Bulus, Jakarta Selatan. Study of 13 C Ratio Isotope Composition of Lebak Bulus Rainwater, South Jakarta. Bungkus Pratikno dan Nurfadhlini ABSTRAK

Please download to get full document.

View again

of 10
15 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Studi Komposisi Rasio Isotop 13 C Air Hujan di Wilayah Lebak (Bungkus Pratikno, dkk.) Studi Komposisi Rasio Isotop 13 C Air Hujan di Wilayah Lebak Study of 13 C Ratio Isotope Composition of Lebak Bulus
Document Share
Document Transcript
Studi Komposisi Rasio Isotop 13 C Air Hujan di Wilayah Lebak (Bungkus Pratikno, dkk.) Studi Komposisi Rasio Isotop 13 C Air Hujan di Wilayah Lebak Study of 13 C Ratio Isotope Composition of Lebak Bulus Rainwater, South Jakarta Bungkus Pratikno dan Nurfadhlini Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN Jl. Lebak Bulus Raya No. 49 Jakarta ABSTRAK Telah dilakukan pengukuran komposisi isotop 13 C/ 12 C ( 13 C) dari contoh air hujan wilayah Lebak. Studi ini bertujuan untuk mengetahui dampak emisi gas buang antrofogenik terhadap kualitas udara di atmosfir Jakarta. Pengamatan dilakukan berdasarkan sampel air hujan yang jatuh khususnya di wilayah PAIR-BATAN, Lebak pada September 2009 sampai dengan Juni Penelitian menggunakan metode pengukuran komposisi rasio isotop 13 C dari karbon inorganik terlarut (Dissolverd Inorganic Carbon, DIC) dalam air hujan. Pengukuran komposisi rasio isotop 13 C ( 13 C) menggunakan spektrometer massa rasio isotop SIRA-9 VG ISOGAS. Dari hasil sepuluh bulan pengukuran 13 C air hujan didapat 13 C bulan Februari 2010 sebesar -10,71 0 / 00 dan merupakan nilai yang paling rendah (depleted) dibanding dengan pengukuran sembilan bulan lainnya, sedangkan hasil pengukuran yang tinggi (enrich) didapat pada bulan Desember 2009 sebesar -8,52 0 / 00. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi rasio isotop 13 C dari gas CO 2 atmosfir Lebak Bulus, Jakarta Selatan lebih depleted dibandingkan dengan atmosfir daerah udara bersih yang hanya sebesar -8,1 0 / 00. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa ada penambahan gas buang CO 2 hasil kegiatan antropogenik. Kata kunci : delta, isotop 13 C, emisi, iklim, hujan asam ABSTRACT 13 C isotope composition of Lebak Bulus, South Jakarta rainwater samples have been analyzed and interpreted. The aim of study is to know about the impact of emission gas from anthropogenic activities on 13 C isotope composition of Lebak Bulus, South Jakarta rainwater. Rainwater samples were collected and monitored from PAIR - BATAN, Lebak Bulus- South Jakarta on September 2009 until June The Method is referred to DIC (Dissolved Inorganic Carbon) of atmospheric Carbon dioxide absorbed by rainwater. The 13 C isotope ratio ( 13 C) was measured using mass spectrometer SIRA-9 VG-ISOGAS. After ten months of measurement it showed that 13 C value in February 2010 was -10,71 0 / 00, the most depleted value compared with another nine months, while the high measurement results (enrich) obtained in December 2009 amounted to / 00. The results showed that atmospheric CO 2 gas levels in Lebak Bulus, South Jakarta were more depleted compared to the composition of the isotope ratio of 13 C atmospheric clean air area of only / 00. The decline in the value of Lebak Bulus atmospheric isotope ratio composition, South Jakarta becomes more negative than the clean air atmosphere, indicating that there is addition of CO 2 emissions from anthropogenic activity. Keywords : delta, isotope 13 C, emission, climate, acid rain PENDAHULUAN Teknologi pengukuran rasio isotop stabil dewasa ini berkembang sangat pesat. Teknologi isotop stabil adalah salah satu teknologi yang sangat berguna dalam penelitian yang berkaitan dengan perubahan iklim serta respon dari lingkungan terhadap perubahan tersebut. Hal ini dimungkinkan karena isotop stabil terdapat dalam berbagai matriks alam seperti dalam sedimen di danau dan lautan, sebagai komponen dari molekul air, baik dalam bentuk es yang terdapat di kutub bumi, glasier dan lapisan es di daerah dingin dan di puncak pegunungan, juga sebagai presipitasi 123 Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi A Scientific Journal for The Applications of Isotopes and Radiation Vol. 13 No. 2 Desember 2017 dan bahkan terdapat pula dalam tumbuhan, biota laut dan udara bebas pada lapisan atmosfir bumi [1,2]. Atmosfir adalah lapisan diatas permukaan bumi yang berhubungan langsung dengan aktivitas kehidupan manusia. Peningkatan kandungan gas-gas dalam atmosfir menjadi perhatian para ahli iklim dunia, khusunya gas rumah kaca, karena anomali peningkatannya telah diindikasikan sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Kepadatan penduduk, lalu lintas dan aktifitas perekonomian dan industri yang tinggi sangat mempengaruhi kualitas udara di atmosfir, kondisi ini terjadi di hampir seluruh kota-kota besar di dunia, diantaranya adalah di Jakarta. Sumber-sumber pencemaran udara terutama berasal dari penggunaan energi fosil (bahan bakar), proses industri, kegiatan pertanian, perubahan lahan dan hutan, dan dari proses pengolahan limbah (termasuk sampah). Sumber cemaran udara ini dapat menyebabkan deposisi asam air hujan yang diindikasikan oleh nilai derajat keasaman atau ph air hujan. Nilai ph air hujan yang lebih kecil dari 5,6 merupakan indikasi terjadinya hujan asam di suatu wilayah [4]. Selain itu tingginya penggunaan bahan bakar fosil dalam kegiatan industri, transportasi dan lainnya berdampak pula pada meningkatnya emisi gas rumah kaca di atmosfir seperti CO 2, CH 4, dan N 2 O. Para ilmuwan sepakat bahwa, peningkatan suhu bumi karena terjadinya peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer khususnya gas CO 2 [5]. Konsentrasi CO 2 meningkat 25 % persen setelah revolusi industri. Pusat pemantauan cuaca Amerika di Mauna Loa, Hawaii, menginformasikan adanya kenaikan CO 2 sebesar 18 % dari tahun 1958 hingga tahun 2002 dan berdampak pada peningkatan suhu bumi dari 0,5 hingga 2 o C. Emisi CO 2 ini cenderung meningkat terutama dalam periode [6]. Molekul gas CO 2 tersusun atas komposisi isotop 12 CO 2, 13 CO 2 dan 14 CO 2, dimana isotop 12 C dan 13 C merupakan isotop stabil, sedangkan isotop 14 C merupakan isotop tidak stabil atau radioisotop yang memancarkan sinar Isotop-isotop karbon ini di atmosfir berhubungan langsung dengan siklus karbon dari gas CO 2 hasil dari berbagai proses dalam ekosistem bumi (terrestrial ecosystem). Rasio isotop 13 C/ 12 C dari gas CO 2 yang terkandung dalam udara di atmosfir telah banyak dimanfaatkan dalam penelitian yang berhubungan dengan perubahan iklim global [7,8]. Gambar 1. Konsentrasi CO 2 dan kandungan isotop stabil 13 C atmosfir tahun yang diukur di stasiun pengamatan Mauna Loa-Hawai [13]. 124 Studi Komposisi Rasio Isotop 13 C Air Hujan di Wilayah Lebak (Bungkus Pratikno, dkk.) Hasil penelitian para ahli iklim dunia yang dilakukan di stasiun pengamatan di pegunungan Mauna Loa Hawai, daerah yang menjadi representasi atmosfir yang relatif bersih, menunjukkan nilai komposisi rasio isotop 13 C atmosfir yang terus mengalami penurunan menjadi lebih negatif (depleted) dari -7,6 0 / 00 pada tahun 1970 menjadi -8,2 0 / 00 pada tahun 2010, seperti terlihat pada Gambar 1. Hasil pengukuran ini menjadi acuan besarnya kandungan isotop 13 C dalam CO 2 atmosfir bumi untuk daerah dengan lingkungan yang relatif bersih [13]. Gas CO 2 di atmosfir sebagian akan terabsorbsi oleh uap air dan akan jatuh ke bumi sebagai hujan. Menurut WILLEY et.al. fluk karbon global di atmosfir yang terserap air hujan global sekitar 0,3 Giga ton per tahun atau 6 % dari total 5,5 Gt per tahun fluk karbon gas buang bahan bakar fosil yang menginjeksi atmosfir global. Secara teoritis setiap satu liter air hujan memiliki kandungan karbondioksida sebesar 0,55-0,60 mg yang berasal dari karbon dioksida yang terdapat di atmosfir, karena berasal dari atmosfir, maka CO 2 yang terabsorbsi oleh air hujan ini akan mempunyai nilai komposisi rasio isotop 13 C relatif sama dengan atmosfirnya [11]. Komposisi rasio isotop 13 C/ 12 Cdalam gas CO 2 udara di atmosfir yang mengalami tambahan emisi bahan bakar fosil atau gas buang, akan mengalami perubahan menjadi lebih rendah (depleted) dibandingkan dengan komposisi rasio isotop 13 C/ 12 C gas CO 2 atmosfir di daerah bersih. Menurut FRIEDMAN and O NIEL (1977) besarnya fraksinasi isotop pada reaksi kesetimbangan antara CO 2(g) dan CO 2(aq) sektar 1 0 / 00, sehingga nilai 13 C dari CO 2 terlarut dalam kesetimbangan CO 2 atmosfir menjadi lebih rendah sekitar -1 0 / 00. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya komposisi rasio isotop 13 C/C 12 yang terkandung dalam air hujan yang turun di wilayah Jakarta [12]. Komposisi rasio isotop didefenisikan sebagai nilai perbandingan konsentrasi suatu isotop yang bermassa lebih berat terhadap isotop ringannya. Komposisi rasio isotop dilambangkan sebagai dengan satuan permill atau 0 / 00, dan dinyatakan dengan rumus berikut : ( C/ C) ( / ) 13 sampel C C C ( C/ C) standar standar Dalam pengukuran rasio isotop 13 C/ 12 C digunakan standar acuan PDB (Pee Dee Belemnite) yaitu standar yang berasal dari formasi batuan di daerah South Carolina - Amerika Serikat yang mempunyai nilai 13 C sebesar 2,45 0 / 00. Standar PDB merupakan standar acuan internasional yang telah direkomendasikan oleh Badan Tenaga Atom Internasional IAEA (International Atomic Energy Agency) dalam pengukuran komposisi rasio isotop 13 C yang terkandung dalam berbagai jenis matrik alam. Penelitian komposisi rasio isotop stabil dalam air hujan ini, menggunakan pendekatan hasil pengukuran sampel air hujan di atas wilayah Jakarta, khususnya yang ditampung di Laboratorium Hidrologi dan Panasbumi, PAIR- BATAN, Jakarta, kemudian sampel dianalisis kandungan isotop 13 C-nya dengan menggunakan spektrometer massa SIRA-9, dan hasil pengukurannya diharapkan dapat menjelaskan dinamika kandungan isotop 13 C dalam air hujan untuk wilayah Jakarta yang berhubungan dengan kualitas udara di atmosfir Jakarta. BAHAN DAN METODE Penelitian komposisi rasio isotop stabil air hujan ini dilakukan dengan metode isotop stabil 13 C dalam air hujan, khususnya air hujan yang dipantau dan ditampung di stasiun curah hujan kawasan Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN di Jalan Lebak Bulus Raya, Jakarta Selatan. Pengambilan sampel air hujan Air hujan bulanan yang mengguyur kota Jakarta, khususnya di daerah Lebak Bulus Jakarta Selatan, ditampung setiap bulannya dengan alat penampung curah hujan yang didesain khusus seperti terlihat dalam Gambar 2. Pada setiap akhir bulan, air hujan yang terkumpul di ukur volumenya dan sebanyak 1 liter digunakan untuk pengukuran rasio isotop 13 C. Analisis isotop 13 C air hujan Metode analisis isotop 13 C dilakukan dengan mengambil 1 liter air hujan yang terkumpul tiap bulannya untuk ditambahkan larutan NaOH 0,2 N bebas CO 2, kemudian diaduk hingga homogen lalu ditambahkan BaCl 2 10 %, hasil reaksi tersebut selanjutnya dibiarkan hingga 125 Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi A Scientific Journal for The Applications of Isotopes and Radiation Vol. 13 No. 2 Desember 2017 Gambar 2. Alat penampung curah hujan bulanan (yang dilengkapi paraffin oil untuk mencegah terjadinya evaporasi) terbentuk endapan karbonat. Endapan yang didapat disaring dan dikeringkan dalam oven pada suhu o C. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil pengamatan dan hasil pengukuran isotop stabil air hujan Jakarta bulan CO 2(g) + NaOH (l) NaHCO 3(l) + NaOH (l) NaHCO 3(l) Na 2 CO 3(l) + H 2 O (l) Na 2 CO 3(l) + BaCl 2(l) BaCO NaCl (l) Endapan BaCO 3 yang sudah dikeringkan kemudian direaksikan dengan H 3 PO % dalam tabung pada kondisi vakum. Gas CO 2 yang terlepas dalam tabung reaksi tersebut kemudian ditangkap dengan menggunakan N 2 cair dengan suhu C pada kondisi tabung yang sudah divakumkelanjutan dari persamaan di atas adalah sebagai berikut : Desember 2009 sampai dengan Juni 2010 tampak pada Tabel 1 dan 2. Berdasarkan data hasil pengukuran insitu intensitas curah hujan dan derajat keasaman (ph) air hujan bulanan disajikan pada Tabel 1, tampak bahwa intensitas curah hujan bervariasi, dan derajat keasaman yang diukur menggunakan ph meter menunjukkan nilai yang fluktuatif serta 3 BaCO 3(s) + 2 H 3 PO 4(aq) 3 CO 2(g) + 3 H 2 O (l) + Ba 2 (PO 4 ) 2(s) kemudian gas CO 2 yang didapat dianalisis komposisi raiso isotop 13 C-nya dengan spektrometer massa rasio isotop SIRA-9 VG- ISOGAS. tidak mengikuti pola intensitasnya seperti tampak pada Gambar 3, sehingga dapat dikatakan, bahwa derajat keasaman air hujan bulanan Jakarta tidak berkorelasi secara signifikan dengan intensitasnya, 126 Studi Komposisi Rasio Isotop 13 C Air Hujan di Wilayah Lebak (Bungkus Pratikno, dkk.) Tabel 1. Data pengukuran insitu intensitas dan ph air hujan Jakarta No. Bulan Pengamatan Vol CH (ml) Intensitas CH (mm) ph 1 September ,43 2 Oktober ,47 3 Nopember ,41 4 Desember ,95 5,24 5 Januari ,68 5,31 6 Pebruari ,95 5,13 7 Maret ,75 5,17 8 April ,05 5,16 9 Mei ,51 5,14 10 Juni ,71 5,21 CH = Curah Hujan Tabel 2. Hasil pengukuran rasio isotop stabil air hujan Jakarta No. Bulan Pengamatan 13 C ( 0 / 00 ) PDB 1 September ,41 2 Oktober ,27 3 Nopember ,89 4 Desember ,52 5 Januari ,38 6 Pebruari ,71 7 Maret ,32 8 April ,43 9 Mei ,15 10 Juni ,73 artinya bahwa derajat keasaman air hujan tidak tergantung pada kuantitas curah hujannya tetapi tergantung pada kualitas gas-gas atmosfir yang diserapnya. Dari sepuluh bulan pengamatan terhadap curah hujan, intensitas tertinggi terjadi pada bulan Mai 2010 dan intensitas terendah pada bulan Nopember 2009 masing-masing sebesar 144,51 Gambar 3. Grafik Intensitas curah hujan dan ph air hujan bulan Desember 2009 Juni Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi A Scientific Journal for The Applications of Isotopes and Radiation Vol. 13 No. 2 Desember 2017 mm dan 21,58 mm, sedangkan pengukuran derajat keasaman dengan ph meter, menunjukkan ph rata-rata sebesar 5,27. Hasil ini mengindikasikan bahwa hujan yang turun sudah merupakan hujan asam, karena derajat keasamannya lebih rendah dari batas derajat keasaman normal air hujan ph sebesar 5,6. Indikasi terjadinya hujan asam ini juga sudah dilaporkan oleh BMKG pada tahun 2008 berdasarkan data pengamatan derajat keasaman air hujan di 12 stasiun pengamatan di seluruh Indonesia dari tahun 2005 hingga 2008 dengan data seperti pada Tabel 3. Pada Tabel 3 tampak bahwa air hujan Jakarta memiliki derajat keasaman rata-rata sejak tahun 2005 hinggan 2008 sebesar 4,51 nilai ini jauh di bawah ambang batas normal yang ditentukan yaitu 5,6. fosil kegiatan industri dan transportasi yang tinggi seperti yang terjadi sehari-hari di Jakarta. Tingginya emisi gas buang kendaraan bermotor ini terjadi disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah penggunaan kendaraan mobil dan motor di wilayah Jakarta. Berdasarkan data Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, PEMDA DKI Jakarta seperti pada tabel-4, terlihat adanya peningkatan jumlah kendaraan mobil rata-rata setiap hari dari tahun 2008 hingga tahun 2010 sebanyak 261,3 mobil/hari sedangkan motor mengalami penambahan sebanyak 1147 motor/hari. Meningkatnya pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor ini jelas sangat mempengaruhi kualitas udara atmosfir Jakarta, sehingga emisi gas buang kendaraan bermotor Tabel 3. Data ph Air Hujan 12 Kota/Kabupaten di Indonesia [14] No. Provinsi Kabupaten/Kota Sumatera Barat Kab. Agam 4,79 4,67 5,33 5,41 2 Sumatera Selatan Palembang 5,02 4,73 5,59 5,82 3 Bengkulu Bengkulu 5,25 5,01 5,93 5,78 4 DKI Jakarta Jakarta 4,30 4,51 4,64 4,59 5 Jawa Barat Bandung 4,62 4,47 4,74 5,06 6 Bali Denpasar 5,06 5,01 5,76 5,27 7 Nusa Tenggara Barat Mataram 5,00 4,74 5,27 5,56 8 Kalimantan Barat Pontianak 5,04 5,20 5,19 5,09 9 Kalimantan Selatan Banjar Baru 5,16 4,76 5,13 5,25 10 Sulawesi Utara Manado 5,12 4,69 5,26 5,27 11 Sulawesi Selatan Maros 5,09 4,96 5,89 5,79 12 Irian Jaya Jayapura 4,71 4,75 5,33 5,27 Sumber : BMKG tahun 2008 Data pengukuran komposisi rasio isotop 13 C disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa nilai komposisi rasio isotop 13 C air hujan berada pada kisaran -10,71 0 / 00 hingga - 8,52 0 / 00, nilai ini mengindikasikan bahwa kandungan isotop 13 C air hujan Jakarta berasal dari CO 2 atmosfir yang terabsorbsi oleh air hujan. Pengukuran selama sepuluh bulan pengamatan terhadap kandungan isotop 13 C air hujan yang turun di wilayah Lebak, menunjukkan nilai lebih rendah dibandingkan kandungan isotop 13 C atmosfir udara bersih -8,2 0 / 00. Hal ini terjadi karena gas CO 2 atmosfir yang terabsorbsi air hujan, dan turun di wilayah Lebak sudah mengalami percampuran dengan gas CO 2 dari hasil kegiatan antropogenik, terutama dari emisi bahan bakar menjadi faktor utama menurunnya komposisi rasio isotop 13 C atmosfir Jakarta khususnya dari peningkatan emisi gas CO 2. Dari data hasil pengukuran komposisi rasio isotop ( 13 C) air hujan Jakarta seperti pada Tabel 2 dapat dilihat pula, nilai pengukuran kandungan isotop 13 C terendah terjadi bulan Pebruari Jika dibandingkan dengan kandungan isotop 13 C yang seharusnya -8,1 0 / 00 (sesuai dengan kandungan isotop 13 C atmosfir udara), maka hasil pengukuran bulan Pebruari 2010 sebesar -10,71 0 / 00 menjadi lebih rendah (depleted) sebesar -2,61 0 / 00. Selisih penurunan ini mengindikasikan bahwa, emisi gas CO 2 dari hasil kegiatan antropogenik yang didominasi pemakaian bahan bakar fosil baik dari kegiatan industri maupun transportasi, tertinggi terjadi pada bulan Pebruari 128 Studi Komposisi Rasio Isotop 13 C Air Hujan di Wilayah Lebak (Bungkus Pratikno, dkk.) Tabel 4. Data Pertambahan Kendaraan Bermotor di DKI Jakarta Tahun 2008 s.d [15] Jumlah Pertambahan Tahun Mobil Motor Mobil Motor Pertahun Per hari Pertahun Per hari Sumber : Data Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, PEMDA DKI Jakarta, , karena menyebabkan kandungan isotop 13 C mengalami penurunan sebesar -2,61 0 / 00, sedangkan emisi terendah terjadi pada bulan Desember 2009 karena hanya menyebabkan penurunan kandungan rasio isotop 13 C air hujan sebesar -0,42 0 / 00. Selisih penurunan ini mengindikasikan bahwa, emisi gas CO 2 dari hasil kegiatan antropogenik yang didominasi pemakaian bahan bakar fosil baik dari kegiatan industri maupun transportasi, tertinggi terjadi pada bulan Pebruari 2010, karena menyebabkan kandungan isotop 13 C mengalami penurunan sebesar -2,61 0 / 00, sedangkan emisi terendah terjadi pada bulan Desember 2009 karena hanya menyebabkan penurunan kandungan isotop 13 C air hujan sebesar -0,42 0 / 00. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sepuluh bulan pengamatan air hujan, maka udara atau atmosfir wilayah Lebak relatif bersih terjadi pada bulan Desember 2009, sedangkan mengalami pencemaran relatif tinggi terjadi pada bulan Pebruari 2010 dengan derajat keasaman (ph) sebesar 5,13 dan dengan intensitas air hujan sebesar 132,95 mm. Hubungan derajat keasaman air hujan dengan komposisi isotop 13 C seperti terlihat pada gambar-4, menunjukkan bahwa semakin rendah derajat keasaman air hujan akan semakin menurun komposisi isotop 13 C-nya. Hal ini disebabkan karena makin tinggi kandungan asam karbonat hasil reaksi kesetimbangan gas CO 2 yang terlarut dalam air hujan, akan menyebabkan semakin rendah derajat keasamannya dan indikasi ini menunjukkan pula, semakin besar jumlah gas CO 2 Gambar 4. Grafik Hubungan ph terhadap 13 C Air hujan bulan September 2009 s/d Juni Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi A Scientific Journal for The Applications of Isotopes and Radiation Vol. 13 No. 2 Desember 2017 yang berhasil diserap (terabsorbsi) oleh air hujan akan meningkatkan kualitas percampuran gas CO 2 atmosfir dalam air hujan tersebut. Tingkat keasaman air hujan juga sangat dipengaruhi oleh adanya emesi gas buang SO x dan NO x sebagai limbah buangan dari asap kendaraan bermotor dan industri. Secara khusus tidak dibahas dalam makalah ini seberapa besarnya pengaruh SO x dan NO x dalam meningkatkan derajat keasaman air hujan, karena penelitian dilakukan hanya pada kandungan rasio isotop 13 C dalam gas CO 2 atmosfir yang terabsorbsi oleh air hujan. KESIMPULAN Dari data hasil pengukuran in situ maupun pengukuran laboratorium terhadap komposisi isotop 13 C air hujan beserta pembahasannya, ditarik beberapa kesimpulan : 1. Derajat keasaman (ph) air hujan wilayah Jakarta rata-rata 5,27 yang merupakan indikasi hujan asam; 2. Besarnya komposisi rasio isotop 13 C air hujan dapat digunakan sebagai indikator adanya peningkatan gas rumah kaca, khususnya CO 2 di atmosfir; 3. Dari sepuluh bulan pengamatan : a. Injeksi gas rumah kaca CO 2 di atmosfir Jaka
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks