FAKULTAS SYARI AH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY DARUSSALAM - BANDA ACEH 2017 M / 1438 H

Please download to get full document.

View again

of 86
138 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
JUAL BELI PRODUK MAKANAN TANPA PENCANTUMAN BATAS LAYAK KONSUMSI MENURUT HUKUM ISLAM (Studi Kasus Pada Sentra Penjualan Kue Tradisional di Desa Lampisang) SKRIPSI Diajukan Oleh: NUR AINA FAKHRINA Mahasiswi
Document Share
Document Transcript
JUAL BELI PRODUK MAKANAN TANPA PENCANTUMAN BATAS LAYAK KONSUMSI MENURUT HUKUM ISLAM (Studi Kasus Pada Sentra Penjualan Kue Tradisional di Desa Lampisang) SKRIPSI Diajukan Oleh: NUR AINA FAKHRINA Mahasiswi Fakultas Syari ah dan Hukum Prodi Hukum Ekonomi Syariah NIM : FAKULTAS SYARI AH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY DARUSSALAM - BANDA ACEH 2017 M / 1438 H ii iii v ABSTRAK Nama : Nur Aina Fakhrina Nim : Fakultas/Prodi : Syari ah dan Hukum/Hukum Ekonomi Syari ah Judul : Jual Beli Produk Makanan Tanpa Pencantuman Batas Layak Konsumsi Menurut Hukum Islam (Studi Kasus Pada Sentra Penjualan Kue Tradisional di Desa Lampisang) Tanggal Munaqasyah : 28 Juli 2017 Tebal Skripsi : 70 halaman Pembimbing I : Dr. EMK. Alidar, S.Ag., M.Hum Pembimbing II : Mumtazinur, S.IP,. MA Kata Kunci : Makanan Kemasan, Batas Layak Konsumsi, Hukum Islam. Kebutuhan akan pangan merupakan kebutuhan primer atau kebutuhan pokok bagi setiap lapisan masyarakat. Hal itulah yang memicu para pengusaha untuk memproduksi makanan. Tidak hanya industri makanan yang sudah besar akan tetapi industri rumahan pun ikut andil dalam memproduksi makanan kemasan. Setiap produksi yang dilakukan memiliki aturan-aturan tertentu, namun masih banyak ditemukan produk-produk yang belum memenuhi syarat izin edar produk kemasan berupa pencantuman informasi tentang batas layak konsumsi suatu produk. Peneliti bertujuan untuk mencari jawaban atas permasalahan pokok yaitu apa faktor yang menyebabkan produsen makanan tidak mencantumkan label batas layak konsumsi, bagaimana pertanggungjawaban produsen terhadap produk makanan tanpa pencantuman batas layak konsumsi dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktek jual beli produk makanan tanpa pencantuman batas layak konsumsi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan hasil-hasil yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Data-data diperoleh dari hasil mewawancarai beberapa pedagang dan juga produsen pada sentra penjualan kue tradisional di desa Lampisang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tidak dicantumkan batas layak konsumsi pada kemasan produk kue tersebut karena penjual selalu melakukan pengawasan pada kue setiap hari, minimnya pengetahuan produsen tentang pentingnya pencantuman batas layak konsumsi, produsen beranggapan bahwa mencantumkan batas layak konsumsi harus melewati proses yang panjang dan menghabiskan banyak biaya, produsen yakin produk mereka tidak berbahaya karena tidak menggunakan bahan pengawet serta diolah secara tradisional. Pertanggungjawaban yang ditawarkan apabila ada keluhan pada produk yang dijual ialah menggantinya dengan produk yang baru atau mengembalikan uang seharga produk yang dikeluhkan. Menurut pandangan hukum Islam praktek jual beli pada sentra penjualan kue tradisioanal tersebut sah karena telah memenuhi syarat dalam jual beli, namun untuk kemaslahatan hendaknya mencantumkan batas layak konsumsi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa para produsen belum paham tentang pentingnya pencantuman batas layak konsumsi pada produk makanan kemasan. Menurut hukum Islam, jual beli pada sentra penjualan kue tradisional di desa Lampisang tidak menyalahi hukum Islam, namun untuk kemaslahatan bersama hendaknya dicantumkan batas layak konsumsi sesuai dengan peraturan yang berlaku. KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan Alhamdulillah beserta syukur kepada Allah SWT. Karena dengan berkat, taufiq, syafa at, inayah dan hidayah-nya lah penulis teah dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini sebagaimana mestinya. Shalawat beriring salam tidak lupa penulis sanjung sajikan ke pangkuan junjungan alam Nabi Muhammad SAW. beserta para sahabatnya, karena berkat jasa beliaulah kita dibawa ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Penulisan karya ilmiah ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Fakultas Syari ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. oleh karena itu, penulis memilih judul Jual Beli Produk Makanan Tanpa Pencantuman Batas Layak Konsumsi Menurut Hukum Islam (Studi Kasus Pada Sentra Penjualan Kue Tradisional di Desa Lampisang). Pada kesempatan ini penulis dengan segala kerendahan hati mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak Dr. EMK. Alidar, S.Ag., M.Hum sebagai pembimbing I dan Ibu Mumtazinur, S.IP., MA sebagai pembimbing II, dimana pada saat-saat kesibukannya sebagai dosen di Fakultas Syari ah dan Hukum senantiasa menyempatkan diri untuk memberikan bimbingan dan pengarahan, sehingga skripsi ini dapat dirampungkan pada waktunya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dekan Fakultas Syari ah dan Hukum Bapak Dr. Khairuddin, S.Ag., M.Ag., beserta stafnya. Bapak Dr. Bismi Khalidin, M.Si selaku ketua Prodi Hukum Ekonomi Syari ah, kepada Sekretaris Prodi vi Hukum Ekonomi Syari ah Bapak Edi Darmawijaya M.Ag dan penasehat akademik Bapak Rahmat Effendi Al Amin Siregar, MH yang selalu membantu serta memberikan kemudahan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dan juga studi sejak awal hingga akhir semester. Serta kepada para dosen dan seluruh karyawan/wati yang ada di lingkungan Fakultas Syari ah dan Hukum UIN Ar-Raniry yang telah mengajar dan membantu penulis hingga dapat menyelesaikan semua urusan perkuliahan. Rasa terima kasih dan penghargaan terbesar penulis hantarkan kepada ayahanda M. Dja far Ibrahim dan ibunda Sabriah Ramli, yang telah membesarkan penulis dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang tiada henti, yang selalu memberikan dukungan dan doa dari awal perkuliahan hingga akhir. Serta rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anggota keluarga lainnya Nur Dina Mustaqima, S.Pd, Nashrullah, S.Pd, Fakhrizal Fahmi, S.Hi, Fadhila Rahatika dan juga adik Aisyah Nabila Asy Syafa yang telah memberikan dukungan dan motivasi hingga penulis tetap semangat dalam menyelesaikan perkuliahan. Terima kasih yang setulusnya penulis ucapkan kepada sahabat-sahabat seperjuangan M.Aulia, Zahrul Aini, Desi Astuti, Ratna Dewi, Wan Satria Adilla, Rifainur, Siti Wilda zakaria, Nurmasyitah, Riska Aida Arni, Irfandi, Rahmad Rezky Fahrozi, Yusparmeen, Haris Sarja, Rahayu Fitria dan teman-teman unit tujuh serta teman-teman angkatan 2012 lainnya atas kebersamaan dan motivasi dari awal hingga sekarang. Meskipun banyak bantuan dari pihak lain, bukan berarti skripsi ini dianggap telah sempurna, sebaliknya skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari vii kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dihargai demi kesempurnaan skripsi ini. Tiada harapan yang paling mulia selain permohonan penulis kepada Allah SWT. agar setiap kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis dibalas oleh Allah SWT. dengan kebaikan, ganjaran, dan pahala yang setimpal. Akhirnya kepada Allah SWT. jualah penulis menyerahkan diri, hanya kepada Allah SWT. penulis berharap agar dapat bermanfaat hendaknya. Banda Aceh, 12 Juli 2017 Penulis Nur Aina Fakhrina NIM viii TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K Nomor: 158 Tahun 1987 Nomor: 0543 b/u/ Konsonan No Arab Latin Ket No Arab Latin Ket 1 ا Tidak dilamban gkan 16 ط ṭ 2 ب b 17 ظ ẓ 3 ت t 18 ع 4 ث ṡ s dengan titik di atasnya 19 غ g 5 ج j 20 ف f 6 ح ḥ h dengan titik di bawahnya 21 ق q 7 خ kh 22 ك k 8 د d 23 ل l 9 ذ ż z dengan titik di atasnya 24 م m 10 ر r 25 ن n 11 ز z 26 و w 12 س s 27 ه h 13 ش sy 28 ء 14 ص ṣ s dengan titik di bawahnya 29 ي y 15 ض ḍ d dengan titik di bawahnya t dengan titik di bawahnya z dengan titik di bawahnya 2. Vokal Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. a. Vokal Tunggal Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harkat, transliterasinya sebagai berikut: ix Tanda Nama Huruf Latin Fatḥah a Kasrah i Dammah u b. Vokal Rangkap Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat dan huruf, transliterasinya gabungan huruf, yaitu: Tanda dan Huruf Nama Gabungan Huruf Fatḥah dan ya ai ي Fatḥah dan wau au و Contoh: : haula ھول : kaifa كیف 3. Maddah Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu: Harkat dan Huruf Nama Huruf dan tanda Fatḥah dan alif atau ya ā ا/ي Kasrah dan ya ī ي Dammah dan waw ū ي Contoh: قال : qāla رمى : ramā قیل : qīla یقول : yaqūlu x (ة) 4. Ta Marbutah Transliterasi untuk ta marbutah ada dua: a. Ta marbutah (ة) hidup Ta marbutah ( (ة yang hidup atau mendapat harkat fatḥah, kasrah dan dammah, transliterasinya adalah t. b. Ta marbutah (ة) mati Ta marbutah ( (ة yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah h. c. Kalau pada suatu kata yang akhir katanya ta marbutah (ة) diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al, serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta marbutah (ة) itu ditransliterasikan dengan h. Contoh: روضة الاطفال المدینة المنورة طلحة : rauḍah al-aṭfāl/ rauḍatul aṭfāl : al-madīnah al-munawwarah/ al-madīnatul Munawwarah : ṭalḥah Catatan: Modifikasi 1. Nama orang berkebangsaan Indonesia ditulis seperti biasa tanpa transliterasi, seperti M. Syuhudi Ismail. Sedangkan nama-nama lainnya ditulis sesuai kaidah penerjemahan. Contoh: Hamad Ibn Sulaiman. 2. Nama negara dan kota ditulis menurut ejaan bahasa Indonesia, seperti Mesir, bukan Misr; Beirut, bukan Bayrut; dan sebagainya. 3. Kata-kata yang sudah dipakai (serapan) dalam kamus bahasa Indonesia tidak ditransliterasikan. Contoh: Tasauf, bukan Tasawuf. xi DAFTAR ISI LEMBARAN JUDUL... i PENGESAHAN PEMBIMBING... ii PENGESAHAN SIDANG... iii PERNYATAAN KEASLIAN... iv ABSTRAK... v KATA PENGANTAR... vi TRANSLITERASI... ix DAFTAR LAMPIRAN... xii DAFTAR ISI... xiii BAB SATU: PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Penjelasan Istilah Kajian Pustaka Metode Penelitian Sistematika Pembahasan BAB DUA: BAB TIGA: KONSEP MAKANAN YANG BOLEH DIPERDAGANGKAN DAN LANDASAN HUKUM KADALUARSA Konsep Makanan Syarat-Syarat Produk Makanan yang Dapat Diperdagangkan Gambaran Umum Mashlahah Mursalah dalam Fiqh Pengertian dan Landasan Hukum Penetapan Kadaluarsa JUAL BELI PRODUK MAKANAN TRADISIONAL TANPA PENCANTUMAN BATAS LAYAK KONSUMSI DAN PANDANGAN HUKUM ISLAM Gambaran Umum Sentra Penjualan Kue Tradisional di Desa Lampisang Faktor-Faktor Produsen Tidak Mencantumkan Batas Layak Konsumsi Pada Produk Makanan Tradisional Pertanggungjawaban Produsen Terhadap Produk Makanan Tanpa Pencantuman Batas Layak Konsumsi Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktek Jual Beli Produk Makanan Tradisional Tanpa Pencantuman Batas Layak Konsumsi di Desa Lampisang BAB EMPAT: PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR KEPUSTAKAAN RIWAYAT HIDUP PENULIS LAMPIRAN xiii BAB SATU PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebutuhan akan pangan merupakan kebutuhan primer atau kebutuhan pokok bagi setiap lapisan masyarakat disamping kebutuhan sandang dan papan. Makanan mempunyai peranan yang sangat luas dalam kehidupan, karena manusia membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Makanan yang masuk kedalam tubuh akan diproses, dan salah satu hasilnya adalah energi. Energi sangat dibutuhkan tubuh untuk dapat menunjang segala aktifitas yang dilakukan. Hal itulah yang memicu para pengusaha untuk memproduksi makanan. Para pengusaha berusaha memanfaatkan peluang ini untuk membuka berbagai macam usaha produksi olahan makanan. Makanan yang diperdagangkan juga tidak hanya berupa makanan utama, melainkan juga makanan-makanan ringan. Pada era globalisasi dan modern saat ini banyak industri makanan dan minuman tumbuh dan berkembang. Salah satu faktor penting yang memberi dukungan besar terhadap perkembangan produksi makanan olahan adalah perkembangan teknologi yang semakin maju. Tidak heran jika semakin hari semakin banyak produk-produk makanan siap saji dan awet diproduksi. Hal ini tentu menjadi nilai lebih dimata masyarakat karena dipengaruhi keinginan hidup praktis dan mudah. Namun bukan berarti produk-produk siap saji tersebut dapat dikatakan jauh dari kemungkinan-kemungkinan dan resiko-resiko berbahaya dikemudian hari. 1 2 Selain para pengusaha besar, para pengusaha kecil juga ikut serta dalam dunia usaha. Salah satu industri yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman adalah home industry. Tumbuh kembangnya home industry ini memberikan kontribusi bagi pengembangan ekonomi masyarakat kecil dan menengah. Setiap produksi yang dilakukan memiliki aturan-aturan tertentu, baik produksi dalam skala kecil atau besar yang bertujuan untuk diedarkan pada masyarakat. Terkait dengan proses produksi, dalam perspektif Islam prinsip yang perlu diperhatikan dalam proses produksi adalah sebagai berikut: pertama, dilarang memproduksi dan memperdagangkan komoditas yang tercela karena bertentangan dengan syariah. Kedua, dilarang melakukan kegiatan produksi yang mengarah pada kezaliman. 1 Dalam perspektif ekonomi Islam, pelaku produksi tidak hanya menyandarkan pada kondisi permintaan pasar melainkan juga berdasarkan pertimbangan kemaslahatan. 2 Selain dalam hukum Islam, negara juga telah mengatur hal tersebut dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 Tentang Pangan. Menurut undang-undang tersebut, pada pasal 97 Ayat 1 dijelaskan bahwa setiap orang yang memproduksi atau menghasilkan pangan yang dikemas kedalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label didalam, dan atau dikemasan pangan. 3 Oleh karena itu, sebagai pelaku usaha yang baik, dalam memproduksi jenis makanan yang tahan dalam jangka waktu lama yang dikemas dalam kemasan seharusnya mencantumkan label pada setiap poduk makanan yang dihasilkan. 1 Rustam Efendi, Produksi Dalam Islam, (Yogyakarta: Magistra Insania Press, 2003), hlm Mustafa Edwin Nasution.,dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007) hlm Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. 3 Pencantuman label pada kemasan pangan ditulis atau dicetak dengan menggunakan bahasa Indonesia serta memuat keterangan sedikitnya berisikan mengenai pangan yang bersangkutan, yang sekurang-kurangnya memuat nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat para pihak yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia, halal bagi yang dipersyaratkan, tanggal dan kode produksi, tanggal, bulan dan tahun kadaluarsanya, nomor izin edar bagi pangan olahan, dan asal usul pangan bahan pangan tertentu. 4 Pencantuman label pada produk tersebut akan membuat konsumen yang membeli produk makanan tidak merasa khawatir dan ragu terhadap makanan yang akan dibeli karena konsumen telah mendapatkan informasi yang jelas mengenai produk yang dibelinya. Kualitas suatu produk dapat menurun karena perjalanan waktu, sehingga untuk produk tertentu, khususnya makanan, ditentukan masa kadaluarsanya. Islam memerintahkan setiap manusia untuk bekerja sepanjang hidupnya. Islam membagi waktu menjadi dua, yaitu beribadah dan mencari kerja. 5 Islam memandang aktivitas ekonomi secara positif. Semakin banyak manusia terlibat dalam aktivitas ekonomi maka semakin baik, sepanjang tujuan dan prosesnya sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan agar manusia berbuat adil dalam memberikan takaran, menimbang dengan benar dan tidak merugikan orang lain. Islam telah mengatur bagaimana prinsip-prinsip dalam jual beli. Pada dasarnya segala jenis jual beli 4 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan, Pasal 97 ayat 3. Diakses melalui situs: https://staff.ugm.ac.id/atur/uu pangan.pdf pada tanggal 19 Mei Pusat pengkajian dan pengembangan ekonomi islam, Ekonomi Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 66. 4 diperbolehkan selama jual beli tersebut tidak melanggar aturan-aturan yang telah diatur didalam Islam. Menurut Imam Asy-Syatibi, kemaslahatan dapat terealisasikan dengan lima unsur pokok, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. 6 Islam juga mengajarkan untuk mengkonsumsi makanan yang baik dan halal. Menjual makanan yang tidak menetapkan batas kadaluarsa dan apabila saat dikonsumsi makanan tersebut sudah mengandung bakteri, maka hal seperti itu sangat dilarang didalam Islam, karena dapat mendatangkan kemudaratan kepada konsumen yang membeli dan mengkonsumsi makanan tersebut. Kualitas produk bukan hanya merupakan suatu syarat untuk mencapai kesuksesan dalam bisnis. Adanya masyarakat pelanggan yang fanatik terhadap suatu produk dikarenakan terbuktinya kualitas suatu komoditas tertentu. Termasuk kedalam jaminan kualitas adalah pengemasan dan pemberian label pada kemasan yang sesuai dengan kenyataan produk tersebut. Pemberian label ini misalnya meliputi kehalalan suatu produk, kadaluarsa, bahan-bahan asal, dan lain-lain. Selain itu, Islam juga memerintahkan umat muslim untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik. Makanan halal adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam dan pengelolaannya dilakukan sesuai dengan hukum Islam. Sedangkan produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali atau mengubah bentuk pangan. 7 6 Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 110 5 Saat ini, praktek home industry banyak dilakukan oleh masyarakat, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah. Hal ini dilakukan untuk menambah pemasukan ekonomi mereka. Salah satu daerah yang melakukan praktek kegiatan home industry ini adalah warga desa Lampisang, kabupaten Aceh Besar. Warga desa Lampisang memanfaatkan keberadaan objek wisata Rumoh Cut Nyak Dhien yang ada di desa mereka. Objek wisata tersebut biasanya banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Mereka memanfaatkan keberadaan wisata itu dengan cara memproduksi dan menjual produk home industry yang mereka buat berupa kuekue tradisional Aceh. Produk home industry yang telah diproduksi oleh warga tersebut kemudian dititipkan pada toko kue untuk di jual. Produk kue yang diproduksi ada berbagai macam, seperti berupa kue bhoi, dodol, karah, bungong kaye, meusekat, wajeb, ceker ayam, dan lainnya. Kue-kue yang telah diproduksi tersebut dikemas dalam kemasan plastik, kemudian diatas kemasannya dicantumkan nama produsen dan nama produk, namun tidak ada pencantuman batas konsumsi untuk kue-kue yang dapat bertahan lama. Hal ini bisa saja menimbulkan kerugian bagi konsumen yang membeli produk kue, karena mereka tidak mengetahui kapan kue tersebut masih layak atau tidak untuk dikonsumsi, dan ini juga dapat membuka peluang bagi para produsen atau penjual untuk berlaku curang. Merujuk pada hukum Islam, barang yang diperjualbelikan tidak boleh mengandung unsur gharar. Gharar adalah ketidakjelasan. Jual beli gharar adalah jual beli atau akad yang mengandung unsur penipuan karena tidak adanya kejelasan suatu barang baik dari sisi harga, kualitas, kuantitas, maupun keberadaannya. 6 Berdasarkan penjelasan di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian terkait dengan pencantuman batas layak konsumsi. Maka dari itu, penulis ingin mengangkat permasalahan tersebut sebagai skripsi dengan judul: Jual Beli Produk Makanan Tanpa Pencantuman Batas Layak Konsumsi Menurut Hukum Islam (Suatu Penelitian Pada Sentra Penjualan Kue Tradisional di Desa Lampisang) Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diutarakan beberapa hal yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut: 1. Mengapa produk makanan tradisional yang diperdagangkan di Desa Lampisang tidak mencantumkan batas layak konsumsi? 2. Bagaimana pertanggungjawaban produsen terhadap produk makanan tanpa pencantuman batas layak konsumsi? 3. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktek jual beli produk makanan tanpa pencantuman batas layak konsumsi di desa Lampisang? 1.3. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan produk makanan tradisional tidak dicantumkan batas layak konsumsi. 2. Untuk mengetahui bentuk pertanggungjawaban produsen terhadap produk makanan
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks