DESAIN PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INGGRIS. Implementasi Metode Pembelajaran Interaktif Berbasis Teori dan Riset

Please download to get full document.

View again

of 287
162 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
DESAIN PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INGGRIS Implementasi Metode Pembelajaran Interaktif Berbasis Teori dan Riset i ii Dr. Abd. Ghofur, M.Pd. DESAIN PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INGGRIS Implementasi Metode
Document Share
Document Transcript
DESAIN PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INGGRIS Implementasi Metode Pembelajaran Interaktif Berbasis Teori dan Riset i ii Dr. Abd. Ghofur, M.Pd. DESAIN PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INGGRIS Implementasi Metode Pembelajaran Interaktif Berbasis Teori dan Riset iii D E S A I N P E M B E L A J A R A N B E R B I C A R A B A H A S A I N G G R I S Implementasi Metode Pembelajaran Interaktif Berbasis Teori dan Riset Dr. Abd. Ghofur, M.Pd. Penulis : Dr. Abd. Ghofur, M.Pd. Layout : Mitra Kreatif Desain : Samsul Anam Cetakan Pertama, Oktober 2017 x hal.; 14.5 x 20.5 cm ISBN : Hak cipta dilindungi undang-undang pada penulis Hak Penerbitan pada Pustaka Ilalang Penerbit CV. PUSTAKA ILALANG Group Jalan Airlangga No.3 Sukodadi - Lamongan Jalan raya Lamongan-Mantup 16 km Kedungsari Kembangbahu - Lamongan - Jawa Timur Indonesia HP iv PENGANTAR PENULIS Tiada untaian kata yang patut terucap bersama dengan terselesaikannya buku ini selain Alhamdulillahirobbil alamin. Sebab, atas Karunia dan Anugerah Allah SWT, buku yang berjudul DESAIN PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INGGRIS; Implementasi Metode Pembelajaran Interaktif Berbasis Teori dan Riset bisa hadir untuk ikut serta dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para pendidik, khususnya pada keterampilan berbicara Bahasa Inggris. Berbicara dianggap paling sulit oleh sebagian besar peserta didik dibanding dengan empat keterampilan lain yang harus dikuasai dalam belajar Bahasa Inggris. Berbicara Bahasa Inggris menjadi indikator yang sangat mudah untuk diidentifikasi dalam mengetahui kemampuan berbahasa Inggris seseorang. Walaupun demikian, kemampuan berbicara Bahasa Inggris sulit tercapai dalam aktivitas pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa, aktivitas pembelajaran, khususnya pada materi berbicara Bahasa Inggris masih belum berjalan secara efektif. Permasalahan kurang efektifnya pembelajaran speaking secara umum dilatarbelakangi kualitas guru, penggunaan metode pembelajaran, bahan ajar yang kurang memadai, dan alat evaluasi yang hanya mengukur aspek kognitif. Oleh karena itu, perlu dilakukan desain pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Inggris agar aktivitas pembelajarannya lebih berkualitas. Menurut Marrison, dkk (2011), desain pembelajaran bertujuan membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dan mengurangi tingkat kesulitan pembelajaran. Sedangkan menurut Reigeluth dan Chellman (2009), desain pembelajaran merupakan proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan keterampilan pada diri pembelajar ke arah yang dikehendaki. v Buku ini didedikasikan untuk para pendidik Bahasa Inggris yang kesulitan dalam mendesain pembelajaran yang interaktif karena keterbatasan referensi. Buku ini berisi kajian secara teori maupun praktik berdasarkan hasil dan luaran riset dalam mengimplementasikan Communicative Language Teaching Method dan Audio-Lingual Method untuk meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris peserta didik. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan perencanaan pembelajaraan dalam bentuk contoh-contoh skenario pembelajaran dan penilaian pembelajaran yang telah melalui proses validasi, baik secara uji statistik maupun ahli. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian buku ini, baik secara moral maupun spiritual. Sebagai penulis, saya merasa bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga butuh saran dan masukan yang konstruktif dari semua pihak. Teriring doa semoga buku ini bisa memberikan konstribusi yang positif bagi perkembangan proses pembelajaran berbicara Bahasa Inggris di sekolah maupun di perguruan tinggi. Lamongan, 10 Oktober 2017 Penulis, Abd. Ghofur vi KATA PENGANTAR Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Ed., M.Pd (Guru Besar Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang) Buku ini terdiri atas lima bagian, yaitu bagian pendahuluan, metode pembelajaran interaktif berbicara Bahasa Inggris, perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran, dan penilaian pembelajaran berbicara Bahasa Inggris. Bagian pendahuluan membahas tentang keterampilan berbicara Bahasa Inggris secara konseptual yang didukung dengan kajian teori dan beberapa hasil penelitian. Pada bagian ini juga diuraikan tentang sulitnya berbicara Bahasa Inggris yang dirasakan oleh sebagian besar peserta didik di banyak Negara. Bagian kedua disajikan secara teoritis tentang dua metode pembelajaran yang khusus digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris. Dua metode tersebut adalah Communicative Language Teaching Method dan Audio-Lingual Method. Kedua metode tersebut telah di uji keberhasilannya dalam meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris pada siswa jenjang menengah dan mahasiswa dalam penelitian oleh beberapa ahli dari lintas negera. Misalnya, penelitian Afrizal (2012), Kumar, dkk. (2013), dan Yang (2014) menyimpulkan bahwa Communicative Language Teaching Method mampu meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris, demikian juga penggunaan Audio Lingual Method di dari hasil penelitian di beberapa negara yang dilakukan oleh Mart (2013), Yuliana, dkk. (2013), Juliatuti (2013), dan Haq (2014). Selain itu penulis sendiri pada tahun 2016 juga telah membuktikan bahwa kedua metode tersebut mampu meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris untuk siswa jenjang SMA. Untuk memudahkan impelementasi Communicative Language Teaching Method dan Audio-Lingual Method, bagian ketiga buku ini disajikan rancangan pembelajaran sebagai pegangan guru dalam bentuk skenario pembelajaran. Skenario pembelajaran, atau biasa disebut dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kalau di sekolah dan vii Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) di perguruan tinggi dibuat secara sederhana agar mudah diaplikasikan oleh para guru maupun dosen dalam aktivitas pembelajaran. Perencanaan sangat penting dilakukan sebelum melakukan aktivitas pembelajaran, sebab pembuatan perencanaan akan menjadi acuan dalam mengurangi tingkat kegagalan dalam aktivitas pembelajaran. Kemudian pada bagian keempat, pembaca akan disajikan proses pembelajaran berbicara Bahasa Inggris dengan menggunakan Communicative Language Teaching Method dan Audio-Lingual Method. Proses pembelajaran yang disajikan dalam bentuk tema sehingga memudahkan para pendidik untuk mengimplementasikan secara langsung kedua metode tersebut. Pada bagian akhir buku ini disajikan proses penilaian dalam pembelajaran berbicara Bahasa Inggris baik secara teori maupun praktik. Pada proses evaluasi ini juga dilengkapi dengan instrument tes, format dan indikator penilaiannya secara lengkap yang telah melalui uji validasi ahli dan statistik. Sehingga pendidik tinggal menggunakan instrumen ini dalam aktivitas penilaian berbicara Bahasa Inggris. Secara umum buku ini memberikan banyak referensi kepada para pendidik Bahasa Inggris dalam mengimplementasikan metode pembelajaran yang interaktif khususnya dalam meningkatkan keterampilan Berbicara Bahasa Inggris. Sebab keterampilan berbicara Bahasa Inggris mendapatkan porsi waktu yang minim dalam proses pembelajaran, salah satu penyebabnya karena minimnya referensi yang membahas secara khusus terkait desain pembelajaran berbicara Bahasa Inggris secara lengkap dan aplikatif. Semoga buku ini bisa menjadi referensi bagi para pengguna. Oleh karena itu para pendidik tidak perlu ragu dalam mengimplementasikan desain pembelajaran yang telah disajikan dalam buku untuk dipraktikkan dalam pembelajaran Berbicara Bahasa Inggris baik di kelas maupun di luar kelas. Selamat mencoba, semoga bermanfaat. Malang, 17 Oktober 2017 Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Ed., M.Pd viii DAFTAR ISI PENGANTAR PENULIS... v KATA PENGANTAR Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Ed., MPd.... vii DAFTAR ISI... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Apa itu Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris?... 2 B. Kenapa Berbicara Bahasa Inggris itu Sulit?... 5 BAB II METODE PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBICARA BAHASA INGGRIS... 9 A. Communicative Language Teaching Method Apa itu communicative Language Teaching? Bagaimana Aktivitas Pembelajarannya? B. The Audio-Lingual Method Apa itu the Audio-Lingual Method? Bagaimana Aktivitas Pembelajarannya? BAB III PERENCANAAN PEMBELAJARAN A. Apa itu Perencanaan Pembelajaran? B. Kenapa Pembelajaran Perlu Direncakan? C. Desain Skenario Pembelajaran Communicative Language Teaching Method ix BAB IV PROSES PEMBELAJARAN A. Implementasi Pembelajaran Communicative Language Teaching Method Talking About Self Complementing and Showing Care Expressing Intention Congratulation Others Describing People Visiting Ecotourism Destination B. Implementasi Pembelajaran Audio-Lingual Method Talking About Self Complementing and Showing Care Expressing Intention Congratulating Others Describing People Visiting Ecotourism Destination BAB V PENILAIAN PEMBELAJARAN BERICARA BAHASA INGGRIS A. Apa itu Penilaian Pembelajaran? B. Instrumen Penilaian Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris. 251 C. Instrumen Tes Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris D. Uji Coba Instrumen DAFTAR PUSTAKA BIODATA PENULIS x Desain Pembelajaran Berbicara Bahasa Inggris BAB I PENDAHULUAN Pada bagian ini, akan disajikan pengantar yang membahas tentang keterampilan berbicara bahasa Inggris secara detail. Hasil kajian beberapa ahli, sebagian besar peserta didik menganggap bahwa keterampilan berbicara Bahasa Inggris paling sulit diantara keterampilan berbahasa lainnya, seperti menulis, membaca, dan mendengarkan. Selain itu juga, mayoritas proses penilaian pelajaran Bahasa Inggris yang lebih didominasi oleh kemampuan kognitif peserta didik menjadikan keterampilan berbicara jarang diimplementasikan dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Dampaknya, kemampuan berbicara Bahasa Inggris dianggap oleh kebanyakan peserta didik sebagai momok yang menakutkan. Padahal, secara empiris, seseorang bisa diketahui menguasai kemampuan berbahasa asing salah satu indicator utamanya dilihat dari kemampuan berbicaranya. Masih belum percaya?, silahkan dibuktikan sendiri kedahsyatannya! Setelah membaca bagian ini, anda akan mengetahui dan memahami betapa pentingnya meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris peserta didik dan perlunya memberikannya porsi lebih dalam aktivitas pembelajaran. 1 2 Dr. Ab d. G h o f u r, M.Pd A. Apa itu Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris? Menurut BSNP (2006), bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Berbicara merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai dalam mempelajari bahasa. Secara umum, berbicara merupakan kegiatan berbahasa lisan yang dilakukan oleh manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis bahwa berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dan sebagainya) atau berunding. Sedangkan menurut Tarigan (1983) bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pada tulisan yang lain, Tarigan (1984) menyatakan bahwa berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, semantik, dan lingkungan sedemikian ekstensif secara luas sehingga dapat dikatakan sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial. Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang diguanakan oleh anggota negara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dari sekian banyak bahasa internasional, Bahasa Inggris dianggap yang paling populer dan diterapkan dibanyak negara, termasuk Indonesia. Menurut Juliatuti (2013) Bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa internasional paling populer telah menjadi bahasa yang dipakai secara komunikatif di hampir seluruh belahan penjuru dunia, baik dalam bisnis, teknologi, maupun pendidikan. Khusus dalam bidang pendidikan, menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan bahasa Inggris menjadi indikator dari begitu banyaknya minat masyarakat akan bahasa Jermanik Barat dengan dialek Anglo Frisia ini yang muncul sekitar 1500 tahun lalu. Sebagai Desain Pembelajaran Berbicara Bahasa Inggris bahasa komunikasi internasional bahasa Inggris telah menjadi suatu alat yang sangat menentukan bagi kelanjutan pendidikan, pekerjaan serta status sosial masyarakat. Tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk mata pelajaran Bahasa Asing menurut panduan yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2006) yaitu a) mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa tersebut, dalam bentuk lisan dan tulis. Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing) b) menumbuhkan kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar c) mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antar-bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian siswa memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya. Sedangkan pada Kurikulum 2013, tujuan belajar Bahasa Inggris sebagaimana disebutkan pada Permendikbud nomor 59 tahun 2014 bahwa tujuan mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kompetensi komunikatif dalam wacana interpersonal, transaksional, dan fungsional dengan menggunakan berbagai teks berbahasa Inggris lisan dan tulis, secara runtut dengan menggunakan unsur kebahasaan yang akurat dan berterima, tentang berbagai pengetahuan faktual dan prosedural, serta menanamkan nilai-nilai luhur karakter bangsa, dalam konteks kehidupan di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Untuk itu semua aspek pembelajaran (tujuan, materi, proses belajar mengajar, media, sumber, dan penilaian) diupayakan untuk mendekati penggunaan bahasa Inggris di dunia nyata di luar kelas. Dalam konteks tersebut, unsur kebahasaan (tata bahasa dan kosa kata, termasuk pengucapan dan penulisannya) lebih tepat dilihat sebagai alat, bukan sebagai tujuan: alat untuk melaksanakan tindakan berbahasa secara benar, strategis, sesuai tujuan dan konteksnya. Menurut Marwiyah dan Kaswan (2015) bahwa di antara empat keterampilan berbahasa, berbicara semakin penting dalam penggunaan 3 4 Dr. Ab d. G h o f u r, M.Pd bahasa asing. Namun di Indonesia sangat sulit siswa berkomunikasi dengan orang lain dengan bahasa Inggris secara efektif. Menurut Hu dan Wang yang dikutip oleh Robertson dan Nunn (2011) mengatakan bahwa situasi tersebut hampir sama dengan kasus yang dialami di Cina. Salah satu faktornya adalah guru masih menekankan kemampuan siswa untuk berbicara bahasa Inggris pada aturan bahasa, padahal seharusnya lebih menekankan pada aspek bahasa Inggris sebagai alat komunikasi. Akibatnya, banyak siswa yang sulit untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dengan berbagai alasan yang mereka lontarkan. Kelemahan tersebut disebabkan siswa tidak dilatih untuk benar mengucapkan kosakata. Menguatkan pendapat tersebut di atas, Latha dan Ramesh (2012) mengungkapkan, belajar berbicara bahasa asing adalah hal yang sangat sulit bagi peserta didik, karena memerlukan kemampuan untuk menggunakan bahasa dengan benar dalam interaksi sosial. Ada beberapa faktor penghambat yang menyebabkan belajar keterampilan berbicara bahasa asing kurang bisa berhasil. Diataranya adalah (1) kurangnya motivasi, (2) kurangnya materi pelajaran, (3) kurangnya kosa kata yang tepat, (4) kurang percaya diri, (5) keterampilan mendengarkan yang tidak benar, (6) minim komunikasi non verbal, (7) hanya didominasi oleh beberapa peserta didik saja. Khamkhien (2010) menyimpulkan dalam artikelnya bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di kelas tidak hanya menekankan pada frasa berbicara atau ekspresi sehari-hari, tetapi juga harus fokus pada komunikasi dalam situasi nyata, termasuk meningkatkan pengetahuan linguistik (misalnya, fonetik, item leksikal, pengetahuan pragmatis, dll). Selain itu, guru harus memotivasi dan mendorong peserta didik untuk menghasilkan kalimat baru dan ucapan-ucapan sendiri dalam berbicara bahasa Inggris, menunjukkan sejumlah cara yang dapat digunakan untuk bertahan hidup dalam komunikasi nyata (misalnya, meminta klarifikasi, menggunakan gesture, dll). Menurut Nunan (2003:48) Speaking is a productive aural/oral skill and it consists of producing systematic verbal utterances to convey Desain Pembelajaran Berbicara Bahasa Inggris meaning. Berbicara merupakan kemampuan memproduksi ujaran secara lisan dan sistematis untuk menyatakan suatu maksud tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa keterampilan berbicara dilakukan secara sistematis, runtut, dan terpola. Pembicaraan ini sendiri bertujuan untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Keterampilan berbicara melibatkan tiga bidang pengetahuan, yaitu, mekanik, fungsi, dan norma-norma sosial dan budaya. Mekanika mengacu pada pengucapan, tata bahasa, dan kosa kata. Fungsi mengacu pada transaksi dan interaksi, sedangkan norma-norma sosial dan budaya mengacu memahami bagaimana untuk memperhitungkan yang berbicara kepada siapa, dalam keadaan apa, tentang apa, dan untuk alasan apa, seperti Turn-taking, panjang jeda antara speaker, dan peran relatif peserta (Burkart, 2004). Sebagaimana yang disampaikan Bahera (2012), bahwa keterampilan berbicara menjadi tolok ukur keberhasilan belajar bahasa dari sekian keterampilan yang ada dalam berbahasa. Keterampilan berbicara didapatkan dari interaksi dengan yang lainnya. Bagaimana pengucapannya, bagaimana ejaannya, dan sebagainya. Sehingga untuk belajar bahasa disarankan untuk mencari model yang bisa digunakan untuk sarana meniru pembelajaran bahasa tersebut. Selain itu juga, dengan adanya model tersebut bisa mengarahkan dan mengoreksi jika ada kesalahan dalam penggunaannya. B. Kenapa Berbicara Bahasa Inggris itu Sulit? Keterampilan berbicara adalah salah satu diantara empat keterampilan yang harus dikuasai dalam belajar bahasa, selain membaca, menulis dan mendengarkan. Menurut Bahadorfar dan Omidvar (2014), dari keempat keterampilan bahasa tersebut, berbicara dianggap yang paling penting dalam mempelajari bahasa asing. Dia menilai kalau dunia saat ini mensyaratkan tujuan pengajaran berbicara harus meningkatkan kemampuan komunikatif siswa, karena, hanya dengan cara itu, siswa dapat mengekspresikan diri mereka dan belajar bagaimana untuk mengikuti aturan-aturan sosial dan budaya yang tepat 5 6 Dr. Ab d. G h o f u r, M.Pd dalam setiap keadaan komunikatif. Selain itu, seringkali kesan pertama terhadap kemampuan seseorang didasarkan pada kemampuannya dalam berbicara secara lancar dan komprehensif. Walaupun demikian, berbicara menggunakan bahasa Inggris dirasa oleh sebagian besar peserta didik masih sulit. Persepsi ini terus terbangun sehingga menjadi keyakinan oleh sebagian besar peserta didik bahwa keterampilan berbicara Bahasa Inggris itu sulit dicapai. Sehingga merubah mindset peserta didik terkait persepsi berbicara bahasa Inggris dari yang sulit ke mudah akan sangat membantu. Hal ini didasarkan pada pendapat Nazara (2011) bahwa persepsi yang dimiliki siswa tentang kemampuan dirinya terkait tingkat kemampuan berbicara akan memotivasi mereka mengembangkan keterampilan berbicara bahasa Inggris. Apa yang dilakukan guru dalam memandu kegiatan pembelajaran juga berpengaruh besar terhadap persepsi peserta didik memahami aktifitas berbicara bahasa Inggris yang mereka pelajari. Persepsi sulit akan berbicara bahasa Inggris yang dialami oleh siswa memicu mereka malu dan takut saat mereka diminta berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian Bashir dkk (2011) bahwa kesulitan berbicara Bahasa Inggris dimulai dari rasa malu mengekspresikannya. Rasa malu tersebut membuat siswa sulit mengembangkan kemampuan speaking yang menyebabkan siswa kurang mendapatkan kesempat
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks