan merger dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) secara legal dibawah pengawasan dan koordinasi Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Bursa hasil merger tersebut memulai operasional pertama pada tanggal 3 Desember Perkembangan perdagangan di Bursa Efek Indonesia dicerminkan dalam suatu indeks yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk seluruh perusahaan terbuka dan tercatat. Walaupun terdapat sebuah indeks yang mencerminkan keseluruhan market trend, BEI juga memiliki enam indeks lainnya. Indeks-indeks tersebut adalah indeks individual, indeks sektoral, indeks papan utama dan papan pengembang, indeks LQ45, Jakarta Islamic Index (JII) dan yang terbaru adalah Kompas 100. Seluruh perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia juga dikelompokkan berdasarkan industri/usaha yang dimilikinya. Sektorsektor tersebut adalah pertanian, pertambangan, industri dasar dan kimia, aneka industri, industri barang konsumsi, properti dan real estate, transformasi dan infrastruktur, keuangan, perdagangan, jasa dan investasi. Dalam penelitian ini, sampel yang dipilih adalah perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan retail trade karena sektor ini semakin berkembang pesat di Indonesia. Kuatnya pertumbuhan perekonomian, besarnya jumlah populasi (keempat terbesar dunia dan terus tumbuh), meningkatnya pendapatan perkapita dan pengembangan berkelanjutan yang terorganisir pada infrastruktur perusahaan ritel merupakan faktor kunci dibalik proyeksi pertumbuhan substansial penjualan sektor ritel. Di tahun 2011 dan 2012, industri ritel modern di Indonesia diperkirakan tumbuh kira-kira sebesar 25% setiap tahunnya. Selain itu, perubahan yang cepat pada gaya hidup masyarakat dan tren berbelanja modern juga memiliki bagian dalam menggerakkan industri ritel. Peluang 2 ini dikapitalisasi oleh para peritel di Indonesia dengan melakukan ekspansi yang agresif terhadap jaringan outlet mereka (Aprindo). 1.2 Latar Belakang Penelitian Situasi perekonomian yang tidak menentu dan sulit diramalkan tentu saja sangat besar pengaruhnya terhadap dunia usaha yang ingin tetap bertahan dan mengembangkan semaksimal mungkin usahanya. Keadaan ekonomi yang mengalami sulit seperti saat ini menuntut perusahaan agar dapat mengelola perusahaannya dengan baik dan bijaksana sehingga pertumbuhan perekonomian bangsa akan terus meningkat. Pertumbuhan perekonomian dan kemajuan teknologi serta informasi telah membuat perusahaan-perusahaan harus menghadapi persaingan yang ketat tidak hanya antar perusahaan sejenis tetapi melibatkan industri secara keseluruhan, salah satunya adalah industri ritel. Industri ritel merupakan industri yang strategis dalam kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia. Dalam konteks global, potensi pasar ritel Indonesia tergolong cukup besar. Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta dengan Gross Domestic Product (GDP) mencapai Rp 4 ribu triliun merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Dalam 6 tahun terakhir, bisnis ritel merupakan bisnis yang semakin menjamur. Keberadaan industri pasar (ritel) modern seperti minimarket, supermarket dan hypermarket memang memberikan alternatif belanja yang menarik bagi masyarakat. Selain menawarkan kenyamanan dan kualitas produk, harga yang ditawarkan pun cukup bersaing bahkan lebih murah dibanding dengan pasar tradisional. Hal ini juga didukung oleh pergeseran konsumen masyarakat dari pasar tradisional ke ritel modern dan penguatan daya beli masyarakat (www.swa.co.id). 3 Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Media Data-Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), omset penjualan industri ritel hingga Mei 2010 mencapai Rp 44 triliun dan pada akhir tahun 2010 Aprindo menyebutkan bahwa omset penjualan sebesar Rp 100 triliun. Jumlah tersebut naik dari tahun 2009 yang mencatatkan penjualan sebesar Rp 83,4 triliun. Selama tahun 2009, pertumbuhan omset ritel agak tertahan akibat terkena imbas lesunya perekonomian dunia yang menyebabkan banyak pelaku ritel berhati-hati dalam melakukan ekspansi tokonya. Pada tahun 2011 secara total omset ritel mencapai Rp 115 triliun-rp 120 triliun atau naik persen dibandingkan Walaupun sempat terkena imbas lesunya perekonomian dunia pada tahun 2009, omset penjualan ritel yang terus naik menunjukkan bahwa perkembangan bisnis ritel di Indonesia terus mengalami kemajuan. Dengan pertumbuhan yang sedemikian tinggi dan ekspektasi daya beli masyarakat yang terus naik, Aprindo semakin optimis omset industri ritel akan tumbuh 25% hingga 30% pada tahun berikutnya. Gambar 1.1 Pertumbuhan Industri Ritel di Indonesia Sumber:Aprindo-Media Data 4 Gambar 1.2 Pergerakan Indeks Sektor Perdagangan Januari 1997-Desember 2009 Sumber: Gambar 1.3 dan Gambar 1.4 Pergerakan Indeks Sektor Perdagangan Sumber: Dari keempat gambar diatas, pertumbuhan sektor perdagangan/ritel terlihat fluktuatif. Terdapat perbedaan antara grafik yang ditunjukkan oleh Asosiasi Pengusahan Retail Indonesia (Aprindo) dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut Aprindo, pertumbuhan industri ritel dari tahun 5 2006 ke tahun 2007 sudah mulai mengalami peningkatan, pertumbuhannya hanya dari 15% hingga 16%. Sedangkan pada tahun 2008 mengalami kemajuan menjadi 20%. Runtuhnya perekonomian Amerika pada tahun 2007 telah mengakibatkan terjadinya krisis moneter di Indonesia yang juga mempengaruhi industri ritel Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan industri ritel pada tahun 2009 yang mencatat penurunan sebesar 15% dibandingkan dengan tahun Namun seiring memperbaiki ekonomi global, pada tahun 2010 industri ritel Indonesia mulai menunjukkan peningkatan mendekati 15%, sama halnya pada tahun 2011 semakin mengalami peningkatan yang besar dan kembali ke tingkat pertumbuhan seperti sebelum krisis global yaitu sebesar 20%. Pada tahun 2012, pertumbuhan industri ritel diperkirakan lebih meningkat karena konsumen untuk ritel modern akan semakin bertambah (www.swa.co.id). Sedangkan menurut pergerakan indeks saham yang diterbitkan BEI, sektor perdagangan pada tahun 2007 meningkat dari tahun 2006 kemudian mengalami penurunan pada akhir tahun 2008 karena dampak krisis global. Tetapi pada tahun 2009, indeks sektor perdagangan ini terus mengalami kenaikan sampai tahun Meskipun terdapat perbedaan antara Aprindo dan BEI, yaitu Aprindo mencatat penurunan pada tahun 2008 sedangkan BEI pada tahun 2009, namun secara keseluruhan trend keduanya sama-sama menunjukkan kenaikan yang artinya sektor ritel di Indonesia tetap berkembang dan maju. Perkembangan dunia usaha ritel yang pesat, terlebih dalam menghadapi situasi perekonomian yang semakin terbuka, perusahaan juga semakin terdorong untuk meningkatkan efisiensi dan daya saingnya. Hal ini berakibat semakin ketat persaingan antara perusahaan sehingga kelangsungan hidup maupun kesempatan berkembang sangat dipengaruhi 6 oleh ketersediaan dan akses perusahaan tersebut terhadap sumber dana atau modal yang tersedia. Untuk itu setiap perusahaan dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuannya di segala bidang dengan melaksanakan efisiensi di semua fungsi manajemen baik keuangan, sumber daya manusia, produksi maupun pemasaran serta tunjangan dana yang memadai. Dalam melaksanakan fungsi manajemen keuangan, diperlukan suatu pengukuran kinerja keuangan dengan menggunakan laporan keuangan perusahaan yang dapat dijadikan sebagai prospek masa depan dan mengetahui pertumbuhan potensi perkembangan yang baik bagi perusahaan. Laporan keuangan merupakan sebuah media informasi yang mencatat dan merangkum segala aktivitas perusahaan dan digunakan untuk melaporkan keadaan dan posisi perusahaan pada pihak yang berkepentingan, terutama pada pihak kreditur, investor dan manajemen perusahaan itu sendiri. Sedangkan kinerja keuangan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan untuk mengetahui baik atau buruknya keadaan keuangan dari perusahaan tersebut yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Evaluasi kinerja keuangan dapat dilakukan dengan analisis laporan keuangan yang menggunakan rasio keuangan. Hal ini sangat diperlukan pemimpin perusahaan atau manajemen untuk dijadikan sebagai alat pengambilan keputusan lebih lanjut untuk masa yang akan datang (Arief Habib, 2008:91). Menurut Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim (2007:76), rasio-rasio yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan yaitu seperti rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Analisis rasio memungkinkan manajer keuangan dan pihak yang berkepentingan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan dapat mengetahui perkembangan finansial perusahaan mengalami kenaikan 7 atau penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Analisis rasio juga menghubungkan unsur-unsur rencana dan perhitungan laba rugi sehingga dapat menilai efektivitas dan efisiensi perusahaan. Perusahaan yang menghasilkan laba yang semakin meningkat tentu menjadi daya tarik bagi investor karena dengan laba perusahaan yang semakin tinggi maka tingkat pengembalian (return) yang diperoleh para investor juga semakin tinggi. Rasio keuangan yang mencerminkan kemampuan dari kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba adalah rasio profitabilitas. Alat pengukur kinerja perusahaan yang paling popular diantara para penanam modal dan manajer senior adalah Return On Equity (ROE) (Kwan Billy; 2005). Menurut Brigham & Houston (2010:149), ROE merupakan rasio antara laba setelah pajak (EAT) dengan total ekuitas yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas yang dimilikinya. ROE juga berarti ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian (persentase) dari modal sendiri yang ditanamkan dalam bisnis yang bersangkutan. Penanam modal lebih mengharapkan ROE yang tinggi daripada ROA karena ROA sangat berkaitan dengan hutang perusahaan yang mengandung biaya hutang (Robert Ang; 1997). Berdasarkan uraian tersebut maka ukuran kinerja perusahaan dalam penelitian ini adalah Return On Equity (ROE). Laba perusahaan dapat diukur melalui ROE karena ROE mempunyai hubungan positif dengan perubahan laba. Semakin tinggi laba perusahaan maka akan semakin tinggi ROE. Besarnya laba perusahaan juga dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba kotor atas penjualannya dan mengendalikan kegiatan usahanya secara efisien yang tercermin dalam Gross Profit Margin (GPM). Walaupun GPM merupakan margin laba kotor tetapi angka laba ini lebih terkendali oleh 8 manajer karena berhubungan langsung dengan penciptaan pendapatan (Eka Wijayanti, 2009). Aktivitas penjualan perusahaan dengan memanfaatkan total assetnya yang tercermin melalui Total Asset Turnover (TATO) juga dapat mempengaruhi besarnya laba. Sehingga dapat diambil kesimpulan bila total asset turnover naik maka akan meningkatkan ROE, tetapi tidak dapat selamanya demikian karena ada faktor biaya yang muncul dari debt ratio. DR menunjukkan komposisi dari total hutang terhadap total asset. Tinggi rendahnya DR akan mempengaruhi tingkat pencapaian ROE yang dicapai perusahaan. Profitabilitas perusahaan berkurang sebagai akibat dari penggunaan hutang yang besar sehingga dapat menyebabkan biaya yang harus ditanggung lebih besar untuk membayar seluruh kewajibannya. Selain itu, perusahaan juga harus memperhatikan kinerjanya dari sisi likuiditas. Likuiditas merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tepat pada waktunya. Kemampuan perusahaan membayar hutang jangka pendeknya sangat penting dalam menilai posisi keuangan perusahaan karena menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai aktiva yang produktif yang menjadi potensi untuk memberikan keuntungan. Untuk menilai keadaan tersebut dapat menggunakan current ratio (CR). Selama ini telah banyak penelitian tentang ROE karena ROE merupakan hal yang penting dan diperhatikan banyak pihak baik itu investor dan kreditur. Namun penelitian yang dilakukan tidak mengemukakan adanya kekonsistenan dari hasilnya. Berikut ini adalah research gap dari variabel independen yang mempengaruhi ROE: Penelitian yang dilakukan oleh Sofia Maulida dan Ikhwan Ashadi (2008) menunjukkan bahwa CR mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ROE. Sedangkan menurut Qasim Saleem dan Ramiz Ur Rehman 9 (2011) CR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE. Penelitian Sofia dan Ikhwan (2008) menunjukkan bahwa TATO secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap ROE. Sedangkan penelitian Arif dan Shalahuddin (2011) TATO tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE. Gi-Shian Su dan Hong Tam Vo (2010) menguji hubungan DR terhadap ROE yang hasilnya DR berpengaruh negatif terhadap ROE. Sedangkan menurut Demirel, Ahmet dan Atmaca (2011) DR tidak berpengaruh terhadap ROE. Penelitian Mandilas, Maditinos, Dimitriadis dan Nikolaidis (2008) menunjukkan GPM memiliki hubungan dengan ROE tetapi penelitian Ramana, Azash dan Krishnaiah (2011) menunjukkan GPM tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE. Dari uraian tersebut, terlihat bahwa rasio keuangan perusahaan yang terdaftar di BEI dalam mempengaruhi laba dengan modal sendirinya menunjukkan hal yang belum konsisten. ROE masih mengalami fluktuasi kenaikan dan penurunan sehingga perlu diadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi peningkatan ROE tersebut. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: Analisis Pengaruh Gross Profit Margin, Total Asset Turnover, Debt Ratio dan Current Ratio Terhadap Return On Equity (Penelitian pada Perusahaan Retail Trade yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode ). 1.3 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Bagaimana Gross Profit Margin, Total Asset Turnover, Debt Ratio, Current Ratio dan Return on Equity pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode ? 10 2. Apakah terdapat pengaruh signifikan secara simultan dari GPM, TATO, DR dan CR terhadap ROE pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode ? 3. Apakah terdapat pengaruh signifikan dari Gross Profit Margin (GPM) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode ? 4. Apakah terdapat pengaruh signifikan dari Total Asset Turnover (TATO) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode ? 5. Apakah terdapat pengaruh signifikan dari Debt Ratio (DR) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode ? 6. Apakah terdapat pengaruh signifikan dari Current Ratio (CR) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode ? 1.4 Tujuan Penelitian Sehubungan dengan identifikasi masalah dan penjelasan diatas, penulis mengemukakan tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui Gross Profit Margin, Total Asset Turnover, Debt Ratio, Current Ratio dan Return on Equity pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh signifikan dari secara simultan GPM, TATO, DR dan CR terhadap ROE pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh signifikan dari Gross Profit Margin (GPM) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode 4. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh signifikan dari Total Asset Turnover (TATO) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh signifikan dari Debt Ratio (DR) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh signifikan dari Current Ratio (CR) terhadap Return On Equity (ROE) pada perusahaan retail trade yang listing di BEI periode Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pihak-pihak yang berkepentingan, antara lain: Aspek Teoritis 1. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai perusahaan sektor perdagangan serta m
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks