DENTAL JOURNAL Diterbitkan Atas Kerjasama Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala Dengan Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia

Please download to get full document.

View again

of 78
224 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Vol.9, No.1, Juni 2017 ISSN X cakradonya DENTAL JOURNAL Diterbitkan Atas Kerjasama Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala Dengan Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia cakradonya
Document Share
Document Transcript
Vol.9, No.1, Juni 2017 ISSN X cakradonya DENTAL JOURNAL Diterbitkan Atas Kerjasama Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala Dengan Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia cakradonya DENTAL JOURNAL ISSN X Pelindung Dr. Drg. Zaki Mubarak, MS. Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unsyiah Penanggung Jawab Dr. Drg. Hj. Suzanna Sungkar, Sp. KGA Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Gigi Unsyiah Ketua Penyunting Dr. Drg. Munifah, MARS. Wakil Ketua Penyunting Drg. Rachmi Fanani Hakim, M.Si Penyunting Ahli Prof. drg. Bambang Irawan, Ph.D Prof. Dr. drg. Narlan Sumawinata, Sp. KG Prof. Boy M. Bachtiar, Ph.D Prof. Dr. drg. Eki S. Soemantri, Sp. Ortho Dr. drg. Rasmi Rikmasri, Sp. Pros (K) Prof. Dr. Coen Pramono, Sp. BM Prof. Dr. drg. Dewi Nurul, MS, Sp. Perio drg. Gus Permana Subita, Ph.D, Sp. PM Prof. Dr. drg. Hanna H. B. Iskandar, Sp. RKG Prof. Dr. drg. Retno Hayati, Sp. KGA Penyunting Pelaksana drg. Sarinah Rambe drg. Ahmad Fauzi Muharriri, Sp. KG drg. Rizki Dumna drg. Siti Coryniken drg. Asmaul Husna drg. Sartika Desain Grafis drg. Rizky Darmawan Pelaksana Tata Usaha Nurmalawati, ST Muhammad Aulia Azmi cakradonya DENTAL JOURNAL SEKRETARIAT REDAKSI: Cakradonya Dental Journal Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh Aceh-Indonesia TELEPHONE/ FAX: WEBSITE: Jurnal.unsyiah.ac.id/cdj From Editor s Desk Cakradonya Dental Journal (CDJ) diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi sebagai media komunikasi ilmiah untuk pemajuan dan perkembangan intelektualitas civitas akademika antar perguruan tinggi, peneliti dan stakeholder yang mengetengahkan tentang kesehatan gigi dan mulut serta keilmuan lain yang terkait. Sebagaimana sebelumnya, volume 9 no 1 ini masih menyuguhkan tentang penelitian pengembangan kedokteran gigi dan korelasi ilmu kesehatan integrasi mencakup bidang Kesehatan Masyarakat, Biologi Oral, Konservasi, Ortodonsia, Prostodonsia, Dental Material, Periodonsia dan Bedah Mulut. Ucapan terima kasih kepada para penulis atas kepercayaan memilih CDJ sebagai wadah publikasi ilmiah. Kepercayaan anda ini akan menjadi tantangan bagi kami untuk selalu memperbaharui dan memperbaiki sistem dan manajemen pengelolaan jurnal Cakradonya menjadi lebih baik. Semoga informasi yang CDJ ketengahkan pada edisi ini dapat menambah hasanah pengetahuan Anda dan menjaga diri kita senantiasa sehat. Kami ingin mengajak pembaca untuk selalu melengkapi diri dengan informasi. Mengenali dan mengetahui sesuatu jauh lebih baik artinya daripada berada pada ketidak-tahuan. Trust me, knowledge can save our lives. Salam Sehat, Dr.drg Munifah Abdat, MARS Editor In Chief Cakradonya Dental Journal DAFTAR ISI ISSN X Volume 9 Juni 2017 Nomor 1 Uji Antifungal Susu Kambing Peranakan Etawa Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Berdasarkan Perubahan Suhu Dan Lama Pemanasan Zaki Mubarak, Khairina Pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam infusa daun kemangi (ocimum basilicum linn.) 50% terhadap perubahan dimensi Viona Diansari, Liana Rahmayani, Nabila Asraf Pengaruh Perceived Quality Pasien Terhadap Pemanfaatan Ulang Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Di RsgmUnsyiah Herwanda, Eka Darma Putra, Larena Yudisa Putri Uji Aktifitas Antifungal Ekstrak Kulit Pisang Barangan (Musa paradisiaca L.) Terhadap Candida albicans Ridha Andayani, Afrina, Kartika Sari Identifikasi Bakteri Pada Air Di Waterline (Saluran Air) Dental Unit Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas Harfindo Nismal, Nur Indrawati Lipoeto, Siti Rahmah Gambaran Tingkat Kecemasan Dental (Dental Anxiety) Terhadap Persepsi Nyeri Ketika Skeling Pada Pasien Di Rumah Sakit Gigi Mulut Universitas Syiah Kuala Cut Fera Novita, Sunnati, Shabirah Inas Ferrina Siregar Hubungan Usia Skeletal Dengan Puncak Pertumbuhan Pada Pasien Usia Tahun di RSGM Unsyiah Rafinus Arifin, Putri Rahmi Noviyandri, Laveine Sukma Shatia Hubungan Status Gizi Terhadap Kesejajaran Gigi Anterior Mandibula Berdasarkan Pengukuran Little s Irregularity Index Pada Siswa SMPN 5 Padang Catur Hadi Arief Dermawan,Yustini Alioes, Aida Fitriana Konsentrasi Hambat Dan Bunuh Minimum Ekstrak Serai (Cymbopogon Citratus) Terhadap Candida Albicans Afrina, Abdillah Imron Nasution, Nur Rahmania Studi Kualitatif Tentang Pelaksanaan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga Munifah Abdat, Sudarti Kresno Cakradonya Dent J 2017; 9(1):1-8 UJI ANTIFUNGAL SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWA TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS BERDASARKAN PERUBAHAN SUHU DAN LAMA PEMANASAN ANTIFUNGAL TEST OF PERANAKAN ETAWA GOAT S MILK ON THE GROWTH OF Candida albicans BASED ON TEMPERATURE CHANGES AND DURATION OF HEATING Zaki Mubarak, Khairina Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala Abstrak Prevalensi infeksi fungal oportunistik semakin meningkat terutama kandidiasis oral yang disebabkan oleh Candida albicans. Salah satu alternatif pengobatan antifungal yang bersumber dari hewani adalah susu kambing. Secara umum susu yang digunakan sebagai bahan aktif antifungal terlebih dahulu dilakukan pasteurisasi, baik Low Temperature Long Time (LTLT) maupun High Temperature Short Time (HTST). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antifungal susu kambing Peranakan Etawa terhadap pertumbuhan Candida albicans berdasarkan perubahan suhu dan lama pemanasan. Penelitian ini menggunakan metode Standard Plate Count (SPC) dengan 4 kelompok perlakuan, yaitu K1 susu pasteurisasi LTLT, K2 susu pasteurisasi HTST, K3 kontrol positif, K4 kontrol negatif dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah rata-rata koloni Candida albicans pada pengenceran 10-3 dengan perlakuan susu pasteurisasi LTLT adalah 14,33 x 10 3 CFU/mL, pada susu pasteurisasi HTST 21 x 10 3 CFU/mL, pada kontrol positif 5,67 x 10 3 CFU/mL, sedangkan pada kontrol negatif 29 x 10 3 CFU/mL. Data hasil perhitungan dianalisis dengan ANOVA dengan α=0,05 dan dilanjutkan dengan Least Significance Difference (LSD). Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa susu kambing Peranakan Etawa dengan pasteurisasi HTST dan LTLT dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans, namun antara kelompok susu pasteurisasi LTLT dan HTST tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Kata kunci : Antifungal, Candida albicans, susu kambing. Abstract Prevalence of opportunistic fungal infection has been increasing especially oral candidiasis that caused by Candida albicans. One of antifungal pharmacologic alternative from animal resource is goat s milk. Commonly, the milk that tends to be used as an antifungal active substance was first pasteurized, neither LTLT or HTST. This research aims to know antifungal effect of Peranakan Etawa goat s milk on the growth of Candida albicans based on temperature changes and duration of heating. It performed with Standard Plate Count (SPC) method with 4 treatment groups, LTLT pasteurized milk (K1), HTST pasteurized milk (K2), positive control (K3), negative control (K4) 3 times replications. The result showed that rate of Candida albicans colonies on 10-3 dilution with treatment of LTLT pasteurized milk were 14,33 x 10 3 CFU/mL, HTST pasteurized milk were 21 x 10 3 CFU/mL, positive control were 5,67 x 10 3 CFU/mL, and negative control were 29 x 10 3 CFU/mL. Data from result measurement analized by ANOVA with α=0,05 and continued by Least Significance Difference (LSD) post hoc test. Based on data, it can be concluded that Peranakan Etawa goat s milk with HTST and LTLT method inhibit Candida albicans growth, but there is no significant difference between LTLT and HTST pasteurized milk. Keyword : Antifungal, Candida albicans, goat s milk 1 Cakradonya Dent J 2017; 9(1):1-8 PENDAHULUAN Kandidiasis merupakan infeksi jamur oportunistik yang umum terjadi pada rongga mulut. Penyakit ini disebabkan oleh pertumbuhan Candida albicans yang merupakan jamur dimorfik yang dapat bersifat komensal dan patogen pada manusia. Jamur ini bersifat komensal pada kondisi imunokompeten dan mukosa dalam keadaan baik, sedangkan pada kondisi sebaliknya dapat bersifat patogen yang oportunistik. 1 Kandidiasis oral umumnya ditemukan pada pasien usia lanjut, khususnya yang memakai gigi tiruan. Infeksi tersebut dapat merupakan manifestasi dari penyakit sistemik seperti diabetes melitus dan merupakan masalah yang umum terjadi pada pasienpasien imunokompromis. Efek dari kandidiasis menimbulkan ketidaknyamanan pada rongga mulut seperti perubahan sensasi pengecap dan disfagia akibat pertumbuhan Candida esofageal yang dapat berpengaruh kepada asupan nutrisi. 2 Berbagai upaya telah dilakukan untuk pengobatan kandidiasis oral seperti pemberian antifungal baik secara topikal maupun sistemik. Penggunaan obat antifungal seperti flukonazol dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan resistensi. 2,3 Biofilm C. albicans sangat resisten terhadap delapan senyawa antifungal diantaranya, flukonazol, ketokonazol, amfoterisin B, klotrimazol, mikonazol, asam zaragozic B, terbinafin, dan serulenin dalam kondisi pertumbuhan anaerob. Penelitian lainnya menunjukkan C. albicans yang tumbuh dalam biofilm menunjukkan resistensi terhadap klorheksidin, amfoterisin B, flukonazol, dan nistatin. 4 Resistensi jamur terhadap obat-obatan antifungal menciptakan suatu pendekatan terbaru untuk terapi antimikrobial dengan menggunakan bahan alami dari hewan seperti aplikasi kuning telur dan susu untuk terapi penyakit infeksi mikroba pada rongga mulut. Selain susu sapi, susu kambing sangat potensial digunakan sebagai antimikrobial maupun antifungal juga mengandung beberapa bahan aktif seperti lemak, kalsium, fosfor, magnesium, kalium dan protein susu. 7 Protein susu kambing terdiri dari sekitar 80% kasein dan 20% whey protein. Whey protein terdiri dari β-laktoglobulin, α-laktalbumin, immunoglobulin (Ig) G, IgA, IgM, glikomakropeptida, serum albumin, dan protein minor seperti laktoferin, laktoperoksidase, dan lisozim. 5 Telah dilaporkan bahwa laktoferin memiliki aktivitas antifungal dimana laktoferin mampu membunuh spesies Candida dengan cara merubah permeabilitas permukaan sel seperti halnya pada bakteri. 6 Laktoperosidase juga merupakan salah satu enzim yang banyak terdapat dalam susu yang memiliki efek antimikrobial serta antioksidan. Susu kambing mengandung laktoperosidase yang mampu menghambat spesies jamur yang berbeda seperti Candida parapsilosis, Candida glabrata, dan Saccharomyces boulardii. 7 Protein lainnya yang terkandung dalam susu yaitu imunoglobulin dan lisozim juga memiliki efek antimikrobial. Imunoglobulin merupakan antibodi yang disintesis oleh mamalia sebagai respon terhadap antigen atau stimulus imunogenik dan proteksi terhadap infeksi mikrobial, sedangkan lisozim merupakan protein dasar yang berperan secara tidak langsung terhadap penghancuran produk dari kitin pada dinding sel jamur. 8,9 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji antifungal susu kambing Peranakan Etawa terhadap pertumbuhan C. albicans dengan perlakuan suhu dan lama pemanasan yang berbeda. BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Alat dan bahan disterilkan terlebih dahulu sebelum dipakai. Pembuatan Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dilakukan dengan mecampurkan powder dan aquades sesuai takaran yang ditentukan dan dipanaskan hingga larut kemudian disterilkan dan dituang ke dalam cawan petri. SDA yang telah memadat dibalik dan diinkubasi selama 24 jam. 10 Selanjutnya dilakukan kultur dan identifikasi C.albicans dengan uji fermentasi perbenihan karbohidrat dan pewarnaan gram. Spesies C. albicans memperlihatkan hasil reaksi fermentasi berupa gas pada glukosa dan maltosa, sedangkan pada medium laktosa dan sukrosa hasil fermentasinya tidak menghasilkan gas. 11 Pewarnaan gram dilakukan dengan cara membuat preparat ulasan (smear) yang telah difiksasi dengan C. albicans. Preparat yang telah kering diamati di bawah mikroskop dan C. albicans akan tampak berwarna ungu. 12 2 Cakradonya Dent J 2017; 9(1):1-8 Selanjutnya susu di pasteurisasi dalam labu Erlenmeyer sebanyak 100 ml. Kelompok perlakuan susu dibagi menjadi dua, yaitu susu dengan metode pasteurisasi LTLT dan HTST. Pasteurisasi dilakukan dengan menggunakan waterbath. 13 Susu yang telah dipasteurisasi akan diuji kualitasnya yang meliputi uji kadar protein yang melalui tahap destruksi, distilasi, dan titrasi, serta pengujian kadar keasaman susu dengan menggunakan ph-meter dan disesuaikan dengan ketentuan SNI. Kemudian pembuatan suspensi koloni C. albicans diambil dengan jarum ose kemudian dimasukkan ke dalam media cair NaCl 5 ml dan dihomogenkan dengan vorteks. Kekeruhan sel dihitung menggunakan spektrofotometri dengan panjang gelombang 530 nm dengan nilai absorbansi 0,5-0,6. 14 Selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat untuk mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Digunakan perbandingan 1:9 untuk sampel pada pengenceran pertama dan selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10 sel mikroorganisme dari pengenceran sebelumnya. Cara kerjanya yaitu dari tabung yang sudah diukur dengan spektrofotometer diambil 1 ml lalu dicampur dengan larutan NaCl 9 ml (tabung A) dan dihomogenkan. Dari tabung A diambil 1mL dicampur dengan 9 ml NaCl (tabung B) kemudian dihomogenkan, dan begitu seterusnya hingga tabung F. Jamur ditabung F merupakan jamur hasil pengenceran 10-6 inilah yang akan digunakan. 10,15 Uji antifungal dilakukan dengan menyiapkan 12 tabung reaksi dibagi menjadi 4 kelompok dan ditandai sesuai dengan perlakuan yang diberikan, sehingga masingmasing kelompok terdiri atas 3 tabung. Setiap tabung diisi NB sebanyak 1 ml. Kelompok perlakuan terdiri dari Kelompok 1 (K1) dan Kelompok 2 (K2). Kemudian K1 diisi sus u kambing PE yang telah dipasteurisasi dengan metode LTLT sebanyak 3,5 ml, sedangkan tabung K2 diisi susu kambing PE yang telah dipasteurisasi dengan metode HTST sebanyak 3,5 ml. Kelompok 3 (K3) merupakan kelompok kontrol positif dengan menggunakan nistatin yang dimasukkan ke dalam tabung sebanyak 3,5 ml. Kelompok 4 (K4) merupakan kelompok kontrol negatif dengan menggunakan aquades yang dimasukkan ke dalam tabung sebanyak 3,5 ml. Setiap tabung diberi 0,5 ml suspensi C. albicans. Selanjutnya dari masing-masing tabung diambil 0,1 ml suspensi C. albicans menggunakan pipet eppendorf dan diteteskan pada cawan petri. kemudian diratakan dengan metode sebar menggunakan hocky stick. Inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0 C pada media SDA. Setelah 24 jam dilakukan pengamatan dengan cara menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada media SDA dengan menggunakan Colony counter. Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan ANOVA untuk menguji apakah terdapat pengaruh pada kelompok perlakuan. HASIL Hasil kultur C. albicans yang tumbuh pada media SDA setelah diinkubasi selama jam pada suhu 37 0 C diperoleh koloni dengan morfologi bulat, permukaan cembung, berwarna putih krem, dan berbau ragi. Morfologi koloni C. albicans yang tumbuh pada media SDA dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Hasil kultur Candida albicans pada media SDA Hasil pewarnaan Gram pada C. albicans menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 10x100 memperlihatkan warna ungu dengan bentuk sel yang lonjong. Hasil pewarnaan Gram C. albicans dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Hasil pewarnaan Gram C. Albicans 3 Cakradonya Dent J 2017; 9(1):1-8 Hasil uji fermentasi perbenihan karbohidrat (glukosa, sukrosa, maltosa, dan laktosa) C. albicans menunjukkan perubahan warna dari hijau pekat menjadi kuning dan adanya pembentukan gas pada medium maltosa dan glukosa yang tampak sebagai ruang kosong, sedangkan pada medium sukrosa dan laktosa tidak terlihat adanya ruang kosong sebagai indikasi adanya pembentukan gas. Hasil uji fermentasi perbenihan karbohidrat pada glukosa, sukrosa, maltosa, dan laktosa dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Hasil uji fermentasi C. albicans Kepekatan suspensi C. albicans diukur dengan menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 530 nm dan menghasilkan nilai absorbansi 0,5-0,6. Hasil pengenceran suspensi C. albicans dengan metode serial dilusi yang didapatkan adalah pengenceran 1/1000 dengan jumlah koloni 85 yang tumbuh pada media SDA. Hasil serial dilusi dapat dilihat pada Gambar 4. susu pasteurisasi HTST adalah 5,552. Hasil uji kadar protein susu didapatkan melalui tiga tahap, yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi. Kadar protein yang telah diuji pada susu pasteurisasi LTLT adalah 4,28%, sedangkan kadar protein pada susu pasteurisasi HTST adalah 5,71%. Pengujian suspensi C. albicans dengan nilai absorbansi 0,517 yang telah dicampur dengan susu kambing Peranakan Etawa dan Nutrien broth ditanam pada media SDA menunjukkan adanya pertumbuhan koloni C. albicans. Uji pengaruh pertumbuhan koloni C. albicans yang ditanam pada media selektif SDA dilakukan tiga kali pengulangan pada setiap kelompok perlakuan. Jumlah rata-rata pertumbuhan koloni C. albicans dari hasil uji antifungal susu kambing Peranakan Etawa terhadap pertumbuhan C. albicans pada media SDA yaitu pada susu pasteurisasi HTST adalah 21 x 10 3 CFU/mL, sedangkan pada susu pasteurisasi LTLT adalah 14,33 x 10 3 CFU/mL. Pada kelompok kontrol positif, jumlah koloni C. albicans yang tumbuh adalah 5,67 x 10 3 CFU/mL, sedangkan pada kelompok kontrol negatif, jumlah koloni C. albicans yang tumbuh adalah 29 x 10 3 CFU/mL. Pertumbuhan koloni C. albicans pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dapat dilihat pada Gambar 5. (a) (b) Gambar 4. Hasil serial dilusi dengan pengenceran 1/1000 Pasteurisasi susu kambing dilakukan dengan metode High Temperature Short Time (HTST) pada suhu 72 0 C selama 15 detik dan Low Temperature Long Time (LTLT) denga suhu 63 0 C selama 30 menit menggunakan water bath. Susu pasteurisasi LTLT dan HTST dilakukan pengukuran ph dengan menggunakan ph-meter dan kadar protein menurut Kjeldahl. Hasil pengukuran ph susu pasteurisasi LTLT adalah 5,621, sedangkan (c) (d) Gambar 5. Hasil perlakuan (a) kelompok perlakuan dengan susu pasteurisasi HTST, (b) kelompok perlakuan dengan susu pasteurisasi LTLT, (c) kelompok kontrol positif, (d) kelompok kontrol negatif. 4 Cakradonya Dent J 2017; 9(1):1-8 Nilai rata-rata dari hasil perhitungan koloni C. albicans pada setiap perlakuan dengan tiga kali pengulangan dapat dilihat pada tabel 1. Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa pertumbuhan C. albicans yang dipapar dengan susu pasteurisasi LTLT lebih sedikit daripada yang dipapar dengan susu pasteurisasi HTST. Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan koloni C. albicans pada media SDA setelah diuji dengan susu pasteurisasi HTST dan LTLT. No. Kelompok Perlakuan Pertumbuhan koloni Rata-rata Pertumbuhan dan Kontrol P I P II P III Koloni/10-3 (CFU/mL) 1 Susu x 10 3 pasteurisasi HTST 2 Susu ,33 x10 3 pasteurisasi LTLT 3 Kontrol ,67 x 10 3 positif 4 Kontrol negatif x 10 3 Berdasarkan hasil uji kenormalan data didapatkan semua kelompok perlakuan memiliki distribusi data yang normal (p 0,05). Hasil uji Levene test menunjukkan variasi data sama atau homogen (p 0,05). Analisis data dengan menggunakan Anova terhadap pertumbuhan koloni C. albicans menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 6,486 lebih besar dari F tabel yang bernilai 4,07 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pada susu kambing Peranakan Etawa baik yang dipasteurisasi dengan metode HTST maupun LTLT dalam menghambat pertumbuhan koloni C. albicans. Uji lanjut menggunakan Least Significancy Difference (LSD) menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok HTST dan LTLT, tetapi LTLT memiliki perbedaan yang bermakna terhadap kontrol negatif. PEMBAHASAN C. albicans merupakan jamur non filamentosa, uniseluler, berbentuk bulat atau oval, berukuran 3-6 µm, dan dapat tumbuh dengan cara fakultatif anaerobik. Inkubasi C. albicans di media Sabouraud Dextrose Agar pada suhu 37 0 C selama jam akan menghasilkan koloni halus berbentuk bulat berwarna krem dengan aroma ragi yang khas. 12,16 Hasil identifikasi C. albicans dengan pewarnaan Gram menunjukkan bahwa jamur ini merupakan jamur Gram positif berbentuk oval dan berwarna ungu. Sediaan memperlihatkan adanya septasi-septasi diantara sel. Ja
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks