FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL/ KOMPLEMENTER PADA KELUARGA DENGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

Please download to get full document.

View again

of 10
15 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL/ KOMPLEMENTER PADA KELUARGA DENGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 1* Arie Kusumaningrum, 2 Hikayati, 3 Vivop Marti Lengga 1,2,3
Document Share
Document Transcript
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL/ KOMPLEMENTER PADA KELUARGA DENGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 1* Arie Kusumaningrum, 2 Hikayati, 3 Vivop Marti Lengga 1,2,3 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya * Abstrak Penyakit Tidak Menular (PTM)/Non Communicable Desease (NCDs) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar. Terdapat beberapa kecenderungan dari masyarakat dalam melakukan pengobatan dan perawatan pada pasien NCDS salah satunya adalah melakukan pengobatan tradisional dengan cara herbal dan/atau komplementer. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pengobatan tradisional dan komplementer pada keluarga dengan NCDs di Indonesia menggunakan data RISKESDAS tahun Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi yaitu data RISKESDAS2013. Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang beranggotakan pasien NCDS yang ada di Indonesia. Sampel penelitian yaitu rumah tangga yang mempunyai anggota pasien NCDS.. Kriteria inklusi yaitu: Rumah tangga mempunyai 1 atau lebih anggota keluarga penderita NCDS. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Chi-Square dengan derajat kemaknaan ( ) sebesar 5%. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jumlah responden yang menderita diabetes mellitus sebanyak (1.8%). Jumlah responden yang menderita hipertensi sebanyak (9.7%) Jumlah responden yang menderita penyakit jantung sebanyak 4067 (0,6%). Jumlah responden yang menderita stroke sebanyak 5887 (0,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik sosiodemografi (umur 39 tahun, pendidikan tinggi, dan tempat tinggal di kota) keluarga yang mempunyai anggota dengan NCDs terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan fasilitas kesehatan, jarak pelayanan kesehatan, umur, tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal dan ketersediaan fasilitas kesehatan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. Kata kunci: komplementer, terapi tradisional, pelayanan kesehatan, sosiodemografi, NCDs, penyakit tidak menular. PENDAHULUAN Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non Communicable Desease (NCDs) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar di Indonesia, hal ini ditandai dengan bergesernya pola penyakit secara epidemiologi dari penyakit menular ke NCDs yang secara global meningkat (Depkes, 2009). Terdapat beberapa kecenderungan dari masyarakat dalam melakukan pengobatan dan perawatan pada pasien NCDS salah satunya adalah melakukan pengobatan tradisional dengan cara herbal dan/atau komplementer. Berdasarakan data SUSENAS bahwa terdapat 40% penduduk Indonesia menggunakan pengobatan tradisional termasuk didalamnya pengobatan kompementer alternative. Terapi komplementer dilaksanakan dengan tindakan seperti jamu, aromaterapi, gurah, homeopati, dan spa. Pelayanan kesehatan tradisional keterampilan dengan pikiran (Hipnoterapi, Meditasi, Prana, Tenaga dalam). Pelayanan kesehatan tradisional keterampilan menggunakan alat (Akupunktur, Chiropraksi, Kop/Bekam, Apiterapi, Ceragem, Akupresur). Pelayanan kesehatan tradisional keterampilan tanpa alat (Pijat urut, Pijat - urut bayi, Patah Tulang, Refleksi). 254 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pengobatan tradisional dan komplementer pada keluarga dengan NCDs di Indonesia menggunakan data RISKESDAS tahun BAHAN DAN CARA Jenis dan desain penelitian yang digunakan dalam RISKESDAS2013 sebagai sumber data yang digunakan yaitu jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi yang digunakan penulis adalah populasi yang ada pada RISKESDAS2013. Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang beranggotakan pasien NCDS yang ada di Indonesia. Peneliti akan mengambil semua populasi studi sebagai sampel untuk penelitian ini. Sampel yang dimaksud yaitu rumah tangga yang mempunyai anggota pasien NCDS. Pengambilan sampel akan dilakukan berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti. Kriteria inklusi yang akan digunakan peneliti yaitu : Rumah tangga mempunyai 1 atau lebih anggota keluarga penderita NCDS. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari data RISKESDAS2013. Variabel yang peneliti gunakan dari data RISKESDAS2013 tersebut adalah: a) Data rumah tangga yang terdapat pasien NCDS: usia, pendidikan, riwayat pengobatan modern. b) Data pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer oleh keluarga yang terdapat pasien NCDS c) Data pelayanan kesehatan: jarak fasilitas kesehatan, ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan pada keluarga yang terdapat pasien NCDS d) Data faktor Lingkungan: kepercayaan/keyakinan/tradisi dan daerah tempat tinggal pada keluarga yang terdapat pasien NCDS e) Data sosial ekonomi pada keluarga yang terdapat pasien NCDS Pengolahan data dalam penelitian ini meliputi tahapan tabulating dan pengecekan missing data. Data diperoleh dari hasil kuesioner RISKESDAS2013. Analisis Dan Penyajian Data dilakukan secara univariat dan bivariat. Analisis univariat pada data numerik seperti variabel umur untuk mengetahui nilai mean dan standar deviasi jika data berdidtribusi normal atau nilai mediandan range jika diketahui data berdistribusi tidak normal. Pada data kategorik analisis univariat digunakan untuk mengetahui proporsi masing-masing variabel. Hasil dari analisis univariat ini akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan diinterpretasikan. Analisis bivariat ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel yaitu variabel independen dengan variabel dependen. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Chi-Square dengan derajat kemaknaan ( ) sebesar 5%. HASIL Distribusi Frekuensi Kasus NCDs (Diabetes Mellitus, Hipertensi, Penyakit Jantung, dan Stroke) Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa jumlah responden yang menderita diabetes mellitus sebanyak (1.8%) dan yang tidak menderita diabetes mellitus sebesar (98.2%). Jumlah responden yang menderita hipertensi sebanyak (9.7%) dan yang tidak menderita hipertensi sebesar (90.3%). Jumlah responden yang menderita penyakit jantung sebanyak 4067 (6%) 255 dan yang tidak menderita penyakit jantung sebesar (99.4%). Jumlah responden yang menderita stroke sebanyak 5887 (8%) dan yang tidak menderita stroke sebesar (99.2%) Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kasus Diabetes Mellitus, Hipertensi, Penyakit Jantung dan Stroke No Variabel Frekuensi Presentase Kasus Diabetes Mellitus 1 DM Tidak DM Kasus Hipertensi 1 Hipertensi Tidak Hipertensi Kasus Penyakit Jantung 1 Penyakit jantung ,6 2 Tidak Penyakit jantung Kasus Stroke 1 Stroke ,8 2 Tidak Stroke Total Hubungan Karakteristik Sosiodemografi Keluarga yang Mempunyai Anggota dengan NCDs terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Tradisional/ Komplementer a. Hubungan umur keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan Tabel 1 Hubungan umur keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/ komplementer No. Variabel Yankes tradisional Total P OR Ya Tidak value (95%CI) 1. Umur median (39 tahun) 2. Umur median (39 tahun) (50.1%) (49.9%) (52.0%) (48.0%) Total ( ) Berdasarkan tabel 2. diketahui bahwa keluarga yang berumur 39 tahun yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (50.1%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (52.0%). Keluarga yang berumur 39 tahun yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (49.9%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (48.0%). Terdapat hubungan yang signifikan antara umur keluarga pasien NCDs dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. Keluarga yang berumur 39 tahun berpeluang lebih besar (1.081) dalam menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan keluarga yang berumur 39 tahun. b. Hubungan pendidikan keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/ komplementer Tabel 2 Hubungan pendidikan keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/ komplementer No. Variabel Yankes tradisional Total P OR Ya Tidak value (95%CI) Pendidikan tinggi Pendidikan (7.3%) (6.9%) ( ) rendah (92.7%) (93.1%) Total Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa keluarga yang berpendidikan tinggi yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (7.3%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (6.9%). Keluarga yang berpendidikan rendah yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (92.7%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (93.1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan keluarga pasien NCDs dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. Keluarga yang berpendidikan rendah berpeluang lebih besar (1.063) dalam menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan keluarga yang berpendidikan tinggi. c. Hubungan daerah (kota/desa) keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan Tabel 3 Hubungan daerah (kota/desa) keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan No. Variabel Yankes tradisional Total P value OR Ya Tidak (95%CI) Kota Desa (49,6%) (44.9%) ( ) (50.4%) (55.1%) Total Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa keluarga yang berada di kota yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (49,6%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan 257 kesehatan tradisional sebesar (44.9%). Keluarga yang berada di desa yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (50.4%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (55.1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tempat tinggal keluarga pasien NCDs dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. Keluarga yang berada di desa berpeluang lebih kecil (0.828) dalam menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan keluarga yang berada di kota. Hubungan ketersediaan fasilitas kesehatan umum dan jarak fasilitas kesehatan oleh keluarga yang mempunyai anggota dengan NCDs terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. a. Hubungan ketersediaan pelayanan kesehatan umum dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan Tabel 5 Hubungan ketersediaan pelayanan kesehatan umum dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan No. Variabel Yankes tradisional Total P OR Ya Tidak value (95%CI) Ada Tidak (99.2%) (98.8%) ( ) (0.8%) (1.2%) Total Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa keluarga yang mempunyai ketersediaan pelayanan kesehatan umum yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (99.2%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (98.8%). Keluarga yang tidak mempunyai ketersediaan pelayanan kesehatan umum yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (0.8%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar 6318 (1.2%). Terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan pelayanan kesehatan umum dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. Keluarga yang mempunyai ketersediaan pelayanan kesehatan umum berpeluang lebih besar (1.513) dalam menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan keluarga yang tidak mempunyai ketersediaan pelayanan kesehatan umum. b. Hubungan jarak ke pelayanan kesehatan umum dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan Tabel 4 Hubungan jarak ke pelayanan kesehatan umum dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan No. Variabel Yankes tradisional Total P OR Ya Tidak value (95%CI) 1. Dekat (71.3%) (69.8%) (0.919- 2. Jauh ) (28.7%) (30.2%) Total Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa keluarga yang memiliki jarak yang dekat ke pelayanan kesehatan umum yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (71.3%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (69.8%). Keluarga yang memiliki jarak yang jauh ke pelayanan kesehatan umum yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebanyak (28.7%), sedangkan yang tidak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional sebesar (30.2%). Terdapat hubungan yang signifikan antara jarak ke pelayanan kesehatan umum dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. Jarak dekat ke pelayanan kesehatan umum mempunyai peluang lebih kecil (0.930) dalam menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan jarak jauh ke pelayanan kesehatan umum. PEMBAHASAN a. Kasus NCDs (Diabetes Mellitus, Hipertensi, Penyakit Jantung, dan Stroke) Prevalensi kasus NCDs saat ini semakin meningkat dan menjadi masalah kesehatan utama yang menyebabkan tingginya angka mortalitas dan morbiditas di Indonesia. Distribusi frekuensi kasus NCDs tertinggi sampai terendah dari hasil data Riskesdas (2013) adalah hipertensi, diabetes mellitus, stroke dan penyakit jantung. Hipertensi merupakan keadaan seseorang yang mengalami gangguan pembuluh darah. Hipertensi ini memiliki ciri umum berupa peningkatan tekanan darah secara kronis, atau menggunakan obat antihipertensi (Mansjoer, 2001). Hipertensi seringkali disebut sebagai silent killer. Karena perjalanan penyakit ini mematikan seseorang secara perlahan tanpa disadari gejala awal oleh penderitanya. Penderita mulai menyadarinya setelah merasakan dampak gawatnya hipertensi berupa komplikasi yang menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung, fungsi ginjal, gangguan fungsi kognitif atau bahkan stroke (Price & Wilson, 2005; Smeltzer & Bare, 2001). Kasus tertinggi kedua adalah kasus diabetes mellitus. Kasus diabetes mellitus (DM tipe 2) menjadi kasus tertinggi dan semakin meningkat tiap tahunnya karena terjadinya perubahan gaya hidup manusia yang buruk. Pada DM tipe 2 ini terjadi peningkatan kadar gula darah ditandai dengan resistensi insulin ketika hormon insulin diproduksi dengan jumlah yang tidak memadai atau dengan bentuk yang tidak efektif. Penyakit DM ini seringkali tidak disadari hingga muncul tanda dan gejala yang dirasakan oleh pasien seperti selalu lapar, selalu haus dan sering buang air kecil. Salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh hipertensi ini adalah stroke. Stroke terjadi karena penyumbatan alirah darah yang menyebabkan pembuluh darah menjadi pecah. Stroke ini juga berkaitan dengan kasus NCDs lain yaitu DM dan penyakit jantung karena berpeluang juga menyebabkan stroke. Selain stroke, hipertensi juga menjadi penyebab utama bagi penyakit jantung (Dinwiddie, 2014). Walaupun dalam data Riskesdas (2013) ini menyatakan bahwa frekuensi penyakit jantung paling rendah diantara kasus NCDs lainnya, tetapi penyakit jantung menjadi pembunuh nomor satu di dunia (WHO, 2008). 259 Dari semua kasus NCDs yang semakin meningkat prevalensinya ini, menyebabkan timbulnya alasan bagi masyarakat untuk mencari pengobatan-pengobatan yang dianggap tepat yaitu melalui pengobatan tradisional. Semakin tinggi kasus NCDs maka akan semakin banyak pelayanan kesehatan tradisional yang dicari dan digunakan oleh masyarakat, semakin berkembang pula jenis pengobatan tradisional yang beredar di tengah masyarakat. Hal ini terjadi khususnya bagi rumah tangga yang memiliki anggota keluarga yang menderita salah satu atau lebih dari penyakit NCDs ini dan melalui beberapa faktor yang mempengaruhi keluarga untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional ini. b. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi Keluarga yang Mempunyai Anggota dengan NCDs terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Tradisional/ Komplementer 1. Hubungan umur keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/ komplementer. Data Riskesdas (2013) mempunyai data umur yang bervariasi mulai dari 15 tahun sampai 128 tahun. Oleh karena sebaran datanya yang terlalu luas, variasi umur ini sulit untuk digeneralisasikan dalam 1 kategori, sehingga peneliti membuatnya menjadi 2 kategori yaitu 39 tahun dan 39 tahun sesuai dengan nilai median. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa dengan kepercayaan 95% diyakini umur mempunyai rentang dari 39,88 tahun sampai dengan 39,96 tahun. Rata-rata umur diketahui 39,92 (SD 16,19). Untuk umur 39 tahun menghasilkan data yang lebih besar melaksanakan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hal ini berhubungan dengan kasus NCDs yang semakin meningkat bukan pada umur lansia saja, melainkan telah mengintai usia dewasa (WHO, 2014). Semakin buruknya gaya hidup masyarakat saat ini, maka semakin banyak masyarakat yang mengalami masalah kesehatan sejak usia dewasa bahkan anak dan remaja. Hal ini mempengaruhi peningkatan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa keluarga dengan usia 39 tahun mempunyai berpeluang sebanyak 1,081 kali memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer dibandingkan dengan rumah tangga yang usia kepala keluarganya 39 tahun. Hal ini bisa diakibatkan karena semakin banyaknya pilihan pelayanan kesehatan tradisional sebagai alternative pengobatan dan keinginan mencoba, dan harga lebih murah. Pada usia tersebut kepala kelurga sedang membangun perekonomian dengan kebutuhan keluarga yang lebih banyak. 2. Hubungan pendidikan keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional/ komplementer Tingkat pendidikan mulai dari tidak sekolah, sekolah tetapi tidak tamat SD, tamat SD, SMP dan SMA merupakan tingkat pendidikan dengan kategori rendah. Tingkat pendidikan tinggi dimulai dari D1/D2/D3 sampai perguruan tinggi. Dari data dihasilkan bahwa tingkat pendidikan rendah pada keluarga dengan anggota yang mengalami NCDs 1.06 kali lebih besar dalam menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan tingkat pendidikan tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian Andhika (2010) yang menyebutkan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap penggunaan jasa pelayanan kesehatan. Dalam hal ini dikarenakan jasa pelayanan kesehatan secara medis relative lebih mahal dibandingkan dengan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer. 260 Pendidikan merupakan sejumlah pengalaman untuk dapat memahami sesuatu yang sebelumnya tidak dipahami. Responden dengan tingkat pendidikan yang lebih baik cenderung lebih memanfaatkan pelayanan kesehatan. Hal ini dimungkinkan karena semakin baik tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik dalam menerima dan memahami informasi baru terutama informasi kesehatan serta meningkatkan perubahan sikap dan perilaku. Pendidikan mempunyai pengaruh besar dalam pengambilan keputusan keluarga yang mempunyai anggota dengan NCDs. Seperti pada penelitian Grossman yang diperoleh dalam Putra (2010), bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi produktifitas dan efektifitas pemanfaatan kesehatan, mempengaruhi persepsi tentang alokasi kesehatan yanng terbaik bagi seseorang, dan Schultz yang diperoleh dalam Putra (2010), pendidikan meningkatkan jumlah sumber daya keluarga yang bisa dialokasikan untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Variabel pendidikan juga digunakan sebagai pendekatan penilaian pribadi terhadap status kesehatan. Semakin tingginya tingkat pendidikan, semakin tinggi pula tingkat kesadaran terhadap kesehatan. Hal ini mengakibatkan bahwa presentase pendidikan rendah sebanyak 92% memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional/komplementer dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Pendidikan selalu diselaraskan dengan pendapatan yang lebih besar sehingga pendidikan yang tinggi mempunyai kecukupan financial untuk melakukan pelayanan kesehatan secara medis. 2. Hubungan daerah (kota/desa) keluarga dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa keluarga yang bertempat tinggal di desa lebih banyak menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dibandingkan mereka yang di kota. Hal ini dapat berkaitan dengan akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan dan tingkat pendidikan dimana tingkat pendidikan tinggi lebih banyak di kota. Hal ini berdampak pada pilihan pelayanan kesehatan yang akan diterapkan oleh keluarga. Data sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar pendidikan yang
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks