Daftar Isi. Gambaran Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur Tahun 1990 s/d Moch. Lutfie Misbach

Please download to get full document.

View again

of 10
13 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Daftar Isi Gambaran Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur Tahun 1990 s/d Moch. Lutfie Misbach Peran Civic Diplomacy dalam Mendukung Investasi Kapital dan Strategi Simbolik Indonesia. June Cahyaningtyas...
Document Share
Document Transcript
Daftar Isi Gambaran Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur Tahun 1990 s/d Moch. Lutfie Misbach Peran Civic Diplomacy dalam Mendukung Investasi Kapital dan Strategi Simbolik Indonesia. June Cahyaningtyas Diplomasi Publik dalam Politik Luar Negeri. Citra Hennida Kendala Reformasi Dewan Keamanan PBB. Wulan Purnamawati Formula Kelembagaan Pemerintah Kota: Studi Evaluasi Implementasi PP No. 41 Tahun Alisjahbana Jawa di Mata Prancis: Analisis terhadap Roman Voyage Autour du Monde Java, Siam & Canton Karya Comte Ludovic de Beauvoir. Wening Udasmoro Variasi Biologis Populasi Manusia di Pulau Jawa: Analisis Kraniometris. Fitriya Niken Ariningsih Peran Faktor Sosial-Ekonomi dan Gizi pada Tumbuh Kembang Anak. Myrtati D. Artaria Analisis Framing Berita Poligami di Media Massa. Moch. Syahri Hubungan antara Jenis Media yang Digunakan dalam PEMILU 2004 dengan Perilaku Memilih. Sri Zul Chairiyah Sistem Pariwisata di Agropolitan Batu Sri Endah Nurhidayati Diskursus Gender di Pondok Pesantren: Pandangan Santri Laki-Laki dan Perempuan Mengenai Hak dan Kewajiban Suami dan Istri dalam Kitab Kuning Khaerul Umam Noer Diskursus Gender di Pondok Pesantren: Pandangan Santri Laki-Laki dan Perempuan Mengenai Hak dan Kewajiban Suami dan Istri dalam Kitab Kuning Khaerul Umam Noer 1 Alumnus, Departemen Antropologi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya ABSTRACT Kitab Kuning (yellow book) is an integral part of educational system in pondok pesantren. A santri (student of pondok pesantren) learn about their religion and interpretation of it from this book. The problem is not about Islam as religion, but in interpretation of Islam written by Islamic scholars in Kitab Kuning. This research explores the opinion from santri in two pondok pesantren, which are Pondok Pesantren Attaqwa Putra and Pondok Pesantren Attaqwa Putri, located in Ujungharapan, Babelan, regency of Bekasi. Using qualitative methods, this research explores and explains the opinion about gender issues in Kitab Kuning, especially in discourse about rights and obligations between husband and wife. This research shown that the opinion from santri (male and female) about this issue can be so different. The male santri tend to be more conservative (scriptural) while female santri tend to be more moderate (contextual) in answering the questions about the gender issues in marriage written in Kitab Kuning. Key words: santri, pondok pesantren, gender, Kitab Kuning Pondok Pesantren termasuk salah satu lembaga pendidikan agama Islam yang menggunakan berbagai metode pengajaran yang khas (Madjid, 1985; 1997:3-5), sekaligus berfungsi sebagai lembaga penyiaran agama Islam, itu lah identitas pesantren pada awalnya. Pada saat ini telah terjadi banyak perubahan pada masyarakat; namun demikian, hal tersebut tidak berarti mengubah arah laju dan gerak pesantren seluruhnya. Pondok pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan penekanan akan makna pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Pesantren tetap berpegang pada prinsip awalnya, tidak mudah terpengaruh terhadap perjalanan arus, hal ini lah yang menyebabkan pesantren tetap eksis di dalam perjalanannya. Menurut Azra (1999:89-90), secara umum pendidikan di pondok pesantren memiliki tiga tujuan utama, yaitu (1) transmisi ilmu pengetahuan agama Islam (transmission of Islamic knowledge), (2) pemeliharaan tradisi Islam (maintenance of Islamic tradition), dan (3) pembinaan calon ulama (reproduction of ulama). Berbagai kegiatan yang dirancang agar sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya agar para santri 2 tidak hanya memiliki bekal ilmu namun juga bekal untuk bermasyarakat, dan terutama menciptakan para lulusan yang siap pakai dan dapat berguna di masyarakat. Pondok pesantren merupakan suatu lingkungan yang unik, sebagaimana dapat dilihat dari gambaran luarnya, bahwa pesantren merupakan suatu komplek yang seringkali terpisah dari lingkungan sekitar (Lombard, 2005). Dalam lingkungan fisik tersebut terdapat suatu bentuk kurikulum yang juga khas jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Kurikulum pesantren tidak hanya menekankan pada pengajaran ilmu agama bagi para santrinya, namun juga pengajaran ilmu-ilmu umum lainnya. Karena tidak sedikit yang terikat dengan Departemen Agama, maka kurikulum yang dibuat pun acapkali sama dengan kurikulum nasional; namun demikian tidak sedikit pula pesantren yang masih mempertahankan 1 Korespondensi: K. Noer, Pasca Sarjana FISIP (IIS), Universitas Airlangga, Jl. Airlangga 4-6, Surabaya Koordinator Kajian Sejarah dan Sosial, Nuruttaqwa Foundation Research Center, Kota Bekasi. PP. Attaqwa Putri, Desa Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi Telp.: (FISIP Unair) Sebagian lagi berpendapat bahwa santri berasal dari kata sant yang berarti manusia baik dan tra yang artinya suka menolong sehingga kata pesantren dapat diartikan sebagai tempat pendidikan manusia baik-baik. 86 K. Noer: Diskursus Gender di Pondok Pesantren 87 kurikulum lokalnya 3 sebagai suatu kurikulum yang mandiri dan ditambah dengan kurikulum nasional, dengan demikian anak didik yang telah menyelesaikan studinya akan memiliki dua macam sertifikat kelulusan, dari pondok dan dari negara. Kurikulum memiliki posisi yang signifikan dalam proses pendidikan di pondok pesantren, dengan kurikulum dapat dilihat suatu tujuan pembelajaran di pesantren tersebut. Kurikulum tidak hanya dimaksudkan sebagai struktur formal dalam proses belajar mengajar ataupun sebagai bahan acuan dalam sistem pendidikan; lebih dari itu, kurikulum merupakan cetak biru dari pendidikan di pesantren. Kurikulum pesantren yang lebih membahas pada materi ilmu agama mengambil acuan dari kitab kuning 4 atau kitab salafi merupakan salah satu ciri umum dari pesantren. Kitab kuning dipelajari dan diinterpretasi sesuai dengan kebutuhan yang ada di pondok pesantren, tidak mengherankan jika kemudian materi dari kitab kuning sering kali menjadi suatu pedoman pandangan bagi para santri, di mana berbagai kitab kuning ini pada gilirannya menjadi suatu karakter bagi dunia pesantren. Kitab-kitab tafsir, hadis, fiqih maupun kitab kuning lainnya tidak hanya mengajarkan masalah-masalah agama namun juga mengenai interaksi dengan manusia lainnya. Kitab kuning tidak hanya menjadi rujukan dalam masalah agama namun juga masalah sosial kemasyarakatan. Dalam masalah gender dan posisi perempuan misalnya, pesantren seringkali dianggap sebagai basis dari hegemoni patriarki, bahwa pendidikan pesantren melanggengkan adanya marjinalisasi dan sub-ordinasi terhadap perempuan. Kitab kuning seringkali terlupakan ketika membahas hegemoni a la pesantren, di mana kitab kuning memberikan berbagai pandangan mengenai berbagai isu gender yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Kitab kuning atau juga dikenal dengan kitab salafi merupakan karakteristik utama dalam proses pendidikan di pesantren selain adanya kiai dan masjid. Berbagai isu mengenai gender bertaburan dalam banyak kitab kuning, mulai dari kitab-kitab standar seperti Tafsir Jalalain (al Muḥilly dan as Suyuṭi, 1981), hingga kitab yang memang membahas mengenai masalah tersebut, khususnya yang membahas mengenai relasi sosial suami-istri seperti kitab Uqud al Lujayn (an Nawawi, 2000) banyak digunakan di berbagai pesantren. Kitab-kitab yang lebih modern yang ditulis pada abad ke-19 lebih mengetengahkan isu-isu gender yang lebih sensitif sekaligus lebih moderat ketimbang kitab-kitab yang ditulis sebelum abad ke-16. Berbagai kitab kuning dan variasi pembahasannya, apakah itu tafsir, hadis, fiqih, atau pun materi-materi lain seperti adab dan akhlak mengetengahkan suatu pola umum, di mana pembahasan mengenai gender menjadi isu yang kurang tereksplorasi dengan baik. Terlepas apakah pembahasan kitab tersebut sarat dengan nuansa misoginis atau justru pencerahan atas kesetaraan gender, pembahasan mengenai kitab kuning selalu menarik untuk dilakukan. Penelitian mengenai gender acapkali menjustifikasi bahwa kaum pesantren menjadi dalang bagi marjinalisasi posisi perempuan, dan hal ini merupakan simplifikasi atas permasalahan yang sebenarnya. Penelitian ini mencoba melihat apakah benar bahwa pesantren memang memarjinalkan perempuan dan lebih condong pada penguatan posisi laki-laki, atau yang terjadi justru sebaliknya. Penelitian ini memfokuskan pada berbagai isu gender yang terdapat dalam kitab kuning yang dipelajari oleh para santri, dan bagaimana pandangan santri atas isu tersebut. Mengingat betapa luasnya cakupan penelitian, maka penulis hanya membatasi pada isu hak dan kewajiban antara suami dan istri. Hak dan Kewajiban Suami dalam Pandangan Santri Laki-Laki dan Perempuan Dapat dikatakan bahwa pandangan santri laki-laki cenderung tekstual dalam melihat persoalan gender, di mana mereka lebih mendasarkan pandangan mereka mengenai relasi antara suami dan istri sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab kuning yang mereka pelajari. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan Dhm yang melihat melihat hak suami dan istri: 3 Istilah kurikulum lokal mengacu pada kurikulum yang dibuat oleh suatu pondok pesantren, terdiri dari berbagai mataajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Kurikulum pada satu pesantren tidak sama dengan pesantren lainnya, perbedaan ini terutama terletak pada jenis kitab kuning yang digunakan (Qomar, 2005). Pada pesantren salafi, di mana tidak terdapat sistem klasikal, santri yang belajar diluluskan apabila dianggap mampu terhadap materi yang diberikan, pada sistem ini tanda kelulusan berupa syahadah yang diberikan oleh guru yang mengajar, yang menjadi bukti bahwa santri tersebut pernah dan mampu dalam materi yang diberikan oleh guru tersebut. Istilah kitab kuning mengacu pada buku ajaran yang digunakan di pondok pesantren. Istilah ini berdasarkan pada kitab yang rata-rata berumur panjang sehingga warna kertasnya berubah warna menjadi kekuningan, atau juga karena umumnya kitab jenis ini dicetak dengan menggunakan kertas berwarna kuning. Kitab kuning juga acapkali dikenal dengan kitab gundul karena tulisan arab yang dicetak tidak memiliki tanda baca alias gundul. 88 Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th. XXII. No. 1, Januari Maret 2009, Kalau buat saya, hak utama suami itu mendapatkan pelayanan dari istri, istri harus melayani suami sebaik-sebaiknya...kalau kewajiban suami itu ada dua, pertama memberikan nafkah kepada keluarga. Dalam keluarga itu kan ada pembagian tugas, kalau istri itu mengurusi rumah tangga, mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak; maka tugas suami itu mencari nafkah untuk keperluan keluarga... kedua, tugas suami itu memberikan kebutuhan biologis istri, ya karena pernikahan itukan sarana mencegah dari perzinahan... Dalam pandangan Dhm, suami memiliki hak untuk dilayani oleh istri dan berkewajiban untuk memberikan nafkah; sedangkan istri memiliki kewajiban untuk melayani suami dan mengurusi rumah tangga, sedangkan haknya adalah mendapatkan kebutuhan biologis dan material dari suami. Pandangan ini memiliki kesamaan dengan apa yang ditulis oleh al Muhilli dan as Suyuti (1981) dan an Nawawi (2000). Dalam pandangan an Nawawi (2000) dalam kitab Uqud al Lujyn misalnya, hak suami adalah mendapatkan pelayanan dari istri, sedangkan kewajiban suami adalah memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri dan menjadi pemimpin rumah tangga. Berbeda dengan suami, kewajiban istri adalah melayani suami dan menjaga rumah tangga, sedangkan hak istri adalah mendapatkan nafkah dari suami. Hal yang sama disampaikan oleh al Muhilli dan as Suyuti (1981) yang melihat kewajiban suami sebagai qawwam dalam rumah tangga. Para ahli tafsir sendiri masih berselisih paham mengenai makna qawwam yang terdapat dalam Q.S. an Nisaa ayat 34. al Muhilli dan as Suyuti (1981:76) menafsirkan istilah ini dengan musallituun yang berarti penguasa, meskipun istilah musallituun sendiri memiliki makna derivatif yang juga bermakna penguasa atau sultan. at Tabari (2005:2288) memberikan makna qawwam sebagai ahlu qiyam ala nisaihim fi ta dibihinna atau orang yang bertanggungjawab atas pendidikan istri-istri mereka. Departemen Agama (1995) memberikan tafsir atas kata qawwam sebagai pemimpin. Demikian pula dengan Muhammad Asal (Maarif, 2005:vii) memberikan menafsiran qawwam sebagai bentuk intensif dari qaim yang berarti orang yang bertanggungjawab dan/atau orang yang menjaga sesuatu atau seseorang. al Farra (2001) memberikan pengertian qawwam merujuk pada kemampuan yang dimiliki oleh suami dalam memenuhi kebutuhan istri dan rumah tangganya. Persoalan makna definitif qawwam menjadi sangat krusial, di mana penafsiran atas kata ini menjadi persoalan penting dalam meletakkan posisi perempuan. Penafsiran yang dilakakukan oleh para ahli tafsir dapat dikatakan sangat beragam, baik ulama klasik maupun ulama kontemporer. Persoalan ini pula yang menjadi polemik di kalangan santri perempuan. Dapat dikatakan santri perempuan lebih moderat dalam melihat satu persoalan ketimbang santri laki-laki. Anh misalnya, memberikan penjelasan mengenai hak dan kewajiban suami:...hak yang dimiliki suami itu hak untuk dihormati, disayangi, dan dimengerti oleh istri, dan juga hak untuk mengatur istri, karena istri sepenuhnya berada di bawah kehendak suami... kewajiban suami itu memberikan nafkah yang halal kepada istri, baik nafkah lahir dan batin... suami juga bertanggungjawab atas semua keperluan rumah tangga...saya akui bahwa suami memang berhak mengatur istri, namun itu dengan syarat dan kondisi tertentu. Pertama, si suami berada di jalan yang benar secara syarak dan istri sebaliknya. Kedua, si istri telah berbuat nusyuz dan melalaikan tugasnya sebagai istri. Ketiga, si suami telah memperingatkan istri, namun istri tidak mendengarkan kata-kata suami... Hak dan kewajiban suami yang diberikan oleh Anh merupakan adanya polemik mengenai hak dan kewajiban suami bagi santri perempuan. Bagi santri perempuan, suami berkewajiban untuk memberikan nafkah dan memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan dari istri. Pandangan mereka akan berbeda ketika persoalan posisi laki-laki sebagai qawwam dikemukakan. Dapat dikatakan bahwa semua santri laki-laki setuju bahwa makna definitif qawwam sebagai pemimpin dan imam dalam rumah tangga yang harus dipatuhi oleh istri, namun tidak dengan santri perempuan. Beberapa santri menolak dengan tegas pendefinisian makna qawwam sebagai imam dan pemimpin yang keputusannya secara mutlak harus dipatuhi oleh istri. Dalam pandangan santri perempuan, istilah qawwam sendiri memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Pandangan santri laki-laki dan perempuan mengenai hak dan kewajiban suami dapat dilihat dalam tabel 1. K. Noer: Diskursus Gender di Pondok Pesantren 89 Tabel 1. Hak dan Kewajiban Suami Menurut Santri Perempuan dan Laki-Laki Santri Pandangan Santri Santri Perempuan JMS SRY AMG ANH FZH SRL ERN MNT Santri Laki-Laki AMD ARN AYN ARF RHN DHM HRW AMR Kewajiban suami Hak Suami Memberikan nafkah Menyayangi istri Memenuhi kebutuhan biologis istri Tidak zalim Membimbing istri/ keluarga - * * * * - * * Adil Memberikan ketentraman pada keluarga Memahami istri Menjaga kesucian tali perkawinan Memenuhi kebutuhan rumah tangga Memberikan mas kawin Memberikan pendidikan bagi anak Mendapatkan pelayanan dari istri Mendapatkan perlakuan yang baik Mendapatkan kepatuhan istri Mendapatkan ketentraman Dihormati Disayangi Mengatur rumah tangga/ keluarga Keterangan: Tanda * dengan catatan bahwa suami berada di jalan yang benar atau tidak melanggar syariat agama Islam. Hak dan Kewajiban Istri dalam Pandangan Santri Laki-Laki dan Perempuan Pandangan santri laki-laki mengenai hak dan kewajiban istri dapat dikatakan memiliki keseragaman dalam derajat tertentu. Dalam hal ini, pandangan santri laki-laki dapat diwakili oleh pandangan Arn:...bagi saya, kewajiban istri itu mentaati perintah suami, tentunya selama perintah suami itu benar, karena seorang suami di dalam rumah tangga adalah seorang pemimpin...kewajiban lainnya itu menjaga nama baik keluarga dan memelihara kehormatan dia sebagai seorang istri...hak utama seorang istri, yang pasti mendapatkan nafkah lahir batin, mendapatkan perhatian suaminya, dan mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga... yang saya maksudkan dengan menjaga nama baik dan memelihara kehormatan itu istri tidak boleh bergaul dengan yang bukan mahramnya, kalaupun istri tetap berinteraksi dengan orangorang, istri harus menjaga tingkah laku dan 90 Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th. XXII. No. 1, Januari Maret 2009, ucapannya, tidak boleh menjelek-jelekan suami di depan orang lain, tidak boleh berperilaku yang tidak patut, dan tidak boleh bergaul dengan orang yang yang tidak pantas... Secara umum dapat dikatakan bahwa santri lakilaki cenderung menempatkan suami pada posisi yang lebih utama ketimbang istri. Hal ini dapat dilihat dari pandangan Arn mengenai kewajiban istri untuk patuh dan taat pada perintah suami, menjaga nama baik keluarga, dan menjaga kehormatannya sebagai istri. Santri laki-laki terlihat lebih menekankan kewajiban istri ketimbang hak yang dimiliki oleh istri. Hal ini dapat dilihat bahwa pembahasan mengenai hak istri hanya terbatas pada pemenuhan nafkah lahir batin dan perlakuan yang baik dari suami. Sedangkan kewajiban istri lebih ditekankan pada kepatuhan dan ketaatan istri atas perintah suami, melayani suami, dan mendidik anak. Bagi santri laki-laki, menjaga keutuhan rumah tangga dan kehormatan keluarga menjadi kewajiban istri. Tidak jauh berbeda dengan santri laki-laki, santri perempuan pun cenderung seragam dalam melihat hak dan kewajiban istri, meskipun dari sudut pandang yang berbeda dengan santri laki-laki. Mnt misalnya, melihat hak dan kewajiban istri sebagai berikut:...jika yang ditanyakan itu kewajiban istri, maka kewajiban istri adalah menjadi istri yang salihah...bagaimana caranya? Saya rasa dengan patuh pada suami, membahagiakan suaminya, membesarkan anak-anaknya, dan menjaga nama baik keluarganya...harus di ingat, patuh pada suami bukan berarti taat secara mutlak, namun hanya jika perintah suami tidak melanggar ajaran Islam...kalau hak utama istri mendapatkan nafkah, mendapatkan ketentraman dalam rumah tangga, dan perhatian penuh dari suami... Santri perempuan lebih menekankan pada pemenuhan nafkah oleh suami dan perlakuan yang baik dari suami. Perlakuan yang baik dari suami, termasuk di dalamnya adalah penghindaran dari tindak kekerasan dalam rumah tangga dan sikap bijaksana; beberapa santri juga menambahkan dalam perlakuan yang baik terhadap istri adalah dengan tidak berpoligami. Kewajiban istri pun lebih ditekankan pada pengasuhan dan pendidikan anakanak ketimbang melayani suami, yang menarik justru hanya empat santri yang dengan tegas menyatakan kewajiban istri untuk patuh dan taat pada suami, hal itu pun dibatasi pada koridor yang terbatas, yakni selama perintah suami tidak melanggar ajaran agama Islam. Santri perempuan terlihat memberikan ruang yang jauh lebih luas bagi istri. Pandangan santri perempuan yang memberikan kebebasan kepada istri untuk beraktivitas merupakan jawaban atas keinginan santri perempuan meletakkan posisi istri untuk dapat keluar dari ruang domestik. Hal ini tentu saja berbeda santri laki-laki yang cenderung meletakkan istri pada ruang-ruang domestik. Kewajiban istri lebih banyak ditekankan pada peran istri dalam proses pendidikan anak maupun pengaturan dalam rumah tangga. Point yang juga penting adalah mematuhi perintah suami sebagai bagian integral dari kewajiban suami, di sini lah terdapat perbedaan signifikan antara pandangan santri perempuan dan santri laki-laki. Santri perempuan menekankan bahwa kepatuhan terhadap suami bersifat sangat kondisional, dalam artian bahwa suami memang layak untuk dipatuhi. Sekurang-kurangnya terdapat dua penekanan yang dilakukan oleh santri perempuan terkait dengan kepatuhan istri terhadap suami, yaitu: Pertama, perintah yang diberikan oleh suami tidak melanggar syariat Islam, atau dalam hal ini terkait dengan bentuk perintah. Kedua, suami secara pribadi tidak melanggar syariat Islam, atau dal
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks