Dinamika Rotor Motor Stepper Jenis Variable Reluctance

Please download to get full document.

View again

of 8
38 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
rsbn %853-l-2 SeminarNasional III Teknologi Dan Rekayasa Dinamika Rotor Motor Stepper Jenis Variable Reluctance Budhi Anto Jurusan Teloik Ele*ro, Universitas Riau Kampus Binawidya, Jl. H. R. Subrantas,
Document Share
Document Transcript
rsbn %853-l-2 SeminarNasional III Teknologi Dan Rekayasa Dinamika Rotor Motor Stepper Jenis Variable Reluctance Budhi Anto Jurusan Teloik Ele*ro, Universitas Riau Kampus Binawidya, Jl. H. R. Subrantas, Pekanbaru e-m ail : bu dhi ant o. a il. c om Abstrak pemodelan dan simulasi dinamika bagian rotor dari suatu motor listrik merupakan bagian dari program rotor dari )enetitian untuk merancong dan membuat motor listrik dengan sasaran memperlihatkan bagian 'rorrongon motor listrik telih berputar seperti yang diharapkan. Poparan ini menampilkan simulasi gerakan yang rotor iotor stepper jenis variable reluctance. Konstntksi motor stepper terdiri atas bagian stator mempunyai S pasang kutub menonjol dan bogian rotor yang mempunyai 4 gigi. Korwersi elehromekanik diperolih dengan c-ara mengalirkan arus listrik pada belitan-belitan yang terpasang pada lalub'kutub stqtor, sedangkan pada bagian rotor sama sekali tidak terdapat belitan. Proses simulasi dimulai dengan parameter-parameter rancangan motor stepper. menurunkan persarndan -gerakan gerakan rotor berdasarkan persamaan,ito, tersebut kemudian disimulasikan menggunakan perangkat lunak MATLAB/Simitink Simulasi memberikan hosil seperti yang diharapkan yaitu rotor motor stepper bergerak langkah demi langkah dengan panjang langkah yang sama sebesar 0,524 radian atau i0 deraiat. Kata kunci i motor stepper, voriable reluctqnce, rotor, MATMB l. Pendahuluan pekerjaan simulasi merupakan bagian yang penting dari kegiatan penelitian bidang i1rq...1-.ilnu19ran-ant Simulasi yang berhasil akan menimbulkan keyakinan yang kuat akan keberhasilan penelitian. Simulasi suatu motor listrik merupai an bagian duri program penelitian untuk merancang dan gerakan irembuat motor listrik dengan misi yang ingin dicapai adalah membultikan bahwa bagian rotor dari motor listrik yang dirancang dapat berputar. Dengan menggunakan teknik simulasi menggunakan komputer, biaya penelitian dapat ditekan ka. oa teknik coba-coba yang memerlukan banyak biaya dapat ditinggalkan. Motoi stepper adalah motor listrik yang mengubah pulsa-pulsa digital yang diberikan padanya menjadi gerak rotsi pada bagian rotornya (Krarse, 1989). Sebuah pulsa digital yang diberikan pada belitan stator akin menyebatkan rotor bergerak sepanjang sudut tertentu. Sudut tersebut dinamakan step lenglh (Krause, 1989) itau step angle (Nasar, 1987). Sebuah pulsa digital pada belitan stator menyebabkan rotor bergerak satu langkalr yang panjangnya dinyatakan oleh nilai step angle. Untuk memenuhi satu putaran p nirt (:OO derajatj,-uiu *pi pulsa digital harus diberikan pada motor stepp r. Dengan demikian motor itepper bergerak langkah demi langkah dengan paqiang langkahyang sama' Motor stepper banyak aigunatan riuagui aktuator pada berbagai sistem pengaturan seperti pada rotary actuitor dan mesin perkakas bertasis kontrol numerik. Berdasarkan prinsip printer, disc lerjanya, motor stepper dikelompokkan atas 2 jenis yaitu motor stepper jenis variable reluctance dan motor jenis permaient-magnei(krause, 1989). Perbedaan mengasar kedua jenis motor stepper tersebut terietat-pada adanya magnet pennanetr yang terpasang aksial pada poros rotor motor stepp r jenis p.r**.ot-*agnet. bisini hanya disimulasikan gerakan rotor motor stepper jenis variable reluctance. ri,t ia*i drii, *ip i 2. Konstruksi Dan Pemodelan yang disimulasikan adalah motor stepper 3-fasa. Konstruksi motor stepper Motor stepper -Gambar la. Bagian stator motor stepper mempunyai sepasang kutub menonjol tiap diperliha&an pada fasany4 sehingga pada stator terdapat 6 kutub menonjol. Belitan-belitan stator dililitkan pada kutub-kutub menonjol. naaa tagian rotor terdapat 4 gigi, tidak terdapat belitan pada bagian rotor. Sebagai pengenal setiap gigi rotor diberi iomor l, 2,3 dan gigi 4. Inti stator dan rotor terbuat dari bahan magnetik. Diagram pengawatan belitan-belitan stator motor stepper diperlihatkan pada Gambar lb. lq kemudian diturunkan persamaan gerakan rotor. Penyelesaian Dari konstruksi pada Gambar analitis terhadap persamazrn gerakan rotor merupakan persamaan yang menyatakan posisi rotor setiap waktu 6(0. perilaku gerak rotasi rotor dipelajari dengan'memplot persamaan posisi rotor tersebut sehingga diperoleh grant posisi itor terhadap waktu. Kecepatan gerali rotor setiap waktu a{t) diperoleh dari turunan pertama terhadap (t). Fakultas Teknik UIS{J Kampus Al Munawwarah Jl. SM. Raja Teladan Medan 245 SsminarNasional III Teknologi Dan Rekayasa mb{ EagEtit hs B mbu magaetl Es A (mbuc&mi) smbu magaaik fru C Gambar Ia. Motor stepper jenis variable reluctance dengan 6 kutub stator dan 4 gigi rotor L- 5* bl 1i--9r AA l'.? fla.2' IUU- ' 1 Gambar 1b. Diagram pengawatan belitan-belitan stator Grafik (r) dan a{l) diperoleh dengan cara mensimulasikan persamaan gerakan rotor secara langsung. Simulasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB/Simulink. Perilaku bagian rotor dari rancengan motor stepper dipelajari berdasarkan bentuk flt) dan a(t). Persamaan gerakan rotor diperoleh dengan mengambil beberapa asumsi sebagai berikut, l. Fluksi magnet bocor yang terdapat pada masing-masing kutub stator diabaikan 2. Gandengan magnetik antar belitan fasa diabaikan 3. Motor stepper bekerja pada daerah linier dari karakteristik magnetik bahan stator dan rotor {sumsi pertama dan kedua dapat diterima dengan syarat inti stator dan inti rotor terbuat dari bahan magnetik dengan permeabilitas tinggi dan arus pada masing-masing fasa (i,, ra dan r ) diatur sedemikian rupa sehingga pada suatu waktu hanya terdapat 1 belitan fasa yang dialiri arus listr.ik. Diagram waktu arus masingmasing fasa diperlihatkan pada Gambar 2. Gambar 2. Diagram waktu arus stator motor stepper variable reluctance 3-fasa Rotor motor stepper bergerak langkah demi langkah dengan panjang langkah yang sama. Panjang langkah ditentukan oleh nilai step angle. Untuk motor stepper jenis variable reluctance, nilai step angle (Sl) dihitung menggunakan persamiurn berikut (Nasar, 1987), 246 Fakultas Teknik I-JISU Kampus Al Munawwarah Jl. Sly{. Raja Teladan Medan Seminar Nasional III Teknologi Dan Rekayasa ISBN 97E{ ga=f -G,lx36oderaiar G,,G, (1) dengan G, adalah jumlah kutub stator dan G. adalah jumlah qigi rotor Dengan demikian, berdasarkan pr.r-umu* (1) diatas, motor stepper yang dirancang mempunyai nilai S,4 : 30 derajat. Persamaan Gerakan Rotor Berdasarkan Gambar lb, persamaan tegangan belitan stator adalah sebagai berikut, il,- vo = rrio+ff Q). d).x v6 = r,i6 +ff (3).dL v, = rrio +ff G) pada persamaan-persamaan diatas, r, adalah resistansi belitan masing-masing fasa, 7* 10, dan 1. masing-masin g adalah flux linkage fasa a, fasa b dan fasa c. Persamaan flux linkage masing-masing fasa adalah sebagai berikug lt ) lroo Lob r*11;1 (5) l^;)= l'::?,uu? ,[':,) L*, Lbb, dart L masing-masing adalah induktansi diri masing-masing fasa. Induktansi-induktansi yang lain adat* ioaukt*ri yang muncul karena adanya gandengan magnetik antar fasa. Karena gandengan magnetik antar fasa diabaikan, persamaan (5) dapat direduksi menjadi persamailn berikut, lt,1 lr,, o ol[i l lr, l=l o Lot oll+l (6) l^ ) [o,. .]l+l Persamaan induktansi diri masing-masing fasa diperoleh berdasarkan pengembangan terhadap mesin reluktans l-fasa 2 kutub (Krause, lgse). Berdasarkan konstruksi motor stepper pada Gambar la, nilai induktansi diri masing-masing fasa adalah sebagai beriku! L*= Lt+L1+Lscos4? Q) Lb6= L1+L1+Lscos4(0-\n) (8) Lu = Lt + L,4 + LB +lx) Zr adalah induktansi bocor belitan masing-masing fasa. LA dafl L6 adalah induktansi yang dihitung menggunakan persam&m-persamaan berikut (Krause, 1 989), I-(max) + I,n (min) ta = ----n-, L^(max)-Ir(min),a:----ndengan Z.(max) adalah nilai maksin^um induktansi magnetisasi motor dan I,(min) adatrah nilai minimum indrit ransi magnetisasi motor. Induktansi magnetisasi motor bervariasi sesuai posisi gigi-gigi rotor terhadap kutub-kutub stator. Induktansi magnetisasi minimum terjadi jika posisi gigi rotor memberikan nilai reluktansi maksimum, sedangkan induktansi magnetisasi maksimum terjadi.!ika posisi gigi rotor memberikan nilai reluktansi minimum. J1;a Ll diabaikan maka persamaan(7), (8) dan persamaan (9) diatas dapat disederhanakan menjadi persamaan-persamaan berikut, (g) (10) (l 1) Fak-ultas Teknik UISU Kampus Al Munawwarah Jl. SM. Raja Teladan Medan 247 SeminarNasional III Teknologi Dan Rekayasa L* = Lt+ Lscos49 (U) Lbb = L,t+ Lscos4(0 -!7i (13) L = LA+ Lscosk(o+!fl (14) Torka elektromagnetik yang bekerja pada rotor dapat dihitung menggunakan p rsamatm Uernot (Krause, 1989), T, =ow (i,o) (15) a0 W adalah co-energ), Karena motor stepper bekerja pada daerah linier dari kurva magnetisasi bahan magtretih maka energi yang tersimpan dalam medan magnet sama dengan co-energy (Krause, 1989), sehingga diperoleh persamaan berikut, w =iloo* +!t66f6 *il t Dengan mensubstitusi persamaan (12), (13) dan persamaan (14) ke persamaan (16) dan kemudian menyelesaikan persamaan ( I 5), diperoleh persamaan berikut, T, = lln{*sin 4d + i} sa -! D + t stn + I fl} (17) Persarnaan geralgn rotor drperolen dengan menerapkan Hut(um Newon paoa gerak rotasl senrngga diperoleh persamaan berikut, ( l8) B^ adalah konstanta redaman sebagai akibat adanya gesekan pada poros rotor dan hambatan udara. I adalah torka beban mekanik yang diputar oleh rotor motor stepper. / adalah konstanta inersia rotor dan beban mekanik. Dengan mensubstitusi persamaan (17) ke persamaan (18) dan mengatur ulang persamaan terakhir diperoleh persamium berikug t * * n* ff + r7 = -zl s {*sin 4d + $ sn \e -! d + t sn +! n\t (le) Persamaan (19) diatas menyatakan posisi rotor (O) setiap waktq karena itu persamaan (19) dinamakan persamaan gerakan rotor. Persamaan (19) merupakan persamarm differensial orde dua tak-linier. Solusi terhadap persuunaatr tersebut adalah fungsi yang menyatakan posisi rotor setiap waktu (r). Grafik (l) diperoleh dengan mensimulasikan persamtuln (19) secara langsung menggunakan program MATLAB/Simulink. Simulasi Gerakan Rotor Gerakan rotor disimulasikan dengan cara menyelesaikan persamaan (19) untuk memperoleh grafik d(r). Disini MATLABiSimulink digunakan untuk mendapatkan grafik (0 tersebut. Grafik kecepatan sudut rotor cr.r(/), diperoleh dari turunan pertama terhadap (r). Persamaan (1) digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi gerakan rotor. Berdasarkan persamaan (t), bagian rotor dari rancangan motor stepper akan berputar langkah demi langkah dengan panjang langkah yang sama sebesar 30 derajat atava,524 radian. Model MATLAB/Smulink terhadap persam.un (19) diperlihatkan pada Gambar 3. Datadata ftmcangan motor stepper variable reluctance adalah sebagai berikut, [ (maksimum): 0,25 N.m; Z6 : 0,5 H; -/:0,00036 kg.*'; B.:0,05 N.m.s; Io: h: I,: I A;1nr:0,01 N.m. 248 Fak-ultas Teknik UISU Kampus Al Munawwarah Jl. SM. Raja Teladan Medan Ery: H a Seminar Nasional III Teknologi Dan Rekayasa ISBN l-2 Gambar 3. Model MATLAB/Simulink terhadap Dersamaan gerakar l-otor 3. Hasil Dan Pembahasan Beberapa hasil simulasi diperlihatkan pada Gambar 4, 5, 6,'1,8,9 dan Gamba.r 10 Pada Gambar 4, frekuensi pulsa arus masing-masing fasa adalah 0,333 Hz dengan duty cycle 0,333, yang berarti arus hanya mengalir pada belitan masing-masing fasa selama I detik dengan periode 3 detik. Ur*'c,n penyalam adatah fasa a, fasa b dan fasa c. Mula-mula rotor pada posisi 0,524 radian atau 30 derajat, setel*r 1 detik sudut rstm menjadi 0 radian (0 derajat). Hal ini disebabkan arus listrik hanya mengalir pada belitan fasa a, belitan fasa b dan belitan fasa c tidak dialiri arus, sehingga gigi 1 dan gigi 3 rotor berhadap-hadapan dengan kedua kunrb fasa a. Selang I detik kemudian, sudut rotor menjadi 0,524 radian (30 derajat). Hal ini disebabkan arus listrik hanya mengalir pada belitan fasa b, sehingga gigi 2 dan gigi 4 rotor berhadap-hadapan dengan kedua kutub fasa b. Selang 1 detik kemudian, sudut rotor menjadi 1,048 radian (60 derajat), karena arus listrik hanya mengalir pada belitan fasa c, sehingga gigi I dan gigi 3 rotor berhadaphadapan dengan kutub-kutub fasa c. Selang 1 detik kemudian, sudut rotor menjadi 1,572 radian (90 derajat), karena arus listrik hanya-mengelir pada belitan fasa a, sehingg gigi 2 dan gigi 4 rotor berhadap-hadapan dengan kutub-htub fasa a. Hasil simulasi pada Gambar 4 memperlihatkan bahwa rotor bergerak langkah demi langkah dengan panjang langkah yang sama sebesar 0,524 radian (30 derajat). Panjang I langkah ditempuh dalarn waktu I detik. Gambar 5 memperlihatkan profil kecepatan sudut rotor pada frekuensi pulsa arus stator 0,333 Hz dan sudut awal rotor 0,524 radian atau 30 derajat. Pada I detik pertama, mula-mula rotor diam (kecepatan sudut sama dengan nol), kemudian kecepatannya naik hingga mencapai nilai maksimum dan kemudian menurun hingga akhirnya rotor berhenti pada posisi sudut rotor 0 derajat. Kecepatan sudut rotor pada I detik pertama bemilai negatif, menuqjukkau bahwa rotor bergerak searah jarum jam. Untuk gerakan berlawanan arah jarum jam, kecepatan sudut akan bernilai positif. Setelah I detik pertama, rotor Sergerak kembali dari posisi 0 derajat dan bertrenti pada posisi 30 derajat. Selama I detik kedua ini, kecepatan sudut rotor bemilai positif, menunjukkan bahwa rotor bergerak berlawanan arah jarum jam. Setelah I detilk kedua, rotor bergerak kembali dari posisi 30 derajat dan berhenti pada posisi 60 derajat. Kecepatan sudut rotor bernilai positil menuqiukkan bahwa rotor bergerak berlawanan arah jarum jam. Untuk I detik selanjutnyq kecepataaeue* rotor bernilai positi{ sehingga dengan demikian rotor bergerak berlawanan arah jarum jam. Kecepatan sudut rata-rata adalah 0,4148 rad/detik (3,96 rpm). Gambar 6 memperlihatkan perubahan posisi rotor pada frekuensi pulsa arus stator 3,33 Hz dengan duty cycle 0,333 dengan urutan penyalaan adalah fasa a, fasa b dan fasa c. Posisi awal rotor adalah 4,524 radian (-30 derajat). Pada.0,l detik pertama, belitan fasa a di-energize sehingga rotor bergerak dari posisi -30 denjat dan berhenti pada'posisi 0 radian (0 derajat), 0,1 detik kemudiarq belitan fasa b di-energize sehingga rotor bergerak dari sudut 0 derajat dan berhenti pada sudui 30 derajat. Kemudian belitan fasa c di-energize selama 0, I detik sehingga rotor bergerak dari sudut 30 derajat dan berhenti pada sudut 60 derajat. Kemudian Fakultas Tekaik UISU Kampus Al Munawwarah Jl. SM. El.aja Teladan Medan 249 SerninarNasional III Teknologi Dan Rekayasa belitan fasa a kembali di-energize selama 0,1 detik s6hingga rotor bergerak dari sudut 60 derajat danterhetfi pada sudut 90 derajat. Dan seterusnya Hasil simulasi pada Gambar 6 memperlihatkan bahwa-rojor bergerak iangkah demi langkah dengan panjang langkah yang sama sebesar 0,524 radian (30 derajat). Panjaog t langkah ditempuh dalam waktu 0,1 detik. a (d) a (ridrdefli) u it Gambar 4. Perubahan sudut rotor pada frekuensi arus stator 0J33 tlz dengan duty cycle 0'333 Gambar 5. Kecepatan sudut rotor pada frekuensi arus stator IIz dengan duty cycle 0'333 Gambar 7 memperlihatkan profil kecepatan sudut rotor pada frekuensi pulsa arus stator 3,33 Hz dan sudut awal rotor -0,52i radian (-30 derajao. Pada 0,1 detik pertama, mula-mula rotor diam ftecepatan sudut sama dengau ugi), kenrudian Lcucpalauuya uaik Li-gga.reii;apai ailai i-akshun da kc;:udian nel::r'n niorgu 4ii*yu iotor berhenti pada posisi sudut rotor 0 derajat. Kecepatan sudut rotor pada 0,1 detik pertama Ue.IIfai positd menunjukkan tuulri rotor bergerak berlawan:n arah jarum jam. Setelah 0,1 detik p9rta11 ioto. t.ig *t temu*iaari pgsisi 0 derajat dan berhenti pada posisi 30 derajat. Selama 0,1 detik kedua ini, kecepatai sudut rotor bernifai positif, bahwa rotor tergerak berlawanan arah jarum jam. Seteiah 0,1 detik keduq rotor bergerak kembali dari posisi 30 derajat dan berhenti pada posisi 60 derajat. fl. p t i, sudut rotor bernilai positi[ menunjukkan bahwa rotor bergerak berlawanan arah jarum jam' Untuk 0,1 detik selanjutnya, kecepaln sudut rotor bernilai positif, sehingga dengan demikian rotor bergerak berlawanan u utr3u*.o3 *. kecepatan sudut rata-rata adalah 5,23 rad/detik (49,94 rpm). 1.5 e (re i ddili) x- ininini il\ -ffl il\ - ilt 1....il.t il.l... il I. l I 'o o I o.l Gambar 6. Perubahan sudut rotor pada frekuensi arus stator 3'33 Hz dengan duty cycle 0'333 Gambar 7. Kecepatan sudut rotor pada frekuensi arus stator 3$3Hz dengan duty cycle 0,.333 Gambar 8 memperlihatkan perubahan posisi rotor pada frekuensi pulsa arus stator 6,67 Hz dengan duty cycle 0,333 dengan urutan penyalaan aaiul fasa a, fasa b dan fasa c. Posisi awal rotor adabh A,262,uaiun 1ts derajat). pi'da o,os detik pertama, belitan fasa a di-energize sehingga rotor bergerak dari posisi 15 derajat dan Uerienti pada posisi 0 radian (0 derajat), 0,05 detik kemudian, belitan fasa b di-energizn sehngga rotoi bergerak dari sudut b derajat dan blrhenti pada sudut 30 derajat. Kemudian belitan fasa c di+nergize selama oios aetit sehingga rotoibergerak dari sudut 30 derajat dan berhenti pada sudut 60 derajat' Kemudiac belitan fasa a kembali ii-energize-selama 0,05 detik sehingga rotor bergerak dari sudut 60 derajat dan berhenti pada sudut 90 derajat. ban seterusnya. Hasil simulasi pada Gambar 8 memperlihatkan bahwa rotor bergerak langkah a.rni i*gkuh dengan panjang langkah yang sama sebesar 0,524 radian (30 derajat)' Panjang I langkah ditempuh dalam waktu 0,05 detik. 250 Fakultas Teknik UISU Kampus A1 Munawwarah Jl. SM. RajaTeladan Medan,jj F ffi ffi ffi'*rinurnasional III Teknologi Dan Rekayasa ISBN 978'602'96853-l'2 ffic -'-- :F:. -qin; r.tii:'r.: i Gambar 9 memperlihatkan profil kecepatan sudut rotor pada frekuensi pulsa arus stator 6,6'l Hz daa SL '.,:,. sudut awal rotor 0,262 radian (15 deraja0. Pada 0p5 detik pertama, nnula-mula rotor diam (kecepatan sudut ',1'tsam, dengan nol), kemudian kecepatannya naik hingga mencapai nilai maksimum dan kemudian menurun r' ilgga utli*vu iotor berhenti pada posisi sudut rotor 0 derajat. Kecepatan sudut rotor pada 0,1 detik pertama U,rmitui negatif, menunjukkan bahwa rotor bergerak searah jarum jam. Setelah 0,1 detik pertama, rator 'bergerak kembali dari posisi 0 derajat dan berhenti pada posisi 30 derajat. Selama 0,1 detik kedua ini, t.iputun sudut rotor bernilai positi{ menunjukkan bahwa rotor bergerak berlawanan arah jarum jam. ieteiatr 0,1 detik kedua, rotor bergerak kembali dari posisi 30 der4jat dan berhenti pada posisi 60 derajal. Ko.putun sudut rotor bemilai positif, menunjukkan bahwa rotor bergerak berlawanan arah janrm jam. Untuk 0,1 detik selanjutnyq kecepatan sudut rotor bemilai positif, sehingga dengan demikian rotor bergerak berlawanan arah jarum jam. Kecepatan sudut rata-rata adalah 8,91 rad/detik (85,08 rpm)..i ''--'-i i-'- -- 'i-' 't f:/ - tr, 'i '- 2'=- - - . 1. i-' ' i t a (rad.'d tili) ia ia ia ia il \/ \il \,l \ - 'r! -- 'i ' l' . .'t . ' /i i!! /'i i i. I' Gambar 8. Perubahan sudut rotor pada frekuensi arus stator 6'61 Hz dengan duty cycle 0 333 Gambar 9. Kecepatan sudut rotor pada frekuensi arus stetor 6,67 llz dengan duty cycle 0,333 o2 iiii :iii t Gambar 10. Perubahan sudut rotor pada frekuensi arus stator 0 333 Hz dengan duty cycle 0333; sudut awal radian urutan urutan penyalaan fasa a, fasa c dan fasa b. Gambar l0 memperlihatkan perubahan posisi rotor pada frekuensi pulsa arus stator 0,333 Hz dengan duty cycle 0,333 dengan urutan penyalaan adalah fasa 4 fasa c dan fasa b. Posisi awal rotor adalah 0,524 radian (30 derajat). Pada I detik pertama, belitan fasa a di-energize sehingga gigi I dan gigi 3 rotor akan berhadap-hadapan dengan kutub-'kutub fasa a atau rotor bergerak dari posisi 30 derajat lalu berhenti pada posisi Oradian (0 derajat). Selama I detik kemudian, belitan fasa c di-energize sehingga gigi 2 dan gigi 4 rotor berhadap-hadapan dengan kutub-kutub fasa c atau rotor bergerak dari sudut 0 derajat lalu berhenti pada sudut -3p derajat. Kemudian b litan fasa b di-energize selama.l detik sehingga gigi 1 dan gigi 3 rotor akan berhadap-hadapan dengan kedua kutub fasa b atau rotor bergerak dari sudut -30 derajat lalu berhenti pada sudut i0 de
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks