EVALUASI KESIAPAN SEKOLAH JENJANG PENDIDIKAN DASAR DI JAWA TENGAH DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSABERDASARKAN KURIKULUM TAHUN PDF

Please download to get full document.

View again

of 17
57 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
EVALUASI KESIAPAN SEKOLAH JENJANG PENDIDIKAN DASAR DI JAWA TENGAH DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSABERDASARKAN KURIKULUM TAHUN 2013 Martien Herna Susanti dan Tijan 1 Abstrak: Permasalahan utama
Document Share
Document Transcript
EVALUASI KESIAPAN SEKOLAH JENJANG PENDIDIKAN DASAR DI JAWA TENGAH DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSABERDASARKAN KURIKULUM TAHUN 2013 Martien Herna Susanti dan Tijan 1 Abstrak: Permasalahan utama penelitian ini adalah (1) bagaimana kesiapan satuan pendidikan dasar di Jawa Tengah dalam melaksanakan pendidikan karakter berdasarkan kurikulum tahun 2013 dilihat dari (1) visi, misi, dan kebijakan sekolah; (2) pengembangan dokumen kurikulum danproses pembelajaran;(3)kegiatan kesiswaan (ekstrakurikuler) melalui kegiatan rutin, pembiasaan, keteladanan, dan kegiatan terprogram; dan (4) ketersediaan dan pengelolaansarana dan prasarana. Penelitian ini merupakan tahun pertama dari tiga tahun yang dirancang, bersifat evaluatif, dan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, dan Product). Tahun pertama ini dilakukan untuk menganalisis konteks dan input dengan menekankan pada objek yang menjadi komponenkomponen bagi kesiapan satuan pendidikan dasar untuk pelaksanaan pendidikan karakter bangsa. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa keseluruhan komponen yang dibutuhkan 1) visi dan misi, 2) kebijakan kelembagaan, 3) kurikulum (dokumen dan proses pembelajaran), 4) kesiswaan (kegiatan rutin, pembiasaan, keteladanan, dan terprogram), serta 5) ketersediaan dan pengelolaan sarana dan prasarana pada satuan pendidikan dasar di Provinsi Jawa Tengah untuk melaksanakan pendidikan karakter telah siap sebagaimana ditentukan pedomannya oleh pemerintah. Mengingat masih ada kendala kekurangsiapan pada kegiatan kesiswaan yang terprogram, maka direkomendasikan kepada Dinas Pendidikan Provinsi segera melaksanakan Training of Trainer (ToT) bagi pembina kesiswaan dan ekstrakurikuler satuan pendidikan dasar. Kata Kunci: Kesiapan sekolah, pendidikan karakter, kurikulum 2013 Abstract: The main problem of this study are (1) how the readiness of basic schools in Central Java in implementing character education based on curriculum 2013 seen from (1) the vision, mission, and school policies; (2) development of curriculum documents and learning process; (3) student activities (extracurricular) through routine activities, habituation, exemplary, and programmatic activities; and (4) the availability and management of facilities and infrastructure. This study is the first year of the three years that are designed, evaluative, and use the CIPP (Context, Input, Process, and Product) model. The first year was conducted to analyze the context and input of basic schools with emphasis on components of readiness for the implementation of the national character education. Based on the research results, it was concluded that all of the required components 1) vision and mission, 2) institutional policies, 3) curriculum (documents and learning process), 4) student (regular activities, habituation, exemplary, and programmed), and 5) the availability and management of facilities and infrastructure of basic schools in Central Java province for implementing character education have been ready as defined by government guidelines. Considering there are still obstacles on 1 Dosen Jurusan Politik dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 27 programmed student activities, it is recommended to the Provincial Education Department to immediately implement the Training of Trainers (ToT) for student and extracurricular advisors of basic schools. Keywords: school readiness, character education, curriculum 2013 PENDAHULUAN Berbagai krisis, terus mendera bangsa Indonesia hingga saat ini. Setidak-tidaknya terdapat empat krisis yang dihadapi bangsa Indonesia (Kusmin 2010). Pertama, krisis jatidiri, dimana masyarakat Indonesia tidak lagi mampu mengenali dirinya sebagai bangsa. Kedua, krisis ideologi. Pancasila sebagai ideologi hanya tinggalnamatidak lagi menjadi ideologi yang hidup dalam perilaku sehari-hari masyarakat Indonesia. Ketiga, krisis kepercayaan. Sikap curiga dan meremehkan orang lain banyak dipertontonkan. Sikap bandel, sulit diatur, dan menginjakinjaknormayangada menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Keempat, krisis karakter, dimana ucapan, sikap, dan perilaku masyarakat belum mencerminkan karakter bangsa. Kondisi di atas makin diperparah oleh terjadinya krisis kebudayaan. Upaya menghadapi transformasi budaya tersebut adalah dengan menguji kembali premis-premis dan nilai-nilai budaya lama dan penerimaan baru terhadap nilai-nilai yang telah ditinggalkan atau yang baru berlangsung yang masih memiliki daya guna. Strategi yang paling tepat untuk menghadapi hal tersebut adalah pendidikan. Sekolah tidak hanya mentransfer pengetahuan, melainkan menghimpun proses berpikir dengan akhlak mulia. Oleh karena itu, tepat kiranya jika diupayakan pemulihan kembali nilai-nilai yang telah diajarkan oleh para pendiri bangsa (nation character building). Saat ini pemerintah telah menetapkan kurikulum baru 2013 untuk menggantikan kurikulum Kurikulum tahun 2013 ini lebih mendasarkan pada konsep kompetensi inti sebagai integrator horisontal dimana sejumlah mata pelajaran dikurangi atau diintegrasi. Tujuan kurikulum ini adalah mencetak generasi 2045 yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Dengan pendekatan tematik integratif, kurikulum ini mengembangkan kompetensi inti sebagai integrator horizontal yang mengikat keseluruhan mata pelajaran pada jenjang pendidikan sebagai kesatuan. Karakter dimaknai sebagai temparemen, yang perdefinisi menekankan pada unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan (Koesoema 2007:79). Karakter juga bisa dipahami dalam sudut pandang behavioral yang menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki individu sejak lahir.karakter sejatinya dapat didekati dari perspektif psikologis atau kejiwaan. Menurut Hill (2002), character determines 28 someone s private thoughts and someone s actions done. Good character is the inward motivation to dowhat is right, according to the highest standard of behaviour in every situation. Karakter menentukan pikiran-pikiran dan tindakan seseorang. Karakter yang baik adalah adanya motivasi intrinsik untuk melakukan apa yang baik sesuai dengan standar perilaku yang paling tinggi di setiap situasi. Dalam kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa tahun 2010, karakter diartikan sebagai nilainilai yang khas baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku (Kemko Kesra 2010:7). Karakter berkaitan dengan keseluruhan performance seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karenanya, dalam karakter terkandung unsur moral, sikap, dan perilaku. Seseorang dikatakan berkarakter baik atau buruk, tidak cukup hanya dicermati dari ucapannya. Melalui sikap dan perbuatan riil yang mencerminkan nilai-nilai karakter tertentu, maka karakter seseorang akan dapat diketahui. Karakter adalah aspek kepribadian. Keyakinan, perasaan, dan tindakan sesungguhnya saling berkaitan, sehingga mengubah karakter sama halnya dengan melakukan reorganisasi terhadap kepribadian.lickona (1992:37) memahami karakter dalam tiga hal yang saling terkait, yaitu moral-knowing, moral-feeling, dan moral-action. Berdasarkan ketiga aspek tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang berkarakter baik adalah yang mengetahui hal yang baik (moral knowing), memiliki keinginan terhadap hal baik (moralfeeling), dan melakukan hal baik (moral action). Ketiga komponen tersebut akan mengarahkan seseorang memiliki kebiasaan berpikir, kebiasaan hati, dan kebiasaan bertindak, baik yang ditujukan kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, dan bangsa. Visualisasi dari kerangka pemikiran Lickona dapat dilihat pada bagan di samping. Pendidikan karakter bersifat komprehensif, tidak hanya menyangkut persoalan kognitif, tetapi juga mengandung muatan afektif dan psikomotorik. Anak-anak yang berkarakter baik adalah mereka yang memiliki kematangan emosi dan spiritual tinggi, sehingga dapat mengelola stresnya secara lebih baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan ketahanan fisiknya. Ketahanan fisik inilah yang ditengarai turut menyumbang pencapaian akademik seseorang. Hasil penelitian Novick, et al (2002) juga memberikan kesimpulan yang tidak berbeda dengan pandangan Megawangi, dimana pendidikan karakter bersama belajar sosial dan emosional akan membantu peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengelola tugas hidup seharihari dengan cara belajar, membangun hubungan, memecahkan masalah hidup 29 sehari-hari, dan beradaptasi dengan tuntutan pertumbuhan dan perkembangan jasmaniah dan rohaniahnya. Dari aspek filsafat manusia, pendidikan karakter merupakan suatu peluang untuk menyempurnakan kepribadian manusia.pendidikan karakter harus dipahami sebagai sebuah usaha manusia yang berkeutamaan (Hindarto 2010). Pendidikan karakter tersebut akan menciptakan pribadi manusia yang utuh dan pada gilirannya membentuk masyarakat menjadi semakin manusiawi. Sebagai bagian dari program pendidikan, pendidikan karakter dapat menciptakan makhluk baru, yaitu manusia yang berkarakter (Durkheim 1990). Pendidikan karakter bangsa memiliki fungsi yang sangat penting.kemko Kesra (2010:4) menyebutkan tiga fungsi utama pembangunan karakter bangsa.pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi.dalam fungsi ini, pembangunan karakter membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga negara Indonesia agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila.Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan.dalam hal ini, pembangunan karakter berfungsimemperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi menyaring, yaitu memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Perlu ditekankan prinsip-prinsip dasar yang dikembangkan dalam pelaksanaan pendidikan karakter di satuan pendidikan berikut ini (Eko Handoyo dan Tijan, 2010), yaitu: 1) kesesuaian. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pelaksanaan pendidikan karakter harus memiliki kesesuaian dengan visi, misi, rencana strategis, kurikulum, dan standar kompetensi, 2) konkret. Kegiatan pendidikan karakter dilakukan dalam bentuk aktivitas dan pengalaman belajar yang konkret, praktis, dan memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik, 3) proporsional. Pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan secara seimbang antara pelaksanaan pembelajaran dan pembinaan kesiswaan. Pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik tidak menafikan aktivitas pembinaan kesiswaan yang lebih berorientasi pada pengembangan kepribadian, khususnya pengembangan bakat dan minat, 4) kontekstual dan Multikonteks. Pendidikan karakter dilakukan kontekstual dan menggunakan banyak konteks. Peserta didik dihadapkan pada persoalan nyata kehidupan sehari-hari. Berbagai fenomena yang ada di lingkungan sekitar, kejadian, dan isu-isu lingkungan, sosial-budaya, dan moralitas dapat diangkat dalam kegiatan pembelajaran, budaya sekolah, dan 30 aktivitas kesiswaan, dan 5) terpadu. Pendidikan karakter dilakukan terpadu diantara nilai-nilai yang dikembangkan. Nilai-nilai religius, jujur, peduli, toleran, demokratis, santun, cerdas, tangguh, dan sebagainya tidak ditanamkan secara terpisah, tetapi secara terpadu dalam suatu kegiatan yang dikembangkan. Demikian pula, pelaksanaan pendidikan karakter bersifat terpadu dan terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran, kesiswaan, dan budaya di sekolah. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat evaluatif dan dirancang menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, dan Product) (Stufflebeam dalam Madaus 1983:117). Analisis Konteks digunakan untuk memperjelas pelaksanaan pendidikan karakter bangsa di sekolah, seperti strategi/model yang dikembangkan, tenaga pendidik dan kependidikan yang mengintegrasikan pelaksanaan pendidikan karakter bangsa, dan peserta didik. Penelitian dirancang untuk tiga tahun dan saat ini merupakan tahun pertama. Tahun pertama ini dilakukan untuk menganalisis konteks dan input dengan menekankan pada objek yang menjadi komponen-komponen bagi kesiapan satuan pendidikan dasar untuk pelaksanaan pendidikan karakter bangsa, seperti komponen perumusan visi dan misi, pembuatan kebijakan, pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran, pengelolaan guru dan pembina ekstrakurikuler, serta penyediaan sarana dan prasarana. Dalam analisis ini akan ditentukan sejauhmana kesiapan sekolah dalam pencapaian komponen-komponen pelaksanaan pendidikan karakter bangsa di satuan pendidikan dasar provinsi Jawa Tengah. Adapun visualisasi desain penelitian secara keseluruhan tersebut terurai sebagaimana pada Bagan 1 di bawah ini. 31 Context-Input-Process Product Visi, misi, dan kebijakan sekolah, dan harapan masyarakat Komitmen kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa pada PK Proses pelaksanaan pendidikan karakter bangsa secara terintegrasi 1. Akhal mulia 2. Motivasi diri siswa 3. Konteks komunitas moral Rekomendasi Penyiapan sekolah dalam melaksanakan pendidikan karakter bangsa Participant kepala sekolah, guru, karyawan, siswa Bagan 1. Desain Penelitian Kesiapan Sekolah dalam Melaksanakan Pendidikan Karakter Bangsa Populasi penelitian ini kepala sekolah dan guru. Adapun sampel penelitian ini diambil secara purposive dengan memperhatikan kewilayahan di Jawa Tengah (wilayah budaya pesisir, wilayah budaya keraton, dan wilayah budaya banyumasan), status sekolah (negeri), peringkat sekolah (SBI/RSBI, SSN, RSSN), Jenjang sekolah (SD dan SMP).Penelitian ini meliputi seluruh wilayah Jawa Tengah diambil sampel sebanyak 6 (enam) kota/kabupaten dan dari setiap kabupaten diambil 3 (tiga) sekolah SD dan SMP. Responden sampel untuk guru dan kepala SD masing-masing sebanyak 18 orang dan guru dan kepala SMP masing-masing sebanyak 18 orang. Total sampel sebanyak 72 orang. Ada limavariabel yang dikaji dalam penelitian ini. Uraian keempat variabel penelitian tersebut sebagai berikut. 1) Rumusan visi dan misi satuan pendidikan. 2) Kebijakan sekolah berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan karakter. 3) Pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa pada kurikulum dan kegiatan pembelajaran.4) Pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa pada kegiatan kesiswaan (revitalisasi kegiatan ekstrakurikuler dan peningkatan kapasitas Pembina ekstrakurikuler). 5) Pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa pada kegiatan pembiasaan dengan menciptakan budaya sekolah (kegiatan rutin, pembiasaan, keteladanan, dan terprogram). Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data pada penelitian ini bervariasi sesuai dengan variabel yang diungkap. Instrumen penelitian yang digunakan antara lain kuesioner, observasi, panduan wawancara,dan dokumentasi.pertama, kuesioner untuk menggali data yang berkenaan dengan (1) iklim pendukung pelaksanaan pendidikan karakter bangsa terutama dalam hal: (a) manajemen, program, dan regulasi sekolah yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan karakter bangsa, dan (b) komitmen kepala sekolah untuk melaksanakan 32 regulasi sekolah yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan karakter bangsa; dan (2) dampak positif pelaksanaan pendidikan karakter bangsa, yang meliputi: (a) pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa pada kegiatan pembelajaran, (b) pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa pada kegiatan kesiswaan (ekstrakurikuler), dan (c) pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa pada kegiatan pembiasaan dengan menciptakan budaya sekolah. Kedua, panduan observasi untuk menggali data yang terkait dengan:(1) iklim pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa terutama dalam hal: (a) sarana pendukung (laboratorium, perpustakaan, ruang kelas, dan sarana pendukung lainnya), (b) fasilitas yang tersedia (buku pelajaran, media pembelajaran, dan lainnya), dan (2) kegiatan pembelajaran di kelas, aktivitas/interaksi guru dan siswa di kelas, sistematika penyajian materi, metode, dan media pembelajaran yang digunakan. Ketiga, panduan wawancara untuk mendalami data yang diperoleh baik berkaitan dengan konteks, input, proses, dan produk yang melingkupi pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa.keempat, dokumentasi untuk mencermati hal yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, ekstrakurikuler, dan pembiasaan yang terkait dengan aktivitas pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter bangsa. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengikuti logika pendekatan kualitatif, yaitu melalui pengumpulan data yang bersifat kualitatif untuk disajikan dan diadakan reduksi data yang selanjutnya diambil kesimpulan. Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis interaksi yang dilakukan oleh Strauss (2007:100), yaitu menghubungkan antara kategori dengan subkategori untuk kemudian dicari pola-polanya. Adapun langkah langkah yang digunakan dalam analisis ini adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data (Sugiyono 2005:92). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Ketika penelitian ini dilakukan, sebenarnya semua sekolah pada satuan pendidikan dasar (SD dan SMP) di Jawa Tengah telah melaksanakan program pengintegrasian pendidikan karakter bangsa. Pelaksanaan pendidikan karakter ini seiring dengan pencanangan pendidikan karakter oleh Mendiknas pada Upacara Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei Pencangan pendidikan karakter secara nasional ini dilakukan setelah keluarnya kebijakan pemerintah tentang pentingnya pendidikan karakter di dunia pendidikan. Kebijakan pemerintah dimaksud adalah Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa oleh Kementerian Koordinator Kesra Tahun 2010 dan Desain Induk Pendidikan Karakter oleh Kemdiknas Tahun Kedua kebijakan ini diikuti dengan keluarnya Panduan Pendidikan Karakter 33 di Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang wajib dilaksanakan di semua satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Di wilayah Provinsi Jawa Tengah, sebenarnya Pemerintah Provinsi telah mencanangkan pendidikan karakter dua tahun lebih awal. Hal itu ditandai dengan pencanangan Pembinaan Nasionalisme melalui Jalur Pendidikan oleh Gubernur yang disaksikan oleh Mendiknas dan Kepala Lemhanas di Ngablak Magelang pada tanggal 15Oktober Untuk melaksanakan kebijakan ini, Gubernur mengeluarkan Keputusan Nomor 420/72/2010 tentang Pembentukan Tim Pembina dan Tim Teknis Pembinaan Nasionalisme Melalui Jalur Pendidikan Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Untuk mengimplementasikan Keputusan Gubernur tersebut Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan Panduan Umum dan Teknis Pembinaan Nasionalisme dan Karakter Bangsa melalui Jalur Pendidikan pada Februari Sejak itu di lingkungan Satuan Pendidikan PAUD, SD, SMP, dan SMA/SMK di setiap Kabupaten/Kota dibentuk satu sekolah Piloting pelaksana Pendidikan Nasionalisme dan Karakter Bangsa. Seiring dengan itu, untuk melaksanakan pendidikan nasionalisme dan karakter bangsa di sekolah-sekolah piloting telah disiapkan sarana dan prasarana yang mendukung tercapainya tujuan program ini. Beberapa sarana dan prasarana dasar yang dimiliki dapat dirinci sebagai berikut.pertama, kaset Lagu Perjuangan dan Tape Recorder. Setiapsekolah piloting wajib mengumandangkan lagu kebangsaan (nasional) di awal sebelum masuk dan sebelum pulang, pada hari pembiasaan sekolah, dan saat istirahat. Kedua, sarana kelas. Sekolah-sekolah piloting pada umumnya memiliki sarana kelas berupa gambar, foto, dan poster nasionalisme dan karakter bangsa. Sarana kelas tersebut antara lain: 1) bendera merah putih;2) lambang garuda pancasila;3) foto Presiden dan Wakil Presiden;4) peta Indonesia; 5) gambar pahlawan nasional; 6) buku bacaan nasionalisme; 7) media audio visual untuk pembelajaran nasionalisme dan karakter; dan 8) pesan-pesan nasionalisme (slogan, spanduk, dll). Satuan Pendidikan Dasar piloting pelaksana
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks