EVALUASI EKOTURISME DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI. (Ecotourism Evaluation in Ciremai Mountain National Park)

Please download to get full document.

View again

of 11
6 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
EVALUASI EKOTURISME DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI (Ecotourism Evaluation in Ciremai Mountain National Park) ICHWAN MUSLIH 1), TUTUT SUNARMINTO 2) DAN RICKY AVENZORA 3) 1) Program Studi Manajemen Ekowisata
Document Share
Document Transcript
EVALUASI EKOTURISME DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI (Ecotourism Evaluation in Ciremai Mountain National Park) ICHWAN MUSLIH 1), TUTUT SUNARMINTO 2) DAN RICKY AVENZORA 3) 1) Program Studi Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor 2) Bagian Manajemen Kawasan Konservasi Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB 3) Bagian Rekreasi Alam dan Ekowisata Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB Diterima 18 Februari 2011/Disetujui 21 Maret 2011 ABSTRACT As a new nature preservation area in West Java, the Gunung Ciremai National Park still need much supports to reach its optimum function; including ecotourism activities. Therefore, an ecotourism resource evaluation had been done in order to identify its ecotourism potentials. Amongst so many ecotourism objects in this area, the Elang Jawa (Spizateus bartelsi), Orchidae and the Situ Sangiang (Lake Sangiang) had the highest value for ecotourism attractions due to the criteria and indicators that were applied in the assessment. Further, in term of management perspectives, the research found that the circulation facilities in the area had become the most crucial problem for visitors to access and enjoy many ecotourism resources in the national park. Keywords: national park, ecotourism, ecotourism resources evaluation PENDAHULUAN Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan puncak tertinggi mdpl. Semenjak Tahun 2004, Gunung Ciremai ditunjuk menjadi taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.: SK.424/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung pada Kelompok Hutan Gunung Ciremai seluas ± Ha terletak di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat menjadi Taman Nasional Gunung Ciremai. Secara geografis, kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai () berada di koordinat BT BT dan LS LS, dan kawasan ini dapat diakses dari tiga wilayah kabupaten, yaitu kabupaten Kuningan, Cirebon dan Majalengka dengan infrastruktur jalan berkondisi baik. Terdapat tiga jalur pendakian yang resmi di yaitu: Jalur- Linggarjati dari Kabupaten Cirebon, Jalur Palutungan dari Kabupetan Kuningan dan Jalur Apuy dari Kabupaten Majalengka. Meskipun pada kawasan terdapat potensi ekowisata yang beragam tapi hingga saat ini pengelolaan pariwisata alam di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (B) masih jauh dari optimal; baik dalam konteks pengelolaan maupun dalam arti berbagai manfaat yang seharusnya bisa dihasilkan untuk kelestarian B. Berdasarkan pemikiran ini, maka dianggap perlu untuk melakukan evaluasi terhadap potensi sumberdaya ekowisata yang ada; yaitu agar berbagai potensi ekowisata tersebut dapat dikembangkan untuk berbagai program ekowisata unggulan dengan tingkat daya saing yang tinggi. Berdasarkan penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini : a. Memperoleh gambaran kegiatan ekowisata yang terdapat di ; b. Melakukan evaluasi dan penilaian sumberdaya ekowisata yang terdapat di ; dan c. Memberikan rekomendasi dalam rangka pengembangan ekowisata di. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di seluruh titik ekowisata yang terdapat di TN Gunung Ciremai pada bulan Desember 2010 (selama satu bulan). Data primer diperoleh dengan pengamatan langsung dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait di desa, kecamatan, kantor balai dan seksi PTN I di Kuningan serta kantor seksi PTN II di Majalengka. Penilaian Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dilakukan dengan mengacu kepada kriteria dan indikator bagi penilaian potensi obyek wisata yang disusun oleh Avenzora (2008). Menurut Avenzora (2008), penilaian potensi obyek wisata didasarkan atas 7 (tujuh) aspek nilai yang terkait dan berasosiasi dalam potensi suatu obyek wisata, yakni: 7 Evaluasi Ekoturismedi Taman Nasional Gunung Ciremai 1. Keunikan: aspek keunikan menggambarkan nilai eksistensi suatu obyek atau event dalam konteks kepariwisataan; 2. Kelangkaan: aspek kelangkaan merupakan representasi komparatif dari intangible value suatu obyek wisata terhadap obyek sejenis lainnya; 3. Keindahan: aspek keindahan merupakan extrinsic values dan intrinsic values yang dimiliki oleh suatu obyek wisata dalam menyediakan kepuasan wisatawan dalam melihat benda tersebut; 4. Seasonalitas: aspek seasonilitas menggambarkan waktu ketersediaan suatu obyek untuk bisa diakses wisatawan dalam hal memenuhi kepuasan berwisatanya; 5. Aksesibilitas: aspek aksesibilitas menggambarkan tentang kondisi dan proses yang harus dilakukan wisatawan dalam mendatangi suatu obyek wisata tersebut berada; 6. Sensitivitas: aspek sensitivitas merupakan representasi tata nilai sustainable tourism dalam menilai pengaruh kegiatan wisata terhadap keberlanjutan obyek itu sendiri maupun elemen lingkungan sekitarnya; dan 7. Fungsi Sosial: aspek sosial penting karena adanya potensi dampak sosial dalam kegiatan wisata. Skala yang digunakan adalah Skala LIKERT yang dimodifikasi oleh Avenzora (2008) menjadi skala 1-7; dengan pemaknaan skala berurutan dari skala 1 yang mereprensentasikan kondisi yang sangat tidak dikehendaki hingga skala 7 yang merepresentasikan kondisi yang sangat dikehendaki. Adapun potensi yang dinilai berdasarkan metode dan indikator ini adalah gejala alam, flora dan fauna. Penilaian dilakukan oleh 3 (tiga) orang asesor dengan persyaratan mengetahui sumberdaya wisata di yang dinilai dan memiliki pengetahuan memadai mengenai sumberdaya wisata yang dinilai. Selanjutnya untuk menganalis kondisi ekoturisme di dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat). HASIL DAN PEMBAHASAN Tegakan hutan sekunder Gunung Ciremai diperkirakan berumur sekitar 35 tahun dengan keragaman vegetasi hutan kurang lebih 119 koleksi tumbuhan; yang terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi nonanggrek. Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor Lindh, Eria multiflora (BI) Lindh, Eria hyancinthoides (BI) Lindh, Eria compressa (BI), Coelogyne miniata (BI) Lindh, Pholidota imbricata W.J Hooker, Liparis latifolia (BI); sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium lancefolium Hook, Cymbidium finlaysonianum Lindh, dan Malaxis iridifolia (Roxb.) Rch.f. (LIPI, 2001 dalam RP 2006). Vegetasi non-anggrek di kawasan dataran tinggi ini didominasi oleh Pinanga javana, Pandanus sp. dan Tepus (Nicolaia sp.) serta Paku Tiang Cyathea sp. Tegakan pohon di ini banyak ditumbuhi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung (Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Koleksi yang berpotensi sebagai tanaman hias adalah Nephenthes gymnaflora yang merupakan anggota dari suku Kantong Semar (Nepenthaceae) dan Rosaceae. Adapun jenis tegakan yang cukup menarik adalah koleksi Dadap Jingga (Erythrina sp). Beberapa jenis satwa langka di kawasan Gunung Ciremai adalah Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Di kawasan juga terdapat ± 20 jenis burung yang diklasifikasikan oleh Bird Life International Indonesia (1998) sebagai jenis-jenis burung dengan penyebaran terbatas; yang diantaranya terdapat 2 jenis burung terancam punah, yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung berstatus rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae). Dengan potensi burung tersebut maka Bird Life International Indonesia (1998) mengkategorikan kawasan dapat sebagai daerah penting untuk burung (Important Bird Area) dengan kode JID024. Potensi wisata yang terdapat di kawasan cukup unik dan variatif, yaitu berupa panorama alam, air terjun, bumi perkemahan, jalur pendakian, situs budaya, situ/telaga, wisata air dan air panas serta wisata pendidikan. Pengunjung dari Tahun 2007 hingga 2010 (Bulan Oktober) berjumlah orang dengan pemasukan (PNBP) sebesar Rp ,00. Obyek wisata yang paling banyak dikunjungi pada Tahun 2010 adalah Buper Palutungan. Selain karena aksesibilitas yang baik untuk menjangkau buper ini dan terjangkaunya harga tiket maka tingginya kunjungan wisata pada lokasi buper ini juga disebabkan oleh adanya pemandangan alam yang indah (menghadap kota Kuningan) dan air terjun yang dapat dimanfaatkan oleh para pekemah untuk berbagai kegiatan rekreasi mereka selama berkemah. Lebih lanjut, tingginya jumlah kunjungan pada lokasi ini secara teoritis dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya dinamika optimasi kepuasan dalam pengambilan keputusan kunjungan pada populasi wisatawan. 8 Gambar 1. Jumlah Pengunjung dan PNBP dalam 4 Tahun Terakhir (Sumber Buku Statistika B dari tahun ) Dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan yang ada, maka dalam penilaian gejala alam di hanya dipilih 6 (enam) focal point yang terdapat di lokasi yakni Buper Palutungan, Telaga Remis, dan Lembah Cilengkrang untuk wilayah Kuningan serta Situ Sangiang, Curug Sawer dan Curug Cipeuteuy untuk wilayah Majalengka. Adapun untuk penilaian potensi fauna hanya dipilih Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi), yang didasarkan pada pertimbangan bahwa ketiga fauna tersebut dapat dianggap flagship species di. Sedangkan dalam penilaian potensi flora dipilih tumbuhan edelweiss dan kelompok tumbuhan anggrek. a. Fauna PENILAIAN OBYEK WISATA Asesor memberikan nilai rerata relatif lebih tinggi (5,0) pada Elang Jawa dibandingkan surili (4,7) dan macan tutul (4,3) (Gambar 2). Sebenarnya ketiga fauna ini relatif memiliki nilai yang tinggi untuk kriteria indah, langka dan unik, yaitu di atas 5,0. Namun demikian, macan tutul memiliki nilai sangat rendah pada kriteria aksesibilitas, yaitu hanya sekitar 1,4. Dengan demikian, fauna yang paling potensial untuk dikembangkan ke depan dan menarik wisatawan adalah Elang Jawa dan surili keindahan keunikan kelangkaan aksesibilitas sensitivitas seasonalitas fungsi sosial Gamba 2a. Grafik Hasil Penilaian atas Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi) 9 Evaluasi Ekoturismedi Taman Nasional Gunung Ciremai keindahan keunikan kelangkaan aksesibilitas sensitivitas seasonalitas fungsi sosial Gambar 2b. Grafik Hasil Penilaian atas Macan Kumbang keindahan keunikan kelangkaan aksesibilitas sensitivitas seasonalitas fungsi sosial Gambar 2c. Grafik Hasil Penilaian atas Surili b. Flora Berdasarkan penilaian, kelompok anggrek memperoleh nilai rataan 4,7 yang lebih tinggi dibandingkan edelweiss dengan rataan 4,1 (Gambar 3). Sebenarnya dari aspek keindahan dan keunikan, maka edelweiss memperoleh nilai lebih tinggi dari kelompok anggrek, namun dalam kriteria lainnya edelweiss memperoleh nilai lebih rendah. Secara umum, kelompok anggrek lebih potensial untuk dikembangkan, namun demikian edelweiss memiliki nilai jual tinggi bila dikemas dalam program wisata khusus dengan memperhatikan aspek sensitivitas dan aksesibilitas. 10 8.00 keindahan keunikan kelangkaan aksesibilitas sensitivitas seasonalitas fungsi sosial Gambar 3a. Hasil penilaian atas Edelweiss di 8.00 keindahan keunikan kelangkaan aksesibilitas sensitivitas seasonalitas fungsi sosial Gambar 3b. Hasil penilaian atas Anggrek di TN Gunumg Ciremai c. Gejala alam Gejala alam yang terdiri dari air terjun, telaga (danau) dan pemandangan alam secara memperoleh nilai relatif sama, yaitu antara 3,9 (Curug Sawer) sampai 4,7 (Situ Sangiang) (Gambar 4). Artimya, semua gejala alam relatif belum optimal dikembangkan dalam pengelolaan RNGC selama ini, kecuali Situ Sangiang. Bila dilihat dari kriteria keindahan, maka Situ Sangiang (nilai 5,9), Lembah Cilengkrang (nilai 5,5), Telaga Remis (5,1) dan Curug Cipeteuy (5,0) sangat layak untuk dikembangkan secara optimal, namun secara keseluruhan optimasi pemanfaatannya saat ini terhambat oleh aspek aksesibilitas mencapai berbagai focal point tersebut. 11 Evaluasi Ekoturismedi Taman Nasional Gunung Ciremai Gambar 4a. Hasil Penilaian atas Curug Cipeteuy Hasil Penilaian Assesor Gambat 4b. Hasil Penilaian atas Curug Sawer Gambar 4c. Hasil Penilaian atas Lembah Cilengkrang 12 Hasil Penilaian Assesor Gambar 4d. Hasil Penilaian atas Patulungan Hasil Penilaian Assesor Gambar 4e. Hasil Penilaian atas Situ Sangiang Hasil Penilaian Assesor Gambar 4f. Hasil Penilaian atas Telaga Remis 13 Evaluasi Ekoturismedi Taman Nasional Gunung Ciremai Kondisi Pengembangan Ekoturisme Dalam konteks kekuatan (strength) maka salah satu kekuatan potensi ekowisata dari terdapat pada sumberdaya alamnya yang masih alami dengan keanekaragaman hayati yang masih cukup tinggi. Selain itu, lokasi juga cukup strategis, dekat dengan Bandung dan Cirebon (yang direncanakan menjadi sentra pengembangan wilayah Jawa Barat bagian Timur serta akan dibangun bandara dan pelabuhan internasional). Tabel 1. Komponen Kekuatan/Strength dalam Analisis SWOT Kekuatan / Strength 1. Ekosistem alami, keanekaraga-man hayati tinggi dan keindahan alam 2. Tersedianya fasilitas atau sarana prasarana ekowisata. 3. Lokasi dekat dari kota-kota besar (Bandung, Cirebon) sebagai konsumen ekowisata. 4. Telah terbentuknya titik-titik wisata sebagai tujuan ekoturisme. - Perlindungan dan pengamanan kawasan - Eksplorasi keanekaragaman hayati - Pemeliharaan dan penambahan fasilitas - Pelatihan instruktur dan interpreter - Kerjasama dengan dinas-dinas pariwisata, tour & travel, hotel-hotel. kontinuitas publikasi dan promosi kontinuitas publikasi dan promosi - Pembinaan dan koordinasi dengan pihak pariwisata alam di - Penyuluhan, Penyadartahuan dan Patroli - Penelitian, identifikasi, inventarisasi, pembinaan dan monitoring habitat serta populasi - Pembuatan paket-paket wisata flora & fauna watching - Pengadaan barang dan pemeliharaan - Pelatihan ToT kerjasama angket, pembuatan website angket, pembuatan website - IPPA, NKK, NKB pembinaan Pemda Lembaga dan masyarakat desa, LSM, wisatawan, LSM, Universitas - LSM Keterangan : LSM = Lembaga Swadaya Masyarakat; Tot = Training of Trainers; = Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam; Disbudpar = Dinas Kebudayaan dan Pariwisata; IPPA = Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam. Berkaitan dengan Kelemahan (Weakness), ekowisata di mempunyai kelemahan dalam hal publikasi dan promosi sehingga potensi wisata yang terdapat di menjadi kurang dikenal secara nasional dan internasional. Hal ini diduga karena adalah taman naional termuda di Indonesia sehingga pengelolaan dan manajemen di dalamnya masih banyak yang belum dilakukan dan dikembangkan (Tabel 2). 14 Tabel 2. Komponen Kelemahan/Weakness dalam Analisis SWOT Kelemahan / Weakness 1. Ekowisata di belum dikenal secara nasional dan internasional 2. Belum adanya serah terima kawasan secara penuh dari pihak lain kepada. 3. Tata hubungan kerja antara pengelola wisata dengan Balai belum jelas 4. Belum tersedianya interpreter ekowisata dan paket-paket program ekowisata - Kerjasama dengan dinas-dinas pariwisata, tour & travel, hotelhotel. kontinuitas publikasi dan promosi Koordinasi dengan pihak pusat serta pembangunan kesepakatan bersama dengan pemerintahan daerah dan pihakpihak terkait Pembinaan dan koordinasi dengan pihak pariwisata alam di - Pelatihan instruktur dan interpreter - Pembuatan paket-paket wisata yang berbasiskan alam kerjasama angket, pembuatan website - Rapat Koordinasi - IPPA, NKK, NKB - Penandatanganan buku serah terima kawasan - IPPA, NKK, NKB pembinaan - Pelatihan ToT - Pembuatan paketpaket wisata flora & fauna watching, agrowisata, kunjungan ke desa Pemerintahan desa, LSM LSM, universitas Peluang untuk dijadikan tempat tujuan ekowisata sangat besar, mengingat adanya rencana pembuatan bandara internasional di Majalengka dan pelabuhan internasional di Cirebon yang mempermudah aksesibilitas wisatawan ke. Selain itu, adanya dukungan dari pemerintah desa, LSM lokal dan instansi daerah (Disbudpar), terutama Pemerintah Daerah Kuningan yang telah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten konservasi yang menitik beratkan kepada pembangunan di bidang wisata sebagai penarik PADnya. Detail dari hal tersebut dapat di lihat pada Tabel 3. Tabel 3. Komponen Peluang/Opportunity dalam Analisis SWOT Peluang / Opportunity 1. Kecenderungan meningkatnya masyarakat perkotaan back to nature kontinuitas publikasi dan promosi - Pembuatan paketpaket wisata yang berbasiskan alam angket, pembuatan website - Pembuatan paket-paket wisata flora & fauna watching, agrowisata, kunjungan ke desa (village tour) LSM, Universitas 15 Evaluasi Ekoturismedi Taman Nasional Gunung Ciremai 2. Kedatangan wisatawan asing ke Indonesia cenderung meningkat 3. Adanya rencana pembuatan bandara internasional di Majalengka dan pelabuhan internasional di Cirebon 4. Adanya dukungan dari instansi daerah (Disbudpar), LSM lokal dan pemerintah desa. 5. Peluang sebagai salah satu tujuan Ekowisata dan Bumi Perkemahan Indonesia - Kerjasama dengan dinas-dinas pariwisata, tour & travel, hotel-hotel. kontinuitas publikasi dan promosi - Kerjasama dengan dinas-dinas pariwisata, tour & travel, hotel-hotel. kontinuitas publikasi dan promosi - Koordinasi dengan pihak pemerintahan daerah, desa dan LSM - Pembentukan opini dan pencitraan diri - Kerjasama dengan dinas-dinas pariwisata, tour & travel, hotel-hotel. kerjasama angket, pembuatan website kerjasama angket di kursi pesawat dan kapal, pembuatan website, pemasangan banner dan spanduk sosialisasi program - Pemasangan artikel di media cetak, Pameran, pembuatan website, pemasangan banner dan spanduk kerjasama Pemda LSM, Universitas Ancaman dari pengembangan aktivitas wisata biasanya berupa degradasi keanekaragaman hayati dan ekosistem pada kawasan ekowisata, polusi dan lunturnya tata nilai budaya setempat kemungkinan akan terjadi. Selain itu, masuknya investor besar dalam bisnis ekowisata akan memicu munculnya kecemburuan sosial masyarakat di daerah penyangga. Hal-hal seperti ini sepatutnya harus menjadi bahan pemikiran dan diantisipasi sebelumnya oleh pihak pemerintah daerah, pengelola wisata bahkan masyarakat yang terdapat di sekitar. Detail dari aspek ancaman tersebut dapat di lihat pada Tabel 4. Tabel 4. Komponen Ancaman/Threats dalam Analisis SWOT Ancaman / Threats 1. Degradasi keanekaragaman hayati dan ekosistem di lokasilokasi ekowisata serta polusi tanah dan air - Perlindungan dan pengamanan kawasan - Pemeriksaan dan penyuluhan kepada wisatawan - Penyuluhan, Penyadartahuan dan Patroli - Penyuluhan, check packing, wisatawan, LSM, wisatawan 16 2. Munculnya kecemburuan sosial masyarakat daerah penyangga 3. Degradasi tatanilai budaya setempat 4. Masuknya investor besar dalam bisnis ekowisata - Koordinasi dengan pihak pemerintahan daerah, desa dan LSM sosialisasi program - Penguatan lembaga pendampingan lembaga - Pembinaan dan koordinasi dengan pihak calon di a. IPPA, NKK, NKB b. Koordinasi dan pembinaan Pemda Masyarakat desa LSM, Universitas Pemda, LSM KESIMPULAN 1. Elang Jawa, kelompok anggrek dan Situ Sangiang merupakan obyek wisata yang mempunyai daya tarik wisata tertinggi untuk dikembangkan di Taman Nasional Gunung Diremai (). Namun sebenarnya berbagai obyek lain, seperti macan tutul, edelweiss dan beberapa obyek gejala alam (Lembah Cilengkrang, Telaga Remis dan Curug Cipeteuy) juga memiliki daya tarik tinggi dari aspek keindahan, tetapi obyek-obyek ini relatif bernilai rendah dari kriteria aksesibilitas. 2. Secara umum, sangat berpotensi dikembanagkan menjadi salah satu tujuan utama wisata di Jawa Barat karena letaknya pada daerah pengembangan Jawa Barat Bagian Timur (Cirebon, Majalengka dan Kuningan), namun memiliki berbagai kelemahan, yaitu aksesibilitas dalam kawasan yang buruk, pengelolaan yang masih lemah dan promosi masih belum memadai. 3. Sebagai kawasan wisata berbasiskan alam, maka aspek kelestarian alam merupakan hal mutlak yamg harus menjadi perhatian pengelola ; terlebih lagi karena terdapatnya beberapa jenis satwa langka di kawasan ini. REKOMENDASI Memperhatikan berbagai potensi dan dinamika pengelolaan yang ada saat ini di seperti yang telah diurailkan pada bagian terdahulu, maka salah satu hal yang dianggap penting untuk direkomendasi
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks