DINAMIKA PEMBANGUNAN DAERAH

Please download to get full document.

View again

of 287
33 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Seri Bunga Rampai DINAMIKA PEMBANGUNAN DAERAH Penyunting: Dr. Dian Wijayanto, S.Pi, M.M, M.SE Dr. Dra. Sri Yuwanti, M.A, M.Pd Dr. Ir. Anicetus Wihardjaka, M.Si Penerbit CV. Mitra Sejati Pati, 2017 i DINAMIKA
Document Share
Document Transcript
Seri Bunga Rampai DINAMIKA PEMBANGUNAN DAERAH Penyunting: Dr. Dian Wijayanto, S.Pi, M.M, M.SE Dr. Dra. Sri Yuwanti, M.A, M.Pd Dr. Ir. Anicetus Wihardjaka, M.Si Penerbit CV. Mitra Sejati Pati, 2017 i DINAMIKA PEMBANGUNAN DAERAH Dr. Dian Wijayanto, S.Pi, M.M, M.SE Dr. Dra. Sri Yuwanti, M.A, M.Pd Dr. Ir. Anicetus Wihardjaka, M.Si Cetakan 1: CV. Mitra Sejati 275 hlm; 14 cm x 21 cm ISBN Hak Cipta ada pada penulis Hak penerbitan ada pada penerbit. Tidak boleh direproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa izin dari penerbit. Penerbit: CV. Mitra Sejati Jl. P. Sudirman Gang 3 No. 842 Pati Jawa Tengah ii Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19/2002 Tentang Hak Cipta Pasal 72: Ketentuan Pidana Sanksi Pelanggaran 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau paling banyak Rp (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp (lima ratus juta rupiah). iii KATA PENGANTAR Sejak awal tahun 2016, PBB merilis Sustainable Development Goals (SDGs) untuk menggantikan Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir di tahun Focus utama SDGs adalah melaksanakan pembangunan yang berpusat pada pertumbuhan ekonomi, pengelolaan lingkungan, serta sosial inklusi. Setiap negara, termasuk negara mengadopsi tujuan yang tercantum dalam SDGs sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Apabila diperhatikan, terdapat banyak irisan antara MDGs dengan tujuan pembangunan nasional yang dijabarkan dalam RPJM. Paradigma pembangunan di Indonesia telah berubah dari sentralisasi menjadi desentralisasi sejak akhir 2000an. Melalui desentralisasi, pemerintah daerah diberikan kewenangan yang lebih luas untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat di daerah tersebut. Tujuan yang ingin dicapai adalah percepatan pembangunan di daerah serta terwujudnya masyarakat yang tumbuh atas prakarsa sendiri sehingga akan melahirkan masyarakat yang kreatif tanpa ada kekangan dari pusat. Sejalan dengan pelaksanaan SDGs di Indonesia, diharapkan program yang dijalankan oleh pemerintah daerah juga diarahkan untuk mewujudkan SDGs. Namun demikian, setelah lebih dari satu dasawarsa pelaksanaan otonomi daerah, tampaknya hasil yang dirasakan belum sesuai dengan harapan. Indikasinya bahwa di beberapa daerah, angka kemiskinan masih tinggi dan tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah. iv Penyebabnya penyusunan program pembangunan masih menggunakan pendekatan top-down yang cenderung melihat masyarakat sebagai objek. Selain itu, faktor keberlanjutan program seringkali masih diabaikan oleh para pemangku kebijakan. Solusi yang dapat ditawarkan adalah pendekatan partisipatif masyarakat. Menilik sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah pedesaan dengan potensi pertanian, tentu saja partisipasi masyarakat di kawasan pedesaan menjadi sebuah keharusan dalam pembangunan. Artikel pertama oleh Lilyk Eka Suranny membahas model pemberdayaan yang tepat bagi kelompok ternak sapi potong dengan berorientasi agribisnis. Pada umumnya anggota kelompok ternak sapi potong merupakan peternak berskala kecil dengan pendapatan yang rendah. Berkaitan dengan kualitas SDM, umumnya anggota kelompok ternak memiliki tingkat pendidikan serta kemampuan manajerial yang rendah. Oleh karenanya, artikel ini menawarkan suatu model pemberdayaan sosial entrepreneur dan strategic entrepreneur untuk menanggulangi masalah sosial ekonomi yang dihadapi oleh kelompok ternak sapi potong. Potensi peternakan yang terdapat di wilayah pedesaan, tidak hanya sapi namun juga kambing Etawa. Hal ini lah yang menjadi perhatian Sutrisno dalam artikel yang berjudul Analisis Finansial Usaha Beternak Kambing Lokal Peranakan Etawa (PE) di Kabupaten Pati. Berdasarkan perhitungan kriteria-kriteria Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), v dan Payback Period (PBP), dapat diketahui bahwa kambing Etawa potensial untuk dikembangkan. Menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat pedesaan, peternakan juga memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Limbah peternakan menjadi kontributor utama gas rumah kaca yang menjadi ancaman perubahan iklilm secara global. Hal tersebut menjadi tema artikel Jatmiko Wahyudi. Mengambil lokasi penelitian di Kabupaten Pati, artikel ini memberikan informasi mengenai inventarisasi emisi CH4 di subsektor pertanian berdasarkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) (2006) serta beberapa pilihan mitigasi emisi CH4 dengan memperhatikan karakter sosial ekonomi, dan lingkungan. Energi merupakan salah satu sektor yang memberatkan pereknomian nasional, sehingga sejak 2014, pemerintah mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Kelompok masyarakat yang paling terdampak diantaranya adalah masyarakat nelayan yang tinggal di kawasan pesisir. Herna Octivia Damayanti melalui sebuah artikel, menggambarkan dampak perubahan harga BBM terhadap kesejahteraan nelayan melalui penghitungan Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Indeks Nilai Tukar Nelayan (INTN). Penanganan limbah peternakan di pedesaan dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan kedaulatan energi di kawasan pedesaan disebutkan dalam artikel Mohamad Miftah. Berdasarkan artikel tersebut, disebutkan bahwa pada dasarnya kawasan pedesaan juga menyimpan potensi berbagai sumber energi terbarukan. Kerjasama antara vi masyarakat, akademisi, dan swasta diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber energi di pedesaan secara tepat dan optimal. Lebih lanjut, pendidikan diperlukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat utamanya untuk menumbuhkan perilaku hemat energi. Selain menyimpan beragam potensi, Indonesia juga memiliki ancaman bencana seperti banjir. Upaya rehabilitasi sebagaimana mitigasi penting dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif banjir. Hermain Teguh Prayitno melalui sebuah artikel memberikan strategi pelaksanaan rehabilitasi kawasan DAS sungai di Kabupaten Pati. Strategi tersebut menggunakan pendekatan cultural theory sehingga semua pihak khususnya masyarakat terdampak dapat diberdayakan secara optimal. Pemberdayaan masyarakat bisa dicapai melalui peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pendidikan terutama sejak dini. Tantangan pendidikan bagi anak di masa sekarang lebih berat karena banyaknya pengaruh negatif dari lingkungan. Artikel oleh Siti Qurrotu Aini menggambarkan jenis perilaku pelanggaran yang dilakukan oleh anak SMP di Kabupaten Pati. Kesehatan menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan di Indonesia. Peningkatan kualitas kesehatan diantaranya dengan menyediakan lingkungan yang sehat bagi masyarakat. Aeda Ernawati melalui artikelnya menyatakan bahwa merokok telah menjadi gaya hidup masyarakat di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, beban ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ditanggung oleh masyarakat menjadi begitu besar. Penyediaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi salah satu solusi. Artikel ini menggambarkan faktor yang mempengaruhi dan upaya vii meningkatkan peran serta masyarakat dalam mewujudkan KTR dengan pendekatan teori perilaku dari Lawrence Green. Keseteraan gender menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan di Indonesia. Peran perempuan Indonesia dalam perekonomian diantaranya dilakukan oleh para buruh migrant perempuan. Namun demikian, keberadaan buruh migrant perempuan menyebabkan perubahan di semua level masyarakat. Nurul Aeni melalui artikelnya menggambarkan dampak keberadaan buruh migrant perempuan terhadap peran gender di level keluarga. Keberagaman tema artikel yang ada di Buku Pembangunan Daerah berkelanjutan diharapkan dapat mewakili permasalahan yang terjadi di masyarakat. Besar harapan buku ini dapat menjadi salah satu sumber referensi penelitian-penelitian yang dilaksanakan selanjutnya. Kami mengakui, penyusunan buku ini tidak dapat dikatakan sempurna. Oleh karenanya, dibutuhkan saran untuk perbaikan buku ini selanjutnya. Pati, Agustus 2017 Tim Penyunting viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI i iv ix Pemberdayaan Pada Kelompok Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis Pedesaan Lilyk Eka Suranny Analisis Finansial Usaha Beternak Kambing Lokal Peranakan Etawa (PE) di Kabupaten Pati Sutrisno Estimasi dan Opsi Mitigasi Emisi Metana dari Subsektor Peternakan di Kabupaten Pati Jatmiko Wahyudi Nilai Tukar Nelayan : Tinjauan dari Perubahan Harga Bahan Bakar Solar (Studi di Desa Pecangaan Kabupaten Pati) Herna Octivia Damayanti ix Strategi Masyarakat Pedesaan Untuk Daulat Energi Melalui Pendidikan Mohamad Miftah 125 Bentuk-bentuk Pelanggaran Disiplin Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Siti Qorrotu Aini 157 Strategi Pelaksanaan Rehabilitasi DAS Untuk Pencegahan Banjir di Kabupaten Pati Hermain Teguh Prayitno 179 Faktor Yang Mempengaruhi dan Upaya Meningkatkan Peran Serta Masyarakat Dalam Mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok Aeda Ernawati 212 Perubahan Peran Gender Pada Keluarga Buruh Migran Perempuan Nurul Aeni 242 BIODATA SINGKAT PENULIS 271 x Lilyk Eka Suranny PEMBERDAYAAN PADA KELOMPOK TERNAK SAPI POTONG BERORIENTASI AGRIBISNIS PEDESAAN AGRIBUSINESS ORIENTED EMPOWERMENT ON CATTLE FARMER GROUP IN RURAL AREA Lilyk Eka Suranny Bappeda dan Litbang Kabupaten Wonogiri ABSTRACT The demand of beef in national level increases continously. However, the cattle production in rural area is likely to be low because the cattle bussiness in that area generally use a simple and traditional way. One of the reasons is lack of knowledge on agribusiness, so that farmers are not able to improve their business. Therefore, an empowerment program targeted on farmer group is needed to improve farmer s knowledge on agribusiness. This article will describe the pattern of empowerment that can be implemented on cattle farmer groups in order to improve socio-economic benefits in rural area. The empowerment model that can be offered is the establishment of micro finance institution that is 1 Dinamika Pembangunan Daerah Pemberdayaan Pada Kelompok Ternak Sapi Potong... managed by farmer group. Moreover, this model should be combined with Integrated farming system, which combines agriculture, livestock, and fishery simultaneously. The combination of those empowerment efforts is expected improving cattle farmer s well-being. Keywords: empowerment, cattle farmers group, agribusiness, integrated farming system PENDAHULUAN Peluang untuk mengembangkan usaha agribisnis sapi potong masih sangat besar karena permintaan daging yang terus meningkat, sejalan dengan pertambahan penduduk, perkembangan ekonomi, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup (Deptan, 2010). Usaha ternak sapi potong rakyat pada umumnya masih berskala kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryana dalam Roessali dkk (2005) bahwa usaha tani atau usaha ternak sapi potong rakyat umumnya berskala kecil, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga (subsisten) dan belum berorientasi pasar. Beberapa usaha kecil tersebut apabila dapat terhimpun menjadi suatu usaha yang berskala lebih besar dan dikelola secara komersial dalam suatu sistem agribisnis, maka usaha tersebut secara ekonomi akan layak dan menguntungkan. 2 Lilyk Eka Suranny Kegiatan agribisnis merupakan kegiatan yang berbasis pada pengusahaan sumberdaya alam yang berhubungan dengan pertanian (tumbuhan dan hewan) guna peningkatan nilai tambah. Konsep agribisnis sebagai suatu sistem usaha pertanian yang mencakup empat subsistem yang saling terkait, yaitu subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem budidaya, subsistem pengolahan dan subsistem pemasaran (Maulidah, 2012). Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa pembangunan pertanian dengan pendekatan agribisnis, yakni membangun usaha pertanian rakyat dengan memperhatikan kelengkapan dalam fungsi keempat subsistem tersebut. Subsistem sarana produksi dapat terdiri dari bibit ternak, pakan ternak, pupuk dan sebagainya. Subsistem budidaya merupakan proses budidaya usaha peternakan yang dilanjutkan dengan pengolahan hasil dan berikutnya yaitu subsistem pemasaran yang berorientasi pada pemasaran hasil yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Konsep pembangunan pertanian memang banyak ditujukan untuk usaha rakyat yakni dengan mengaitkan usaha rakyat pada usaha pertanian yang memiliki kriteria agribisnis atau menggabungkan beberapa subsistem 3 Dinamika Pembangunan Daerah Pemberdayaan Pada Kelompok Ternak Sapi Potong... tersebut kedalam suatu sistem agribisnis. Usaha rakyat ini umumnya dilakukan dengan skala kecil dan kepemilikan modal serta sumberdaya yang terbatas, maka diperlukan strategi pembangunan usaha rakyat tersebut. Strategi yang ditempuh adalah dengan mengintegrasikan usaha ternak rakyat dengan industri pengolahan atau usaha rakyat bermitra dengan perusahaan yang membutuhkan hasil produksi usaha rakyat. Dari sisi pengadaan sarana produksi, usaha peternakan rakyat ini dapat dibantu melalui perusahaan besar ataupun koperasi. Kelompok tani/ternak merupakan kelembagaan di tingkat petani/peternak yang dibentuk secara langsung mengorganisir para petani/peternak dalam berusaha tani. Kementrian pertanian mendefinisikan kelompok tani sebagai kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Kelompok tani berfungsi sebagai wadah belajar-mengajar antar anggotanya, sebagai wahana kerjasama dan sebagai unit produksi. Kelompok tani pada dasarnya diposisikan sebagai pelaku utama pembangunan pertanian di pedesaan. 4 Lilyk Eka Suranny Kegiatan-kegiatan yang dilakukan kelompok tani dikelola berdasarkan kesepakatan para anggotanya tergantung pada jenis usaha dalam subsistem agribisnis, misalnya pengadaan sarana produksi pemasaran, pengelolaan pasca panen, dan sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nurhayati dan Swastika (2012), bahwa kelompok tani merupakan kumpulan dari petani yang terkait secara informal atas dasar keserasian dan kepentingan bersama dalam usaha tani. Kelompok tani dibentuk oleh dan untuk petani guna mengatasi masalah bersama dalam usaha tani serta menguatkan posisi tawar petani. Dari tahun ke tahun jumlah kelompok tani senantiasa meningkat. Namun demikian, peningkatan jumlah kelompok tani tersebut belum diikuti dengan peningkatan kualitas sehingga masih banyak kelompok tani yang belum mampu mandiri. Kurangnya kemandirian kelompok tani ini ditandai masih rendahnya posisi tawar petani terhadap harga komoditas pertanian serta rendahnya serapan informasi akses pasar dan permodalan (Hermanto dan Swastika, 2011). Akibatnya adalah rendahnya pendapatan petani serta kelompok tani belum mampu berperan menjadi aset komunitas desa yang partisipatif. 5 Dinamika Pembangunan Daerah Pemberdayaan Pada Kelompok Ternak Sapi Potong... Rendahnya kinerja kelompok tani ini antara lain disebabkan oleh rendahnya peran pengurus kelompok tani, anggota kelompok yang tidak jelas, struktur organisasi yang tidak lengkap dan tidak berfungsi, produktivitas usaha tani rendah dan kurangnya pembinaan dari penyuluh (Hermanto dkk, 2010). Selain itu, pembentukan kelembagaan tersebut tidak dilakukan secara partisipatif sehingga tidak dapat mengakomodasi potensi kepentingan petani, yang seharusnya menjadi modal untuk melakukan aksi kolektifnya. Bahkan kelompok tani dibentuk secara temporer yang aktif pada saat-saat tertentu saja, seperti ketika akan mendapatkan bantuan misalnya pupuk bersubsidi dan lainnya (Hermanto dkk, 2010). Kinerja kelompok tani juga dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi para anggotanya. Beberapa permasalahan sosial ekonomi yang dihadapi oleh kelompok tani/ternak diantaranya pendidikan anggota kelompok yang umumnya masih tergolong rendah, permodalan yang masih minim dan pendapatan para peternak yang rendah. Tingkat pendidikan para peternak yang relatif rendah menyebabkan kurangnya pengetahuan dalam budidaya ternak yang baik, sehingga hasil produksi peternakan yang diusahakan 6 Lilyk Eka Suranny tergolong masih rendah. Rendahnya tingkat pendidikan para peternak ini juga mengakibatkan terhambatnya adopsi teknologi baru/inovasi guna meningkatkan produktivitas usahanya. Kendala permodalan yang dialami para peternak disebabkan oleh kurangnya akses informasi mengenai pinjaman permodalan yang dapat diperoleh untuk membiayai usahanya. Pendapatan peternak yang masih tergolong rendah selama ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan dalam pengelolaan usahanya sehingga hasil produksi yang diperolehnya relatif rendah. Masih banyak para peternak belum mampu dalam meningkatkan nilai tambah usahanya, diantaranya dalam pemanfaatan limbah sisa produksi. Banyak faktor yang mempengaruhi pemberdayaan kelompok tani/ternak, namun pada dasarnya pelaku/masyarakat adalah penentu keberhasilan pengembangan kelompok tani/ternak. Guna mendukung kelangsungan kelompok tani/ternak tersebut dibutuhkan suatu upaya pemberdayaan. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas peternak adalah pendekatan kelompok ternak. Pendekatan kelompok dipandang lebih efisien dan dapat menjadi media untuk terjadinya proses 7 Dinamika Pembangunan Daerah Pemberdayaan Pada Kelompok Ternak Sapi Potong... belajar dan berinteraksi antar anggota kelompok tani/ternak sehingga diharapkan terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik dan berkualitas (Margono dalam Mauludin dkk, 2012). Dengan demikian kelompok tani memiliki peran strategis di dalam mewujudkan petani yang berkualitas. Petani yang berkualitas antara lain dicirikan oleh adanya kemandirian dan ketangguhan dalam berusaha tani, sehingga memiliki keberdayaan. Keberdayaan peternak yang berkualitas sekurang-kurangnya memiliki persyaratan, yakni : (1) memiliki kemampuan yang memadai didalam menguasai dan melaksanakan aspek teknis dalam beternak, dan (2) dimilikinya kemampuan yang memadai di dalam pengambilan keputusan dalam rangka pencapaian keberhasilan usahanya. Peran kelompok didalam memberdayakan anggotanya, dapat dilihat antara lain dari: peran sebagai kelas belajar, peran sebagai unit produksi dan peran sebagai wahana kerjasama dan usaha. Keberadaan kelompok peternak memiliki peran strategis dalam mewujudkan suatu daerah menjadi sentra agribisnis sapi potong. Manfaat dari pemberdayaan kelompok tani/ternak berdasarkan aspek sosial ekonomi adalah dapat memacu 8 Lilyk Eka Suranny peningkatan nilai tambah yang produk yang diusahakan. Menurut Syahraza (2010) manfaat kegiatan pembangunan agribisnis terhadap aspek sosial ekonomi pedesaan antara lain: 1) Memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, 2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan sehingga memperkecil adanya kesenjangan sosial, 3) memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah. Pemberdayaan masyarakat identik dengan pembangunan ekonomi yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kartasasmita dalam Sandi (2008) mengungkapkan pendekatan yang digunakan dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat bukan sebagai objek dari pembangunan, tetapi merupakan subjek pembangunan sehingga pendekatan/ strategi yang harus digunakan dalam pelaksanaan pemberdayaan adalah (1) upaya pemberdayaan harus terarah (targeted); (2) partisipasi aktif masyarakat; (3) menggunakan pendekatan kelompok. Tantangan besar yang dihadapi kelompok ternak adalah pemberdayaan dari kelompok tani/ternak itu sendiri. Anggota kelompok tani/ternak dan anggota masyarakat harus didorong untuk berpartisipasi dengan sumberdaya yang ada. Peran dari 9 Dinamika Pembangunan Daerah Pemberdayaan Pada Kelompok Ternak Sapi Potong... anggota kelompok sangat dibutuhkan untuk turut serta dalam pengembangan dan manajemen kelompok tani/ternak. Oleh karena itu, tujuan
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks